LAYAKKAH SOEHARTO DISEBUT “BAPAK PEMBANGUNAN”?
Oleh Beni Bevly
Menggapi beberapa komentar pada artikel “BUKU BIOGRAFI SOEHARTO: Apa Apaksudnya?” yang menyinggung jasa Soeharto dalam pembangunan Indonesia di masa Orde Baru, timbul pertanyaan benarkah Soeharto berhasil dalam pembangunan sehingga ia layak disebut “Bapak Pembangunan” Indonesia?
Berikut adalah komentar-komentar tersebut:
# AdhiRock said on April 28, 2007 at 5:29 am | Edit This
Mas Benny…
Orde Baru memang simbol pelanggaran HAM dan KKN, tapi kita juga tdk bisa menutup mata “keberhasilan-keberhasilan” orde baru dlm membangun Indonesia.# evelyn said on April 30, 2007 at 2:41 am | Edit This
Buat aku sebenarnya kemunculan suatu biografi itu merupakan suatu pertanda bahwa orang tersebut tenar atau memang sedang menjalani suatu politik tertentu. Biografi ini muncul dengan alasan keduanya. Dia memang orang terkenal, terkenal akan politik kotornya yang luar biasa canggih seperti sam kok, dia tidak peduli dengan orang lain dan hak mereka jadi tidak heran gelar penjahat HAM didapatnya. Biografi ini munkin akan menjadi media buatnya untuk membuat orang lain percaya bahwa dia pada saat keemasannya memerintah dengan baik. Tidak lain tidak bukan ini untuk membantu dia sendiri agar tidak dijatuhi hukuman yang berat akan kesalahannya yang besar di waktu lampau yang selama ini sudah dilupakan banyak orang ( masyarakat Indoenesia).
Jadi buat saya ini hanya akal2akalan dia saja untuk memperoleh simpatisan dari banyak orang.
Jangan lupa kadang kebohongan bisa disengaja bisa juga tidak untuk sesuatu hal yang berarti. jadi melalui biografi ini kita bisa menilai kebohongan yang ada disengaja atau tidak.~evelyn
http://evelyn.wordpress.com/
# lenje said on April 30, 2007 at 12:19 pm | Edit This
Well, bukunya mungkin bukan sengaja bermaksud menghentikan reformasi. Tapi yang jelas sebagai upaya memberikan gambaran yang lebih simpatik tentang Suharto, menjustifikasi tindakan2nya, dan menutupi kesalahan.
Oh ya, jasa seseorang tentu tidak dilupakan. Tapi jangan juga kenangan pada “kejayaan” lampau menjadikan kita lupa pada berbagai pelanggaran HAM pada masa itu. Beliau memang telah mengkondisikan sedemikian rupa supaya negara stabil, paling tidak di permukaan. Tapi sekian nyawa juga hilang untuk memperkokoh kekuasaannya. Jangan lupa, beliau belum membayar kesalahannya, karena tiap ke pengadilan pasti sakit
.
Intinya banyak orang, termasuk penulis buku “Soeharto, the Life and Legacy of Indonesia’s Second President“, Retnowati Abdulgani-Knapp melihat bahwa perkembangan ekonomi pada beberapa dekade masa Soeharto sebagai keberhasilannya karena usaha dan kepintaran Soeharto beserta regimenya. Ternyata Martin Manurung di IndoPROGRESS melihat beberapa coincidents dalam pembangunan di era itu. Jadi pertumbuhan ekonomi yang mencapai rata-rata 8 persen per-tahun bukan hanya semata kepiawaian Soeharto dan regimenya. Antara lain Manurung menyebutkan:
“Pada 1980-an Indonesia menikmati ‘hujan’ keuntungan yang berlimpah akibat melonjaknya harga minyak (oil boom). Hal itu turut menyumbang pembiayaan industrialisasi yang mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, sesungguhnya, pesatnya pertumbuhan lebih disebabkan oleh faktor eksternal (oil boom) ketimbang faktor internal kebijakan domestik (Widjojonomics). Hal itu terbukti dengan, menurunnya pertumbuhan ekonomi segera setelah oil boom usai yang kemudian membuka pintu krisis ekonomi 1997.”
Jika demikian halnya, layakkah ia disebut Bapak Pembangunan? Jika tidak, apakah perlu julukan ini dicabut darinya?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.


Ben,komentar-komentar anda dan teman lainnya semuanya benar.
Namun ada hal yang sangat prinsipil yang hingga kini sering disalah artikan. Ekonomi mikro kita disconnect dengan domestic policy rejim yang berkuasa, baik itu jaman Sukarno, Suharto dan sekarang. Saya tidak pernah menganggap domestic policy sebagai bagian yang dapat menghidupi ekonomi mikro kita. Contohnya gini: semua menteri keuangan kita cuma mau dan bisa mengurusi petty cashnya departemen departemen dengan sebutan keuangan negara, sehingga mana ada tax policy yang bisa menumbuhkan ekonomi kita. Contoh lain: semasa berkuasa Suharto meluncurkan paket kebijakan devaluasi, apa terus rakyat jadi bisa makan ya nggak yang ada cuma rejim dan kroninya sebelumnya ngumpulin dulu dollar banyak banyak.
