Archive for February 22nd, 2007
INDONESIA’S ANTI-EXTREMIST
By Jeff Jacoby
Source: GusDur.net
“I have been called ‘Chrislam’ because I am so close to Christians,” Abdurrahman Wahid is saying. “When I was criticized by a certain Muslim preacher for not being harsh enough against the ‘kaffir’ [infidels] — for being too close to Jews and Christians — I told him to read the Koran again. Because when the Koran speaks of ‘infidels,’ it means idolaters,” not monotheists.
Wahid, the former president of Indonesia, is speaking to me by phone from his office in Jakarta. With him is C. Holland Taylor, an American entrepreneur and libertarian who fell in love with Indonesian culture en route to making a fortune in the telecommunications industry. After the 9/11 terrorist attacks, Taylor created the LibForAll Foundation, a nonprofit organization dedicated to fighting Islamist extremism by promoting a culture of liberty and tolerance in the Muslim world; Wahid is the foundation’s patron and senior adviser.
With 200 million residents, Indonesia is the world’s largest Muslim nation, and Wahid — popularly known as Gus Dur — was not only its first democratically elected president but the longtime chairman of its largest Muslim organization, the 35 million-member Nadhlatul Ulama. A revered religious scholar who studied in Cairo and Baghdad, Wahid is a longtime champion of a moderate, progressive, and nonpolitical Islam. As a result, he has frequently clashed with militant fundamentalists whose growing influence, fueled by Arab/Wahhabi oil money, is undermining Indonesia’s traditional religious pluralism.
Last year, Wahid spearheaded the opposition to a series of 11 reactionary fatwas, or religious decrees, issued by a high-ranking council of Indonesian Muslim clerics. The fatwas condemned any Islamic teaching based on liberalism and secularism, banned interfaith prayers not led by a Muslim, and even prohibited the answering of “amen” to a non-Muslim prayer. Wahid and LibForAll promptly organized a group of religious leaders, both Muslim and non-Muslim, into an “Alliance Toward a Civil Society,” which denounced the fatwas as unworthy of decent Muslims and improper under Indonesia’s democratic constitution.
“Gus Dur went on TV and radio to insist that the fatwas had no legitimacy and called on Muslims to ignore them,” Taylor says. “Because of his genuine scholarship, his criticism carried great weight. This is a model of how to defeat radical Islam worldwide.”
Wahid and Taylor are convinced that the impact of Islamist fanaticism can best be blunted by promoting leading Muslims who endorse moderation, pluralism, and democracy. One member of the LibForAll board is rock star Ahmad Dhani, a rock star whose band, Dewa, has millions of fans in Indonesia, Singapore, and Malaysia. Some of Dhani’s hits have been aimed at undercutting Islamic militants. For example, one album is called “Laskar Cinta” (“Warriors of Love”) – a play on the name of a terrorist group, Laskar Jihad (“Warriors of Jihad”). By harnessing his music and popular following to the cause of peace and interfaith tolerance, Dhani aims to inoculate young Indonesian Muslims against the extremism and violence of the Islamists.
While all of LibForAll’s work to date has been in Indonesia, Wahid and Taylor hope to begin operating in other Muslim nations soon. On the drawing board now is a project to translate “Laskar Cinta” into Arabic, then arrange for an Egyptian pop star to perform and record it at a concert in Cairo. Wahid intends to meet with Egyptian clerics and opinion leaders, to press his view that Islam requires openness toward other religions and that Islamist terrorists and their supporters must be resisted and discredited.
Taylor argues that because of Indonesia’s long tradition of pluralism, and because of Wahid’s great following, Indonesia is the ideal base from which to launch an intellectual and cultural assault against the jihadists’ ideology. The “essence” of Islam, he and Wahid maintain, is summed up in the words of the Koran (Sura 109:6): “For you, your religion; for me, my religion.” But whether such a message will resonate in the Arab world remains to be seen. After all, jihadists quote the Koran too, and the verses they cite are as intolerant and supremacist as Wahid’s is pacific and humane.
But there is no doubting Wahid’s commitment to interfaith harmony. He tells Indonesian Muslims that they can learn from Christianity and Christian life, and has dispatched armed members of Nadhlatul Ulama to protect Christian churches from Islamist violence. Not long ago, one of Wahid’s Muslim adherents was killed when he discovered a bomb in a church and used his body to shield the Christian worshipers from its blast. That stunning act of selflessness is a powerful reminder that Muslims no less than non-Muslims have a great deal riding on the defeat of the Islamofascists — and that we will not win the war against radical Islam without moderate Muslim allies like Wahid.
_____
*Jeff Jacoby is an Op-Ed writer for the Boston Globe, a radio political commentator, and a contributing columnist for Townhall.com.
NGOMONG APA KAMU?
Oleh Beni Bevly
Memang banyak guru Cap Kauw (SMAN 19) Jakarta – sekolahku – yang bermutu dan berdedikasi tinggi, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka jauh dari yang aku harapkan. Kekurangan ini bisa menjadi kekuatan bagi perkembangan murid tertentu, atau sebaliknya, muridnya menjadi semakin lemah. Tergantung bagaimana murid tersebut menghadapi situasi seperti ini. Secara umum bahwa guru yang mempunyai kebiasaan men”discourage” cenderung menghasilkan murid yang lemah dalam hal intelenjensia. Kebiasaan guru seperti ini mengingatkan aku pada penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya hasil penilitian ini menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak. Dalam banyak hal, guru di Indonesia, termasuk sebagian besar guruku di Cap Kauw tidak memperdulikan hal ini.
