Archive for February, 2007
STRATEGIC MANAGEMENT: A Brief Overview

Image source: tricare.osd.mil
By Beni Bevly
To formulate, implement, and evaluate strategic management successfully, a firm needs to have an effective coordination and understanding among managers from all function of business areas. These functional areas of business include management, marketing, finance/accounting, production/operation, R&D, computer information system and human resources department.
More specifically, all the managers from these functional areas of business need to involve in performing an internal strategic-management audit. By doing so Managers from different departments of the firm come to understand the nature and effect of decisions in other functional business area in the firm. Knowledge of these relationships is critical for effectively establishing objectives and strategies.
For example, Indofood, the world largest producer of instant noodles and flour based in Indonesia, with annual out-put of about 7 billion packages, and surpassing Nissin Food of Japan in the process (Jeannet and Hennessey, Global Marketing Strategies, 2001) was the company I used to work for. I was the Assistant of Human Resources Division Head. This division supervised Strategic Management Department which coordinated and oversaw the development, implementation and evaluation strategic management policy.
I involved in developing strategic management starting with series of meetings with each manager from all function business areas. First meeting that we conducted with Marketing Division to find out all aspects regarding noodles market. Then followed by meetings with Finance/Accounting, Production/Operation, R&D, and end up with the executive level. Before we implemented this strategy, we had a final big meeting that included all managers. In this final meeting, the CEO presented the strategy and finally all Division Heads signed the strategy to show their commitment.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia>
RATU PANTAI SELATAN
Oleh Beni Bevly
Setelah melakukan kegiatan yang panjang, penat dan melelahkan, liburan adalah penyembuh yang mujarab. Tetapi tidak jarang dalam liburan ditemukan pengalaman yang berharga dan tidak terlupakan. Pengalaman kali ini membuatku untuk melihat suatu kepercayaan dari sudut yang sedikit berbeda. Kepercayaan, baik terhadap agama, tahayul maupun aliran lainnya yang membuta pada prinsipnya mematikan akal sehat, menghapuskan moralitas dan etika dalam bertindak, dan pada akhirnya membawa manusia ke pada peradaban yang jauh terbelakang dan kadang immoral.
Pada saat liburan SMA tahun 1986, aku dan beberapa temanku pergi ke pantai Anyer. Setelah check-in di sebuah hotel, hari mulai sore, aku langsung ganti pakaian berenang dan nyemplung ke pantai. Air laut yang rasanya asin itu masih hangat. Aku mengapung tanpa pelampung dan mengikuti arus laut yang semaking jauh dari pantai. Aku menikmati betul kenikmatan pantai pada saat itu.
Aku terbawa arus cukup jauh dan bila ombak di depanku naik, pantaipun tidak kelihatan lagi. Aku sama sekali tidak kwatir mengenai ini sebab aku sudah bisa berenang sebelum aku duduk di bangku SD. Ditambah bahwa aku mempunyai kepercayaan besar akan kemampuanku itu.
Aku pikir, ini saatku berenang balik ke pantai. Tetapi apa yang terjadi? Walaupun aku telah berenang mengarah ke pantai, bukannya membawaku ke tepian, tetapi aku bergerak semakin meningalkan pantai. Kepanikan segera menimpa diriku. Kali ini aku mengerahkan seluruh kekuatanku. Aku gerakkan kaki dan tanganku secepat dan sekeras mungking. Napasku menjadi tersengal-sengal, jantungku berdebar keras, dadaku sesak dan pandangan matakupun buram karena terpaan ombak. Tanpa bisa dicegah lagi, air asinpun mengalir masuk ketenggorokanku. Setelah beberapa lama bejuang, tenagakupun terkuras. Maka aku berkata, “Matilah aku!”
Dalam keadaan pasrah dan letih, tiba-tiba aku melihat roda dalam mobil yang berwarna hitam mengapung di sampingku. Dengan sisa tenaga, kuraih roda tersebut dan kupegang erat-erat. Aku merasakan roda tersebut bergerak. Untuk sementara, aku merasa waktu berhenti, selanjutnya aku tidak tahu bagaimana prosesnya bahwa aku telah terlentang di atas pantai yang berpasir putih kekreman.
Salah seorang temanku memperkenalkan Edo padaku dan menerangkan bahwa dialah yang menyelamatkan aku. Edo adalah seorang penduduk lokal yang telah menolong banyak orang di tempat itu. Di menerangkan bahwa dalam satu tahun paling tidak ada satu orang yang hilang atu ditemukan mati di daerah itu. Di menambahkan, “Orang bilang Ratu Pantai Selatan atau Nyai Loro Kudul-lah yang sedang mencari korban.” Walaupun tidak membantah kepercayaan tentang Ratu Pantai Selatan, tampaknya Edo tidak setuju dengan hal itu. Dia menerangkan bahwa yang membuat aku semakin jauh dari pantai adalah arus balik yang disebabkan keberadaan jurang di bawah laut, tempat aku berenang. Dia bisa menyeret aku balik dengan bantuan dua roda mobil karena ia berenang menjauhi jurang bawah laut dan balik tempat yang dangkal.
Kepercayaan akan Ratu Pantai Selatan atau hal magis lainnya di Indonesia bukannlah hal yang aneh. Bahkan orang yang bisa “menterjemahkan” hal magis seperti ini menjadi selebriti dan menjadi sumber nalar tidak hanya bagi rakyat biasa , tetapi juga bagi para pengusaha besar dan penguasa pemerintah. Ki Gendeng Pamungkas dan client-nya adalah contoh nyata. Dia menceritakan sendiri di beberapa interview majalahnya. Kepercayaan terhadap kekuatan magis, bahkan kepercayaan terhadap agaman yang membuta bisa melumpahkan nalar, moralitas dan etika yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan suatu negara atau civilisasi.
Berkaitan dengan kekuatan magis, sering dikisahkan bahwa menjelang keruntuhan sebuah kerajaan, biasanya sang raja mencari jalan keluar untuk mempertahankan kekuasaanya dengan berbagai cara, termasuk dengan mendatangkan orang yang mengaku mempunyai kekuatan gaib. Kalau tidak salah, menjelang keruntuhan dinasti terakhir Ching di Cina pada awal abad ke 20, Phak Lian Khauw (Aliran Teratai Putih) berkembang pesat, termasuk di kalangan kerajaan. Pemimpin aliran ini mengaku kebal terhadap peluru senjata api.
Pengaruh Phak Lian Khauw ini ternyata menutup alternatif untuk mempertahankan kelangsungan kerajaan dengan cara lain. Ternyata senjata api dari pihak barat tetap menembus kulit, daging dan bahkan tulang para pengikut aliran ini. Sebagai hasilnya, aliran ini bukannya membantu mempertahankan kerajaan, tetapi mempercepat prosess kejatuhannya.
Pada Masa Kegelapan, sebelum tahun 1700, Eropa dikuasai oleh ajaran agama Kristen yang mutlak dan diterjemahkan sesuai dengan keinginan dan kepentingan pemimpin agama dan kelompoknya. Agama mengatur segala sendi kehidupan manusia. Mulai dari lahir, menikah dan mati harus melalui aturan keagamaan.
Bahkan rajapun harus tunduk pada keputusan Paus, di Vatikan, sebagai pemimpin tertinggi agama Kristen. Ilmu pengetahuan dan teori baru yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dilarang, bahkan tidak jarang penemu dan orang yang sepahamnya dihukum mati.
Contoh klasik adalah kasus mengenai teori yang menyatakan bahwa bumi itu bulat dan bumi bukan pusat tata surya, tetapi mataharilah. Nicholas Copernicus (1473-1543), pencetus ide pertama dan diteruskan oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang membuktikannya dengan teleskop buatannya sendiri. Akibat penemuan teori ini, salah satu pengikut Galilei, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup oleh gereja. Galilei sendiri dipakasa untuk mengakui bahwa temuannya itu tidak benar dan didihukum penjara. Pada masa ini banyak orang yang berhubungan, secara langsung ataupun tidak, dalam menantang kekuasaan absolut agama diasingkan, dan bunuh.
Pada masa kegelapan ini pula, perang salib yang membawa jutaan korban manusia terjadi.
Kepercayaan, baik terhadap agama, tahayul maupun aliran lainnya yang membuta pada prinsipnya mematikan akal sehat, menghapuskan moralitas dan etika dalam bertindak, dan pada akhirnya membawa manusia ke pada peradaban yang jauh terbelakang. Pada masa kegelapan di Eropa, peninggalan kebudayaan, pengetahuan dan keagungan kerajaan Romawi lenyap dan diabaikan begitu saja.
Dari sudut pandang sosiologi, agama, aliran kepercayaana atau tahayul timbul karena ketidak sempurnaan hidup manusia. Dengan memiliki agama, aliran kepercayaana atau tahayul, manusia menemukan tempat untuk pelipur lara. Tetapi jika hal ini diyakini dengan membabi buta, pemimpin agama bisa menjadikannya sebagai senjata yang absolut untuk kepentingan sekelompok kecil.
Indonesia, oleh sebagian orang barat, dilihat sebagai negara yang hidup pada masa kegelapan karena cara berpikir mayoritas masyarakat yang percaya akan hal magis, tahayul dan tidak berani mempertanyakan kebenaran akan pernyataan pemimpin agama. Banyak dari masyarakat kita yang percaya, mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan omongan paranormal atau mengandalkan objek yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Sebagai contoh, ada seorang yang aku kenal mau memenuhi permintaan dari seorang paranormal yang menyuruh dia kawin dengan pohon supaya usahanya berhasil. Contoh lain yang banyak ditemui “memelihara keris pusaka.”
Balik keperistiwa di Pantai Anyer, jika penyelamatku, Edo percaya akan Ratu Pantai Selatan secara membuta, maka aku tidak akan duduk di depan komputer dan menulis artikel ini. Atau dia tidak akan pernah berbuat amal untuk menyelamatkan aku dan beni-beni lain.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
DON’T TRY TO TAKE OVER MY LEADERSHIP

Image source: users.bigpond.com
By Beni Bevly
When I moved to the United States and joined several Indonesian community organizations in California in 1998, I was surprised by their leadership knowledge and skills. Why not? This is America, a country that exports management and leadership skills the most to worldwide.
Most of the leaders are lack of leadership. They took things personally because they did not differentiate between themselves and organization. They mixed their business’ and the organization’s interests. They did not identify what the followers’ needs, and etc.
I know that there are tons of the definitions of leaderships such as from C.E. Munson: The creative and directive force of morale, W.G Bennis: The process by which an agent induces a subordinate to behave in a desire manner, E.P. Hollander and J.W Julian: The presence of a particular influences relationship between two or more persons, F.E Fiendler: Directing and coordinating the work of group members, R.K. Merton, R.T. Hogan, G.J. Curphy, and J. Hogan: An interpersonal relation in which others comply because they want to, not because they have to, B.M. Bass, N.M. Tichy and M.A. Devanna: Transforming followers, creating vision of the goals that may be attained, and articulating for the followers the ways to attain those goals, C.F. Roach and O. Behling: The process of influencing on organized group toward accomplishing its goals, D.P. Campbell: Action that focus resources to created desirable opportunities, and R.C. Ginnet: The leader’s job to create condition for team to be effective
Once, in the committee meeting in one of the Indonesian community otganization, I mentioned the meaning of leadership to one of those leaders. I utilized the example of leadership definition from Bass, Tichy and Devanna. Bass, et. al. mentioned that leadership is transforming followers, creating vision of the goals that may be attained, and articulating for the followers the ways to attain those goals.
