Archive for March, 2007
SUK KUNG
Oleh Beni Bevly
Ada dua orang yang mendukung aku tanpa mempedulikan streriotype. Mereka adalah ayahku dan Suk Kung (Suk: paman, Kung: kakek dalam bahasa Cina Khek). Hal ini terlihat jelas ketika aku diterima di Universitas Indonesia (UI), Jurusan Ilmu Politik. Kemudian hari, Suk Kung adalah sosok yang banyak mempengaruhi kehidupan karirku di Amerika.
Pada tahun 1987 aku mengikuti SIPENMARU atau UMPTN. Aku tidak banyak bercerita tentang keikut-sertAannku itu, begitu juga jurusan yang aku pilih. Ketika hasil ujian diumumkan di koran, aku melihat namaku tertera di situ. Seluruh keluargaku dan handaitaulanku yang mayoritas adalah orang Cina ikut bersuka cita ketika mendengar bahwa aku diterima di UI. Pertanyaa selanjunya dari mereka adalah: “Jurusan apa?” Aku menjawab, “Jurusan Ilmu Politik?” Sebagian besar dari mereka kaget dan ikut merasa kwatir dengan pilihan aku itu. Malahan ada yang menyuruh aku mengundurkan diri dan sekolah ekonomi saja di Atmajaya. Itulah sikap tipikal orang Cina yang phobia terhadap politik.
Dari sekian banyak keluarga dan handai-taulanku itu hanya ada dua orang yang berani menunjukkan dukunngan sepenuh hati, ayahku dan Suk Kung. Suk Kung adalah sahabat, saudara angkat serta paman ayahku. Suk Kung dan ayahku sangat tertarik untuk melihat UI di Depok dari dekat. Mereka menemaniku pada di hari pertama aku pindah ke Rumah Pemondokan Tumbuh (RPT) yang kabarnya diprakarsai oleh Mbak Tutut di Desa Kukusan. Yang mau aku sampaikan di sini adalah pengalaman dan kepribadian Suk Kung yang sangat menarik bagiku dan hubungannya terhadap sifat orang Cina secara umum.
Suk Kung punya usaha konveksi yang menjahit pakainan militer di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada tahun 1978, sepindahnys keluargaku dari Sekura ke Pontianak, Suk Kung-lah yang membantu keluarga kami memulai usaha konveksi dengan mensubkontrakkan jahitan pakaian militer. Dia seorang yang periang, selalu tersenyum dan sangat ramah terhadap setiap orang. Jika dia pergi ke suatu tempat, yang dia lakukan dengan naik sepeda, hampir semua orang mengenal dia.
Ada dua kalimat yang keluar dari mulut Suk Kung yang sulit aku lupakan. Kalimat kedua ini sangat membantu aku ketika aku memulai hidupku di Amerika Serikat dengan Jennie S. Bev, isteriku. Kalimat pertama: “Sit pao fon mang. Sen li ho mo?” Kalimat kedua, “Siau mian, kak kong ho boi ng si ban lui. Khin chat tu ng boi cok sit ka.”
Arti kalimat pertama adalah “Sudah makan belum. Bagaimana bisnisnya?” Kalimat kedua “Senyum dan beramah-tamah tidak perlu bayar. Polisi tidak akan menangkap kita karena itu.” Kalimat pertama adalah kalimat yang sangat umum diucapkan atau ditanyakan oleh orang Cina, di sini aku mengambil contoh orang dan bahasa Khek, ketika bertemu dengan orang lain.
Pada dasarnya orang Cina sangat memperhatikan kebutuhan pokok (makan) keluarga dan temannya. Ini juga mencerminkan bahwa mereka mempunyai selera makan yang tinggi. Di samping itu, mereka juga sangat peduli terhadap keberhasilan usaha keluarga atau rekannya. Orang Cina, termasuk Suk Kung dan ayahku bisa bicara mengenai makanan dan bisnis sampai berjam-jam atau makan sambil mendiskusikan bisnis mereka. Makan dan pembicaraan ini bisa terjadi di mana saja, tempat favorit meraka adalah di restoran dim sum yang bisa ditemua hampir di seluruh penjuru dunia.
Tidak heran jika di kalangan masyarakat Indonesia, bahasa Cina yang sering kita dengan adalah bahasa bisnis dan nama makanan, seperti cek pek, no pek, bo coan, cap cai dan kwe tiaw. Tetapi sulit untuk ditemukan istilah Cina daalm bidang lain, seperti politik. Hal ini aku setuju dengan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa pada dasarnya orang Cina adalah bangsa yang damai. Nenek moyang mereka datang ke Indonesia membawa teknologi pertanian dan keahlian dagang yang kemudian diturunkan pada komunitas Indonesia secara umum.
Berkaitan dengan kalimat kedua dari Suk Kung, bangsa Indonesia, seperti yang aku pelajari di bangku sekolah, adalah bangsa yang ramah tamah. Semestinya senyum di bibir, sapa-menyapa dan saling membantu di tempat umum adalah hal yang biasa. Tetapi hal ini sulit ditemukan lagi di kota besar seperti di Jakarta. Sebaliknya, jika bertemu mata, ada yang membentak, “Kamu natangin!”
Di Amerika dan Eropa, termasuk di kota-kota besar, jangan heran jika anda bertemu mata dengan bule di sana, sebagai balasannya mereka tersenyum sambil menyapa, “Hi” atau “How are you?” Atau ketika bertamasya di San Francisco, anda hendak mengambil foto pasangan anda, lalu ada orang bule yang menawari jasa (tanpa minta dibayar) untuk memfoto kalian berdua. Satu contoh lagi, jika anda hendak keluar dari suatu gedung, sudah menjadi kebiasaan orang bule yang jalan di depan anda untuk membukakan pintu dan menahannya untuk anda supaya bisa keluar, jika hal ini terjadi, biasanya orang yang dibukakan pintu akan membalasnya dengan berkata, “Thank you.”
Kalimat kedua ini sangat membantu karirku sebagai Customer Service and Information Manager di Nordstrom, salah satu dari Fortune 500 companies, Nordstrom adalah department store terkemuka di Amerika yang terkenal dengan customer service yang legendaris dan menjadi case study para calon Master in Business Administration (MBA). Selama karirku di department store itu, aku selalu mengingatkan diriku bahwa senyum dan beramah-tama itu adalah hal yang gratis, polisi tidak akan menangkap aku. Hal ini jugalah yang aku ajarkan kepada para bawahanku.
Hidup damai, penuh senyum di bibir, ramah terhadap setiap orang adalah gaya bergaul yang perlu diterapkan dan dipertahankan oleh bangsa Indonesia sebagai bukti bahwa kita ini adalah bangsa yang ramah tama, sopan santun dan damai.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
BOB and LEE WOODRUFF: The Next World’s Most Influential People
By Beni Bevly
After listening and having short conversation with Bob Woodruff, I was thinking how lucky that the United States has him as its citizen. Not only that, the United States was also the home of 67 out of 100 people who were mentioned by Time in 2006 as the world’s most influential people (Time, May 8, 2006). I believe that they will be a part of them next year.
With 4.6% of the world population (301,482,484 US population compared with 6,585,242,360 world population), U.S. owned 67% of the world’s most influential people (http://www.census.gov/, retrieved on March 28, 2007). These people were ranging from leaders to entertainers, from Bill Gates to Will Smith. The rest of the world’s most influential people were from China, Korea, Japan, Iran, Nigeria etc. Unfortunately I did not find any of them from Indonesia. Indonesia with 3.7% of the world population (241,973,879 Indonesian population compared with 6,585,242,360 world population) is not a home even for one of them. How come?
This question even bugged me more after I left the “In An Instant” seminar conducted by Commonwealth Club, at the Fairmont Hotel Terrace Room, 950 Mason St. (at California), San Francisco, on March 27, 2007. Before discussing this question, I would like to share my experience about this seminar.
The seminar was featuring Bob Woodfruff (Anchor, ABC News; Co-author, In an Instant) and Lee Woodruff (Public Relations Executive; Co-author, In an Instant) as presenters. They – husband and wife – told the story on how Bob, as a new co-anchor of ABC’s “World News Tonight” went to Iraq and his convoy was attacked that leaving him critically injured. A severe brainstem injury forced Bob to give up anchoring and focus on his recovery, and his wife Lee has stayed by his side. They described how this traumatic event has helped them define themselves as a family and led to the creation for their new inspiring book “In an Instant.”
