Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for March 3rd, 2007

YOPE ME, TANKA YE ME!?

with 26 comments

guru pemarah
Image source : saskschools.ca

Oleh Beni Bevly
Teriakan, “Yope me, tangka ye me!?”(Aku kurang yakin apakah ejaannya benar, kalimat ini berasal dari bahasa Melayu Sambas yang kurang lebih berarti: “Mengapa bisa begitu?”) tidak akan terlupakan olehku. Kalimat itu diteriakan oleh seorang guru SD Negeri 1, Sekura, Kalimantan Barat kepadaku dengan mata melotot dan sambil mencubit dada sebelah kiri atasku. Cubitan – yang dilakukan pada tahun 1975 – tersebut meninggalkan lecet dan memar kebiruan. Hukuman fisik seperti ini banyak ditemukan dalam sistem pendidikan Indonesia. Fenomena situasi pendidikan seperti apakah di atas? Jika pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” benar, apa jadinya murid-murid yang menjadi objek perlakuan guru di atas nantinya? Berikut adalah pengalaman yang aku alami dan renungan akan sebagian sistem pendidikan kita.

Di lain saat, di SD Negeri 5, Pontianak, Kalimantan Barat pada sedang upacar bendera, aku melihat teman kelasku naik sepeda yang dikebut laju ketakutan karena terlambat, diparkir dan langsung masuk barisan untuk mengikuti upacara bendera. Kepala sekolah menghentikan upacara itu dan memanggil teman saya ke depan. Dengan ketakutan dan gerakan perlahan, temanku mendekati kepala sekolah tersebut. Tanpa berkata sepatahpun, dia menempeleng anak yang baru berusia kurang lebih sebelas tahun itu. Anak itu terpelanting jatuh. Kepala sekorang itu kemudian membentak, “Kembali ke barisan mu!”

Pada waktu di SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, aku menyaksikan seorang guruku melontarkan penghapusan kayu tepat ke kepala teman kelasku sambil berkata, “Rontok gigi kamu!” Timpukan itu meninggalkan benjol besar kebiruan di jidat temanku tersebut.

Pada saat SMA Negeri 19, Jakarta, seorang guru lelaki mudaku mendatangi teman kelas perempuanku, berdiri di belakangnya dan menarik tali BH-nya, kemudian dibiarkan menjepret ke punggung teman perempuanku tersebut. Kemudian guru tersebut cengengesan sambil memperhatikan muridnya yang cemberut.

Tradisi pendidikan Konghucu yang keras – saya sempat rasakan langsung dari ayahku sebagai mantan guru Mandarin – dan juga menghukum secara fisik dengan memukul rotan ke tangan dan pantat murid agaknya ada kesamaan dengan hal di atas. Sama-sama mengancam dengan menimbulkan rasa sakit pada fisik dan ketakutan mental. Tapi bedanya, ayahku melakukan itu jika aku tidak mengerjakan PR atau pergi bermain. Dia menggunakan satu spesifik rotan yang ujungnya dibelah kecil-kecil. Tidak menggunakan penghapus kayu untuk menimpuk, atau telanjang tangan untuk mencubit dan menempeleng atau menjepret dengan tali BH yang sedang dipakai oleh murid perempuan. Aku tidak mengatakan bahwa tradisi pendidikan Konghucu yang mengunakan ancaman keras fisik dan ketkutan mental itu adalah baik.

Tetapi yang aku ingin gugah adalah bagaimana perasaan anda mengenai tindakan guru yang agaknya hanya dilandaskan pada kemarahan, kebencian dan kecabulan terhadap murid didiknya. Di mana moral guru yang menarik dan menjepretkan tali BH murid perempuan tersebut. Sungguh memalukan!

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 3rd, 2007 at 11:28 am