<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA TIDAK TRICKLE DOWN EFFECT</title>
	<atom:link href="http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/</link>
	<description>facilitating intellectuals to contribute to indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 09:31:45 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Felix Dieckman</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-68852</link>
		<dc:creator>Felix Dieckman</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 22:43:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-68852</guid>
		<description>Excellent blog! Do you have any hints for aspiring writers? I&#039;m hoping to start my own site soon but I&#039;m a little lost on everything. Would you suggest starting with a free platform like Wordpress or go for a paid option? There are so many options out there that I&#039;m completely confused .. Any ideas? Thank you!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Excellent blog! Do you have any hints for aspiring writers? I&#8217;m hoping to start my own site soon but I&#8217;m a little lost on everything. Would you suggest starting with a free platform like WordPress or go for a paid option? There are so many options out there that I&#8217;m completely confused .. Any ideas? Thank you!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: irwan s</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-11408</link>
		<dc:creator>irwan s</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 10:42:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-11408</guid>
		<description>junson: pada masa orde baru, pemberitaan pers sangat dibatasi, jadi bukan tidak mungkin ada banyak kasus2 yg memprihatinkan, hanya saja ini tidak pernah di expose

apakah kehidupan ekonomi sebelum reformasi lebih baik? mungkin saja, tapi itu dibiayai darimana? ..hutang! dan itulah yang harus kita bayar sekarang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>junson: pada masa orde baru, pemberitaan pers sangat dibatasi, jadi bukan tidak mungkin ada banyak kasus2 yg memprihatinkan, hanya saja ini tidak pernah di expose</p>
<p>apakah kehidupan ekonomi sebelum reformasi lebih baik? mungkin saja, tapi itu dibiayai darimana? ..hutang! dan itulah yang harus kita bayar sekarang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: junson</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-11112</link>
		<dc:creator>junson</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 06:45:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-11112</guid>
		<description>Pertumbuhan ekomomi secara angka memang dapat dikatakan bagus, namun kita liat dalam kenyataannya di lapangan penderitaan rakyat dalam hal ekonomi sangat memprihatinkan kita lihat saja saudara2 kita yang kelaparan hingga maut menjempuT, JIKA DIBANDINGKAN dengan kehidupan ekonomi dulu jauh lebih baik walaupun kebebasann kurang.menurut saya ....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertumbuhan ekomomi secara angka memang dapat dikatakan bagus, namun kita liat dalam kenyataannya di lapangan penderitaan rakyat dalam hal ekonomi sangat memprihatinkan kita lihat saja saudara2 kita yang kelaparan hingga maut menjempuT, JIKA DIBANDINGKAN dengan kehidupan ekonomi dulu jauh lebih baik walaupun kebebasann kurang.menurut saya &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Overseas Think Tank for Indonesia &#187; KETERPURUKAN EKONOMI INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN TRAGEDI MEI 1998: Analisa Preliminary</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-2962</link>
		<dc:creator>Overseas Think Tank for Indonesia &#187; KETERPURUKAN EKONOMI INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN TRAGEDI MEI 1998: Analisa Preliminary</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 17:42:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-2962</guid>
		<description>[...] Pada saat ini perekonomian Thailand, Malaysia dan Hongkong telah pulih dan tidak menunjukkan adanya bekas peristiwa depressi ekonomi pada tahun 1998. Walaupun di Indonesia telah menunjukkan adanya perbaikan, tetapi perbaikan itu hanya di permukaan saja. Artinya, perbaikan ekonomi di kalangan moyoritas Indonesia di level bawah dan menegah tidak terjadi perbaikan yang berarti (Lebih rinci baca: Pembangunan Ekonomi Indonesia Tidak Trickle Down Effect). [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Pada saat ini perekonomian Thailand, Malaysia dan Hongkong telah pulih dan tidak menunjukkan adanya bekas peristiwa depressi ekonomi pada tahun 1998. Walaupun di Indonesia telah menunjukkan adanya perbaikan, tetapi perbaikan itu hanya di permukaan saja. Artinya, perbaikan ekonomi di kalangan moyoritas Indonesia di level bawah dan menegah tidak terjadi perbaikan yang berarti (Lebih rinci baca: Pembangunan Ekonomi Indonesia Tidak Trickle Down Effect). [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-2209</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Aug 2007 19:46:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-2209</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Trian&lt;/strong&gt;, aku juga berharap akan ada perbaikan yang berarti. Jika &quot;gembong&quot; korupsi sudah berhasil dibawa kepangadilan dan mendapat  imbalan yang layak, maka koruptor lainnya bukan menjadi masalah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Trian</strong>, aku juga berharap akan ada perbaikan yang berarti. Jika &#8220;gembong&#8221; korupsi sudah berhasil dibawa kepangadilan dan mendapat  imbalan yang layak, maka koruptor lainnya bukan menjadi masalah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: trian</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-2090</link>
		<dc:creator>trian</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 06:59:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-2090</guid>
		<description>Ben,