Rejim hanya mengurusi kekuasaan dan manfaat bagi kalangan mereka bukan rakyat. Praktek ini masih terjadi dan terus terjadi.Coba kita lihat kasus lapindo, Adam air, Gembosnya Bank Mandiri,BNI saat saat ini. Sehingga sangat wajar kalau usaha kecil tidak pernah tumbuh menjadi besar. Lalu pertumbuhan ekonomi kita dari mana, ya dari enterepneurshipnya para pengusaha yang jeli dalam setiap keadaan,peluang dan kesempatan.Lalu karena kejelian dan kerja keras mereka ini dihitung statistiknya baik itu penjualan jamu,perkakas,mobil,oli,dll oleh BPS jadilah itu diklaim sebagai pertumbuhan ekonomi yang seakan akan disebabkan oleh policy pemerintah, mana ada itu. Semua hal itu terjadi tanpa pengaruh dari pemerintah.
Maka aneh sekali mengatakan Suharto atau siapapun sebagai Bapak Pembangunan wong yang dibangun itu hutang semua. Orang mau usaha saja dipersulit kok dikatakan pembangunan.Sebaiknya jangan membuang waktu dengan membaca buku atau tulisan sensasional dengan politic imaging bagi seseorang itu semuanya disconected dengan kesejahteraan rakyat. People will say itu apolitic but itu yang harus dimiliki seseorang kalau mau bertahan hidup, jangan coba coba berpolitik atau memihak ke satu atau beberapa parpol bisa bisa nggak bisa makan nantinya.
Jadi lepas dari apa tulisan pada biografi yang dimaksudkan, saya setuju bahwa kehidupan nyata selama rejim 32 tahunnya Suharto beserta policy berjalan telah menjelaskan kepada kita bahwa tidak satu gelar positif apapun yang layak disandang Suharto. Kita dalam kenyataan sehari hari cuma menangani dampak buruk dari policy masa lalu.Misalnya pajak harus ditingkatkan untuk bayar hutang, saya sih nggak merasa ngutang yang merasa nggak merasa toh ya.
Ingat ini rakyatnya bukan penguasanya, kalau penguasa sekarang cuma bisa bilang, lupakanlah masa lalu mari kita bikin lagi penyakit baru, nanti kan anak cucu kita bisa urusin dampak negatifnya. Makanya dibikinlah utang baru sama rakyatnya sendiri pinjam dulu lah ini tak kasih SBI ya nanti yang bayar anak dan cucumu atau saya gadaikan lagi pulau yang lain.
Ben,dkk, ini bukan sinisme tapi fakta. Thanks buat tulisan tulisanya dan forum ini
Alexander Edi Surya
2 May 07 at 3:28 am
Memang pertanyaan yang agak membingungkan apalagi dengan kondisi saat ini yang membuat banyak orang merasa jaman Suharto lebih baik. Mereka berpendapat walau di jaman Suharto orang tidak boleh ngomong dan semuanya serba sarat KKN tapi ekonomi lebih baik dan harga-harga barang lebih murah.
Tapi saya setuju dengan komentar Alexander bahwa “Kerajaan” Suharto dibangun diatas hutang dan tipu muslihat. Apalagi setelah anak-anak Suharto dewasa dan mereka mulai rakus, kondisi ekonomi kita makin gak karuan. Menurut saya krisis yang menghajar kita mulai akhir ’97 yang dampaknya masih bisa kita rasakan saat ini merupakan akibat dari manajemen salah kaprahnya Suharto.
Dan yang pasti dari sudut politik, Suharto bener2 keterlaluan. Semua orang yang tidak sehaluan main disikat dan disingkirkan secara paksa, benar-benar tidak waras. Kita dibawah pemerintahan dia benar-benar tidak punya kebebasan berekspresi. Saya ingat dulu ketika masih di sekolah ada lelucon buat menteri lama bernama Harmoko. Pasti semua juga tau, nama “Harmoko” diplesetkan menjadi “Hari-hari omong kosong” karena sebagai menteri sekretaris negara (kalau tidak salah) dia kerjaannya ngomong mulu tanpa hasil. Nah, saking kita takutnya dengan pemerintahan Suharto, anak kecil pun tau bahayanya menjelek2kan pejabat pemerintahan sehingga setiap ada yang memplesetkan nama Harmoko teman-teman saya yang lain berujar, “Hei, jangan ngomong gitu. Masuk penjara loch.”
Tapi saya salut dia masih tampak sehat dan segar sekarang ini walau yang nyumpahin banyak banget dari Sabang sampai Merauke. Hehe.
guebukanmonyet
2 May 07 at 8:16 am
Hm, karena bidang saya bukan ekonomi, saya merasa kurang punya kapasitas untuk berkomentar soal kebijakan ekonomi. Tapi dari kacamata bukan-pakar seperti saya, fondasi perekonomian kita jelas rapuh, karena kita memerlukan waktu yang lebih lama dari negara Asia lain untuk recover. Pertumbuhan ekonomi kita di atas kertas memang sangat baik (5-6%), tapi barangkali kalo dilihat aspek2 lainnya (tingkat pengangguran, prosentase rakyat di bawah garis kemiskinan) akhirnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut hanya menawarkan kepuasan semu.
