Archive for June, 2007
MITOS DAN FAKTA KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT (2): Free sex
Oleh Beni Bevly
Seperti diungkapkan dalam artikel pertama, Mitos dan Fata Kehidupan di Amerika Serikat (1), maka pada Mitos dan Fata Kehidupan di Amerika Serikat (2) akan didiskusikan kehidupan sex di Amerika Serikat (AS).
Mitos Free Sex
Orang sering melihat bahwa kehidupan di AS penuh diliputi dengan kebebasan sex dan begonta-ganti pasangan atau sex secara beramai-ramai. Bahkan para gay dan lesbian-pun bertebaran di mana-mana. Mitos ini diperkuat dengan promosi Las Vegas, atau juga dikenal dengan Sin City yang mengatakan, “What happens in Vegas, stays in Vegas”. Promosi ini memberikan kesan mesum akan kota Las Vegas dan Amerika. Hollywood-pun tidak ketinggalan dalam menciptakan mitos ini dengan film biru dan berbau sex mereka, seperti Basic Instinct.
Fakta
Pada tingkat tertentu mitos ini memang ada benarnya, seperti yang ditunjukkan pada kelompok tertentu, antara lain kelompok eksklusif sex swinger yang pelakunya adalah pasangan sudah menikah. Mereka ini mencari kepuasan sexual melalui cara tukar pasangan. Kelompok yang lain adalah kelompok religius Children of God yang terkenal dengan metode flirty fishing, yaitu mengungkapkan cinta kasih dari seorang wanita kepada pria dengan cara melakukan hubungan sex. Tujuan lainnya adalah membujuk orang supaya mau menjadi pengikut Children of God dan memberikan keuntungan pada kelompok ini. Di samping itu juga ada event-event yang mempertontonkan jenis kelamin pada tempat tertentu seperti Gay Parade atau Pride Parade dan Baker Beach (pantai untuk orang telanjang) di San Francisco.
Sekarang mari kita lihat sebenarnya seperti apa hidup di dalam mitos free sex di AS. Seperti yang pernah aku ungkapkan dalam artikel yang lain, bahwa kejelekan moral, begitu juga kejekan moral yang berkaitan dengan sex di AS seperti gunung es terbalik. Ia kelihatannya besar di permukaan tetapi mengecil di dasar. Bedanya dengan di Indonesia, moral yang jelek seperti halnya gunung es, kecil di permukaan, tetapi meluas di dasarnya. Artinya, orang Amerika cenderung tidak menutupi kebobrokan moral yang terjadi dan tidak dibungkusi dengan penampilan yang alim. Karena ini jugalah maka banyak dari orang di luar AS yang budayanya berbeda melihat, “Yang kelihatannya aja begitu, bagaimana dengan yang tidak kelihatan?”
Balik ke kasus-kasus yang diungkapakan di atas. Kelompok sex swinger ini memang memilih kehidupan sex untuk bertukar pasangan. Walaupun demikian jangan beranggapan bahwa mayoritas orang Amerika adalah swinger. Jadi jika kita bertemu orang bule Amerika di jalan, jangan berkata, “Hey, I heard that you guys are really free in sexual relations, would you like to do it with me tonight?” Hati-hati, kita bisa dilapori polisi atau dianggap orang gila. Sekali lagi, kelompok ini sangat eksklusif dan jumlahnya sedikit sekali. Karena itu sulit sekali untuk bertemu dengan orang seperti ini.
Praktek-praktek Children of God yang kita tahu telah dilarang oleh pemerintah AS. Kini, kelompok ini tampil dengan simpati di bawah nama The Family. Mereka telah menjadi suatu kelompok religius yang sangat hati-hati dalam kegiatannya. Sekarang kelompok ini mempunyai 8,000 “full-time missionaries” di 100 negara. Jadi adalah suatu hal yang salah kaprah jika pada saat ini ada yang beranggapan bahwa dengan menjadi anggota Children of God, maka mereka akan terlibat dalam kebebasan sex.
