SUK KUNG
Oleh Beni Bevly
Ada dua orang yang mendukung aku tanpa mempedulikan streriotype. Mereka adalah ayahku dan Suk Kung (Suk: paman, Kung: kakek dalam bahasa Cina Khek). Hal ini terlihat jelas ketika aku diterima di Universitas Indonesia (UI), Jurusan Ilmu Politik. Kemudian hari, Suk Kung adalah sosok yang banyak mempengaruhi kehidupan karirku di Amerika.
Pada tahun 1987 aku mengikuti SIPENMARU atau UMPTN. Aku tidak banyak bercerita tentang keikut-sertAannku itu, begitu juga jurusan yang aku pilih. Ketika hasil ujian diumumkan di koran, aku melihat namaku tertera di situ. Seluruh keluargaku dan handaitaulanku yang mayoritas adalah orang Cina ikut bersuka cita ketika mendengar bahwa aku diterima di UI. Pertanyaa selanjunya dari mereka adalah: “Jurusan apa?” Aku menjawab, “Jurusan Ilmu Politik?” Sebagian besar dari mereka kaget dan ikut merasa kwatir dengan pilihan aku itu. Malahan ada yang menyuruh aku mengundurkan diri dan sekolah ekonomi saja di Atmajaya. Itulah sikap tipikal orang Cina yang phobia terhadap politik.
Dari sekian banyak keluarga dan handai-taulanku itu hanya ada dua orang yang berani menunjukkan dukunngan sepenuh hati, ayahku dan Suk Kung. Suk Kung adalah sahabat, saudara angkat serta paman ayahku. Suk Kung dan ayahku sangat tertarik untuk melihat UI di Depok dari dekat. Mereka menemaniku pada di hari pertama aku pindah ke Rumah Pemondokan Tumbuh (RPT) yang kabarnya diprakarsai oleh Mbak Tutut di Desa Kukusan. Yang mau aku sampaikan di sini adalah pengalaman dan kepribadian Suk Kung yang sangat menarik bagiku dan hubungannya terhadap sifat orang Cina secara umum.
Suk Kung punya usaha konveksi yang menjahit pakainan militer di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada tahun 1978, sepindahnys keluargaku dari Sekura ke Pontianak, Suk Kung-lah yang membantu keluarga kami memulai usaha konveksi dengan mensubkontrakkan jahitan pakaian militer. Dia seorang yang periang, selalu tersenyum dan sangat ramah terhadap setiap orang. Jika dia pergi ke suatu tempat, yang dia lakukan dengan naik sepeda, hampir semua orang mengenal dia.
Ada dua kalimat yang keluar dari mulut Suk Kung yang sulit aku lupakan. Kalimat kedua ini sangat membantu aku ketika aku memulai hidupku di Amerika Serikat dengan Jennie S. Bev, isteriku. Kalimat pertama: “Sit pao fon mang. Sen li ho mo?” Kalimat kedua, “Siau mian, kak kong ho boi ng si ban lui. Khin chat tu ng boi cok sit ka.”
Arti kalimat pertama adalah “Sudah makan belum. Bagaimana bisnisnya?” Kalimat kedua “Senyum dan beramah-tamah tidak perlu bayar. Polisi tidak akan menangkap kita karena itu.” Kalimat pertama adalah kalimat yang sangat umum diucapkan atau ditanyakan oleh orang Cina, di sini aku mengambil contoh orang dan bahasa Khek, ketika bertemu dengan orang lain.
Pada dasarnya orang Cina sangat memperhatikan kebutuhan pokok (makan) keluarga dan temannya. Ini juga mencerminkan bahwa mereka mempunyai selera makan yang tinggi. Di samping itu, mereka juga sangat peduli terhadap keberhasilan usaha keluarga atau rekannya. Orang Cina, termasuk Suk Kung dan ayahku bisa bicara mengenai makanan dan bisnis sampai berjam-jam atau makan sambil mendiskusikan bisnis mereka. Makan dan pembicaraan ini bisa terjadi di mana saja, tempat favorit meraka adalah di restoran dim sum yang bisa ditemua hampir di seluruh penjuru dunia.
