MITOS DAN FAKTA KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT (3): Individualistik dan Kapitalistik
Oleh Beni Bevly
Pada Mitos dan Fakta Kehidupan di Amerika Serikat (1) dan (2) diuraikan mengenai mitos dan fakta sekolah gratis, uang cuma-cuma dari sosial security dan free sex. Dalam artikel yang ke tiga ini akan diuraikan mitos dan fakta mengenai sikap indivisualistik dan kapitalistik di Amerika Serikat (AS). Artikel ini tidak bermaksud untuk membela pihak atau memojokkan pihak tertentu. Dengan pengalaman dan kehidupan di dua dunia, yaitu di Indonesia dan di Amerika, kiranya cukup bagiku untuk menilai secara pribadi bagaimana sesungguhnya fakta kehidupan masyarakat Amerika secara umum dalam dua hal ini.
Mitos Individualistik dan Kapitalistik
Orang Amerika sangat individualistik dan kapitalistik. Pengertian umum yang ditangkap dari kata individualiatik adalah bahwa orang yang termasuk golongan ini mempunyai sifat yang egois, tidak suka saling menolong atau gotong-royong dan tidak bersifat kekeluargaan. Agaknya kata individualistik ini seiring dengan pengertian umum tentang kapitalistik. Dikatakan kapitalistik jika seseorang hanya mengutamakan keuntungan semata dalam hubungannya dengan mahluk sesama atau mahluk lain. Karena sifat yang selalu mencari untung ini, mereka cenderung menjadi oportunis dan melupakan sisi kemanusiaan.
Mitos kehidupan orang Amerika yang individualistik dan kapitalistik di kalangan masyarkat Indonesia sudah tertanam di dalam benakku sejak dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau mungkin dari Sekolah Dasar (SD). Di sekolah, ketika guru menerangkan bahwa ideologi Pancasila bukan suatu edeologi yang berkiblat pada komunisme dan juga bukan suatu ideologi yang mengarah pada kapitalisme atau individualisme. Dalam keterangan itu dijelaskan bahwa ideologi kapitalisme/individualisme adalah milik orang barat, termasuk orang Amerika Serikat. Kapitalisme/individualisme dan pengikutnya selalu digambarkan sebagai sesuatu yang jelek. Salah satu tulisan mengenai hal ini bisa dibaca di Kompas.com, 27 Juni 2006).
Fakta
Memang tidak bisa disangkal bahwa untuk batas tertentu, mitos mengenai individualistik dan kapitalistik adalah benar. Hal seperti ini bukan hanya ditemukan di AS, tetapi juga dengan mudah ditemukan di lingkungan di mana saja kita bergaul dan tinggal.
Untuk melihat lebih jelas mengenai fakta yang berkaitan dengan mitos kehidupan yang individualistik dan kapitalistik, marilah kita melihat secara dekat kehidupan kehidupan sehari-hari masyrakat di Amerika Serikat dari sisi di bawah ini.
Pertama, individualistik sering dikaitkan dengan sifat individu Amerika yang egois, tidak suka saling menolong atau gotong-royong, ignorance (tidak peduli) dan tidak punya sifat kekeluargaankan. Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tingkah laku orang Amerika di tempat umum di AS banyak ditemukan persetujuan yang tidak tertulis dan tidak disadari oleh mereka sendiri. Persetujuan tingkah laku ini memperlihatkan kebalikan dari sifat egois. Banyak tingkah laku yang terjadi di tempat umum mencerminkan sifat saling menolong, gotong royong dan malah bersifat kekeluargaan. Contohnya sebagai berikut.
Dalam hal lalu lintas berjalan baik dengan kendaraan ataupun pejalan kaki. Di setiap perempatan yang tidak ada lampu lalu lintas, dengan sendirinya para pengendara mobil akan berhenti dan menunggu giliran. Sulit ditemukan orang yang main menyelonong. Jika macet, tidak ada bunyi klakson nyaring yang memekakan dendang telinga. Hampir tidak ada yang memaksa untuk menggunakan bahu jalan. Jika ada pejalan kaki, pengendara mobil hampir selalu mengalah terhadap mereka.
Sebagai pejalan kaki, sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berjalan di sebelah kanan jalan. Begitu juga pada saat menggunakan tangga umum dan escalator, seperti tangga di mall-mall. Jika seseorang menggunakan escalator dan tidak berjalan, maka orang tersebut akan berdiri di pinggir sebelah kanan escalator untuk memberi jalan pada orang lain di belakang melewati mereka melalui sebelah kiri.