Artinya, ternyata yang harus diperbaiki dalam perekonomian kita begitu banyak, kerusakan sudah mengakar, belum ditambah kompleksitas permasalahan lain, yang menyebabkan semua rejim setelah Suharto harus bekerja ekstra keras untuk memperbaiki sedikit demi sedikit. Persoalan mana rejim yang komit dalam upaya perbaikan, silakan masing-masing menilainya sendiri. (Soalnya saya masih berstatus “keparat” pemerintah, hehehe…)
Memang liberalisasi ekonomi seharusnya memberikan kesempatan pada semua orang untuk menjadi partisipan ekonomi, termasuk pada anak-anak Suharto. Sayangnya, jelas sekali bahwa kepada kelompok mereka serta kroninya diberikan berbagai privilege tanpa pertimbangan rasional, juga tanpa evaluasi atas kinerja kelompoknya. Belum lagi berbagai peraturan yang dibuat untuk mendukung lahan garapan mereka (tata niaga jeruk, proyek mobnas).
Bapak Pembangunan? Julukan yang terlalu dini. Lagipula gelar itu ya inisiatif para kroninya juga, hehehe… Tapi pemberian gelar hebat kan emang sering muncul di negara berkembang. Jaman Sukarno dulu beliau bahkan akan dinobatkan menjadi Presiden Seumur Hidup. Beliau juga menjuluki diri sendiri “Penyambung Lidah Rakyat”. Sama kan?
lenje
2 May 07 at 10:06 am
Alex, Guebukanmonyet dan Ienje, terima kasih atas komentarnya.
Alex menyadarkan satu hal yang aku lupa, yaitu ekonomi mikro, terutama keberadaan pengusaha kecil dan menegah. Mayoritas golongan ini tidak merasakan atau tidak dibantu oleh pemerintah. Tetapi sebaliknya, mereka harus menerima keadaan infrastruktur yang jelek, membayar uang keamanan pada preman dan menghingari kejaran atau pemerasan aparat pemerintah.
Sebagai seorang yang dibesarkan di keluarga pengusaha kecil, aku tahu betul bagaimana para pengusaha kecil dan menegah berjuang untuk survive, termasuk survive dari tekanan pemerintahan lokal, polisi, tentara dan preman. Kalau preman datang untuk memeras, hal ini tidak heran, tetapi pemerintah lokal (dari kecamatan sampai tingkat RT), polisi dan tentara (dari pangkat kopral sampai jenderal) datang minta bagian.Kalau ditanya, apa jasa mereka sehingga mereka merasa berhak untuk mendapatkan jatah dari keringat pengusaha kecil dan menegah ini? Aku sulit menjawabnya.
Sebaliknya, banyak hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah — karena telah menerima pajak dari rakyat — tidak dilakukan oleh mereka. Seperti jalan umum yang berada depan tempat pengusaha rusak tetapi diperbaiki dengan biaya pengusaha atau biaya patungan dari pengusha lainnya. Ketika terjadi kerusuhan, tentara baru mau menjaga keamanan jika dibayar. Listrik dan telpon mati baru akan dinyalakan dengan cepat jika ada hubungan “khusus” dengan instansi yang bersangkutan.
Guyonan Guebukanmonyet mengenai Harmoko mengingatkan aku akan guyon politik lainnya, yaitu yang kurang lebih menceritkan tentang tinjauan Soeharto, Tutut dan Harmoko ke desa dengan naik helikopter. Di dalam helikopter, Harmoko bilang, “Mohon petunjuk Bapak Presiden dan Mbak Tutut bagaimana bisa membuat penduduk desa ini senang?”
Tutut menjawab lebih dahulu, “Ini aku kasih kamu segepok 20 ribu. Kamu tebarkan saja, pasti penduduk desa itu senang.”
“Tut, mengapa kamu ini pelit?” Kata Soeharto sambil tersenyum simpati. “Ambil uang 50 ribuan yang ada gambar mukaku dari pada tasku dan minta Harmoko untuk menebarkannya sesuai dengan petunjukku, dengan begitu semua penduduk desa pasti bersuka cita.”
Pilot yang berada di depan mendengar percakapan tiga orang berpengaruh itu dan hanya bisa berkata di dalam hati kerena jika didengar ia takut menjadi salah satu dari orang-orang yang hilang, “Mengapa bukan Pak Harto sendiri saja yang terjun dari helikopter ini, niscahya seluruh penduduk desa itu akan berpesta-pora siang malam.”
Ienje, Lord Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Karena itu siapa saja yang berkuasa perlu dibatasi. Di Amerika yang terkenal dengan sistem Checks and Balances-nya masih tidak mampu menghentikan George Bush yang gila perang dan telah menghamburkan uang negara sehingga dari plus menjadi minus. Kondisi Indonesia yang lebih memungkinkan orang untuk korup karena budaya paternalistik-nya, seharusnya memiliki sistem checks and balances yang lebih kuat dari Amerika.
Alex dan teman-teman, forum ini diadakan supaya kita bisa bicara dengan merdeka terlepas dari latar belakang kita. Juga, jika di antara teman-teman ada yang mau kirim artikel, dengan senang hati akan aku pasang di forum ini.
