Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

KONFLIK DAN NILAI YANG HILANG

with 13 comments

Kepala manusia yang ditenteng
Image source: fica.org

Oleh Beni Bevly
Sikap bangsa kita yang selalu diangungkan dan diajarkan di sekolah seperti ramah-tamah, sopan-santun, lemah-lembut dan gotong-royong ternyata menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan. Mengapa? Karena jika terjadi suatu konflik, maka dengan mudah akan meluas dan memakan ribuan korban jiwa manusia. Nilai apa yang hilang pada bangsa ini? Berikut adalah gambaran pengalaman pahit yang patut menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Pagi suatu pagi di SMP Negeri 2, Pontianak, kami sekelas diminta oleh guru bergotong-royong membersihkan halaman sekolah, sebagai salah satu sarana untuk melestarikan nilai bangsa kita yang luhur. Murid-murid membawa peralatan sendiri, dari sapu, pacul, parang hingga arit. Kamipun membersihkan halaman sekolah dengan tenang.

Tak lama kemudian, salah seorang temanku menghampiriku dan membuang rumput yang ia potong di tempat yang sudah aku sapu bersih. Aku bilang, “Jangan kau taruh di situ, aku sudah sapu tempat itu.” Ia tetap melakukannya, aku menyapu lagi dan di menaruh lagi.

Dari tempat yang cukup jauh aku mendengar teriakan, “Jangan kau gangu dia!” Rupanya suara lantang itu datang dari teman sebangkuku. Tetapi, suara itu tidak dihiraukan oleh pengganguku. Dia merasa lucu dengan perbuatannya, sambil tertawa dia menaburkan rumput lebih banyak.

“Ku lempar kau pakai parang!” teriak temanku lagi. Seperti tidak mendengar apa-apa, ia tetap meneruskan perbuatannya. Aku melihat, temanku mengcungkan parangnya, dan dengan sekuat tenaga ia lemparkan ke orang yang menggangu aku tersebut. “Prang…!!!” Suara parang itu menghantam dinding sekolahan. Meleset hanya beberapa sentimeter dari kepala orang yang menjadi sasarannya. Tidak menunggu lagi, pengganggu itu langsung lari terbirit-birit.

Temanku lalu datang mengambil parangnya, layaknya tidak pernah terjadi sesuatu, dia meneruskan memotong rumput di tempatnya. Aku hanya bengong melihat kejadian itu.

Dengan kejadian di atas, aku menjadi bertanya apakah sifat yang dimiliki bangsa kita ini. Agaknya kejadian ini tidak sejalan dengan nilai gotong-royong, yang diklaim menjadi salah satu sifat bangsa Indonesia, yang sedang kami terapkan. Tetapi sekolah mengajarkan bahwa gotong-royong adalah sifat bangsa kita. Di sekolah pula kami disuruh mempraktekkan sifat itu. Searah dengan itu, guru di sekolah juga mengajarkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai sifat yang lemah lembut. Tetapi kejadian ini membuat aku berpikir lain.

Memang kejadian di atas tidak bisa ditarik generalisasi, tapi jika melihat kejadian di depan mata aku mengenai konflik suku di Indonesia, agaknya kata “gotong-royong” dan “lemah-lembut” menjadi ridak relevan.

Pada tahun 1997 aku ke Singkawang, Kalimantan Barat untuk menghadiri pemakaman A Pho-ku (A Pho adalah nenek dalam bahasa Cina Hakka). Aku melihat banyak tentara di persimpangan jalan dengan senjata otomatis. Pagar kawat duri pun masih banyak di pingir jalan. Itulah sebagian tanda perang suku antara Maduara dan Dayak yang baru berlalu di daerah itu.

Orang yang tinggal di Singkawang menceritakan bagaimana mereka melihat kepala manusia yang ditenteng ke mana-mana. Jeritan dan raungan seorang wanita Madura yang sedang hamil minta ampun karena mau dibunuh. Ada sebagian dari orang Dayak yang kebal terhadap tembakan. Ada pula yang bisa menempel dan berdiri di atas daun pohon.

Mereka pun lalu menceritakan latar belakang penyebab perang suku tersebut. Meledaknya perang tersebut karena dua pemuda masing-masing dari suku Madura dan Dayak memperebutkan seorang gadis. Pemuda yang kebetulan adalah anak dari salah satu pemimpin suku Dayak terbunuh.

