galileo.jpg
Galileo Galilei (1564-1642)

Oleh Beni Bevly
Setelah melakukan kegiatan yang panjang, penat dan melelahkan, liburan adalah penyembuh yang mujarab. Tetapi tidak jarang dalam liburan ditemukan pengalaman yang berharga dan tidak terlupakan. Pengalaman kali ini membuatku untuk melihat suatu kepercayaan dari sudut yang sedikit berbeda. Kepercayaan, baik terhadap agama, tahayul maupun aliran lainnya yang membuta pada prinsipnya mematikan akal sehat, menghapuskan moralitas dan etika dalam bertindak, dan pada akhirnya membawa manusia ke pada peradaban yang jauh terbelakang dan kadang immoral.

Pada saat liburan SMA tahun 1986, aku dan beberapa temanku pergi ke pantai Anyer. Setelah check-in di sebuah hotel, hari mulai sore, aku langsung ganti pakaian berenang dan nyemplung ke pantai. Air laut yang rasanya asin itu masih hangat. Aku mengapung tanpa pelampung dan mengikuti arus laut yang semaking jauh dari pantai. Aku menikmati betul kenikmatan pantai pada saat itu.

Aku terbawa arus cukup jauh dan bila ombak di depanku naik, pantaipun tidak kelihatan lagi. Aku sama sekali tidak kwatir mengenai ini sebab aku sudah bisa berenang sebelum aku duduk di bangku SD. Ditambah bahwa aku mempunyai kepercayaan besar akan kemampuanku itu.

Aku pikir, ini saatku berenang balik ke pantai. Tetapi apa yang terjadi? Walaupun aku telah berenang mengarah ke pantai, bukannya membawaku ke tepian, tetapi aku bergerak semakin meningalkan pantai. Kepanikan segera menimpa diriku. Kali ini aku mengerahkan seluruh kekuatanku. Aku gerakkan kaki dan tanganku secepat dan sekeras mungking. Napasku menjadi tersengal-sengal, jantungku berdebar keras, dadaku sesak dan pandangan matakupun buram karena terpaan ombak. Tanpa bisa dicegah lagi, air asinpun mengalir masuk ketenggorokanku. Setelah beberapa lama bejuang, tenagakupun terkuras. Maka aku berkata, “Matilah aku!”

Dalam keadaan pasrah dan letih, tiba-tiba aku melihat roda dalam mobil yang berwarna hitam mengapung di sampingku. Dengan sisa tenaga, kuraih roda tersebut dan kupegang erat-erat. Aku merasakan roda tersebut bergerak. Untuk sementara, aku merasa waktu berhenti, selanjutnya aku tidak tahu bagaimana prosesnya bahwa aku telah terlentang di atas pantai yang berpasir putih kekreman.

Salah seorang temanku memperkenalkan Edo padaku dan menerangkan bahwa dialah yang menyelamatkan aku. Edo adalah seorang penduduk lokal yang telah menolong banyak orang di tempat itu. Di menerangkan bahwa dalam satu tahun paling tidak ada satu orang yang hilang atu ditemukan mati di daerah itu. Di menambahkan, “Orang bilang Ratu Pantai Selatan atau Nyai Loro Kudul-lah yang sedang mencari korban.” Walaupun tidak membantah kepercayaan tentang Ratu Pantai Selatan, tampaknya Edo tidak setuju dengan hal itu. Dia menerangkan bahwa yang membuat aku semakin jauh dari pantai adalah arus balik yang disebabkan keberadaan jurang di bawah laut, tempat aku berenang. Dia bisa menyeret aku balik dengan bantuan dua roda mobil karena ia berenang menjauhi jurang bawah laut dan balik tempat yang dangkal.

Kepercayaan akan Ratu Pantai Selatan atau hal magis lainnya di Indonesia bukannlah hal yang aneh. Bahkan orang yang bisa “menterjemahkan” hal magis seperti ini menjadi selebriti dan menjadi sumber nalar tidak hanya bagi rakyat biasa , tetapi juga bagi para pengusaha besar dan penguasa pemerintah. Ki Gendeng Pamungkas dan client-nya adalah contoh nyata. Dia menceritakan sendiri di beberapa interview majalahnya. Kepercayaan terhadap kekuatan magis, bahkan kepercayaan terhadap agaman yang membuta bisa melumpahkan nalar, moralitas dan etika yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan suatu negara atau civilisasi.