Gay/Pride Parade di San Francisco tidak hanya melulu menjadi arena mejeng para homo dan lesbian yang kadang tidak berpakaian (kabarnya memamerkan kelamin seperti ini sekarang sudah dilarang) juga sarat dengan informasi moral, seperti raise awarness tentang kanker payudara dan AIDS. Jadi dalam parade ini, tidak sepenuhnya berbau mesum.
Pantai telanjang? Siapa yang tidak tertarik untuk melihat. Begitu juga aku. Di Baker Beach San Francisco, dekat Golden Gate bridge dikenal dengan banyak orang yang berjemur telanjang. Suatu saat aku ke sana. Apa yang aku temui? Ternyata aku melihat beberapa gelintir orang tua gendut dan tidak menarik yang telanjang (maafkan untuk bahasa yang kasar …).
Bagaimana dengan Las Vegas? Kehidupan di Las Vegas memang sangat berbeda dari kehidupan di kota-kota lain di AS. Di sini penjudian dan penjualan minuman dilegalkan. Di kota inipula kita bisa melihat tarian strip tease (tari telanjang) di bar besar dan kecil. Hampir di setiap hotel besar juga dipertunjukkan life show yang terdiri dari para show girls yang cantik jelita dan tidak mengenakan pakaian atas atau topless, seperti pertunjukan yang pernah aku saksikan, Splash di Riviera hotel. Pertunjukan serupa ini dikemas sedemikan rupa sehingga lebih menunjukkan keartistikannya dari pada kefulgaran sexual.
Walaupun Las Vegas memberi kesan mesum, tetapi prostitute atau pelacuran tidak diperbolehkan. Dalam hal ini, pemerintahan AS sangat membedakan antara prostitute dan fantasi. Strip tease, show girls, film biru dianggap sebagai fantasi yang hanya terjadi di benak setiap orang. Tatapi tindakan prostitute akan mendapat ganjaran yang berat, baik terhadap pemakai jasa ataupun penjualnya. Hukuman antara lain adalah tahanan penjara sampai 6 tahun.
Kalimat “What happens in Vegas, stays in Vegas” cenderung dijadikan sebagai alat promosi untuk mendatangkan pangunjung dari luar Las Vegas dan dari manca negara. Kenyataannya, memang berjuta-juta orang terpancing untuk datang ke Las Vegas setiap tahu.
Secara hukum, pengaturan kehidupan sex di Amerika sangat jelas dan ketat. Misalnya, hubungan sexual antara guru atau karyawan sekolah dengan murid tidak diperbolehkan. Seorang dewasa tidak boleh berhubungan sex dengan anak di bawah 18 tahun. Jika hal ini terjadi maka hukumannya sangatlah berat, bisa mencapai hukuman 30 tahun penjara. Lihat kasus-kasus seperti ini. Hukum juga tidak mengijinkan untuk berpoligami, suami mempunyai lebih dari satu isteri dalam waktu yang bersamaan.
Berkaitan dengan penjualan barang untuk orang dewasa seperti majalah Play Boy yang dilarang di Indonesia dan karcis nonton pertunjukan yang R-rated, hukumnya sangat jelas. Bersiap-siaplah untuk menunjukkan ID (Identification Card) yang menjelaskan bahwa anda berusia 18 tahun ke atas kepada penjualnya. Jika terbukti bahwa penjual tidak memenuhi persyratan hukum ini, maka mereka akan dikenakan hukuman atau denda.
Dari kalangan orang Indonesia yang sudah menetap di AS, terutama wanita atau isteri ada yang berpendapat bahwa para suami menjadi lebih setia dibandingkan ketika ada di Indonesia. Bagaimana pendapat anda?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
MENGENAL DEMOKRASI AMERIKA SERIKAT DI TINGKAT LOKAL
Oleh Beni Bevly
Pesta demokrasi tingkat nasional, yaitu pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) selalu menjadi sorotan dunia internasional dan menjadi bahan perbandingan bagi negara lain. Bagaimana dengan mekanisme demokrasi tingkat lokal atau di tingkat paling rendah yaitu distrik khusus (special district/district)? Bukankah ini juga bisa dijadikan bahan perbanding bagi negara lain, seperti Indonesia? Agaknya hal ini belum begitu banyak didiskusikan di berbagai forum studi.
