BUKU BIOGRAFI SOEHARTO: Apa Maksudnya?
Oleh Beni Bevly
Menarik dan sekaligus mengecewakan sekali setelah membaca ulasan mengenai biografi yang di-authorized oleh mantan presiden RI, Soeharto, “Soeharto, the Life and Legacy of Indonesia’s Second President“. Biografi yang ditulis oleh Retnowati Abdulgani-Knapp belum aku miliki dan tentunya belum dibaca. Tetapi dari ulasan-ulasan di beberpa media yang aku baca, aku bertanya dalam hati, apa maksudnya? Pertanyaan ini timbul karena ada kesan bahwa buku ini menyampaikan pesan-pesan yang agaknya bertentangan dengan semangat reformasi. Hal ini tercermin dari tiga hal di bawah:
Pertama, terlepas dari semua jasanya, Soeharto jelas adalah seorang pelanggar Hak Asasi Manusi (HAM), koruptor dan ditaktor. Hal ini tidak perlu dijelaskan lagi kita semua tahu akan hal ini. Tetapi dalam biografinya, oleh Retnowati Abdulgani-Knapp, Soeharto dilukiskan sebagai tokoh yang simpatik, taat terhadap agama dan ia dianggap sebagai orang yang tak berdosa dan hanya korban para kroninya (kolongmerat Chinese).
Di bawah adalah komentar yang aku kutip dari Barry Desker, head of the S. Rajaratnam School of International Studies, dan former Singapore ambassador untuk Indonesia:
“While Soeharto and his family are portrayed sympathetically, the biography does not shy away from assessing that the core of public discontent centred on the control by Soeharto’s extended family and 50 other families of most of Indonesia’s economic successes.”
Kedua, aku memang tidak begitu tahu mengenai Retnowati Abdulgani-Knapp, putri Roeslan Abdulgani. Dalam hal ini aku hanya mempunyai kesan terhadap Roeslan Abdulgani, ayahnya sebagai seorang yang bersikap mendua dalam hal berpolitik (Ataukah hal ini memang hal yang lumrah bagi para politikus?).
Pada jaman Soekarno, Roeslan Abdulgani adalah pengikut dan ajudan setia Soekarno dan seingat aku, ia mempropagandakan NASAKOM dengan semangatnya. Tetapi setelah Soekarno jatuh, ia mendekati Soeharto dan berhasil mengambil hatinya dengan mempropagandakan Pancasila habis-habisan. Aku meragukan sikap politiknya yang berkesan oportunis. Apakah sikap seperti ini juga menurun pada putrinya, Retnowati Abdulgani-Knapp? Jika benar, maka tidaklah heran dengan tulisan dia di buku ini.
Ketiga, komentar Siswono Yudhohusodo (salah satu menteri jaman Orde Baru) dalam rangka peluncuran buku itu:
“Seperti Bung Karno, Soeharto naik (menjabat) dengan baik-baik tapi diturunkan dengan cara tidak baik.”
Bagaimana Siswono bisa meng-claim bahwa Soeharto “naik dengan baik-baik” jika ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutkan jutaan jiwa melayang di tangannya dengan alasan mengamankan negara dari PKI? (baca: John Roosa, Pretext for Mass Murder, 2006).
Aku menilai bahwa isi buku ini terdapat kecenderungan untuk menghidupkan Orde Baru dan menghentikan langkah Reformasi. Mudah-mudahan aku salah.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Mas Benny…
Orde Baru memang simbol pelanggaran HAM dan KKN, tapi kita juga tdk bisa menutup mata “keberhasilan-keberhasilan” orde baru dlm membangun Indonesia.
Buat aku sebenarnya kemunculan suatu biografi itu merupakan suatu pertanda bahwa orang tersebut tenar atau memang sedang menjalani suatu politik tertentu. Biografi ini muncul dengan alasan keduanya. Dia memang orang terkenal, terkenal akan politik kotornya yang luar biasa canggih seperti sam kok, dia tidak peduli dengan orang lain dan hak mereka jadi tidak heran gelar penjahat HAM didapatnya. Biografi ini munkin akan menjadi media buatnya untuk membuat orang lain percaya bahwa dia pada saat keemasannya memerintah dengan baik. Tidak lain tidak bukan ini untuk membantu dia sendiri agar tidak dijatuhi hukuman yang berat akan kesalahannya yang besar di waktu lampau yang selama ini sudah dilupakan banyak orang ( masyarakat Indoenesia).
Jadi buat saya ini hanya akal2akalan dia saja untuk memperoleh simpatisan dari banyak orang.
Jangan lupa kadang kebohongan bisa disengaja bisa juga tidak untuk sesuatu hal yang berarti. jadi melalui biografi ini kita bisa menilai kebohongan yang ada disengaja atau tidak.
~evelyn
http://evelyn.wordpress.com/
Well, bukunya mungkin bukan sengaja bermaksud menghentikan reformasi. Tapi yang jelas sebagai upaya memberikan gambaran yang lebih simpatik tentang Suharto, menjustifikasi tindakan2nya, dan menutupi kesalahan.
Oh ya, jasa seseorang tentu tidak dilupakan. Tapi jangan juga kenangan pada “kejayaan” lampau menjadikan kita lupa pada berbagai pelanggaran HAM pada masa itu. Beliau memang telah mengkondisikan sedemikian rupa supaya negara stabil, paling tidak di permukaan. Tapi sekian nyawa juga hilang untuk memperkokoh kekuasaannya. Jangan lupa, beliau belum membayar kesalahannya, karena tiap ke pengadilan pasti sakit :D.
[…] Beni Bevly Menggapi beberapa komentar pada artikel “BUKU BIOGRAFI SOEHARTO: Apa Apaksudnya?” yang menyinggung jasa Soeharto dalam pembangunan Indonesia di masa Orde Baru, timbul pertanyaan […]
AdhiRock, Evelyn dan Ienje,
Terimakasih banyak atas komentarnya. Aku sangat menghargainya.
