NGOMONG APA KAMU?
Oleh Beni Bevly
Memang banyak guru Cap Kauw (SMAN 19) Jakarta – sekolahku – yang bermutu dan berdedikasi tinggi, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka jauh dari yang aku harapkan. Kekurangan ini bisa menjadi kekuatan bagi perkembangan murid tertentu, atau sebaliknya, muridnya menjadi semakin lemah. Tergantung bagaimana murid tersebut menghadapi situasi seperti ini. Secara umum bahwa guru yang mempunyai kebiasaan men”discourage” cenderung menghasilkan murid yang lemah dalam hal intelenjensia. Kebiasaan guru seperti ini mengingatkan aku pada penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya hasil penilitian ini menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak. Dalam banyak hal, guru di Indonesia, termasuk sebagian besar guruku di Cap Kauw tidak memperdulikan hal ini.
Suatu hari, aku mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Guru Inggrisku memulai pelajaran dengan menerangkan dengan singkat mengenai pengunaan irregular verbs. Tak lama kemudian kami disuruh menyalin dari papan tulis. Sementara itu, seperti biasa, guru tersebut tertidur di mejanya sambil mendengkur. (Kemudian hari, aku ketahui bahwa dia sering tidur pada saat mengajar karena sakit. Tetapi mengapa tidak dicari guru pengganti sementar?). Setelah selesai menyalin, salah satu temanku memberanikan diri untuk membangunkan dia.
Selanjutnya, kami diminta untuk menerapkan irregular verbs dalam kalimat. Sampai pada giliranku, aku menggunakan kata forsaken yang berasal dari kata forsake dalam kalimat pasif. Apa komentar guru tersebut? Sambil ternsenyum mengejek, melihat aku dari sudut matanya dan dia bilang, “Ngomong apa kamu?” Seluruh kelas merasa lucu dan mereka tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum kecut, merasa direndahkan dan terhina.
Begitu sekolah selesai, aku tidak langsung pulang kerumah, tetapi ke tempat kursus Inggris dan mendaftarkan diri jadi salah satu peserta kursus. Aku belajar mati-matian termasuk bagaimana pronunciation per kata. Beberapa bulan kemudian, nilai Bahasa Inggris di raporku menanjak.
Bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia dalam banyak hal. Dari yang paling sederhana seperti susunan diterangkan-menerangkannya terbalik, konteks waktu dalam kalimat harus jelas. Tidak cukup dengan hanya menambahkan kata yesterday di belakang kalimat seperti dalam Bahasa Indonesia, tetapi harus merubah kata kerja menjadi past form. Pronunciation, intonation dan accent sangat menentukan apakah orang bule bisa mengerti kita dalam berbicara. Sebagai perbandingannya, orang bicara bahasa Indonesia tanpa mamapu melafalkan “r” atau pelo-pun bisa dimengerti dengan mudah oleh kita.
Yang jarang disadari orang dalam mempelajari bahasa Inggris bahwa pengucapannya banyak didasarkan persepsi suara yang didengar oleh si pembicara. Sederhananya, di telinga orang yang berbahas Inggris, suara anjing menggongong dilafalkan sebagai “whoof.” Orang yang berbahasa Indonesia mendengarnya sebagai “gong.” Contoh lain, suara tembakan, bagi orang yang berbahasa Inggris didengar sebagai “bang,” bagi orang Indonesia sebagai “dor.”
Dalam tahap tertentu bahasa Inggris, terutama pronunciation dan intonation-nya sama rumitnya dengan bahasa Cina, baik itu bahasa Mandarin, Khek, Tio Ciu atau lainnya. Tetapi bahasa Cina memiliki lebih banyak variasi dan ribuan karakter. Satu kata bisa memiliki 5 atau lebih pengertian. Sebut saja dalam bahasa Cina Khek, “si” bisa diartikan sebagai empat, mati, tahi, salah satu arah angin, dan kumis, tergantung dari intonasi pengucapan, penulisan karakter dan konteksnya.
Kembali ke komentar guru aku – “Ngomong apa kamu?” – adalah suatu perbuatan yang tidak menciptakan iklim belajar yang membangun. Aku yakin, hingga pada saat ini masih banyak guru seperti itu. Hal ini mengingatkan aku pada suatu penelitian yang dilakukan oleh guru sekolah dasar di AS. Penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya tujuan penilitian ini untuk menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak.
