Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for September, 2007

42 TAHUN G30S/PKI

with 47 comments

By Beni Bevly

Kegiatan “1965 Road Show in the United States” yang berakhir pada tanggal 25 September 2007 hampir berdekatan dengan jatuhnya ulang tahun Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI atau GESTAPU), yaitu pada tanggal 30 September 1965.

Dalam kaitan dengan ulang tahun G30S/PKI ini ada baiknya kita mendengarkan sisi lain dari sejarah yang ditampilkan oleh pemerintahan Soeharto/Suharto pada masa Orde Baru. Salah satu sisi lain adalah interview dengan A. Suryo Wicaksono. Berikut adalah hasil cuplikan interview dan sebagian kegiatan road show yang diprakarsai oleh majalah Indonesia Media, ICAA dan Duarte Inn di Los Angeles Area, Amerika Serikat, para sahabat dan organisasi lainnya.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

September 30th, 2007 at 9:50 pm

PESERTA “1965 INCIDENT ROAD SHOW IN THE UNITED STATES” MENUNTUT KEJUJURAN*

with 32 comments

Di Southwestern Law School

Dari kegiatan “1965 Incident Road Show in the United States” yang berlangsung mulai dari tanggal 4 sampai 25 September 2007 dan dihadiri secara keseluruhan oleh lebih dari 500 peserta bisa ditarik benang merah bahwah sebagian pesertanya menghendaki dan menuntut kejujuran dari pihak yang terlibat dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa tersebut diperkirakan memakan sampai jutaan jiwa rakyat Indonesia.

Perjalanan kegiatan “1965 Incident Road Show in the United States” mencapai ke seluruh kota yang ditargetkan, bahkan ada beberapa pertemuan yang di luar schedule. Road show yang menghadirkan A. Suryo Wicaksono (Suryo) dari Kepala Riset Lapangan dan Pengembangan Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Ketua Kasut Perdamaian (KP) ini berpresentasi di sepuluh (10) kota Amerika Serikat. Di setiap kota, Suryo, begitu panggilan akrabnya, didampingi oleh setiap Person In Charge (PIC) untuk mengungkapkan fakta sejarah dengan cara pemutaran film ppeoses penggalian kuburan masal yang ditemukan oleh SNB/KP dalam kerja sama dengan organisasi lainnya di Indonesia. Menurut penuturan Suryo, telah ditemukan lebih dari 50 titik kuburan masal, dan dua di antaranya telah digali.

Hampir di setiap acara “1965 Incident Road Show” ini dimulai dengan pemutaran film dan dilanjutkan dengan interaksi tanya jawab dan sharing. Dalam interaksi, tersebut tidak jarang peserta terkejut dan tidak percaya bahwa dalam periode 1965-1973 telah terjadi pembunuhan masal yang diperkirakan mencapai 3 juta jiwa. Juga ada peserta yang berkata bahwa selama ini mereka telah mendapat informasi yang salah dan merasa dibohongi oleh penguasa. Mereka juga menuntut agar pelajaran sejarah di sekolah-sekolah disampaikan sesuai dengan penemuan yang ditampilkan dalam road show ini.

Berikut adalah cuplikan singkat dari kegiatan road show di 10 kota di Amerika Serikat:

Philadelphia, Pennsylvania

Kegiatan road show di Philadelphia yang dipimpin oleh Ignatius Suparno, CM dihadiri sekitar 50 orang pada tanggal 7 September 2007. Acara dibuka dengan perkenalan peserta, nonton film “Kapan Tuntas 98” dan “Kuburan Masal ‘65 di Wonosobo dan Blitar”.

Selain mengungkapkan kebenaran sejarah berkisar sekitar tahun 1965, peserta juga berdialog dan men-share kisah-kisah besar seputar peristiwa ‘65 dan ‘98. Lebih dari itu, Romo Parno, panggilan akrab untuk Ignatius Suparno, CM dan Suryo juga menghubungkan materi presentasi dengan kehidupan real masyarakat Philadelphia.