Contoh lain adalah masuk keluar pintu. Pada umumnya orang Amerika akan membiarkan orang untuk keluar dulu, baru dia masuk. Jika di belakangnya atau di depannya ditemukan ada orang lain yang hendak keluar masuk, maka pengguna pintu pertama biasanya akan menahan pintu untuk orang tersebut masuk atau keluar. Orang yang masuk dan keluar tersebut dengan otomatis mengucapkan, “Thank you.”
Hal lain yang sering ditemukan di daerah parawisata adalah tawaran dari orang Amerika untuk menjepret pasangan yang sedang liburan. Jangan kwatir, mereka tidak akan membawa lari kamera kita.
Di kota aku tinggal, ada organisasi nonformal yang membantu dan memberi informasi bagi para tetangga yang baru pindah ke kota kami, yaitu New Comers Club. Ada juga Moms Club dan juga tidak ketinggalan organisasi sukarela untuk menjaga keamanan yang disebut Neighborhood Watch dan STAR program. STAR program adalah kerja sukarela khusus bagi pensiunan yang membantu Sjariff untuk menjaga keamanan lingkungan. Aku sendiri mengajarkan Tae Kwon Do dengan cuma-cuma setiap hari Sabtu pagi di taman.
Masih contoh di kota aku tinggal, banyak dari kami di sini yang mengadakan blok parti, yaitu kumpul makan-makan secara berkala dan bergantian di antara tetangga. Sesama tetangga, hanya kami yang orang Asia, yang lainnya adalah bule, saling tukar nomer telepon dan berjanji untuk untuk memberi tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dan perlu bantuan.
Kedua, mitos kapitalistik yang selalu dikaitkan dengan para pemilik modal yang kegiatannya hanya mencari keuntungan semata, tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan, ternyata tidak semuanya benar. Hampir di setiap perusahaan menengah dan besar di Amerika pasti mempunyai program sosial. Contoh yang bisa aku ambil dari perusahaan di mana aku pernah bekerja, yaitu Nordstrom dan Wellsfargo. Di Nordstrom, setiap tahun perusahaan selalu menganjurkan agar karyawannya beramal dan perusahaan sendiri dan men-match berapa yang karyawan kasih. Beberapa tahun yang lalu aku pernah ditunnjuk menjadi spoke person untuk kegiatan ini. Di sini aku bermitra dengan perusahaan dan United Way untuk mencari dana guna membantu organisasi non profit di bawah United Way.
Begitu juga ketika aku bekerja di Wellsfargo. Sebagai karyawan dan perusahaan memberikan sumbangan, baik tahunan ataupun bulanan kepada organisai nonprofit lokal.
Perlu diingat juga bahwa proposi tax yang ditarik oleh pemerintah dari karyawan dan pungusaha juga dijadikan dana tunjangan bagi penganguran dan orang tidak mampu.
Masih ingat sumbangan dari Warren Buffett yang legendaris itu? Ia menyumbang US $ 30.000.000.000 pada the Bill and Melinda Gates Foundation dan US $ 6.000.000 pada empat Buffett Foundation. Begitu juga dengan pengusaha besar lainnya, seperti Bill Gates. Mereka menyumbangkan uang dalam jumlah besar pada nonprofit oranization yang bermisi kemanusiaan. Sumbangan mereka bisa dibaca di The Chronicle of Philanthropy.
Adalah hal yang tidak bijaksana jika aku hanya menelan bulat-bulat apa yang diajarkan oleh guru SD dan SMP-ku. Bukan pula suatu perbuatan yang bijaksana untuk menjelekan yang lain dan meninggikan kita sendiri. Tetapi carilah dan kembangkanlah terus kelebihan yang dimiliki oleh bansa kita sendiri.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Waduh, kalau mao dipikir-pikir lagi, ternyata yang dituduh-tuduh kapitalis dan individualis, ternyata yang menulis mata pelajaran itu sendiri yah?
Wah, setidaknya mereka bisa bangga, bahwa mereka telah sukses dalam mencuci otak rakyat
Rusdy, kemungkinan besar guru waktu tidak tahu tentang fakta kehidupan di negara lain yang diajarkan pada murid mereka. Mereka hanya percaya saja pada buku pegangan itu.
Sekarang teknologi sudah berkembang demikian rupa, sehingga jarak dan waktu tidak menjadi masalah bagi seseorang untuk mencari informasi seperti ini. Dengan keadaan seperti ini, mesitnya guru pada masa kini bisa memberikan pelajaran yang pada muridnya secara proporsional. Tidak ada kesan membohongi murid.
