GAJI WANITA LEBIH RENDAH DARI PRIA, apa jalan keluarnya?

Image source: aacu.org
Oleh Beni Bevly
Menyambut hari Kartini pada tanggal 21/4/2007 lalu, banyak orang membincangkan masalah perbedaan dan persamaan hak antara wanita dan pria, seperti dari Evelyn (Happy Kartini’s Day), Jennie S. Bev (Ibu Kartini dan Inspirasinya) dan lain-lain. Perbedaan antara hak atau perlakuan wanita dan pria disebabkan oleh banyak hal. Sebagian orang melihatnya sebagai sentimen pria yang menyebabakan wanita didiskriminasi. Tetapi ada faktor lain sehingga wanita di perlakukan lain dibandingkan perlakuan terhadap pria. “Faktor lain” ini direalisasikan dalam sistem penggajian di Amerika Serikat yang memberikan gaji lebih rendah kepada kaum wanita. Sampai sekarang hal ini belum ditemukan jalan keluarnya yang tepat. Tentu, suatu saat aku berharap ditemukan cara yang baik untuk mengatasi perbedaan ini.
Aku yakin issue ini juga terjadi di Indonesia, karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui mengapa sistem penggajian yang lebih rendah diberlakukan bagi wanita.
Perlakuan ini sudah terjadi sejak ratusan tahun yang silam di Amerika Serikat. Para feminis di negeri ini yang dikenal memiliki lobby dan gerakan yang boleh dikatakan paling efektive di dunia masih tidak berdaya menghapi issue ini, yaitu perlakuan yang memberikan gaji lebih rendah terhadap wanita seperti yang aku kutip di bawah ini:
Women make only 80 percent of the salaries their male peers do one year after college; after 10 years in the work force, the gap between their pay widens further, according to a study released Monday (Ellen Simon, AP Business Writer, Yahoo.com, 4/23/2007).
Menurutku faktor utamanya adalah bahwa employer atau atasan (yang juga banyak yang wanita) melihat bahwa wanita dalam hal bekerja tidaklah seefektif dan seefisien pria. Pandangan ini terjadi karena keadaan fisik, seperti pria lebih kuat secara fisik. Oleh karena itu, pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik, pria digaji lebih tinggi.
Masih berkaitan dengan fisik, pada periode tertentu, wanita mengalami menstruasi. Pada peride ini — yang tidak dialami oleh pria — secara umum, efektifitas dan effisiensi kerja wanita cenderung menurun.
Hal lain, hingga saat ini, termasuk di negara modern, wanita masih lebih memprioritaskan keluarga dan anak mereka dari pada pekerjaan. Sedangkan pria cenderung mendelegasikan tangung jawab terhadao anak pada isterinya. Dengan kondisi seperti ini, tentu saja pekerjaan sanf isteri menjadi terganggu.
Masih berkaitan dengan hal di atas, karena itu di mata employer, wanita tidak terlalu membutuhkan dan mementingkan karir.
Upaya mencari jalan keluar supaya wanita bisa bekerja seefektif pria memang sudah dan sedang dilakukan di Amerika Serikat, seperti menyediakan tempat penitipan anak kecil. Tetapi semua yang dilakukan belum maksimal dan memakan biaya yang cukup mahal bagi employer. Apakah masih ada upaya lain yang bisa dilakukan?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
Saya rasa memang wanita terkadang lebih tidak efektif dan efisien dalam bekerja ketika datang bulan. Tapi hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk membuat gaji wanita lebih rendah dari laki-laki. Kalau mau dilogika laki-lakipun kalau ada masalah menyangkut hati atau apapun keefektifan dan keefisienan dalam bekerja pasti akan berkurang juga.
Mungkin hal yang tepat untuk alasan gaji wanita lebih rendah karena pada akhirnya pun wanita akan berpihak dan berada di bawah ketiak sang suami. Suamilah yg dari dulu (bias gender) didaulat menjadi kepala rumah tangga dengan segala kewajibanya. Tapi realita yg ada saat ini berkata lain. Banyak wanita yg memutuskan untuk tidak menikah, banyak yg bercerai dengan banyak anak, dan masih banyak yg lain dimana ketiak suami mereka sudah tidak dapat lagi dijadikan atap yang kokoh!.