Kalau menurutku sih korupsi itu disebabkan oleh penyakit moral yang parah (spt kanker yg merajalela kemana2), parah sekali.  Penyakit moral ini membuat mrk &quot;tidak dapat membedakan antara yang benar &amp; salah&quot;.  Orang2 ini ingin hidup senang dengan jalan pintas: mudah dan cepat. Mereka tidak pernah puas dengan jumlah harta yang ada, selalu berusaha menambah (dgn cara mencuri/korupsi)seakan akan hidup selama2nya.  Agama kan melarang korupsi tapi hanya dijadikan objek pelengkap.  Kalau mau memberantas harus ada kekuatan dari diri sendiri dan dari luar (hukum harus ditegakkan).  Sekarang kan yang ditindak baru kelas2 teri, tapi mudah2an akan ada perbaikan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ben,</p>
<p>Kalau menurutku sih korupsi itu disebabkan oleh penyakit moral yang parah (spt kanker yg merajalela kemana2), parah sekali.  Penyakit moral ini membuat mrk &#8220;tidak dapat membedakan antara yang benar &amp; salah&#8221;.  Orang2 ini ingin hidup senang dengan jalan pintas: mudah dan cepat. Mereka tidak pernah puas dengan jumlah harta yang ada, selalu berusaha menambah (dgn cara mencuri/korupsi)seakan akan hidup selama2nya.  Agama kan melarang korupsi tapi hanya dijadikan objek pelengkap.  Kalau mau memberantas harus ada kekuatan dari diri sendiri dan dari luar (hukum harus ditegakkan).  Sekarang kan yang ditindak baru kelas2 teri, tapi mudah2an akan ada perbaikan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-1378</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2007 03:09:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-1378</guid>
		<description>Guebukanmonyet dan Socrates, aku setuju dengan kondisi korupsi yang kalian gambarkan. 

Memang korupsi kita ini masih seperti lingkaran setan, tetapi juga sudah ada sedikit titik cerah yang seperti &lt;strong&gt;Socrates&lt;/strong&gt; gambarkan. 

Jika mayoritas pemegang kekuasaan mempunyai political will yang baik untuk memberantas korupsi, lambat laun, negara kita akan terlepas dari jeratan setan yang &lt;strong&gt;Guebukanmonyet&lt;/strong&gt; maksud.

Guebukanmonyet dan Socrates, terima kasih atas responsenya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Guebukanmonyet dan Socrates, aku setuju dengan kondisi korupsi yang kalian gambarkan. </p>
<p>Memang korupsi kita ini masih seperti lingkaran setan, tetapi juga sudah ada sedikit titik cerah yang seperti <strong>Socrates</strong> gambarkan. </p>
<p>Jika mayoritas pemegang kekuasaan mempunyai political will yang baik untuk memberantas korupsi, lambat laun, negara kita akan terlepas dari jeratan setan yang <strong>Guebukanmonyet</strong> maksud.</p>
<p>Guebukanmonyet dan Socrates, terima kasih atas responsenya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Socrates Rudy Sirait</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-1349</link>
		<dc:creator>Socrates Rudy Sirait</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 04:21:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-1349</guid>
		<description>Korupsi memang sangat merugikan bangsa Indonesia. 
Saya kurang sependapat dengan John McBeth yang mengatakan bahwa the enforcement of contracts di Indonesia masih jauh dari layak. Saya meyakini bahwa data riset beliau adalah kontrak2 di level MNC maupun international linked contract yang kebanyakan berasal dari G to G agreements.Jangan lupa, bahwa banyak kontrak tersebut yang berakhir dengan default/kegagalan karena isi kontrak memang telah didesign untuk menguntungkan pihak tertentu dan merugikan bangsa Indonesia.

