Archive for March 12th, 2007
ABANG KETOPRAK

Image source: pontianakpost.com
Oleh Beni Bevly
Hampir 100% masa kecilku dikelilingi oleh budaya Cina Hakka dari keluargaku. Semua keponakan, kakak beradik, orang tua dan keluarga dari pihak ibu dan ayah berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Hak Fa. Budaya lain, selain Hakka, aku pelajari di sekeloh dan di lingkungan tetangga aku bergaul.
Budaya tercermin dari bahasa dan juga dari makanan. Sampai SMP kelas satu, aku belum pernah menyicipi makanan pribumi, kecuali di sekolah. Proses pengalamanku dalam mencicipi makanan pribumi sedikit banyak mencerminkan proses pengenalan Pribumi dan Cina dari segi positif, di samping itu juga ditemukan kenyataan bahwa proses sosialisasi dari kedua kelompok ini diwarnai dengan penolakkan dan peristiwa kekerasan. Berikut adalah uraian pengalaman masa laluku.
Pernah suatu saat, tetangga pribumi kami di Pontianak menghadiahkan makanan untuk keluargaku sebagai balasan dari ayahku yang memberi mereka air hujan sebagai air minum dari persediaan keluargaku. Orang tua kami kelihatan bingung, bercampur rasa takut dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan makanan tersebut. Akhirnya, makanan tersebut tersia-siakan. Singkatnya, secara budaya, aku dan keluargaku pada saat itu adalah Cina yang totok.
Ketika pindah ke Jakarta, aku melihat begitu banyak penjaja makanan mondar-mandir di depan rumahku. Rasa ingin tahuku terhadap rasa makanan yang dijajakan sangat kuat. Aku panggil abang yang menyebut dirinya sebagai penjual ketoprak dan memperhatikan dengan seksama cara dia mengelolah makanan. Pengelolahan, bentuk, warna dan aroma makanan itu asing bagiku jika dibandingkan dengan makanan Hak Nyin (orang Hakka) yang dimasak oleh ibuku. Dengan rasa ragu aku kukuhkan hati untuk mencicipi makanan itu. Sejak saat itu, hampir setiap malam, pasti ada anggota keluargaku yang memesan makanan dari penjaja yang lalu lalang itu. Mie dan nasi goreng tek-tek adalah favorit keluarga kami.
Ada dua hal yang menarik dari peristiwa yang berkaitan dengan makanan di atas. Pertama, ketakutan yang timbul karena tidak mengenal jenis makanan yang diterima oleh keluarga kami, membuat kami memutuskan untuk tidak menkonsumsi makanan tersebut. Pada dasarnya proses pertama menggambarkan ketidaktahuan dan keasingan terhadap sesuatu menimbulkan rasa kwatir dan takut. Rasa kwatir dan takut ini dimanifestasikan dalam bentuk penolakan. Tingkat yang lebih ekstrim, ketakutan bisa menyebabkan seseorang atau sekelompok orang ingin menghancurkan dan memusnahkan objek yang ditakuti.
Kedua, keinginan aku untuk mengetahui dan merasakan makanan yang namanya ketoprak mengantarkan keluarga kami menjadi pelanggan setia bukan hanya ketoprak, tetapi meluas pada makanan pribumi yang lain. Proses ini menghasilkan suatu hubungan yang positive, karena didasari rasa ingin tahu dan kemaun mengenal lebih jauh. Karena didorong oleh keingintahuan, maka sasaran objeknya menjadi jelas dan tidak menakutkan lagi. Dari situ timbul rasa menerima.
B. W. Armentrout dalam Have Your Plan for Change Had a Change of Plan? “Hrfocus,” January, 1996 dan A.S. Judson dalam “Changing Behavior in Organizatios: Minimizing Resistance to Change,” 1991 secara specific meneliti hal-hal yang membuat seseorang tidak menerima sesuatu yang baru dan punya kecenderungan untuk merusak atau memusnahkannya yang hasilnya dirangkum sebagai berikut:
1. Kecenderugan tanggapan individu tentang perubahan
2. Kekwatiran dan ketakutan akan sesuatu yang tidak menentu
3. Iklim yang tidak ada kepercayaan
4. Takut akan kegagalan
5. Kehilangan status dan/atau kemapanan pekerjaan
6. Tekanan dari rekan sejawat atau lingkungan
7. Ganguan tradisi kultur dan/atau hubungan kelompok
8. Konflik pribadi
9. Tidak ada sesuatu yang menguntungkan.
Gejolak sosial, penolakkan dan peristiwa kekerasan dalam hubungan Pribumi dan Cina di Indonesia sedikit banyak bisa dijelaskan dengan menggunakan kerangka di atas.
Hal pertama dan utama adalah ketidak-tahuan dan keterasingan satu pihak terhadap pihak yang lain. Sejak ratusan tahun silam, ketika Indonesia di bawah jajahan bangsa asing hingga pada masa Orde Baru , orang Cina sengaja diasingkan dan dijadikan alat untuk keuntungan penguasa. Penguasa tahu bahwa orang Cina yang merasa tidak berdaya dan membutuhkan perlindungan merupakan tangan yang tepat sebagai perantara mereka. Keadaan ini menempatkan Cina, di satu pihak, berlawanan dengan pribumi, di pihak lain.
Keadaan ini berkelanjutan hingga menimbulkan iklim ketidak percayaan di antara kedua golongan ini. Karena masing-masing pihak mensosialisasi dan menekankan keturunan mereka dari kecil bahwa tidak baik untuk menjalin hubungan positive dengan pihak lain. Bagi mereka yang bisa mengambil keuntungan dari kondisi sosial yang tidak sehat seperti ini akan mempertahankan hubungan mereka, seperti hubungan pengusaha Cina dengan pejabat negara atau petinggi militer.
Apa yang bisa dilakukan sebagain generasi muda dari masing-masing kelompak, Cina dan Pribumi? Kita harus memutuskan ganjalan-ganjalan, terutama ketidak-tahuan dan ketidak-saling mengenal antara kita dan menyadari bahwa kita ini hanya menjadi objek untuk keuntungan sekelompok orang. Kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik antar kedua kelompok seperti di Malaysia dan Singapura hendaknya bisa dijadikan cermin untuk perdamaian dan kemakmuran bersama.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