Semua itu harus dipirkan untuk diambil jalan keluarnya. Karena pada kenyataannya wanita juga butuh semua materi itu ketika dia ditinggalkan atau tidak oleh laki-laki dan berusaha hidup mandiri.
(maaf kepanjangan)
~evelyn
http://evelynpy.wordpress.com/
Kalau memang tidak ada jalan keluarnya… keluar dari kerja and make youe own business.
The great jobs is be entrepreneur… we could gain money as much as possible… dan kasih gaji yg tinggi buat pegawai wanita atau at least proporsional dgn pekerjaannya… atau boleh juga semua karyawannya wanita semua.
http://www.adhirock.com
Evelyn,
Aku ingin menjadikan wadah ini sebagai tempat di mana kita bisa mengemukakan pendapat sebebas-bebasnya, jadi tidak ada istilah tulisan yang kepanjangan atau sebaliknya.
Apa yang dikemukakan Evelyn adalah kenyataan. Pada masa ini, aku rasa istilah “kepala rumah tangga” perlu diredifinisi. Aku cenderung melihat hubungan suami isteri sebagai “partnership”.
Adhi,
Jalan keluar yang kamu berikan sangat brilian dan juga sederhana. Banyak orang hanya berpikir untuk bekerja pada orang lain. Seperti yang kamu kemukakan bahwa bekerja untuk diri sendiri, seseorang akan memiliki kontrol penuh atas distribusi pendapatan dan pengeluaran/gaji terhadap karyawan. Good thought.
I used to b HRM in a company in Jakarta, and i have many HR friends also, but there was no such discrimination there, we value the productivity of employees. One reason for adding the salary of man is the wife and children allowance. And it really does makes sense. May be US companies think the wives has already got the allowance from the husband? But then a widow especially with children should get a special treatment, isn’t it?
Luckey,
Thank God, according to Luckey, that such discrimination is not happening in Indonesia.
There is no such allowance at the private companies in United States. Normally, employees will get their benefits if they are full time. The benefits include:
401K (Pension benefit, normally company will match up to 4%-7% from employees’ earning, depending what percentage contributed by employees).
Health insurance (Employees pay small potion of the premium, 20-30%. This insurance includes dependents, such as wife, husband, children or domestic partner. Domestic partner means either member of an unmarried, cohabiting, and esp. homosexual couple that seeks benefits usu. available only to spouses. Employees will choose which insurance plan, either from their company or from their partner’s company that fits their life style).
Paid time off (vacation after accumulating the working days).
Profit sharing (a tiny portion of the net company’s earning that distribute to the eligible employees).
Sick leave and other emergency reason (Company pays their employees for certain period when the employees are hospitalized or relative passes away).
Stock option (Employees could purchase company’s stock with special discount).
Those are the main benefits for employees.
Thank you for your comment, Luckey. I appreciate it.
Well,
Indonesia sangat beruntung bisa memiliki Beni yang mau membela yang tertindas. Nggak seperti Beni, hampir semua teman saya yang tinggal atau pernah tinggal di negeri maju selalu menyampaikan kemajuan-kemajuan yang dicapai negeri tempat mereka tinggal. Begitu silaunya mereka dengan kemajuan itu hingga nggak bisa lihat “ketinggalan-ketinggalan” yang juga ada di negeri-negeri itu.
Terus berjuang, Beni!
Kartini, pada tahun 1902 menulis surat kepada Ny Abendanon: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut di sebut sebagai peradaban?”
Di dalam surat itu Kartini mengisyaratkan berhenti memuja dunia barat di Eropa. Barangkali itu salah satu faktor yang sering dilupakan orang, tentang bagaimana Kartini begitu mudah kalah atau surut dari minatnya untuk belajar di Eropa.
Salam dari Lisa untuk Beni!
