Mobilmogok
Image source: mappa.blogsome.com

Oleh Beni Bevly
Bela diri tae kwon do (tkd) adalah hobiku yang tidak bisa ditinggal. Pada tahun 1987, tepatnya tahun petama di Universitas Indonesia, aku mulai latihan tkd dengan formal dan sungguh-sungguh. Sejak itu di manapun aku pergi, philosofi dan gerakan fisik tkd ikut bersamaku.

Suartu hari pada tahun 1990, sebagai pelatih dan ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Tae Kwon Do Universitas Indonesia (UKM TKD UI), aku memimpin murid-muridku yang berjumlah sekitar 40 orang latihan dan gasuku kenaikan tingkat di Gunung Putri, Jawa Barat. Dalam kegiatan ini ada dua yang aku mau diskusikan. Pertama, mengenai mobil yang mogok. Kedua, mengenai jam tangan aku yang hilang. Dari kedua peristiwa ini akan direflesikan pada keadaan sosial, ekononi dan politik Indonesia.

Menegenai mobil yang mogok. Beberapa minggu sebelum anggota TKD UI berangkat ke Gunung Putri, aku dan beberapa temanku survei ke tempat itu. Kami mencarter sebuah mobil yang menurut pengamatan kami mobil itu reliable untuk dipakai naik ke Gunung Putri. Karena aku sering naik mobil kutu pulang pergi dari kampus UI Depok – Pasar Minggu, aku tahu bahwa mobil yang kami sewa itu sering kebut dan kecepatannya melebihi mobil sejenisnya.

Tetapi apa yang terjadi, ketika malam hari, mobil tersebut jalan tersendat-sendat di lereng Gunung Putri. Mesinnya keluar asap, sopirnya hendak nyerah dan mau meninggalkan kami, sedangkan tujuan masih jauh, jalan gelap gulita, hujan turun deras dan diselang sambaran petir. Aku bernegosiasi dengan mengatakan bahwa aku akan menambah uang sewa jika sampai tujuan dan memintanya untuk mendinginkan mesin. Akhirnya setelah berhenti beberapa kali dan mobil tersebut berjalan zikzak dengan lambat, kamipun sampai ke tujuan.

Pada hari pertama latihan, aku dan beberapa temanku sampai dahulu. Menurut jadwal, peserta yang lain mestinya sudah sampai sebelum jam 6 sore. Tetapi mereka baru nongol sekitar jam 9 malam. Ternyata metromini yang kami carter juga mengalami hal yang sama. Mogok!

Agaknya gejala ini mewakili kualitas yang rendah dari produk mobil secara khusus dan produk lainnya secara umum di Indonesia. Yang dimaksud dengan kualitas adalah bagaimana kemampuan suatu produk melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan dibuatnya. Dengan kata lain, kualitas berhubungan denga reliability atau kehandalan suatu produk. Jelas kedua mobil di atas tidak reliable atau rendah kualitasnya.

Adalah suatu hal lumrah bahwa produk dari negara maju terdiri dari tiga tingkat kualitas – A, B dan C grade. Kebiasaan yang diketemui, A grade diekspor ke sesama negara maju, B grade ke negara berkembang dan C grade ke negara terbelakang. Hal ini tergantung dari standar mutu pemerintah, kejelian dan negotition power pihak penerima produk. Tetapi yang menjadi issue utama bagaimana kerja sama pemerintah dan produsen dalam negeri dalam untuk berswadaya dengan memproduksi produk yang bermutu, harga terjangkau dan mempunyai daya saing di dalam dan di luar negeri.

Sebagai contoh, pemerintahan Cina dan Korea Utara bekerja sama dengan produsen mobil mereka dalam meningkatkan mutu. Salah satu caranya adalah mematok standar emisi. Kedua negara ini, yang tadinya dianggap remeh, kini telah berhasil melewati kualitas mobil Amerika. Bahkan, produsen Amerika tidak bisa menjual mobil di Cina, karena standar mutu lingkungannya yang rendah (Al Gore, dalam bukunya yang terkenal Inconvinience Truth: The Planet Emergency of Global Warming and What We Can Do About It (New York: Rodale. p. 272).