Menurut saya, tidak fair bila guru mengajarkan bahwa suatu masyarakat identik dengan karakter tertentu. Ini bisa mengarah ke prejudice, mencap semua orang dari suatu komunitas pasti memiliki sifat yang sama. Memang sih, ada beberapa karakter yang sama pada satu komunitas karena pengaruh budaya komunitas tersebut. Tapi perkecualian itu pasti ada. Selain itu, manusia itu kan dinamis. Tidak selamanya orang Amerika itu akan selalu bersikap individualis misalnya. Artikel ini telah membuktikan fakta tersebut.
Ko Beni, saya rasa artikel semacam ini bagus buat pembelajaran, terutama untuk meluruskan pandangan orang mengenai orang Amerika. So, I hope you keep writing…
Sangat disayangkan bahwa rezim2 terdahulu di Indonesia sangat berhasil dalam menanamkan citra bahwa Pancasila adalah “yang terbaik” untuk Indonesia. Sangatlah congkak untuk berkata demikian karena tanpa studi komparasi yang imparsial sangatlah tidak baik untuk kesehatan mental orang awam di Indonesia (rakyat kebanyakan). Ini adalah memasukkan diri sendiri ke dalam tempurung.
Sayangnya, koran2 hebat seperti Kompas pun tidak luput dari ketidakmampuan memfilter bias alias praduga demikian.
Ria dan Jennie, secara umum kehidupan suatu bangsa dan rakyat di dalammnya memang dinamis, karena itu teori ideologi yang ditulis dari orang aslinya berdasarkan keadaan sosial dan poitik pada masa lalu tidak bisa dipakai seratus persen untuk menggambarkan masyarakat sekarang. Begitu juga pengunaan teori kapitalisme dan komunisme dari Karl Marx. Malahan di negara maju seperti di Eropa dan Kanada, ideologi mereka cenderung mengaju pada sosialisme, di mana pemerintah sangat membela masyarakat banyak dan termasuk golongan yang dianggap kurang berada. Caranya, di antaranya, dengan menerapkan program health care, persiapan pensiun bagi mereka dan membebankan pajak lebih besar pada golongan berada untuk didistribusikan pada golongan yang tidak mampu.
Terima kasih pada Ria dan Jennie yang telah memberikan coment yang peka dan sangat tajam.
Banyak materi pendidikan di Indonesia yang sudah usang dan memberikan gambaran yang salah mengenai negara dan bangsa lain sehingga sering kali timbul persepsi yang salah.
Namun demikian, saya optimis bahwa peran sekolah dalam memberikan informasi kepada pelajar di Indonesia tidak lagi dominan dengan berkembangnya multi media dan internet. Akses kepada informasi yang faktual dan memiliki kredibilitas tinggi sudah mudah untuk didapatkan. Memang, ini baru dinikmati di kota2 besar tapi akan terus merambah ke seluruh daerah.
Sehingga yang seharusnya dilakukan oleh kementerian yang menaungi pendidikan adalah secepatnya melakukan peningkatan kualitas informasi di buku2 materi pokok pembelajaran agar tidak terjadi perbedaan informasi yang mencolok yang dapat menimbulkan kebingungan bagi siswa dan pada akhirnya ketidak percayaan siswa terhadap informasi yang mereka dapat.
BTW, saya masukin link web ini di blog saya.
Salam
Setuju dengan komentar diatas, bahwa selama ini banyak info berbungkus dalam pendidikan maupun dalam bentuk lain yang memberikan persepsi yang salah terhadap dunia, mungkin itu salah satu sebab indonesia agak seret untuk maju. Pola berpikir bahwa dunia barat indentik dengan “sex bebas, indivudualistik serta hal -hal lain yang bersifat negatif” membuat kita jadi katak dalam tempurung. Jadi ingat pepatah Tak kenal maka tak sayang.
Tapi keoptimisan saya seperti mas socrates bahwa dengan berkembangnya multimedia dan internet termasuk orang-orang yang pernah atau sekarang tinggal di luar negri bisa membagi pengalaman mereka bersosialisasi di luar negri seperti mbak jennie dan mas beny yang share pengalamannya dalam bentuk tulisan.
