AKU HANYA MAIN GITAR UNTUK TUHAN
Oleh Beni Bevly
Pemberitaan dan perbincangan mengenai moral di Amerika dan di Indonesia sering kali tidak seimbang. Di Amerika, moral seperti gunung es yang terbalik. Masalah moral timbul dan terlihatan jelas di permukaan, sedangkan di Indonesia kasus immoral terpendam jumlahnya tidaklah sebanyak yang terlihat dipermukaan. Kasus moral di Indonesia, walaupun ada beberapa pihak yang berteriak, seperti gunung es. Di bawah ini adalah refleksi pergaulanku di sekolah ketika aku masih sangat muda.
Masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah masa di mana murid-muridnya mulai merasakan ketertarikan akan lawan jenis. Supaya bisa mendekati teman wanitanya, baik sengaja ataupun tidak, banyak murid laki-laki yang menggunakan instrumen tertentu. Main gitar dan menyanyi adalah instrumen yang paling banyak dipakai di SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, di mana aku sekolah pada waktu itu.
Pada suatu kesempatan, teman-teman berkumpul, bernyanyi dan main gitar. Tetapi masih ada satu gitar ngangur dan aku minta salah satu temanku, yang kami tahu dia sangat pintar dalam hal bergitar, untuk memainkan gitar tersebut. Dia menolak dan berkata, “Aku hanya main gitar untuk Tuhan.” Pada prinsipnya, menurut dia bahwa hanya main gitar pada waktu sembayang dan di dalam gereja saja yang dianggap main gitar untuk Tuhan. Aku tidak tahu aliran gereja apa dan mana yang mengajarkan hal tersebut?
Satu minggu setelah itu, terbangkar bahwa temanku yang hanya mau main gitar untuk Tuhan itu mempunyai hobi nonton blue film (BF) atau filem porno. Ia bahkan secara bersembunyi membawa film tersebut ke sekolah dan mengajak beberapa teman untuk nonton bersamaan. Sementara itu, ia tetap menolak main gitar di sekolah.
Aku sangat sulit menerima paradoks seperti ini. Tetapi pada saat kuliah salah seorang dosen Ilmu Politik, Dwi Susanto menerangkan antara moral dan kehidupan sosial secara umum di Indonesia hampir tidak ada hubungan. Masih ingat di benakku, dia mengatakan, “Di lingkungan masyarakat Indonesia, moral seseorang jarang dipertanyakan, selama orang tersebut berada atau kaya, masyarakat mengetahui bahwa dia ke mesjid atau gereja setiap minggu, beramah-tamah dan memberi sumbangan.”
Memang ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang mengecam hal-hal berbau ponografi dan club malam. Tidak jarang kecaman itu menjerumus ke pengrusakan dan kekerasan fisik. Tetapi agaknya banyak dari kelompok tersebut mengecam karena ada agenda lain, seperti agenda politik yang ingin memperbesar pengaruh atau unjuk kekuatan. Atau lebih sederhanaya, mereka hanya menerima order, seperti order dagangan untuk mendapatkan uang.
Kasus pengecaman dan pengrusakan yang marak dan terjadi beberapa waktu yang lalu adalah tanggapan terhadap penerbitan Play Boy Indonesia. Sebelum itu, pengecaman terhadap bintang nyanyi Inul Dararista juga ramai. Pengecaman ini memberikesan bahwa masyarakat Indonesia sangat mengagungkan moralitas yang tinggi. Benarkah semikian? Karena rasa ingin tahu, maka aku minta majalah edisi Play Boy pertama dan VCD Goyang Inul dikirim ke alamat tempat tinggalku di Amerika. Di bawah ini mari kita lihat peristiwa Play Boy dan Inul tadi.
