BERGURU PADA CUCU PENDEKAR PINCANG

Image source: darkfall.buzznet.com
Beni Bevly
Adalah hal yang sangat menyenangkan jika aku, sebagai seorang remaja pada saat itu, dan teman-teman pergi nonton film kung fu Hong Kong. Dari peristiwa menonton itu, banyak pengalaman yang diperoleh, termasuk memahami pengaruh “immoral majority” falam tindak tanduk kehidupan masyarakat Indonesia secara umum.
Sekitar tahun 1984, pada suatu malam, kami berangkat ke bioskop Gertak Tiga, Pontianak dengan naik oplet. Sesampainya di bioskop, seperti biasa, sudah berjimbun orang berkumpul di loket. Uang yang sudah aku siapkan di tangan, yang ku peroleh dengan menjual ikan hias piraanku, ku gemgam erat-erat. Aku berjuang, tolak kiri-kanan, dan mendesak maju ke depan loket sambil ngos-ngosan. Aku harus bersaing dengan belasan atau puluhan orang dewasa yang jauh lebih tinggi dan besar dariku.
Karcis sudah di tangan, maka melangkah masuklah aku dan teman yang lain de dalam bioskop. Di sana kami dusuk sesuai dengan nomor yang ditentukan. Aku tidak sabar menunggu supaya film kung fu tersebut mulai. Ketika sedang menikmati film itu, aku biasanya sangat terganggu oleh asap rokok orang di sebahku, pembicaraan, sorakan dan tepuk tangan penonton yang lainnya.
Ketika selesai pertunjukan, salah satu temanku kehilangan sandalnnya. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencari sandal tersebut. Akhirnya, penjaga bioskop menggiring kami keluar.
Tak disadari, hari sudah larut malam, oplet pun sudah tidak beroperasi lagi. Dengan terpaksa, aku dan teman-temanku pulang dengan berjalan kaki, termasuk yang kehingan sandalnya. Perjalanan tersebut memakan waktu lebih dari satu jam.
Pada keesokan harinya, kami berkumpul lagi dan membicarakan film yang ditonton. Kami sepakat untuk membikin peralatan latihan, seperti tiang untuk menggantung karung pasir dan mencari tongkat rotan yang mirip dipakai oleh sang pendekar. Lalu kamipun beraksi seperti akting para karakter di film itu. Salah satu temanku, yang neneknya sangat misterius dan pincang, kami angkat sebagai guru, maka jadilah aku dan beberap temanku berguru pada cucu pendekar pincang.

Image source: skywithoutlimit.com
Dari peristiwa di atas ada tiga hal yang patut diperhatikan. Petama, peristiwa berebutan memebeli karcis di loket. Kedua, nonton sambil bicara, teriak, tepuk tangan dan merokok. Ketiga, sandal yang di curi. Ketiga hal ini mencerminkan betapa tidak teratur dan disiplinnya masyarakat kota Pontianak pada saat itu. Hal ketiga mencerminkan sifat yang sangat tidak terpuji, yaitu memiliki barang yang bukan haknya dengan cara illegal.
Dalam kaitan dengan tindakan publik di atas, aku ingat akan seorang psychologist social yang bernama Solomon Asch. Pada tahun 1952, Asch memperkenalkan teori “the Asch effect” yang menerangkan bahwa 85% dari setiap individu yang menjadi objek penelitiannya setidaknya pernah mengikuti dua kali kemauan “immoral majority” walaupun individu tersebut tahu bahwa ia benar dan kamauan moyoritas adalah salah (Salomon Asch, Socialogy Psychology, 1952).
Pendapat Asch ini agaknya bukan hanya bisa dipakai untuk menguji peristiwa menonton di atas, tetapi juga bisa dipakai untuk melihat masyarakat Indonesia secara umum, di mana ketidak-teraturan sosial, immorality, dan korupsi meraja rela. Jika Asch melihat bahwa 85% individu akan mengikuti kemauan “immoral majority” paling tidak dua kali, maka aku perkirakan bahwa 85% dari masyarakat Indonesia mengikuti kemauan “immoral majority” hampir setiap kali.
Mari kita kembali ke film kung fu yang aku tonton di atas. Film itu pada intinya menceritakan seorang anak muda Cina yang keluarganya di bunuh oleh penjahat. Pada masa itu masyarakat dilanda kekacauan sosial, politik dan kemelaratan ekonomi sehingga moral dilupakan. Semua perbuatan immoral menjadi “sah”, termasuk pembunuhah terhadap keluarga pemuda itu.
Maka pergilah pemuda tersebut ke kuil Shaolin untuk belajar kungfu supaya bisa balas dendam. Setelah ilmu bela dirinya mencapai kesempurnaan, dia bekelana mencari musuh besarnya itu. Setelah ketemu, dia tidak membunuh musuhnya itu untuk balas dendam. Karena ilmu kebijaksanaan yang dipelajari di kuil Shaolin menyadarkan dia bahwa betapa tidak baiknya tindakan balas dendam. Maka jadilah ia seorang pembela kebenaran sejati.
Cerita film kung fu yang tipikal di atas menyampaikan pesan moral yang tinggi dengan menunjukkan bagaimana pemuda Cina tersebut menolak teori the Asch effect. Betapa indahnya jika mayoritas dari masyarakat kita bertindak seperti pemuda dalam film kung fu itu.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