Beni Bevly
2 May 07 at 6:54 pm
Saya bingung mau mulai darimana krn saya tdk tahu harus mulai dgn apa… mungkin gini aja kali ya…
sebelum tahun 97 Indonesia merupakan final destination bagi negera2 investor (jepang, taiwan and some west country) namun pasca 98 investor bukan saja mengalihkan investasinya ke China, Vietnam dan juga Thailand tapi timbul juga paranoia… krn apa? Pak Harto berperan sbg the fucking cop of damn Indonesia.. Pak Harto bisa mengkondisikan Indonesia dlm keadaan yg kalo orang intelek bilang kondusif jadi benefit buat investor(cheap labor, highly security and huge resources) bayangkan kalo setiap tgl 1 May ada demo buruh, setiap hari ada demonstrasi, setiap hari lahir amrozi2 baru, dan ada sebagian komunitas yg secara tiba2 bisa berperan sbg polisi dan menghakimi dgn caranya sendiri… semuanya bikin jantung investor deg2an dan akhirnya kabur… dilema muncul ketika pak Harto mengkondisikan Indonesia dlm keadaan kondusif orang2 yg katanya intelek berteriak “Indonesia gak demokratis” dan tindakan2 Pak Harto untuk mengkondusifkan Indonesia bercampur pelanggaran HAM. (anggapan orang2 intelek itu salah? 1000% tidak)Namun saya menyayangkan kenapa tdk secara EVOLUSI untuk memulai Indonesia baru? kenapa harus dgn REVOLUSI atau REFORMASI? kenapa harus “grusah-grusuh” kenapa bukan dgn “seperti lagunya Slank – Slow BUT SURE?” Indonesia tdk pernah sadar bahwa sejarah menngatakan REVOLUSI yg pernah ada di Indonesia tdk pernah membawa ke better Indonesia justru menciptakan masalah2 baru. Saya tdk pro Pak Harto dan juga tdk Kontra… saya hanya ingin mengungkapkan apa yg ingin saya ungkapan… seandainya orang2 intelek itu lebih bisa “Indonesia” dlm menyelesaikan Indonesia.
Note: suatu hari Che Guevarra, sebelum di hukum mati oleh tentara Bolivia… ditanya oleh sang eksekutor… “apa permintaan terakhirmu?”
Che Guevarra: “berikan saya sepiring makanan dan sebatang rokok… REVOLUSI hanya akan berjalan dan berhasil kalo perut km kenyang”
AdhiRock
3 May 07 at 2:49 am
Saya tidak tahu detail mengenai ekonomi mikro ataupun ekonomi makro. Tapi saya rasa mungkin Soeharto mendapat julukan bapak pembangunan nasional karena 4hal. Yaitu Kompetensi, kreativitas, komitmen, dan koneksi. Keempat hal itu semuanya dapat dibentuk, dan hal itulah yang menyebabkan dia berjaya. Jangan lupa keempat hal tersebut dapat dibentuk seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman seseorang.
Dinilai dari segi Kompetensi, benar bahwa Soeharto memilikinya terbukti dia mampu menggunakan kesempatan yang ada untuk membawa Indonesia ke jenjang yang lebih baik meski akhirnya krisis ekonomi mulai melanda tahun 1997.
Dari segi kreativitas saya juga kurang banyak data yang pasti dimana letak kreativitas Soeharto dalam memimpin.
Dari segi koneksi, tak usah diragukan lagi. 4 thumbs up buat Soeharto. Antek2nya sangat setia dan loyal padanya, maka wajar dia tidak dapat lengser dengan begitu mudah.
Komitmen, dia sangat berkomitmen sebagai Presiden Indoenesia, buktinya dia sudah berpuluh-puluh tahun menjabat menjadi presiden meski ada maksud buruk didalamnya.
Soeharto seorang Leader yang Do The Things Right. Menjalankan semuanya dengan benar dan sempurna agar dia tidak lengser dan kelhatan baik dimata rakyatnya padahala dapurnya amat sangat kotor dan berantakan. He’s not Do The Right Things!
So apakah dia masih pantas dijuluki bapak pembangunan nasional di Indoneisia?
Silahkan anda putuskan dari penjabaran saya.
~ evelyn
http://evelynpy.wordpress.com/
evelyn
3 May 07 at 3:06 am
Adhi dan Evelyn mempunyai sisi pandang yang lain dan patut direnungkan.
Aku setuju dengan padangan Adhi yang melihat bahwa pembangunan Indonesia perlu dilakukan secara revolusi, yaitu perubahan perlahan dan pasti. Jika hal ini dilakukan dengan benar sejak Indonesia merdeka, niscahya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang ini.
Pembangunan secar revolusi dalam bidang ekonomi memang dilakukan Soeharto dalam program Repelita-nya. Program ini ternyata gagal mencapai tinggal landas menuju masyarakat industri. Menurut pengamatanku dan juga Adhi katakan, kondisi saat akhir tahun 1970-an, tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an adalah momentum yang sangat kondusif untuk pembangunan ekonomi. Masa ini sebenarnya adalah peluang emas Seoharto untuk membawa negara ini menjadi salah satu negara termakmur di dunia. Sayangnya, ia terlibat dan membiarkan para kroninya menggerogoti negara terutama melalui dua perusahaan raksasa negara yaitu PERTAMINA dan BULOG.