Basically, this seminar brought up a message that this couple had outstanding characters that made them more than worth to be heard. They represented the courage, integrity, patients, smart, and determination. They were not shy telling the audience how ugly their life and relationship during his recovery, how they were behind with the mortgage, and how “stupid” Bob was. He even did not remember what mortgage was, and who Tony Blair was.
According to Bob, at that moment, he was 99.6% recovered from brainstem injury. He could explain a lot of things, but his wife still reminded him what the correct word to say in one or two occasions.
Even though Lee did not agree if Bob went back to Iraq, he said that it would be an honor if he could go back and did his job.
They were also candid in telling their opinion about George Bush’s Administration. Basically, they did not agree with war on Iraq. Lee even expressed this with strong words to warn Bush such as, “ … kick his (Bush’s) groin.”
I believe one day, Bob and Lee Woodruff will be categorized as the world’s most influential people.
As an Indonesian, I am jealous that none of us is chosen as one of the world’s most influential people. How can it be? Look, Indonesia has almost as many people as the Unites States does. If I ask Time about this, what do you think their answer? I will let my question open, so you as readers can be the judges.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
EDELWEISS: Bunga Abadi
Oleh Beni Bevly
Salah satu kegiatan yang aku gemari pada masa SMA dan kuliah adalah hiking. Dengan hiking, aku merasa menjadi satu dengan alam, suara burung, angin keresekan daun, bahkan hujan membuatku menjadi “hidup”. Tidak hanya itu, setelah mencapai kepuncak, “rasa hidupku” semakin menjadi. Aku merasakan kemegahan jagat raya dan bumi di mana aku berpijak. Pada saat itu aku merasa ada interaksi dengan alam dan gunung di mana aku bepijak. Maka bisalah dimengerti jika John Muir, pendiri Sierra Club, USA, organisasi pelindung alam terbesar di dunia, berkata, “Let us do something to make the mountains glad” sebagai imbalan bahwa gunung telah membuat kita “hidup.”
Tempat favorit untuk hiking-ku adalah di Gunung Gede. Apa yang menarik dari Gudung Gede, sehingga aku memilih tempat ini? Alasan utamanya, selain yang aku kemukakan adalah tantangan yang masih dalam jangkauan. Alasan lain adalah romantisme remaja akan kisah bunga Edelweiss yang sering dicetuskan oleh penulis cerpen atau novel.
Biasanya aku dan temanku tiba di kaki Gunung Gede pada siang hari. Kami melakukan pengecekan terakhir. Hiking dimulai ketika hari menjelang sore. Begitu hendak memasuki trail, aku harus melewati pos penjaga. Di pos ini aku dan temanku yang lain akan diberitahu tentang peraturan larangan dan akibat pelanggaran aturan. Sebelum dilepaskan, kami diminta untuk push up sebagai bukti bahwa bahwa kami memiliki kekuatan fisik untuk mendaki.
Walaupun kesulitan trail untuk mencapai puncak aku kategorikan moderat, aku tetap bersikap sikap hati-hati. Ada dua tempat yang aku kira cukup berbahaya. Pertama, melewati genangan air. Seingatku, trail ini luasanya sekitar satu meter. Di sampingnya terdapat jurang curam yang dalam. Di antara genangan air yang kedalamannya bisa mencapai sepinggang itu terdapat batu yang berlumut dan licin. Batu inilah yang menjadi tempat kami menginjak. Jika tidak hati-hati, kemungkinannya adalah terpeleset dan jatuh kejurang tersebut.
Kedua, kami menyebutnya sebagai tanjakan maut. Tanjakan itu curammnya melebihi 45 derajat. Seperti biasanya, di hutan tropis, keadaan tanah dan batu yang lebih banyak diselimuti oleh lumut dan embun yang lembab dan becek. Di sana telah di pasang jaringan tambang. Pada suatu saat uku terlalu mengandalkan tambang itu. Aku mendaki dengan keyakinan penuh sambil membetot dan menginjak tambang tersebut. Setelah beberapa kali merayap, tiba-tiba tambang yang aku injak itu putus. Karena kehilangan injakan, badanku melorot, tetapi cukup beruntung bahwa aku memegang tambang yang lain dengan kencang. Pada saat itu, aku rasa jantungku mau copot.
Setelah melewati separuh perjalanan, kami beristirahat di salah satu pos yang disebut Kandang Badak. Di situ, di tengah udara yang dingin dan membuat tanganku bebal kesemutan, di tengah gelap yang hanya kedengaran suara air mengalir dan suara jengkrik, kami mendirikan tenda memasak indomie mengunakan portable kompor yang kami bawa. Setelah itu kami beristirahat, menghimpun tenaga untuk mengadakan “serangan fajar”. Serangan fajar yang kami maksudkan adalah meneruskan dakian pada saat yang tepat, yaitu pagi hari sehingga begitu sampai di puncak, kami bisa menikmati keindahan dan kemegahan alam melalui sinar matahari terbit.
Di puncak Gunung Gede inilah, bunga Edelweiss (Leontopodium alpinum) bisa ditemukan. Bunga ini berwarna putih-abu-kehijauan. Mereka tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukanan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terdadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang.
Bunga Edelweiss dikelompokkan sebagai tanaman yang dilindungi oleh pemerintah, karena itulah setiap pendaki diperingatkan kembali untuk tidak memetik bunga ini. Bagi siap yang melanggar ketentuan ini akan dihukum dan didenda. Agaknya larangan dan ancaman hukuman ini semakin menunjukkan kejantanan, keteguhan hati dan pengobanan para pedaki remaja itu untuk membuktikan cinta mereka terhadap kekasihnya. Juga membuktikan betapa romantis mereka.
Maka tidaklah heran jika salah satu temanku memetik beberapa tangkai dan memasukkannya ke celana dalam di antara kedua selangkangannya. Ia telah mempersiapkan dari rumah dengan mengenakan dua lapis celana dalam. Dengan begitu ia bisa lolos dari geledahan penjaga pos di lereng gunung.
Setelah tinggal di AS kegemaran yang satu ini tidak aku bisa tinggalkan. Selama ini tempak yang aku temuai paling menyenangkan adalah hiking di bukit El Capitain. Bukit ini terletak di taman lindung Yosemite, Kalifornia Utara. Selain terkenal dengan bukit El Capitain-nya – yang sering dijadikan objek foto oleh gotografer terkenal, Ansel Adam – Yosemite juga terkenal dengan air terjunnya yang indah, pohon seqoia raksasa yang lobang di batang bawahnya bisa delewati mobil dan hampir setinggi monas, beruang dan macan gunung liarnya.

Image source: extranomical.com
Dalam perjalanan ke Yosemite dengan mengendarai, ada sebuah terowogan yang cukup panjang perlu dilewati. Sekeluaranya dari terowongan tersebut, pemandangan bukit El Capitain yang spektakuler itu langsung terlihat. Di kaki bukit tersebut ada beberapa trail. Di mulut trail itu ditulis informasi yang jelas mengenai tingkat kesulitan, jarak dan hal-hal yang mesti diperhatikan. Salah satunya adalah adanya binatang buas seperti macan gunung. Sebagai pendaki, untuk melindungi diri, pendaki diijinkan membawa senjata api dan tajam lainnya.
Umumnya, aku memilih trail yang bisa pulang hari. Trail di El Capitain, jika dibandingkan dengan Gunung Gede, sangatlah aman dalam pengertian petunjuknya jelas, jalannya tidak becek dan belumut, tambang yang ada sangat kuat. Dengan kondisi ini, kecuali kecerobohan sendiri, seorang pendaki sulit untuk melorot dan jatuh karena tanah longsor atau licin.
Kondisi ini bisa dipertahankan karena “park ranger” melakukan perawatan berkala, seperti mengali saluran air, memindahakan batu yang longsor, meminggirkan pohon yang tumbang, dan mengganti tambang yang rapuh dengan tetap mempertahankan kealamian daerah itu. Selain itu di alam sub tropis, pada masa semi, panas dan gugur, hujan tidak turun, jadi alam hanya basah dan lembab selama kurang lebih 3 bulan dalam satu tahun.
Hal lain yang aku perhatikan bahwa sepanjang trail, sulit detemukan sampah berupa kantong plastik, botol air minum, atau bahkan puntung rokok. Menyimpan sampah di kantong baju atau di tasnya sendiri sampai ketemu tong sampah baru dibuang adalah kebiasaan umum di USA.