Pada tanggal 19 dan 20 Juni 2007, aku sempat terlibat dalam mekanisme atau proses pelaksanaan sistem politik demokrasi AS tingkat distrik di Mountain House, sebuah kota yang sedang dibangun yang terletak kurang lebih 60 mile di sebelah timur kota San Francisco, Kalifornia. Dalam pertemuan dua hari yang diberi nama Advisory Committee Workshop itu dibahas dan dicari kesepakan apakah Mountain House akan berubah dari dependent district menjadi independent district dan bagaimana caranya. Dalam pada itu juga didiskusikan konsekwensi terkait seperti aspek sosial, ekonomi, politik dan hukum, terumtama tentang Brown Act. Tetapi bahasan kali ini tidak akan menyinggung beberapa aspek ini.
Dalam workshop itu diterangkan bahwa di AS terdapat lima lapisan sistem pemerintahan, yaitu dari mulai tingkat yang paling tinggi federal, state, county, kota dan district adalah tingkat yang paling rendah. Kita sudah sering dengar mekanisme demokrasi yang terjadi pada tingkat federal dan state. Kedua tingkat ini yang melibatkan pemilihan presiden, senator, assamblyman, dan gubernur secara langsung oleh rakyat. Hal ini bisa kita saksikan melalui tayangan telivisi, seperti bagaimana George Bush dan Al Gore bertarung memperebutkan posisi presiden di tingkat federal. Arnold Schwarzenegger dan Gray Davis memperebutkan kusi gubernur di tingkat state atau di tingkat negara bagian Kalifornia.
Pada tingkat county, lebih kecil dari state, para politikus bertarung memperebutkan kursi Board of Supervisors (BoS). Di tingkat kota dan special district, mereka memperebutkan posisi Mayor dan Board of Directors (BoD). Special district di sini mempunyai arti yang lain dari pengertian district secara umum di AS.
Mountain House (MH), kota yang baru mulai dibangun pada tahun 2001 ini, sekarang masih berstatus sebagai dependent district, artinya semua keputusan mengenai aktivitas kota ini ditentukan oleh Board of Supervisor di tingkat county. MH baru bisa menjadi independent district jika sudah mencapai 1.000 registered voters (pemilih sah dan tercatat yang berwarga negara AS). Dengan status independent district, MH akan mempunyai wewenang untuk mengelolah pekerjaan yang selama ini ditangani oleh county seperti pekerjaan umum (membangun sarana public, perijinan penggunanan tanah tetap harus dapat persetujuan dari county), keamanan (polisi, pemadam kebakaran dan emergency), dan pelayanan umum (air, listrik dan lain-lain).
Bagaimana langkah untuk menjadi independent district? Di sinilah dimulainya proses demokrasi AS di tingkat lokal/paling rendah. Pertama, begitu penduduk MH mencapai 1.000 pemilih (dalam hal ini sudah terjadi), BoS akan bertanya pada penduduk MH melalui pemilihan, apakah MH ingin mempunyai BoD dan menjadi independent?
Kedua, jika jawaban pada pemilihan pertama adalah “ya”, maka dilakukanlah pemilihan BoD yang akan menggantikan peran BoS di tingkat county.
Lebih rincinya, BoS memulai proses ini dengan memilih lima orang Advisory Committe (AC) dari MH. BoS mengumumkan kepada semua penduduk MH bahwa barang siapa yang mau menjadi AC bisa mengajukan lamaran pada BoS. Ternyata ada 35 orang yang melamar dan dipilih 5 orang.
AC ini bersifat sementara dan hanya bertugas mewakili seluruh penduduk MH ini memberikan masukan pada BoS tentang kapan akan dilakukan pemilihan untuk menjadi independent dan pemilihan anggota BoD, serta metode apa yang dipilih. Dalam memenuhi tugas yang tidak dibayar ini, AC harus mencari tahu kurang lebih apa maunya penduduk MH. Termasuk bertanya dan minta pendapat para peserta Advisory Committee Workshop yang salah satu pesertanya adalah aku. Untuk membantu mempermudah tugas AC, BoS telah mengadakan survey yang berkaitan dengan pertanyaan di atas.