Tidak heran jika di kalangan masyarakat Indonesia, bahasa Cina yang sering kita dengan adalah bahasa bisnis dan nama makanan, seperti cek pek, no pek, bo coan, cap cai dan kwe tiaw. Tetapi sulit untuk ditemukan istilah Cina daalm bidang lain, seperti politik. Hal ini aku setuju dengan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa pada dasarnya orang Cina adalah bangsa yang damai. Nenek moyang mereka datang ke Indonesia membawa teknologi pertanian dan keahlian dagang yang kemudian diturunkan pada komunitas Indonesia secara umum.
Berkaitan dengan kalimat kedua dari Suk Kung, bangsa Indonesia, seperti yang aku pelajari di bangku sekolah, adalah bangsa yang ramah tamah. Semestinya senyum di bibir, sapa-menyapa dan saling membantu di tempat umum adalah hal yang biasa. Tetapi hal ini sulit ditemukan lagi di kota besar seperti di Jakarta. Sebaliknya, jika bertemu mata, ada yang membentak, “Kamu natangin!”
Di Amerika dan Eropa, termasuk di kota-kota besar, jangan heran jika anda bertemu mata dengan bule di sana, sebagai balasannya mereka tersenyum sambil menyapa, “Hi” atau “How are you?” Atau ketika bertamasya di San Francisco, anda hendak mengambil foto pasangan anda, lalu ada orang bule yang menawari jasa (tanpa minta dibayar) untuk memfoto kalian berdua. Satu contoh lagi, jika anda hendak keluar dari suatu gedung, sudah menjadi kebiasaan orang bule yang jalan di depan anda untuk membukakan pintu dan menahannya untuk anda supaya bisa keluar, jika hal ini terjadi, biasanya orang yang dibukakan pintu akan membalasnya dengan berkata, “Thank you.”
Kalimat kedua ini sangat membantu karirku sebagai Customer Service and Information Manager di Nordstrom, salah satu dari Fortune 500 companies, Nordstrom adalah department store terkemuka di Amerika yang terkenal dengan customer service yang legendaris dan menjadi case study para calon Master in Business Administration (MBA). Selama karirku di department store itu, aku selalu mengingatkan diriku bahwa senyum dan beramah-tama itu adalah hal yang gratis, polisi tidak akan menangkap aku. Hal ini jugalah yang aku ajarkan kepada para bawahanku.
Hidup damai, penuh senyum di bibir, ramah terhadap setiap orang adalah gaya bergaul yang perlu diterapkan dan dipertahankan oleh bangsa Indonesia sebagai bukti bahwa kita ini adalah bangsa yang ramah tama, sopan santun dan damai.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Wah ternyata kita satu almamater, fakultas saya diapit sama fak-nya Mas Beni dan Nyonya..
Saya tumbuh besar bersama teman2 Chinese dilingkungan main, dan saya sangat kagum dengan semangat dan kerja keras mereka.
Ko Beni… dulu gimana ceritanya bisa masuk jurusan Ilmu Politik? Hebat emang keturunan Tionghoa bisa masuk UI, bukannya di PTN WNI keturunan yang boleh masuk dibatasi jumlahnya?
Saya dulu hampir masuk Unair, pengennya ngambil Sosiologi, soalnya suka. Tapi karena kelas 3-nya IPA, masuk Petra dulu di komunikasi biar dapat basic IPS lagi, biar lulus UMPTN gitu. Eh ternyata betah di Petra dan cocok banget di komunikasi hehehe…
Btw bahasa Khek ternyata lumayan beda ya sama Mandarin…
O iya, Suk Khung kalau bahasa Hokkian berarti Ku Kong bukan? Suk Khung itu panggilan buat adik dari kakek kan?
