LIDI yang BERSATU

Image source: rudy.wahrweb.org
Oleh Beni Bevly
Pengalaman masa kecilku ternyata banyak mencerminkan kehidupan sosial politik masa lampau dan saat itu. Pengalaman menjelajah masuk ke “pedalaman” di Pontianak membuatku membuka mata bahwa kehidupan orang Cina dan pribumi sengaja dipisahkan oleh pemerintah. Mereka dianggap sebagai lidi oleh pemerintah. Jika bersatu mereka menjadi kuat dan jika dipisahkan akan mudah dipatahkan.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, jiwa petualang dan menjelajah mulai tumbuh. Pada saat itu aku duduk di kelas lima SD, dan memasuki usia ke-12. Bersama dengan beberapa teman seusia, aku pergi ke “pedalaman” kota Pontianak yang disebut Pal Dua. Tujuan ku adalah berburuh burung dengan ketepel.
Kami berangkat sekitar jam 10 pagi, jalan yang kami tempuh pada mulanya beraspal, kemudian masuk ke gang kecil yang rumahnya mulai jarang. Pada siang hari kami telah sampai di tempat yang pohonya besar dan deselangi dengan ladang. Aku mengintai burung di bawah pohon yang teduh dan tinggi, tidak ada yang bicara, semua diam. Aku hanya mendengar dengusan nafasku, suara angin, daun pohon dan suara burung berkicau. Dengan pelahan aku arahkan ketepelku pada seekor burung, tarik sekuat tenaga dan ku lepaskan. Burung-burung tersebut berterbangan simpang siur. Ketepelku tidak mengenai sasaran. Beberap detik berlalu, suasan menjadi sepi sunyi kembali. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, “Apa yang kau lakukan di sini. Ku bunuh kau!”
Aku terkejut dan melihat ke sumber suara tersebut. Seorang dewasa, dengan telanjang dada dan berkulit gelap, berlari mendekatiku sambil mengacungkan aritnya. Tanpa menunggu lagi, aku lari terbirit-birit ketakutan. Entah berapa lama aku lari, yang jelas napasku sangat memburu, tersengal-sengal dan kakiku mulai lemas kecapaian. Pada saat yang bersamaan hujan turun dengan deras disertai gemuruh guntur. Lalu aku dengar suara memanggil sayup-sayup dari arah kanan, “Jan-Jan, berhenti. Dia tak kejar kita lagi.” Jan-Jan adalah panggilan untuk ku dalam bahasa Cina Khek.
Sesampainya di rumah, pakaian yang kukenakan telah kering, aku menceritakan kejadian tersebut pada orang ayahku. Tentu saja aku mendapat teguran dan ancaman akan disabet rotan jika aku mengulangi kejadian itu. Pada saat itu, dia menceritakan bahwa sebelum aku lahir, ayah kami sekeluarga dan beserta orang-orang Cina yang di pedalaman diusir ke kota. Agaknya ayahku masih trauma dengan peristiwa itu, karena itulah aku mendapat teguran keras. Pada saat itu aku belum mengerti maksudnya.
Waktu berlalu, ketika aku dewas, perlahan aku menyadari bahwa ternyata keluargaku salah satu korban Peraturan Pemerintah No. 10 (PP 10) tahun 1959. Ayahku menyebutnya PP 10 dengan “ceu fung theu,” dialek Hakka yang jika diterjemahkan bebas berarti: “kabur karena kepala merah.”
Sebelum PP 10, orang Cina hidup damai di desa dan di pedalam Kalimantan dengan suku Dayak dan Melayu. Melalui PP 10, diintruksikan bahwa seluruh orang Cina harus meninggalkan desa atau pedalaman dan dikonsentrasikan di kota. Menurutku hal ini dilakukan supaya orang Cina tidak menjadi kekuatan di desa dan di pedalaman. Jika tinggal di kota maka orang Cina menjadi mudah diawasi.
Maka provokasipun dilakukan oleh pemerintah, ayahku dan kami sekeluarga diusir dan diancam akan dibunuh oleh penduduk pribumi yang mengenakan ikatan kain merah di kepala mereka. Rumah, tanah dan harta disita. Kabarnya kakekku menyembunyikan emas dan perhiasan di dalam tanah, di bawah kolong rumah.
