KEHIDUPAN SOEKARNO DI BULAN JUNI: Cermin Penghinaan Terhadap Seorang Founding Father
Oleh Beni Bevly
“Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” Soekarno, Menggali Api Pancasila.
Ada dua peristiwa sangat penting yang terjadi kehidupan Soekarno pada bulan Juni, tahun 1970. Sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, mengatakan bahwa Soekarno telah “dibunuh dua kali” karena Hari Kelahiran Pancasila yang Soekarno bidanin pada 1 Juni 1945 dilarang oleh Orde Baru untuk diperingati. Pada tanggal 21, bulan Juni 1970 jugalah, Soekarno meninggal di “penjara” di Wisma Yaso, Jakarta dengan kondisi yang tak terawat (Asvi Warman Adam, Pancasila dan Soekarno, jawapos.com) Larangan untuk memperingati hari lahirnya Pancasila adalah pembunuhan pertama dan kematian Seokarno di Wisma Yaso adalah pembunuhan kedua.
Aku menilai peristiwa ini sebagai suatu cerminan penghinaan terhadap seorang founding father. Betapa tidak? Perjuangan untuk memerdekakan Indonesia dan menyatukannya di bawah Pancasila dengan melewati rintangan yang panjang, berat dan keluar-masuk penjara di bawah penjajah ternyata pada hari terakhirnya, Soekarno harus meninggal di dalam “penjara” di negara yang ia merdekakan. Bukan itu saja, Pancasila yang ia mimpikan akan menjadi dasar negara yang mulia ternyata menjadi senjata yang ganas dan dipergunakan untuk menumpas jutaan rakyat Indonesia di bawah rejim Soeharto.
Untuk menghilangkan arti Pancasila yang sesungguhnya, Soeharto melarang peringatan hari lahirnya Pancasila pada setiap tanggal 1 Juni. Hal ini dilakukan agaknya berkaitan dengan ide pencetusan Pancasila oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Ide ini dituangkan dalam pidato di depan BPUPKI, ia mendapatkan sambutan sangat meriah dan tepuk tangan paling ramai. Intinya, Soekarno melihat bahwa Pancasila bisa dipakai sebagai alat yang bisa menerima perbedaan dan mempersatu bangsa yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Untuk memperlihatkan betapa beragamnya bangsa Indonesia, Sokarno pernah mengaku kepada Louise Fischer, bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu (Clifford Geertz, Islam Observed, 1982). Tetapi Soeharto mempergunakan Pancasila sebagai alat penumpas perbedaan dan alat memperkokoh kekuasaan.
Bukan itu saja, untuk memperkokoh Pancasila, Soeharto mengidentikan Pancasila sebagai perisai yang menghancurkan PKI di Indonesia dengan menetapkan Hari Kesaktian Pancasila dan diperingati secara sakral pada setiap tanggal 1 Oktober. Di samping itu Pancasila juga dijadikan asas tunggal bagi semua partai politik dan organisasi masyarakat tanpa kecuali.
Ideologi itu dikampanyekan secara nasional dan lewat pendidikan sekolah. Penataran dilakukan secara berjenjang dan menggunakan anggaran negara. Namun, Pancasila yang diajarkan sudah direduksi menjadi sekian butir-butir sifat yang harus dihafal. Pancasila juga digunakan sebagai alat pemukul bagi kelompok yang kritis. Orang yang menolak tanahnya digusur dicap “anti-Pancasila” (Asvi Warman Adam, Pancasila dan Soekarno, jawapos.com).
Yang lebih menyedihkan lagi, seperti di singgung di atas, Soekarno diberlakukan seperti seorang “kriminal” di Wisma Yaso, Jalan Gatoto Subroto, Jakarta. Kabarnya, semua hubungan Soekarno dengan dunia luar ditutup. Ia tidak dijinkan untuk mendengar radio, menonton televisi dan membaca koran. Selama di wisma itu, ia hanya ditemani oleh seorang dokter umum yang tidak memiliki spesialisasi sehingga pada saat Seokarno sakit komplikasi, ia tidak mendapat perawatan yang layak. Lebih dari itu, Soekarno juga sangat dibatasi untuk menemui keluarganya. Dengan bantuan seorang dokter gigi keturunan Cina, Oei Hong Kian, ia bisa menyelinap keluar dengan mengaku sakit gigi. Itulah satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki, yaitu berkumpul dengan keluarganya.