Hello Luckey,
Senang bisa berkomunikasi dengan teman satu almamater. Pada akhir tahun 1980-an, telpon umum Fakultas Psychology menjadi tempat yang favorit bagi para mahasiswa yang kos di Desa Kukusan, termasuk aku. Maklum pada saat itu teknologi HP baru dalam tahap inkubasi. Saluran telp. di kos tidak bisa diandalkan.
Thank you untuk komentarnya, Luckey.
Ria,
Aku gembira melihat kamu beredarlagi. Kalau dilihat dari presentasinya, penerimaan mahasiswa etnis Cina di UI sangat fair. Etnis Cina berjumlah sekitar 5% dari total penduduk Indonesia. Di UI, contohnya mahasiswa Jurusan Ilmu Politik angkatan 1987 berjumlah sekitar 40 orang. Selain aku, masih ada dua temanku yang beretnis Cina. Secara presentasi jumlah ini melebihi 5%. Aku pikir ini sangat fair.
Jika Ria sudah “jatuh cinta” pada PETRA, tetaplah di sana. PETRA adalah pilihan yang baik.
Arti “Suk Kung” berarti saudara, bisa adik atau kakak dari kakek yang berasal dari pihak ayah. Dari pihak ibu disebut “Khiu Kung”. Mudah-mudahan aku betul lho!
Rasanya sih kalau soal sekolah ataupun pekerjaan tidak terlalu ada pembedaan apakah anda etnis Cina atau bukan. Yang terjadi justru seperti yang Sdr. Beni sampaikan, banyak etnis Cina yang alergi dan memilih aman utk tidak masuk ke sekolah negeri, jadi pegawai negeri ataupun militer.
Namun, kalau kita sedikit tinjau sejarahnya, para penguasa (kolonial hindia belanda, keraton, orde baru) banyak ‘terbantu’ dengan status etnis Cina yang katalis seakan buffer penyeimbangan kehidupan politik (mungkin lebih tepat alat kekuasaan ya? )
Thanks for thinking much about Indonesia.
Idealnya, sebagai generasi muda termasuk etnis Cina, kita harus berani memotong semua phobia, alergi yang ditinggalkan sejarah. Atau jikalau masih adapun, generasi mudah sekarang harus berani bergandeng tangan bersama menerobos rintangan.
Sudah banyak sejarah hitam di dunia yang kita lihat akibat diskriminasi, tentu saja kita tidak mau hal ini terjadi dan terulang di Indonesia.
Aku di sini tidak bermaksud untuk mengubah kebiasaan atau kultur dari pihak manapun juga. Bahkan aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengubah panggilan “Cina” menjadi istilah lain. Yang ingin saya tumbuhkan adalah penerimaan satu sama lain dengan segala perbedaannya.
Akhirnya, kita jangan mau hanya menjadi alat kekuasaan (terima kasih kepada Indratno yang mengankat masalah ini), tetapi tunjukkanlah bahwa kita juga punya sikap dan kemauan sebagaimana halnya manusia Indonesia yang lain.
allo beni…apa kabar keluarga? ini rosa, temen bantuin iraf siapin air minum buat temen2 yg latihan TKD senin kamis
semoga masih ingat gw ya..salam kenal lagi dari rosa fisip & bambang poltek.
Hello Rosa dan Bambang,
Senang sekali ketemu teman lama. Gimana caranya Rosa bisa nemuin web site ini? Tolong kasih tahu dong email Rosa atau Bambang.
Salam untuk teman-teman TKD-UI yang lain. Aku masih melatih TKD tiap hari sabtu di sini.
Beni, sempetin imel ke Bambang ya..ini imelnya btamsur@yahoo.com nemuin website ini dari mbah google
salam kenal buat jenny ya, terakhir kenalan pas doi bantuin kita memperkenalkan tkd ui di balairung depok. oke deh, ntar panjang ceritanya di imel ya ben..jr
Rosa and Bambang,
Aku akan email kalian, excited nih ..
bagus ya!!!