Diakhir workshop itu, disepakati pemilihan untuk menjadi independent district akan dilaksanakan pada tanggal 6 November 2007. Sedangkan pemilihan BoD akan dilaksanakan pada bulan November 2008 yang digabungkan dengan pemilihan umum nasional.
Pencapain kesepakan mengenai metode apa yang akan dipakai ternyata tidak semudah seperti penetapan waktu pemilihannya. Perdebatan di topik sekitar ini telah dimulai pada hari pertama workshop. Perlu diketahui, dalam pemilihan tingkat district ada tiga metode yang dipakai. Pertama, metode At Large. Dalam metode pemilihan ini, semua calon BoD berasal dari MH dan dipilih oleh semua pemilih yang sah dan bertempat tinggal di MH.
Kedua, metode By Divisions. MH dibagi dalam lima devisi secara geografis, yaitu sesuai dengan jumlah BoD. Calon BoD harus mewakili divisi di mana ia tinggal dan mereka hanya dipilih oleh penduduk di divisi itu.
Ketiga, metode From Divisions. Seperti halnya By Division, MH dibagi dalam lima devisi secara geografis. Calon BoD harus berasal dari divisi di mana ia tinggal, tetapi mereka dipilih oleh semua penduduk MH.
Setiap peserta workshop yang mencapai 20 orang ini diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai metode pemilihan tersebut di atas. Aku sendiri berpikir bahwa metode From Division lebih cocok untuk MH. Alasan yang aku kemukakan adalah BoD yang terpilih akan lebih mengetahui dan bisa menyampaikan aspirasi dari divisi di mana ia tinggal, tetapi tetap membina persatuan karena ia pemilihnya berasal dari oleh semua divisi.
Di samping itu, aku katakan bahwa metode ini akan lebih menjamin tertampungnya keanekaragaman kepentingan penduduk MH. Aku juga ingatkan bahwa metode apa saja yang dipakai pada pertamanya akan susah diubah, karena BoD yang berhasil keluar sebagai pemenang dengan metode itu akan cenderung mempertahankannya, supaya ia terpilih kembali. Karena itu penetapan metode jangan hanya berdasarkan mudahnya saja.
Ternyata yang sependapat dengan aku jumlahnya adalah minoritas. Mayoritas lebih menyenangi metode At Large yang dianggap mudah pelaksanaanya dan akan membawa persatuan.
Proses ini mengingatkan aku ketika aku masih di Indonesia. Pada saat itu, sekitar tahun 1997, aku tinggal di kota Lippo Karawaci, suatu kota yang sedang di bangun oleh Lippo Group. Pemerintahan propinsi atau kabupaten di Jawa Barat sama sekali tidak melibatkan penduduknya untuk membangun pemerintahan di kota itu. Sayang sekali, penduduk di sana, termasuk aku hanya menjadi penduduk yang apolitis dan menerima semua keputusan yang tidak demokratis.
Wilayah Indonesia masih begitu luas dan masih banyak kota baru yang akan dibangun. Akankah penduduknya dilibatkan dalam pesta demokrasi serupa ini?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
MITOS DAN FAKTA KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT (1): Sekolah Gratis dan Uang Cuma-Cuma dari Social Security
Oleh Beni Bevly
Sebelum menetap di Amerika Serikat (AS), aku dan beberapa rekan setanah air mempunyai mempunyai persepsi yang ternyata tidak sesuai tentang kondisi dan kehidupan di negara Paman Sam ini. Dengan kata lain, tidak jarang persepsi kita hanyalah mitos, bukan kenyataan tentang kehidupan di AS. Pada bagian pertama dari artikel ini, aku kemukakan mitos dan fakta kehidupan yang berhubungan dengan uang sekolah dan uang dari Social Security.
Mitos Sekolah Gratis
Banyak orang berpendapat jika sudah menjadi resident, yaitu penduduk AS yang memegang Green Card ataupun Warga Negara AS, maka ia akan bisa menikmati sekolah hingga tingkat menengah atas secara gratis.