From point of view of this leadership definition, I focused on how leadership from Mahatma Gandhi transformed his followers, created visions of the goals that may be attained, and articulated for followers the ways to attain those goals.
Gandhi, as a leader of liberation movement from England, in India, transformed his followers to be countrymen who followed the gospel of self-sacrifice. Once, he said, “I am asking my countrymen in India to follow no other gospel than the gospel of self-sacrifice which proceeds every battle.” (Mohandas Karamchand Gandhi, Gandhi An Autobiography: The story of My Experiments With Truth). He created visions of the goals that India had to liberate themselves and stand alone.
His articulation for the followers the ways to attain those goals were clear; among them were non-violence, and non-cooperation. He told his followers, “I have no secret methods. I know no diplomacy save that of truth. I have no weapon but non-violence. … You have to stand against the whole world although you may have to stand-alone, you have to stare the face the whole world although the world may look at you with blood-shot eyes. Do not fear. …”
Mahatma Gandhi, with this type of leadership led his people to the gate of freedom.
The meeting was over. I went home. After dinner, my phone was ringing. It was a call from the leader that I talked to in the meeting. Do you know what he said to me? To make the long conversation short, he said, “Beni, don’t try to take over my leadership. This is my organization!” Wow! I never expected that kinf of response. I thought he would like to say thank you to me.
Recalling the leadership definition. I prefer the definition of leadership provided by C.F. Roach and O. Behling, which is “the process of influencing on organized group toward accomplishing its goals” because it is a fairly comprehensive and helpful one (Hughes, Ginnett & Curphy, 2002, Leadership: Enhanching the Lessons of Experience). This definition does not specifically mention only one aspect of leadership, but it shows the meaning of all aspects (key words “processing of influencing”) of leadership.
There are four implications of this definition, which also tell us why I prefer this definition: first, leadership is both a science and an art. Knowing what to do is not the same a knowing when, where and how to do it. Even those individual with extensive knowledge of the leadership research may be poor leaders. The art of leadership concern the skill of understanding leadership situations and influencing others to accomplish group goal. Formal leadership education may give individuals the skill to better understand leadership situation, and mentorship and experience may give individual the skills to better influence others.
Second, leadership is both rational and emotional. Leaders are often most effective when they affect people of both the emotional and rational level. It is true that leadership sometimes can be accomplished relatively rational, explicit, rule-base methods of assessing situations and determining action, but there is an emotional side of human nature that must be acknowledge.
Third, leadership and management. although leadership and management can be distinguished as separate functions, they complement each other. Both are vital to organizational success.
Fourth, leadership and followership. It’s important to know followers because leadership does not occur without them. Followers are part of the leadership process. The relationship between leadership and followership can be represented by borrowing a topographical mathematics: the möbius strip. The möbius strip can be made with two-sided stripe of paper (you can write “leadership” on one side and the other side “followership) that are twisted and connected. On this möbius strip, when you put a pen at any point and trace continuously, the pen will cover the entire strip (both sides) and return to the starting point. You already created a leadership and followership möbius strip wherein the two concepts merge one into the other.
Overall, to be a leader is not that easy as flipping over your palm. We need to take a moment and ask, “Am I an effective leader? If not what should I do?” But not by telling our follower, “Don’t try to take over my leadership!”
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
JALAN DARAT, JALAN LAUT

Image source: www.mountainhouse.net
Oleh Beni Bevly
Salah satu kegemaranku ketika tinggal di Gang Wijayasari, Pontianak adalah memancing ikan dan menangkap kodak. Pengalaman memancing ikan yang aku dilakukan pada siang hari dan menangkap kodok tentunya pada malam hari ini ternyata membuka mataku mengenai hubungan struktur jalan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia yang parah.
Biasanya aku dan temanku memancing ikan di kali atau di sungai Kapuas. Jika memamcing di kali, aku menggunakan kail berumpan cacing yang disambung kebatang bambu kecil yang panjangnnya mencapai dua meter. Hasil pancinganku berupa ikan gabus dan belut.
Kalau memancing di sungai Kapuas, aku menggunakan kail yang disambung ke gulungan benang plastik. Tujuanku memancing di sungai karena aku ingin mendapatkan udang gala.
Peralatan yang dibutuhkan untuk menangkap kodok adalah senter yang terang dan kantong kain untuk menyimpan kodak yang berhasil ditangkap. Pada umumnya, aku selalu membawa pulang hasil pancingan atau tangkapan, aku siang, masak dan makan bersama keluarga.
Sebelum berangkat melakukan kegiatan di atas, ada satu hal yang temanku dan aku harus sepakati, yaitu: “Kita akan lewat jalan mana?” Jalan laut atau jalan darat?” Kalau kami memutuskan lewat jalan laut, maka kami akan pergi melalui gang depan, jika jalan darat maka yang dilalui adalah gang belakang.
Jalan laut berarti jalan raya yang beraspal. Jalan darat adalah jalan setapak yang melalui perkampungan atau perkebunan. Gang depan adalah jalan kecil yang menumbus ke jalan raya yang beraspal dan gang belakang merupakan jalan kecil yang dipakai untuk menuju daerah yang lebih dalam ke perkebunan atau daerah perkampungan.
Yang aku ingin garis bawahi di sini, bukan proses memancing atau menangkap kodaknya, tetapi aku mau mengungkapkan hubungan struktur jalan di atas dan pengaruhnya terhadap kondisi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Pertama, mari kita mulai dengan pola pembangunan jalan di Pontianak yang agaknya juga mencerminkan pola pembangunan jalan di kota lain, termasuk di Jakarta. Jalan dibangun setelah banyak orang yang lalu lalalang di tempat itu. Jika sudah padat karena meningkatnya kendaraan bermotor, maka untuk kebanyakan kasus, jalan dibesarkan. Suatu jalan mendapat perhatian khusus jika jalan tersebut sering dilewati oleh pejabat tinggi negara baik negara Indonesia ataupun negara asing.
Bagaimana dengan gang-gang kecil? Bagaimana jalan-jalan di perkampungan dan di perkebunan? Apakah ada pejabat tinggi negara yang sering melewati jalan itu? Jawabannya hampir 100% tidak ada. Jadi jalan tersebut tidak mendapat perhatian. Jelas pola pembangunan jalan seperti ini tidak berdasarkan pada perencanaan.
Ada dua daerah di Indonesia yang bisa dijadikan contoh bahwa jalannya termasuk dibangun dengan perencanaan. Pertama, daerah kota tua Beos dan Menteng. Kedua, pusat kota Singkawang. Jika diperhatikan, daerah pertama dibangun oleh penjajah kita, Belanda. Dan kota kedua agaknya dibangun oleh orang Cina sebagai penduduk mayoritas.
Di dua daerah di atas sulit untuk ditemukan gang-gang kecil. Kalau begitu apakah yang tinggal di situ, pada waktu jalan dibangun adalah pejabat negara? Di Menteng kemungkinan besar adalah pejabat negara Belanda, tapi bagaimana dengan Beos dan Singkawang? Memang layaknya bahwa pembangunan jalan dilakukan bukan karena jalan tersebut akan dilewati pejabat negara, tetapi karena visi ke depan dan perencanan yang baik untuk kepentingan umum.
Di Amerika, jika seorang mengendarai mobil dari paling barat (misalnya kota San Franciso) ke paling timur (sebut saja mau ke New York) maka orang tersebut bisa menggunakan jalan free way 80 (jalan tol no. 80) yang sambung-menyambung dan panjangnya kurang lebih 3.000 mile atau 5.000 kilometer. Umumnya jarak tersebut ditempuh dalam waktu satu minggu, jika menyetir selama kurang lebih tujuh jam sehari dengan kecepatan rata-rata di atas 70 mile perjam. Sebagian besar free way-nya sudah ada sejak tahun 1930-an.
Coba bandingkan dengan menyetir dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya hampir sama dengan San Francisco ke New York, yaitu sekitar 5.000 kilometer. Apakah tersedia jalan tol yang sambung menyambung – termasuk feri – dari Sabang sampai ke Merauke? Jawabannya kemungkinan besar adalah tidak ada. Dengan demikian, bukankah kita ketinggalan 70 tahun dengan Amerika dalam hal pembangunan jalan?
Terlepas dari dari ketinggalan atau tidak, tetapi ada satu hal yang sangat menganggu dengan cara pembangunan jalan di negara kita ini. Hal ini adalah pengaruhnya terhadap kehidupan kondisi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan pembangunan seperti di atas, otomatis masyarakat terbagi dua, yang tinggal di gang kecil dan yang tinggal di jalan besar beraspal. Pada umumnya yang tinggal di jalan besar adalah orang yang status sosial dan ekonominya lebih tinggi dari orang yang tinggal di gang kecil.
Kondisi jalanan seperti di atas, menutup kemungkinan orang yang lebih kaya untuk tinggal di gang yang tidak bisa masuk mobil, becek dan banjir kalau hujan, di kanan kiri ada preman mabuk yang siap meminta, menjambret atau menodong untuk mendapatkan uang atau perhiasan. Keadaan menjadi lebih buruk bila orang yang lalul-lalang tersebut dianggap orang asing yang cukup berada, seperti Cina.
Akhirnya, pemisahan sosial ekonomi yang tajam terjadi karena salah satu sebabnya adalah struktur jalan tadi. Yang miskin mencari tempat seperti itu karena terjangkau, yang kaya menghindari tempat itu karena alasan keamanan dan kenyamanan. Karena tempat yang “terjangkau” inilah, maka agaknya pemerintah menggunakannya sebagai standar UMR (Upah Minimum Regional).
Mengenai UMR, sebagai perbandingan, ketika aku bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan konglomerat di Indonesia, gajiku sekitar 25 kali lebih besar dari karyawanku yang terbawah. Di Amerika aku, juga bekerja sebagai manager di salah satu perushaan Fortune 500, gajiku hanya sekitar 2,5 kali lebih besar dari karyawanku yang berada di lapisan terbawah. Ini terjadi karena UMR di Kalifornia cukup tinggi, yaitu sekitar $8.00 per jam. Jika jumlah UMRnya lebih kecil dari itu, orang Amerika yang tinggal di Kalifronia tidak akan mampu membiaya sewa apartement ataupun kos di rumahan.
Di Amerika memang terdapat daerah kumuh, tetapi jika dibandingkan dengan kekumuhan di Indonesia, tempat itu masih “mewah”. Salah seorang temanku yang tinggal di apartemen bantuan pemerintah di San Francisco, kondisinya sangat mengejutkan. Fasilitasnya melebihi apartement yang aku tinggal di Sunter, Jakarta. Lain halnya dengan di Indonesia, kekumuhan di Amerika terjadi bukan karena peran pemerintah yang tidak efektif untuk membangun prasarana. Intinya, kondisi jalan yang dibangun oleh pemerintahan Amerika tidak ikut mendekung terjadinya kekumuhan dan perbedaan status sosial dan ekonomi. Tetapi kekumuhan di Amerika lebih banyak terjadi karena faktor budaya keluarga, etnis dan pendidikan mereka. Hal ini terjadi terutama di kalangan African America (etnis kulit hitam) dan Spanish (Amerika Latin).
Akan sulit ditemukan suatu daerah yang terdiri dari gang-gang kecil di Amerika. Karena struktur jalan yang demikian, rumah yang dibangun menjadi teratur, keamanan dan kenyamananpun lebih baik. Maka orang yang status sosial dan ekonominya lebih tinggi tidak memiliki masalah untuk tinggal di kota atau daerah yang bukan tergolong mahal. Mereka tetap bisa mempertahankan gaya hidup mereka, tetap bisa memiliki speed boat, mobil Mercedes, dan tetap bisa bepakaian perlente tanpa diganggu. Bentrokan fisik karena perbedaan status sosial dan ekonomi jarang terjadi.
