KEADILAN DALAM RUMAH TANGGA

Image source: saabt.com
Oleh Beni Bevly
Pagi ini, tanggal 21 Maret 2007, aku menerima email dari seorang teman yang menanyakan, “So, what is the fair thing that couple can offer to contribute the fair share of “kitchen chores and expenses”. If they are both working and no children.” Pertanyaan ini menjadi penting di jaman modern yang complex ini.
Pada jaman dulu, atau pada masyarakat tradisional memang benar bahwa pria atau suami bekerja di luar dan wanita atau isteri menjaga anak dan mengatur rumah tangga. Hal itu terjadi karena fasilitas dan keadaan belum memadai untuk wanita mencari nafkah di luar. Tanpa fasilitas dan lingkungan yang mendukung secara fisik, umumnya wanita sulit bersaing dengan pria. Maka itu pembagian kerja yang rasional adalah wanita menjadi “penjaga gawang” dan pria menjadi “penyerang”.
Keadaan sekarang telah berubah, terutama di negara maju atau di kota besar. Pendidikan, fasilitas, keadaan sosial dan lain-lain telah tersedia bagi kaum wanita untuk bisa berbuat seperti kaum pria. Lagi pula, khususnya di Amerika dan apalagi di Kalifornia tempat dimana aku tinggal, biaya hidup begitu tinggi. Pemdapatan rata-rata dari seorang individu yang kerja untuk orang lain tidak akan mencukup untuk membiayai satu rumah tangga, termasuk pemilikan rumah. Dalam kondisi inilah, suami isteri atau partner perlu saling membantu.
Pertanyaannya, bagaimana pembagian kerja yang “fair”? Tentu ini sangat relatif. Ukuran “fair” bagi setiap orang dan untuk kasus yang lain bisa berbeda. Untuk mudahnya aku akan menggunakan alat ukur uang, waktu kerja dan kwalitas kerja yang sama.
Keadaan dikatakan fair jika perbandingan input yang diberikan sama dengan output yang diterima. Untuk si A, output $2, input waktu kerja 1 jam = si B yang outputnya $4, dengan input kerja 2 jam. Hal ini menjadi tidak fair bagi si A jika si B menerima output $4, dengan input kerja 1 jam.
Sekali lagi, dalam kehidupan rumah tangga tidaklah sesederhana contoh di atas. Hal itu hanya dijadikan cara berpikir untuk melihat fairness. Hal yang paling mendasar untuk melihat fairness dalam kehidupan rumah tangga adalah dasar atau tujuan dari kedua insan untuk membentuk rumah tangga. Yang paling umum adalah mencari teman hidup untuk dapat saling mengisi. Di bawah adalah contoh ekstrim yang berakaitan dengan budaya.
Ada satu pria barat yang ingin mencari pasangan hidup wanita timur. Pria barat ini tahu bahwa pada umunya wanita timur pintar mengatur rumah tangga dan mau melayani suami. Wanita ini sulit ditemukan di kalangan wanita barat. Maka ditemuilah wanita timur melalui internet. Seperti biasa, dalam masa perkenalan, kedua belah pihak menampilkan hal yang terbaik. Pria barat memperlihatkan sifat yang gentleman-nya. Wanita timur memperlihatkan sifat keibuannya. Lantas mereka merasa cocok, maka diputuskanlah untuk tinggal serumah.
Waktu berselang, si priapun menunjukkan niat utamanya untuk mencari pendamping wanita timur, yaitu supaya dilayani dan rumah tangganya diatur dengan rapih. Rupanya, wanita timur tersebut menemukan bahwa pria barat itu tidak se-gentleman yang ia kira. Salah satu alasannya dia memilih pria barat itu karena ia tidak senang dengan pria timur yang sering sok macho. Maka timbullah perselisihan. Wanita timur menilai bahwa perlakuan pria barat itu terhadapnya tidak fair. Dan pria barat bilang, “Bukankah ini wajar di kalangan wanita timur?”
Persoalannya akan menjadi lain, jika wanita itu berkelakuan seperti yang didambakan pria barat itu. Atau wanita timur menemukan pria yang benar-benar dianggap “gentleman”. Jika begini halnya, pertanyaan fair akan tidak timbul.
Ingat, pada jaman modern, kehidupan seperti di Amerika Serikat uang juga seringkali menjadi sumber pertikaian dalam rumah tangga. Siapa yang bayar uang cicilan rumah, cicilan mobil dan biaya lainnya? Praktek yang banyak terjadi di kalangan Amerika adalah 50-50. Ada juga yang semua pendapatannya dimasukkan ke dalam satu bank account dan dikelolah oleh salah satu pasangan itu. Kasus lain, semua biaya ditanggung oleh salah satu pasangant tersebut.
Agaknya orang akan melihat bahwa pembagian 50-50 adalah hal yang paling fair. Tetapi hal ini tidaklah sesederhana itu. Bagaiman jika salah satu pasangannya berpendapatan jauh lebih rendah dari yang lain, sehingga kontribusi 50 untuk keperluan pengeluaran rumah tangga sudah hampir menyita semua pendapatannya?