Dalam pendakian itu, aku melihat macan gunung sedang minum air dikali yang jernih. Dengan berhati-hati aku mencari angle yang baik dan memfoto macan itu.
Apa kesenangan hi king di Gunugn Gede, Indonesia dan di bukut El Capitain, Amerika? Kesenangan umumnya adalah tantangan yang menumbulkan rasa ingin menaklukkan, yaitu menaklukkan rasa letih, pegal di kaki dan keinginan untuk menyerah. Sebagai imbalannya adalah kagum atas kemampuan diri ku berjalan dan memanjat sedemikian jauh dan menikmati alam dari ketinggian. Bedanya dengan di Gunung Gede, keamanan dan kebersihan di bukut El Capitain lebih baik.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pemakai dan pengurusnya mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi. Mereka tahu mana tindakan yang merusak lingkungan dan mana yang memelihara lingkungnan. Mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak. Mereka bekerja sama, bukannya kucing-kucingan dengan pendaki yang ingin mendapatkan bunga Edelweiss sebagai lambang semu bukti kejantanan dan cinta mereka tanpa memperhatikan kelangengan bunga itu sendiri. Agaknya itulah maksud John Muir dengan, “Let us do something to make the mountains glad.”
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
RISKS OF BACKING UP IRAN IN NUCLEAR DEVELOPMENT
By Beni Bevly
Indonesian government had taken great risks by backing up Iran in developing nuclear. Now, Indonesia stands a lone in the United Nations Security Council because of this decision. If Indonesia persists with the decision, Indonesia may loose many allies. Finally, it will affect Indonesia politically and economically in international affairs.
On Saturday, March 26, 2007, fifteen members of Security Council of the United Nations, including Indonesia signed Resolution 1747 in New York that goes beyond the nuclear sphere by banning Iranian exports of conventional arms and freezing financial assets abroad of 28 individuals and entities, including state-owned Bank Sepah and the commanders of the Revolutionary Guards. Some of those affected are said to be involved in supporting militant movements abroad (Evelyn Leopold, “Iran Rejects U.N. Vote on Arms, Financial Sanctions,” http://news.yahoo.com/, March 25, 2007).
Even though Indonesia Government had signed the resolution, according to Indonesian Presidential Spokesman, Dino Patty Djalal that Indonesia still backs Iran on Nuclear ambition for peace means. In Bogor, Indonesia, on March 26, 2007, he said (“Indonesia Tetap Dukung Pengembangan Nuklir Iran,” http://www.antara.co.id, March 26, 2007),
“Dari awal kita coba berhubungan dengan pihak-pihak terkait seperti Iran dan Amerika Serikat. Kita menjelaskan bahwa Indonesia mendukung Iran membangun proyek energi nuklirnya untuk kepentingan damai.”
Why does Indonesian government back Iran in developing nuclear? What does Indonesian government receive in return from Iran?
It seems the answer is quite simple, money. Back in May 2006, Indonesia’s Foreign Ministry said it expected Iran would commit to $600 million in investments in Indonesia’s gas and oil sector during Iran President Mahmoud Ahmadinejad’s visit. The planned investments would provide Indonesia’s energy sector with a greatly needed cash injection (Indonesia Backs Iran on Nuclear Ambitions http://abcnews.go.com, May 8, 2006).
In this case, Indonesian government like other governments, I believe had made this decision based on Indonesians’ interests. But for Indonesia long-term foreign affairs, I question this decision. How much Indonesian could take the advantage from Iran? How important Iran in international politics map?
If Iran is compared to United States, China, United Kingdom and other countries in the UN Security Council as a whole, Iran means less important than them, especially from long-term economics reason. As a whole, they have huge market where Indonesia could sell it products. On the other hand, they could invest even much more amount of money in Indonesia than Iran.
From political point of view, Indonesian government needs to remember that President Admadinejad’s is notorious with his statement regarding holocaust. Because of this statement, most western countries keep distance in cooperating with Iran.
In “Iranian Leader: Holocaust a ‘myth’,” http://www.cnn.com, December 14, 2005, CNN mentioned that Admadinejad expressed doubt about the killing by the Nazis of six million Jews during World War II, and the Holocaust was a myth. CNN quoted him,
“They have invented a myth that Jews were massacred and place this above God, religions and the prophets. … The West has given more significance to the myth of the genocide of the Jews, even more significant than God, religion, and the prophets.”
As a conclusion, it seems Indonesian government had taken great risks in backing up Iran in developing nuclear. The risks include of loosing western and other countries in UN Security Council as Indonesia’s allies. It means Indonesia could loose international support, economically and politically.
______
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
“BAPAK” BENI

Image source: rps.psu.edu
Oleh Beni Belvy
Ketika aku mengalami kemandekan dalam meneruskan skripsi mengenai Cina, aku putuskan untuk ambil cuti panjang. Waktu cuti itu aku habiskan dengan bekerja di salah satu perusahaan sepatu di Tangerang yang pada saat itu karyawannya berjumlah lebih dari 3000 orang. Inilah pertama kalinya aku bekerja untuk pihak lain. Selama ini aku hanya membantu keluargaku.
Ada hal yang sangat tidak biasa yang aku temui di sini, yang juga terjadi di tempat kerjaku yang lain setelah lulus, yaitu panggilan “Bapak” Beni dan perlakuan bawahanku yang sangat memanjakan aku. Walaupun aku sudah mencoba menunjukkan sikap sederajat dan memberitahu kepada mereka bahwa aku bisa dipanggil Beni saja. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi. Ada beberapa kesempatan aku hendak mengangkat benda berat, bawahanku langsung mengambil ahli. Mereka berkata, “Pak Beni-kan manager, ini kerjaan kami.”
Mungkin bagi orang di Indonesia, hal ini adalah biasa karena memang dari sejak lahir sudah disuguhkan keadaan seperti ini. Bagiku yang sejak kecil mempunyai sifat menganggap orang lain tidak lebih tinggi derajatnya dariku dan aku juga tidak bermaksud untuk merendahkan orang lain serta ditambah dengan pengalaman kerja di Amerika sebagai seorang manager, panggilan dan sikap yang memanjakan aku sebagai manager di Indonesia menjadi janggal.
Sebagai seorang manager di Amerika aku tidak dipanggil “Mr.” Beni. Sederhana saja, Beni. Dari segi kerjaan, aku harus bisa mengerjakan semua tugas bawahanku. Jika tidak ada yang masuk, maka akulah penggantinya. Jika tugas mereka di gudang mengangkat barang, aku harus bisa melakukannya. Bukan itu saja, mereka tidak jarang datang ke aku dan minta bantuanku untuk menyelesaikan tugas mereka. Jangan heran jika ada di antara mereka yang menolak permintaan manager untuk melakukan sesuatu dengan lasan, “That is not on my job description.” Intinya, mereka mempunyai budaya yang “egaliter”, yang membedakan hanya tugas dan tanggung jawab karena kedudukan dalam satu institusi. Jika di luar institusi itu atau tempat kerja, bagi bawahanku yang Americanized, aku bukan manager mereka lagi.
Panggilan pada dasarnya mencerminkan budaya pemanggil atau orang yang minta dipanggil dengan sebutan tertentu. Dalam tradisi timur, egaliter atau persamaan antara individu tidak tercermin dalam keluarga dan pergaulan sosial. Sebagai contoh, di lingkungan keluargaku yang tradisi kehidupan Cina Kheknya sangat kuat, aku bahkan tidak pernah diperkenalkan nama asli “a suk” (paman dari pihak ayah),” a khiu” (paman dari pihak ibu), “a kung” (kakek) dan “a pho” (nenek) aku. Aku diminta untuk memanggil mereka, misalnya dengan sebutan “sam suk” (paman ketiga dari pihak ayah), “nyi khiu”(paman kedua dari pihak ibu),” kung-kung” dan ”pho-pho” saja. Begitu juga para keponakanku memanggil aku dengan “liuk suk” (paman keenam dari pihak ayah) atau “liuk khiu” (pama ke enam dari pihak ibu).
Lain halnya dengan budaya barat yang memperkenalkan nama dahulu, setelah itu sebutan “antie” atau “uncle” tidak terlalu di anjurkan atau diharuskan. Memanggil nama bukan suatu hal yang “kurang ajar.”