Aku tidak akan melihat implikasi pembangunan jalan ini lebih jauh seperti terhadap industri pertanian. Tetapi ada satu hal lagi yang perlu direnungkan, bagaimana keadaan jalan di pedalaman Indonesia, jika orang asing dan Cina tetap tinggal di sana dan PP 10 (Peraturan Pemerintah No. 10) tidak diberlakukan pada tahun 1959? Apakah hal ini berpengaruh positif terhadap pembangunan jalanannya, seperti di Menteng, Jakarta dan di pusat kota Singkawang?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
COMMUNICATION MEDIA: Changing Marketing Approach
By Beni Bevly
The innovation and advancement in communication media such as cell phone, satellite TV and Internet have impacted companies to change their marketing approach. With these new technologies, customers have more access to new or alternative products and services at real time. They are not stuck to certain products that are already obsolete.
On the other side, these technologies help companies to involve and witness what, where, and how customers’ needs can be fulfilled. They also help companies to have better communication with their customers. Finally, these technologies have increased the competition among businesses.
With the combination of these technologies – phone, satellite TV, and Internet – customers now have multiple choices of products to purchase at real time. For example customers can choose from various of merchandise that suit their needs from life TV commercial by calling them to make a purchase. Customers can utilize Google.com to look for products and services they need. Priceline.com will give customers price comparison. Ebay.com provides any kind of products that customers are looking for.
At the other side, because of communication technology innovation and its advancement, there is relatively risky for a business to claim that they are the only producer that has the capacity to fulfill certain customers’ needs. This statement only can be justified if they have the ability to personalize customers’ needs. Otherwise, the company may lose their credibility because customers will find out right away the fact by utilizing the latest communication technology.
The perfect examples regarding personalizing customers’ needs are Amazon.com and Netflix.com. They are able to communicate personalized needs to their customers though their sophisticated software.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
HUKUMAN MENGHADAP BENDERA
Oleh Beni Bevly
Upacara bendera adalah salah satu instrument politik pemerintah untuk mengindoktrinasi rakyat Indonesia. Dalam upacara yang sakral ini, diucapkan berulang-ulang topik yang sama untuk mencuci otak pesertanya. Hampir semua institusi di Indonesia diwajibkan untuk mengadakan upacara ini. Begitu juga di sekolah tempat aku belajar.
Pada tahun 1986, tepatnya tanggal 17 Agustus, cap kauw atau SMA Negeri 19, Jakarta menyelenggarakan upacara bendera dan aku sebagai salah satu pesertanya. Ketika tiba saatnya menyanyikan lagu Indonesia Raya, salah satu temanku yang bertindak sebagai dirigen mengatakan, “Marilah kita menyanykan lagu Indonesia Raya dengan ketukan ke-empat.” Lalu dia menggoyangkan tangan sambil menghitung satu, dua, tiga … . Apa yang terjadi? Seharusnya kami beramai-ramai memulai dengan menyanyikan “Indonesia … tanah … airku … “ dan seterusnya, tetapi suara tape atau radio dari rumah tetangga sekolah di sebelah kiri aku tiba-tiba terdengan memutarkan lagu dengan suara kencang, “Bergadang, jangan bergadang … .“
Keadaan ini membuat proses penyanyian lagu Indonesia Raya tersendat-sendat. Sebagian murid terus menyanyi, sebagian menyeringai merasa geli dan bagian lainnya bengong. Aku melihat pundak temanku di depan bergoyang. Rupanya ia sedang menahan ketawa. Karena itu aku ditulari rasa gelinya. Teman di sampingku malah menutup mulutnya supaya tidak sampai tedengat suara tawanya. Melihat ini aku jadi tidak tahan, suara tertawaku sempat terdengar keluar, begitu juga teman di depanku. Betapa tidak? Muka Roma Irama yang berjanggut, bergitar dan sambil berjoget riang terbanyang di depanku.
Setelah selesai upacara bendera, wakil kepala sekelah bertanya dengan suara dalam dan dengan nada mengancam, “Siapa yang tertawa tadi?” Tidak ada yang menjawab. Suasana menjadi sunyi. Suara serangga di atas kepalakupun terdengar kencang. Sekali lagi dia bertanya dengan nada yang yang lebih serius dan setengah membentak, “Siapa yang tertawa?!”
Dadaku dek-dekan. Aku rasakan bahwa mukaku panas. Aku enggan untuk mengangkat tangan, tetapi aku tidak mau dikatakan pengecut dan tidak bertangung jawab. Maka dengan menggertakan gigi, aku angkat tangan. Wakil kepala sekolahku melototiku. Aku segera menundukkan kepala untuk menghindari pandangan mata dengan dia. Tak lama kemudian, teman di depan dan di sampingku juga berbuat hal yang sama seperti yang aku lakukan.
“Mana sifat patriotis kalian?!” dia bertanya dengan nada membentak. “Ini adalah contoh dari orang yang tidak menghargai perjuangan para pendahulu kita.” Ia menambahkan.
Setelah dikuliahi beberapa saat. Barisan dibubarkan. Kamipun dihukum menghadap dan sambil memberi hormat pada bendera selama satu jam tanpa boleh bergerak. Aku menjalani hukuman satu jam tersebut dengan kakiku pegal, tangan gemetar, panas matahari menyengat dan menahan rasa haus, tetapi tanpa penyesalan karena aku tidak merasa bahwa aku tidak menghargai perjuangan para pendahulu kita. Ketawa itu keluar begitu saja tidak bisa ditahan karena lucu semata.
Lagu Indonesia Raya, Pancasila, lambang negara Burung Garuda, sejarah bangsa yang jaya dan cita-cita manuju masyarakat adil dan makmur adalah topik yang paling sering dikumandangkan dan didoktrinkan pada upacara bendera setiap hari Senin dan tanggal 17 Agustus. Selama puluhan tahun aku mendengarkan hal seperti itu. Selanjutnya, coba kita lihat apa yang ada dibalik semua topik ini.
Lagu Indonesia Raya digubah oleh Wage Rudolf Soepratman yang lahir pada tahun 9 Maret 1903 di Batavia. Sambil mengeyam pendidikan Belanda, ia belajar musik dari saudara iparnya Willem van Eldik yang juga membiayai sekolahnya (http://id.wikipedia.org/wiki/Soepratman, retreived tanggal 12 Februari 2007).
Lagu ini pertama kali dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda). Kemudian, lirik lagu ini pertama kali dipublikasikan oleh Sin PO, harian Cina yang diterbitkan dalam bahasa Melayu. Harian yang didirikan pada tahun 1910 ini selain mempopularkan lagu kebangsaan Indonesia, is juga mempropagandakan penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda” sejak hari Sumpah Pemuda pada tahun 1928.
Penerbitan Sin Po dilarang pada masa kedudukan Jepang (1942), tetapi pada tahun 1945, ia kembali terbit. Pada tahun 1962, nama Sin Po diganti dengan “Warta Bhakti.” Setelah kejadian Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), tapatnya tahun 1965, Sin Po menemui ajalnya.
Harian yang begitu penting dalam sejarah dan perannya terhadap penbentukan bangsa Indonesia dibredel begitu saja. Ia tidak berhasil dibinasakah oleh penjajah Belanda dan Jepang, tetapi ia mati ditangan bangsa sendiri, di mana ia sebagai salah satu pendirinya.
Pancasila adalah topik yang pasti dikumandangkan dalam upacara bendera. Bagaimana sebenarnya ide di balik Pancasila sebagai dasar negara? Pada tanggal 1 Juni 1945, sebelum Soekarno memprolamirkan kemerdekaan, ia menyatakan bahwa dasar negara Indonesia tidak sekuler seperti India (overly seculer) dan tidak berdasarkan berdasarakan agama seperti di Saudi Arabia (strictly theocratic). Ia minta peserta dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk menerima kenyataan bahwa negara Indonesia dibangun berdasarkan “an agreement on fudamentals” oleh semua etnis, ras, provinsi dan kelompok keagamaan dari ex-Hindia Belanda yang telah bejuang untuk membangun Republik Indonesia. Soekarno juga menekankan bahwa ada “mythical unity” dalam kesadaran semua masyarakat di mana pluralism adalah ciri penting menjadi orang Indonesia (Juwono Sudarsono, Debate on Pancasila, JuwonoSudarsono.com, 18 Juni 2006).
Bagaimana perkembangan selanjutnya? Di bawah orde baru, Pancasila rupanya dijadikan alat utama untuk memperkuat kekuasaan regime-nya selama 32 tahun. Sila pertama, ketiga dan ke empat merupakan senjata yang paling ampuh untuk mereka. Mari kita kaji satu persatu.
Sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa.” Dengan sila ini pemerintahan Orde Baru mengkontrol ideologi rakyat bahwa semua rakyat Indonesia harus beragama. Agama yang disahkan oleh regime Soeharto adalah Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Disamping itu, Konghucu yang digolongkan sebagai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diperbolehkan dengan berbagai perbatasan. Padahal masih banyak agama lain di Indonesia yang tidak mendapat tempat atau pengakuan dari negara.
Hal lain yang dilakukan regime ini adalah hanya memperbolehkan satu organisasi keagamaan untuk masing-masing agama dan semua organisasi tersebut harus berazaskan Pancasila. Organisasi tersebut seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terorganisir dengan rapih melalui Departemen Keagamaan. Keadaan ini sangat mempermudah pemerintah untuk menyampaikan “pesan,” dan mengontrol pesan itu agar terlaksanakan di antara umatnya.
Mengkontrol rakyat melalui agama bukanlah suatu hal yang baru dalam sejarah. Empat ratus tahun setelah kematian Yesus, Raja Romawi memperlakukan agama Katolik sebagai agama negara untuk mengkontrol para pengikut Yesus. Pada jaman yang lebih modern, atas nama agama Katolik pula, Hitler berhasil meyakinkan rakyat dan tentaranya untuk membunuh jutaaan bangsa Yahudi yang dianggap membunuh Yesus. Dengan senjata agama ini juga, Hitler berhasil membungkam mulut Paus di Roma untuk tidak mengecam tindakan dia.
Dalam perang Iran-Iraq pada tahun 1980-an, Ayatullah Khomeini menggunakan agama Islam untuk merekrut para bocah untuk dijadikan tentara sahid. Hasilnya? Berbondong, bahkan berjuta-juta orang mendaftarkan diri dan rela mati di medan perang. Dan masih banyak kasus lain-nya yang serupa terjadi.
Sisi lain, sila pertama ini mengandung pengertian, jika di-Inggriskan, “one God” atau “monotheism.” Pengertian monotheisme tidaklah mengena bagi pengikut ajaran Budha dan Hindu yang mengakui banyak bodisatwa dan dewa. Bahayanya, jika sila pertama ini diterapkan secara harfiah, maka kedua agama ini tidak akan mendapat tempat di negara Indonesia.
Hal lain yang paling utama bagi regime Orde Baru adalah menutup kemungkinan ideologi komunisme dan sosialisme tumbuh di bumi Nusantara. Komunisme dan sosialisme umunya merupakan ideologi yang memperjuangkan kaum miskin, tertindas, tidak berdaya, kaum peroletar dan Marhaen. Betapa banyaknya kaum seperti ini di pemerintahan Soeharto. Jika kedua paham ini tumbuh subur maka terancamlah kedudukan beliau.
