Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for May, 2007

KONFLIK DAN NILAI YANG HILANG

with 13 comments

Kepala manusia yang ditenteng
Image source: fica.org

Oleh Beni Bevly
Sikap bangsa kita yang selalu diangungkan dan diajarkan di sekolah seperti ramah-tamah, sopan-santun, lemah-lembut dan gotong-royong ternyata menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan. Mengapa? Karena jika terjadi suatu konflik, maka dengan mudah akan meluas dan memakan ribuan korban jiwa manusia. Nilai apa yang hilang pada bangsa ini? Berikut adalah gambaran pengalaman pahit yang patut menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Pagi suatu pagi di SMP Negeri 2, Pontianak, kami sekelas diminta oleh guru bergotong-royong membersihkan halaman sekolah, sebagai salah satu sarana untuk melestarikan nilai bangsa kita yang luhur. Murid-murid membawa peralatan sendiri, dari sapu, pacul, parang hingga arit. Kamipun membersihkan halaman sekolah dengan tenang.

Tak lama kemudian, salah seorang temanku menghampiriku dan membuang rumput yang ia potong di tempat yang sudah aku sapu bersih. Aku bilang, “Jangan kau taruh di situ, aku sudah sapu tempat itu.” Ia tetap melakukannya, aku menyapu lagi dan di menaruh lagi.

Dari tempat yang cukup jauh aku mendengar teriakan, “Jangan kau gangu dia!” Rupanya suara lantang itu datang dari teman sebangkuku. Tetapi, suara itu tidak dihiraukan oleh pengganguku. Dia merasa lucu dengan perbuatannya, sambil tertawa dia menaburkan rumput lebih banyak.

“Ku lempar kau pakai parang!” teriak temanku lagi. Seperti tidak mendengar apa-apa, ia tetap meneruskan perbuatannya. Aku melihat, temanku mengcungkan parangnya, dan dengan sekuat tenaga ia lemparkan ke orang yang menggangu aku tersebut. “Prang…!!!” Suara parang itu menghantam dinding sekolahan. Meleset hanya beberapa sentimeter dari kepala orang yang menjadi sasarannya. Tidak menunggu lagi, pengganggu itu langsung lari terbirit-birit.

Temanku lalu datang mengambil parangnya, layaknya tidak pernah terjadi sesuatu, dia meneruskan memotong rumput di tempatnya. Aku hanya bengong melihat kejadian itu.

Dengan kejadian di atas, aku menjadi bertanya apakah sifat yang dimiliki bangsa kita ini. Agaknya kejadian ini tidak sejalan dengan nilai gotong-royong, yang diklaim menjadi salah satu sifat bangsa Indonesia, yang sedang kami terapkan. Tetapi sekolah mengajarkan bahwa gotong-royong adalah sifat bangsa kita. Di sekolah pula kami disuruh mempraktekkan sifat itu. Searah dengan itu, guru di sekolah juga mengajarkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai sifat yang lemah lembut. Tetapi kejadian ini membuat aku berpikir lain.

Memang kejadian di atas tidak bisa ditarik generalisasi, tapi jika melihat kejadian di depan mata aku mengenai konflik suku di Indonesia, agaknya kata “gotong-royong” dan “lemah-lembut” menjadi ridak relevan.

Pada tahun 1997 aku ke Singkawang, Kalimantan Barat untuk menghadiri pemakaman A Pho-ku (A Pho adalah nenek dalam bahasa Cina Hakka). Aku melihat banyak tentara di persimpangan jalan dengan senjata otomatis. Pagar kawat duri pun masih banyak di pingir jalan. Itulah sebagian tanda perang suku antara Maduara dan Dayak yang baru berlalu di daerah itu.

Orang yang tinggal di Singkawang menceritakan bagaimana mereka melihat kepala manusia yang ditenteng ke mana-mana. Jeritan dan raungan seorang wanita Madura yang sedang hamil minta ampun karena mau dibunuh. Ada sebagian dari orang Dayak yang kebal terhadap tembakan. Ada pula yang bisa menempel dan berdiri di atas daun pohon.

Mereka pun lalu menceritakan latar belakang penyebab perang suku tersebut. Meledaknya perang tersebut karena dua pemuda masing-masing dari suku Madura dan Dayak memperebutkan seorang gadis. Pemuda yang kebetulan adalah anak dari salah satu pemimpin suku Dayak terbunuh.