Yang aku ingin sampaikan di sini bahwa bahasa mencerminkan budaya dan budaya menjadi landasan seseorang dalam bertindak. Jean-Pierre Jeannet dan H. David Hennessey dalam Global Marketing Strategies, Boston, NY: Houghton Mifflin Company, 2001, p. 80 mengatakan secara spesific bahwa bahasa adalah kunci utama dari budaya karena sebagian masyarakat menerjemahkan budaya budaya mereka dalam bahasa. Dengan demikian, dalam banyak hal, bahasa mencerminkan budaya masyarakat. Mengetahui bahasa dari suatu masyarakat adalah kunci untuk mengerti budaya mereka.
Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris, “you” hanya ada satu versi yaitu you itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia “kau” mempunyai lebih dari satu variasi, yaitu engkau, anda dan kamu. “Aku” dalam bahasa Inggris adalah “I” (selalu ditulis dalam huruf besar) dan hanya I. “Aku” dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf kecil, kecuali di depan kalimat. Selain aku, juga dikenal “saya.” I dan you selalu mempunyai makna dan persepsi yang sama, tetapi tidak demikian dengan saya, aku, kau, engkau, anda dan kamu yang jika dipergunakan secara tepat bisa mengambarkan derajat atau kedudukan sosial dari kedua belah pihak yang berbicara.
Dalam hal aku dan kau, bahasa Cina Khek mempunyai kesamaan dengan bahasa Inggris, hanya ada “ngai” dan “nyi”. Di lingkungan Cina tradisional, nama individu yang dibicarakan atau telibat dalam pembicaraan tidak mendapat penekanan.
Kesimpulannya, agaknya bahasa Inggris mencerminkan budaya egaliter yang tercermin dalam hubungan keluarga, sosial dan di tempat kerja. Bahasa Cina – aku lebih banyak tahu Cina Khek – mencerminkan budaya yang mengutamakan kepentingan keluarga dan kelompoknya di atas kepentingan individu (baca: Jane Hyun, Breaking the Bamboo Ceiling: Career Strategies for Asians, Harper Business). Bahasa Indonesia menggambarkan strata, orang cenderung membedakan dengan siapa mereka bicara. Sifat paternalistik dan feodal-nya masih kuat menonjol. Hal ini tercermin dari cara berinteraksi di dalam keluarga dan tempat kerja.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
GUS DUR and CAK NUR


By Beni Bevly
There are two Muslim scholars from Indonesia that I admire, Adurrahman Wahid (Gus Dur) and the late Nurcholish Madjid (Cak Nur). I came across visiting Afsyuhud.blogspot.com. I found two articles about Gus Dur and Cak Nur. Fatih has had written these articles very well. I believe these articles had helped readers to have better understanding about Cak Nur and Gus Dur, and promote their ideas.
In understanding people, I recall a discussion that I had with one of the Ahmadiyah practitioners in California, USA. He said, “If you want to see whether a fruit is good or bad, look at the root of the tree.” Basically he was telling me that the parents had enormous influence on their children. In this case, Wahid Hasyim and Abdul Madjid had taught their children – Gus Dur and Cak Nur respectively – very well. Hasyim and Madjid are the legends among their followers and for other many Indonesians. They had their own Islam education institutions (pesantren and madrasah) where they taught they children.
The knowledge and believe that they studied from their parents at the pesantren and madrasah became their foundation. Later on, Gus Dur crystallized his believed and intellectual at the University of Bagdad, Iraq, while Cak Nur did it mostly at Pesantren Modern Gontor in Ponoro East Java and at the University of Chicago, USA.
Currently, Cak Nur and Gus Dur become the most prominent moderate Muslim scholars. The world needs to know that we, Indonesia have these particular extraordinary men.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
DISCRIMINATION at WORK PLACE in INDONESIA II

Image source: ilettclark.co.uk
By Beni Bevly
“Discrimination at Work Place in Indonesia” that I posted on March 20, 2007 received many comments.
Leena Lin said on March 20, 2007 at 3:32 pm
>Ironically, if you have good looking you will get hired easily in Indonesia. So where will the average or ugly people like me go?Those “ugly ones” are probably the employers (entrepreneurs).
Iris said on March 20, 2007 at 4:48 pm |
I guess it happens everywhere esp. in Asia. According to the survey by a company in Taiwan, people who have good looking have more possibilities to be hired than those who don’t have.Yes, people will limits to age and sex on the ads. However, it is rare to ask for “good looking” though it is still regarded as one of the ways to choose employees according to survey to bosses and managers.
Iris
http://iristwo.blogspot.com/
Lyl said on March 21, 2007 at 3:03 pm |
In this millineum era it surprise me that the employment system over there is prety far behind. I thought they are improving than 30 years ago. What a snail ?!No wonder that Indonesia is getting prety famous with gender and race discrimination in the eyes of the world.
It make me questioning what the Employment minister has been doing and how is his/her ability to improve that.
By the way, I wonder how the minister looks like. Is he or she good looking and attractive too ?
Do you have his or her picture ? let me see if he or she is good looking enough to be a minister based on Indonesian employment requirement.
To Lyl, here is the picture of our Manpower Minister:

It is irony that Indonesia which claims themselves as a country who cares about human right and has its Justice and Human Rights Minister, Hamid Awaluddin, still practices discrimination at work publicly.

Beside that, there is Manpower and Transmigration Minister, Erman Suparno who oversees employment issue. Yet, this two ministers have not touched this important matter.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA

Image source: saabt.com
Oleh Beni Bevly
Pagi ini, tanggal 21 Maret 2007, aku menerima email dari seorang teman yang menanyakan, “So, what is the fair thing that couple can offer to contribute the fair share of “kitchen chores and expenses”. If they are both working and no children.” Pertanyaan ini menjadi penting di jaman modern yang complex ini.
Pada jaman dulu, atau pada masyarakat tradisional memang benar bahwa pria atau suami bekerja di luar dan wanita atau isteri menjaga anak dan mengatur rumah tangga. Hal itu terjadi karena fasilitas dan keadaan belum memadai untuk wanita mencari nafkah di luar. Tanpa fasilitas dan lingkungan yang mendukung secara fisik, umumnya wanita sulit bersaing dengan pria. Maka itu pembagian kerja yang rasional adalah wanita menjadi “penjaga gawang” dan pria menjadi “penyerang”.
Keadaan sekarang telah berubah, terutama di negara maju atau di kota besar. Pendidikan, fasilitas, keadaan sosial dan lain-lain telah tersedia bagi kaum wanita untuk bisa berbuat seperti kaum pria. Lagi pula, khususnya di Amerika dan apalagi di Kalifornia tempat dimana aku tinggal, biaya hidup begitu tinggi. Pemdapatan rata-rata dari seorang individu yang kerja untuk orang lain tidak akan mencukup untuk membiayai satu rumah tangga, termasuk pemilikan rumah. Dalam kondisi inilah, suami isteri atau partner perlu saling membantu.
Pertanyaannya, bagaimana pembagian kerja yang “fair”? Tentu ini sangat relatif. Ukuran “fair” bagi setiap orang dan untuk kasus yang lain bisa berbeda. Untuk mudahnya aku akan menggunakan alat ukur uang, waktu kerja dan kwalitas kerja yang sama.
Keadaan dikatakan fair jika perbandingan input yang diberikan sama dengan output yang diterima. Untuk si A, output $2, input waktu kerja 1 jam = si B yang outputnya $4, dengan input kerja 2 jam. Hal ini menjadi tidak fair bagi si A jika si B menerima output $4, dengan input kerja 1 jam.
Sekali lagi, dalam kehidupan rumah tangga tidaklah sesederhana contoh di atas. Hal itu hanya dijadikan cara berpikir untuk melihat fairness. Hal yang paling mendasar untuk melihat fairness dalam kehidupan rumah tangga adalah dasar atau tujuan dari kedua insan untuk membentuk rumah tangga. Yang paling umum adalah mencari teman hidup untuk dapat saling mengisi. Di bawah adalah contoh ekstrim yang berakaitan dengan budaya.