Sila ketiga, “Persatuan Indonesia.” Atas nama sila ini banyak oposisi politik Soeharto yang dijebloskan ke penjara. Dengan sila ini pula Undang-Undang Subversif diberlakukan. Setiap gerakan yang mempertanyakan kedudukan TNI dan Pemerintahan Soeharto akan diidentifikasikan dengan pengacau negara dan keamanan rakyat. Para aktivis yang memperjuangkan hak azasi manusia juga dijerat dengan undan-undang ini. Munir, ketua KONTRAS adalah salah satu dari sekian aktivis yang menjadi korban senjata sila ketiga ini.
Sedemikian kuatnya penerpan sila ini, sehingga jiwa manusia tidak ada artinya lagi. Lihatlah dari peristiwa Aceh dan East Timor. Bahkan di East Timor dikabarkan sepersepuluh jiwa rakyatnya dikorbankan.
Pasal keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” merupakan alat yang mudah bagi Soeharto untuk memaksakan kehendak. Soeharto tahu betul bahwa sifat rakyat Indonesia adalah paternlistik. Artinya, rakyat mempunyai kecenderungan untuk mengikuti kemauan pemimpin atau orang yang dituakan. Dalam kenyataannya, orang banyak boleh bermusyawarah, tetapi pemimpin merekalah yang mufakat atau mengambil keputusan.
Hal seperti inilah yang terjadi di MPR/DPR, rapat menteri dan badan pemerintah lainnya. Mereka boleh bermusyawarah tetapi Soeharto-lah yang selalu memutuskan apa yang boleh mereka perbuat. Jikapun mereka diberi kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, pada akhirnya mereka tetap minta “restu” pada pemimpin mereka.
Pasal keempat ini semakin memantapkan sifat paternalistik yang di satu sisih menciptakan keterkantungan pada pemimpin dan membuat pemimpin cenderung menjadi absolut. Dalam konteks inilah, seorang pemimpin yang absolut tentu dengan senang hati mempertahankan pasal ke empat ini.
Dalam upacara bendera, biasanya kepala sekolah akan mengingatkan pada kami betapa gagahnya lambang negara kita, Burung Garuda. Kalau dikaji lebih mendalam, lambang negara Indonesia ini sangat irrasional. Bagaimana mungkin seekor burung mempunyai jumlah bulu tetentu pada tempat tertentu. Pada masing-masing sayap bulunya berjumlah 17. Pada ekor garuda terdapat 8 bulu. Bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19 dan bulu di leher berjumlah 45. Bukankah lambang negara ini melambangkan irrasionalitas pemimpin Indonesia?
Keirrasionalitasan pemerintahan Soeharto jelas terlihat bagaimana ia memaksakan pembangunan Indonesia untuk tinggal landas dan menuju masyarakt industri dengan hanya mengandalakan satu orang yaitu Habibie, anak emasnya. Sedangkan Indonesia mempunyai tanah yang begitu subur untuk pertanian sebagai negara agraris dan begitu luas lautan yang mempunyai potensi untuk menjadi negara termaju di bidang pengelolaan laut atau maritim. Ditambah masih banyak propinsi lain yang tertinggal pembangunannya.
Tetapi semua ini tidak dihiraukan oleh Soeharto dan dan ia memaksa untuk masuki tahap industrialisasi. Salah satu caranya dengan membangun industri pesawat terbang. Nyatanya industri ini membawa kerugian materiil dan pesawatnya jatuh sehingga memakan banyak jiwa.
Topik lain yang selalu dikumandangkan dalam upara bendera adalah bangsa kita yang jaya. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit selalu dijadikan contoh. Apakah benar bahwa kedua kerajaan itu adalah kerajaan Indonesia pada masa lampau yang jaya? Sriwijaya adalah kerajaan Budha yang terkenal dengan candi Borobudur-nya. Jika diperhatikan bahwa bentuk candi dan ukirannya menyerupai candi di India. Demikian juga Majapahit, kerajaan ini mempunyai kesamaan dengan India dalam hal agama Hindu. Gajah Mada yang diagungkan karena telah mempersatukan Indonesia, mukanya lebih mirip dengan orang India ketimbang orang Jawa (Duncan Graham, 2004, The People Next Door).
Secara garis besar periode kerajaan di Indonesia mempunyai kemiripan dangan periode perubahan kerajaan di India. Pertama, periode kerajaan Budha. Kedua, periode kerajaan Hindu dan yang terakhir adalah kerajaan Islam. Di India, periode kekuasaan kembali lagi ke Hindu. Dari nama negara kita yang berasal dari bahasa Yunani, “Indo” berarti India, “Nesos” berarti kepulauan. Yang jika diterjemahkan secara bebas, Indonesia berarti Kepulauan India.
Melihat keadaan demikian, apakah ini suatu kebetulan? Ada dugaan para ilmuwan bahwa Indonesia dijajah oleh India dalam kurun waktu yang lama (Tentu hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut). Setelah itu, dijajah lagi oleh Belanda dan Jepang. Jika demikian halnya, bagaimana kepala sekolahku mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang jaya. Bahkan sekarangpun dengan jumlah penduduk nomor 4 sedunia dan wilayah yang luas, Indonesia tidak banyak dikenal di dunia Internasional. Sebelum 9/11, jika aku kenalkan diriku dari Indonesia ke generasi muda Amerika, banyak dari mereka tidak tahu bahwa ada negara yang bernama Indonesia. Nama Indonesia baru “berkibar” setelah 9/11 karena dikaitkan dengan sarang teroris.
Hal terakhir yang selalu dikumandangkan dalam upacar tersebut adalah cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur. Sejak aku sekolah sekitar tahun 1975, hingga saat ini, 30 tahun sudah, Indonesia masih jauh dari masyarakat adil dan makmur. Bagaimana ini bisa terjadi, jika Indoneisa dikategorikan sebagai bangsa terkorup ketiga di dunia dan kestabilan politiknya sangat rentan. Dengan keadaan demikian, kekayaan tekonsentrasi hanya pada kelompok tertentu. Investasi dari luarpun enggan untuk masuk di Indonesia.
Dengan mengetahui keadaan negara kita seperti di atas, dari pada mengagungkan masa lalu dan meneriakkan Pancasila, bukankah lebih baik bagi inspektur upacara bendera mengajak semua pesertanya untuk melihat kenyataan dan memperbaiki Indonesia.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
THE USE OF “HEAVYWEIGHT” TEAM AT ELI LILLY: The Evista Project

Image source: healthcareskills.nhs.uk
By Beni Bevly
The Evista Project case provides an opportunity for us to look at a major drug company, Eli Lilly and Company, and their efforts to improve their drug development process through the use of “heavyweight” team. It also provides an opportunity to examine the detailed workings and basics of heavyweight teams, the potential impacts that such teams can have, and some of the challenges of transitioning from a more traditional functional, or lightweight team approach, to heavyweight team approach. Therefore, I brought up this case for us to learn, and if possible, to emulate this project’s method of completing its tasks.
Heavyweight project team, according to Clark and Wheelwright in ”Organizing and Leading ‘Heavyweight’ Development Teams,” California Management Review, Vol. 34. No. 3, Spring 1992, is a development project team consists of specialized experts that led by a project manager who has direct access to and responsibility for the work of all those involved in the project.
There were five keys characteristics defined a heavyweight team at Lilly. First, the teams were each given a very clear business charter “to focus exclusively on the development of a single compound.” Second, each team was collocated and cross functional. Third, the teams were each led by a “heavyweight” project manager. Fourth, each team took responsibility for the sub-stance of the work, how the work was accomplished, and the ensuing results. Fifth, each team had two executive sponsors, one from LRL (Lilly Research Laboratories) and one from the business group, who guided them and worked to resolve conflicts between the team and the rest of the Lilly organization.
Such as leaders are “heavyweight” in two respects. First, they are senior managers within the organization; they may even outrank the functional managers. Hence, in addition to having expertise and experience, they also wield significant organizational clout. Second, heavyweight leaders have primarily influence over the people working on the development effort and supervise their work directly through key functional people on the core teams. Often the core group of people are dedicated and physically collocated with the heavyweight team project leader.
When managed effectively, heavyweight team offers improved communication, strong identification with and commitment to a project, and a focus on cross-functional problem solving. However, this team is not so easily managed and contains unique issues and challenges.
Other than the above characters and assigning heavyweight project leaders to lead these teams, “heavyweight project teams” had two major assignments that were not assigned to the traditional approach that Lilly used before for organizing development project. First, heavyweight project team was getting all necessary components and subsystem to complement one another and win approval from the FDA (the Food and Drug Administration). Second, heavyweight project team also effectively addressing the needs of the prescribing physicians, health care insurers, and patients’ physicians.
There are two major successes that showed in the performance of the two heavyweight project teams described in the case. First, time. the Evista team had saved months in completing their assignment compared to conventional development process. For example, in mid-July, only two month before the NDA (New Drug Application) planned submission, a system analyst discovered a data error by Zypreza team that would cause at least a four week delay, because of the heavyweight team, only one week the new database was back on course.
The cross-functional between IT and other specialized experts in Evista team had provided worldwide remote patient data entry, and affected significantly increasing the speed and accuracy of data acquisition. This new system had helped the team to shave at least 15 months from the development process of Evista.
Second, quality. With heavyweight project team, the better quality of work can be achieved compare to conventional development process. Evista team had constructed a worldwide database so the regulatory experts around the world could access information and access regulatory question quickly and easily. Even the FDA review of the package insert was done electronically and in real time. A conference room in Indianapolis was linked to a similar room at FDA head quarters in Rockville, Maryland.
Effective product and process development requires the integration of specialized capabilities (Clark and Wheelwright, ”Organizing and Leading ‘Heavyweight’ Development Teams,” California Management Review, Vol. 34. No. 3, Spring 1992). The integration of specialized capabilities realizes in heavyweight project team. Because of this factor, the heavyweight project team contributes its best performance.
The Evista Team went smoothly because it comprised of operations, projects management, manufacturing, medical, clinical research, information technology, biostatistics, medical writings, and clinical operations. The function members of this team integrated less than a month. The above integration of specialized capabilities ensued the esprit de corps and resulted a good teamwork, which was the basic requirement to the high quality development.
In pharmaceutical context, heavyweight team should be developed in development process for Phase III and included FDA Review/Approval (registration) phase because in these phases, the tasks are most complicated, expensive, critical, meticulous, and involved many volunteers and related directly to FDA. In these phases, to get things done faster, accurately, and correctly, the combined specialized capabilities are needed. If there is any mistake, it would take long time to correct it.
To describe how complicated, expensive, critical, meticulous, and involved many volunteers and related directly to FDA, below is the brief discussion in each phase III and FDA Review/Approval (registration) phase (Rhomke and Nimgade, “Note on New Drug Development in the United States,” The President and Fellow of Harvard College, 1998):
Phase III: Long-Term Efficacy Trials (Three Years). Phase II trial is by far the most expensive phase of drug testing, involving thousands of volunteer patients (approximately 1000 to 3000 volunteer patients) at hospital sites scattered around the country and ever overseas. In Phase III, researchers monitor long-term drug use for safety and optimum dosage levels. By studying far more patients over longer period of time than in Phase II studies, they can uncover subtler and more insidious side effects. Over one-fourth of drug candidates pass this hurdle and move on to the FDA review stage.