Majalah Play Boy Indonesia yang dipimpin oleh Erwin Arnanda mempunyai struktur yang sama dengan majalah aslinya dari Paman Sam. Apa yang membedakan? Gambar wanita telanjang. Dengan membandingkan dua majalah yang saat ini tergeletak di meja tulisku – Play Boy Indonesia, Premiere Issue, April 2006, seharga Rp. 40.000 dan Play Boy Amerika, issue October 2005, seharga $ 4.99. Pada majalah Play Boy Indonesia, sampul depannya adalah seorang wanita berpakaian degan bahu terbuka yang terkamuflase remang-remang dalam lapisan warna merah magenta. Dalam halaman daftar isi tidak dijelaskan siapa wanita ini. Anda jangan terkelabui dengan nama majalah ini yang seharusnya menjanjikan gambar wanita telanjang. Ternyata di antara 160 halaman, termasuk di pictorials section yang paling digemari kaum adam, tidak ada satupun yang isinya wanita tanpa busana.
Pada Play Boy yang diasuh oleh pendirnya langsung, Hugh Hefner yang sudah berumur lebih dari 70 tahun, sampul depannya adalah seorang mahasiswi dari Oregon State University bernama Sarah Jean yang berpose telanjang bulat. Gambar wanita ini tidak terlihat terlalu fulgar karena bagian atas pusar sampai lehernya dicat seolah-olah memakai baju berwarna abu-abu tua dan di bagian bawahnya dicat seolah mengenakan bikini merah. Dari total 160 halaman, 74 halaman berisi wanita telanjang atau setengah telanjang (kelihatan payu daranya saja atau hanya sebagian dari aurat yang umumnya ditutupi). Secara keseluruhan terdapat 122 jumlah gambar wanita telanjang dan separuh telanjang.
Lalu apa masalahnya dengan majalah Play Boy Indonesia sehingga menimbulkan issue nasional, kekerasan dan pengrusakan? Sebelum membahas lebih jauh, mari kita lihat kasus Inul.
Dengan gaya ngebor-nya yang terkenal, Inul menggegerkan intertainment industry Indonesia bahkan ia sempat disiarkan di beberapa media luar negeri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah ia hanya seorang kampung yang bermodalkan goyang pinggul? Ternyata kasusnya tidak sesederhana itu. Kecaman yang paling pedas datang dari seorang penyanyi generasi yang lebih tua. Intinya, bahwa ngebor model Inul dinilai menimbulkan rangsangan birahi bagi penonton pria. Benarkah begitu?
Ketika beberapa teman Indonesia dan Amerika berkumpul di rumahku, aku putarkan DVC Goyang Inul. Aku ceritakan bahwa goyang Inul ini menumbulkan polemik di Indonesia. Tanggapan mereka? “Ah, biasa-biasa saja.” Memang jika aku bandingkan dengan salah satu bintang nyanyi ngetop di Amerika, Britney Spears, Goyang Inul itu tidaklah seberapa. Pertama, cara berpakaian Inul yang walaupun ketat, tetapi tertutup melebihi orang berolah raga di fitness center. Dalam video clipnya dengan lagu yang berjudul Toxic, penampilan Britney memberikan kesan 100 persen telanjang dengan badannya yang hanya ditempeli manik mengkilap seperti berlian.
Kedua, Inul hanya sekedar bergoyang, meliuk dan bermuka seksi. Britney, selain meliuk, tangannya juga bergerak menyentuh payu darah dan daerah kemaluanya. Ketiga, antara Inul dan penari latarnya tidak menunjukkan adanya hubungan yang mengisyaratkan ke arah sexual. Britney dalam bergaya dengan penari latarnya seringkali menggoda atau digoda, seperti tidakan meraba, berpelukan dan mencium lawan jenis. Untuk lebih jelasnya lihat Inul Daratista, Goyang Inul, Jakarta: PT. Arga Swara Kencana Musik, 2003 dan Britney Spears, In the Zone, Bellingham, WA: Davis Shapiro Lewit Montone & Hayes, LLP, 2004.
Kembali ke pertanyaan di atas, lalu apa masalahnya dengan majalah Play Boy Indonesia dan Inul sehingga menimbulkan issue nasional, ancaman atau kekerasan dan pengrusakan? Terlepas dari dugaaan adanya agenda lain seperti untuk memenuhi kelompok kepentingan dalam hal politik, ego nasional dan ekonomi yang mengatas namakan moral, kelihatannya Play Boy Indonesia diasosiasikan dengan westernisasi atau amerikanisasi yang mempunyai nilai moral yang bejat . Sedangkan kasus Inul lebih banyak dilihat sebagai fenomena dalam negeri.