Mereka menambahkan bahwa masalah Madura-Dayak itu sebenarnya sudah lama berakar. Ada yang mengatakan bahwa sebagai pendatang, suku Madura ingin menjadi “tuan rumah.” Mereka tidak menjelaskan arti “tuan rumah” tersebut. Mereka mengambarkan bahwa orang Dayak sudah lama marah terhadap orang Madura. Orang Dayak merasa haknya dirampas. Ada dari mereka yang bilang bahwa orang Madura penah mengklaim sapi yang bukan miliknya. Jika sapinya diminta kembali, orang Madura tersebut menjawab, “Siapa bilang aku mencuri sapi ini? Aku hanya mengambil talinya dan sapi ini ikut aku.”

Akibat dari pertikaian ini, paling tidak 15.000 orang Madura diungsikan ke Pontianak. Lebih dari seratus rumah dibakar (KOMPAS, Sabtu, 20 Maret 1999) dan diperkirakan lebih dari 1.000 korban jiwa yang jatuh dari kedua belah pihak.

Terlepas dari cerita orang setempat mengenai perang suku ini, menurut Kreitner, R., & Kinicki, A. (1998). Organizational Behavior. Boston, MA: Irwin/McGraw-Hill. p. 337, konflik terjadi antara lain disebabakan oleh kepribadian atau sistem nilai yang tidak cocok, tumpang tindih atau tidak jelasnya pembagian “kerjaan,” kompetisi memperebutkan sumberdaya yang terbatas, komunikasi yang tidak memadai, kebijakan, standar dan peraturan yang sulit dimengerti dan tidak jelas, proses pembutan kepustusan yang kolektif dan konsensus, pengharapan yang tidak terkabulkan dan konflik yang tidak terselesaikan.

Agaknya Allan R. Cohan dan David L. Bradford, Influence Without Authority, New York: John Wiley & Sons, 1990. p. 23-24 membantu kita untuk mencari nilai-nilai yang sangat dasar dan telah hilang selama ini. Mereka mengusulkan bagaimana untuk bedamai dan menjadi kawan yaitu dengan menerapkan nilai-nilai sebagai berikut:

Satu, saling menghormati. Berasumsi bahwa semua pihak berkompeten dan cerdas. Dua, keterbukaan, bicara langsung. Adalah tidak mungkin untuk setiap orang mengetahui segalanya, jadi beri informasi yang mereka perlukan. Tiga, kepercayaan. Berasumsi bahwa tidak ada orang yang akan melukai dengan sengaja. Jangan meyimpan informasi yang berguna untuk pihak lain, walaupun informasi itu tidak langsung berguna untuk kita. Empat, saling menguntungkan. Rencanakan strategy untuk kemenangan kedua belah pihak.

Jika para pemimpin dari kedua pihak, suku Dayak dan Madura, benar-benar mau menerapkan nilai dasar di atas, bukanlah mustahil bahwa ramah-tamah, sopan-santun, lemah-lembut dan gotong-royong pada bangsa kita bisa dihidupkan dan konflik tidak akan dengan mudah meluas menjadi medan yang penuh dengan darah manusia.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

FEAR OF FAILURE IS SBY’S DARK-SIDE PERSONALITY TRAIT

with 5 comments

Written by Beni Bevly

May 22nd, 2007 at 2:47 pm

HITUNG-HITUNGAN SOAL KORUPSI

with 8 comments

Written by Beni Bevly

May 18th, 2007 at 6:24 pm

KEIKUTSERTAAN MISS UNIVERSE: Kemenangan atau Pencemaran?

with 20 comments

Written by Beni Bevly

May 15th, 2007 at 12:43 pm

ON MAY 13, 9 YEARS AGO IN INDONESIA

with 2 comments

Written by Beni Bevly

May 11th, 2007 at 6:32 pm

OTHER WAY TO DECREASE GASOLINE PRICE?

with 4 comments

Written by Beni Bevly

May 11th, 2007 at 12:14 pm

THE BASES OF POWER

with 2 comments

Written by Beni Bevly

May 9th, 2007 at 11:34 am

PEROMBAKAN KABINET: Bagaimana Pendapat Anda?

with 8 comments

Written by Beni Bevly

May 7th, 2007 at 5:27 pm

FOLLOWERSHIP IS JUST AS IMPORTANT AS LEADERSHIP

with 7 comments

Written by Beni Bevly

May 4th, 2007 at 10:10 am

LAYAKKAH SOEHARTO DISEBUT “BAPAK PEMBANGUNAN”?

with 21 comments