FDA Review (about two to three years). The NDA (new drug application) represents a tribute to the 20th century pharmaceutical industry’s data-generating capacity, with its contents running into hundreds of thousands of pages. The NDA includes data not only on each patient, but also on the company’s plans for producing and stocking the drug. Not surprisingly, the FDA committee has historically taken two to three rears to review the NDA and make recommendations about marketing the drug. Often, the FDA and sponsoring drug firms work closely to iron out potential problems with the data or other technical problems.
At the end of the project, this heavyweight team successfully produced Evista, which had received the United States FDA approval on December 9, 1997, for the prevention postmenopausal osteoporosis. Evista also generically know as raloxifene hydrochloride.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
INDONESIA’S ANTI-EXTREMIST
By Jeff Jacoby
Source: GusDur.net
“I have been called ‘Chrislam’ because I am so close to Christians,” Abdurrahman Wahid is saying. “When I was criticized by a certain Muslim preacher for not being harsh enough against the ‘kaffir’ [infidels] — for being too close to Jews and Christians — I told him to read the Koran again. Because when the Koran speaks of ‘infidels,’ it means idolaters,” not monotheists.
Wahid, the former president of Indonesia, is speaking to me by phone from his office in Jakarta. With him is C. Holland Taylor, an American entrepreneur and libertarian who fell in love with Indonesian culture en route to making a fortune in the telecommunications industry. After the 9/11 terrorist attacks, Taylor created the LibForAll Foundation, a nonprofit organization dedicated to fighting Islamist extremism by promoting a culture of liberty and tolerance in the Muslim world; Wahid is the foundation’s patron and senior adviser.
With 200 million residents, Indonesia is the world’s largest Muslim nation, and Wahid — popularly known as Gus Dur — was not only its first democratically elected president but the longtime chairman of its largest Muslim organization, the 35 million-member Nadhlatul Ulama. A revered religious scholar who studied in Cairo and Baghdad, Wahid is a longtime champion of a moderate, progressive, and nonpolitical Islam. As a result, he has frequently clashed with militant fundamentalists whose growing influence, fueled by Arab/Wahhabi oil money, is undermining Indonesia’s traditional religious pluralism.
Last year, Wahid spearheaded the opposition to a series of 11 reactionary fatwas, or religious decrees, issued by a high-ranking council of Indonesian Muslim clerics. The fatwas condemned any Islamic teaching based on liberalism and secularism, banned interfaith prayers not led by a Muslim, and even prohibited the answering of “amen” to a non-Muslim prayer. Wahid and LibForAll promptly organized a group of religious leaders, both Muslim and non-Muslim, into an “Alliance Toward a Civil Society,” which denounced the fatwas as unworthy of decent Muslims and improper under Indonesia’s democratic constitution.
“Gus Dur went on TV and radio to insist that the fatwas had no legitimacy and called on Muslims to ignore them,” Taylor says. “Because of his genuine scholarship, his criticism carried great weight. This is a model of how to defeat radical Islam worldwide.”
Wahid and Taylor are convinced that the impact of Islamist fanaticism can best be blunted by promoting leading Muslims who endorse moderation, pluralism, and democracy. One member of the LibForAll board is rock star Ahmad Dhani, a rock star whose band, Dewa, has millions of fans in Indonesia, Singapore, and Malaysia. Some of Dhani’s hits have been aimed at undercutting Islamic militants. For example, one album is called “Laskar Cinta” (”Warriors of Love”) – a play on the name of a terrorist group, Laskar Jihad (”Warriors of Jihad”). By harnessing his music and popular following to the cause of peace and interfaith tolerance, Dhani aims to inoculate young Indonesian Muslims against the extremism and violence of the Islamists.
While all of LibForAll’s work to date has been in Indonesia, Wahid and Taylor hope to begin operating in other Muslim nations soon. On the drawing board now is a project to translate “Laskar Cinta” into Arabic, then arrange for an Egyptian pop star to perform and record it at a concert in Cairo. Wahid intends to meet with Egyptian clerics and opinion leaders, to press his view that Islam requires openness toward other religions and that Islamist terrorists and their supporters must be resisted and discredited.
Taylor argues that because of Indonesia’s long tradition of pluralism, and because of Wahid’s great following, Indonesia is the ideal base from which to launch an intellectual and cultural assault against the jihadists’ ideology. The “essence” of Islam, he and Wahid maintain, is summed up in the words of the Koran (Sura 109:6): “For you, your religion; for me, my religion.” But whether such a message will resonate in the Arab world remains to be seen. After all, jihadists quote the Koran too, and the verses they cite are as intolerant and supremacist as Wahid’s is pacific and humane.
But there is no doubting Wahid’s commitment to interfaith harmony. He tells Indonesian Muslims that they can learn from Christianity and Christian life, and has dispatched armed members of Nadhlatul Ulama to protect Christian churches from Islamist violence. Not long ago, one of Wahid’s Muslim adherents was killed when he discovered a bomb in a church and used his body to shield the Christian worshipers from its blast. That stunning act of selflessness is a powerful reminder that Muslims no less than non-Muslims have a great deal riding on the defeat of the Islamofascists — and that we will not win the war against radical Islam without moderate Muslim allies like Wahid.
_____
*Jeff Jacoby is an Op-Ed writer for the Boston Globe, a radio political commentator, and a contributing columnist for Townhall.com.
NGOMONG APA KAMU?
Oleh Beni Bevly
Memang banyak guru Cap Kauw (SMAN 19) Jakarta – sekolahku – yang bermutu dan berdedikasi tinggi, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka jauh dari yang aku harapkan. Kekurangan ini bisa menjadi kekuatan bagi perkembangan murid tertentu, atau sebaliknya, muridnya menjadi semakin lemah. Tergantung bagaimana murid tersebut menghadapi situasi seperti ini. Secara umum bahwa guru yang mempunyai kebiasaan men”discourage” cenderung menghasilkan murid yang lemah dalam hal intelenjensia. Kebiasaan guru seperti ini mengingatkan aku pada penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya hasil penilitian ini menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak. Dalam banyak hal, guru di Indonesia, termasuk sebagian besar guruku di Cap Kauw tidak memperdulikan hal ini.
Suatu hari, aku mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Guru Inggrisku memulai pelajaran dengan menerangkan dengan singkat mengenai pengunaan irregular verbs. Tak lama kemudian kami disuruh menyalin dari papan tulis. Sementara itu, seperti biasa, guru tersebut tertidur di mejanya sambil mendengkur. (Kemudian hari, aku ketahui bahwa dia sering tidur pada saat mengajar karena sakit. Tetapi mengapa tidak dicari guru pengganti sementar?). Setelah selesai menyalin, salah satu temanku memberanikan diri untuk membangunkan dia.
Selanjutnya, kami diminta untuk menerapkan irregular verbs dalam kalimat. Sampai pada giliranku, aku menggunakan kata forsaken yang berasal dari kata forsake dalam kalimat pasif. Apa komentar guru tersebut? Sambil ternsenyum mengejek, melihat aku dari sudut matanya dan dia bilang, “Ngomong apa kamu?” Seluruh kelas merasa lucu dan mereka tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum kecut, merasa direndahkan dan terhina.
Begitu sekolah selesai, aku tidak langsung pulang kerumah, tetapi ke tempat kursus Inggris dan mendaftarkan diri jadi salah satu peserta kursus. Aku belajar mati-matian termasuk bagaimana pronunciation per kata. Beberapa bulan kemudian, nilai Bahasa Inggris di raporku menanjak.
Bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia dalam banyak hal. Dari yang paling sederhana seperti susunan diterangkan-menerangkannya terbalik, konteks waktu dalam kalimat harus jelas. Tidak cukup dengan hanya menambahkan kata yesterday di belakang kalimat seperti dalam Bahasa Indonesia, tetapi harus merubah kata kerja menjadi past form. Pronunciation, intonation dan accent sangat menentukan apakah orang bule bisa mengerti kita dalam berbicara. Sebagai perbandingannya, orang bicara bahasa Indonesia tanpa mamapu melafalkan “r” atau pelo-pun bisa dimengerti dengan mudah oleh kita.
Yang jarang disadari orang dalam mempelajari bahasa Inggris bahwa pengucapannya banyak didasarkan persepsi suara yang didengar oleh si pembicara. Sederhananya, di telinga orang yang berbahas Inggris, suara anjing menggongong dilafalkan sebagai “whoof.” Orang yang berbahasa Indonesia mendengarnya sebagai “gong.” Contoh lain, suara tembakan, bagi orang yang berbahasa Inggris didengar sebagai “bang,” bagi orang Indonesia sebagai “dor.”
Dalam tahap tertentu bahasa Inggris, terutama pronunciation dan intonation-nya sama rumitnya dengan bahasa Cina, baik itu bahasa Mandarin, Khek, Tio Ciu atau lainnya. Tetapi bahasa Cina memiliki lebih banyak variasi dan ribuan karakter. Satu kata bisa memiliki 5 atau lebih pengertian. Sebut saja dalam bahasa Cina Khek, “si” bisa diartikan sebagai empat, mati, tahi, salah satu arah angin, dan kumis, tergantung dari intonasi pengucapan, penulisan karakter dan konteksnya.
Kembali ke komentar guru aku – “Ngomong apa kamu?” – adalah suatu perbuatan yang tidak menciptakan iklim belajar yang membangun. Aku yakin, hingga pada saat ini masih banyak guru seperti itu. Hal ini mengingatkan aku pada suatu penelitian yang dilakukan oleh guru sekolah dasar di AS. Penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya tujuan penilitian ini untuk menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak.
Murid-murid dalam satu kelas di bagi dua kelompok berdasarkan warna mata. Kelompok pertama yang bermata biru dipakaikan dasi. Sedangakan kelompak kedua yang bermata coklat tidak boleh pakai dasi. Pada minggu pertama, sang guru mengatakan bahwa murid yang bermata biru itu jauh lebih pintar dari murid bermata coklat, karena itu mereka diberi dasi khusus sebagai penghargaan. Dalam setiap kegiatan murid bermata biru diprioritaskan. Dalam waktu yang singkat, percaya diri yang lebih besar timbul dikalangan murid mata biru, nilai ujiannya juga jauh lebih baik. Sedangkan murid yang bermata coklat, percaya dirinya turun seketika seiring dengan menurunya nilai ujian mereka. Murid bermata biru pun punya kecenderungan untuk menganiaya murid bermata biru.
Minggu berikutnya, sang guru berkata, “Minggu lalu aku berbohong. Sebenarnya yang lebih pintar dan superior adalah murid yang bermata coklat, maka dasi yang kamu miliki sekarang harus kamu berikan kepada murid bermata coklat”. Seketika itu juga, murid bermata coklat merebut dasi dari murid bermata biru. Kemudian guru tersebut melakukan kegiatan yang sama dengan meninggikan dan mendahulukan murid bermata coklat. Tingkah laku kedua kelompok murid ini pun segera berbalik, begitu juga hasil ujiannya.
Minggu ketiga, semua murid diberitahu bahwa pada dasarnya kalian adalah sama pintar dan guru tersebut menyuruh mereka membuang pita khusus tersebut. Sejak itu guru mereka menerapkan iklim belajar yang positif untuk semua murid. Nilai mereka, kepercayaan diri dan saling menghargai umumnya meningkat.
Idealnya, guru harus selalu menciptakan iklim belajar yang baik di kelas. Penelitian Brown Eyes-Blue Eyes, membuktikan betapa berpengaruhnya omongan dan tindakan guru terdadap perkembangan mental dan intelektual sang murid. Seorang guru tidak semestinya men-discourage murid yang dianggap lebih lambat dalam hal berpikir jika dibandingkan murid lain. Dukungan dan pujian perlu dikeluarkan dari mulut seorang guru demi kemajuan murid, bukan ledekan dan bentakan.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
AYAAN HIRSI ALI
By Beni Bevly
Prior to 1999, there were three things that were not allowed to be criticized and touched in Indonesia. They were Suharto and his regime, military, and religion (Islam). During the reformation period, which occured thereafter, the public and mass media have regained their freedom to address their concerns, but there is one thing that is still likely to be untouchable: Islam.