Murid-murid dalam satu kelas di bagi dua kelompok berdasarkan warna mata. Kelompok pertama yang bermata biru dipakaikan dasi. Sedangakan kelompak kedua yang bermata coklat tidak boleh pakai dasi. Pada minggu pertama, sang guru mengatakan bahwa murid yang bermata biru itu jauh lebih pintar dari murid bermata coklat, karena itu mereka diberi dasi khusus sebagai penghargaan. Dalam setiap kegiatan murid bermata biru diprioritaskan. Dalam waktu yang singkat, percaya diri yang lebih besar timbul dikalangan murid mata biru, nilai ujiannya juga jauh lebih baik. Sedangkan murid yang bermata coklat, percaya dirinya turun seketika seiring dengan menurunya nilai ujian mereka. Murid bermata biru pun punya kecenderungan untuk menganiaya murid bermata biru.
Minggu berikutnya, sang guru berkata, “Minggu lalu aku berbohong. Sebenarnya yang lebih pintar dan superior adalah murid yang bermata coklat, maka dasi yang kamu miliki sekarang harus kamu berikan kepada murid bermata coklat”. Seketika itu juga, murid bermata coklat merebut dasi dari murid bermata biru. Kemudian guru tersebut melakukan kegiatan yang sama dengan meninggikan dan mendahulukan murid bermata coklat. Tingkah laku kedua kelompok murid ini pun segera berbalik, begitu juga hasil ujiannya.
Minggu ketiga, semua murid diberitahu bahwa pada dasarnya kalian adalah sama pintar dan guru tersebut menyuruh mereka membuang pita khusus tersebut. Sejak itu guru mereka menerapkan iklim belajar yang positif untuk semua murid. Nilai mereka, kepercayaan diri dan saling menghargai umumnya meningkat.
Idealnya, guru harus selalu menciptakan iklim belajar yang baik di kelas. Penelitian Brown Eyes-Blue Eyes, membuktikan betapa berpengaruhnya omongan dan tindakan guru terdadap perkembangan mental dan intelektual sang murid. Seorang guru tidak semestinya men-discourage murid yang dianggap lebih lambat dalam hal berpikir jika dibandingkan murid lain. Dukungan dan pujian perlu dikeluarkan dari mulut seorang guru demi kemajuan murid, bukan ledekan dan bentakan.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.


” Seorang guru ( dosen ) tidak semestinya men-discourage murid yang dianggap lebih lambat dalam hal berpikir jika dibandingkan murid lain. Dukungan dan pujian perlu dikeluarkan dari mulut seorang guru demi kemajuan murid, bukan ledekan dan bentakan.”
Ledekan & bentakan juga adalah suatu motivasi, dimana yang diledek akan terpacu untuk berusaha agar tidak diledeki lagi. Seperti saya, diledek dengan ” Yaah…. Kalau udah sepuh mah maklum lah nilai kurang ….” Tapi, saya bikin kaget Ibu dosen, nilai UAS (Matek)ku 9. Itu BERKAT ledekan lho.
wiwi
22 Feb 07 at 6:16 pm
Perlu diketahui, Ibu Wiwi adalah mahasiswa tertua di universitasnya yang membuktikan bahwa sekolah tidak pernah mengenal batas usia.
Dalam komentar di atas Ibu Wiwi menganggapi discouragement dengan positif dan semangat pantang menyerah. Salut untuk Ibu Wiwi.
Beni Bevly
23 Feb 07 at 1:02 pm
Hi Beny Bevly, apakah anda angkatan 87 (lulus SMAN19) ?
If so, I’d just like to say hello. Remember me ? I’m the friend from old school SMP Bhinneka Tunggal Ika and we had been to Lampung with me ( to my Grandma’s House ).
yudih setiawan
16 Mar 08 at 7:29 am
Yudih, tidak disangka kita bisa ketemu lagi melalui blog ini. Apa kabarnya?
Benar saya lulusan SMAN 19 angatan ‘87 and SMP BT IKA. Of course, I remember you and we had a very interesting adventure in Lampung. I enjoyed it.
Do you still keep in touch with our friends?
Beni Bevly
17 Mar 08 at 2:20 pm