DI BALIK PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA
Oleh Beni Bevly
Berkaitan dengan 1965 Incident Road Show in the United States, ada satu peristiwa monumental yang bagiku tidak bisa begitu saja ditelan dan diterima secara bulat-bulat. Peristiwa ini masih berjalan sampai sekarang, yaitu upacara nasional pada tanggal 1 Oktober pagi di Lubang Buaya, Jakarta yang oleh pemerintahan Orde Baru, di bawah pimpinan Suharto/Soeharto, diberi nama Hari Kebangkitan Pancasila. Kemudian upacara ritual ini dilajutkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kita semua tahu dari pelajaran sekolah apa sebabnya diberi nama Hari Kesaktian Pancasila, yaitu telah terbukti bahwa Pancasila itu ampuh dan berhasil menghalau dan menumpas komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari muka bumi Indonesia dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran pada percobaan kudeta PKI tahun 1965. Benarkah demikian? Apakah arti sesunggunya di balik peringatan ini?
Setiap tanggal 1 Oktober pagi, hampir semua pejabat kunci negara Republik Indonesia (RI) berkumpul di Lubang Buaya, Jakarta untuk mengadakan ritual, memperbaharui dan mengkokohkan tekat untuk melindungi negara RI dari rongrongan komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI). Upacara ritual ini disimbolkan dengan pengorbanan nyawa yang sangat memilukan dan menyayat hati dari 6 jenderal senior dan lainnya. Dikabarkan bahwa para korban ini disayat-sayat dengan silet, mata mereka dicungkil dan kelaminnya dipotong. Hal ini dibantah oleh Soekarno.
Upacara ritual seperti ini mengingatkan aku akan adegan sembayang ritual dalam satu film laga Hongkong. Seingatku, dalam adegan itu, para guru dan murid melukai tangan mereka, meneteskan darahnya di dalam satu panci arak, diminum secara bergantian dengan khidmat dan penuh kegeraman sambil bersumpah dengan sengit akan menjaga dan menjunjung nama baik, persatuan dan keutuhan perguruan mereka. Meraka juga bersumpah akan mengusir dan membalas dendam kalau perlu dengan cara membunuh para musuh dan mantan musuh para leluhur mereka sampai ke akar-akarnya.
Peringatan Hari Kesaktian Pascasila ini bercikal bakal pada peristiwa 30 September 1965, di mana enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang dilakukan oleh para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
* Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani,
* Mayjen TNI R. Suprapto
* Mayjen TNI M.T. Haryono
* Mayjen TNI Siswondo Parman
* Brigjen TNI DI Panjaitan
* Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo
Jenderal TNI A.H. Nasution juga disebut sebagai salah seorang target namun dia selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tandean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.
Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
* AIP Karel Satsuit Tubun
* Brigjen Katamso Darmokusumo
* Kolonel Sugiono
Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965(http://id.wikipedia.org).
Setelah peristiwa percobaan kudeta ini, menyusul pembantaian yang dipimpin oleh Soeharto terhadap para pengikut atau orang yang dianggap berhubungan dengan PKI. Diperkirakan paling tidak 1 juta orang tewas dan ratusan ribu orang dipenjara atau ditahan di camp konsentrasi tanpa melalui pengadilan dan perlawanan. Majalah Time pada saat itu menggambarkan,
“Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius.”
Menjelang dan pada tahun 1965, PKI merupakan partai komunis terbesar setelah partai komunis di Republik Rakyat Cina (RRC) dan Rusia. Walaupun DN Aidit, pemimpin partai pada saat itu selalu menyerukan untuk kerja sama dengan militer dan polisi, serta menolak sistem penerapan komunisme dari RRC dan Rusia, PKI tetap menjadi dan dianggap sebagai ancaman bagi militer. Anggapan ini diperkuat dengan propaganda pemikiran Soekarno tentang Nasionalisme, Agama dan Komonisme (Nasakom) dan dukungannya untuk mempersenjatai angkatan ke lima yang terdiri dari buruh dan petani, selain Angkatan Militer dari Darat, Laut, Udara dan Polisi. Angkatan kelima, yang merupakan usulan PKI, diadakan karena situasi politik yang penuh gejolak dan seruan revolusioner dari Presiden Soekarno serta banyaknya konflik seperti Irian Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora) yang membutuhkan banyak sukarelawan-sukarelawan. Hal ini menambah kegusaran dikalangan pimpinan militer khususnya Angkatan Darat. Khawatir unsur ini digunakan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, meniru pengalaman dari revolusi baik dari Rusia maupun RRC (http://id.wikipedia.org dan Benedict R. Anderson dan Ruth T. McVey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, 1971).