Fakta
Untuk sekolah swasta, sebagaimana halnya di Indonesia, penduduk AS tetap bayar. Untuk sekolah negeri yang dikelolah pemerintah, memang muridnya tidak membayar uang sekolah secara langsung. Pertanyaannya, siapa yang bayar? Yang bayar adalah semua penduduk resmi AS. Pembayaran ini dilakukan melalui pajak yang disetor oleh mereka ke Internal Revenue Service atau IRS (Departemen Perpajakan AS) sampai 35% dari pendapatan secara berkala setiap tahun (smbiz.com), sekitar 8% dari pajak penjualan untuk negara bagian Kalifornia, kurang lebih 1% dari pajak bangunan dan untuk kota tertentu ditambah assessment fee sekitar $2.500 per tahun bagi pemilik rumah.
Jika pendapatan seseorang $100.000 per tahun yang termasuk cukup tinggi, dengan harga rumah yang ia miliki sekitar $600.000 (harga yang termasuk paling murah di San Francisco), maka pajak yang dibayar ke pemerintah di luar pajak penjualan adalah sebesar $36.500 (28% dari $100.000 + 1% dari $600.000 + $2.500 essessment fee). Di dalam nilai $36.000 itu, sebagiannya digunakan oleh pemerintah untuk membiayai sekolah. Jadi mitos sekolah gratis di AS adalah tidak benar.
Perlu diingat bahwa pada umumnya orang Amerika lebih takut IRS dari pada polisi, karena jika ketahuan menipu IRS, maka denda dan hukuman yang dikenakan biasanya dalam jumlah yang besar dan berat. Oleh karena itu, jarang ada orang yang berani menggelapkan pajak dengan cara seperti yang dilakukan di Indonesia.
Mitos Mendapatkan Uang Cuma-Cuma dari Social Security
Sebagian orang berpendapat bahwa dengan uang Social Security (SS), penduduk AS tidak perlu kwatir mengenai hari tua dan tidak kerjapun akan ditanggung oleh pemerintah.
Fakta
Perlu diketahui bahwa dana SS adalah semacam dana pensiun dari pemerintah yang disetor tiap bulan oleh karyawan dan pengusaha ke pemerintah dengan total 12,4 persen dari pendapatan karyawan sampai $90.000 per tahun per kepala (house.gov). Hal ini akan lebih bisa dimengerti jika dipergunakan contoh hitungan dari kalkulator on line SS (ssa.gov) tentang benefit yang diperoleh dari SS setelah pensiun pada usia di atas 65 tahun. Menurut perhitunganku, jika seseorang yang lahir pada tahun 1950 dan mulai bekerja pada usia 18 tahun dengan pendapatan $5.000 pertahun dan diakhiri dengan pendapatan $65.000 per tahun ketika ia menginjak usia 65, maka benefit yang ia terima setelah ia pensiun adalah berkisar antara $1.500 sampai $2.000 per bulan. Jumlah ini akan menjadi lebih kecil bagi imigran yang baru datang dan mulai bekerja pada usia yang sudah pertengahan.
Jumlah uang yang sedemikian tidaklah memadai untuk kehidupan di kota besar dan di negara bagian tertentu yang living cost-nya tinggi. Sebagai contoh, untuk hidup dengan layak dan menyewa apartement satu kamar di San Francisco (bukan rumah), biaya kehidupan minimum dibutuhkan sekitar $2.500 per bulan. Untuk perbandingan lihat wowonline.org (Jason B. Johnson, San Francisco Chronicle). Jelas dengan uang SS seperti itu, sangatlah sulit untuk bisa hidup berkecukupan di San Francisco atau kota besar di AS lainnya. Seorang pensiunan tidak akan menikmati kehidupan yang “nyaman.”
Penting untuk diketahui bahwa dana untuk SS di bawah pemerintahan George W. Bush terancam bangkrut (Kevin Lansing, Can the Stock Market Save Social Security? frbsf.org). Kondisi seperti ini lebih tidak menjanjikan lagi untuk mengandalkan uang pensiun dari SS.
Hal lain, ada yang beranggapan bahwa tidak kerjapun tidak menjadi masalah karena kita akan mendapat uang dari SS. Kenyataannya uang yang diterima bukan dari SS tapi dari Unemployment Insurance Fund yang jumlah rata-rata diterima oleh seorang penganguran berkisar $280 per minggu ( Martha Coven, Intruduction to Unemployment Insurance, cbpp.org, November 10, 2003). Uang yang berasal dari kontribusi karyawan sebesar 1% dan pengusaha sebesar 0,5% dari gaji karyawan ini dikelolah oleh US Department of Labor dan Employment Development Department (EDD).