Hello Jojo,
Aku masih jauh dari apa yang Jojo sebutkan, tetapi mudah-mudahan aku akan menuju ke sana.
Terima kasih banyak atas komentar dan sanjungannya.
I’m not an HR person, but I’ve been involved in hiring processes. Like Luckey, I just don’t see where a company can differentiate the salary between male and female employees - both for fresh graduates and experienced ones.
What could be possible explanations for the salary gap are negotiation (for new hires) and aggressiveness (for current employees).
Gaji perempuan lebih rendah? Menurut saya, solusinya terletak pada perempuan sendiri. Siap nggak untuk menunjukkan profesionalisme yang tak kalah dengan pria? Karena tidak bisa kita pungkiri beberapa wanita sering menjadikan siklus bulanan sebagai pembenaran bila kerjanya tidak optimal. Padahal sekarang sudah banyak suplemen kesehatan untuk mengatasi masalah ini.
Yang agak susah mungkin kalau perempuan jadi ibu ya, karena mau tak mau dia tidak bisa meninggalkan anak lama-lama, sebab hanya ibu yang bisa menyusui bayinya. Kalau sudah begitu, ya perempuan harus pandai-pandai mengatur waktu agar pekerjaan beres, anak tidak terbengkalai. Toh sekarang zaman sudah maju, ada internet, mestinya ibu bekerja di rumah juga bisa sambil menjaga bayinya.
Bleu dan Ria,
Thank you banget for kommentarnya.
Pada saat hiring baik di Indonesia maupun di Amerika aku tidak menemukan perbedaan penggajian. Kesimpulan ini aku ambil berdasarkan pengalaman kerja ku di HR division di Indofood dan sebagai seorang manager yang mempunyai wewenang dalam hal pengrekrut karyawan di Nordstrom.
Yang dipermasalahkan oleh Ellen Simon yang aku kutip di atas adalah perbedaan gaji wanita lulusan college di Amerika yang bekerja selama atau lebih dari 1 tahun. Dengan kata lain ia ingin menerangkan bahwa semakin lama bekerja, gaji antara wanita dan peria akan mempunyai gap yang lebih besar, yaitu gaji pria menjadi lebih tinggi dari gaji pria.
Di Amerika pada umumnya kenaikan gaji terjadi karena mengikuti kenaikan posisi. Kenaikan karena inflasi dan merit jarang diperlakukan. Jika performance (merit) seseorang bagus, maka ia cenderung dipromosikan. Secara umum (pasti banyak pengecualian) yang lebih cepat dipromosikan adalah pria. Oleh karena itu akhirnya gaji mereka lebih tinggi dari wanita.
Dugaan mengapa pria lebih banyak pria dipromosikan sempat aku singgung di artikel di atas.
Dear Beny…
nama saya irma, mungkin ini out of the topic but still related, i am doing my tesis now , and it’s about deversity. jadi keanekaragaman dan kesetaraan dalam kesempatan bekerja dalam karir wanita. tapi susah banget cari datanya, harus mulai dari mana? saya ingin membicarakan karir wanita yang bekerja di universitas udayana, mereka termasuk saya memiliki kesempatan yang sama tapi kenyataannya banyak sekali kita lihat kok karir mereka mentok padahal banyak yang udah s3 loch. thks ya beny, kapan2 main ke bali
Irma,
Senang dapat berkenalan dengan sahabat yang tinggal di Pulau Dewata, Bali. Waktu aku masih tinggal di Indonesia, aku ke Bali beberapa kali. Terakhir kali, sekitar tahun 1994, aku ke Bali sendirian, naik bis dari Jakarta. Di Amerika, orang bilang kepulauan Hawai sangat indah, tetapi keindahan dan budayanya masih tidak bisa menandingi Bali. Jika sudah pernah ke Bali, Hawai bukanlah tempat yang terlalu menarik lagi. Itu pendapatku lho … Bisa subjektif.
Jadi ngelantur tentang Bali. OK, berhubungan dengan thesis Irma, aku nggak begitu banyak tahu tentang karir wanita di Indonesia, apalagi spesifik Universitas Udayana. Namum demikian, aku memberanikan diri untuk bicara tentang hal ini.
