<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: JALAN DARAT, JALAN LAUT</title>
	<atom:link href="http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/</link>
	<description>facilitating intellectuals to contribute to indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 09:31:45 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Tractor Implements</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-72296</link>
		<dc:creator>Tractor Implements</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 01:45:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-72296</guid>
		<description>Wow! what an id ! What a concept ! Beautiful .. Amazing …</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wow! what an id ! What a concept ! Beautiful .. Amazing …</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amish tours lancaster pa</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-57502</link>
		<dc:creator>amish tours lancaster pa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 21:54:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-57502</guid>
		<description>I don&#039;t think I&#039;ve never read something like this before. So nice to see an individual with some authentic ideas on this subject. I really thank you for starting it. This website is something that is wanted on the web, someone with a bit of originality.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I don&#8217;t think I&#8217;ve never read something like this before. So nice to see an individual with some authentic ideas on this subject. I really thank you for starting it. This website is something that is wanted on the web, someone with a bit of originality.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chiropractic denver co</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-57501</link>
		<dc:creator>chiropractic denver co</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 21:54:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-57501</guid>
		<description>I really relate to that post. Thanks for the info.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I really relate to that post. Thanks for the info.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: locksmith austin texas</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-55821</link>
		<dc:creator>locksmith austin texas</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 17:32:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-55821</guid>
		<description>We do not inherit the land from our ancestors we borrow it from our children.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>We do not inherit the land from our ancestors we borrow it from our children.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tanie serwery</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-41257</link>
		<dc:creator>tanie serwery</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 23:32:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-41257</guid>
		<description>Unquestionably believe that which you said. Your favorite justification seemed to be on the net the easiest thing to be aware of. I say to you, I definitely get annoyed while people think about worries that they plainly don&#039;t know about.   You managed to hit the nail upon the top and also defined out the whole thing without having side effect , people could take a signal. Will likely be back to get more. Thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Unquestionably believe that which you said. Your favorite justification seemed to be on the net the easiest thing to be aware of. I say to you, I definitely get annoyed while people think about worries that they plainly don&#8217;t know about.   You managed to hit the nail upon the top and also defined out the whole thing without having side effect , people could take a signal. Will likely be back to get more. Thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Devi</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-14776</link>
		<dc:creator>Devi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 08:12:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-14776</guid>
		<description>Dengar cerita Pak Beni tentang perbedaan gaji manager dengan gaji karyawan terendah waktu bekerja di Amrik, saya tercenung. Ternyata orang Amerika yang terkenal kapitalis telah mempraktekkan keadilan sosial dalam hal sistem penggajian, tetapi karena biaya hidup di Amrik yang tinggi. Tetapi waktu di Indonesia, mereka menerapkan sistem gaji yang tidak adil karena rentang gaji tertinggi dengan terendah sangat lebar. Padahal kalau dalam sistem penggajian sama2 disamakan dasarnya adalah biaya hidup, maka seharusnya rentang gajinya tidak sebesar itu.

Saya pernah dengar, definisi orang miskin di Amerika malah mereka yang tinggal di apartemen (sbg contoh, seperti teman Pak Beni). Justru yang namanya orang kaya di Amerika adalah mereka yang punya rumah sendiri, rumah yang langsung menjejak bumi. Kalau di Indonesia, malah sebaliknya. Mereka yang disebut kaya kalau bisa beli apartemen.

Sangat menarik tulisan Pak Beni, dan yang paling menarik bagi saya adalah judul web-nya. Moga-moga ini bisa menjadi social remittance yang cukup bermanfaat utk membangun bangsa.

