Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for March 21st, 2007

GUS DUR and CAK NUR

with 2 comments

Gus DurCak Nur

By Beni Bevly
There are two Muslim scholars from Indonesia that I admire, Adurrahman Wahid (Gus Dur) and the late Nurcholish Madjid (Cak Nur). I came across visiting Afsyuhud.blogspot.com. I found two articles about Gus Dur and Cak Nur. Fatih has had written these articles very well. I believe these articles had helped readers to have better understanding about Cak Nur and Gus Dur, and promote their ideas.

In understanding people, I recall a discussion that I had with one of the Ahmadiyah practitioners in California, USA. He said, “If you want to see whether a fruit is good or bad, look at the root of the tree.” Basically he was telling me that the parents had enormous influence on their children. In this case, Wahid Hasyim and Abdul Madjid had taught their children – Gus Dur and Cak Nur respectively – very well. Hasyim and Madjid are the legends among their followers and for other many Indonesians. They had their own Islam education institutions (pesantren and madrasah) where they taught they children.

The knowledge and believe that they studied from their parents at the pesantren and madrasah became their foundation. Later on, Gus Dur crystallized his believed and intellectual at the University of Bagdad, Iraq, while Cak Nur did it mostly at Pesantren Modern Gontor in Ponoro East Java and at the University of Chicago, USA.

Currently, Cak Nur and Gus Dur become the most prominent moderate Muslim scholars. The world needs to know that we, Indonesia have these particular extraordinary men.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 21st, 2007 at 8:38 pm

DISCRIMINATION at WORK PLACE in INDONESIA II

with 2 comments

She is good looking, why don't we hire her?
Image source: ilettclark.co.uk

By Beni Bevly
“Discrimination at Work Place in Indonesia” that I posted on March 20, 2007 received many comments.

Leena Lin said on March 20, 2007 at 3:32 pm
>Ironically, if you have good looking you will get hired easily in Indonesia. So where will the average or ugly people like me go?

Those “ugly ones” are probably the employers (entrepreneurs).

Iris said on March 20, 2007 at 4:48 pm |
I guess it happens everywhere esp. in Asia. According to the survey by a company in Taiwan, people who have good looking have more possibilities to be hired than those who don’t have.

Yes, people will limits to age and sex on the ads. However, it is rare to ask for “good looking” though it is still regarded as one of the ways to choose employees according to survey to bosses and managers.

Iris

http://iristwo.blogspot.com/

Lyl said on March 21, 2007 at 3:03 pm |
In this millineum era it surprise me that the employment system over there is prety far behind. I thought they are improving than 30 years ago. What a snail ?!

No wonder that Indonesia is getting prety famous with gender and race discrimination in the eyes of the world.

It make me questioning what the Employment minister has been doing and how is his/her ability to improve that.

By the way, I wonder how the minister looks like. Is he or she good looking and attractive too ?

Do you have his or her picture ? let me see if he or she is good looking enough to be a minister based on Indonesian employment requirement.

To Lyl, here is the picture of our Manpower Minister:

Erman Suparno, Manpower and Transmigration Minister of Indonesia

It is irony that Indonesia which claims themselves as a country who cares about human right and has its Justice and Human Rights Minister, Hamid Awaluddin, still practices discrimination at work publicly.

Human Rights Minister, Hamid Awaluddin

Beside that, there is Manpower and Transmigration Minister, Erman Suparno who oversees employment issue. Yet, this two ministers have not touched this important matter.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA

with 16 comments

Suami-isteri, mempertanyakan keadilan
Image source: saabt.com

Oleh Beni Bevly
Pagi ini, tanggal 21 Maret 2007, aku menerima email dari seorang teman yang menanyakan, “So, what is the fair thing that couple can offer to contribute the fair share of “kitchen chores and expenses”. If they are both working and no children.” Pertanyaan ini menjadi penting di jaman modern yang complex ini.

Pada jaman dulu, atau pada masyarakat tradisional memang benar bahwa pria atau suami bekerja di luar dan wanita atau isteri menjaga anak dan mengatur rumah tangga. Hal itu terjadi karena fasilitas dan keadaan belum memadai untuk wanita mencari nafkah di luar. Tanpa fasilitas dan lingkungan yang mendukung secara fisik, umumnya wanita sulit bersaing dengan pria. Maka itu pembagian kerja yang rasional adalah wanita menjadi “penjaga gawang” dan pria menjadi “penyerang”.