Akhirnya, percobaan kudeta oleh Kolonel Untung inilah yang dijadikan momentum dan alat pemukul oleh militer angkatan darat di bawah pimpinan Soeharto untuk menumpas rival politik mereka, yaitu PKI yang selanjutnya membawa ia ke tatah kekuasaan selama 32 tahun.
Kembali ke pertanyaan tentang esensi peringatan Hari Kesaktian Pancasila di atas. Sebagai jawaban, agaknya peringatan dan upacara ritual ini lebih tepat berupa konfirmasi atas ketekatan sekelompok orang untuk menumpas dan membunuh berapun banyaknya orang demi merebut kekuasaan dan sekarang terbukti cenderung untuk kepentingan sekelompak orang.
Ternyata, latarbelakang dan akibat peristiwa yang diperingati oleh petinggi negara kita di Lubang Buaya jauh lebih mengerikan dan sadis dibandingkan adegan peringatan ritual film laga Hongkong di atas.
Dari segi kemanusiaan, bukankan peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini mestinya menitikberatkan pada penyesalan dan keprihatinan atas jutaan nyawa rakyat Indonesia yang melayang karena ulah seorang yang bernama Soeharto?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Lama tak beri komen disini.
Ya saya juga agak bingung ada apa sebenernya dengan peristiwa kesaktian Pancasila.
Semenjak SD kita di doktrin dengan sejarah yang menurut pendapat saya adalah benar, karena saya tidak tahu fata atau realitas sebenarnya.
Tidak hanya itu saja sih, banyak sejarah yang memang selama ini kita teguk dalam-dalam tanpa mempertanyakan sebenarnya benar atau tidak.
Satu point adalah, sejarah kadang adalah akal-akalan si penguasa untuk semakin mempermudah jalur sang penguasa untuk menguasai sesuatu.
Evelyn, senang bahwa kamu menyemepatkan waktu untuk berkunjung ke sini. Akhir-akhir ini, aku memang mengurangi sedikit kegiatan di dunia maya karena prioritas pekerjaan dan kegiatan Hak Asasi Manusia yang sempat saya umumkan di blog ini.
Pada kesempatan ini aku mohon rekan kita yang lain seperti AdhiRock, Bleu, Socrates, Ria, Anymatters, Rusdy, Yeny, Cayadi, Anang, Guabuaknmonyet, Miund, Jennie, Wiwi, dan masih banyak lagi bisa memakluminya. Begitu aku settle down lagi, maka aku akan bisa berkunjung ke “rumah” maya kalian.
Menurut saya, sebenarnya Pancasila adalah ideologi yang sangat luhur. Pancasila adalah ideologi yang paling cocok bagi Indonesia. Sayangnya, pada masa rezim Orde Baru,Pancasila direkayasa sedemikian rupa sehingga pengamalannya pun diatur dalam butir2 Pancasila. Karena itu, pada masa reformasi, muncul keraguan terhadap Pancasila. Bagaimanapun juga, saya tetap ingin Pancasila dipertahankan sebagai ideologi bangsa. Bila kita kaitkan dengan teori modal sosial Putnam, Pancasila bisa menjadi modal sosial pengikatan yang baik bagi rakyat Indonesia yang majemuk. Cukup menggembirakan bahwa Presiden SBY mulai menyebut2 lagi perihal Pancasila dalam pidato kenegaraannya pada peringatan kemerdekaan Indonesia baru2 ini.
Evelyn -> bener banget, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah memang sudah banyak dimodifikasi demi kepentingan penguasa. Banyak kenyataan yang tidak diungkapkan. Jadi, ada baiknya kalau kita banyak membaca buku-buku sejarah di luar kurikulum pendidikan nasional. Misalkan karya Ong Hok Ham, Pramoedya, dan lain2.
Saya setuju dengan koment nya Ria Wibisono.
Saya suka dengan ideologi Pancasila dan memang paling cocok untuk negara Indoensia yg terdiri dari multiple religion.
Benny, kalau tidak salah, rasanya kita di sarankan untuk pasang bendera setengah tiang setiap tgl 30 September untuk mengenang para korban PKI. Setelah itu kita merayakan hari Kesaktian Pancasila pada tgl 1 Oktober. Dimana dalam upacara ini ditekankan kalau negara kita adalah negara yg berke Tuhanan Mahaa Esa. Bukan negara komunis.