Di permukaan, image Amerika memang menunjukkan gejala moral yang merosot yang tercermin pada web site, majalah, tabloid, tayangan music and television (MTV), film Holywood yang penuh dengan kekerasan dan berbau sex, serta film pornonya yang beredar di pasar gelap Indonesia. Image Amerika begitu immoral terjadi karena hukum Amerika yang memperbolehkan berfantasi. Dalam hukumnya, fantasi dipisahkan dengan kenyataan. Seseorang boleh befantasi apa saja, termasuk hal-hal yang porno, tetapi ketika memasuki tindakan fisik secara langsung, seperti pelacuran/protitute akan dilarang dan ditindak keras. Di sin city, Las Vegas, pelacuran tetap dilarang. Show girl, strip tease (tari telanjang), lap dance (wanita telanjang yang menari di atas pangkuan pria dan si pria itu tidak boleh memegang si penari) dan penerbitan media porno lainnya diperbolehkan dengan peraturan tertentu dan di tempat tertentu, karena ini digolongkan sebagai fantasi. Fantasi seperti ini menjadi business billion dollar US.
Tetapi jika anda datang dan menetap di Amerika Serikat beberap lama, anda akan kaget karena menumukan banyak hal yang sebaliknya. Sebagai contoh, pada takhir tahun 2006 aku betemu dengan dua orang wartawan dari Indonesia yang diundang oleh pemerintahan Amerika. Mereka mengungkapkan betapa herannya melihat kehidupan di Amerika. Mereka tidak banyak menemukan hal negatif yang seperti yang mereka bayakan dan digembar-gemborkan di Indonesia. Pada hal mereka adalah wartawan dan masih bisa termakan oleh image dan stereotype negatif mengenai Amerika yang pemberitaanya tidak proporsional.
Di lain pihak, realitas kehidupan sosial di Amerika, seperti tempat ibadah; gereja, mesjid dan tempat ibadah agama lainnya, setiap minggu penuh dengan umatnya. Perundangan dan penerapannya tentang hubungan antara pria dan wanita sangat keras. Seorang dewasa jika ditemukan berpacaran dengan seorang remaja berumur di bawah 21 tahun, maka orang dewasa itu dikategorikan telah berbuat kriminal. Kasus terbaru pada tahun 2006, seorang guru SMA, wanita dewasa berambut blond, cantik jelita dihukum penjara bertahun-tahun karena memacari murid prianya.
Jika anda di bawah umur yang ditentukan, jangan berharap anda akan dengan bebas masuk keluar bioskop yang memutar film dewasa, membeli majalah play boy, rokok dan minimun keras. Banyak kota di Amerika diberlakukan jam malam (cerfew) bagi remaja. Umumnya setelah jam sebilan malam, mereka tidak diperbolehkan berada di luar rumah tanpa ditemani orang tua.
Dalam kehidupan sex, memang ada sebagian dari mereka yang sangat liberal tetapi lebih banyak lagi dari mereka yang tradisional. Umumnya pada waktu yang bersamaan mereka hanya memiliki satu kekasih. Ketika mereka sudah punya pacar atau menikah, cheating atau main serong merupakan hal yang besar atau big deal. Prinsip “isi botol boleh ke mana-mana, tetapi harus balik utuh” tidak pernah terdengar. Masih ingat peristiwa Bill Clinton yang main gila dengan mahasiswi yang magang di White House, Monica Lewinsky? Perlu diketahui bahwa, seperti yang dia akui, Clinton tidak pernah tidur dengan Lewinsky. Tetapi main gila adalah main gila, sehingga ia harus duduk dipengadilan dan diadili seperti rakyat Amerika lainnya. Jika presiden Indonesia berbeuat demikian, apakah pengadilan seperti ini bisa terjadi? Selain itu, menikahi lebih dari satu isteri atau satu suami adalah perbuatan yang melanggar hukum.