Acara dialog ini ternyata berlanjut pada pada malam berikutnya dengan topic imigrasi. Acara dengan peserta yang berjumlah seratus lima puluhan lebih anggota KKI (Komunitas Katolik Indonesia) Philadelphia juga menghadirkan pembicaranya Sr. Jane Burke dari Washington dan Fr. Tom BEtz dari Philadelphia.

Atlanta, Georgia

Dengan dipimpin oleh PIC Pancha Anugerah, Daniel Fu, dan Wei Siong Tan, PhD kegiatan road show di Atlanta dimulai pada jam 6:00 PM, tanggal 9 September 2007. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang ini menampilkan film “Shadow Play”.

Pesan utama yang disampaikan oleh Suryo dan Pancha adalah memanusiakan para korban yang tertimbun sia-sia karena ketidak-adilan dan kekejaman politik dan mengungkapkan kebenaran fakta sejarah.

Stanford, California

Dari pertemuan dan diskusi yang mendalam antar Suryo dan Donald K. Emerson, Director of Southeast Asia Forum di Sanford University, Stanford, CA, dan didampingi oleh Jennie S. Bev dan Beni Bevly pada tanggal 14 September 2007 disimpulkan bahwa perdebatan politik tingkat tinggi atau konspirasi kejadian pada Gerakan 30 September 1965 bukanlah strategy yang efektif dalam mengungkapkan tragedy kemanusiaan 1965.

Donald Emerson yang lebih suka dipanggil Don dan sangat fasih berbahasa Indonesia ini setuju dengan pengungkapan kebenaran dan fakta dari grass root level, yaitu bekerja sama dan membantu kehidupan para korban atau keluarga korban.

Sacramento, California

Road show di Sacramento, ibu kota California dengan PIC Mutiara Andalas, SJ ternyata membangkitkan emosi dan kesedihan para peserta ketika dan setelah menonton film penggalian kuburan masal Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam kegiatan yang jatuh pada tanggal 15 September 2007 ini, salah seorang di antara 40 peserta berulang kali menghapus air mata yang melinang dari pelupuknya. Peserta lain tidak ketinggalan pula memberikan kesaksian atas kejadian Mei tahun 1998 dengan berapi-api, dicampur perasaan sedih dan geram.

Kegiatan di kota ini berlanjut dengan kelompok yang lebih kecil sampai pukul 2:30 pagi di salah satu restoran di Sacramento.

Union City, California

Keadaan emosional di kegiatan Union City, CA, sekitar 40 menit mengendarai dari San Francisco pada tanggal 16 September 2007 ternyata dinilai melebihi di Sacramento. Seusai pertunjukan film kuburan masal Wonosobo, Romo Andy, pangilan untuk Mutiara Andalas berbicara mengenai bagaimana ia menemani salah satu korban Mei 1998, sampai suatu titik, Romo Andy berhenti berbicara dan terisak, diiringi linangan air mata. Dalam seketika, semua peserta menjadi hening dan banyak dari mereka yang ikut meneteskan air mata. Sungguh memilukan.

Salah seorang di antara kurang lebih 100 peserta yang hadir, datang dari San Leandro, CA menyatakan betapa ia dibohongi oleh penguasa mengenai peristiwa 1965, dan ia menuntut kebenaran dan menuntut agar kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Indonesia diganti.

Kegiatan di Union City yang dimulai dari jam 5:15 sore ini berlanjut dengan kelompok yang lebih kecil hingga jam 10:30 malam.

Riverside, California

Presentasi yang mengambil tempat di depan para mahasiswa California Baptist University di Riverside, CA pada tanggal 19 September 2007 dimotori oleh PIC Dr. Irawan dari Media Indonesia. Kegiatan yang menghadirkan Suryo, Virgo Handojo, PhD sebagai pembicara dan sidampingin moderator Beni Bevly berlangsung sekitar dua jam.

Ternyata sebelumnya sebagian besar mahasiswa dari total sekitar lebih dari 60 peserta mengangap bahwa versi sejarah Suharto mengenai Gerakan 30 September adalah yang benar. Setelah melihat tayangan film kuburan masal di Blitar Selatan, dan berdiskusi dengan ketiga presenter ini, mereka baru menyadari bahwa telah terjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa di Indonesia pada saat itu. Mereka hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar.