Utang luar negeri PERTAMINA sendiri lebih besar dari utang luar negeri Indonesia pada saat itu. Bisa dibayangkan beta parah dan mendarah dagingnya korupsi yang terjadi. Karena semua pihak yang terkait dengan PERTAMINA menikmati uang itu, maka koruptor utamanya, Ibnu Sutowo tidak pernah bisa disentuh. Ia sekeluarga menikmatinya, antara lain melalui kepemilikan Hilton dengan cara menipu Ali Sadikin, mantan gubernur DKI.
Dalam bidang politik, Soeharto melakukan revolusi, yaitu perubahan di bidang politik secara mendasar, capat dan dan keras dengan cara membunuh jutaan orang. Apapun alsannya, ia tidak berhak untuk berbuat demikian. Lihatlah negara lain yang tidak menerapkan demokrasi tetapi bisa maju, mereka tidak perlu membunuh jutaan orang. Hal ini dibuktikan dengan tetangga kita seperti Singapura dan Korea Utara.
Evelyn, Soeharto memang seorang yagn piawai dalam berpolitik. Dari seorang pemain pinggir jalan dan anak desa yang tidak terkenal, bisa mencuat menjadi presiden hampir semumur hidupku ketika aku tinggal di Indonesia.
Karena kepiawaiannya, hingga saat ini peristiwa Gerakan 30 September (G30S) masih remang, dan tidak ada satu ahlipun yang bisa menyatkan secara pasti apa yang terjadi. Tetapi semua sepakat bahwa peristiwa itu adalah termasuk serangkaian politik dalam perebutan kekuasaan oleh Soeharto dari tangan Soekarno.
Soeharto adalah seorang yang sabar dan penuh dengan strategi politik yang canggih. Ia tidak segera turun tangan dan duduk di panggung kekuasaan secara langsung, tetapi satu setengah tahun kemudian sejak peristiwa G30S ia berhasil memaksa Soekarno untuk mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966, yang disebut sebagai SUPERSEMAR, seorang tokoh sakti dari dunia perwayangan, untuk memberikesan betapa powerfulnya surat itu. Dengan demikian resmilah is menjadi penguasa yang diktator.
Adhi dan Evelyn, terima kasih atas komennya.
Beni Bevly
3 May 07 at 12:22 pm
Saya tdk perduli apakah Pak Harto pantas atau tidak,
diberi gelar Bapak Pembangunan.. apapun itu toh cuma sekedar gelar, it isn’t big deal. Kalo sekarang kita hidup di Indoneisa yg lebih baik saya akan bilang “You are f”"”ing idiot Mr. Harto” dan saya akan nangis terharu-haru sama jutaan mahasiswa yg waktu itu memduduki senayan, nangis2 terharu sama Amin Rais dan sedikit sama Prabowo kali ya. Namu sayangnya kita hidup in fierce nation. Jaman Pak Harto yg korupsi cuma eksekutif itupun dibagi-bagi.. tentu sang Harimau dpt bagian lebih banyak (legislatif mentok2 plesiran ke luar negeri pake uang negara-study banding), and now.. eksekutif, yudikatif dan legislatif. kolektivitas bukan cuman di permainan bola, ternyata di korupsi pun mengenal kolektivitas…, kalo dulu situasi aman, buat bisnis adem-ayem, sekarang nggak. cuma orang2 intelek itu pengen hidup di negara demokrasi….hehehehe, aku hidup atas nama kemakmuran bukan atas naman demokrasi. I dont give me damn, kalo hari ini Gaatra dan TEMPO di boikot krn memberitakan Hamid and Yusril yg masih ngeles aja kayak Bajaj menyangkut kasus BNP Paribas and MOTORBIKE.co, gak perduli kalo hari ini gak bisa denger perkembangan kasus Lapindo krn sang empunya adl sponsor SBY dlm menuju kursi presiden. ASLI GAK PERDULI, yg penting Indonesia makmur. forget democrazy think about wealth.
AdhiRock
4 May 07 at 1:01 am
Saya nggak setuju Suharto disebut Bapak Pembangunan. Yang beliau lakukan adalah menciptakan hegemoni. Seolah2 negeri kita ini kaya,aman, damai, padahal itu hanyalah ilusi. Membangun harusnya benar2 BERDAMPAK positif dan bukan sekadar KELIHATAN positif.
Tapi secara jujur,saya sangat kagum pada Suharto.Dia sangat cerdas,cerdik, kharismatik, dan pandai memoles citranya. Kemampuan yang spektakuler,sayangnya disalahgunakan. Coba Suharto juga punya hati yang tulus untuk benar2 membangun Indonesia.Atau coba kalau dia bisa membagikan kelebihannya itu pada orang lain yang tulus hatinya. Tapi ya…manusia nggak ada yang sempurna….
Ria Wibisono
11 May 07 at 8:45 am
Adhi dan Ria, I appreciate your comments. Aku belajar banyak dari setiap komentar.
Untuk Adhi, jika kita pinjam teori Maslow, demokrasi bisa digolongkan sebagai suatu kebutuhan yang secara hirarki lebih tinggi dari kebutuhan “wealth”, yaitu kebutuhan akan pemilikan materi seperti tempat tinggal, makanan, pakaian dan lainnya. Karena itu jika kebutuhan seperti ini tidak tercukupi, orang tidak lagi memikirkan demokrasi.
