Bapak Pembangunan

Oleh Beni Bevly
Menggapi beberapa komentar pada artikel “BUKU BIOGRAFI SOEHARTO: Apa Apaksudnya?” yang menyinggung jasa Soeharto dalam pembangunan Indonesia di masa Orde Baru, timbul pertanyaan benarkah Soeharto berhasil dalam pembangunan sehingga ia layak disebut “Bapak Pembangunan” Indonesia?

Berikut adalah komentar-komentar tersebut:

# AdhiRock said on April 28, 2007 at 5:29 am | Edit This

Mas Benny…
Orde Baru memang simbol pelanggaran HAM dan KKN, tapi kita juga tdk bisa menutup mata “keberhasilan-keberhasilan” orde baru dlm membangun Indonesia.

# evelyn said on April 30, 2007 at 2:41 am | Edit This

Buat aku sebenarnya kemunculan suatu biografi itu merupakan suatu pertanda bahwa orang tersebut tenar atau memang sedang menjalani suatu politik tertentu. Biografi ini muncul dengan alasan keduanya. Dia memang orang terkenal, terkenal akan politik kotornya yang luar biasa canggih seperti sam kok, dia tidak peduli dengan orang lain dan hak mereka jadi tidak heran gelar penjahat HAM didapatnya. Biografi ini munkin akan menjadi media buatnya untuk membuat orang lain percaya bahwa dia pada saat keemasannya memerintah dengan baik. Tidak lain tidak bukan ini untuk membantu dia sendiri agar tidak dijatuhi hukuman yang berat akan kesalahannya yang besar di waktu lampau yang selama ini sudah dilupakan banyak orang ( masyarakat Indoenesia).
Jadi buat saya ini hanya akal2akalan dia saja untuk memperoleh simpatisan dari banyak orang.
Jangan lupa kadang kebohongan bisa disengaja bisa juga tidak untuk sesuatu hal yang berarti. jadi melalui biografi ini kita bisa menilai kebohongan yang ada disengaja atau tidak.

~evelyn
http://evelyn.wordpress.com/

# lenje said on April 30, 2007 at 12:19 pm | Edit This

Well, bukunya mungkin bukan sengaja bermaksud menghentikan reformasi. Tapi yang jelas sebagai upaya memberikan gambaran yang lebih simpatik tentang Suharto, menjustifikasi tindakan2nya, dan menutupi kesalahan.

Oh ya, jasa seseorang tentu tidak dilupakan. Tapi jangan juga kenangan pada “kejayaan” lampau menjadikan kita lupa pada berbagai pelanggaran HAM pada masa itu. Beliau memang telah mengkondisikan sedemikian rupa supaya negara stabil, paling tidak di permukaan. Tapi sekian nyawa juga hilang untuk memperkokoh kekuasaannya. Jangan lupa, beliau belum membayar kesalahannya, karena tiap ke pengadilan pasti sakit :D.

Intinya banyak orang, termasuk penulis buku “Soeharto, the Life and Legacy of Indonesia’s Second President“, Retnowati Abdulgani-Knapp melihat bahwa perkembangan ekonomi pada beberapa dekade masa Soeharto sebagai keberhasilannya karena usaha dan kepintaran Soeharto beserta regimenya. Ternyata Martin Manurung di IndoPROGRESS melihat beberapa coincidents dalam pembangunan di era itu. Jadi pertumbuhan ekonomi yang mencapai rata-rata 8 persen per-tahun bukan hanya semata kepiawaian Soeharto dan regimenya. Antara lain Manurung menyebutkan:

“Pada 1980-an Indonesia menikmati ‘hujan’ keuntungan yang berlimpah akibat melonjaknya harga minyak (oil boom). Hal itu turut menyumbang pembiayaan industrialisasi yang mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, sesungguhnya, pesatnya pertumbuhan lebih disebabkan oleh faktor eksternal (oil boom) ketimbang faktor internal kebijakan domestik (Widjojonomics). Hal itu terbukti dengan, menurunnya pertumbuhan ekonomi segera setelah oil boom usai yang kemudian membuka pintu krisis ekonomi 1997.”

Jika demikian halnya, layakkah ia disebut Bapak Pembangunan? Jika tidak, apakah perlu julukan ini dicabut darinya?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.