Aku harus panggil dia apa
Image source: rps.psu.edu

Oleh Beni Belvy
Ketika aku mengalami kemandekan dalam meneruskan skripsi mengenai Cina, aku putuskan untuk ambil cuti panjang. Waktu cuti itu aku habiskan dengan bekerja di salah satu perusahaan sepatu di Tangerang yang pada saat itu karyawannya berjumlah lebih dari 3000 orang. Inilah pertama kalinya aku bekerja untuk pihak lain. Selama ini aku hanya membantu keluargaku.

Ada hal yang sangat tidak biasa yang aku temui di sini, yang juga terjadi di tempat kerjaku yang lain setelah lulus, yaitu panggilan “Bapak” Beni dan perlakuan bawahanku yang sangat memanjakan aku. Walaupun aku sudah mencoba menunjukkan sikap sederajat dan memberitahu kepada mereka bahwa aku bisa dipanggil Beni saja. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi. Ada beberapa kesempatan aku hendak mengangkat benda berat, bawahanku langsung mengambil ahli. Mereka berkata, “Pak Beni-kan manager, ini kerjaan kami.”

Mungkin bagi orang di Indonesia, hal ini adalah biasa karena memang dari sejak lahir sudah disuguhkan keadaan seperti ini. Bagiku yang sejak kecil mempunyai sifat menganggap orang lain tidak lebih tinggi derajatnya dariku dan aku juga tidak bermaksud untuk merendahkan orang lain serta ditambah dengan pengalaman kerja di Amerika sebagai seorang manager, panggilan dan sikap yang memanjakan aku sebagai manager di Indonesia menjadi janggal.

Sebagai seorang manager di Amerika aku tidak dipanggil “Mr.” Beni. Sederhana saja, Beni. Dari segi kerjaan, aku harus bisa mengerjakan semua tugas bawahanku. Jika tidak ada yang masuk, maka akulah penggantinya. Jika tugas mereka di gudang mengangkat barang, aku harus bisa melakukannya. Bukan itu saja, mereka tidak jarang datang ke aku dan minta bantuanku untuk menyelesaikan tugas mereka. Jangan heran jika ada di antara mereka yang menolak permintaan manager untuk melakukan sesuatu dengan lasan, “That is not on my job description.” Intinya, mereka mempunyai budaya yang “egaliter”, yang membedakan hanya tugas dan tanggung jawab karena kedudukan dalam satu institusi. Jika di luar institusi itu atau tempat kerja, bagi bawahanku yang Americanized, aku bukan manager mereka lagi.

Panggilan pada dasarnya mencerminkan budaya pemanggil atau orang yang minta dipanggil dengan sebutan tertentu. Dalam tradisi timur, egaliter atau persamaan antara individu tidak tercermin dalam keluarga dan pergaulan sosial. Sebagai contoh, di lingkungan keluargaku yang tradisi kehidupan Cina Kheknya sangat kuat, aku bahkan tidak pernah diperkenalkan nama asli “a suk” (paman dari pihak ayah),” a khiu” (paman dari pihak ibu), “a kung” (kakek) dan “a pho” (nenek) aku. Aku diminta untuk memanggil mereka, misalnya dengan sebutan “sam suk” (paman ketiga dari pihak ayah), “nyi khiu”(paman kedua dari pihak ibu),” kung-kung” dan ”pho-pho” saja. Begitu juga para keponakanku memanggil aku dengan “liuk suk” (paman keenam dari pihak ayah) atau “liuk khiu” (pama ke enam dari pihak ibu).

Lain halnya dengan budaya barat yang memperkenalkan nama dahulu, setelah itu sebutan “antie” atau “uncle” tidak terlalu di anjurkan atau diharuskan. Memanggil nama bukan suatu hal yang “kurang ajar.”

Yang aku ingin sampaikan di sini bahwa bahasa mencerminkan budaya dan budaya menjadi landasan seseorang dalam bertindak. Jean-Pierre Jeannet dan H. David Hennessey dalam Global Marketing Strategies, Boston, NY: Houghton Mifflin Company, 2001, p. 80 mengatakan secara spesific bahwa bahasa adalah kunci utama dari budaya karena sebagian masyarakat menerjemahkan budaya budaya mereka dalam bahasa. Dengan demikian, dalam banyak hal, bahasa mencerminkan budaya masyarakat. Mengetahui bahasa dari suatu masyarakat adalah kunci untuk mengerti budaya mereka.

Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris, “you” hanya ada satu versi yaitu you itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia “kau” mempunyai lebih dari satu variasi, yaitu engkau, anda dan kamu. “Aku” dalam bahasa Inggris adalah “I” (selalu ditulis dalam huruf besar) dan hanya I. “Aku” dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf kecil, kecuali di depan kalimat. Selain aku, juga dikenal “saya.” I dan you selalu mempunyai makna dan persepsi yang sama, tetapi tidak demikian dengan saya, aku, kau, engkau, anda dan kamu yang jika dipergunakan secara tepat bisa mengambarkan derajat atau kedudukan sosial dari kedua belah pihak yang berbicara.

Dalam hal aku dan kau, bahasa Cina Khek mempunyai kesamaan dengan bahasa Inggris, hanya ada “ngai” dan “nyi”. Di lingkungan Cina tradisional, nama individu yang dibicarakan atau telibat dalam pembicaraan tidak mendapat penekanan.

Kesimpulannya, agaknya bahasa Inggris mencerminkan budaya egaliter yang tercermin dalam hubungan keluarga, sosial dan di tempat kerja. Bahasa Cina – aku lebih banyak tahu Cina Khek – mencerminkan budaya yang mengutamakan kepentingan keluarga dan kelompoknya di atas kepentingan individu (baca: Jane Hyun, Breaking the Bamboo Ceiling: Career Strategies for Asians, Harper Business). Bahasa Indonesia menggambarkan strata, orang cenderung membedakan dengan siapa mereka bicara. Sifat paternalistik dan feodal-nya masih kuat menonjol. Hal ini tercermin dari cara berinteraksi di dalam keluarga dan tempat kerja.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.