Pikiranku terhadap komentar kalian bisa dibaca di “LAYAKKAH SOEHARTO DISEBUT “BAPAK PEMBANGUNAN”?
mbwahahahahahakhakhak…
The title of this post says it all. Yeah. APA MAKSUDNYA YAH?
MENGHUJAT DENGKI MENGAJARI BENIH KEBENCIAN PADA RAKYAT, AKAN MEMBAWA RAKYAT INI MALAS BERGANTUNG PADA KEBERHASILAN PEMBERANTASAN KORUPSI, MENEMPATKAN KESALAHAN MAJU TIDAKNYA BANGSA INI PADA PAK HARTO, PELANGGARAN HAM,HUM DAN SEBAGAINYA.
MAJU TIDAKNYA BANGSA INI KARENA BUDAYA MALAS KITA, NEGARA LAIN SIBUK MEMAJUKAN NEGARA, MEMPERINDAH SUNGAI DAN TAMAN KOTA KITA SIBUK MENGHUJAT MENGHARAP HAM, HUKUM DAN SEBAGAINNYA
SELAMAT MENIKMATI KEHANCURAN INI….
Betul Miund, aku memang bingung apa maksudnya buku ini? Akhirnya aku order di Amazon.com dan dikirim ke alamatku di
Kalifornia dalam beberapa hari saja. Di buku itu memang diceritkan penyimpangan dan pembusukan politik dan ekonomi, tetapi semuanya itu dilakukan oleh orang lain, yaitu kroninya Soeharto. Kesan aku, Retnowati Abdulgani-Knapp menggambarkan Seoharto tetap seorang bersih, bijaksana dan berhati emas.
Ini satu bagian yang aku kutip dari halaman 77:
Retnowati tidak pernah mengungkap permasalah jutaan orang yang menjadi korban gerakan politik Soeharto. Ia lebih menitik beratkan bagaimana para jenderal dibunuh oleh “socalled” PKI di bawah pimpinan Kolonel Untung. Ibu Tien menurutnya “modest”. Bagaimana yang tidak modest? Mungkin bukan Teen Percent lagi pajaknya, tapi 100%.
Yudisasongko memberikan perspektif yang lain dalam membangun negara, yaitu jangan mengajarkan kebencian pada masyarakat, dan juga jangan pernah mengimingkan bahwa pemberantasa korupsi adalah satu-satunya cara untuk membangun negara. Aku setuju bahwa rakyat kita harus rajin bekerja dan berkarya demi membangun negara.
Sesuatu yang berlebihan adalah tidak bijaksana. Sesuatu harus ditempatkan pada proporsi yang tepat. Seperti kenyataan korupsi yang merajarela dan pelanggaran HAM berat perlu ditindak dan diberi ganjaran sesuai dengan hukum yang berlaku. Inilah porsi yang mesti didapat dari koruptor dan pelanggar HAM. Bukan didiamkan dan dibiarkan menjadi budaya yang menggerogoti bangsa kita. Lakukan ini tanpa unsur benci dan balas demdam, tetapi, sekali lagi, berdasarakan landasan hukum yang berlaku.
mank soeharto ngekorupsiin uang negara brp miliar?
Erick,
Jaksa Penuntut Umum, Muchtar Arifin SH, pada persidangan tahun 2000, mendakwa Soeharto tersangkut korupsi tujuh yayasan dengan total kerugian negara Rp 1,7 triliun dan US$ 419 juta. Tujuh yayasan yang pernah diketuai Soeharto tersebut, adalah Supersemar, Dana Sejahtera Mandiri, Trikora, Dharmais, Dana Abadi Karya Bakti (Dakab), Amal Bhakti Muslim Pancasila, dan Gotong Royong Kemanusiaan (SuaraPembaruan.com, 21/05/2007)
Beliau memang kejam,beliau memang diktaktor tapi untuk apa dia bersikap seperti itu?ya untuk melindungi rakyat yg lemah da bodoh!!!!kita butuh seorang presiden berjiwa keras,dan kejam tp demi kebaikan dan tetap berhati nurani.tidak menjadi soal membunuh pengacau keamanan,siapa mereka??hanya sampah masyrakat pengganggu keamanan.percumah mengandalkan prosedur hukum terlalu bertele tele dan tdk membikin jera.seharusnya kita berterimakasih beliau mau menanggung dosa demi keutuhan NKRI. berapa sih korupsinya di banding dgn kehilangan sipadan ligitan??? sebuah pulau yg berprospek pariwisata?? dan yg penting hilangnya pulau itu berarti terkikis lah wibawa Indonesia yg harganya tdk ternilai!!!32 tahun bukan waktu yg lama hampir seluruh pelosok jalan dialiri listrik pd jamanya,dan di aspal jalanya.10 thun reformasi berjalan pembangunan bukan lgi berhenti tapi malah MUNDUR!!!dosa siapa??jangan berkata itu dosa Pak Harto,mereka hanya mengkambing hitamkanya…reformasi kebablasan dan kebebasanlah penyebabnya, kita ibaratkan Republik ini sebuah rumah yg telah dibuat oleh ORLA dan di bangun oleh orba,selama 32 th mungkin jendelanya sudah ada yg lapuk.namun lantas oleh Reformasi bukan jendelanya yg diganti melainkan rumahnya yg di robohkan dgn tdk elihat berapa kt punya uang utk material utk membangun,nah akhirnya setiap kepala dgn bebas ingin membuat kamar yg nyaman utuk golonganya dirumah itu tanpa mempardulikan yg lainya.lagi2 bumi pertiwilah yg di eksploitasi kekayaanya.pembalakan liar gila2an… pasir dijual… minyak dijual… dan rakyat di bodohi dengan berkata “ini dosa orde baru,rezim soeharto”
sebagai bangsa yg menghargai pahlawannya tidak berarti kita harus menghujat ataupun smencap beliau sebagai perusak ekononomi bangsa.selayaknya lah bangsa kita juga menghormati apa jasa2 beliau yang sedikit banyaknya masih kita rasakan sampai saat ini pun masih banyak.Semoga beliau tabah dan kuat menghadapi semuanya.
Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 18 Juli 2007
A. LATIEF
Mantan Kolonel TNI-AD :
Jenderal SOEHARTO — Manusia Dholim —
Mengkhianati Presiden SOEKARNO
Beberapa hari ini ramai sekali diberitakan dan dibicarakan di media cetak dan elektronik, maksud hendak mengadili mantan Presiden Suharto, menurut hukum perdata (KUHP). Bukan lewat hukum Pidana. Jadi, samasekali bukan diadili oleh ICC, International Criminal Court. Sebagaimana banyak tuntutan diajukan terhadap Suharto mengingat pelanggaran HAM terbesar yang dilakukannya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against Humanity).
Kali ini lembaga pengadilan agung Indonesia sekadar akan memperkarakan gugatan (yang masih harus diajukan) mengenai kasus korupsi yang dilakukan mantan Presiden Suharto melalui yayasan-yayasan yang dibentuknya . Sementara orang ada yang antusias. Ada harapan, katanya, tuntutan terhadap Suharto sekali ini, akan berhasil. Dan Suharto akan dicekal dari sisi hukum perdata. Barangkali terbayang pada mereka-mereka itu, kasus pengadilan AS ketika menyeret bandit besar, mafioso kesohor AS, Al Capone. Pengadilan AS ketika itu, berhasil mencekal bandit Al Capone lewat tuntutan perdata (urusan pelanggaran pajak).
Ada yang samasekali tidak percaya bahwa Kejaksaan Agung bersungguh-sungguh akan menuntut Suharto. Dinyatakan bahwa bikin ramai hendak mengadili Suharto, itu adalah untuk mengalihkan perhatian belaka. Pendapat lain, tidak terus terang menuduh bahwa aksi Kejaksaan Agung itu pura-pura saja. Namun, jelas menyatakan keragu-raguannya. Apa benar pengadilan Indonesia yang merupakan lembaga yang paling harus ditoto dan direformasi, akan berhasil menuntut dan memberikan hukuman setimpal kepada Suharto. Dalam golongan ini termasuk wartawan (Pedoman) senior, Rosihan Anwar. Meski umurnya yang lanjut, tetapi sesekali masih memberikan komentar (yang terkadang ‘lumayan’) atas perkembangan politik Indonesia. Rosihan Anwar tampak sekali meragukan kemampuan dan keberhasilan lembaga pengadilan Indonesia. Juga karena ia yakin bahwa Suharto jauh-jauh hari sudah memikirkan bagaimana korupsinya itu dilindungi dan diselubungi rapat-rapat demikian rupa, sehingga siapapun tidak akan bisa menggungat Suharto.
Yang menarik lagi ialah terbitnya buku (baru) biografi Suharto, ditulis oleh putrinya Ruslan Abdulgani (almarhum), Retnowati Abdulgani-Knapp. Jelas sekali, terbitnya buku ini adalah dalam suatu kampanye PR yang diregisir dan difinansir secara kuat, untuk membela ‘wajah baik’ mantan Presiden Suharto. Suatu usaha sia-sia untuk membagus-baguskan reputasi Suharto yang akan tercatat dalam sejarah bangsa kita, sebagai penguasa (plus keluarga dan kroni-kroninya) yang paling kejam, paling bersandar pada kekersan dan kekuatan militer, paling licik, paling korup dan paling kaya terbanding mantan-mantan presiden RI sebelumnya.
Masih mengenai buku Retnowati tentang Suharto: — Seorang pembaca Indonesia di California, Beni Bevly — Pendiri Overseas Think Thank for Indonesia berkomentar sbb: — Retnowati tidak pernah mengungkap permasalahan jutaan orang yang menjadi korban gerakan politik Soeharto. Ia lebih menitik beratkan bagaimana para jenderal dibunuh oleh “socalled” PKI di bawah pimpinan Kolonel Untung.
Kemudian memberikan tanggapan atas komentar Siswono Yudhoyono, mantan menteri zaman Orba, yang dalam peluncuran buku Retnowati, hendak menyamakan Suharto dengan Bung Karno, berucap demikian: “Seperti Bung Karno, Soeharto naik (menjabat) dengan baik-baik tapi diturunkan dengan cara tidak baik.” — Beni Bevly menegaskan: ‘Bagaimana Siswono bisa meng-claim bahwa Soeharto “naik dengan baik-baik” jika jutaan jiwa melayang di tangannya dengan alasan mengamankan negara dari PKI? (baca: John Roosa, Pretext for Mass Murder, 2006). Aku menilai bahwa isi buku ini terdapat kecenderungan untuk menghidupkan Orde Baru dan menghentikan langkah Reformasi. Mudah-mudahan aku salah.
Isinya tak lain adalah membela Suharto sebagai presiden yang dikatakan terlah ‘berjasa’, dsb., dsb. , bla, bla, bla. Di kalangan masyarakat kita, baik di dalam maupun di luarnegeri, tidak sedikit pembela Suharto. Umumnya adalah mereka-mereka yang dalam ukuran besar-besaran ataupun dalam ukuran kecil-kecillan, dari berbagai jurusan sudah diuntungkan oleh rezim Orba. Mereka-mereka itu amat berterima kasih pada Suharto. Maklumlah berhutang budi. Kalau tidak karena Suharto, mereka itu tidak akan menjadi kaya demikian rupa, tidak akan bisa naik panggung politik begitu tinggi. Rame-rame membela Suharto itu, semacam tanda terima kasih juga pada keluarga Cendana.