Menurut saya perayaan hari kesaktian pancasila di rayakan untuk membangkitkan semangat persatuan setelah masyarakat mengalami masa ketakutan, mengetahui pembunuhan masal para jenderal.
Mudah mudahan Indonesia tetap menjunjung tingi ideologi pancasila.
Negara yg ber “Ketuhanan yg Maha Esa”, A
“Nation under God” sama seperti Amerika.
Pertanyaannya sekarang adalah, “apakah Pancasila benar-benar sakti?” Tampaknya peringatan kesaktian Pancasila hanya jadi retorika pemerintah dan politisi saja, sementara masyarakat secara keseluruhan hanya melihat peringatan itu sebagai sekedar formalitas basa-basi.
Iya Mas Bevly dimaklumi kok, lagi sibuk yah
Boleh saja kita sinis dengan menggerutu sambil mengatakan : sejarah adalah sesukanya penguasa berkata.
Bagi saya sejarah adalah sesukanya saya. Karena sejarah akan saya pahami berdasar apa yang saya baca, seberapa banyak yang saya baca dan gali.Seberapa banyak saya meneguk literatur, dan seberapa luas daya tampung wawasan saya.
Saya rindu nilai-nilai pancasila apalagi saat ingat puluhan tempat ibadah dibakar, ingat anggota dewan yang cuma jago interupsi (baca: monolog) tapi gagap saat diajak musyawarah, ingat kerabat saya yang dipinggirkan karena dia triple minoritas: cina-kristen dan kaya lagi..!
Semua ideologi mempunyai nilai2 idealis, termasuk juga Pancasila. Sayangnya, sebagaimana juga agama, pelaksana ideologi seringkali tidaklah seidealis ideologinya. Sebagaimana juga pelaksana agama tidaklah seidealis institusi agama itu sendiri.
Sejarah adalah masalah persepsi, sebagaimana kita memandang sejarah hidup kita sendiri juga. Bagaimana kita memberi arti dan sebagaimana dalamnya kita menggali kebenaran dan cross-checking, itulah yang lebih penting.
Mindsetnya yang jelas haruslah terbuka, tidak menutup diri akan kemungkinan2.
@Anang, tripel minoritas adalah blessing in disguise. Semoga!
Mas Bevly, saya setuju bahwa ada perselingkuhan politik dibalik tragedi 30 sept. Tapi untuk menanggungkan seluruh kesalahan ke pundak Soeharto dan membebaskan sama sekali PKI dari kesalahan adalah sama fairnya. Ada cukup banyak catatan dan saksi hidup yang menegaskan kesadisan PKI. Apalagi kalau anda menelusuri sejarah peristiwa Madiun ‘48. Saya pikir dalam kondisi politik waktu itu, ada saling tikung antara kekuatan-kekuatan busuk. karenanya kita harus cukup Fair.
Ria, Lyl, Guabukanmonyet, Anang, Jennie dan Fajar, terima kasih atas komentarnya. Adalah suatu suasana segar bila membaca komentar dari rekan-rekan sekalian.
Hari ini merupakan hari kedua selesainya 1965 Incident Road Show in the United States secara resmi. Banyak informasi, persepsi dan paham politik yang aku dapatkan dalam perjalanan Road Show di 10 kota AS ini. Intinya, banyak dari peserta yang berinteraksi menginginkan kebenaran dan kejujuran akan sejarah Indonesia. Mereka tidak pernah menanyakan keberadaan Pancasila sebagai ideologi negara, artinya mereka tidak mengkeritik ideologi ini.
Berkaiatan dengan tanggapan dari rekan sekalian, yang menjadi perhatian dari artikel di atas adalah tragedi kemanusiaan yang memakan begitu banyak jiwa dan tragedi ini sengaja dihilangkan dari ingatan masyarakat Indonesia dengan cara menyalahkan dan menuduh satu pihak. Kita memang tidak boleh menutup mata dan telinga terhadap kekejian kemanusiaan, juga tidak boleh membedakan siapa pelakunya. Demikian halnya dengan peristiwa Madiun ‘48 yang disebutkan oleh Fajar, jika melanggar kemanusiaan, maka harus dibongkar.
Setuju dengan lyl, bahwa Pancasila sebagai payung Indonesia yang multireligion.