Ada satu pria barat yang ingin mencari pasangan hidup wanita timur. Pria barat ini tahu bahwa pada umunya wanita timur pintar mengatur rumah tangga dan mau melayani suami. Wanita ini sulit ditemukan di kalangan wanita barat. Maka ditemuilah wanita timur melalui internet. Seperti biasa, dalam masa perkenalan, kedua belah pihak menampilkan hal yang terbaik. Pria barat memperlihatkan sifat yang gentleman-nya. Wanita timur memperlihatkan sifat keibuannya. Lantas mereka merasa cocok, maka diputuskanlah untuk tinggal serumah.
Waktu berselang, si priapun menunjukkan niat utamanya untuk mencari pendamping wanita timur, yaitu supaya dilayani dan rumah tangganya diatur dengan rapih. Rupanya, wanita timur tersebut menemukan bahwa pria barat itu tidak se-gentleman yang ia kira. Salah satu alasannya dia memilih pria barat itu karena ia tidak senang dengan pria timur yang sering sok macho. Maka timbullah perselisihan. Wanita timur menilai bahwa perlakuan pria barat itu terhadapnya tidak fair. Dan pria barat bilang, “Bukankah ini wajar di kalangan wanita timur?”
Persoalannya akan menjadi lain, jika wanita itu berkelakuan seperti yang didambakan pria barat itu. Atau wanita timur menemukan pria yang benar-benar dianggap “gentleman”. Jika begini halnya, pertanyaan fair akan tidak timbul.
Ingat, pada jaman modern, kehidupan seperti di Amerika Serikat uang juga seringkali menjadi sumber pertikaian dalam rumah tangga. Siapa yang bayar uang cicilan rumah, cicilan mobil dan biaya lainnya? Praktek yang banyak terjadi di kalangan Amerika adalah 50-50. Ada juga yang semua pendapatannya dimasukkan ke dalam satu bank account dan dikelolah oleh salah satu pasangan itu. Kasus lain, semua biaya ditanggung oleh salah satu pasangant tersebut.
Agaknya orang akan melihat bahwa pembagian 50-50 adalah hal yang paling fair. Tetapi hal ini tidaklah sesederhana itu. Bagaiman jika salah satu pasangannya berpendapatan jauh lebih rendah dari yang lain, sehingga kontribusi 50 untuk keperluan pengeluaran rumah tangga sudah hampir menyita semua pendapatannya?
Menurut hematku, semua ini tergantung konsensus berdua. Intinya, bisakah kedua insan ini saling menerima dengan segala kekukurangan dan kelebihannya? Bisakah kedua belah pihak membicarakan bagaimana memajukan dan meningkatkan pendapatan kedua belah pihak demi keutuhan keluarga? Terakhir, apakah kedua belah pihak mau saling mendukung untuk merealisasikan apa yang mereka rencanakan?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
DISCRIMINATION at WORK PLACE in INDONESIA

Image source: cartoonstock.com
By Beni Bevly
At work place, the more diverse the workforces are, the more potential for discrimination to happen. According to the similarity-attraction paradigm from the field of social psychology that members’ perception of others, as frequently inferred on the basis of similarity in demographic attributes, lead to attraction among team members (Tziner, 1985). For example, bio-demographic attributes such as age, gender, and race/ethnicity are immediately observed and categorized by individual members, and differences tend to be negatively associated with team performance and social integration.

Image source: worth1000.com
Managers that believe in this paradigm tend to discriminate in hiring and assigning tasks to their employees. They see that homogeneous teams are likely to be more productive than heterogeneous teams because of mutual attraction of team members with similar characteristics. In contrary, heterogeneous groups are hypothesized by them to be less productive and have lower team cohesion because of inherent tensions and relational issues arising from those differences.
It seems the similarity-attraction paradigm turns out to be the framework for Indonesian managers in hiring and assigning tasks. Because of this framework, they tend to practice discrimination. Below is one of the hiring advertising that retrieved on March 20, 2007 from www.yellowpages.co.id Indonesia:
RECEPTIONIST (RC)
Qualification :
* Age : max. 25 years old
* Sex : female
* Education : Diploma degree in related disciplines, preferable from recognized institution
* Experience about 1 – 2 years in a related task/job (Applicants without experiences will not be processed further)
* Able to speak and write in English is an added value
* Have a good relationship skills, self motivated, and able to perform under pressure
* Have a good personality, good looking and an attractive (preferably)
* Filing and administration
* Computer literate
Responsibilities :
GA Administration and receive incoming and outgoing calls and documents
On this ad, it shows maximum age, sex, and good looking. All resumes in Indonesia must be accompanied by candidate’s picture to proof how they look.
In contrary, most western managers are urged to embraced diversity and avoiding discrimination. It seems they tend believe in cognitive resources diversity theory from the field of management (Basely, 2001).
According to this area, diversity has a positive performance because cognitive resources that members bring to the team. The underlying assumption of value in diversity is that teams consisting of heterogeneous members promote creativity, innovation, and problem solving, hence generating more informed decisions. Supporters of the cognitive resources diversity theory suggest that diverse individuals with varying experimental, cultural, and racial/ethnic backgrounds add more dimensions to problem-solving and decision-making process while providing multiple perspectives on issues.
This approach automatically reduces discrimination at work place in western society. The hiring advertising that was retrieved on March 20, 2007 from sfbay.craigslist.org reflexes its working environment:
A friendly community bank in Novato is looking for an experienced receptionist with great customer service skills. Experience with Excel and Word are required. The position needs a friendly voice over the phone and a smile when greeting customers in person. You are their first point of contact. You should have knowledge of office protocol and not consider that a barrier. Organization skills, multi-tasking abilities, dependability and a great attitude are also highly regarded. Clean credit record a must.
Word and Excel skills – you must at least be able to:
format
highlight
bold
change fonts
add bullet points
copy and paste
follow a formula
create a simple formulaHealth benefits are available after 90 days, 401K with matching after 6 months, 2 weeks vacation.
Please forward your resume along with a cover letter outlining your strengths and weaknesses. I look forward to hearing from you.
It emphasizes most in skills rather than age, sex and good looking.
Ironically, if you have good looking you will get hired easily in Indonesia. So where will the average or ugly people like me go?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
BERGURU PADA CUCU PENDEKAR PINCANG

Image source: darkfall.buzznet.com
Beni Bevly
Adalah hal yang sangat menyenangkan jika aku, sebagai seorang remaja pada saat itu, dan teman-teman pergi nonton film kung fu Hong Kong. Dari peristiwa menonton itu, banyak pengalaman yang diperoleh, termasuk memahami pengaruh “immoral majority” falam tindak tanduk kehidupan masyarakat Indonesia secara umum.
Sekitar tahun 1984, pada suatu malam, kami berangkat ke bioskop Gertak Tiga, Pontianak dengan naik oplet. Sesampainya di bioskop, seperti biasa, sudah berjimbun orang berkumpul di loket. Uang yang sudah aku siapkan di tangan, yang ku peroleh dengan menjual ikan hias piraanku, ku gemgam erat-erat. Aku berjuang, tolak kiri-kanan, dan mendesak maju ke depan loket sambil ngos-ngosan. Aku harus bersaing dengan belasan atau puluhan orang dewasa yang jauh lebih tinggi dan besar dariku.
Karcis sudah di tangan, maka melangkah masuklah aku dan teman yang lain de dalam bioskop. Di sana kami dusuk sesuai dengan nomor yang ditentukan. Aku tidak sabar menunggu supaya film kung fu tersebut mulai. Ketika sedang menikmati film itu, aku biasanya sangat terganggu oleh asap rokok orang di sebahku, pembicaraan, sorakan dan tepuk tangan penonton yang lainnya.
Ketika selesai pertunjukan, salah satu temanku kehilangan sandalnnya. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencari sandal tersebut. Akhirnya, penjaga bioskop menggiring kami keluar.
Tak disadari, hari sudah larut malam, oplet pun sudah tidak beroperasi lagi. Dengan terpaksa, aku dan teman-temanku pulang dengan berjalan kaki, termasuk yang kehingan sandalnya. Perjalanan tersebut memakan waktu lebih dari satu jam.
Pada keesokan harinya, kami berkumpul lagi dan membicarakan film yang ditonton. Kami sepakat untuk membikin peralatan latihan, seperti tiang untuk menggantung karung pasir dan mencari tongkat rotan yang mirip dipakai oleh sang pendekar. Lalu kamipun beraksi seperti akting para karakter di film itu. Salah satu temanku, yang neneknya sangat misterius dan pincang, kami angkat sebagai guru, maka jadilah aku dan beberap temanku berguru pada cucu pendekar pincang.