Dikatakan mereka bahwa Suharto adalah ‘bapak pembangunan Indonesia’. Telah ‘berjasa menghancurkan PKI dan dengan itu menyelamatkan Indonesia dari bahaya Komunisme’, tak peduli lebih sejuta manusia Indonesia yang tak bersalah telah dibantai, dengan dalih ‘membela Pancasila’, dsb. Tak peduli untuk itu telah melakukan perebutan kekuasaan (merangkak) terhadap Presiden Sukarno, mengenakan tahanan rumah terhadap beliau, dan memperlakukan Presiden Sukarno lebih buruk dari perlakukan yang diberikan oleh rezim rasis dan fasis Apartheid Afrika Selatan terhadap tahanan (ketika itu), pemimpin perjuangan anti-Apartheid dan kemerdekaan Afrika Selatan Nelson Mandela. Perlakuan sewenang-wenang dan teramat kejam Jenderal Soeharto terhadap Presiden Sukarno telah membunuh Presiden Sukarno secara ‘perlahan-lahan’.
* * *
Terlepas dari masalah apakah akan berhasil atau tidak Kejaksaan Agung menyeret Suharto ke meja hijau lembaga hukum tertinggi Indonesia, —— hendaknya janganlah sekali-kali dilupakan bahwa pelanggaran hukum terbesar yang dilakukan Suharto, adalah penyerobotan kekuasaan negara, insubordinasi terhadap Panglima Tertinggi Presiden Sukarno. Mengambil alih pimpinan Angkatan Darat, selanjutnya . . . siapa yang tidak tahu kelanjutan dari kup merangkak itu. Persekusi besar-besaran, pembantaian besar-besar terhadap orang-orang PKI, diduga PKI, simpatisan PKI, lalu, kaum nasionalis pengikut dan pendukung Presdien Sukarno. Inilah pelanggaran HAM terbesar dalam sejarah Republik Indonesia.
* * *
Sehubungan dengan yang disebut diatas, banyak gunanya kiranya, untuk menyegarkan ingatan kita, dibaca lagi SURAT PERNYATAAN DAN TUNTUTAN, yang ditulis oleh Kolonel Latief pada tanggal 01 Januari 2003. Surat tsb dikutip selengkapnya di bagian akhir tulisan ini. Kolonel Latief memulai suratnya a.l.: . . . . demi Allah saya menyatakan bahwa Jenderal Soeharto secara langsung TERLIBAT Gerakan Tigapuluh September 1965 yang lalu. . . .
Tulis Kolonel Latief, selanjutnya: . . . Disaat ini yang penting karena saya amat yakin Jendral Suharto adalah pengkhianat bangsa khususnya terhadap Proklamator Bung Karno, kita wajib menuntut Jendral Soeharto untuk diadili, terutama telah mengabaikan hak-hak asasi manusia, melakukan makar/menumbangkan pemerintahan Presiden Soekarno yang sah.
‘Saya berharap penuntutan terhadap Jenderal Soeharto dapat terselenggara dengan secepatnya.’
Di dalam kesaksian tambahan, tertanggal 07 Februari 2003, Kolonel A. Latief, menulis a.l. sbb:
. . . . sewaktu berdua dengan saya, Jenderal Soeharto menegaskan pada diri saya bahwa Jenderal SOEHARTO MENGHENDAKI (kata yang ditekankan kepada diri saya) Presiden SOEKARNO DIGANTI, karena selalu bikin ribut. Saya jawab: ‘Tidak mungkin, karena BUNG KARNO didukung rakyat!’. . . . . . .(percakapan dalam pertemuan tanggal 28 September 1965 sekitar jam 20.00 (malam hari) ketika bersama istrinya Kolonel Latief berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto di Jl Agus Salim, Jakarta.
* * *
Hendak menuntut Soeharto mengenai kasus korupsi yang jumlahnya luar biasa besar, adalah sesuatu yang yang perlu disambut, dengan harapan lembaga pengadilan Indonesia kali ini bersungguh-sungguh.
Namun, pelanggaran hukum yang lebih besar, yaitu makar dan perebutan kekuasaan negara dengan menggulingkan Presiden Sukarno, adalah kejahatan yang lebih besar, yang harus diadili dan dijatuhi hukuman setimpal. Tak dibenarkan bila mantan Presiden Suharto dibebaskan dari tanggungjawab, seperti dikatakan Kolonel Latief, melakukan makar dan pengkhianatan terhadap Presiden RI Bung Karno.
Demikian juga pelanggaran HAM yang terbesar yang terjadi dibawah kekuasaan Jendral Suharto,
melakukan persekusi dan pembantaian masal biadab terhadap lebih sejuta warganegara yang tak bersalah, pada tahun-tahun 1965-66 dst samasekali tak boleh dibiarkan tanpa penanganan oleh lembaga pengadilan tertiggi Indonesia.
* * *
LAMPIRAN:
A. LATIEF, Mantan Kolonel AD
SURAT PERNYATAAN DAN TUNTUTAN
——————————————————-
Hari ini Rabu tanggal 01 Januari 2003 di rumah Pak SAWITO Kartowibowo, sekali lagi secara tegas dan sejujurnya, demi Allah saya menyatakan, bahwa benar Jenderal SOEHARTO secara langsung TERLIBAT Gerakan Tigapuluh September 1965 yang lalu, dimana diri saya juga terlibat langsung di dalamnya.
Semula saya yakin sebagai pimpinan Angkatan Darat yang amat saya percayai, karena saya pun adalah anak buah andalan dan kepercayaan beliau, apalagi di medan laga yang kemudian terkenal dalam sejarah militer maupun perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai ‘Serangan Satu Maret 1949′ di Jogyakarta, dimana diri saya adalah komandan yang paling pegang peranan utamanya tetap percaya, bahwa pak Harto loyal terhadap Presiden Soekarno.