Apakah Soekarno diam saja terhadap semua penghinaan yang ia alami sejak tahun 1965? Ternyata tidak. Hal ini dibuktikan dengan pidato yang berjumlah 103 kali dalam periode 1965-1967. Di antaranya yang diketahui oleh umum adalah pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara, yang ditolak MPRS tahun 1967. Selebihnya pernyataan dan pidato Soekarno tidak disiarkan oleh koran-koran, radio ataupun televisi yang telah dikuasai Soeharto.
Berikut adalah beberapa pernyataan Soekarno yang patut diketahui oleh Rakyat Indonesia (tokohindonesia.com):
Dalam pidato 20 November 1965 di depan keempat panglima Angkatan di Istana Bogor BK mengatakan, “Ada perwira yang bergudul. Bergudul itu apa? Hei, Bung apa itu bergudul? Ya, kepala batu.” Tampaknya ucapannya itu ditujukan kepada Soeharto. Pada kesempatan yang sama Soekarno menegaskan, “Saya yang ditunjuk MPRS menjadi Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Subandrio. Bukan Leimena…. Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto, dan seterusnya (berbeda dengan nama tokoh lain, Soeharto disebut dua kali dan secara berturut-turut).
Tanggal 12 Desember 1965 ketika berpidato dalam rangka ulang tahun Kantor Berita Antara di Bogor, Presiden mengatakan tidak ada kemaluan yang dipotong dalam peristiwa di Lubang Buaya. Demikian pula tidak ada mata yang dicungkil seperti ditulis pers. 100 silet yang dibagikan untuk menyilet kemaluan jenderal itu tidak masuk akal.
Memang Soekarno tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan, sebagai contoh ketika tahun 1963 diangkat sebagai presiden seumur hidup, ia tidak menolak. Tetapi bukan berarti bahwa jasa terpentingnnya seperti sebagai perumus Pancasila bisa dipungkiri dan dimelencengkan. Juga bukan berarti bahwa kebebasan fisik, pikiran dan mentalnya bisa dikekang dan dianiaya begitu saja. Akhir kata, Soekarno bukanlah tokoh yang patut dihina, tetapi ia adalah lambang pemersatu bangsa. Bukankah suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.


Yang jadi masalah bukan Sukarno tetapi golongan sosialis dan komunis yang menghanyutkan dia dan pemikirannya.
anymatters
1 Jun 07 at 1:10 pm
Sama juga dengan pertanyaan tentang Suharto – pahlawan atau kriminal? Atau seperti yang Beni sudah tulis tentang Bapak Pembangunan.
bleu
1 Jun 07 at 3:57 pm
jangankan Orde Baru, Orde Reformasi pun malah semakin mematikan Soekarno. Kalau pada masa Orba masih ada pelajaran Pendidikan Moral dan Pancasila (PMP) yang kemudian menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah, sekarang tinggal pelajaran Kewarganegaraan, tanpa embel2 Pancasila… masihkah Pancasila menjadi ideologi bangsa Indonesia?I don’t think so…
Ria Wibisono
3 Jun 07 at 7:03 am
Anymatters and Bleu, in politics, the central object is power. Power is something very tempting. Only super wise politicians can control and use the power such as Mahatma Gandhi and Nelson Mandela, whereas other politicians are controlled and used by power. Besides that, some politicians often have to sacrifice certain things to achieve other things.
Because of that, Lord Acton described the above situation briefly, yet clearly:
As ordinary people, we can be the moral force to influence them to make the decision for the benefit of the majority.
Ria, Pancasila itu seperti pisau. Pada Orde Baru ia tidak digunakan untuk memotong sayur dan buah-buahan sebagai alat mempermudah proses memasak dan memenuhi kebutuhan manusia. Tetapi “pisau” Pancasila ini digunakan sebagai alat untuk melarang, menahan atau memenjarakan, menikam, bahkan membunuh orang yang tidak sesuai pendapat dengan penguasa Orde Baru.
Jadi Pancasila menurut hematku adalah bagus jika diajarkan bukan sebagi suatu doktrin murni, tetapi sebagai philosofi yang berdasarkan nilai luhur bangsa Indonesia yang boleh dan terbuka untuk diperdebatkan.
Anymatters, Bleu and Ria thank you for your intelligent comments.
Beni Bevly
4 Jun 07 at 10:36 am
Sejarah negeri ini -tidak peduli jaman Majapahit atau jaman ultra reformasi- selalu mengalami suksesi yang nista. Berlumur darah dan keringat amis.
Keris Empu Gandring terus memakan korban di setiap suksesi…
Anang, yb
4 Jun 07 at 6:12 pm
Kalau Proklamator masih hidup beliau tidak akan masalah dengan apa yang dilakukan orang lain.