Los Angeles, California

Dr. Irawan juga memotori kegitan Road Show di Southwestern Law School, Los Angeles, CA pada tanggal 20 September 2007. Presentasi yang dibuka oleh Mark Cammack, Professor of Law dan pemutaran film penggalian kuburan masal di Wonosobo mengambil tempat di sebuah auditorium yang canggih dan menampilkan dua layar cukup lebar ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Topik diskusi berkisar antara siapa pelaku yang sebenarnya, bagaimana membawa mereka kepengadilan dan apa saja kendala yang dihadapi oleh Suryo dalam upaya penggalian kuburan masal.

Pacific Palisades, California

Diskusi dengan dua professor dari University of California Los Angeles (UCLA), Robert Lemelson, PhD (Department of Psychology & Anthropology) dan Juliana Wijaya, PhD (South and Southeast Asian Languages & Cultures) mengambil tempat di kota Pacific Palisades pada tanggal 21 September 2007. Selain itu juga hadir tokoh komunitas Indonesia, seperti Densi, Grec MC dan Romo Anthony. Diskusi dan diselangi dengan makan siang yang disajikan oleh Prof. Lemelson ini memakan waktu hampir tiga jam.

Diskusi ini membahas impact psychology dari para korban dan keluarga korban hingga pada saat ini. Ternyata hasil penelitian Prof. Lemelson menunjukkan bahwa peristiwa 1965 membawa luka berkepanjangan dan cacat mendalam bagi jiwa korban. Selain itu, ia bukan hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga mencari dan membantu jalan pemecahan.

Duarte, California

Road Show di Duarte, CA dengan PIC Dr. Irawan dan didukung oleh Media Indonesia, Indonesian Chinese American Association (ICAA) dan Duate Inn mengambil tempat di conference room Duate Inn dan dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta pada tanggal 22 September 2007. Kegiatan yang direncanakan dimulai pada jam 7:00 malam ini berakhir melebihi jam 10:00 malam, dan dilanjuti dengan diskusi kelompok kecil hingga jam 1:00 pagi di sebuah restoran Thailand.

Setelah menonton film “Shadow Play” dan kuburan masal Leweng Tikus, Blitar Selatan, sebagian peserta menanyakan apa tindak lanjut dari road show ini dan bagaimana caranya supaya mereka bisa ikut membantu. Suryo menyatakan bahwa road show ini bertujuan untuk menghadirkan kebenaran sejarah dan membantu rekonsiliasi di tingkat grass root. Selebihnya, jika ada yang ingin membantu secara materil dan menyumbangkan tenaga, Suryo me-refer-kannya pada website www.snb.or.id.

Arcadia, California

Di kota Arcadia, CA, pada tanggal 23 September 2007, Suryo berbicara di depan dua komunitas Indonesia, yang pertama adalah di Agape Evangelical Church (AEC) yang dipimpin oleh Dr. Bob Jokiman dan yang kedua mengambil tempat di JKI Anugerah yang dipimpin oleh Virgo Handojo, PhD. Di masing-masing tempat yang total pesertanya mencapai kurang lebih 80 orang diputar film penggalian kuburan masal di Leweng Tikus, Blitar Selatan.

Para peserta dalam presentasi ini menunjukkan sikap yang prihatin dan ikut merasakan penderitaan apa yang dialami para korban dan keluarga korban peristiwa tahun 1965. Dalam kesempatan itu juga, baik Dr. Jokiman maupum Dr. Handojo menyatakan bahwa gereja harus ikut aktif memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia.

Pencapaian

Berkat kerja sama dengan para sahabat dan organisasi baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, berikut adalah pencapaian dari kegiatn 1965 Incident Road Show in the United States:

Pertama, diperkirakan telah meraih awareness cukup banyak di kalangan individu (lebih dari 500 peserta yang hadir) dan organisasi di Amerika Serikat (lebih dari 15 organisasi yang bekerja sama). Kedua, adanya indikasi bahwa para individu dan organisasi di Amerika Serikat terpacu untuk mengadakan kegiatan Hak Asasi Manusia secara lebih aktif. Ketiga, terbentuknya jaringan informal di antara individu dan organisasi yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu mereka yang ingin membela Hak Asasi Manusia. Keempat, adanya kemungkinan terjalinnya kerja sama antar SNB/KP dan beberapa lembaga di Amerika Serikat. Kelima, terkumpulnya sumbangan untuk SNB/KP, berupa uang dan peralatan kerja.