Sebagai bukti kepercayaan itu, sewaktu sebelum peristiwa 01 Oktober 1965, dua kali saya melapor kepada Jenderal Soeharto sebelum menculik para Jenderal yang menurut pendapat saya perlu dihadapkan pada Panglima Tertinggi ABRI BUNG KARNO, saya tidak diperingatkan, ditegor apalgi dilarang melakukan gerakan itu oleh Jenderal Soeharto, sehingga saya berpendapat Jenderal Soeharto masih loyal pada Bung Karno.
Ternyata setelah kejadian, pendapat saya itu sangat bertolak belakang dengan pendapat saya semula, justru sebaliknya, terbalik samasekali. Maka dari itu setelah terjadi peristiwa dan menghadapi kenyataan yang terjadi, saya sungguh merasa diri saya dikhianati oleh panglima saya Jenderal Soeharto. Dan sejak saya diserang di Halim, saya lawan, sebab saya telah yakin Jendral Soeharto berkhianat terhadap Presiden RI Soekarno.
Dalam pleidooi saya, pak SAWITO tahu, biarpun Jenderal Soeharto telah menjadi Presiden RI, tidak ada niat bagi saya untuk mohon grasi atau bentuk keringanan hukum apapun kepada Jenderal Soeharto, sebab saya tidak bakal minta grasi dll kepada pengkhianat terhadap Bung Karno.
Disaat ini yang penting karena saya amat yakin Jenderal Soeharto adalah pengkhianat bangsa khususnya terhadap Proklamator Bung Karno, kita wajib menuntut Jenderal Soeharto untuk diadili, terutama telah mengabaikan hak-hak asasi manusia, melakukan makar/menumbangkan Pemerintahan Presiden Sukarno yang sah.
Tentu saja untuk itu diri saya sanggup untuk dijadikan SAKSI di Pengadilan dalam negeri maupun luarnegeri bilamana diadili di Mahkamah Internasional, agar segalanya jujur sesuai apa yang sebenarnya terjadi.
Saya berharap penuntutan terhadap Jendral Suharto dapat terselenggara dengan secepatnya, dan saya juga tahu kalau Mr ISKAQ TJOKROHADISOERJO telah menayangkan KLACHT (gugatan) kepada Jaksa Agung RI yang memberi bukti-bukti keterlibatan Jenderal Soeharto dalam G.30.S. yang membunuh para Jenderal A. YANI cs. dan melakukan pemunuhan masal beratus ribu rakyat yang tiada dosa apapun yang justru dibantai dikorbankan oleh Jenderal Soeharto.
Semoga tulisan ini yang saya berikan kepada Pak SAWITO bisa dijadikan data/bukti yang meyakinkan masyarakat luas, dan bahwasanya idee penumpasan dan pembunuhan masal terhadap orang-orang/masyarakat yang tidak disukai karena sangkaan mereka adalah pengikut Bung Karno adalah dari pribadi Jenderal Soeharto sendiri. Dan harap diketahui, dahulu Jenderal Soeharto itu saya ketahui dengan pasti termasuk ‘kelompok Patuk’ yang dirahasiakan, agar tidak terbongkar oleh masyarakat luas.
Dan yang penting agar diketahui, bahwa sebenanya Jenderal Soeharto itu akan ditangkap oleh Jenderal A. YANI karena korupsi terutama di Jawa Tengah, dikenal dengan kasus penyelundupan. Sayangnya waktu itu Bung Karno tidak mengidjinkan, dan sebagai tindakan penyelamatannya Jenderal Soeharto dimasukkan ke SESKOAD (Sekolah Staf & Komando AD) di Bandung, dipimpin oleh Kol. SOEWARTO. Ini saya ketahui, karena saya sendiri adalah Angkatan Kedua SESKOAD itu, sedangkan Jenderal Soeharto adalah Angkatan Pertama.
Heran saya, Jenderal Soeharto yang tahu betul kalau ditolong oleh Bung Karno. akhirnya justru mencekik leher Bung Karno, orang yang telah menolong dan menyelamatkannya.
Jelaslah Jenderal Soeharto benar-benar orang munafik (bicara dusta, janji tidak ditepati, dipercaya malah berkhianat). Jadi manusia dholim alias manusia jahat.
Demikianlah pernyataan dan tuntutan saya untuk menjadikan periksa bagi siapapun, yang saya buat dengan sesungguhnya dan penuh tanggungjawab.
Terimakasih banyak.
Saya yang membuat pernyataan dan menuntut agar Jenderal Soeharto diadili,
tertanda (pada materai): A. LATIEF
Alamat: LIPO KARAWACI
Taman Elok No 596
Tanggerang.
Tel (021) 598 6070
* * *
KESAKSIAN TAMBAHAN ATAS PERNYATAAN DAN TUNTUTAN SAYA
TERTANGGAL 01 JANUARI 2003
Untuk melengkapi Pernyataan dan Tuntutan saya tertanggal 01 Januari 2003 dengan ini saya beri tambahan kesaksian sbb:
1. Bahwa benar sebelum terjadi pengkhianatan/makar Jenderal Soeharto terhadap Presiden RI/PANGTI ABRI BUNG KARNO, saya sekeluarga memiliki hubungan kekeluargaan yang amat akrab dengan Jenderal SOEHARTO sekeluarga, yang dengan sendirinya kami sering beranjangsana ke rumah beliau dan saling membantu —
2. Dari sekian banyak kunjungan itu, seingat saya sekitar tanggal 18 September 1965 saya sekeluarga berkunjung seperti biasanya ke rumah keluarga Jenderal Soeharto/Pangkostrad di Jl Agus Salim,Jakarta. Dalam kesempatan berdua, saya bertanya kepada Jenderal Soeharto: ‘Apakah benar ada Dewan Jenderal AD yang hendak melakukan kup merebut kekuasaan dari tangan Presiden RI BUNG KARNO?