Keadaan sekarang telah berubah, terutama di negara maju atau di kota besar. Pendidikan, fasilitas, keadaan sosial dan lain-lain telah tersedia bagi kaum wanita untuk bisa berbuat seperti kaum pria. Lagi pula, khususnya di Amerika dan apalagi di Kalifornia tempat dimana aku tinggal, biaya hidup begitu tinggi. Pemdapatan rata-rata dari seorang individu yang kerja untuk orang lain tidak akan mencukup untuk membiayai satu rumah tangga, termasuk pemilikan rumah. Dalam kondisi inilah, suami isteri atau partner perlu saling membantu.

Pertanyaannya, bagaimana pembagian kerja yang “fair”? Tentu ini sangat relatif. Ukuran “fair” bagi setiap orang dan untuk kasus yang lain bisa berbeda. Untuk mudahnya aku akan menggunakan alat ukur uang, waktu kerja dan kwalitas kerja yang sama.

Keadaan dikatakan fair jika perbandingan input yang diberikan sama dengan output yang diterima. Untuk si A, output $2, input waktu kerja 1 jam = si B yang outputnya $4, dengan input kerja 2 jam. Hal ini menjadi tidak fair bagi si A jika si B menerima output $4, dengan input kerja 1 jam.

Sekali lagi, dalam kehidupan rumah tangga tidaklah sesederhana contoh di atas. Hal itu hanya dijadikan cara berpikir untuk melihat fairness. Hal yang paling mendasar untuk melihat fairness dalam kehidupan rumah tangga adalah dasar atau tujuan dari kedua insan untuk membentuk rumah tangga. Yang paling umum adalah mencari teman hidup untuk dapat saling mengisi. Di bawah adalah contoh ekstrim yang berakaitan dengan budaya.

Ada satu pria barat yang ingin mencari pasangan hidup wanita timur. Pria barat ini tahu bahwa pada umunya wanita timur pintar mengatur rumah tangga dan mau melayani suami. Wanita ini sulit ditemukan di kalangan wanita barat. Maka ditemuilah wanita timur melalui internet. Seperti biasa, dalam masa perkenalan, kedua belah pihak menampilkan hal yang terbaik. Pria barat memperlihatkan sifat yang gentleman-nya. Wanita timur memperlihatkan sifat keibuannya. Lantas mereka merasa cocok, maka diputuskanlah untuk tinggal serumah.

Waktu berselang, si priapun menunjukkan niat utamanya untuk mencari pendamping wanita timur, yaitu supaya dilayani dan rumah tangganya diatur dengan rapih. Rupanya, wanita timur tersebut menemukan bahwa pria barat itu tidak se-gentleman yang ia kira. Salah satu alasannya dia memilih pria barat itu karena ia tidak senang dengan pria timur yang sering sok macho. Maka timbullah perselisihan. Wanita timur menilai bahwa perlakuan pria barat itu terhadapnya tidak fair. Dan pria barat bilang, “Bukankah ini wajar di kalangan wanita timur?”

Persoalannya akan menjadi lain, jika wanita itu berkelakuan seperti yang didambakan pria barat itu. Atau wanita timur menemukan pria yang benar-benar dianggap “gentleman”. Jika begini halnya, pertanyaan fair akan tidak timbul.

Ingat, pada jaman modern, kehidupan seperti di Amerika Serikat uang juga seringkali menjadi sumber pertikaian dalam rumah tangga. Siapa yang bayar uang cicilan rumah, cicilan mobil dan biaya lainnya? Praktek yang banyak terjadi di kalangan Amerika adalah 50-50. Ada juga yang semua pendapatannya dimasukkan ke dalam satu bank account dan dikelolah oleh salah satu pasangan itu. Kasus lain, semua biaya ditanggung oleh salah satu pasangant tersebut.

Agaknya orang akan melihat bahwa pembagian 50-50 adalah hal yang paling fair. Tetapi hal ini tidaklah sesederhana itu. Bagaiman jika salah satu pasangannya berpendapatan jauh lebih rendah dari yang lain, sehingga kontribusi 50 untuk keperluan pengeluaran rumah tangga sudah hampir menyita semua pendapatannya?

Menurut hematku, semua ini tergantung konsensus berdua. Intinya, bisakah kedua insan ini saling menerima dengan segala kekukurangan dan kelebihannya? Bisakah kedua belah pihak membicarakan bagaimana memajukan dan meningkatkan pendapatan kedua belah pihak demi keutuhan keluarga? Terakhir, apakah kedua belah pihak mau saling mendukung untuk merealisasikan apa yang mereka rencanakan?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 21st, 2007 at 1:46 pm