Image source: skywithoutlimit.com
Dari peristiwa di atas ada tiga hal yang patut diperhatikan. Petama, peristiwa berebutan memebeli karcis di loket. Kedua, nonton sambil bicara, teriak, tepuk tangan dan merokok. Ketiga, sandal yang di curi. Ketiga hal ini mencerminkan betapa tidak teratur dan disiplinnya masyarakat kota Pontianak pada saat itu. Hal ketiga mencerminkan sifat yang sangat tidak terpuji, yaitu memiliki barang yang bukan haknya dengan cara illegal.
Dalam kaitan dengan tindakan publik di atas, aku ingat akan seorang psychologist social yang bernama Solomon Asch. Pada tahun 1952, Asch memperkenalkan teori “the Asch effect” yang menerangkan bahwa 85% dari setiap individu yang menjadi objek penelitiannya setidaknya pernah mengikuti dua kali kemauan “immoral majority” walaupun individu tersebut tahu bahwa ia benar dan kamauan moyoritas adalah salah (Salomon Asch, Socialogy Psychology, 1952).
Pendapat Asch ini agaknya bukan hanya bisa dipakai untuk menguji peristiwa menonton di atas, tetapi juga bisa dipakai untuk melihat masyarakat Indonesia secara umum, di mana ketidak-teraturan sosial, immorality, dan korupsi meraja rela. Jika Asch melihat bahwa 85% individu akan mengikuti kemauan “immoral majority” paling tidak dua kali, maka aku perkirakan bahwa 85% dari masyarakat Indonesia mengikuti kemauan “immoral majority” hampir setiap kali.
Mari kita kembali ke film kung fu yang aku tonton di atas. Film itu pada intinya menceritakan seorang anak muda Cina yang keluarganya di bunuh oleh penjahat. Pada masa itu masyarakat dilanda kekacauan sosial, politik dan kemelaratan ekonomi sehingga moral dilupakan. Semua perbuatan immoral menjadi “sah”, termasuk pembunuhah terhadap keluarga pemuda itu.
Maka pergilah pemuda tersebut ke kuil Shaolin untuk belajar kungfu supaya bisa balas dendam. Setelah ilmu bela dirinya mencapai kesempurnaan, dia bekelana mencari musuh besarnya itu. Setelah ketemu, dia tidak membunuh musuhnya itu untuk balas dendam. Karena ilmu kebijaksanaan yang dipelajari di kuil Shaolin menyadarkan dia bahwa betapa tidak baiknya tindakan balas dendam. Maka jadilah ia seorang pembela kebenaran sejati.
Cerita film kung fu yang tipikal di atas menyampaikan pesan moral yang tinggi dengan menunjukkan bagaimana pemuda Cina tersebut menolak teori the Asch effect. Betapa indahnya jika mayoritas dari masyarakat kita bertindak seperti pemuda dalam film kung fu itu.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
OH, MY AMBASSADOR
By Beni Bevly
Most of the times, after attending a seminar, I absorb some thing new and I feel smarter. But not with this particular one that was conducted by World Affairs Council of California in San Francisco, on March 15, 2007. In this seminar, I had mix feeling, embarrassing and irritating. Thanks to Donald Emerson who provided a silver lining in that nearly fruitless seminar. At least that what some of my colleagues and I felt.
The seminar that discussed the issue about US-Indonesian Relation in the Current Context of East & Southeast Asia was featuring the main presenter, Sudjadnan Parnohadingningrat (Ambassador of Indonesia to the United States) who was accompanied by Donald Emerson (Director, Southeast Asia Forum, Shorenstein Asia-Pacific Research Center, Stanford University). And Gordon Hein, Vice President of Programs, the Asia Foundation was the moderator.
There were three – small and big – things that happened in this seminar. Of course, all these were pertaining to Indonesia Ambassador to the United Nation, Sudjadnan Parnohadingningrat. I would like to elaborate them one by one as follows:
First, feudalistic impression.
Parnohadiningrat showed feudalistic impression when he was about to start his presentation. At that time, the screen that located behind him was just blank. With his very serious facial expression, he looked at someone (probably his assistant or “ajudan”) and pointed at the laptop that was sitting in front of him. That person was running to the front and touching the laptop, then the map of the world appeared on the screen.
Parnohadiningrat might not realize his action, but this sort of action is uncommon in the United States, especially in San Francisco, where the egalitarian and libertarian movement started. This is not the home for feudalism to grow. To turn back the screen on after screen saver is a very easy task to do, especially if you are a person who often gives seminar and utilizes laptop and projector like Mr. Ambassador. Or, probably he simply did not know how to do it. I feel sorry for him then.
Second, indirect and foggy message.
When Parnohadiningrat mentioned his first element that was regarding how important Indonesia to the United States, he did not go strait to the point.
Basically, what I understood that he wanted to mention that Indonesia was a strategic country in South East whom the United States could embrace to be its ally. By doing that way, the United States would be able to compete or counter against China’s aggression. My impression, he was still using the framework of cold war situation, which the United States believed in domino effect by the communist countries’ aggression.
Parnohadiningrat used that words of “power sharing configuration in South East Asia,” “new architecture in South East Asia.” But on the other side, he said, “I do not mean contending China” several times. So what actually he meant?
In commenting Parnohadiningrat, it seemed, in quoting the United States government officials, Don Emerson did not agree with him. Emerson mentioned that regionalism in South East Asia was not the main focus of the United States’ foreign affairs anymore, as well as partnership with Indonesia in this case. Emerson also questioned Indonesia’s action – as one of the Security Council in United Nations – that did not support the United States in pressuring Myanmar to establish its democracy.
For me personally, it is hard to understand where Indonesia stands for. Parnohadiningrat’s explanation did not help me. Probably, other American audiences in this seminar had the same problem as I did.
Third, the answer did not answer the question.
When it came to the question and answer session, Hein as the moderator read my question to Parnohadiningrat, “How does Indonesian government handle Muslim Fundamentalists movement who want to have Syariah law as the legal foundation of the nation? E.g.: FPI demanded to close down Christian School.”
In short, his answer was “Let the free market determines it. Every school needs to have the license from government.” He also stressed that there were only about 1 million Muslim Fundamentalists that would not win if they fight against more than 220 million people.
It meant, according to him, government would not do anything to handle this situation. Commenting this matter, I heard one of the participants said, “Is it an anarchy?”
Next question, so why does he think that Indonesians elected president and other government officials? The answer is — of course — for them to do their jobs. In this case, according to his answer, I conclude that government did not do their jobs.
Parnohadiningrat said something regarding my question, but he did not answer my question at all. Even though when I had a chance to talk to him one on one, I repeated my question one time and my colleague repeated again my question two times. He kept answering the same thing.
My final thought, I think that an ambassador should have known and adhered the host country’s custom and culture (direct and not feudalistic). Also, an ambassador should pay attention to his people’s question in the host country and let them know what actually their home country government does or will do. Oh, my ambassador, did you and me study this at the college?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
SBY: PRESIDEN VISIONARY?
By Beni Bevly
Ketika aku menghadiri seminar “Hard Times for New Labor” yang dibawakan oleh Dr. Angus Hawkins, FRHS di University of California, Berkeley, USA, hari Selasa, 13 Maret 2007, pikiranku sempat melayang pada peran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Indonesia.
Dalam seminar tersebut, Dr. Hawkins, Direktur International Programmes di University of Oxford Inggris, menerangkan bahwa Perdana Menteri (PM) Inggris dapat klasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: anchor, fixer dan visionary. Aku bertanya dalam hati, “Jika SBY ditaruh ke dalam kerangka ini, di mana ia berada?
Anchor adalah seorang PM yang dalam program kerjanya mengutamakan keseimbangan dan kestabilan. Stanley Boldwin dan Harold Wilson termasuk dalam golongan ini.
Seorang PM dikategorikan sebagai Fixer, bila ia cenderung dan ahli dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah. Clement Atlee dikatakan oleh Dr. Hwkins sebagai contoh PM Fixer.
Kategori terakhir adalah Visionary. Dalam kategori ini, seorang PM lebih menitik-beratkan pada mencari, menemukan dan membentuk landasan atau jalan baru bagi partai dan bangsa Ingris di masa ia berkuasa dan di masa mendatang. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Winston Churchill dan Margaret Thatcher. Dr. Hawkins masih mempertanyakan apakah PM Tony Blair bisa dimasukan ke ketegori ini.