Uang yang rata-rata berjumlah $1.120 per bulan itu ($280 x 4 minggu) hanya diberikan pada karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja atau lay off karena restrukturisasi atau rasionalisasi perusahaan. Jika karyawan berhenti dengan sukarela atau diberhentikan karena melanggar hukum dan tidak produktif, maka karyawan tersebut tidak akan mendapatkan benefit ini. Selain itu, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan uang ini, seperti melaporkan kegiatan mencari kerja, harus mengikuti pelatihan kerja, selama masa bantuan itu, orang tersebut tidak boleh bekerja. Dengan persyaratan yang ketat dan uang yang tidak mencukupi kehidupan minim itu, pertanyaanya: apakah kita mau hidup dengan kondisi seperti itu dan apakah bisa? Kenyataannya sangat sulit.
Pada MITOS DAN FAKTA KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT (2) akan didiskusikan kehidupan sex di Amerika.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
NATIONAL BRANDING FOR INDONESIA

UK national branding logo
Image source: logolounge.com
By Beni Bevly
The government of Indonesia plans to create national branding that will be used nationally as one of the efforts to develop tourism, investment and trading sectors. The Minister of Trade, Mari Elka Pangestu said, “For Indonesia, the branding issue must start from changing the bad perceptions about the people of Indonesia, safety, and natural disasters” (Antara.co.id, June 4, 2007). The question is what is actually national branding? What are the obstacles to promote Indonesia’s new branding? How to change the bad perceptions that mentioned by Pangestu?
The terminology of branding originally was derived from business or management discipline. Management and business guru Philip Kotler in his B2B Brand Management mentioned branding is about promising that the company’s offering will create and deliver a certain level of performance. The promise behind the brand becomes the motivating force for all the activities of the company and its partners. Furthermore he said, thus branding is the road that a company must travel to define what it wants to be excellent at and how its offerings differ from competitors.
In other words, if we put it in a nation context, national branding is about promising that the nation’s offering will create and deliver a certain level of performance. It is the road that a nation must travel to define what it wants to be excellent at and how its offerings differ from others.
In the case of national branding for Indonesia, the government needs to define what they want Indonesia to be excellent at. Despite of what the government would say about it, it is easier for us to discover what we, as the people of Indonesia do not want Indonesia to be.
Do we want to be a barbaric and be one of the most unstable nation in the world? This question is asked because Indonesian government never solves the barbaric actions that conducted by New Order under Soeharto who killed more than one million people in his anti-communist political campaign in 1965-1966. The government also never punishes the actors behind May 1998 riot that caused at least 1,000 people died, 168 cases of rape, destroyed an estimated Rp. 3,200 billion in stock and property. There were civil wars between tribes and different religion practitioners that caused more than 1,000 people died in late 1999 and early 2000s. It was reported that one fourth of East Timor population (200,000 people) were eliminated by Indonesian army or died because of starvation, but there was no consequence for the commander in chief who involved (etan.org, February 18, 1999)
Do we want to be a nation that easily destroyed and has difficulty to recover from natural disasters? The Asian tsunami of December 26, 2004; a magnitude-8.7 earthquake on Nias Island in March 2005; the Yogyakarta earthquake; a mud volcano in East Java in May 2006; a magnitude-7.7 quake and tsunami along the southern coast of Java in 2006; flooding and mudslides in North Sumatra and Aceh provinces in December; flooding in Jakarta in February; and a magnitude-6.3 earthquake and magnitude-6.1 aftershock in West Sumatra in March stroke Indonesia. Indonesia was just like a tiny puppet that had lost its effort to survive and recover.
In the Asian tsunami itself, Indonesia suffered 4.45 billion dollar AS (ADPC, 2005). The main problem is about how Indonesian government responds to these disasters? Compared to Thai government, Indonesia was far left behind. Now there is almost no sign seen if there was a disaster in Thailand, while we still see a lot of people are suffering in Indonesia because of that disaster (beritaiptek.com, December 26, 2006).