Jendral Soeharto menjawab: ‘Ya, saya sudah tahu dan sudah mendengar dari bekas anak buah Mayor CTN/Vet. SOEBAGYO dari Jogyakarta’.
Saya bertanya lagi: ‘Siapa Jenderal itu dan dimana?’ Jenderal Soeharto menjawab lagi: ‘Akan diselidiki dulu.’
Mendengar jawaban Jenderal Soeharto demikian, saya berkata kepada Jenderal Soeharto: ‘Kalau benar ada yang mau kup terhadap Presiden RI Bung Karno, saya siap menghadapinya!’.
3. Seperti biasanya pada tanggal 28 September 1965 sekitar pukul 20,00 (malam hari) saya dan istri berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto/Pangkostrad di Jl Agus Salim Jakarta, di saat itu sewaktu berdua dengan saya, Jenderal Soeharto menegaskan pada diri saya bahwa Jenderal Soeharto MENHENDAKI (kata yang ditekankan kepada diri saya) Presiden SOEKARNO DIGANTI, karena selalu membikim ribut.
Saya jawab: ‘Tidak mungkin, karena BUNG KARNO didukung rakyat!’; —-
4. Pada tanggal 29 September 1965, antara pukul 09.00 - 10.00 (siang hari) saya menemui Jenderal Soeharto yang di saat itu sedang menunggu putranya yang tersiram sup panas yang sedang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, disitu saya melapor kepada Jenderal Soeharto, bahwa kami akan menculik para jJenderal Angkatan Darat untuk dihadapkan kepada PANGTI-ABRI Presiden SOEKARNO, dan yang akan dilaksanakan besok malam (sehari berikutnya) tanggal 30 September 1965; ….. Menanggapi laporan saya itu, Jenderal SOEHARTO bertanya: ‘Siapa Komandan Operasinya?’ Saya jawab: ‘Letkol UNTUNG’ (yang saya mengetahui Letkol Untung telah dikenal baik oleh Jenderal Soeharto). Seterusnya Jenderal Soeharto lalu berkomentar: ‘Ya sudah, saya mau istirahat’. Selanjutnya kami berdua berpisahan.
5. Kesaksian seperti yang tersebut diatas, sebetulnya juga telah saya kemukakan dalam pemeriksaan untuk B.A.P. (Berita Acara Pemeriksaan) maupun dalam persidangan sewaktu saya sendiri diajukan selaku TERDAKWA, tetapi tidak diurus sebagaimana seharusnya, termasuk permohonan saya selaku tertuduh, agar Jenderal Soeharto dapat diajukan di muka Pengadilan Militer itu selaku SAKSI UTAMA, selalu DITOLAK!
Demikian kesaksian tambahan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk melengkapi dan yang tidak dapat dipisahkan dengan Surat Pernyataan dan Tuntutan saya tertanggal 01 Januri 2003 untuk kesaksian dan bukti pengadilan terhadap tertuduh Jenderal Soeharto karena telah memimpin melakukan coup d’etat/makar dengan menggunakan kekuatan senjata militer terhadap Presiden R.I. yang sah BUNG KARNO, diseertai membantai rakyat banyak yang tidak berdosa yang saya tuntut dan ajukan demi tegaknya kedaulatan hukum, kebenaran dan keadilan berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa.
Jakarta, 07 Februari 2003
Saya yang membuat Pernyataam dan Kesaksian
tertanda (di atas materai)
A. LATIEF
Mantan Kolonel AD (Nrp. 10685)
Alamat:
LIPO KARAWACI
Taman Elok No 596
Tanggerang. Telp. (021) 5986070
* * *
Ibrahim, terima kasih atas komentar, ulasan dan informasinya. Salam kenal.
[…] No Comments menanggapi tulisan saudara beni bevli, pendiri overseas think tank for indonesia buku biografi suharto,apa maksudnya? membaca tulisan anda yang begitu bersemangat tentang suharto dan kekayaanya,menggugah saya untuk […]
aku sadirun, wong ndeso yang nekad jadi tki bertahun tahun di negara orang,
buku…? apa sebenarnya arti buku itu? di sini jangan ada embel2 nama agama or something else. aku adalah hewan yang tidak berguna.. yah, aku orang indonesia.aku bangga sebagai orang indonesia. jika saya tanya? apa indonesia itu, bagaimana indonesia itu, dan apa artinya indonesia bagi kita.