Berkaitan dengan kekuatan magis, sering dikisahkan bahwa menjelang keruntuhan sebuah kerajaan, biasanya sang raja mencari jalan keluar untuk mempertahankan kekuasaanya dengan berbagai cara, termasuk dengan mendatangkan orang yang mengaku mempunyai kekuatan gaib. Kalau tidak salah, menjelang keruntuhan dinasti terakhir Ching di Cina pada awal abad ke 20, Phak Lian Khauw (Aliran Teratai Putih) berkembang pesat, termasuk di kalangan kerajaan. Pemimpin aliran ini mengaku kebal terhadap peluru senjata api.

Pengaruh Phak Lian Khauw ini ternyata menutup alternatif untuk mempertahankan kelangsungan kerajaan dengan cara lain. Ternyata senjata api dari pihak barat tetap menembus kulit, daging dan bahkan tulang para pengikut aliran ini. Sebagai hasilnya, aliran ini bukannya membantu mempertahankan kerajaan, tetapi mempercepat prosess kejatuhannya.

Pada Masa Kegelapan, sebelum tahun 1700, Eropa dikuasai oleh ajaran agama Kristen yang mutlak dan diterjemahkan sesuai dengan keinginan dan kepentingan pemimpin agama dan kelompoknya. Agama mengatur segala sendi kehidupan manusia. Mulai dari lahir, menikah dan mati harus melalui aturan keagamaan.

Bahkan rajapun harus tunduk pada keputusan Paus, di Vatikan, sebagai pemimpin tertinggi agama Kristen. Ilmu pengetahuan dan teori baru yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dilarang, bahkan tidak jarang penemu dan orang yang sepahamnya dihukum mati.

Contoh klasik adalah kasus mengenai teori yang menyatakan bahwa bumi itu bulat dan bumi bukan pusat tata surya, tetapi mataharilah. Nicholas Copernicus (1473-1543), pencetus ide pertama dan diteruskan oleh Galileo Galilei (1564-1642) yang membuktikannya dengan teleskop buatannya sendiri. Akibat penemuan teori ini, salah satu pengikut Galilei, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup oleh gereja. Galilei sendiri dipakasa untuk mengakui bahwa temuannya itu tidak benar dan didihukum penjara. Pada masa ini banyak orang yang berhubungan, secara langsung ataupun tidak, dalam menantang kekuasaan absolut agama diasingkan, dan bunuh.

Pada masa kegelapan ini pula, perang salib yang membawa jutaan korban manusia terjadi.

Kepercayaan, baik terhadap agama, tahayul maupun aliran lainnya yang membuta pada prinsipnya mematikan akal sehat, menghapuskan moralitas dan etika dalam bertindak, dan pada akhirnya membawa manusia ke pada peradaban yang jauh terbelakang. Pada masa kegelapan di Eropa, peninggalan kebudayaan, pengetahuan dan keagungan kerajaan Romawi lenyap dan diabaikan begitu saja.

Dari sudut pandang sosiologi, agama, aliran kepercayaana atau tahayul timbul karena ketidak sempurnaan hidup manusia. Dengan memiliki agama, aliran kepercayaana atau tahayul, manusia menemukan tempat untuk pelipur lara. Tetapi jika hal ini diyakini dengan membabi buta, pemimpin agama bisa menjadikannya sebagai senjata yang absolut untuk kepentingan sekelompok kecil.

Indonesia, oleh sebagian orang barat, dilihat sebagai negara yang hidup pada masa kegelapan karena cara berpikir mayoritas masyarakat yang percaya akan hal magis, tahayul dan tidak berani mempertanyakan kebenaran akan pernyataan pemimpin agama. Banyak dari masyarakat kita yang percaya, mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan omongan paranormal atau mengandalkan objek yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Sebagai contoh, ada seorang yang aku kenal mau memenuhi permintaan dari seorang paranormal yang menyuruh dia kawin dengan pohon supaya usahanya berhasil. Contoh lain yang banyak ditemui “memelihara keris pusaka.”

Balik keperistiwa di Pantai Anyer, jika penyelamatku, Edo percaya akan Ratu Pantai Selatan secara membuta, maka aku tidak akan duduk di depan komputer dan menulis artikel ini. Atau dia tidak akan pernah berbuat amal untuk menyelamatkan aku dan beni-beni lain.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.