Ria, menurutku Soeharto memulai pembangunan ekonomi di Indonesia dengan cara yang tidak terlalu susah. Untuk mempersingkat tulisan ini, aku simplifikasi aja … . Pertama ia hanya mengundang investor seperti Freeport dan berkembang ke investor-investor yang tak terhingga jumlahnya untuk mengekploitasi kekayaan alam. Setelah itu ia tarik pajak, biaya perijinan, dan lain-lain.
Pada saat yang bersamaan, investor-investor tersebut butuh infrastruktur (maka dibangunlah jalan, listrik, telpon dsb.), tempat untuk menyimpan dan mendistribusikan uang (maka dibangunlah bank), tempat tinggal (maka didirikanlah hotel dan sarana tempat tinggal), pendidikan (maka didirikanlah sekolahan internasional), kesehatan (didirikanlah rumah sakit), keamanan (dibentuklah tentara yang kuat) dan seterusnya.
Memang keadaan ini membuat roda perekonomian jadi berputar, tetapi pola pembangunan yang terjadi bukan semata-mata untuk kemakmuran rakyat. Maka itu bisa dilihat bahwa pembangunan terjadi hanya ada di lingkungan di mana investor dan pejabat tinggi pemerintah bertempat tinggal. Seperti di kota-kota besar di Indonesia. Masih banyak desa dan daerah pedalaman yang tidak ada jalan beraspal, listrik, air bersih dan rumah sakit atau klinik. Bahkan masih banyak rakyat Indonesia yang telanjang bulat karena tidak terjangkau pembangunan.
Selain itu, pajak, biaya perijinan dan keuntungan dari investor tersebut serta utang luar negeri yang luar biasa besarnya tidak didistribusikan sebagaimana mestinya. Korupsi terjadi di antara aparat pemerintah, dari level yang paling bawah sampai president dan kroni-nya.
Jika demikian halnya, memang Soeharto tidak layak untuk disebut Bapak Pembangunan.
Beni Bevly
14 May 07 at 11:16 am
lalu apa yang bisa kalian berikan kepada negara ini selain bincang2 macam ini?
sori!! anda kebanyakan tinggal di negara2 eropa atau amerika yang standarnya beda dari kami di indonesia.
tentu itu sangat tak adil mengingat kemampuan kita diindonesia beda. tapi bagi kami diindonesia.
kami tidaklah terlalu merasa menderita.
kalo memang sumber dayanya yang harus ditingkatkan, kami pasti mengharap orang orang pandai seperti anda-anda ini bisa pulang dan membangun negara ini. tapi saya juga percaya, banyak dari anda lebih memilih berkerja diluar negeri, mengomentari dari luar tanpa merasakan langsung didalamnya, pasti lebih menarik.
meski pak harto tak layak disebut sebagai bapak pembangunan, tapi dia telah masuk dalam sejarah bangsa ini. dan tanpa bermaksud menutup-nutupi kesalahannya, tulis juga apa yang baik dari seseorang yang telah masuk dalam sejarah, jangan cuma buruknya saja.
iv-
21 Sep 07 at 6:10 pm
Iv Yang Baik, sudah lebih dari 30 tahun Suharto mendapat sanjungan, baik berupa tulisan dan perkataan yang tiada taranya di bumi Indonesia. Aku pikir tulisan ini hanya untuk menyeimbangkan sanjungan tersebut.
Membangun Indonesia banyak caranya, seseorang tidak harus selalu berada di Indonesia. Pada saat ini, Indonesia memerlukan orang yang berani tampil secara jujur dan apa adanya di muka internasional. Pada waktu yang bersamaan orang ini perlu menunjukkan dan bersikap positif bahwa Indonesia masih bisa diperbaiki.
Pada akhrinya, orang seperti ini akan lebih dihargai dari pada pihak yang berbohong dan menutupi kebobrokan Indonesia. Ia akan menjadi duta bangsa.
Beni Bevly
27 Sep 07 at 11:53 am
Presiden Soeharto is the best lah, tegas, lugas, dan berjuang untuk kemakmuran rakyat. wajar kalau beliau kaya dibandingkan dengan pejabat-pejabat sekarang sudah kaya tapi lupa ama rakyatnya
yudhi
1 Oct 07 at 11:08 pm
Yudhi, berkomunikasi dengan sahabat seperti dirimu yang mempunyai pendapat lain dari sahabat yang lain kerap kali membuat aku “pause” dan berpikir lebih jernih.
Memang selama ini sulit untuk menemukan pejabat (president) yang bisa berjuang dengan baik untuk rakyat Indosesia, termasuk pada era reformasi. Walaupun demikian, bukan berarti kita mau merendahkan standar atau tolak ukur kita dalam menilai kinerja dan tindak tanduk seorang presiden. Tolak ukurku adalah menggunakan kreteria yang dimiliki seperti seorang Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi.
Bisakah Yudhi menerangkan bagaimana Presiden Soeharto ini dianggap “the best” jika ia mengorbankan jutaan nyawa manusia pada masa kekuasaanya? Mengapa disebut “the best” jika pada masa oil booming, ia tidak melakukan pembangunan yang merata (tidak ada trickle down effect) dan hanya berpusat pada pekembangan di titik tertentu di mana kroninya berada?
Yudhi, senang mendengar pendapatmu yang berseberangan.