Do we want to be portrayed as a nation that is ranked as the most corrupt country in Asia by foreign businessmen? (tvnz.co.nz , March 8, 2005). In my previous article, I identified that there was Rp. 2,100 trillion had been corrupted for the last 30 years.
Do we want to be perceived as one of the nests of terrorists just because the minority Muslim fundamentalists’ actions? Kim Barker from chicagotribune.com described, “Extremist groups have recruited new members, fought a jihad, or holy war, on one of the country’s islands, and staged three major terrorist attacks against Western targets, including one in October 2002 at two nightclubs on the island of Bali that killed 202 people, mostly foreign tourists.” (chicagotribune.com, December 15, 2004). This statement even scares more westerns by looking at the fact that Indonesia has the largest Muslim population in the world, i.e. 90 percent of the 238 million people in Indonesia say they are Muslim.
The above questions become the bad perceptions and finally they also become Indonesia government’s obstacles and challenges to create a new national branding.
Regardless what kind of national branding that government will promote, these obstacles and bad perceptions have to be changed or removed. Firstly and foremost, we need to change the character of our people and the government officials. The purpose of changing the character is to eliminate and prove that the above incidents, such as the barbaric and immoral actions will not be repeated again, the corruptions will be treated as infidel, and Indonesia will be more moderate and ready to cooperate with the international society.
Secondly, to meet our new national branding, the people need to be trained in line with the message in the new national branding. It would be impossible to promote the new national branding without supported by Indonesians’ new behaviors.
With the government’s plan to create the new national branding, will the new Indonesia emerge in international forum? Will it benefit its people? Let’s wait and see.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
KEHIDUPAN SOEKARNO DI BULAN JUNI: Cermin Penghinaan Terhadap Seorang Founding Father
Oleh Beni Bevly
“Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” Soekarno, Menggali Api Pancasila.
Ada dua peristiwa sangat penting yang terjadi kehidupan Soekarno pada bulan Juni, tahun 1970. Sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, mengatakan bahwa Soekarno telah “dibunuh dua kali” karena Hari Kelahiran Pancasila yang Soekarno bidanin pada 1 Juni 1945 dilarang oleh Orde Baru untuk diperingati. Pada tanggal 21, bulan Juni 1970 jugalah, Soekarno meninggal di “penjara” di Wisma Yaso, Jakarta dengan kondisi yang tak terawat (Asvi Warman Adam, Pancasila dan Soekarno, jawapos.com) Larangan untuk memperingati hari lahirnya Pancasila adalah pembunuhan pertama dan kematian Seokarno di Wisma Yaso adalah pembunuhan kedua.
Aku menilai peristiwa ini sebagai suatu cerminan penghinaan terhadap seorang founding father. Betapa tidak? Perjuangan untuk memerdekakan Indonesia dan menyatukannya di bawah Pancasila dengan melewati rintangan yang panjang, berat dan keluar-masuk penjara di bawah penjajah ternyata pada hari terakhirnya, Soekarno harus meninggal di dalam “penjara” di negara yang ia merdekakan. Bukan itu saja, Pancasila yang ia mimpikan akan menjadi dasar negara yang mulia ternyata menjadi senjata yang ganas dan dipergunakan untuk menumpas jutaan rakyat Indonesia di bawah rejim Soeharto.
Untuk menghilangkan arti Pancasila yang sesungguhnya, Soeharto melarang peringatan hari lahirnya Pancasila pada setiap tanggal 1 Juni. Hal ini dilakukan agaknya berkaitan dengan ide pencetusan Pancasila oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Ide ini dituangkan dalam pidato di depan BPUPKI, ia mendapatkan sambutan sangat meriah dan tepuk tangan paling ramai. Intinya, Soekarno melihat bahwa Pancasila bisa dipakai sebagai alat yang bisa menerima perbedaan dan mempersatu bangsa yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Untuk memperlihatkan betapa beragamnya bangsa Indonesia, Sokarno pernah mengaku kepada Louise Fischer, bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu (Clifford Geertz, Islam Observed, 1982). Tetapi Soeharto mempergunakan Pancasila sebagai alat penumpas perbedaan dan alat memperkokoh kekuasaan.