Suatu hari, aku mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Guru Inggrisku memulai pelajaran dengan menerangkan dengan singkat mengenai pengunaan irregular verbs. Tak lama kemudian kami disuruh menyalin dari papan tulis. Sementara itu, seperti biasa, guru tersebut tertidur di mejanya sambil mendengkur. (Kemudian hari, aku ketahui bahwa dia sering tidur pada saat mengajar karena sakit. Tetapi mengapa tidak dicari guru pengganti sementar?). Setelah selesai menyalin, salah satu temanku memberanikan diri untuk membangunkan dia.
Selanjutnya, kami diminta untuk menerapkan irregular verbs dalam kalimat. Sampai pada giliranku, aku menggunakan kata forsaken yang berasal dari kata forsake dalam kalimat pasif. Apa komentar guru tersebut? Sambil ternsenyum mengejek, melihat aku dari sudut matanya dan dia bilang, “Ngomong apa kamu?” Seluruh kelas merasa lucu dan mereka tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum kecut, merasa direndahkan dan terhina.
Begitu sekolah selesai, aku tidak langsung pulang kerumah, tetapi ke tempat kursus Inggris dan mendaftarkan diri jadi salah satu peserta kursus. Aku belajar mati-matian termasuk bagaimana pronunciation per kata. Beberapa bulan kemudian, nilai Bahasa Inggris di raporku menanjak.
Bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia dalam banyak hal. Dari yang paling sederhana seperti susunan diterangkan-menerangkannya terbalik, konteks waktu dalam kalimat harus jelas. Tidak cukup dengan hanya menambahkan kata yesterday di belakang kalimat seperti dalam Bahasa Indonesia, tetapi harus merubah kata kerja menjadi past form. Pronunciation, intonation dan accent sangat menentukan apakah orang bule bisa mengerti kita dalam berbicara. Sebagai perbandingannya, orang bicara bahasa Indonesia tanpa mamapu melafalkan “r” atau pelo-pun bisa dimengerti dengan mudah oleh kita.
Yang jarang disadari orang dalam mempelajari bahasa Inggris bahwa pengucapannya banyak didasarkan persepsi suara yang didengar oleh si pembicara. Sederhananya, di telinga orang yang berbahas Inggris, suara anjing menggongong dilafalkan sebagai “whoof.” Orang yang berbahasa Indonesia mendengarnya sebagai “gong.” Contoh lain, suara tembakan, bagi orang yang berbahasa Inggris didengar sebagai “bang,” bagi orang Indonesia sebagai “dor.”
Dalam tahap tertentu bahasa Inggris, terutama pronunciation dan intonation-nya sama rumitnya dengan bahasa Cina, baik itu bahasa Mandarin, Khek, Tio Ciu atau lainnya. Tetapi bahasa Cina memiliki lebih banyak variasi dan ribuan karakter. Satu kata bisa memiliki 5 atau lebih pengertian. Sebut saja dalam bahasa Cina Khek, “si” bisa diartikan sebagai empat, mati, tahi, salah satu arah angin, dan kumis, tergantung dari intonasi pengucapan, penulisan karakter dan konteksnya.
Kembali ke komentar guru aku – “Ngomong apa kamu?” – adalah suatu perbuatan yang tidak menciptakan iklim belajar yang membangun. Aku yakin, hingga pada saat ini masih banyak guru seperti itu. Hal ini mengingatkan aku pada suatu penelitian yang dilakukan oleh guru sekolah dasar di AS. Penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya tujuan penilitian ini untuk menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak.
Murid-murid dalam satu kelas di bagi dua kelompok berdasarkan warna mata. Kelompok pertama yang bermata biru dipakaikan dasi. Sedangakan kelompak kedua yang bermata coklat tidak boleh pakai dasi. Pada minggu pertama, sang guru mengatakan bahwa murid yang bermata biru itu jauh lebih pintar dari murid bermata coklat, karena itu mereka diberi dasi khusus sebagai penghargaan. Dalam setiap kegiatan murid bermata biru diprioritaskan. Dalam waktu yang singkat, percaya diri yang lebih besar timbul dikalangan murid mata biru, nilai ujiannya juga jauh lebih baik. Sedangkan murid yang bermata coklat, percaya dirinya turun seketika seiring dengan menurunya nilai ujian mereka. Murid bermata biru pun punya kecenderungan untuk menganiaya murid bermata biru.
Minggu berikutnya, sang guru berkata, “Minggu lalu aku berbohong. Sebenarnya yang lebih pintar dan superior adalah murid yang bermata coklat, maka dasi yang kamu miliki sekarang harus kamu berikan kepada murid bermata coklat”. Seketika itu juga, murid bermata coklat merebut dasi dari murid bermata biru. Kemudian guru tersebut melakukan kegiatan yang sama dengan meninggikan dan mendahulukan murid bermata coklat. Tingkah laku kedua kelompok murid ini pun segera berbalik, begitu juga hasil ujiannya.
Minggu ketiga, semua murid diberitahu bahwa pada dasarnya kalian adalah sama pintar dan guru tersebut menyuruh mereka membuang pita khusus tersebut. Sejak itu guru mereka menerapkan iklim belajar yang positif untuk semua murid. Nilai mereka, kepercayaan diri dan saling menghargai umumnya meningkat.
Idealnya, guru harus selalu menciptakan iklim belajar yang baik di kelas. Penelitian Brown Eyes-Blue Eyes, membuktikan betapa berpengaruhnya omongan dan tindakan guru terdadap perkembangan mental dan intelektual sang murid. Seorang guru tidak semestinya men-discourage murid yang dianggap lebih lambat dalam hal berpikir jika dibandingkan murid lain. Dukungan dan pujian perlu dikeluarkan dari mulut seorang guru demi kemajuan murid, bukan ledekan dan bentakan.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.