Jika anda seorang pejabat pemerintah atau orang terkenal, jangan berharap anda bisa bicara sembaragan dan mobok-mobokan. Tidak peduli hal itu dilakukan di rumah sendiri atau di tempat lain. Jika hal ini sampai ketahuan oleh umum, maka jabatan, nama baik dan harta menjadi taruhannya. Tindakan seperti ini agaknya tidak mempengaruhi kedudukan dan nama baik bagi pejabat Indonesia. Mereka cukup menyatakan bahwa itu bukanlah maksud untuk berbuat seperti itu, tetapi hanya salah paham. Maka selesailah masalah.
Contohnya, seperti yang diungkapkan oleh Iwan Santoso bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa kawin kontrak antara perempuan Indonesia dengan pria Timur Tengah di kawasan puncak mampu melahirkan bintang sinetron masa depan Indonesia. Ternyata kawin kontrak ini adalah akal-akalan untuk sekedar memenuhi nafsu birahi laki-laki hidung belang yang banyak berasal dari Arab (Marjinalisasi Kaum Perempuan: Kawin Kontrak di Kawasan Puncak, Kompas, 17 Juli 2006, http://www.kompas.com). Pernyataan wakil presiden yang idanggap menjual wanita Indonesia ini mendapat protes, tetapi ia cukup menjawab bahwa wartawan hanya salah pengertian dan masalahpun selesai.
Selanjutnya Santoso menelusuri tentang kawin kontrak ini, dia mengutip salah satu pernyataan janda muda yang beberapa kali dikontrak, “Saya pernah nemani orang Arab selama dua minggu. Lumayan, sehari dikasih Rp. 500.000 yang dibagi untuk mami dan abang yang ngurus. Tinggal hitung aja biaya nikah dan berap kali sebulan mau datang ke sini. Paling minim Rp. 10 juta sebulan saya mau. Itu pun paling saya terima separuh saja karena harus bagi dengan mami dan para abang.”
Santoso menyimpulkan bahwa kondisi Puncak di Jawa Barat dan Batam citranya telah berubah menjadi daerah prostitusi. Sedangkan di Thailand sudah mulai “malu” dan tidak lagi mengekspos keberadaan kompleks Patpong di Bangkok yang menjadi wisata seks.
Di Amerika, moral seperti gunung es yang terbalik. Masalah moral timbul dan terlihatan jelas di permukaan, itulah masalah yang sebenarnya. Kasus yang terpendam jumlahnya tidaklah sebanyak yang terlihat dipermukaan. Kasus moral di Indonesia, walaupun ada beberapa pihak yang berteriak, seperti gunung es. Yang terangkat kepermukaan hanya sedikit dan tidak terlalu relevan bagi kepentingan masyarakat umum, seperti kasus kasus Play Boy dan Inul. Tetapi di bawahnya, terhampar lebih banyak kasus mendasar tetapi tidak disentuh.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Moralitas merupakan suatu topik yang hangat, sampai kapapun, karena pada dasarnya ada berbagai sebab mengapa “moral” di suatu tempat/kultur sangat berbeda satu sama lain. Namun, pasti ada nilai2 universal yang bisa dijadikan tolak ukur.
Selamat berkarya dengan tulisan2 yang sangat berbobot.
Jennie S. Bev
Jennie S. Bev
20 Feb 07 at 2:19 pm
Selamat jumpa Beni,
Speed ngeboran Inul sudah tidak seperti dulu, sekarang ibarat mesin bor yang sedang ” ngadat putar “.
Apakah Inul ” menyerah ” ?
wiwi
21 Feb 07 at 7:19 pm
@Jennie and Wiwi:
Terima kasih atas komentarnya. Jennie benar bahwa pasti adalah nilai universal yang baik dan bisa kita terpakan di Indonesia.
Menengenai gaya ngebornya Inul? Mungkin ia hanya ingin menambah variasi saja
Beni Bevly
21 Feb 07 at 7:31 pm
[...] sebenarnya seperti apa hidup di dalam mitos free sex di AS. Seperti yang pernah aku ungkapkan dalam artikel yang lain, bahwa kejelekan moral, begitu juga kejekan moral yang berkaitan dengan sex di AS seperti gunung es [...]
Overseas Think Tank for Indonesia » MITOS DAN FAKTA KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT (2): Free sex
4 Mar 08 at 11:53 am
Selamat berkenalan
Max
17 Apr 09 at 6:42 am