Bukan itu saja, untuk memperkokoh Pancasila, Soeharto mengidentikan Pancasila sebagai perisai yang menghancurkan PKI di Indonesia dengan menetapkan Hari Kesaktian Pancasila dan diperingati secara sakral pada setiap tanggal 1 Oktober. Di samping itu Pancasila juga dijadikan asas tunggal bagi semua partai politik dan organisasi masyarakat tanpa kecuali.
Ideologi itu dikampanyekan secara nasional dan lewat pendidikan sekolah. Penataran dilakukan secara berjenjang dan menggunakan anggaran negara. Namun, Pancasila yang diajarkan sudah direduksi menjadi sekian butir-butir sifat yang harus dihafal. Pancasila juga digunakan sebagai alat pemukul bagi kelompok yang kritis. Orang yang menolak tanahnya digusur dicap “anti-Pancasila” (Asvi Warman Adam, Pancasila dan Soekarno, jawapos.com).
Yang lebih menyedihkan lagi, seperti di singgung di atas, Soekarno diberlakukan seperti seorang “kriminal” di Wisma Yaso, Jalan Gatoto Subroto, Jakarta. Kabarnya, semua hubungan Soekarno dengan dunia luar ditutup. Ia tidak dijinkan untuk mendengar radio, menonton televisi dan membaca koran. Selama di wisma itu, ia hanya ditemani oleh seorang dokter umum yang tidak memiliki spesialisasi sehingga pada saat Seokarno sakit komplikasi, ia tidak mendapat perawatan yang layak. Lebih dari itu, Soekarno juga sangat dibatasi untuk menemui keluarganya. Dengan bantuan seorang dokter gigi keturunan Cina, Oei Hong Kian, ia bisa menyelinap keluar dengan mengaku sakit gigi. Itulah satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki, yaitu berkumpul dengan keluarganya.
Apakah Soekarno diam saja terhadap semua penghinaan yang ia alami sejak tahun 1965? Ternyata tidak. Hal ini dibuktikan dengan pidato yang berjumlah 103 kali dalam periode 1965-1967. Di antaranya yang diketahui oleh umum adalah pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara, yang ditolak MPRS tahun 1967. Selebihnya pernyataan dan pidato Soekarno tidak disiarkan oleh koran-koran, radio ataupun televisi yang telah dikuasai Soeharto.
Berikut adalah beberapa pernyataan Soekarno yang patut diketahui oleh Rakyat Indonesia (tokohindonesia.com):
Dalam pidato 20 November 1965 di depan keempat panglima Angkatan di Istana Bogor BK mengatakan, “Ada perwira yang bergudul. Bergudul itu apa? Hei, Bung apa itu bergudul? Ya, kepala batu.” Tampaknya ucapannya itu ditujukan kepada Soeharto. Pada kesempatan yang sama Soekarno menegaskan, “Saya yang ditunjuk MPRS menjadi Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Subandrio. Bukan Leimena…. Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto, dan seterusnya (berbeda dengan nama tokoh lain, Soeharto disebut dua kali dan secara berturut-turut).
Tanggal 12 Desember 1965 ketika berpidato dalam rangka ulang tahun Kantor Berita Antara di Bogor, Presiden mengatakan tidak ada kemaluan yang dipotong dalam peristiwa di Lubang Buaya. Demikian pula tidak ada mata yang dicungkil seperti ditulis pers. 100 silet yang dibagikan untuk menyilet kemaluan jenderal itu tidak masuk akal.
Memang Soekarno tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan, sebagai contoh ketika tahun 1963 diangkat sebagai presiden seumur hidup, ia tidak menolak. Tetapi bukan berarti bahwa jasa terpentingnnya seperti sebagai perumus Pancasila bisa dipungkiri dan dimelencengkan. Juga bukan berarti bahwa kebebasan fisik, pikiran dan mentalnya bisa dikekang dan dianiaya begitu saja. Akhir kata, Soekarno bukanlah tokoh yang patut dihina, tetapi ia adalah lambang pemersatu bangsa. Bukankah suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.