Untuk latarbelakang sejarah modern wanita Indonesia, umumnya orang mengacu pada Ibu Kartini yang dipercayai telah mengangkat kaum wanita menjadi sederjat dengan pria. Dibandingkan dengan jaman Kartini, kini sulit ditemukan larangan formal atau legal yang mentidak-bolehkan wanita untuk bekerja seperti pria. Karena itu, mungkin penekanan pendekataan topik ini akan cenderung ke arah variabel budaya, strereotype dan pebandingan keefektifan keadaan fisik/mental wanita-pria.
Aku ingat akan suatu penelitian di Amerika tentang perbedaan sikap penerimaan terhadap co-workers lawanan jenis antara pria dan wanita. Jika pria ingin bekerja di lapangan kerja yang pada umumnya dilakukan kaum wanita, pada mulanya kaum wanita akan mendukung pria tersebut, tetapi lama-kelamaan sifat kaum wanita menjadi netral.
Sebaliknya, jika kaum wanita ingin masuk ke lapangan kerja yang umumnya dikerjakan oleh pria, kaum pria pada mulanya netral saja, tetapi lama-kelamaan mereka menjadi menantang dan menolak kehadiran kaum wanita.
Membahas tentang wanita, aku jadi ingat dua tokoh wanita yang aku kagumi. Pada masa kuliah, kedua tokoh ini menjadi dosenku di Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah almarhumah Prof. Miriam Budiardjo dan Prof. Toety Heraty. Bu Mir adalah pendiri Jurusan Ilmu Politik UI dan duta besar wanita pertama. Bu Toety menerobos budaya Indonesia yang kolot pasa waktu itu dengan meneruskan kuliah walaupun dalam keadaan hamil. Mereka berdua mencapai puncak karir yang tinggi dan tidak kalah dengan kaum pria. Untuk tokoh-tokoh wanita lainya, sebagian dari mereka bisa di baca di TokohIndonesia.com.
Mudah-mudahan info ini sedikit membantu dan menjadi inspirasi untuk thesis Irma. I wish you all the best.
Well, karena gaji wanita lebih rendah daripada pria, maka itulah dewasa ini banyak pengusaha yang lebih suka menerima pegawai wanita disamping itu mereka biasanya lebih jujur daripada pria sehingga angka pengangguran bagi pria meningkat. Tetapi apakah pria bisa berperan seperti Ibu di rumah seandainya wanita sebagai pencari uang?
Sebenernya berat juga ya karena kondisi ekonomi yang demikian, Wanita pagi2 harus menyiapkan anak2nya dan suaminya, berangkat kerja, pulang kerja juga harus siap dalam mengasuh anak2 dan menjadi istri yang baik pula…..
Kalau cuti melahirkan dengan digaji, temannya yang belum juga punya anak iri karena gak kerja tetep digaji… well, sebenernya permasalahan yang dihadapi wanita tidak sedikit.
Kalau di Jepang ada isitilah education mama. Jadi yang membesarkan anak2 memang wanita, dan bekerja pria. Tetapi berhasil tidaknya majunya negara, bergantung betul pada para wanita dalam mendidik anak2nya.
@Astrid, ada pepatah berkata, “If you educate a boy, you educate a person. If you educate a girl, you educate a nation.”
Standar ganda untuk wanita karir tetap harus sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi saya adalah salah satu bentuk “pelecehan” terselubung karena merupakan ketidakadilan antara dua manusia (bukan antar gender). Saya bukan feminis, namun saya percaya akan kebaikan hati yang bisa saling dialihkan satu sama lain dan bisa saling diterima dengan hati yang lapang.
Astrid dan Jennie,
Rupanya perubahan jaman, belum sepenunya diikuti perubahan peran isteri di rumah tangga di dunia Timur dan Indoensia. Secara tradisional peran seorang ibu adalah mengurus rumah tangga, membesarkan anak dan berbakti (sering diartikan sebagai melayani kebutuhan suami) kepada suami. Di dunia Barat, peran tradisional seperti sudah bergeser sesuai dengan tuntutan jaman. Suami sudah ikut mengambil sebagian peran tradisional seorang isteri.