Soekarno sebagai Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia namanya tetap harum dan tetap dicintai oleh seluruh generasi tua dan muda dari semua golongan kelas masyarakat.
Nama Soekarno ternyata lebih terkenal hingga sekarang orang asing di luar negeri menyebut nama Presiden Indonesia Soekarno, buktinya 4 hari yang lalu saya riset di ask and answernya yahoo, soal sistem politik Indonesia, masa ada yang menulis Soekarno sebagai Presiden Indonesia sekarang…he he .. memang beliau lebih terkenal dari nama Presiden lainnya.
hartati nurwidjaya
5 Jun 07 at 9:17 am
Kejahatan Suharto terhadap Sukarno mulai terungkap sedikit demi sedikit. dr. Kartono Mohamad pernah menulis di kompas, Suharto melarang pemberian obat2an kepada Sukarno ketika diasingkan di Wisma Yaso. Hari ini Asvi Warman Adam di kompas juga, mengungkapkan ada upaya pemfitnahan terhadap Sukarno-Hatta. Itu hanya sebagian kecil dari penghinaan Suharto terhadap Sukarno. Saya yakin masih banyak lagi yg akan terungkap.
redskin
5 Jun 07 at 7:42 pm
Soekarno said : Jangan pernah sekali-kalipun kita sebgai bangsa mepunyai watak bermental ‘tempe’!
Soeharto said : Saya sebagai anak petani…memang…sangat menyukai tempe, apa salahnya makan tempe…
kebodohan yang dinuansakan sebagai kesederhanaan hidup tetap saja kebodohan! capede…..
agung setiadi
6 Jun 07 at 9:13 pm
Andai saja waktu revolusi 45 Sjahrir menerima usulan Tan Malaka dan bersedia menjadi wapres-nya Tan Malaka, mungkin Soekarno sudah mati dari jaman dulu… krn kalo Sjahrir menyetujui, ada kemungkinan gerakan kiri-nya Tan Malaka akan membunuh Soekarno (Soe Hok Gie: Orang2 dipersimpangan Kiri Jalan)
Saya sangat suka dgn kutipan yg ada di comment Bro Beni, “Power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.”
Setiap pemerintahan harus ada oposisi yg bertindak sbg kontrol untuk mencegah absolut power yg kemudian menjadi power abuse.
Demokrasi Terpimpin-nya Bung Karno terlalu “KIRI”, pendapat saya.. hanya pendapat lho.. seandainya Soekarno tdk terkena kasus PKI (yg sebenarnya telah di distorsi oleh ORBA – Soeharto) Bung Karno akan jadi presiden abadi, dan membawa negara Indonesia seperti China periode Mao Zedong.. akan terjadi highly power abuse.. bukankah jaman Bung Karno.. korupsi sudah merajalela??? dan Bung Karno mempunyai agenda untuk membentuk “angkatan 5″… semacam banser/satgas dari Partai Komunis Indonesia yg dipersenjatai senapan dgn dalih untuk pertahanan bangsa namun sesungguhnya untuk menumpas lawan2 politiknya.. persis dgn apa yg dilakukan the greatest Mao Zedong. Makanya tdk heran ketika terjadi penumpasan PKI di Pekalongan (daerah saya) rata2 aktivis PKI mempunyai pistol. Tapi lepas dari itu I LOVE SOEKARNO. krn Soekarno lah saya bisa menyeimbangkan antara Komunis dan kapitalis. I Love him so much.
Demokrasi Pancasila-nya Pak Harto… menyeimbangkan antara komunis dan Kapitalis. Ada sumber alam negara yg bisa di explore oleh asing ada pula yg harus jadi milik pemerintah secara absolut tercermin dari pasal 33 ayat 1-3. Namun justru inilah sumber petakanya yg dimaksud dikuasai “pemerintah” adalah dikuasai “keluarga cendana” (jadi rakyat Indonesia yg bego’ krn salah tafsir atau ORBA yg jahanam?) dan saya setuju dgn statement bro Beni.. pancasila dijadikan mesin pembunuh lawan2 politiknya.