saat ini banyak sekali orang pinter di indonesia, tapi herannya kok hanya pinter ngomong.. ca ci cu sana sini. itulah kenapa aku sebut diriku hewan.. yah aku anjing.. hanya menggonggong. bagaimana dengan kalian.. sampai kapan kalian harus ngomongin orang.. ini salahlah, beginilah, taek (maaf) asulah… reformasi? apa artinya? perubahan kah? apakah setelah ada reformasi aku bisa kerja di negara tercintaku.. 7 tahun aku jadi kuli bangunan. dengan label TKI,bukan PKI..sebelumnya aku tanya, apa dan bagaimana PKI itu? akupun tak tahu. hanya dari cerita mbah2ku aku ngerti PKI. anda bagaimana? apa orang2 itu mati karna seorang suharto? trus anda bisa ngebayangin bila seandainya PKI masih ada… apa mau kita jadi negara komunis… oposisilah, sayap kirilah.. jujur saya orang beragama, jd saya gak mau indonesia jadi komunis. indonesia itu luas n besar mas… apa anda2 tidak merasa kehilangan saat timor2 berpisah dari indonesia? trus anda bisa ngebayangin bila semua suku masing2 pengen merdeka? indonesia gak akan ada lagi. saat anda menulis pernah anda membayangkan… di sana anda duduk enak dengan laptop or whatever, sedangkan saudara kita yang lain masih berkutat dengan bencana, makan hanya dengan singkong bakar, memang tak ada hubungannya singkong dengan politik. anda duduk di sana enak, menulis udah dapat duit, pernah mata anda menoleh pada saudara2 kita yang di puncak jaya, di pedalaman sulawesi, or di mana aja? apa yang mereka pegang?.. hari gini masih ngomongin siapa yang salah siapa yang benar? anda tak pernah jadi TKI sih, jadi anda gak ngerti. udah gak bisa english, sering di siksa majikan pula.. trus apa ini semua salahku? gak bisa sekolah tinggi, apa salah soeharto yang gak ngasih aku duit buat sekolah, trus apa salah kaum reformasi yang belum ada waktu itu.. orang ngomong pedas itu gampang sodara! kita menuntut bentuk inilah,kpklah,unilah, apa semua gak pake duit? trus anggota yang di rekrut gak butuh gaji..trus siapa yang gaji? duitnya dari mana… ya memang politik tu macam itulah. tapi kita sebagai orang indonesia, yang notabene adalah orang timur, tahu adat (meski gak semua, kan kita binatang yang memang harus makan daging binatang lain) kalo kita mengaku manusia, kenapa kita tidak lihat diri kita aja,anak istri kita, bukan sedikit sodara orang yang menyuarakan inilah itulah, gak tahunya otaknya udang, yang pake narkobalah,or ngesex.. siapa sebenarnya yang dholim? bukankah sebenarnya kita kita ini, apakah kedholiman di buat satu orang.. seandainya saya gak kerja dibayar, saya lebih memilih tinggal di indonesia, meski berhari2 melihat dagelan politik and tulisan sampah saraf yang sok suci, sok pinter, and so on. whatever. trus siapa yang bayar aku kalo gak kerja. itulah kenapa kita susah maju. satu, indonesia itu besar and luas.. banyak bermacam kebudayaan.. suku, or lain2. jadi kita saling, wah.. kita paling hebat.. paling jempol.. hingga akhirnya merendahkan orang lain. apa agama kita masing2 mengajarkan kita masing2 untuk hujat menghujat, dan inilah bukti bahwa indonesia belum bersatu.dan mudah di dikte oleh wong barat.. dua.. apa yang kita lakukan pasti untuk uang. anda menulis karna uang, aku jadi TKI juga karna uang. trus apakah agama kita masing ngajarin kita masing2 untuk cari uang dengan cara binatang? enggak kan..
terakhir saya tanya hanya berikan jawaban saya yes or not, apa anda ingin PKI berdiri lagi?
so, mari kita berkaca pada diri kita masing2, siapapun presidennya kita dukung, bukan malah di cari2 kesalahan inilah itulah, ini presiden masih menjalankn tugas malah sibuk mempersiapkan kampanye lah, pertanyaan di sidanglah.. indonesia oh indonesia, di mana ciri2mu sebagai negara yang agamis, berbudi, menulislah dengan bijak. sudahkah anda menulis tentang anda sendiri, tulisilah anak anda dengan tulisan keindahan, jangan dengan keserakahan, kasihan kami yang capek hidup di negara orang. kalo anda masih ingin indonesia bersatu tulis dengan hati jangan hanya dengan mata dan telinga. tapi jika anda ingin aceh merdeka, papua merdeka, or bali merdeka, ya silakan tulis dengan tulisan menghasut.
the only one thing you should is..yourself not others..
thanks a lots guys.. c u on d other day..
Sadirun, terima kasih atas komentarnya. Berkaitan dengan komentarnya, ada beberapa hal yang perlu aku klarifikasi:
Pertama, aku adalah seorang yang sangat concern dengan kemanusiaan. Atas semangat kemanusiaan inilah maka aku mempertanyakan cara Orde Baru menangani perbedaan pendapat politik yang mengandalkan pembunuhan massal. Apapun pandangan politik mereka, mereka adalah manusia juga. Dalam kasus ini aku sama sekali tidak meng-endorse ideologi atau paham politik tertentu.
Kedua, aku mempunyai hasrat untuk membantu meluruskan sejarah Indonesia dengan harapan masyarakat tahu apa sebenarnya yang telah terjadi di masa lalu. Dengan demikian aku mengharapkan agar peristiwa yang sama, berdarah dan diperkirakan memakan jutaan jiwa manusia tidak terulang lagi.
Ketiga, aku mendukung rekonsiliasi sebagaimana yang dipelopori oleh Nelson Mandela di Afrika Selatan. Jika rekonsiliasi ini terjadi, aku harapkan setiap masalah dapat diselesaikan dengan adil. Beberapa LSM baik secara langsung maupun tidak telah menghasilkan rekonsiliasi horizontal, yang ditandai dengan saling bersilahturaminya antara para korban G30S dan pelaku pembunuhan. Hal yang sama juga terjadi pada keluarga mereka.
Keempat, aku sangat mementingkan keutuhan Indonesia. Aku selalu berpendapat bahwa lidi yang bersatu lebih sulit dipatahkan. Jika kita mempunyai pemerintahan yang integritasnya tinggi, mementingkan kepentingan rakyat banyak maka dengan otomatis penduduk/masyarakat akan hidup tenteram dan dengan sukarela bergabung di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kelima, aku menulis bukan dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Aku mendapatkan uang dari sumber lain yang halal. Di blog ini aku membayar biaya hosting dan lainnya. Sekali lagi, tujuannya adalah untuk kemajuan kemanusiaan dengan cara mengkontribusikan idea bagi Indonesia.
Demikian penjelasan ku. Aku hargai pendapat Sadirun. Marilah kita menerima apa adanya kita, tanpa menutupi masa lampau yang gelap, kita perbaiki dan move on untuk hari esok yang lebih baik.