Nice Article sekali lagi
Sory Bro Beni,
Saya perlu menggaris-bawahi apa yg and tulis mengenai kapitalis. dalam negara kapitalis ada beberapa ciri pokok: 1. produksi dan distribusi kebanyakan dikendaliakn oleh swasta. 2. free market tidak ada intervensi atau proteksi dr pemerintah. 3. penggunaan modal untuk mendapatkan profit.
kalau bro beni menyebut kapitalis hanya mitos saya kurang setuju krn faktanya Amerika memang negara kapitalis, tentunya berdasarkan ciri2 yg sudah saya tulis bukan dgn definisi yg bro sebutkan. kalu tiba2 banyak big company mendonasikan uangnya ke orang2 yg membutuhkan, melakukan CSR program tdk serta merta menjadikan “kapitalis di Amerika adl mitos” krn standardnya bukan disitu, standard-nya ada pada ciri-ciri yg saya sebutkan diatas.
please no hurst feeling, just humble opinian
http://www.bincangpemasaran.net
Socrates, Yeny dan Street Marketer, senang melihat tanggapan yang beraneka ragam. Sepeti digaris-bawahi dalam artikel ini bahwa aku tidak bermaksdu untuk membela atau memojokkan pihak manapun, tetapi serupa dengan yang Socrates dan Yeny tulis bahwa aku tetap optimis dengan perkembagan Indonesia. Sebagai generasi yang dilimpahi kecanggihan information technology yang membuat dunia ini tanpa batas, lebih memungkinkan kita untuk melihat masalah dengan jelas dan menentukan sikap yang lebih bijaksana. Sesuatu termasuk ideologi dan gaya hidup ternyata tidak hitam putih seperti apa yang diajarkan guruku pada waktu itu.
Street Marketer, tentu saja aku tidak menyangkal kalau AS menerapkan sistem kapitalistik, yang ingin aku kemukakan adalah kehidupan mayarakat AS yang banyak disalah-artikan oleh orang dari dari dunia timur, termasuk dari sebagian rakyat Indonesia yang tidak bersentuhan langsung dengan kehidupam masyarkat AS sehari-hari. Pengertian yang salah ini akhirnya menjadi mitos belaka.
Tentang ciri pokok negara kapitalis yang Street Markerter kemukankan juga tidak seratus persen diterapkan. Contohnya, pemerintahan AS interven dengan perkembangan bisnis Microsoft yang diperkirakan memonopoly pasar (Wikipedia.org). Kalau tidak salah, karena itu Bill Gates harus memisahkan jabatannya sendiri di perusahaan yang ia dirikan.
Contoh lain adalah pemerintah AS sangat mengawasi kerja sama antara produsen, termasuk kerja sama untuk menentukan harga. Pemerintah akan menjerat para produsen seperti ini dengan UU Antitrust dan Kartel yang hukuman dan dendanya sangat berat.
Contoh untuk penggunaan dana bisa dilihat dari Warren Buffett yang menyumbangkan 83% kekayaan pribadinya. Padahal bisa saja ia menggunakannya untuk mendapatkan profit. Aku belum menemukan konglomerat dari negara lain yang melakukan hal ini.
Socrates, Yeny dan Street Marketer, terima kasih atas komentarnya.
Hello again, Beni. Setuju kalau mitos individualistiknya tidak tepat. Mungkin lebih tepat kalau dibilang orang Amerika itu menghargai (dan menuntut) privacy.
Untuk yang kapitalistik, agak kurang setuju sedikit. While the average non-profit organizations di sana mungkin lebih “pure” dibanding dengan non-profit di tempat lain (dan juga ada banyak individu2 yang benar2 generous), tapi tidak sedikit juga yang bertolak belakang. Misalnya Jeffrey Skilling-nya Enron. Atau skandal accounting lain yang basically me-nomor satu-kan shareholder value or wealth.
Sometimes it seems that the underlying reason for a corporate to exercise their social responsibility is to (indirectly) increase the shareholder values. Isn’t it what we learned in b-school?
Halo Beni, Selain mitos individualistik dan kapitalis, orang Amerika juga dikenal arogan, nggak mau tau urusan bangsa lain. Misalnya kalo kita tanya letaknya Indonesia, jangankan Indonesia, Inggris aja yang sekutunya, di peta, sebagian besar akan salah. Gimana faktanya disana?
