Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

MOTHER

with 2 comments

gagap.jpg
Gagap

Oleh Beni Bevly
Sistem dan kurikulum pendidikan ternyata sangat menentukan perkembangan jiwa dan intelektual muridnya. Salah satu hal yang hilang dari pendidikan masa kecil angkatan ku adalah program Show and Tell seperti yang banyak ditetapkan di sekolah Amerika Serikat sejak jaman dulu. Berikut adalah pengalaman dan refleksiku di sekolah menengah.

Sejak kecil aku sudah menunjukkan gejala gagap. Suatu hari di bangku kelas 2, SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, aku mendapat giliran baca bagian pertama dari buku pegangan bahasa Inggris, Student Book. Aku ingat betul kata pertama yang hendak aku baca adalah “mother.” Tetapi untuk beberapa saat kata itu tidak keluar dari mulutku. Aku berjuang keras. Suara yang terdengar adalah: “Mo … mo … “.

Sambil tersenyum guru bahas Inggris-ku meminta aku maju ke depan kelas dan berdiri di tempat tinggi yang dipergunakan untuk menulis di papan tulis. Sambil memegang buku – dadaku berdetak keras, seluruh badanku terasa panas, dan keringat mengucur dari atas kepala – aku berkonsentrasi keras. Akhirnya huruf pertama “mother” keluar dari mulutku. Selanjutnya, aku merasa bahwa aku membaca seluruh artikel kecil itu seperti letusan senjata yang mengeluarkan peluruh meleset secepat kilat. Setelah itu, aku merasa lega, malu, kesal dan marah pada waktu yang bersamaan terhadap diriku.

Sejak saat itu setiap pulang sekolah, di loteng rumah orang tuaku yang panas dan di depan kaca berwarna biru buram, aku membaca artikel itu keras-keras. Aku ulang berkali-kali sampai keringat membasahi wajah dan tubuhku. Pada hari yang lain, tidak jarang, aku harus membuka bajuku yang basah oleh keringat dan meneruskan membaca membaca artikel itu lagi dalam keadaan haus dan lapar.

Aku lakukan itu lebih dari satu bulan. Sebagai hasilnya, aku mempunyai kemampuan membaca – artikulasi dan intonasi – yang cukup baik di antara teman sekelasku. Aku berterima kasih pada guru bahas Inggrisku itu.

Berdiri dan membaca di depan kelas seperti yang aku lakukan atas permintaan Inggris-ku adalah hal yang baik untuk melatih keberanian untuk tampil dan jiwa kepemimpinan. Tapi sayangnya, hal ini hanya dilakukan sampai taraf membaca saja.

Di AS ada satu program yang disebut show and tell. Pada hari tertentu setiap murid tingkat TK dan SD diminta untuk membawa salah satu atau beberapa objek kebanggaan mereka. Setiap murid mendapat giliran di depan kelas untuk menunjukkan objek tersebut sambil menceritakan apa saja yang murid mau sampaikan. Sebelum kembali ke bangkunya, murid yang lain diberi kesempatan untuk bertanya. Kadang kala terjadi tanya-jawab yang seru dan lucu.

Ada beberapa unsur positif dari program show and tell. Petama, melatih kemampuan murid untuk tampil di depan umum. Kedua, mengasah kemampuan untuk mendiskripsi dan berargumen. Ketiga, membiasakan diri untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang mempunyai hal yang berbeda. Keempat, mengurangi rasa cemburu dan iri akan keberadaan orang lain.

Karena tidak diterapkannya program show and tell di Indonesia, aku duga mempengaruhi hal sebagai berikut: Satu, kemampuan murid Indonesia untuk tampil dan berbicara di depan umum masih minim. Jika mereka mendiskripsikan sesuatu, misalnya diminta mendeskripsikan kapur, maka mereka cenderung bilang, “Kapur … ya kapur”. Dua, tidak terbiasa dengan perbedaan. Harus diakui bahwa terdapat kenyataan ada murid yang orangtuanya lebih berada, sehingga murid tersebut tampil berbeda. Tiga, perbedaan ini cenderung menimbulkan kecemburuan dan iri.

Pada tingkat gejala sosial yang lebih luas lagi, sering kita dengar imbauan pemerintah terhadap gologan masyarakat berada, terutama terhadap orang Cina, “Hindari penampilan yang mentereng. Jangan terlalu menyolok.” Aku mengerti di satu pihak pemerintah hendak mencegah terjadinya kecemburuan sosial yang mengarah pada kekerasan. Tetapi di lain pihak, adalah hak setiap orang untuk tampil seperti yang mereka mau. Jika sejak kecil dilatih dan disadarkan bahwa setiap orang adalah berbeda baik secara fisik, sifat dan kepemilikannya, serta setiap orang mempunyai hak yang sama untuk meraih dan tampil beda – melalui program show and tell – maka kecemburuan sosial akan bisa diminimal. Tetapi bukan meredam sepihak dengan cara menyuruh mereka merendahkan dirinya.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

2 Responses to 'MOTHER'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'MOTHER'.

  1. Pendidikan di Indonesia memang masih berkutat di masalah intelektual saja. Anak dihargai karena nilai tugas dan tes, bukan karena keberanian, keaktifan, atau kecekatannya.
    Lebih gila lagi di masa sekarang, selesai sekolah murid masih harus bimbingan belajar dan ulangan remidial. Mau jadi apa anak Indonesia dengan sistem pendidikan seperti itu? Tidak ada waktu sosialisasi, berkumpul dengan keluarga dan mengembangkan bakat seni atau olahraga….

    Ria Wibisono

    23 Mar 07 at 8:24 am

  2. Mestinya, setiap kurikulum bisa di integrasikan dengan permainan. Seperti Muppet Show yang mencampurkan pelajaran matematika dan menyanyi.

    Kecenderungan yang Ria sebutkan di atas, akan menjadikan manusia robot yang EQ-nya kurang.

    Ria mempunyai pandangan yang tajam terhadap fenomena sosial. Teruslah membaca dan menulis.

    Beni Bevly

    23 Mar 07 at 2:33 pm

Leave a Reply