Salam, DEVI
Indonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dengar cerita Pak Beni tentang perbedaan gaji manager dengan gaji karyawan terendah waktu bekerja di Amrik, saya tercenung. Ternyata orang Amerika yang terkenal kapitalis telah mempraktekkan keadilan sosial dalam hal sistem penggajian, tetapi karena biaya hidup di Amrik yang tinggi. Tetapi waktu di Indonesia, mereka menerapkan sistem gaji yang tidak adil karena rentang gaji tertinggi dengan terendah sangat lebar. Padahal kalau dalam sistem penggajian sama2 disamakan dasarnya adalah biaya hidup, maka seharusnya rentang gajinya tidak sebesar itu.</p>
<p>Saya pernah dengar, definisi orang miskin di Amerika malah mereka yang tinggal di apartemen (sbg contoh, seperti teman Pak Beni). Justru yang namanya orang kaya di Amerika adalah mereka yang punya rumah sendiri, rumah yang langsung menjejak bumi. Kalau di Indonesia, malah sebaliknya. Mereka yang disebut kaya kalau bisa beli apartemen.</p>
<p>Sangat menarik tulisan Pak Beni, dan yang paling menarik bagi saya adalah judul web-nya. Moga-moga ini bisa menjadi social remittance yang cukup bermanfaat utk membangun bangsa.</p>
<p>Salam, DEVI<br />
Indonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-1313</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 23:40:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-1313</guid>
		<description>Senang sekali bisa berkenalan &lt;strong&gt;Bung John&lt;/strong&gt;. Gambar peta di atas adalah denah kota &lt;a href=&quot;http://www.mountainhouse.net/index.php&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;strong&gt;Mountain House&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; yang sedang di bangun. Setiap hari aku menyaksikan perkembangannya, bukan hanya fisik tetapi juga menyaksikan &lt;a href=&quot;http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=162&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;strong&gt;penerapan sistem demokrasinya&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;. Aku bisa menyaksikan semua ini karena aku tinggal di kota ini. dan aku menyaksikan bagaimana para builder/developer bekerja sama membangun kota dengan prinsip win-win situation. 

Berbalik ke Indonesia, aku setuju dengan pendapat Bung yang melihat keperluan untuk melibatkan pakar perkotaan, pengambil keputusan dan masyarakat Indonesia diaspora atau siapapun yang pernah berdomisili di negara maju untuk meminimalisir kerusakan akibat tata kota/tata ruang yg sudah terlanjur salah atau tanpa perencanaan ke depan itu. 

Hal lain, kita juga perlu melibatkan para investor raksasa, termasuk mereka yang berada di luar negeri Indonesia. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh pemerintahan kota Mountain House. Pemerintah kota pada saat ini tidak memiliki uang yang memadai untuk membangun jalan, sekolahan, perpustakaan, rumah pemadam kebakaran dan sebagainya yang semuanya disepakati untuk derealisasikan dengan kualitas kelas satu. Dengan bantuan developer raksasa hanya dalam jangka kurang dari 5 tahun sepertiga kota yang akan terdiri dari 15.000 rumah dan 45.000 penduduk telah terwujud. 

Mengapa mereka mau saja membangun walaupun pemerintahan kota tidak punya uang yang cukup untuk membayar mereka? Memang pada saat ini mereka tidak mendapat bayaran dari kota, tetapi disetujui bahwa kota akan me-reimburse semua pengeluaran mereka dengan cicilan jangka panjang hingga mencapai 30 tahun. Selain itu, dengan fasilitas public yang lengkap, para developer juga mempunyai untuk menjual rumah mereka lebih laku, cepat dan harga lebih tinggi?

Jadi antara pemerintah kota dan investor (developer) menerapkan sistem win-win situation.  Kenapa hal seperti ini tidak diterapkan di Jakarta? Memang Mountain House adalah kota yang sudah &quot;jadi&quot; , tidak seperti Mountain House yang sedang dibangun. Justru hal inilah lebih menguntungkan Jakarta, karena kemampuan untuk reimburse lebih menjanjikan dari kota yang sedang di bangun, di mana masa depannya masih tidak menentu dan jumkah penduduknya belum pasti. 