Islam, Muslims and their traditions were brought up frankly, honestly and with no reservation by Ayaan Hirsi Ali – an international activist – yesterday, February 20th, 2007 at the Commonwealth Club in San Francisco. Ali’s stories and ideas are relevant to Indonesia that occupied by more than 90% of Muslims populations and the world largest Muslims in the world.
I arrived at the Commonwealth Club around 5:30 PM. There were 4 agents at the lobby. I was search by two of them. I was required to open my jacket, show them the contents in all my pockets. They told me what I could not do, including blocking Ali’s way when she entered or left the podium. Basically, Ali was guarded almost like a president of the United States. Why? If you continue reading this article you will find the answer.
When I had a chance to talk to her personally. What was her first impression? She said, “I am sorry for the people in Indonesia.” If I did not know the context, I would have been confused with her statement. Actually what she wanted to say that the role of Islam in Indonesia did not give women the freedom to determine their own life. Lets evaluate the context that she presented earlier.
Ayaan Hirsi Ali presented cases that were also written in her two books, “The Caged Virgin: An Emancipation Proclamation for Women and Islam” and “Infidel.” I highly recommend these two books for anyone, who has desire to recover themselves and live they full life in country where Islam plays the main role in every aspects of life.
Ali was born in Somalia and raised Muslim, but outraged by her religion’s hostility toward women, she escaped an arranged marriage to a distant relative and fled to the Netherlands. There, she learned Dutch, worked as an interpreter in abortion clinics and shelter for battered women, earned a collage degree in political science, and started a career in politics as a Dutch parliamentarian.
In November 2004, the violent murder on an Amsterdam street of Dutch filmmaker Theo van Gogh, with whom Ali had written a film about women and Islam called Submission, changed her life. Threatened by the same group that slew van Gogh, Ali now has round-the-clock protection, but has not allowed these circumstances to compromise her fierce criticism of the treatment of Muslim women, of Islamic goverments’ attempts to silence any questioning of their traditions, and of Western goverments’ blind tolerance of practicing such as genital mutilation and forced marriages of female minors accruing in their countries.
Based on her experience in Somalia, she said – as you can read it in “the Caged Virgin,” “I was thought that Islam sets us apart from the rest of the world, the world of non-Muslims. We Muslims are chosen by God. They, the other, the ‘kaffirs,’ the unbelievers, are antisocial, impure, barbaric, not circumcised, immoral, unscrupulous, and above all, obscene; they have no respect for women; their girls and women are whores; many of the men are homosexual; men and women have sex without married. The unfaithful are cursed, and God will punish them most atrocious in the hereafter.”
In facts, she found out that Islam tradition in most Islamic countries, even in Koran and Hadith inherently teach violence and inequality treatment to women. According to her, Osama Bin Laden carried out his mission according to Koran and Hadith persistently, including killing thousands of people on 9/11. Wife is divorced if the husband says three times, “You are divorced.” While if the wife wants to get divorced, she has to go to the court.
Further she mentioned there was no way to reform Islam except Muslims can accept criticizes. So far Muslims can criticize the West, but the West cannot criticize the practices of Islam. The first step that Muslims should take to reform is by acknowledging that Koran is not the script of Allah. Then reform the treatment to women in Islamic society. I know that sounds radical, but that is what she said.
Recalling to what she said to me, “I am sorry for the people in Indonesia.” Fortunately, majority women in Indonesia don’t receive treatment from their male fellow Muslims as bad as in other Islamic countries. However, there is one thing that we always need to remember; there are always rooms for us to improve.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
AKU HANYA MAIN GITAR UNTUK TUHAN
Oleh Beni Bevly
Pemberitaan dan perbincangan mengenai moral di Amerika dan di Indonesia sering kali tidak seimbang. Di Amerika, moral seperti gunung es yang terbalik. Masalah moral timbul dan terlihatan jelas di permukaan, sedangkan di Indonesia kasus immoral terpendam jumlahnya tidaklah sebanyak yang terlihat dipermukaan. Kasus moral di Indonesia, walaupun ada beberapa pihak yang berteriak, seperti gunung es. Di bawah ini adalah refleksi pergaulanku di sekolah ketika aku masih sangat muda.
Masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah masa di mana murid-muridnya mulai merasakan ketertarikan akan lawan jenis. Supaya bisa mendekati teman wanitanya, baik sengaja ataupun tidak, banyak murid laki-laki yang menggunakan instrumen tertentu. Main gitar dan menyanyi adalah instrumen yang paling banyak dipakai di SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, di mana aku sekolah pada waktu itu.
Pada suatu kesempatan, teman-teman berkumpul, bernyanyi dan main gitar. Tetapi masih ada satu gitar ngangur dan aku minta salah satu temanku, yang kami tahu dia sangat pintar dalam hal bergitar, untuk memainkan gitar tersebut. Dia menolak dan berkata, “Aku hanya main gitar untuk Tuhan.” Pada prinsipnya, menurut dia bahwa hanya main gitar pada waktu sembayang dan di dalam gereja saja yang dianggap main gitar untuk Tuhan. Aku tidak tahu aliran gereja apa dan mana yang mengajarkan hal tersebut?
Satu minggu setelah itu, terbangkar bahwa temanku yang hanya mau main gitar untuk Tuhan itu mempunyai hobi nonton blue film (BF) atau filem porno. Ia bahkan secara bersembunyi membawa film tersebut ke sekolah dan mengajak beberapa teman untuk nonton bersamaan. Sementara itu, ia tetap menolak main gitar di sekolah.
Aku sangat sulit menerima paradoks seperti ini. Tetapi pada saat kuliah salah seorang dosen Ilmu Politik, Dwi Susanto menerangkan antara moral dan kehidupan sosial secara umum di Indonesia hampir tidak ada hubungan. Masih ingat di benakku, dia mengatakan, “Di lingkungan masyarakat Indonesia, moral seseorang jarang dipertanyakan, selama orang tersebut berada atau kaya, masyarakat mengetahui bahwa dia ke mesjid atau gereja setiap minggu, beramah-tamah dan memberi sumbangan.”
Memang ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang mengecam hal-hal berbau ponografi dan club malam. Tidak jarang kecaman itu menjerumus ke pengrusakan dan kekerasan fisik. Tetapi agaknya banyak dari kelompok tersebut mengecam karena ada agenda lain, seperti agenda politik yang ingin memperbesar pengaruh atau unjuk kekuatan. Atau lebih sederhanaya, mereka hanya menerima order, seperti order dagangan untuk mendapatkan uang.
Kasus pengecaman dan pengrusakan yang marak dan terjadi beberapa waktu yang lalu adalah tanggapan terhadap penerbitan Play Boy Indonesia. Sebelum itu, pengecaman terhadap bintang nyanyi Inul Dararista juga ramai. Pengecaman ini memberikesan bahwa masyarakat Indonesia sangat mengagungkan moralitas yang tinggi. Benarkah semikian? Karena rasa ingin tahu, maka aku minta majalah edisi Play Boy pertama dan VCD Goyang Inul dikirim ke alamat tempat tinggalku di Amerika. Di bawah ini mari kita lihat peristiwa Play Boy dan Inul tadi.
Majalah Play Boy Indonesia yang dipimpin oleh Erwin Arnanda mempunyai struktur yang sama dengan majalah aslinya dari Paman Sam. Apa yang membedakan? Gambar wanita telanjang. Dengan membandingkan dua majalah yang saat ini tergeletak di meja tulisku – Play Boy Indonesia, Premiere Issue, April 2006, seharga Rp. 40.000 dan Play Boy Amerika, issue October 2005, seharga $ 4.99. Pada majalah Play Boy Indonesia, sampul depannya adalah seorang wanita berpakaian degan bahu terbuka yang terkamuflase remang-remang dalam lapisan warna merah magenta. Dalam halaman daftar isi tidak dijelaskan siapa wanita ini. Anda jangan terkelabui dengan nama majalah ini yang seharusnya menjanjikan gambar wanita telanjang. Ternyata di antara 160 halaman, termasuk di pictorials section yang paling digemari kaum adam, tidak ada satupun yang isinya wanita tanpa busana.
Pada Play Boy yang diasuh oleh pendirnya langsung, Hugh Hefner yang sudah berumur lebih dari 70 tahun, sampul depannya adalah seorang mahasiswi dari Oregon State University bernama Sarah Jean yang berpose telanjang bulat. Gambar wanita ini tidak terlihat terlalu fulgar karena bagian atas pusar sampai lehernya dicat seolah-olah memakai baju berwarna abu-abu tua dan di bagian bawahnya dicat seolah mengenakan bikini merah. Dari total 160 halaman, 74 halaman berisi wanita telanjang atau setengah telanjang (kelihatan payu daranya saja atau hanya sebagian dari aurat yang umumnya ditutupi). Secara keseluruhan terdapat 122 jumlah gambar wanita telanjang dan separuh telanjang.
Lalu apa masalahnya dengan majalah Play Boy Indonesia sehingga menimbulkan issue nasional, kekerasan dan pengrusakan? Sebelum membahas lebih jauh, mari kita lihat kasus Inul.
Dengan gaya ngebor-nya yang terkenal, Inul menggegerkan intertainment industry Indonesia bahkan ia sempat disiarkan di beberapa media luar negeri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah ia hanya seorang kampung yang bermodalkan goyang pinggul? Ternyata kasusnya tidak sesederhana itu. Kecaman yang paling pedas datang dari seorang penyanyi generasi yang lebih tua. Intinya, bahwa ngebor model Inul dinilai menimbulkan rangsangan birahi bagi penonton pria. Benarkah begitu?
Ketika beberapa teman Indonesia dan Amerika berkumpul di rumahku, aku putarkan DVC Goyang Inul. Aku ceritakan bahwa goyang Inul ini menumbulkan polemik di Indonesia. Tanggapan mereka? “Ah, biasa-biasa saja.” Memang jika aku bandingkan dengan salah satu bintang nyanyi ngetop di Amerika, Britney Spears, Goyang Inul itu tidaklah seberapa. Pertama, cara berpakaian Inul yang walaupun ketat, tetapi tertutup melebihi orang berolah raga di fitness center. Dalam video clipnya dengan lagu yang berjudul Toxic, penampilan Britney memberikan kesan 100 persen telanjang dengan badannya yang hanya ditempeli manik mengkilap seperti berlian.
Kedua, Inul hanya sekedar bergoyang, meliuk dan bermuka seksi. Britney, selain meliuk, tangannya juga bergerak menyentuh payu darah dan daerah kemaluanya. Ketiga, antara Inul dan penari latarnya tidak menunjukkan adanya hubungan yang mengisyaratkan ke arah sexual. Britney dalam bergaya dengan penari latarnya seringkali menggoda atau digoda, seperti tidakan meraba, berpelukan dan mencium lawan jenis. Untuk lebih jelasnya lihat Inul Daratista, Goyang Inul, Jakarta: PT. Arga Swara Kencana Musik, 2003 dan Britney Spears, In the Zone, Bellingham, WA: Davis Shapiro Lewit Montone & Hayes, LLP, 2004.