Pada mulanya Blair menunjukkan kecenderungan PM Visionary karena ditunjang dengan keahliannya memainkan 3C, yaitu: consensus, charisma dan control. Tetapi di akhir jabatannya, ia terjebak dalam the fourth C, yaitu christianity. Blair terlalu menonjolkan ke-christianity-annya, dalam kehidupan politiknya, termasuk dukungannya terhadap politik luar negeri George Bush untuk menyerang Irak.
Semangat christianity – dianggap sebagai hal yang tabu di negara Ingris yang sangat menekankan pemisahan negara dan agama (gereja) – yang dipraktekkan oleh Blair ternyata menurunkan pamor politiknya dan membuat Dr. Hawkins ragu jika ia bisa digolongkan ke dalam PM yang visionary.
Dengan kerangka berpikir Dr. Hawkins dan kembali ke pada presiden Indonesia yang sekarang ini, bisakah SBY dikategorikan sebagai presiden yang visionary?
SBY sering dikatakan sebagai “Jenderal Pemikir.” Hal ini tidak diragukan jika dilihat dari latar belakang pendidikannya. Dia meraih predikat lulusan terbaik AKABRI 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya. Ia berhasil menyingkirkan jenderal lain yang dianggap cemerlang pada waktu itu, yaitu Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto.
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS (http://www.tokohindonesia.com, di-retrieved pada tanggal 14 Maret 2007).
Dalam karir politiknya yang dimulai dari Januari 2000, SBY menunjukkan kebolehannya dengan memperoleh kepercayaan berturut-turut dari presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Megawati Soekarno sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, dan Menko Polkam.
Sebagai Menko Polkam, SBY telah mencatat keberhasilan mengembalikan sebagian kepercayaan masyarakat dan dunia internasional dalam hal keamanan di Indonesia. Prestasi ini dinilai cukup besar karena faktor keamanan atau stabilitas politik SBY sumbangkan dijadikan indikator utama untuk investasi. SBY juga berhasil meyakinkan sebagian masyarakat bahwa keadaan lebih aman dengan menurunnya ancaman dan teror bom yang sering terjadi.
Singkatnya, puncak karir politik SBY terwujud pada Pemilu Presiden putaran kedua, tanggal 20 September 2004. Dengan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden, SBY berhasil meraih kursi kepresidenan RI dengan perolehan suara di atas 60 persen, mengungguli pasangan Mega-Hasyim yang meraih kurang dari 40 persen suara.
Kemenangan SBY ini menimbulkan harapan besar di kalangan rakyat Indonesia, bahwa ia akan memperbaiki keadaan sosial, politik dan ekonomi yang kacau. Dalam bidang politik, pada saat institusi TNI dan oknum-oknum militernya dibenci dan dihujat, sosok SBY malah mencuat. Hal ini mengingatkan awal kebangkitan Jenderal Soeharto, ketika enam jenderal TNI diculik dalam peristiwa G-30-S/PKI, ‘the smiling general’ itu berhasil tampil sebagai ‘penyelamat negeri’.
Dalam kedukukannya sebagai presiden, SBY telah membuktikan bahwa ia bisa menyeret para pelaku korupsi, termasuk para jenderal, ke dalam penjara. Bahkan Robert Wexler, seorang anggota Kongres AS dari Partai Demokrat menominasikan SBY untuk Nobel Perdamaian. Dalam suratnya kepada Komite Nobel, Wexler menyebutkan bahwa SBY patut dihargai karena meski harus menghadapi bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004 dan ancaman wabah flu burung, ia mampu memantapkan politik, ekonomi, dan bantuan kemanusiaan (The Jakarta Post, 2006-01-30).
Melihat semua ini, agaknya SBY jelas masuk ke dalam kategori politisi anchor dan fixer. Bagaimana dengan kategori visionary? Agaknya masih terlalu pagi untuk mengkategorikan SBY sebagai presiden yang visionary. Ia baru dalam setengah perjalanan sebagai presiden RI. Perlu dibuktikan dulu apakah ia mampu merealisasikan janjinya pada masa kampanye.
Sebutan presiden yang visionary bagi SBY agaknya memang perlu ditunda dengan melihat perkembangan politik oposisi akhir-akhir ini yang mempertanyakan kemantapan dan kecepatan langkah SBY dalam merealisasikan janjinya. Sebagai contoh, pada Senin (15/1/2007) di Jakarta, berlangsung unjuk rasa yang dilakukan mantan aktivis mahasiswa Malari (15 Januari 1974) Hariman Siregar, ekonom Sjahrir, WS Rendra, Sri-Bintang Pamungkas, Eggi Sudjana, dan aktivis buruh Dita Indah Sari.
Pengunjuk rasa meminta agar mandat rakyat kepada Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla dicabut. Menurut pengunjuk rasa masa kepemimpinan Yudhoyono-Kalla yang sudah mencapai 2,5 tahun merupakan waktu yang cukup untuk memperbaiki nasib rakyat. Namun, menurut mereka, rakyat masih harus hidup dalam kemiskinan. Aset bangsa, sumber daya alam, masih dikuasakan kepada pihak asing. Akibatnya, kekayaan alam yang melimpah belum memberikan kontribusi bagi kesejahteraan rakyat (http://www.tokohindonesia.com, di-retrieved pada tanggal 14 Maret 2007.
Jelas kita berharap bahwa langkah politik yang baik pada mulanya, seperti yang dilakukan PM Tony Blair dan SBY, tidak diakhiri dengan keraguan dan protes rakyat yang akhirnya membatalkan gelar politisi visionary yang akan diberikan pada mereka.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
MYTHS IN LEADERSHIP

Image source: 100plusposters.com
By Beni Bevly
Some people say that leadership is all common sense or leaders are born not made. Many people believe these myths. Are there correct?
In 2001, I was asked to be the Customer Service and Information Manager at one of the Nordstrom’s stores in California, USA. I was doubt because I did not have any experiences in customer service field.
One of managers said, “Don’t worry, company believes in you and this is all about common sense. All you need to do is assigning your employees for certain responsibility, than you control and check the resulst.” In the first week, before I attended Customer Service Skills for Manager class, I had the difficulty in handling customers’ complains and demanding employees. I answered all customer complains and employees’ questions based on the company policy that I knew. Yet, not all problems were solved easily, in two occasions, my supervisor had to get involved.
After attending the Customer Service Skills for Manager class, I handled customers’ complains and employees’ questions more professionally. Not only related the complains and questions to our policies, but I stressed a lot on “building rapport, finding out what their needs, matching their needs with our current or future products/services, and getting the agreement how to solve their complains.”
This experience taught me that by studying the definitions and theories of leadership that researchers had compiled, made me much easier to understand what going on in any leadership situation. Common sense alone is not enough.
Hughes, Ginnett, & Curphy in “Leadership: Enhancinf the Lessons of Experience describe that there are three myths in leadership: (1) good leadership is all common sense, (2) leaders are born, not made, and (3) The only school you learn leadership is the school of hard knocks.
First, good leadership is all common sense. This myth says one needs only common sense to be a good leader. The problem, of course, is with the ambiguous term common sense. It implies a common body of practical knowledge about life virtually any reasonable person with moderate experience has acquired. In Fact, common sense can often play tricks on us.
Here is one of them: A study, after World War II, from U.S. Army to reach conclusion that, many believed, should have been apparent at the outset. One, for example, was that southern soldiers were better able to stand the climate in the hot South Sea Islands than northern soldiers were. This sounds reasonable but this statement is exactly contrary to the actual findings. Southerns were no better than notherns in adapting to tropical climates.
To me, to be an effective leader, there must be something else than just common sense.
Second, leaders are born, not made. Which view is right? Some people believe being a leader is either one’s genes or not; other believe that life experiences mold the individual, that no one is born a leader. Both views are right in the sense that innate factors as well as formative experiences influences many sorts of behavior, including leadership.
Yet, both views are wrong to extent they imply leadership is either innate or acquired; what matters more is how these factors interact. Becoming a college professor depends partly on what one is “born with” and partly on how the inheritance is shaped through experience.