Mereka menambahkan bahwa masalah Madura-Dayak itu sebenarnya sudah lama berakar. Ada yang mengatakan bahwa sebagai pendatang, suku Madura ingin menjadi “tuan rumah.” Mereka tidak menjelaskan arti “tuan rumah” tersebut. Mereka mengambarkan bahwa orang Dayak sudah lama marah terhadap orang Madura. Orang Dayak merasa haknya dirampas. Ada dari mereka yang bilang bahwa orang Madura penah mengklaim sapi yang bukan miliknya. Jika sapinya diminta kembali, orang Madura tersebut menjawab, “Siapa bilang aku mencuri sapi ini? Aku hanya mengambil talinya dan sapi ini ikut aku.”

Akibat dari pertikaian ini, paling tidak 15.000 orang Madura diungsikan ke Pontianak. Lebih dari seratus rumah dibakar (KOMPAS, Sabtu, 20 Maret 1999) dan diperkirakan lebih dari 1.000 korban jiwa yang jatuh dari kedua belah pihak.

Terlepas dari cerita orang setempat mengenai perang suku ini, menurut Kreitner, R., & Kinicki, A. (1998). Organizational Behavior. Boston, MA: Irwin/McGraw-Hill. p. 337, konflik terjadi antara lain disebabakan oleh kepribadian atau sistem nilai yang tidak cocok, tumpang tindih atau tidak jelasnya pembagian “kerjaan,” kompetisi memperebutkan sumberdaya yang terbatas, komunikasi yang tidak memadai, kebijakan, standar dan peraturan yang sulit dimengerti dan tidak jelas, proses pembutan kepustusan yang kolektif dan konsensus, pengharapan yang tidak terkabulkan dan konflik yang tidak terselesaikan.

Agaknya Allan R. Cohan dan David L. Bradford, Influence Without Authority, New York: John Wiley & Sons, 1990. p. 23-24 membantu kita untuk mencari nilai-nilai yang sangat dasar dan telah hilang selama ini. Mereka mengusulkan bagaimana untuk bedamai dan menjadi kawan yaitu dengan menerapkan nilai-nilai sebagai berikut:

Satu, saling menghormati. Berasumsi bahwa semua pihak berkompeten dan cerdas. Dua, keterbukaan, bicara langsung. Adalah tidak mungkin untuk setiap orang mengetahui segalanya, jadi beri informasi yang mereka perlukan. Tiga, kepercayaan. Berasumsi bahwa tidak ada orang yang akan melukai dengan sengaja. Jangan meyimpan informasi yang berguna untuk pihak lain, walaupun informasi itu tidak langsung berguna untuk kita. Empat, saling menguntungkan. Rencanakan strategy untuk kemenangan kedua belah pihak.

Jika para pemimpin dari kedua pihak, suku Dayak dan Madura, benar-benar mau menerapkan nilai dasar di atas, bukanlah mustahil bahwa ramah-tamah, sopan-santun, lemah-lembut dan gotong-royong pada bangsa kita bisa dihidupkan dan konflik tidak akan dengan mudah meluas menjadi medan yang penuh dengan darah manusia.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

13 Responses to 'KONFLIK DAN NILAI YANG HILANG'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'KONFLIK DAN NILAI YANG HILANG'.

  1. Kalau menurutku sih segala yang baik-baik yang katanya ciri khas orang kita sebetulnya hanya mitos.Buku-buku sejarah kita nyatanya penuh dengan contoh peristiwa horor yang bikin kita merinding : dari zaman Mataram sampai paling akhir (paling akhir?) Mei 1998.

    Salam
    Ook Nugroho
    http://ooknugroho.blogspot.com

    Ook Nugroho

    30 May 07 at 2:12 am

  2. Jika sejarah sudah menunjukkan seperti yang Ook sebutkan, mengapa banyak pemimpin negara yang malah memancing di air keruh, bukannya membantu untuk menjadikan rakyat Indonesia menjadi saling menyayangi satu sama lain.

    Beni Bevly

    1 Jun 07 at 3:32 pm

  3. Maaf nih mau ikutan komen.

    Mengenai sopan-santun sebenarnya itu adalah akar budaya di Asia yang selalu hormat dengan orang yang di atasnya (yg lebih tua). Tidak seperti dunia barat yang menjunjung kesetaraan, bahkan sama orang tua sendiri manggil nama (sekarang ditiru oleh sebagian org Indonesia).