Kembali ke pertanyaan di atas, lalu apa masalahnya dengan majalah Play Boy Indonesia dan Inul sehingga menimbulkan issue nasional, ancaman atau kekerasan dan pengrusakan? Terlepas dari dugaaan adanya agenda lain seperti untuk memenuhi kelompok kepentingan dalam hal politik, ego nasional dan ekonomi yang mengatas namakan moral, kelihatannya Play Boy Indonesia diasosiasikan dengan westernisasi atau amerikanisasi yang mempunyai nilai moral yang bejat . Sedangkan kasus Inul lebih banyak dilihat sebagai fenomena dalam negeri.
Di permukaan, image Amerika memang menunjukkan gejala moral yang merosot yang tercermin pada web site, majalah, tabloid, tayangan music and television (MTV), film Holywood yang penuh dengan kekerasan dan berbau sex, serta film pornonya yang beredar di pasar gelap Indonesia. Image Amerika begitu immoral terjadi karena hukum Amerika yang memperbolehkan berfantasi. Dalam hukumnya, fantasi dipisahkan dengan kenyataan. Seseorang boleh befantasi apa saja, termasuk hal-hal yang porno, tetapi ketika memasuki tindakan fisik secara langsung, seperti pelacuran/protitute akan dilarang dan ditindak keras. Di sin city, Las Vegas, pelacuran tetap dilarang. Show girl, strip tease (tari telanjang), lap dance (wanita telanjang yang menari di atas pangkuan pria dan si pria itu tidak boleh memegang si penari) dan penerbitan media porno lainnya diperbolehkan dengan peraturan tertentu dan di tempat tertentu, karena ini digolongkan sebagai fantasi. Fantasi seperti ini menjadi business billion dollar US.
Tetapi jika anda datang dan menetap di Amerika Serikat beberap lama, anda akan kaget karena menumukan banyak hal yang sebaliknya. Sebagai contoh, pada takhir tahun 2006 aku betemu dengan dua orang wartawan dari Indonesia yang diundang oleh pemerintahan Amerika. Mereka mengungkapkan betapa herannya melihat kehidupan di Amerika. Mereka tidak banyak menemukan hal negatif yang seperti yang mereka bayakan dan digembar-gemborkan di Indonesia. Pada hal mereka adalah wartawan dan masih bisa termakan oleh image dan stereotype negatif mengenai Amerika yang pemberitaanya tidak proporsional.
Di lain pihak, realitas kehidupan sosial di Amerika, seperti tempat ibadah; gereja, mesjid dan tempat ibadah agama lainnya, setiap minggu penuh dengan umatnya. Perundangan dan penerapannya tentang hubungan antara pria dan wanita sangat keras. Seorang dewasa jika ditemukan berpacaran dengan seorang remaja berumur di bawah 21 tahun, maka orang dewasa itu dikategorikan telah berbuat kriminal. Kasus terbaru pada tahun 2006, seorang guru SMA, wanita dewasa berambut blond, cantik jelita dihukum penjara bertahun-tahun karena memacari murid prianya.
Jika anda di bawah umur yang ditentukan, jangan berharap anda akan dengan bebas masuk keluar bioskop yang memutar film dewasa, membeli majalah play boy, rokok dan minimun keras. Banyak kota di Amerika diberlakukan jam malam (cerfew) bagi remaja. Umumnya setelah jam sebilan malam, mereka tidak diperbolehkan berada di luar rumah tanpa ditemani orang tua.
Dalam kehidupan sex, memang ada sebagian dari mereka yang sangat liberal tetapi lebih banyak lagi dari mereka yang tradisional. Umumnya pada waktu yang bersamaan mereka hanya memiliki satu kekasih. Ketika mereka sudah punya pacar atau menikah, cheating atau main serong merupakan hal yang besar atau big deal. Prinsip “isi botol boleh ke mana-mana, tetapi harus balik utuh” tidak pernah terdengar. Masih ingat peristiwa Bill Clinton yang main gila dengan mahasiswi yang magang di White House, Monica Lewinsky? Perlu diketahui bahwa, seperti yang dia akui, Clinton tidak pernah tidur dengan Lewinsky. Tetapi main gila adalah main gila, sehingga ia harus duduk dipengadilan dan diadili seperti rakyat Amerika lainnya. Jika presiden Indonesia berbeuat demikian, apakah pengadilan seperti ini bisa terjadi? Selain itu, menikahi lebih dari satu isteri atau satu suami adalah perbuatan yang melanggar hukum.
Jika anda seorang pejabat pemerintah atau orang terkenal, jangan berharap anda bisa bicara sembaragan dan mobok-mobokan. Tidak peduli hal itu dilakukan di rumah sendiri atau di tempat lain. Jika hal ini sampai ketahuan oleh umum, maka jabatan, nama baik dan harta menjadi taruhannya. Tindakan seperti ini agaknya tidak mempengaruhi kedudukan dan nama baik bagi pejabat Indonesia. Mereka cukup menyatakan bahwa itu bukanlah maksud untuk berbuat seperti itu, tetapi hanya salah paham. Maka selesailah masalah.
Contohnya, seperti yang diungkapkan oleh Iwan Santoso bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa kawin kontrak antara perempuan Indonesia dengan pria Timur Tengah di kawasan puncak mampu melahirkan bintang sinetron masa depan Indonesia. Ternyata kawin kontrak ini adalah akal-akalan untuk sekedar memenuhi nafsu birahi laki-laki hidung belang yang banyak berasal dari Arab (Marjinalisasi Kaum Perempuan: Kawin Kontrak di Kawasan Puncak, Kompas, 17 Juli 2006, http://www.kompas.com). Pernyataan wakil presiden yang idanggap menjual wanita Indonesia ini mendapat protes, tetapi ia cukup menjawab bahwa wartawan hanya salah pengertian dan masalahpun selesai.
Selanjutnya Santoso menelusuri tentang kawin kontrak ini, dia mengutip salah satu pernyataan janda muda yang beberapa kali dikontrak, “Saya pernah nemani orang Arab selama dua minggu. Lumayan, sehari dikasih Rp. 500.000 yang dibagi untuk mami dan abang yang ngurus. Tinggal hitung aja biaya nikah dan berap kali sebulan mau datang ke sini. Paling minim Rp. 10 juta sebulan saya mau. Itu pun paling saya terima separuh saja karena harus bagi dengan mami dan para abang.”
Santoso menyimpulkan bahwa kondisi Puncak di Jawa Barat dan Batam citranya telah berubah menjadi daerah prostitusi. Sedangkan di Thailand sudah mulai “malu” dan tidak lagi mengekspos keberadaan kompleks Patpong di Bangkok yang menjadi wisata seks.
Di Amerika, moral seperti gunung es yang terbalik. Masalah moral timbul dan terlihatan jelas di permukaan, itulah masalah yang sebenarnya. Kasus yang terpendam jumlahnya tidaklah sebanyak yang terlihat dipermukaan. Kasus moral di Indonesia, walaupun ada beberapa pihak yang berteriak, seperti gunung es. Yang terangkat kepermukaan hanya sedikit dan tidak terlalu relevan bagi kepentingan masyarakat umum, seperti kasus kasus Play Boy dan Inul. Tetapi di bawahnya, terhampar lebih banyak kasus mendasar tetapi tidak disentuh.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
MOTHER
Oleh Beni Bevly
Sistem dan kurikulum pendidikan ternyata sangat menentukan perkembangan jiwa dan intelektual muridnya. Salah satu hal yang hilang dari pendidikan masa kecil angkatan ku adalah program Show and Tell seperti yang banyak ditetapkan di sekolah Amerika Serikat sejak jaman dulu. Berikut adalah pengalaman dan refleksiku di sekolah menengah.
Sejak kecil aku sudah menunjukkan gejala gagap. Suatu hari di bangku kelas 2, SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, aku mendapat giliran baca bagian pertama dari buku pegangan bahasa Inggris, Student Book. Aku ingat betul kata pertama yang hendak aku baca adalah “mother.” Tetapi untuk beberapa saat kata itu tidak keluar dari mulutku. Aku berjuang keras. Suara yang terdengar adalah: “Mo … mo … “.
Sambil tersenyum guru bahas Inggris-ku meminta aku maju ke depan kelas dan berdiri di tempat tinggi yang dipergunakan untuk menulis di papan tulis. Sambil memegang buku – dadaku berdetak keras, seluruh badanku terasa panas, dan keringat mengucur dari atas kepala – aku berkonsentrasi keras. Akhirnya huruf pertama “mother” keluar dari mulutku. Selanjutnya, aku merasa bahwa aku membaca seluruh artikel kecil itu seperti letusan senjata yang mengeluarkan peluruh meleset secepat kilat. Setelah itu, aku merasa lega, malu, kesal dan marah pada waktu yang bersamaan terhadap diriku.
Sejak saat itu setiap pulang sekolah, di loteng rumah orang tuaku yang panas dan di depan kaca berwarna biru buram, aku membaca artikel itu keras-keras. Aku ulang berkali-kali sampai keringat membasahi wajah dan tubuhku. Pada hari yang lain, tidak jarang, aku harus membuka bajuku yang basah oleh keringat dan meneruskan membaca membaca artikel itu lagi dalam keadaan haus dan lapar.
Aku lakukan itu lebih dari satu bulan. Sebagai hasilnya, aku mempunyai kemampuan membaca – artikulasi dan intonasi – yang cukup baik di antara teman sekelasku. Aku berterima kasih pada guru bahas Inggrisku itu.
Berdiri dan membaca di depan kelas seperti yang aku lakukan atas permintaan Inggris-ku adalah hal yang baik untuk melatih keberanian untuk tampil dan jiwa kepemimpinan. Tapi sayangnya, hal ini hanya dilakukan sampai taraf membaca saja.
Di AS ada satu program yang disebut show and tell. Pada hari tertentu setiap murid tingkat TK dan SD diminta untuk membawa salah satu atau beberapa objek kebanggaan mereka. Setiap murid mendapat giliran di depan kelas untuk menunjukkan objek tersebut sambil menceritakan apa saja yang murid mau sampaikan. Sebelum kembali ke bangkunya, murid yang lain diberi kesempatan untuk bertanya. Kadang kala terjadi tanya-jawab yang seru dan lucu.
Ada beberapa unsur positif dari program show and tell. Petama, melatih kemampuan murid untuk tampil di depan umum. Kedua, mengasah kemampuan untuk mendiskripsi dan berargumen. Ketiga, membiasakan diri untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang mempunyai hal yang berbeda. Keempat, mengurangi rasa cemburu dan iri akan keberadaan orang lain.
Karena tidak diterapkannya program show and tell di Indonesia, aku duga mempengaruhi hal sebagai berikut: Satu, kemampuan murid Indonesia untuk tampil dan berbicara di depan umum masih minim. Jika mereka mendiskripsikan sesuatu, misalnya diminta mendeskripsikan kapur, maka mereka cenderung bilang, “Kapur … ya kapur”. Dua, tidak terbiasa dengan perbedaan. Harus diakui bahwa terdapat kenyataan ada murid yang orangtuanya lebih berada, sehingga murid tersebut tampil berbeda. Tiga, perbedaan ini cenderung menimbulkan kecemburuan dan iri.