Demokrasi Reformasi. Yaitu demokrasi sekarang yg bener2 full. adalah kemenangan rakyat dlm arti sempit yaitu kemenangan wakil rakyat… bapak2 kita yg duduk di Senayan. Indonesia tdk lagi dibawah kontrol Presiden yg akan menyatukan visi untuk Indonesia yg lebih makmur dan maju. Tapi kontrol dibawah oleh partai politik dgn kader2nya yg duduk di kursi super-kancut eh maaf maksud saya kursi panas.. eh salah lagi.. kursi DPR untuk menyatukan visi guna kemakmuran dan kemajuan kantong masing2 alias Parpol (upeti bozzzz).
saya sangat suka dgn komentar bung Anang.. keliatannya pernyataan apriori dan skeptis tapi itulah kenyataannya.. cerita pemerintahan tdk jauh beda dgn cerita raja2 Majapahit jaman dulu. keren Bung Anang. it is very awesome!.
jadi Demokrasi apa yg tepat buat Indonesia? DEMOKRASI ABAL-ABAL kali yeee… jadi kalo hari ini gw nembak dosen gw krn udah ngasih gw banyak tugas… sah2 aja krn ini negara DEMOKARSI.. bebas untuk mencabut hak seseorang untuk hidup.. anarki di bawah kolong sapi… hahahahahahha
open your heart, open your mind… freedom to kill… hahahahahahah Indonesia is barbar. Barbar is Indonesia. kalo Barbara mah pemain telenovele maria mercedez… bukan BMW?hahahahhahaha
sory ya bro Beni.. hanya intermezo,,, banyak tugas nech jadi error… gini… sory semuanya.
AdhiRock
7 Jun 07 at 5:21 am
Anang, apa yang kamu katakan selalu menggangu di pikiranku. Pada titik tertentu bangsa Indonesia sangat barbar (Bukan begitu AdhiRock?), tetapi ketika aku jalanan (benar-benar jalan kaki) dari desa ke desa selama tiga hari di Jawa Barat, aku melihat betapa sopan, baik dan lembutnya rakyat Indonesia. Di sisi lain, kejadian gorok-mengorok, membuat aku bertanya, apakah dibalik ke lembutan yang aku lihat terbenam benih-benih dendam yang besar? Jika ya, dendam apa? Tetapi yang jelas seperti yang aku duga, agaknya bangsa kita telah kehilangan nilai luhur tertentu.
Redskin, adalah benar kata Hartati, walaupun dideskriditkan, Soekarno tetap tampil seperti apa adanya dia. Apalagi sekarang ada gerakan pengembalian sejarah pada tempat yang benar seperti yang engkau ungkapkan.
Memang harus diakui, seiring dengan perkataan Agung bahwa Soekarno berhasil menciptakan harga diri dan nasionalisme Indonesia, sedangkan Soeharto berhasil mengundang para investor untuk menggali kekayaan alam Indonesia yang kemudian sebagian besar hasilnya tidak diketahui kemana.
Adhi, di mana lagi untuk bercara bebas kalua bukan di forum ini?
Aku menghormati semua opini yang ada betapa pendek atau panjangnya, atau apapun isinya.
Beni Bevly
7 Jun 07 at 12:09 pm
Bung Karno memang pemimpin besar dan pemikir besar, saya banyak membaca idenya ketika mahasiswa, namun di akhir karirnya banyak digunakan kelompok kiri. Pak Harto semula juga begitu tapi akhirnya menjadi otoriter. Yang baik untuk Indonesia memang dua periode presiden, sudah saja, biar lebih banyak orang menjadi presiden hehehe
Asep Setiawan
12 Jun 07 at 3:02 pm
Sep, aku selalu yakin bahwa kekuasaan harus dibatasi, baik waktu maupun cakupannya. Perkataan Lord Acton tidak pernah basih. Nasihat Lord Acton inilah yang tidak dihiraukan oleh Soekarno dan Soeharto. Soeharto malah sebaliknya, agaknya ia menerapkan nasihat Niccolo Machiavelli secara berlebihan.
Di dunia ini hanya segelintir orang yang terbukti bisa menahan diri terhadap godaan akan kekuasaan tanpa batas. Seperti aku singgung di atas, mereka adalah orang yang super bijaksana seperti Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela.
Beni Bevly
14 Jun 07 at 10:01 am
Sejarah Insiden berdarah yang terjadi dari jaman majapahit sampai sekarang menandakan bahwa kita sebagai orang indonesia tidak belajar dari kesalahan masa lalu,masih berkutat dengan kesalahan yang sama.
Tapi seperti bung beni bilang, terlepas dari kekurangan bung karno sendiri, saya kagum dengan kehebatan beliau dalam merumuskan ideologi pancasila
Bung beni saya link blog anda ke website saya ya?
yeny
5 Jul 07 at 8:55 pm
Aku setuju dengan mu, Yeny. Dalam hal ini kita berjalan di tempat, sedangakan kebanyakan negara lainnya sudah meniggalkan kita di belangkang.