Jadi menurut saya, kalau enforcement yang dimaksud termasuk kasus Freeport, Newmont dan beberapa large corporations lainnya yang merugikan Indonesia - saya melihat bahwa terdapat kecenderungan dalam pendapat yang diajukan oleh McBeth. Dilihat dari kepentingan bangsa, jelas kontrak2 tersebut memang harus direvisi dan dibenahi dan untuk itu jelas ada komitmen yang dilanggar. Tapi apa yang salah dengan melanggar komitmen yang merugikan bangsa?


Kedua, saya melihat bahwa proses peradilan korupsi sudah sangat baik dengan banyaknya para anggota dewan, pejabat pemerintah dan bahkan pihak swasta yang masuk bui akibat tindak korupsi dan manipulasi. Hanya saja kalau kita mengharapkan tanah tandus menjadi subur dengan hujan semalam, yah yang perlu kita perbaiki adalah pola pikir kita.

Again, korupsi memang perlu diberantas tapi tetap tidak mungkin dengan melakukan revolusi. Proses ini merupakan evolusi bangsa yang memang akan berjalan pelan tapi pasti. Semangat yang perlu kita bina adalah semangat mendukung proses yang berjalan tanpa harus berharap perubahan drastis dalam waktu singkat. 

Terakhir, terkait dengan pendapat McBeth, kalau kita melihat kontrak2 besar dalam lima tahun terakhir maka kontrak tersebut di dominasi dari private sector dimana sinyal utk mengukur apakah investor memiliki confidence level yang tinggi atau rendah terhadap lingkungan investasi di Indonesia sangat jelas. Berdasarkan data yang ada, FDI growth level di Indonesia terus meningkat meski tidak sebaik Thailand dan Vietnam. JSX index (IHSG) terus membumbung yang menunjukkan foreign portfolio investment juga terus masuk.

Saya tetap optimis dan yakin bahwa corruption level di Indonesia sudah mengalami penurunan yang baik walaupun perlu lebih digalakkan. Namun demikian, untuk meningkatkan kemampuan ekonomi Indonesia, pemberantasan korupsi masih kalah penting dibanding dengan perlunya peningkatan daya saing dan professionalism dari pekerja2 Indonesia.

Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Korupsi memang sangat merugikan bangsa Indonesia.<br />
Saya kurang sependapat dengan John McBeth yang mengatakan bahwa the enforcement of contracts di Indonesia masih jauh dari layak. Saya meyakini bahwa data riset beliau adalah kontrak2 di level MNC maupun international linked contract yang kebanyakan berasal dari G to G agreements.Jangan lupa, bahwa banyak kontrak tersebut yang berakhir dengan default/kegagalan karena isi kontrak memang telah didesign untuk menguntungkan pihak tertentu dan merugikan bangsa Indonesia.</p>
<p>Jadi menurut saya, kalau enforcement yang dimaksud termasuk kasus Freeport, Newmont dan beberapa large corporations lainnya yang merugikan Indonesia &#8211; saya melihat bahwa terdapat kecenderungan dalam pendapat yang diajukan oleh McBeth. Dilihat dari kepentingan bangsa, jelas kontrak2 tersebut memang harus direvisi dan dibenahi dan untuk itu jelas ada komitmen yang dilanggar. Tapi apa yang salah dengan melanggar komitmen yang merugikan bangsa?</p>
<p>Kedua, saya melihat bahwa proses peradilan korupsi sudah sangat baik dengan banyaknya para anggota dewan, pejabat pemerintah dan bahkan pihak swasta yang masuk bui akibat tindak korupsi dan manipulasi. Hanya saja kalau kita mengharapkan tanah tandus menjadi subur dengan hujan semalam, yah yang perlu kita perbaiki adalah pola pikir kita.</p>
<p>Again, korupsi memang perlu diberantas tapi tetap tidak mungkin dengan melakukan revolusi. Proses ini merupakan evolusi bangsa yang memang akan berjalan pelan tapi pasti. Semangat yang perlu kita bina adalah semangat mendukung proses yang berjalan tanpa harus berharap perubahan drastis dalam waktu singkat. </p>
<p>Terakhir, terkait dengan pendapat McBeth, kalau kita melihat kontrak2 besar dalam lima tahun terakhir maka kontrak tersebut di dominasi dari private sector dimana sinyal utk mengukur apakah investor memiliki confidence level yang tinggi atau rendah terhadap lingkungan investasi di Indonesia sangat jelas. Berdasarkan data yang ada, FDI growth level di Indonesia terus meningkat meski tidak sebaik Thailand dan Vietnam. JSX index (IHSG) terus membumbung yang menunjukkan foreign portfolio investment juga terus masuk.</p>
<p>Saya tetap optimis dan yakin bahwa corruption level di Indonesia sudah mengalami penurunan yang baik walaupun perlu lebih digalakkan. Namun demikian, untuk meningkatkan kemampuan ekonomi Indonesia, pemberantasan korupsi masih kalah penting dibanding dengan perlunya peningkatan daya saing dan professionalism dari pekerja2 Indonesia.</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: guebukanmonyet</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-1331</link>
		<dc:creator>guebukanmonyet</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 17:57:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-1331</guid>
		<description>Korupsi sialan! Mengapa bangsa ini tidak pernah bisa lepas dari jeratan setan yang satu ini? Rakyat kita semakin miskin dan bodoh sementara para pejabat malah semakin kaya raya. Saya sudah muak dan bosan dengan kondisi ini!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Korupsi sialan! Mengapa bangsa ini tidak pernah bisa lepas dari jeratan setan yang satu ini? Rakyat kita semakin miskin dan bodoh sementara para pejabat malah semakin kaya raya. Saya sudah muak dan bosan dengan kondisi ini!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AdhiRock</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/07/13/pembangunan-ekonomi-indonesia-tidak-membawa-dampak-trickle-down-effect/comment-page-1/#comment-1315</link>
		<dc:creator>AdhiRock</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 00:40:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=167#comment-1315</guid>
		<description>Saya melihat &quot;padat karya&quot; masih terjadi pada sektor pemerintahan, terutama departement-departement dan sedikit BUMN.

Tapi sepertinya tidak bagi sektor privat, krn pengusaha juga harus memperhitungkan cost dan profit. Ditambah arus ekonomi global, banyaknya barang2 dari negara2 peng-import memasuki pasar Indonesia, kalo Apple Merah Swiss aja bisa 12 rb/kg ngapain kita beli Apple Batu Malang yg warnanya hijau? sbg satu contoh.

Dan memang yang terjadi adalah perusahaan2 melakuakn PHK untuk effisiensi, perampingan untuk mengurangi cost. PT Pismatex perusahaan yang memproduksi kain tenun GAJAH DUDUK yg kebetulan salah satu pabriknya deket rumah.. adalah salah satu korbannya...

Maka itu perlu ada progam pembangunan ekonomi rakyat, saya sangat sejutu dengan pendapat Bro Beni bahwa kartu AS nya ada di sektor riil, entrepreneurship.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya melihat &#8220;padat karya&#8221; masih terjadi pada sektor pemerintahan, terutama departement-departement dan sedikit BUMN.</p>
<p>Tapi sepertinya tidak bagi sektor privat, krn pengusaha juga harus memperhitungkan cost dan profit. Ditambah arus ekonomi global, banyaknya barang2 dari negara2 peng-import memasuki pasar Indonesia, kalo Apple Merah Swiss aja bisa 12 rb/kg ngapain kita beli Apple Batu Malang yg warnanya hijau? sbg satu contoh.</p>
<p>Dan memang yang terjadi adalah perusahaan2 melakuakn PHK untuk effisiensi, perampingan untuk mengurangi cost. PT Pismatex perusahaan yang memproduksi kain tenun GAJAH DUDUK yg kebetulan salah satu pabriknya deket rumah.. adalah salah satu korbannya&#8230;</p>
<p>Maka itu perlu ada progam pembangunan ekonomi rakyat, saya sangat sejutu dengan pendapat Bro Beni bahwa kartu AS nya ada di sektor riil, entrepreneurship.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