Penutup

Dengan berakhirnya 1965 Incident Road Show in The United States dan pulangnys Suryo ke Indonesia pada tanggal 26 September 2007, bukan berarti berakhirnya kegiatan hak asasi nanusia (HAM) di kalangan komunitas Indonesia di Amerika. Tetapi agaknya, kegiatan ini menjadi momentum untuk menghidupkan, memulai dan mematangkan kegiatan HAM lain yang selama ini belum menemukan jalan pemecahannya di Indonesia. Bahkan sebagian besar organisasi dan peserta sepakat untuk merencanakan, mendukung dan melakukan kegiatan peringatan 10 tahun peristiwa Mei ’98 pada tahun 2008.

Dengan mengutip Edmund Burke (1729-1797), Dr. Jokiman dalam mendampingi Suryo di Arcadia, CA berkata,

“The only thing necessary for the triumph of evil is
for good men to do nothing”.

Karena itu, dengan menuntut dan mengetahui kebenaran, kita akan “do something.”

______________
* Sebagaian tulisan ini disarikan dari laporan masing-masing PIC 1965 Road Show in the United States di setiap kota oleh Beni Bevly. Foto-foto di atas adalah koleksi dari para sahabat di Philadelphia, Atlanta, Sacramento, dan Union City. Pengambilan foto di beberapa kota lainnya dibantuan Arnold Lukito.

September 28, 2007
San Francisco, CA

Beni Bevly
(Moderator)

Written by Beni Bevly

September 30th, 2007 at 9:45 pm

MASS GRAVE IN WONOSOBO, INDONESIA

with 27 comments

One of the films was presented in 1965 Incident Road Show in the United States was Mass Grave in Wonosobo, Java Island, Indonesia. So far,there are 58 mass graves identified and two of them were evacuated.

Here is the other evident of what actually had happened in the event of G30S/PKI (September 30th Movement/Indonesian Communist Party) in 1965 in Indonesia.

Written by Beni Bevly

September 26th, 2007 at 2:36 pm

DI BALIK PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA

with 39 comments

Monumen Pancasila Sakti

Oleh Beni Bevly
Berkaitan dengan 1965 Incident Road Show in the United States, ada satu peristiwa monumental yang bagiku tidak bisa begitu saja ditelan dan diterima secara bulat-bulat. Peristiwa ini masih berjalan sampai sekarang, yaitu upacara nasional pada tanggal 1 Oktober pagi di Lubang Buaya, Jakarta yang oleh pemerintahan Orde Baru, di bawah pimpinan Suharto/Soeharto, diberi nama Hari Kebangkitan Pancasila. Kemudian upacara ritual ini dilajutkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kita semua tahu dari pelajaran sekolah apa sebabnya diberi nama Hari Kesaktian Pancasila, yaitu telah terbukti bahwa Pancasila itu ampuh dan berhasil menghalau dan menumpas komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari muka bumi Indonesia dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran pada percobaan kudeta PKI tahun 1965. Benarkah demikian? Apakah arti sesunggunya di balik peringatan ini?

Setiap tanggal 1 Oktober pagi, hampir semua pejabat kunci negara Republik Indonesia (RI) berkumpul di Lubang Buaya, Jakarta untuk mengadakan ritual, memperbaharui dan mengkokohkan tekat untuk melindungi negara RI dari rongrongan komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI). Upacara ritual ini disimbolkan dengan pengorbanan nyawa yang sangat memilukan dan menyayat hati dari 6 jenderal senior dan lainnya. Dikabarkan bahwa para korban ini disayat-sayat dengan silet, mata mereka dicungkil dan kelaminnya dipotong. Hal ini dibantah oleh Soekarno.