    Di Indonesia dari dulu budaya “bicara lantang” (bebas) itu selalu ditekan, alhasil setiap orang yang lantang disebut lancang. Juga dari SD kita tidak didik untuk saling terbuka, bahkan dalam ujian banyak yang sembunyi2 nyontek. Dan sekarang malah sangat parah Ujian Negara ada Polisi-nya, seakan-akan rasa kepercayaan dalam bangsa Indonesia sudah tidak ada. Bahkan sudah dijaga ketatpun, masih ada yang curang, seperti SMS Subuh, Kolusi antar dua sekolah (yg tukeran pengawas), dll.

    Memang benar kata Bung Beni dalam buku Influence Without Authority, tentang keterbukaan dan bicara langsung. Bicara terbuka merupakan solusi untuk saling menghormati dan bersahabat. Bahkan suami isteripun harus saling bicara terbuka untuk bisa langgeng dalam rumah tangganya.

    Tapi di Indonesia sekarang dengan era Reformasi, sudah banyak orang2 yang bicara lantang, bahkan banyak juga yang lancang. Cuman kadang masih banyak juga yang gampang tersinggung dan tidak mau menerima kritikan, akhirnya konflikpun terjadi.

    Tipe umum orang Indonesia adalah mudah terpengaruh oleh orang lain, kadang tidak berpikir masak2 ketika dpt pengaruh dari luar, terima saja dan tidak peduli akhirnya akan bagaimana. tapi itu tidak semua mungkin ya… Maka ketika zaman Suharto, karena pengaruh dia sangat kuat, maka bangsa Indonesia dengan mudah dikendalikan.

    Tapi untungnya ada reformasi, sifat2 yang ‘mudah dibohongi’ sudah mulai hilang. Sekarang orang2 sudah bisa mengemukakan pendapatnya (ngelawan) sama pemerintah dengan leluasa. Orang bisa mengemukakan pendapatnya dengan bebas. Tapi dibalik kebebasan itu, malah ada yang kebablasan, tidak punya kontrol yang kuat.

    Mungkin ini masih dalam taraf pembelajaran untuk bangsa Indonesia, mudah2an di waktu2 mendatang pikirannya semakin matang. Pertanyaannya: “Ada perubahan yang signifikan (membangun) nggak ya selama 10 tahun reformasi ini?”. Ada yang bilang banyak perubahan, tapi ada yang bilang itu cuman omong-kosong, yg ada cuman malah makin bobrok.

    Well, God Is Great, Only God Knows Why. See your heart, everything begins from your Heart.

    Maulana

    10 Jun 07 at 3:40 am

  4. Maulana,
    Terima kasih sudah mau memberi komentar mudah-mudahan kita bisa menukar pikiran lebih sering. Aku sangat terkesan dengan kalimat penutupmu, “See your heart, everything begins from your Heart.” You are absolutely correct.

    Beni Bevly

    11 Jun 07 at 8:56 am

  5. Rasanya, terlalu menggampangkan masalah bila kepribadian bangsa indonesia dirumuskan dalam satu frase: bangsa (yang) santun dan ramah.
    Indonesia terlalu luas, terlalu beragam, untuk disimpulkan dalam satu kata sifat.
    Betapa shock saya saat kerusuhan Mei saya menyaksikan tua muda, laki-perempuan, bocah dan opung saling tertawa riang menjarah apapun di depan mata. Kulkas, spring bed, troli belanja, dan kalau perlu perempuan pun diangkut!
    Semua dilakukan tanpa raut muka berdosa. Seolah semua pelajaran PMP dan pelajaran agama sekadar satu dari 1001 dongeng Alibaba.
    Sungguh, otak saya terlalu tumpul untuk mencari jawab atas perilaku rusuh, barbar yang diperlihatkan sebagian anak negeri .

    Anang, yb

    14 Jun 07 at 3:58 am

  6. Anang, you said it all. Something is wrong dalam peradaban kita.

    Beni Bevly

    14 Jun 07 at 10:38 am

  7. [...] di bak kecil itu, tempat untuk berkembang banyak yang tercemar, dan “kanibalisme” pun terjadi. Kanibalisme ini terjadi dalam bentuk yang paling halus, seperti main serong, penipuan, perampokan, korupsi dan [...]