Untuk kelancaran reimbursement, pemerintahan kota perlu memastikan bahwa pengelolahan pajak yang jujur dan terlepas dari korupsi harus mendapat perhatian khusus, karena itulah sumber uang untuk membayar kembali ke para developor.  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Senang sekali bisa berkenalan <strong>Bung John</strong>. Gambar peta di atas adalah denah kota <a href="http://www.mountainhouse.net/index.php" rel="nofollow"><strong>Mountain House</strong></a> yang sedang di bangun. Setiap hari aku menyaksikan perkembangannya, bukan hanya fisik tetapi juga menyaksikan <a href="http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=162" rel="nofollow"><strong>penerapan sistem demokrasinya</strong></a>. Aku bisa menyaksikan semua ini karena aku tinggal di kota ini. dan aku menyaksikan bagaimana para builder/developer bekerja sama membangun kota dengan prinsip win-win situation. </p>
<p>Berbalik ke Indonesia, aku setuju dengan pendapat Bung yang melihat keperluan untuk melibatkan pakar perkotaan, pengambil keputusan dan masyarakat Indonesia diaspora atau siapapun yang pernah berdomisili di negara maju untuk meminimalisir kerusakan akibat tata kota/tata ruang yg sudah terlanjur salah atau tanpa perencanaan ke depan itu. </p>
<p>Hal lain, kita juga perlu melibatkan para investor raksasa, termasuk mereka yang berada di luar negeri Indonesia. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh pemerintahan kota Mountain House. Pemerintah kota pada saat ini tidak memiliki uang yang memadai untuk membangun jalan, sekolahan, perpustakaan, rumah pemadam kebakaran dan sebagainya yang semuanya disepakati untuk derealisasikan dengan kualitas kelas satu. Dengan bantuan developer raksasa hanya dalam jangka kurang dari 5 tahun sepertiga kota yang akan terdiri dari 15.000 rumah dan 45.000 penduduk telah terwujud. </p>
<p>Mengapa mereka mau saja membangun walaupun pemerintahan kota tidak punya uang yang cukup untuk membayar mereka? Memang pada saat ini mereka tidak mendapat bayaran dari kota, tetapi disetujui bahwa kota akan me-reimburse semua pengeluaran mereka dengan cicilan jangka panjang hingga mencapai 30 tahun. Selain itu, dengan fasilitas public yang lengkap, para developer juga mempunyai untuk menjual rumah mereka lebih laku, cepat dan harga lebih tinggi?</p>
<p>Jadi antara pemerintah kota dan investor (developer) menerapkan sistem win-win situation.  Kenapa hal seperti ini tidak diterapkan di Jakarta? Memang Mountain House adalah kota yang sudah &#8220;jadi&#8221; , tidak seperti Mountain House yang sedang dibangun. Justru hal inilah lebih menguntungkan Jakarta, karena kemampuan untuk reimburse lebih menjanjikan dari kota yang sedang di bangun, di mana masa depannya masih tidak menentu dan jumkah penduduknya belum pasti. </p>
<p>Untuk kelancaran reimbursement, pemerintahan kota perlu memastikan bahwa pengelolahan pajak yang jujur dan terlepas dari korupsi harus mendapat perhatian khusus, karena itulah sumber uang untuk membayar kembali ke para developor.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: john f hutahayan</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/02/25/jalan-darat-jalan-laut/comment-page-1/#comment-1306</link>
		<dc:creator>john f hutahayan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 05:23:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=30#comment-1306</guid>
		<description>bung beny, 

opini anda menarik. saya setuju bahwa ada hubungan yang erat antara sejarah/latar belakang infrastruktur suatu negara/wilayah/komunitas dengan perkembangan negara/kelompok masyarakat itu. 
hal ini juga saya amati di jepang. tempat dimana saya saat ini menuntut ilmu. sbg ilustrasi, sejak tahun 1860-an, kota2 di jepang sudah mempunyai sistem drainase dan tata kota yg sama dengan kota eropa pada umumnya dengan centrum/zentrum sbg pusat kota dan setiap kapling mempunyai saluran utk pembuangan limbah rumah tangga yg rapi menuju ke satu tempat penampungan yg telah disiapkan.

nah moral story-nya adalah bagaimana meminimalisir kerusakan akibat tata kota/tata ruang yg sudh terlanjur salah atau tanpa perencanaan ke depan  itu. mungkin perlu gerakan pembaharuan yg lebih besar dengan melibatkan pakar perkotaan, pengambil keputusan dan masyarakat indonesia diaspora atau siapapun yang pernah berdomisili di negara maju.

salam kenal,

john f hutahayan
master of law program (LLM)
faculty of law, niigata university
japan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bung beny, </p>
<p>opini anda menarik. saya setuju bahwa ada hubungan yang erat antara sejarah/latar belakang infrastruktur suatu negara/wilayah/komunitas dengan perkembangan negara/kelompok masyarakat itu.<br />
hal ini juga saya amati di jepang. tempat dimana saya saat ini menuntut ilmu. sbg ilustrasi, sejak tahun 1860-an, kota2 di jepang sudah mempunyai sistem drainase dan tata kota yg sama dengan kota eropa pada umumnya dengan centrum/zentrum sbg pusat kota dan setiap kapling mempunyai saluran utk pembuangan limbah rumah tangga yg rapi menuju ke satu tempat penampungan yg telah disiapkan.</p>
<p>nah moral story-nya adalah bagaimana meminimalisir kerusakan akibat tata kota/tata ruang yg sudh terlanjur salah atau tanpa perencanaan ke depan  itu. mungkin perlu gerakan pembaharuan yg lebih besar dengan melibatkan pakar perkotaan, pengambil keputusan dan masyarakat indonesia diaspora atau siapapun yang pernah berdomisili di negara maju.</p>
<p>salam kenal,</p>
<p>john f hutahayan<br />
master of law program (LLM)<br />
faculty of law, niigata university<br />
japan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