Pada jaman ini, isteri banyak ditunut untuk mencari uang guna mensupport kehidupan rumah tangga, salah satu sebabnya adalah biaya kehidupan ruamh tangga yang semakin tinggi. Sementara itu, banyak peran isteri di Indonesia secara tradisional tetap tidak berubah. Artinya, di samping mengurus rumah tangga, membesarkan anak dan berbakti pada suami, si isteri juga harus mencari uang sebagai wanita karir.
Banyak kalangan masyarakat Indonesia yang tidak menyadari akan hal. Untuk kemajuan bersama, kita (suami isteri) perlu bekerja sama secar fair.
Saya setuju dengan penyamaan hak mendapatkan salary yang equal antara pria - wanita, tapi saya tidak terlalu setuju dengan penyamaan peran antara pria dan wanita.
IMHO, Saya percaya pria dan wanita diciptakan secara berbeda, karena itu memiliki peran yang berbeda pula dalam masyarakat dan keluarga. Pria diciptakan memiliki badan dan tenaga yang lebih besar, otak yang lebih logis, adalah pelindung dan kepala keluarga, decision maker dan dia memang bertanggung jawab untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Sedangkan wanita diciptakan dengan perasaan yang penuh kasih dan kelembutan, bertanggung jawab dalam memelihara, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada keluarganya. Bukan berarti pria dibebastugaskan dari memberi kasih dan perhatian kepada keluarganya, bukan berarti pula wanita tidak boleh bekerja, tapi peran unik dan spesifik ini merupakan prioritas utama peran mereka.
Satu hal yang sering dilupakan oleh para pasutri adalah bahwa tanggung jawab mendidik dan mengajar anak sebenarnya lebih banyak berada pada pundak ayah daripada ibu. So, ayah jelas tidak boleh lepas tangan terhadap keluarganya.
Saya baru mengundurkan diri dari pekerjaan saya pada posisi office manager stelah dari project controller. Hal ini terjadi karena selama pekerjaan berjalan, atasan saya / seorang laki-laki tidak menghargai profesionalisme saya untu mengerjakan hal-hal sehubungan dengan proyek / pribadi. Dan siapa bilang kinerja wanita lebih rendah dari pria? di lapangan saya bisa mengontrol dan lebih realistis dalam menyelesaikan masalah sampai detail sekalip[un. bahkan masalah yang ditimbulkan pimpinan saya pun saya selesaikan dengan seefektif mungkin. bahkan staf / karyawan laki-laki lebih manja dan tidak efisien bahkan menggampangkan sehingga yang terjadi lebih mempersulit keadaan.
Saya tidak setuju dengan kata-kata kinerja wanita lebih rendah dari laki-laki. Hal ini tidak benar karena saya seorang ibu dari 21 putra dan saya masih punya waktu untuk mereka belajar + sekolah atau menghadiri semua KEGIATAN MEREKA + KEGIATAN SUAMI SAYA TANPA MENINGGALKAN KANTOR SAYA.
Anita, salut dengan kinerja dan pencapaian kamu. Aku ikut berharap bahwa di masa mendatang Anita semakin sukses.
Pandangan di atas dapat dimengerti, mengingat bekerja sebenarnya adalah hak kudrati pria.
Sekalipun dunia kerja memberikan bagiannya pada wanita, maka yang diberikan sebatas pada aspek fasilitatif/ pembantuan dan tidak begitu banyak menggunakan energi. Kita bisa perhatikan itu pada begitu banyak bidang kerja yang banyak didominasi pria, misal: kesibukan di anjungan minyak, pelaut, dinas militer, penambangan, industri manufaktur, transportasi. Sedangkan porsi wanita dalam dunia kerja, lebih banyak pada sektor: akomodasi, konsumsi, administrasi. Namun demikian pandangan seperti itu sebatas pada pandangan umum saja bukan? Semoga sukses selalu!