Beni Bevly
2 Oct 07 at 10:46 am
ya mr.beni!!
saya maklum bahwa dengan kejujuran dan tampil apa adanya dalam pergaulan internasional paling tidak akan menghasilkan reaksi yang tepat dari mereka tentang apa dan bagaimana sebenarnya indonesia, tapi kami benar-benar mengharapkan, orang -orang yang pandai dan berhasil di luar negeri bisa pulang juga dan membangun bangsa ini langsung lewat bidang yang ditekuninya.
maaf jika komentar saya sebelumnya terlalu menuntut.
saya orang kecil mungkin hanya bisa berpartisipasi dalam pembangunan lewat bidang pekerjaan yang saya tekuni, tak banyak ilmu yang saya peroleh kecuali dengan mencoba memahami pemikiran orang2 pintar. mengenai korupsi, saya berpikir pasti ada sistem yang salah di birokrasi negara ini, tidak dulu tidak sekarang, buktinya dari awal reformasi hingga saat ini masih juga ditemukan banyak korupsi, bahkan ada aktivis yang dulu berteriak-teriak lantang anti korupsi tapi setelah masuk ke dalam sistem dia korupsi juga. ini tentu menyakitkan bagi kami yang melihatnya.kami berpikir masih adakah orang yang bisa di percaya?
tapi saya sangat berpikir positif tentang “OVERTHINKTANK FOR INDONESIA.”
tapi ada sedikit kritik, bisakah topik yang dibahas yang relevan dengan kondisi saat ini, bagaimanapun menyalahkan masalalu yang suram tentu tak seefektif mengkritisi kondisi real saat ini.
barangkali kritik tsb akan berguna sbg pertimbangan bagi pemerintah sekarang menentukan kebijakan-kebijakan.
iv
9 Oct 07 at 5:02 pm
sori maksud saya “OVERSEAS THINKTANK FOR INDONESIA”
iv
9 Oct 07 at 5:09 pm
Iv, terima kasih untuk bekunjung kembali dan memberi masukan yang membangun untuk situs ini. Aku terima dengan lapang hati kritikan Iv. Seperti umumnya setiap orang, aku juga perlu dikritik.
Aku akan berusaha membahas topik yang relevan dengan kondisi saat ini di Indonesia. Memang harus diakui, seperti Iv katakan, bahwa korupsi memang telah mendarah-daging di banyak orang Indonesia karena udara, makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah hasil polusi korupsi. Untuk itu, diperlukan intervensi, di antaranya dengan menanam tanaman yang mempunyai benih yang baik, menyaring air dan udara yang masuk sebagai upaya mennyingkirkan sumber polusi. Hal ini adalah suatu tugas yang sangat berat.
Aku pikir, untuk kondisi Indonesia, kita butuhkan tokoh kuat seperti ex PM Singapura, Lee Kwan Yu, menerapkan struktur hukum dan aparat tangan besi terhadap segala penyelewengan dan tetap bersikap keras terhadap diri, keluarga, dan handai taulannya. Tidak ada pengecualian.
Beni Bevly
10 Oct 07 at 10:01 am
saya kira kita hanya bisa berkomentar saja…. anda yang berkomentar mau jadi presiden…. satu hal harus diketahui bahwa membangun ekonomi tidak segampang membalikan telapak tangan, membutuhkan proses yang panjang coba perkembangan ekonomi di orde baru jauh lebih baik ketimbang setelah masa orde baru. Yang harus diketahui kita orang indonesia hanya bisa komentar saja tapi disuruh jadi presiden pada menolak ( Memerintah saja tanpa ada perlakuan yang nampak) Hei bung saya justru menyayangkan sekali telah lahirnya era reformasi. kita lihat dimana mana kebebasan yang menurut saya tidak layak dan tidak pantas mencerminkan kita seorang yang berbudaya.( sekendak Udelnya) makanya negara kita ini pantasnya mempunyai pemimpin yang diktator yang tidak ada yang berani utak atuk pemerintahan. Gimana Indonesia maju wong pemimpinannya aja di hujat terus…. mikir atuh mas
Ashoen
14 Jan 08 at 8:13 pm
entahlah!apakah soeharto layak atau tidak di sebut sbagai bapak pembangunan.
soalnya pada zamannya,soeharto bersama dengan para jajarannya yang di bantu dengan istri tercinta telah banyak berperan dalam pembangunan bangsa indonesia,
ya…meskipun telah banyak rumor yang beredar kalau beliau telah koropsi kurang lebih sebanyak 1 triliun.
meski kita akui kalau Soeharto berperan penting dalam pembangunan.
Kalau menurut saya,kinerja Soeharto sudah baik,dalam segi politik,ekonomi meskipun dalam segi demokrasimasih NOL.
siti nurhotimah
27 Jan 08 at 10:51 pm
Selamat jalan Bpk Harto Doa ku untuk beliau, Ya Allah Ampunilah segala Dosa dan kesalahannya, tempatkan beliau ditempat yang layak disisiMU, Jauhkan beliau dari siksa kubur dan siksa neraka, masukkanlah beliau ke dalam syurga MU. Amin………
Sahrul
28 Jan 08 at 1:04 am
janganlah lg kita mengingat dosa2 orang yg telah meninggal, sekarang saatnya kita berpikir, bagaimana membangun negara kita ini. biarlah dosa2 mereka TUHAN YME yang kan membalasnya. Karena kalaua kita membahaas dosa orang terus kita jadi lupa akan negara ini. Kpan lg kita bisa maju, kalau nggak kita ini yang memajukan INDONESIA.