  8. Memang harus diakui bahwa awalnya bangsa kita adalah bangsa yang menjaga dan menjunjung tinggi martabat sebagai suatu bangsa yang besar dengan bersikap dan berjiwa ksatria dimata dunia…..Itu dapat dilihat dari isi pembukaan UUD’45 yang berbunyi….penjajahan dimuka dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan…….Atau bahkan dengan politik Indonesia yang ‘bebas aktif’yang ingin ikut serta menjaga ketertiban dan keamanan dunia……Tapi sayang semua itu hanya sebatas sebuah ‘KEINGINAN BANGSA INDONESIA’belaka……….Bukan keinginan orang orang Indonesia yang notaben dalam kehidupan sekarang ini lebih mementingkan Egonya dalam berbuat sesuatu demi kelangsungan KELOMPOK dan KAUM nya belaka…..Bahkan harus diakui bahwa kita orang Indonesia sebagian besar bersikap RASIALIS…..Kita tidak suka dijajah bangsa lain,tapi kita malah suka menjajah dan menindas suku bangsa atau ras yang ada dan telah lama ada sebagai bagian dari cikal bakal terbentuknya negara,bangsa dan budaya tanah air tercinta Indonesia ini……..Nah kesimpulan dari saya,kalau kita mau menjadi suatu bangsa yang besar…..kita tak perlu harus bisa menghormati jasa para pahlawan kita……..Tapi mari kita kupas tuntas permasalan S A R A yang sering menjadi biang kerok perpecahan kita sebagai manusia yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara……..Mari kita sikapi perbedaan ini dengan hati dan nurani……Kita ini satu….Dan Indonesia bukan milik satu kelompok …tapi milik kita semua yang harus kita jaga dan kita pelihara kelestariaannya .

    iwan samudra

    22 Dec 07 at 8:48 am

  9. Iwan, menurutku Gus Dur ketika ia menduduki posisi presiden telah menerapkan hal yang tepat yaitu mengakui perbedaan SARA dan menerima/acceptance apa adanya. Sayangnya, banyak golongan yang tidak siap kebijakan yang ia keluarkan. Ditambah dengan kebijakan lain yang membuat golongan tersebut terancam, akhirnya mereka bersatu mengimpeach Gus Dur.

    Golongan ini bersikap demikian, salah satuya, karena mereka masih terpengaruh dan terkait dengan politik SARA Orde Baru.

    Beni Bevly

    28 Dec 07 at 1:02 pm

  10. nebeng koment yah..kalo menurutQ semua konflik yang terjadi, salah satunya juga disebabkan karena perbedaan nilai2 yang dimiliki bangsa Qta.bukannya menyalahkan ke-multikulturalisme-an Indonesia,tapi lebih pd kemampuan individunya dalam mengolah nilai2 yang ada.

    maya

    8 Jan 08 at 3:22 am

  11. memang sejak suharto lengser, karakter org indonesia itu langsung terlihat.

    yang dulu katanya santun, suka senyum, tapi sangat barbar kalau di sentil sedikit aja.

    ibnu

    10 Aug 09 at 8:54 pm

  12. yah stuju lw gambrn indonesia itu adlh bangsa yg ramh adalh MITOS. lihat saja kata ‘AGAMA’ yg seharusnya memberi org ketenangn n kedamaian tp belakngn ini ga lbh dr sbh kata RADIKAL. lht sj demo2 anarikis yg membw2 atribt2 agama. bgmna ssuatu yg seharusnya identik dg ‘KEDAMAIAN’ ternyata telh di ubh menjd KEBRUTALAN..

    nyek

    9 Dec 09 at 9:17 pm

  13. Maya. Ibnu dan Nyek, terima kasih komentarnya. Agaknya, kasus Bank Century ini juga dengan mudah dimanipulasi oleh pihak yang ingin melihat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang barbar dengan menciptakan kekerasan. Mari kita lawan keinginan immoral seperti itu dengan menolak kekerasan dan buktikan bahwa kita bisa menjadi bangsa yang santun dan beradab.

    Beni Bevly

    10 Dec 09 at 11:26 am

Leave a Reply