Pada tingkat gejala sosial yang lebih luas lagi, sering kita dengar imbauan pemerintah terhadap gologan masyarakat berada, terutama terhadap orang Cina, “Hindari penampilan yang mentereng. Jangan terlalu menyolok.” Aku mengerti di satu pihak pemerintah hendak mencegah terjadinya kecemburuan sosial yang mengarah pada kekerasan. Tetapi di lain pihak, adalah hak setiap orang untuk tampil seperti yang mereka mau. Jika sejak kecil dilatih dan disadarkan bahwa setiap orang adalah berbeda baik secara fisik, sifat dan kepemilikannya, serta setiap orang mempunyai hak yang sama untuk meraih dan tampil beda – melalui program show and tell – maka kecemburuan sosial akan bisa diminimal. Tetapi bukan meredam sepihak dengan cara menyuruh mereka merendahkan dirinya.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
NEGOSIASI GOLOK
Oleh Beni Bevly
Ada tiga kasus budaya business Indonesia mikro yang menurutku janggal dan pada akhirnya, yang jika dijeneralisasilkan secara makro, tidak menguntungkan bagi pihak pemilik budaya business ini. Kasus pertama, terjadi pada tahun 1989, ketika aku dan teman kuliahku yang lain mengadakan penelitian masyarakat di daerah pedesaan Bandung, Jawa Barat. Sesudah melakukan interview dan pengumpulan data yang melelahkan, pada sore harinya temanku, Achmad Noersuchban dan aku pergi ke sebuah home industry pembuat golok, tempat di mana aku membeli golokku. Dia juga hendak membeli golok di sana. Aku tahu persis berapa harga golok yang ia hendak beli.
Sesampainya di tempat pembikinan golok yang juga merupakan rumah tempat tinggal pemiliknya, Achmad menyapa dalam bahasa Sunda dan memperkenalkan diri. Lalu terjadi percakapan panajang lebar mengenai asul usul mereka, siapa aja orang yang mereka kenal dan lain-lain. Kemudian Achmad menanyakan harga golok yang akan dibelinya. Akang tukang golok itu memberikan suatu harga. Aku heran, ternyata harganya jauh di bawah harga yang aku beli pada siang hari.
Acmad menawar, penjual bilang harga itu sudah murah. Kembali temanku mengulangi strategi yang serupa. Akang itu diajak ngobrol, mereka bercerita tentang kopi yang disukai, makan Sunda yang dijual di Jakarta dan lain-lain. Lalu Achmad berpamitan, si Akang menayakan berapa harga yang Achmad mampu bayar, dia menyebutkan angka yang lebih murah sepertiga dari harga aku beli dan si Akang mengiyakan. Begitulah negosiasi golok tersebut berakhir.
Kasus kedua, terjadi pada keesokan harinya, waktu aku belanja jajanan ringan. Ketika menerima kembalian, aku langsung menghitung uang kembalian itu di depan orangnya. Salah seorang temanku langsung menarik aku ke tempat lain dan berkata, “Ben, elu nggak boleh hitung kembalian di depan mereka. Nanti elu dibilang nggak percaya dan mereka bisa marah.”
Kasus ketiga, terjadi setelah selesai penelitian dan kembali ke Jakarta. Suatu hari aku ke Glodok – yang hampir semua pengelolah toko-tokonya adalah orang Cina – hendak mencari tahu harga komputer yang termasuk teknology baru pada saat itu. Salah satu penjaga tokohnya menjelaskan beberapa produk komputer, fungsi, harganya dan service after sales-nya dengan lancar dan cerdas. Mengenai harga komputer, si ngko penjaga tokoh itu memberi jaminan bahwa harganyalah yang termurah.
Kemudian aku pergi ke toko lain, rupanya ngko yang ini menerangkan hal yang serupa dan meng-claim bahwa harganyalah yang paling murah. Padahal harganya lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Ketiga kasus ini sedikit banyak mencerminkan budaya ber-business Indonesia yang mencerminkan keterlibatan primordial dan ketidak-terbukaan yang pada akhirnya tidak menimbulkan sifat saling kepercayaan. Budaya business seperti ini sulit dibawa ke tingkat internasional di mana fairness, trust (kepercayaan) dan keterbukaan sangat dibutuhkan dan dihargai.
Sebagai perbandingan dan untuk melihat bagaimana fairness, trust (keprcayaan) dan keterbukaan bekerja, aku hendak memaparkan beberapa kebiasaan dan jenis business di Amereka yang aku alami langsung. Pada tahun 1999 aku tinggal di San Diego, negara bagian Kalifornia selatan. Pada saat di selah-selah waktu memperdalami bahasa Inggris di San Diego Commnunity College, aku membantu pasangan suami-isteri orang Arab yang berwarga negara Amerika berjualan bunga.
Mereka membeli bunga dari supplyer-nya di perkebunan bunga sekitarnya. Jika persediaan bunganya banyak, maka supplier tersebut akan memberikan harga yang lebih murah, tanpa perlu negosiasi yang berkepanjangan dan ngalor-gidul, kiri kanan. Jika panen bunga sedang menurun maka harganya menjadi lebih tinggi.
Pada suatu hari, bosku balik dari supplier bunga dengan membawa bunga mawar merah darah dalam jumlah yang melebihi biasanya. Dia bilang, “Beni, we are going to sell these roses with 50 percent off regular price.”
Dalam hati aku heran dan bertanya, “Why?”
“Because I got them 50 percent lower than usual.” Jawabnya.
Aku terkesima mendengan kejujuran, keterusterangan dan fairness mereka. Jika mereka hendak menjual dengan harga biasa, saya yakin tidak ada konsumen yang complain. Di sinilah pertama kalinya aku memperhatikan bagaimana pasar benar-benar ditentukan oleh supply dan demand. Ketika supply meningkat, demand sama, harga turun yang selama ini hanya terjadi di Indonesia dalam kondisi ceteris paribus. Kenyataannya, harga barang di Indonesia tidak pernah turun.
Turun naikknya harga barang dangangan di Amerika bukan hanya terbatas pada bunga mawar saja, tetapi terhadap hampir semua barang. Sebagai contoh, pada awal tahun 2007, harga rumah, bensin, tv, handycam, dan digital camera lebih murah dari tahun lalu. Penjual di Amerika-pun berani menurunkan atau menyamakan harga dengan kompetitornya. Jika seorang customer sudah belanja di satu tempat dan menemukan harga yang lebih murah di tempat lain, penjual sebelumnya akan melakukan price adjustment (penyesuaian harga).
Aku hendak memperkenalkan model business yang kayaknya mustahil dijalankan di Indonesia, tetapi menjadi usaha besar dan berjalan mulus dengan turnover ratusan juta dollar US di Amerika. Perusahaan ini bernama Netflix Inc. Pada dasarnya Netflix menyewakan film dalam bentuk digital video disc (DVD) dengan mengandalkan internet dan pengiriman melalui pos (lihat www.netflix.com). Perusahaan ini menawarkan harga yang lebih murah, pemilihan film sangat mudah, hanya dengan beberapa klik di web site mereka, pelanggan bisa membaca resensi dan menyusun puluhan daftar film yang akan disewa, dan prosesnya tidak menghabiskan waktu seperti dengan kunjungan ke toko penyewa film berulang kali. Karena itulah, pada awal tahun 2004, aku beralih dari menyewa film DVD di Blockbaster – perusahaan penyewaan film secara tradisional terbesar di Amerika – ke Netflix.
Setiap orang bisa berlangganan menyewa DVD dengan membayar uang bulanan dan memilih judul DVD di web site Netflix. Jumlah maksimal DVD di tangan pelanggan yang dikirim oleh Netflix sesuai dengan jenis kontrak langganannya. Pelanggan tidak dibatasi berapa lama untuk mengembalikan DVD tersebut dan tidak ada late fee. Untuk memenuhi efficiency proses di kantor pos, supaya tidak pecah dan menghemat biaya pengiriman, setiap lempengan DVD dikemas dalam amplop yang tipis.
Yang ingin aku sampaikan bahwa dalam pola berpikir negatif dan kemungkinan ini akan terjadi dalam konteks di Indonesia adalah sebagai berikut. Pertama, ada kemungkinan DVD tersebut pecah berantakan dalam pengiriman karena proses sortir di kantor pos dan kecerobohan manusia. Kedua, jumlah DVD yang hilang akan banyak karena ketidak-jujuran pihak yang terlibat, yaitu pihak pihak pekerja di kantor pos dan pihak penerima atau pelanggan. Amplop Netflix yang sangat menyolok dan mudah diidentifikasi akan mempermudah orang untuk mengambilnya. Hal lain, pelanggan bisa saja mengklaim bahwa ia tidak menerima DVD-nya dan minta dikirim yang baru.
Di samping Netflix yang unik, ada satu cara pembayaran yang baru diterapkan oleh tokoh retail dalam dua tahun terakhir ini di Amerika. Home Depot – jaringan toko retail bangunan terbesar – boleh dikatakan pelopor dari sistem baru ini. Sistem ini memungkinkan setiap customer untuk self check out, maksudnya setelah memilih barang yang hendak dibeli, seorang customer bisa langsung ke counter yang tidak ada kasirnya dan memproses pembayaran sendiri.
Dengan kata lain, customer mengikuti setiap instruksi di touch screen monitor komputer yang dimulai dari men-scan setiap item, menyentuh screen monitor yang bertuliskan total, memilih dengan menyentuh type of payment seperti credit card, menggesek credit card (jika memilih pembayaran menggunakan credit card), tanda tangan di signature pad dan langkah terakhir adalah menyentuh print pada touch sreen. Maka barang dagangan dan tanda pembayaran siap untuk dibawa pulang.
Dari dua kasus business ini berjalan dengan lancar di Amerika, tetapi apakah bisa berjalan dengan baik di Indonesia? Agaknya sulit karena antara produsen atau penjual dan pembeli belum ada suatu kesepakatan dalam hal fairness, trust dan keterbukaan. Contohnya, untuk masuk ke sepermarket di Indonesia, setiap customer harus meninggalkan tas yang dibawa. Satuan pengamanan (Satpam) dengan seragam dan walki-talki yang menyolok berkeliaran di mana-mana. Di lain pihak, oknum customer juga banyak. Shop lifting atau pencurian bukan hal yang jarang.
Ketidak adanya fairness, trust dan keterbukaan juga tercermin dari policy toko atau produsen yang tidak mengijinkan customer untuk mengembalikan barang belanjaan. Sebagai perbandingan, di Amerika dan kebanyakan negara maju, setiap toko menerapkan return policy yang memperbolehkan customer untuk mengembalikan barang belanjaanya dalam jangka tertentu, umumnya 30 hari. Barang dagangan berupa tanaman hidup seperti pohon dan bunga, jika dalam jangka waktu satu tahun mati, bisa dikembalikan. Perusahaan tertentu seperti Nordstrom Department Store, tempat di mana aku pernah bekerja sebagai Custimer Service Manager, memiliki return policy yang sangat liberal, barang yang sudah dipakai atau rusak dan jangka waktunya melebihi 30 hari atau sudah bertahun dan tanpa tanda pembayaran tetap diterima dan Nordstrom mengembalikan uangnya seharga barang yang dibayar customer.
Lebih ekstrimnya lagi, banyak perusahaan yang menerapkan life time warranty. Salah satunya adalah perusahaan terkemuka yang memproduksi ransel yang bermerek Jane Sport. Kapan saja, walupun sudah sepuluh tahun sejak tangal pembelian dan dengan tanda terima, jika tasnya rusak maka pembeli bisa mengembalikan dan minta ganti yang baru.
Contoh pola business di Amerika yang banyak mengandalkan fairness, trust dan keterbukaan sebenarnya membuka peluang bagi customer untuk berbuat curang. Anehnya, data statistik dari pihak pengusaha retail mengatakan bahwa hanya 1 persen dari customer mereka yang berbuat curang. Bisakah pengusaha dan customer Indonesia berlaku seperti ini?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.