Menurut hematku, semua ini tergantung konsensus berdua. Intinya, bisakah kedua insan ini saling menerima dengan segala kekukurangan dan kelebihannya? Bisakah kedua belah pihak membicarakan bagaimana memajukan dan meningkatkan pendapatan kedua belah pihak demi keutuhan keluarga? Terakhir, apakah kedua belah pihak mau saling mendukung untuk merealisasikan apa yang mereka rencanakan?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Menurut saya, yang penting memang pengertian di dalam rumah tangga. Semakin lama berumah tangga akan semakin saling mengerti satu sama lain. Tapi kenyataannya masalah utama perceraian dari masalah uang juga. Tampaknya uang adalah “darah” dari kehidupan. Tanpa ini, tidak bisa jalan, termasuk rumah tangga.
Saya sendiri belum menikah, namun sedang banyak belajar bagaimana sih hidup dalam perkawinan itu. Tampaknya buat wanita di Indonesia, mayoritas masih perlu memilih antara kerja dan rumah tangga. Jadi diri sendiri atawa jadi istri orang, gitu deh kira-kiranya.
Apakah suami ada pengertian sebegitu besar agar saya bisa kerja juga dan mengaktualisasi diri. Kan kultur sulit dirobah, dan para pria mungkin juga sudah ada pikiran seperti apa wanita Indonesia itu. Mungkin ini stereotyping, tapi hal2 begini susah dirobah.
Saya masih perlu banyak belajar.
Joanna S.
Joanna Suharta
22 Mar 07 at 11:00 am
Money is the root of evil.
Is this a reason why we have civil married ?
I hope all the married couple always remember their vow, which is “to respect, honor and love”.
I will write some more comment. This is quite interesting topic to discuss.
But my writing will be long though….
Lyl
23 Mar 07 at 4:31 pm
Joanna dan Lyl,
Selain yang kalian sebutkan, aku pikir, suatu pasangan akan mempunyai fondasi yang lebih kuat jika mereka memulai membangun rumah tangga bersama. Sebagai contoh, sama-sama membeli, mencicil dan tinggal di rumah itu.
Lyl, aku tunggu tulisanmu.
Thank you your comments.
Beni Bevly
25 Mar 07 at 4:19 pm
Pasangan punya shared account sih oke2 saja. Tapi ada baiknya masing2 punya account sendiri. Teman saya pernah cerita, ada pasangan yang semua asetnya atas nama bersama. Ketika usaha suaminya bangkrut, semua aset itu otomatis hilang karena dipakai sebagai jaminan, dan sudah terdaftar atas nama suaminya (meskipun ada nama istri juga). Jadi mungkin ada baiknya punya account terpisah sebagai cadangan untuk jaga2 bila kemungkinan ini terjadi.
tapi bagaimana pembagian yang ideal, nggak tau deh. belum berencana nikah sih… =P
Ria Wibisono
27 Mar 07 at 10:53 pm
Beni,
Terima kasih sudah berkomentar di blog saya. Ternyata ketika saya mengeklik nama anda yang terpampang di bagian comment artikel saya yang berjudul , saya bisa langsung sampai ke artikel yang anda maksudkan ini. Jadi, tidak perlu repot-repot mengopi url-nya ke web browser. Saya juga baru tahu.
Menurut saya (yang sudah menikah 19 tahun lebih), suami istri adalah satu tim. Jadi, yang paling bagus, jangan hitung-hitungan. Kami menerapkan itu dalam pernikahan kami.
Soal pembagian kerja dalam rumah tangga, saya justru belajar dari orang-orang Australia dan teman-teman Indonesia yang tinggal di Australia ketika kami tinggal di sana (1988 – 1992). Kami masing-masing melakukan apa yang kami bisa.
Soal keuangan, walaupun kami masing-masing punya rekening bank, tetapi kami tidak hitung-hitungan dalam kontribusi biaya rumah tangga. Prinsip yang kami pegang: satu roh, satu tubuh, satu jiwa, satu keuangan, satu visi. Tentang ini, saya akan menulis sebuah artikel di blog saya.
Salam,
Paulus
Paulus Herlambang
28 Mar 07 at 5:14 am
Maaf Beni,
Artikel saya yang anda komentari berjudul: Gaya Hidup Suami Istri Menentukan Kualitas Keturunan.
Salam,
Paulus
Paulus Herlambang
28 Mar 07 at 5:18 am
Ria,
Terima kasih atas komentarnya. Ria benar bahwa kita perlu memperhitungkan strategi keuangan terhadap pihak ketiga. Bukan untuk saling memagari (uang aku dan uang kamu, tetapi untuk menjaga keutuhan uang bersama dalam hal berbisnis dengan pihak lain).
Paulus,
Setiap hari aku belajar sesuatu yang baru. Kali ini aku dapat info mengenai teknik perblogkan, thank you.
Ternyata pengalaman pengurusan keuangan di keluarga Paulus yang telah 19 tahun menikah teruji. Patut dicontoh.
Beni Bevly
28 Mar 07 at 12:01 pm