Upacara ritual seperti ini mengingatkan aku akan adegan sembayang ritual dalam satu film laga Hongkong. Seingatku, dalam adegan itu, para guru dan murid melukai tangan mereka, meneteskan darahnya di dalam satu panci arak, diminum secara bergantian dengan khidmat dan penuh kegeraman sambil bersumpah dengan sengit akan menjaga dan menjunjung nama baik, persatuan dan keutuhan perguruan mereka. Meraka juga bersumpah akan mengusir dan membalas dendam kalau perlu dengan cara membunuh para musuh dan mantan musuh para leluhur mereka sampai ke akar-akarnya.

Peringatan Hari Kesaktian Pascasila ini bercikal bakal pada peristiwa 30 September 1965, di mana enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang dilakukan oleh para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:

* Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani,
* Mayjen TNI R. Suprapto
* Mayjen TNI M.T. Haryono
* Mayjen TNI Siswondo Parman
* Brigjen TNI DI Panjaitan
* Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo

Jenderal TNI A.H. Nasution juga disebut sebagai salah seorang target namun dia selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tandean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:

* AIP Karel Satsuit Tubun
* Brigjen Katamso Darmokusumo
* Kolonel Sugiono

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965(http://id.wikipedia.org).

Setelah peristiwa percobaan kudeta ini, menyusul pembantaian yang dipimpin oleh Soeharto terhadap para pengikut atau orang yang dianggap berhubungan dengan PKI. Diperkirakan paling tidak 1 juta orang tewas dan ratusan ribu orang dipenjara atau ditahan di camp konsentrasi tanpa melalui pengadilan dan perlawanan. Majalah Time pada saat itu menggambarkan,

“Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius.”

Menjelang dan pada tahun 1965, PKI merupakan partai komunis terbesar setelah partai komunis di Republik Rakyat Cina (RRC) dan Rusia. Walaupun DN Aidit, pemimpin partai pada saat itu selalu menyerukan untuk kerja sama dengan militer dan polisi, serta menolak sistem penerapan komunisme dari RRC dan Rusia, PKI tetap menjadi dan dianggap sebagai ancaman bagi militer. Anggapan ini diperkuat dengan propaganda pemikiran Soekarno tentang Nasionalisme, Agama dan Komonisme (Nasakom) dan dukungannya untuk mempersenjatai angkatan ke lima yang terdiri dari buruh dan petani, selain Angkatan Militer dari Darat, Laut, Udara dan Polisi. Angkatan kelima, yang merupakan usulan PKI, diadakan karena situasi politik yang penuh gejolak dan seruan revolusioner dari Presiden Soekarno serta banyaknya konflik seperti Irian Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora) yang membutuhkan banyak sukarelawan-sukarelawan. Hal ini menambah kegusaran dikalangan pimpinan militer khususnya Angkatan Darat. Khawatir unsur ini digunakan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, meniru pengalaman dari revolusi baik dari Rusia maupun RRC (http://id.wikipedia.org dan Benedict R. Anderson dan Ruth T. McVey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, 1971).

Akhirnya, percobaan kudeta oleh Kolonel Untung inilah yang dijadikan momentum dan alat pemukul oleh militer angkatan darat di bawah pimpinan Soeharto untuk menumpas rival politik mereka, yaitu PKI yang selanjutnya membawa ia ke tatah kekuasaan selama 32 tahun.

Kembali ke pertanyaan tentang esensi peringatan Hari Kesaktian Pancasila di atas. Sebagai jawaban, agaknya peringatan dan upacara ritual ini lebih tepat berupa konfirmasi atas ketekatan sekelompok orang untuk menumpas dan membunuh berapun banyaknya orang demi merebut kekuasaan dan sekarang terbukti cenderung untuk kepentingan sekelompak orang.

Ternyata, latarbelakang dan akibat peristiwa yang diperingati oleh petinggi negara kita di Lubang Buaya jauh lebih mengerikan dan sadis dibandingkan adegan peringatan ritual film laga Hongkong di atas.

Dari segi kemanusiaan, bukankan peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini mestinya menitikberatkan pada penyesalan dan keprihatinan atas jutaan nyawa rakyat Indonesia yang melayang karena ulah seorang yang bernama Soeharto?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.