Yen, terima kasih untuk link-nya. Aku sudah link balik.
Beni Bevly
6 Jul 07 at 8:51 am
Inilah bangsa yang besar dari bung Karno, Soeharto, semuanya adalah pemimpin bangsa dalam pembodohan, tukang fitanah satu dengan lain, dan saling membunuh sesamanya karena merebut kekuasaan setelah berada dalam kekuasaan mulai membunuh bangsa Jawa seperti Mantan Soeharto membunuh bangsa Jawa di Jawa tengah puluhan ribu dibaantainya seperti membantai ayam.
Inilah bangsa yang besar ahklanya dalam hal membantai bangsa Jawa karena dianggap halal karena ajaran Alquran yang dimani
ajaran nabi Muhammad yang dianutnya dari negara onta Arabiah yang katanya wahyu dari GOA HIRA yang harus dipercaya walupun gak ada saksinya harus tetap diimani, kalau tidak akan dibantai seperti Soeharto membantai umat islam di Jawa tengah.
Inilah tradisi bangsa Indonesia dalam hal pembantaian sesama anak bangsa sesama muslim sesuai ajaran Alquran nya.
Mr.nunusaku
26 Jul 07 at 1:50 am
[...] bahwa para korban ini disayat-sayat dengan silet, mata mereka dicungkil dan kelaminnya dipotong. Hal ini dibantah oleh Soekarno. Upacara seperti mengingatkan aku akan adegan sembayang ritual dalam film laga Hongkong yang [...]
Overseas Think Tank for Indonesia » DI BALIK PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA
6 Sep 07 at 9:16 am
Friends,
01. LOGICAL DEDUCTIVE SEQUENTIAL LOGICAL THINKING, menyatakan bahwa apapun JASA dan KEBERHASILAN seorang PRESIDEN SEUMUR HIDUP SOEKARNO; pada tempatnya diganti dan dijatuhkan.
02. The HIGHEST Degree of EGOMANIAC telah dicapai oleh se-orang manusia, dengan pernyataan dan penerimaan nya untuk menjadi PRESIDEN SEUMUR HIDUP.
03. Kita adalah kita, karena manusia-manusia semacam SOEKARNO, SUHARTO, HABIBIE, ABDULRAHMAN WAHID, MEGAWATI dan sebentar lagi SUSILO B. Y., telah dengan seenaknya mensalah-gunakan AMANAT KAWULA NUSANTARA.
bdp
Baduraman Dorpi
9 Sep 07 at 10:43 pm
aku cinta bangsa indonesia yang sudah tua,bahkan tak ada anak muda berjiwa muda,idealis,biar tw aj,kita membutuhkan semangat itu,semangat yang dulu membara kala seorang “founding father” hidup,ketika pemuda2 indonesia belajar membangun bangsa ini,kalian harus tw,indonesia sudah tua,,,tanpa pemuda,tanpa cita2,tak bermoral.
aku bukan orang yang suci,bagaimana bisa suci,
ketika bapak2 kita di kursi parlemen DPR/MPr,BEREBUT KURSI,
KITA DISINI BEREBUT SESUAP NASI
pipit
20 Sep 07 at 5:44 pm
REFLEKSI DIRI,
DEMI BANGSA INI,
SOEKARNO MATI
DEMOKRASI MATI
pipit
20 Sep 07 at 5:47 pm
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya….Apa lagi jasa proklamator yang telah mengubah nasib bangsa kita sampai menjadi seperti sekarang ini.Jangan hanya melihat seseorang dari sisi gelapnya saja,apa lagi kita hanyalah manusia biasa yang mempunya sisi manusiawi.
Kelemahan-kelemahan dalam memimpin adalah hal biasa sebagai insan Tuhan di bumi ini…Mari kita saling mendukung dalam segala sesuatunya….Hidup soekarno,Hidup Bangsa Idonesia…!?!
Micko
3 Apr 08 at 10:03 pm
bung beni, mohon izin untuk menjadikan artikel ini sebagai sumber bahan artikel saya nanti…
semakin banyak masukan, semoga makin objektif…
terima kasih..
salam kenal..
muamdisini
29 Sep 09 at 9:02 pm
Salam kenal juga, Bung Muam. Silakan dijadikan sumber bahan anda. Beni
Beni Bevly
30 Sep 09 at 2:34 pm
saya pengagum bung karno .
artikel disini sangat bermutu ,
opini saya ,belum ada sampai saat ini presiden indonesia yg menandingi IR.SOEKARNO sampe sekarang .
keep posting:)
bedul paijo
27 Jun 10 at 5:50 am