Menurut a recent poll, 1/5 American can’t locate the U.S. on the world map. Jadi untuk hal ini, menurut saya arogan kurang tepat. Mungkin lebih tepat plain stupid atau ignorant. Terlebih dengan jawaban the 3rd runner-up Miss Teen USA 2007 untuk pertanyaan seperti di atas.
wah… a klo liat tyangan di televisi ngrasa ngeri. pa bener khidupan di sana itu kyk gtu?
pnuh dengan rasa benci, bnyak pmbunuhan, g sling mnghormati, pa lgi freesex. trus a sih pingin tau…gmana sih khidupan remaja di sana?
coz a sukanya nonton film barat…pa lgi yang b’hubungan dgn r3maja…a bsa lebih pd, krena di filmnya…g mesti orng cantik/keren yang maen film…pa lagi jadi tokoh utama
Thx ya…a ngrasa lbih lega
Bleu, Redskin dan Adie, memang kita tidak bisa melihat kehidupan di AS adalah hitam putih. Mitos cendurung menghitam putihkan kehidupan di AS.
Bleu, terima kasih atas informasi yang diberikan untuk menjawab tanggapan Redskin.
Adie, sebagian fakta kehidupan yang Adie ingin tahu sudah ditulis di Mitos dan Fakta Kehidupan di AS (1) dan (2). Mudah-mudahan kedua tulisan itu bisa membantu pemahaman Adie.
Selain itu, Adie mempunyai pandangan yang tajam atas penampilan peran utama dalam film-film di Amerika. Aku setuju dengan pendapat Adie yang melihat bahwa untuk menjadi peran utama tidak harus cantik atau ganteng. Hal ini juga terjadi pada kehidupan sehari-hari di AS. Sebagai contoh, pada waktu liburan beberapa hari yang lalu, aku ke salah satu club malam cukup bergengsi di sekitar kota Palm Springs, Kalifornia. Di lantai dansa di club itu ditemukan segala bentuk fisik manusia yang sedang berdansa. Dari yang sangat gemuk sampai yang langsing, dari yang tidak cantik sampai yang jelita, dari yang uzur sampai yang belia.
Aku menemui keadaan yang berbeda di Indonesia. Suatu waktu, aku memasuki salah satu club malam bergengsi di Jakarta Pusat, yang menari adalah kebanyakan para wanita langsing, cantik dan belia. Lalu yang mana yang tidak langsing, tidak cantik dan tidak belia? Ternyata mereka bersembunyi di pojok yang gelap dan hanya jadi penonton. Gejala apakah ini? Agaknya kita tahu jawabannya.
Sisi mitos itu memang benar. Orang luar negeri memiliki kesadaran yang tinggi tentang penghargaan akan individu. Seorang teman kami pernah melamar di salah satu perusahaan dari Amerika. Dia lulus seleksi tetapi tidak diterima karena overqualified. Alasan lainnya adalah karena bila dia masuk, maka akan mengurangi lowongan pekerjaan orang dengan kualifikasi dibawah dia. Bagi saya ini bukti betapa mereka menghargai individu.
Btw. Kalau di Indonesia tidak peduli overqualified, pokoknya lolos seleksi ya masuk kerja. Jadinya mereka yang tidak qualified tidak dapat pekerjaan.
@Cahyadi, analisa dan analogi yang menarik sekali untuk disimak. Dalam contoh Anda, sangatlah jelas betapa konsep “individu” di sini bukan untuk sok2an bagi diri sendiri, namun untuk kepentingan orang banyak. Well said.
wah, ternyata kenyataan sama rumor memang berbeda ya???tapi memang dari SD,saya juga merasa kita selalu diberikan kecendrungan seperti itu: kalo individualistik itu buruk dsb..tapi setelah saya bisa berfikir logis dan mature enough..saya pikir individualistiknya harus dilihat dari sisi2 yang mana…kadang2 siapa yg berkoarnya paling keras justru yg harus mengevaluasi diri, ya kan????
hmmm…
nice review,
Saya sangat mengharap indonesia memiliki orang-orang seperti anda.Semoga banyak yang tersadar dengan tulisan-tulisan anda.
Saya request untuk posting topik pemilu,mengingat kita sebentar lagi akan pemilu.Dan saya tunggu postingan-postignan anda yang lain.
Terima Kasih.
Salam kenal
saya Yana Priyatna wartawan Opiniindonesia.com di Jakarta
saya membaca komentar2 anda di Overseas Think Tank for Indonesia, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan interview kepada anda:
1. kelompok masyarakat mana di AS yang paling menderita akibat krisis keuangan ?
2. bagaimana warga AS menyiasati hidup dalam menghadapi krisis keuangan ?
3.apakah dampak krisis keuangan terhadap kehidupan masyarakat AS ?
4. apakah warga AS yakin dan percaya pada kebijakan pemerintah AS dalam menyelesaikan krisis keuangan ?
Trims atas jawabannya
Jakarta, 27 Oktober 2008
Yana Priyatna