Menurut cerita ayahku, keluargaku beruntung karena bisa meninggalkan tempat tersebut dengan membawa pakaian. Ada satu orang kenalan ayah yang meninggalkan kampung halamannya dengan hanya mengenekan celana dalam. Ayahku memberikannya baju untuk dipakai. Sejak saat itu mereka mengangkat diri menjadi saudara dan saling membantu dalam suka dan duka.
Orang Cina ditakuti atau dikwatirkan menguasai daerah pedalaman, lalu di usir ke daerah perkotaan. Ternyata di daerah perkotaan mereka juga survive. Apa yang ditakuti dari orang Cina ini? Jumlahnya? Senjatanya? Menurutku, jelas bukan itu. Agaknya pemerintah takut orang Cina bersahabat dengan pribumi, maka orang Cina dipisahkan darinya. Jika Cina dan pribumi bersatu, mereka bagaikan lidi-lidi yang diikat bersama. Bukankah lebih mudah mematahkan satu lidi, daripada mematahkan banyak lidi yang bersatu?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
Why are people of Chinese ethnic oftentimes considered “a threat” in Indonesia? It doesn’t make much sense because they don’t have any real power, not even politically. Sometimes, when a particular ethnicity is being suppressed, they become even stronger. Such thing may not have been thought by the government.
Jennie
kejadian yg sama juga pernah saya alami ketika saya masih kecil dimana saya tinggal di belakang masjid terbesar di kota Sumenep Madura. Setiap malam rumah kami selalu dilempari batu sampai kaca pada pecah. Setiap hari diganti tapi setiap hari di pecahin. Semua itu dilakukan karena kami satu-satunya keluarga China yang ada dan kaya dilingkungan itu.
Kita sampai pindah karena nggak ingin ada apa2 dengan keselamatan keluarga.
Buat aku pemerintah berhasil mendoktrin bahwa kita(China) haram bergaul dengan pribumi. Dan itu pun sudah mendarah daging diantara kedua pihak baik Cina maupun Pribumi.
Padahal tidak ada kata-kata China ataupun pribumi pada kenyataannya.
Karena kita terlahir sudah dengan darah campuran.
Kenapa pemerintah takut dengan lidi-lidi yang diikat?
Bukannya justru bangga dengan kemajemukan yang dapat disatukan!
Seandainya kebanggan itu ada, mungkin konflik antar ras sampai sekarang tak kan pernah ada.
Jennie dan Evelyn yang baik,
Pola kehidupan orang Cina di Indonesia memang tidak terlepas dari rekayasa politik dan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. Cina dijadikan sejata, partner, tameng dan sansak (karung pasir yang dijadikan sasaran untuk latihan beladiri) atau kambing hitam pada waktu yang bersamaan. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi diciptakan sedemikian rupa sehingga orang Cina hampir tidak ada pilihan dalam kehidupan bernegara.
Terima kasih terhadap pejuang hak asasi manusia di Indonesia sehingga keadaan sekarang banyak berubah. Sebagai genarasi muda Cina, pergunakan kesempatan ini dan jadilah lidi-lidi yang bersatu dengan lidi-lidi lain, yaitu semua ras dan golongan di Indonesia, sehingga kita tidak dipatahkan lagi dengan mudah seperti peristiwa-peristiwa terdahulu.
Untuk Evelyn, seperti yang dikatakan Jennie, bahwa tekanan yang dialami oleh kamu dan keluarga telah dan akan membuat kamu semakin kuat. Karena itu, tidak ada hal yang perlu disesali, jalani hidup sebagai warga negara yang baik dan kritis.