Third, the only school you learn leadership is the school of hard knocks. Formal study and real-life experience, in fact, complement each other. By studying the different ways, researchers have fined and examined leadership, student can use these definitions and theories to better understand what is going on in any leadership situation. It is difficult for leaders, particularly novice leader, to examine leadership situations from multiple perspectives. By developing this skill can help a person become a better leader.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
ABANG KETOPRAK

Image source: pontianakpost.com
Oleh Beni Bevly
Hampir 100% masa kecilku dikelilingi oleh budaya Cina Hakka dari keluargaku. Semua keponakan, kakak beradik, orang tua dan keluarga dari pihak ibu dan ayah berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Hak Fa. Budaya lain, selain Hakka, aku pelajari di sekeloh dan di lingkungan tetangga aku bergaul.
Budaya tercermin dari bahasa dan juga dari makanan. Sampai SMP kelas satu, aku belum pernah menyicipi makanan pribumi, kecuali di sekolah. Proses pengalamanku dalam mencicipi makanan pribumi sedikit banyak mencerminkan proses pengenalan Pribumi dan Cina dari segi positif, di samping itu juga ditemukan kenyataan bahwa proses sosialisasi dari kedua kelompok ini diwarnai dengan penolakkan dan peristiwa kekerasan. Berikut adalah uraian pengalaman masa laluku.
Pernah suatu saat, tetangga pribumi kami di Pontianak menghadiahkan makanan untuk keluargaku sebagai balasan dari ayahku yang memberi mereka air hujan sebagai air minum dari persediaan keluargaku. Orang tua kami kelihatan bingung, bercampur rasa takut dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan makanan tersebut. Akhirnya, makanan tersebut tersia-siakan. Singkatnya, secara budaya, aku dan keluargaku pada saat itu adalah Cina yang totok.
Ketika pindah ke Jakarta, aku melihat begitu banyak penjaja makanan mondar-mandir di depan rumahku. Rasa ingin tahuku terhadap rasa makanan yang dijajakan sangat kuat. Aku panggil abang yang menyebut dirinya sebagai penjual ketoprak dan memperhatikan dengan seksama cara dia mengelolah makanan. Pengelolahan, bentuk, warna dan aroma makanan itu asing bagiku jika dibandingkan dengan makanan Hak Nyin (orang Hakka) yang dimasak oleh ibuku. Dengan rasa ragu aku kukuhkan hati untuk mencicipi makanan itu. Sejak saat itu, hampir setiap malam, pasti ada anggota keluargaku yang memesan makanan dari penjaja yang lalu lalang itu. Mie dan nasi goreng tek-tek adalah favorit keluarga kami.
Ada dua hal yang menarik dari peristiwa yang berkaitan dengan makanan di atas. Pertama, ketakutan yang timbul karena tidak mengenal jenis makanan yang diterima oleh keluarga kami, membuat kami memutuskan untuk tidak menkonsumsi makanan tersebut. Pada dasarnya proses pertama menggambarkan ketidaktahuan dan keasingan terhadap sesuatu menimbulkan rasa kwatir dan takut. Rasa kwatir dan takut ini dimanifestasikan dalam bentuk penolakan. Tingkat yang lebih ekstrim, ketakutan bisa menyebabkan seseorang atau sekelompok orang ingin menghancurkan dan memusnahkan objek yang ditakuti.
Kedua, keinginan aku untuk mengetahui dan merasakan makanan yang namanya ketoprak mengantarkan keluarga kami menjadi pelanggan setia bukan hanya ketoprak, tetapi meluas pada makanan pribumi yang lain. Proses ini menghasilkan suatu hubungan yang positive, karena didasari rasa ingin tahu dan kemaun mengenal lebih jauh. Karena didorong oleh keingintahuan, maka sasaran objeknya menjadi jelas dan tidak menakutkan lagi. Dari situ timbul rasa menerima.
B. W. Armentrout dalam Have Your Plan for Change Had a Change of Plan? “Hrfocus,” January, 1996 dan A.S. Judson dalam “Changing Behavior in Organizatios: Minimizing Resistance to Change,” 1991 secara specific meneliti hal-hal yang membuat seseorang tidak menerima sesuatu yang baru dan punya kecenderungan untuk merusak atau memusnahkannya yang hasilnya dirangkum sebagai berikut:
1. Kecenderugan tanggapan individu tentang perubahan
2. Kekwatiran dan ketakutan akan sesuatu yang tidak menentu
3. Iklim yang tidak ada kepercayaan
4. Takut akan kegagalan
5. Kehilangan status dan/atau kemapanan pekerjaan
6. Tekanan dari rekan sejawat atau lingkungan
7. Ganguan tradisi kultur dan/atau hubungan kelompok
8. Konflik pribadi
9. Tidak ada sesuatu yang menguntungkan.
Gejolak sosial, penolakkan dan peristiwa kekerasan dalam hubungan Pribumi dan Cina di Indonesia sedikit banyak bisa dijelaskan dengan menggunakan kerangka di atas.
Hal pertama dan utama adalah ketidak-tahuan dan keterasingan satu pihak terhadap pihak yang lain. Sejak ratusan tahun silam, ketika Indonesia di bawah jajahan bangsa asing hingga pada masa Orde Baru , orang Cina sengaja diasingkan dan dijadikan alat untuk keuntungan penguasa. Penguasa tahu bahwa orang Cina yang merasa tidak berdaya dan membutuhkan perlindungan merupakan tangan yang tepat sebagai perantara mereka. Keadaan ini menempatkan Cina, di satu pihak, berlawanan dengan pribumi, di pihak lain.
Keadaan ini berkelanjutan hingga menimbulkan iklim ketidak percayaan di antara kedua golongan ini. Karena masing-masing pihak mensosialisasi dan menekankan keturunan mereka dari kecil bahwa tidak baik untuk menjalin hubungan positive dengan pihak lain. Bagi mereka yang bisa mengambil keuntungan dari kondisi sosial yang tidak sehat seperti ini akan mempertahankan hubungan mereka, seperti hubungan pengusaha Cina dengan pejabat negara atau petinggi militer.
Apa yang bisa dilakukan sebagain generasi muda dari masing-masing kelompak, Cina dan Pribumi? Kita harus memutuskan ganjalan-ganjalan, terutama ketidak-tahuan dan ketidak-saling mengenal antara kita dan menyadari bahwa kita ini hanya menjadi objek untuk keuntungan sekelompok orang. Kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik antar kedua kelompok seperti di Malaysia dan Singapura hendaknya bisa dijadikan cermin untuk perdamaian dan kemakmuran bersama.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
CONFLICT IN ACEH

Image source: msnbc.msn.com
By Beni Bevly
The conflict between Indonesian government and Aceh separatists has affected local people who live in Aceh. There are about 3,502 families live desperately because all the resources have been destroyed during the conflict. Now they live scattered around in emergency huts. Their houses and other properties were burnt. The parents have no way to support their children and themselves. A lot of them only eat one meal (rice) a day (Antara News, March 9, 2007).
What is the source of the conflict? Why has not this conflict been resolved?
The simple reason that we hear every day is that the Aceh separatists want to liberate their people from Indonesian government’s occupation and have their own Islam nation. While the Indonesia government does their “job” to keep the unity of Indonesia.
Theoretically, according to Kreitner, R., & Kinicki, A. (1998), in “Organizational Behavior,” conflict accours because:
. Incompatible personalities or value system.
. Competition for limited resources.
. Inadaquate communication.
. Organization complexity (too many hierarchical layers).
. Unreasonable or unclear policies, standards, or rules.
. Unresonable deadlines or extreme time pressure.
. Unmet expectations.
. Unresolves or suspressed conflict.
To resolve the conflict, Indonesian government and Aceh separatists need to sit down and go over the above list that causes the conflict. Instead of treating each other as enemy, both parties will enjoy the benefits of cooperating as allies.
Cohan, R. & Bradford, L., in “Influence Without Authority” suggest the following tips for dealing with potential allies:
. Mutual respects. Assume they are competent and smart.
. Openness. Talk straigth to them. Give them the information they need to know.
. Trust. Assume that no one will take any action that is purposely intended to hurt another, so hold back no information that other could use, even if it doesn’t help your immediate position.
. Mutual benefit. Plan every strategy so that both parties win.
In this situation, both parties need a high integrity negotiator who can be trusted. The negotiators will discuss the problems and how to solve it based on Kreitner’s & Kinicki’s, and Cohan’s & Bradford’s frame works.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.