Perusahaan Otomobil Nasional (PROTON) dari Malaysia, walaupun belum mempunyai kedudukan yang sangat penting, tetapi mulai diperhitungkan di dunia internasional. Enam puluh percent dari mobil dalam negeri adalah produk independent PROTON. Diprediksikan bahwa pada tahun 2010, PROTON akan produksi 1 juta unit untuk pasar internasional (Pedal to the Metal, Far Eastern Economic Review, May 2, 1996. pp. 64-66).

Selama ini, produk otomobil dari Indonesia tidak terdengar di pasar Internasional. Pada masa menjelang kejatuhan Orde Baru, Tommy Suharto melalui perusahaan Timor yang bekerja sama dengan otomobil dari Korea berusaha mengembangkan produk mobil dalam negeri. Tetapi hal ini kandas karena kolusi dan ketidak-jujuran berbisnis. Lalu siapakah pemain yang bisa mengangkat nama Indonesia seperti Hyundai mengangkat nama Korea Selatan atau Proton mengangkat nama Malaysia?

Peristiwa lain yang aku alami saat gasukhu adalah jam tangan aku yang hilang. Setelah selesai gashuku, kami semua siap di dalam bis dan hendak pulang. Saat itu aku baru sadar bahwa jam tanganku tidak ada pergelangan tanganku. Aku pikir, jamku pasti ketinggalan di rumah penduduk tempat kami nginap.Aku tergesa-gesa hendak turun dan menanyakan hal itu pada pemilik rumah, tetapi seorang temanku mencegah dan bilang, “Jangan! Nanti kamu dikira menuduh mereka mencuri jam tangan kamu dan mereka bisa tersinggung dan marah.”

Aku ragu mengenai perkataan temanku. Teman-temanku yang lain membenarkan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk melupakan jam tangan tersebut.

Aku mengerti maksud temanku mencegah aku balik ke rumah penduduk tersebut karena mereka hendak mencegah konflik yang mereka perkirakan akan terjadi. Memang konflik terhindari, tetapi masalah tidak terselesaikan. Ada dua hal yang aku tangkap dari peristiwa ini bahwa bangsa kita masih menganut budaya diam. Di lain pihak keterbukaan diperkirakan akan menjadi masalah.

Dalam demokrasi, budaya diam dan ketidak-terbukaan adalah hal yang harus dibuang jauh-jauh. Karena kommunikasi dan keterbukaanlah yang menjamin tumbuhnya demokrasi. Di negara maju yang telah menerapkan demokrasi, keterbukaan sangat dijunjung tinggi. Kritik dan mempertanyakan sesuatu pada pihak lain adalah hal yang wajar. Pihak yang ditanya atau dikritik lantas tidak menjadi marah, tersinggung, timbul konflik dan melakukan tindakan kekerasan.

Contohnya, awal tahun 2007, ketika aku berada di San Francisco, AS, aku melihat seseorang sedang mengkampanyekan untuk tidak melakukan hubungan sex sebelum menikah dan setia pada pasangannya. Hal itu, antara lain, dikatakan untuk mencegah penyakit AIDS.

Tiba-tiba datang seorang wanita dan menunjuk kepada orang yang sedang berkampanye tersebut sambil berkata, “You are crazy. You think you are an angle. You live in 21th century. Wake up!” Kemudian argumen berlanjut hingga beberapa menit. Tetapi setelah itu mereka pergi tanpa terjadi konflik fisik yang lebih jauh. Si tukang kampenyepun meneruskan usahanya.

Contoh lain, jika anda nonton tayangan iklan di saluran TV Amerika. Tidaklah heran jika anda menemukan bahwa satu merek dagang mengungkapkan kelebihan produk mereka dan menerangkan dengan rinci kekurangan produk pesaingnya. Hal yang serupa juga ditemukan dalam kampanye pemilihan presiden. Kubu Al Gore tidak segan menyerang kekurangan baik pribadi araupun kebijakan partai politik kubu George Bush. Tetapi setelah pemilihan, pihak yang kalah akan memberi selamat kepada pihak yang menang.

Keterbukaan dan kritikan menjadikan demokrasi mereka semakin kuat, karena kekurangan mereka terbongkar dan untuk survive, mereka harus memperbaiki. Selayaknya hal serupa pula yang mesti terjadi di Indonesia. Bukan hanya tersinggung, marah dan menghasut untuk menimbulkan kekerasan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.