Etnis China/Tionghoa di Indonesia ga akan pernah bisa lepas dari ketakutan. Setiap ada masalah apa yang menimpa Indonesia pasti etnis Tionghoa yang disalahkan, ngga nyambung pun di nyambung2in. Setiap surat kaleng yang beredar juga selalu memojokkan etnis Tionghoa, bahkan dengan bahasa kasar dan ancaman yang keras. Bagaimana kita bisa hidup dengan damai di Indonesia ? Sebagian masyarakat asli masih ngga bisa menerima kita sebagai bangsa Indonesia, masih menganggap kita adalah orang China, apapun masalah baik kesalahan yang berasal dari etnis kita atau etnis lain, tetap saja kita selalu disalahkan dan biasa bukan menjadi masalah perorangan lagi tapi menjadi masalah etnis.
06 - 07 Desember 2007, dan mungkin masih akan berlanjut, di Pontianak saat masih terjadi sweeping etnis Tionghoa gara2 sedikit kesalahpahaman antara orang etnis tionghoa dengan etnis lain, tapi hal ini menjadi merambat ke masalah golongan, setiap orang yg termasuk etnis tionghoa di pukuli oleh massa etnis tersebut, dan ini terjadi hampir di setiap sudut kota Pontianak, baik berupa pemukulan juga intimidasi, tidak peduli laki2 atau perempuan, juga mobil2 sampai Vihara dirusak oleh massa dari etnis lain tersebut. Keterlaluan sekali, ada oknum2 dari massa tersebut yang memprovokator “Cina KELUAR, BUNUH CINA sambil teriak AllahuAkbar” (Kenapa dikait2kan dengan Tuhan??? apa kami ini etnis murtad??? apa membasmi kami adalah ajaran Tuhan ?? Apa dengan penghapusan etnis kami adalah artinya Kebesaran Tuhan ??), untung polisi telah menangkap beberapa oknum tersebut dan juga ketangkap membawa bensin (wah ini mau bakar2 rumah dan bikin rusuh lagi).
Jadi pertanyaan saya, kapan kita bisa hidup tenang damai aman di Indonesia ????
Johny Lim, pertumbuhan masyarakat ke arah sautu titik di mana semua bisa hidup berdampingan dengan damai dan menerima apa adanya memang bukan proses yang mudah dan bisa terjadi dengan sendirinya. Untuk itu, sebagai generasi muda yang bisa memanfaatkan kemajuan jaman dan mempelajari hal-hal yang positif, hendaknya tidak gampang untuk terpengaruh dan mempengaruhi orang untuk berbuat hal yang melanggar kemanusiaan.
Aku perihatin dengan apa yang terjadi. Kejadian ini akan bisa terulang dan tidak hanya menimpa etnis tertentu di Indonesia, tetapi bisa saja terjadi pada semua etnis, agama dan golongan. Oleh sebab itu, jadilah lidi yang bersatu seperti yang aku usulkan pada atikel di atas.
Dear Johny Lim,
Masalah ethnic Tionghua di Indonesia adalah sebuah masalah yg akan terus terjadi dan sulit terpecahkan.
Selain masalah pemecah belahan pemerintah di masa yang lampau, sikap dan sifat bangsa pribumi yang merasa “ini adalah kampung kita, kita cukup merampok orang 2x Cina apabila kita kelaparan” sudah begitu mendarah daging bahkan diajarkan turun temurun, hal ini terbukti dgn masih seringnya terjadi perampokan(meskipun skala daerah) dengan kasus yang sepele. Pribumi sendiri juga sering memancing warga tionghua agar terjadi perkelahian, (ini sering saya alami sendiri, di Jakarta), beruntung hingga saat ini saya belum terpancing.
Disamping itu, keturunan China sendiri juga kurang bersatu. Dalam pergaulan kita bisa melihat dengan jelas pola pikir Cina totok dan Cina peranakan yg berbeda bahkan juga kebiasaan hidup yang cenderung berbeda. Bisa saja disebabkan Cina peranakan tidak paham bahasa dan juga kurang mengetahui budaya leluhur, dan ini mengakibatkan mereka susah diterima di negeri leluhur sekalipun, sehingga membuat mereka semakin takut dengan pribumi, dan ini mengakibatkan pribumi menjadi semakin sewenang2x.
Jadi kapan kita bisa hidup damai aman? Saya rasa kita semua tahu jawabanya.
Charlotte Lu