RIZKY FADILLAH
1 Feb 08 at 12:34 am
Someone essentially help to make significantly articles I’d state. This is the first time I frequented your web page and thus far? I amazed with the analysis you made to make this particular put up extraordinary. Magnificent process!
Raeann Beccaria
27 Apr 11 at 11:37 am
magnificent issues altogether, you just received emblem reader. What would you suggest about your submit that you made a few days in the past? Any sure?
abovethecloudsdesign.com
12 May 11 at 5:16 am
Thanks for the sensible critique. Me and my neighbor were just preparing to do some research on this. We got a grab a book from our local library but I think I learned more clear from this post. I’m very glad to see such wonderful information being shared freely out there.
casalunahomes.com
15 May 11 at 1:35 am
Usually I don’t read article on blogs, however I would like to say that this write-up very pressured me to try and do so! Your writing taste has been amazed me. Thank you, quite nice post.
konto-elektroniczne.pl
20 May 11 at 6:48 am
BHTDOWNLOADS NEW
BHTDownloads DDOS Senuke Fight Back!
13 Jul 11 at 11:35 am
Wonderfully written. Thank you for sharing.
Monterey Park Plumbing
19 Aug 11 at 7:53 pm
Hi, I cannot discover how to add your website during my rss reader. Can you Assist me to, please.
Sugar Land Plumbing
21 Aug 11 at 11:58 pm
I’d personally definitely take away time for it to spread this around, thank you so much once more, I will be happy that we found this community.
Torrance Electrical
24 Aug 11 at 6:59 pm
Yes, I quiet agree with you .Nice post and I will surely come back to read more of your post. I have also just subcribed to your post
Herschel Pryer
7 Sep 11 at 3:18 am
This is a extremly interesting post, I found it searching through MSN. There’s no doubt that most readers will concur with your views. Finally – having it . common-sense!
San Jose Electrical
7 Sep 11 at 1:30 pm
It is indeed my great pleasure to talk to your website and enjoy your excellent post here. I prefer that quite definitely. Imperial Beach Divorce Attorney
Imperial Beach Divorce Attorney
9 Sep 11 at 1:10 am
Hey, everyone! I don’t mean to hijack this discussion, but has anyone done business with Comcast Service Center 2 n la salle st suite 1201, Chicago IL, 60602 (312) 985-5626? I’m thinking about employing them for their debt consolidation services, but unfortunately have had some huge headaches with debt consolidation companies previously. Thanks!
Dalia Bivona
5 Oct 11 at 3:45 pm
Hey, everyone! I have no intentions of hijacking this discussion, but has anyone done business with Comcast 817 N Main St Jacksonville FL 32202 (904) 562-2093? I’m considering using them for their debt consolidation services, but unfortunately have had some serious disappointments with debt consolidation firms in earlier times. Thanks!
Kallie Brachle
5 Oct 11 at 4:49 pm
|I don’t normally interrupt great convos such as this with inquiries, but I in dire need of help from whoever in a position to lend me a hand. I’m thinking about employing Comcast 3103 E Grant Ave Fresno CA, 93702 (559) 354-9118 and I wanted to ask if anyone here has employed them in past times. I am seeking both the positive and negative issues with their business. Please get back to me at the earliest opportunity for this is critical.Thanks a lot.
Carol Kostohryz
11 Oct 11 at 4:21 pm
I love your blog.. very nice colors & theme. Did you make this website yourself or did you hire someone to do it for you? Plz answer back as I’m looking to construct my own blog and would like to know where u got this from. kudos
linux cheap vps
10 Dec 11 at 6:41 am
Not often do I encounter a weblog that’s both educated and entertaining, and let me tell you, you may have hit the nail on the head. Your idea is outstanding; the problem is something that not sufficient people are talking intelligently about. I am very happy that I stumbled throughout this in my quest for something relating to this.
el paso pc repair
14 Dec 11 at 11:59 am
The other day, while I was at work, my sister stole my iPad and tested to see if it can survive a 40 foot drop, just so she can be a youtube sensation. My iPad is now broken and she has 83 views. I know this is entirely off topic but I had to share it with someone!
Manchester parking shop
17 Dec 11 at 5:58 pm
soeharto tetap yang terbaik,,,,semoga beliau selamat dalam kuburnya,amin
norman
2 Apr 12 at 5:22 pm
Hi friends, pleasant piece of writing and pleasant urging commented at this place, I am really enjoying
by these.
raspberry leaves
27 Jun 12 at 11:08 am
Nowadays to find a similar Efficient and Effective SEO Automation software at one Time payment of US 99-00 is a rarity\
london 2012
1 Aug 12 at 1:32 pm
Presiden Soeharto, layak jadi pahlawan dan menjadi Bapak Pembangunan Indonesia
sutiknyo
7 Sep 12 at 9:08 pm
LAYAKKAH SOEHARTO DISEBUT “BAPAK PEMBANGUNAN”? at Overseas Think Tank for Indonesia coach bags http://shopping.yahoo.com/coach-bags–shop/
coach bags
9 May 13 at 4:12 am
Adad yang ane disini koba liat
France Bollie
19 May 13 at 5:53 pm
Adad yang ane disini koba liat
Brant Rauser
19 May 13 at 5:59 pm