Dosa Soeharto yang tak dapat dimaafkan:
Membunuh 7 jenderal TNI di Lubang Buaya oleh Untung.
Pembantaian 3 juta rakyat Jawa yang tidak berdosa.
Pembunuhan terhadap Bung Karno, melalui dokter yang ditunjuk
oleh Soeharto. Kata Dewi Bung Karno diracuni secara halus.
Rakyat Ace dibantai seperti sebelih seekor ayam, kuburan masal menjadi kenyataan di Aceh. Apaka dosa keji Soeharto ini dapat dimaafkan..??tentu saja tidak, kalau ada suara dari elite kita agar Soeharto dioakan dan dimaafkan, berarti mereka sudah kenyang dan kaya atas harta rampokan pada saat Soeharto berkuasa. Kasihan rakyat Indonesia selalu dalam pembodohan yang dimainkan oleh elite kita.
menurut gw sekarang qta harus bisa memikirkan bagaimana kondisi kesehatan pa harto bukan malah membuat dia tambah sengsara kasihan kan dia hidup di dunia dah sengsara ko malah di nakherat juga jangan gitu dong
kita harus obyektif menilai seseorang,jangan menilai dengan kebencian dan dendam kesumat,,,tidak akan selaesai.
ingat seorang presiden adalah seorang politikus juga, dari zaman soekarno sampai susilo Bambang Y, seorang politikus itu bisa bermulut manis,pahit kadang-kadang munafik untuk tujuan tertentu.
sebagai rakyat biasa saya hanya melihat sisi kebaikannya saja, dan jasa-jasanya, sedangkan sisi gelapnya biarkan tuhan yang menilainnya,dan setiap masa apapun namanya orde lama, orde baru ataupun reformasi pasti ada sisi baik dan sisi buruknya.dan setiap warga indonesia yang dapat kesempatan hidup pada tiga masa tersebut [orla, orba dan reformasi] berhak merasakan pada zaman yang mana kesejahteraan dan kemakmuran banyak didapat bagi masyarakat indonesia.dari masa ke masa zaman pasti berubah biarkan rakyat indonesia yang menilai pada zaman siapa indonesia mencapai titik kejayaan.apa pada zaman soekarno, soeharto, habibie, abdurahman wahid, megawati ataupun susilo bambang y? setiap bangsa dan negara pasti akan melewati masa pasang surut.lihat di amerika sebuah negara demokrasi terbesar rakyatnya tidak pernah menghujat mantan-mantan presidennya, biarkanlah pergantian presiden sebagai mekanisme demokrasi yang sesuai dengan aturan dan undang-undang, dan sisi gelap masa lalu bangsa indonesia biarkanlah berlalu dan menjadi bagian dari sejarah bangsa indonesia.
Tapi kita bisa liat hasil yang beliau berikan sekarang, dimana program TRANSMIGRASI yang diterapkan pada masa orba, saat ini banyak diantara mereka yang telah berhasil. dengan jatah yang di berikan sekitar 2,5 Ha dulunya. sekarang mereka telah punya paling sedikit 5 Ha. Naik 2 kali dari jatah mereka yang di berikan pemerintah. Bahkan sekarang kalau dari pandangan saya kebanyakan dari masyarakat transmigrasi, terutama yang ada di wliayah Riau mereka telah mampu membeli Kendaraan pribadi ( mobil). Dan sedangkan untuk sepeda motor aja minimal sekarang sEtiap KK bisa punya 2 sampai 3 unit. Bagai mana tidak mungkin, saat ini dengan harga sawit yang sudah tinggi, dengan kebun 5 ha yang ditanami sawit, setiap bulannya mereka mampu memperoleh penghaslan paling sedikit 5 jt setiap bulannya.
Jadi menurut saya beliau sangat berjasa dengan program transmigrasi yang beliau buat selama beliau memimpin di negara yang kita cintai ini.
banyak saudara-saudara kita yang ngomong “dia itu penghianat”, “si anu itu penghianat” dsb, padahal pada kenyataannnya yang ngomong itu sebenar-benarnya PENGHIANAT. Jangan ajari bangsa ini jadi bangsa penjilat, jadi bangsa penghianat karena permainan politik yang sudah berlangsung lebih dari 350 tahun. Budaya politik yang buruk yang diturunkan oleh penjajah belanda seperti adu domba, penjilat dan penghianat, hingga saat ini masih kental di kalangan masyarakat kita khususnya di kalangan kaum poliTIKUS. saya dan sebagian besar masyarakat indonesia lainnya mendambakan suasana yang damai, sejahtera deelel. saya pengen melihat para orang2 yang pintar di negeri ini bisa berguna bagi kaum bodoh seperti kami. kalo saya pribadi, siapapun yang mimpin bangsa ini tidak ada masalah, yang penting dia pemimpin yang baik. Baik ? ya,baik disegala hal. kita punya budaya buruk yang ditularkan bangsa penjajah “pukima nya itu” (maaf), jadi jangan sampai budaya itu dikembangkan lagi pada era reformasi ini. apalagi para mantan pejabat TNI, jangan jadi troublemaker. kenapa sekarang anda baru berbuat, dulu saat anda dinas, anda dimana ? maksud anda sekarang berbuat seperti ini buat apa? ada apa dengan anda? apa kepentingan anda? sebenarnya dimana posisi anda? bangsa ini tidak suka pada bunglon. Maaf, saya tidak punyai kepentingan apapun disini, saya hanya or5ang bodoh yang berusaha belajar dengan membaca apa saja yang bisa dibaca, tapi saya tidak mau otak saya diisi oleh budaya yang diturunkan bangsa penjajah yang saya sebut diatas tadi. tolong teman2 saya, kalo mau berdebat, berdebatlah yang baik, kalo mau bersaing, bersainglah yang baik. jadilah tauladan buat banyak orang. trims.