Yang sedikit menggangu pikiran saya adalah mengapa komunisme di Indonesia mengusung ideologi anti-Tuhan. Yang saya pahami, komunisme mestinya sebuah ideologi sosial-ekonomi. Jadi PKI lebih terkenal sebagai partai yang anti-agama daripada sebuah partai dengan ideologi turunan sosialisme. Hal ini menurut saya juga berkontribusi pada penentangan terhadap PKI.
Pertanyaan ttg pergerakan komunisme di Indonesia pernah saya tujukan pada dosen sejarah saya yang kebetulan dari Cina dan pernah merasakan hidup di bawah ideologi komunisme. Ia tidak bisa memberi banyak pendapat mengapa jalan yang ditmepuh komunisme Indonesia seperti itu.
Ian, tidak bisa dipungkiri bahwa ideology komunisme tumbuh dari kondisi masyarakat yang tidak adil. Komunisme melihat salah satu faktor penyebab ketidak adilan adalah agama. Agama (Gereja Kristen di Eropa) pada abad pertengahan dan jaman revolusi budaya dilihatnya tidak menawarkan jalan keluar, malah mengajarkan untuk menerima nasib dan membantu para penindas. Agama seperti ini oleh Karl Marx, pencetus komunisme di bukunya Das Kapital, disebut sebagai racun masyarakat. Jika dilihat pada konteks sejarah seperti ini, komunisme memang anti agama.
Dalam prakteknya di Indonesia, menurut pengetahuan yang aku dapat, DN Aidit, Ketua Polit Biro Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah seorang pemeluk agama dan menjalankan kewajibannya seperti umumnya masyarakat Indonesia. Jika demikian halnya, agaknya akan menjadi janggal jika dikatakan bahwa ia anti agama(?).
Ian, terima kasih komentarnya.
ikutan doung…
khusus buat madiun 48, apa ada data lapangan yang cukup?
Hello Sarip,
Saya nggak punya data itu. Good luck untuk kegiatan kamu. Apakah Fajar bisa bantu?
“agama dan pancasila”
jadi,,,,
apakah pancasila bertentangan dengan agama???
Beny, saya tertarik dengan pertanyaan Ian soal komunisme. Rasanya ada satu buku yang dapat menjelaskan hal itu secara lebih praktis yakni Mao Tze Tung karangan Yung Chang. Coba baca apakah Mao itu komunis sejati, apakah arti komunisme bagi seorang Mao. Buku itu sudah bisa didapati di banyak toko buku di Indonesia dan telah diterbitkan di US dan Canada beberapa tahun yang lalu dan jadi best seller. Sangat menarik, kita dapat memahami lebih jauh Mao dan komunisme itu bagi dia, bagi Lenin, bagi Stalin, pokoknya seru punya.
Aendha dan Alexander, terima kasih banyak atas komentarnya.
Pertanyaan Aendha sangatlah menarik, dan aku yakin bahwa sampai saat ini sulit untuk menemukan orang yang melihat bahwa agama dan Pancasila adalah saling bertentangan. Marilah coba kita analisa hal ini.
Pertama, Pancasila bersifat nasional ((Sila ke tiga, Persatuan Indonesia dan kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Sedangkan mayoritas agama bersifat internasional, yaitu untuk semua bangsa, bukan hanya satu negara (bersifat nasional).
Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hanya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangkan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu.
Ketiga, dalam Pancasila dinyatakah bahwa system kerakyatan ditentukan atau dipimpin berdasarkan permusyawaratan/perwakilan yang tertuang dalam sila ke lima, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dalam agama, Tuhanlah yang menjadi pemimpin dan penentu.
Jadi Aendha, hakikatnya, jika kita mencari pertentangan, maka akan selalu ditemukan, tetapi yang lebih penting lagi bagaimana kita menggunakan perbedaan yang ada untuk kemakmuran rakyat.
Lex, thanks untuk informasinya yang berharga.
“…Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hannya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangakan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu.”
—-
Beni,
yg aku pahami, “ke-tidaktunggal-an Tuhan yang ditemukan pada Hinduism itu adalah soal manifestasi dari konsep ‘bahasa’ manusia yang sangat terbatas.
universal atau macrocosmos atau jagad raya ini terlalu besar untuk direduksi dalam bahasa manusia yg sangat dan sangat terbatas.
penamaan manusia pada satu konsep metafisis atau realitas supranatural sangat dipengaruhi oleh situasi dan konteks jaman serta cultur dimana trend spiritualitas itu muncul dan berkembang.
menurutku, bila mau diselami sampai di “akar”nya, spiritualitas yang ada di Hinduism tetap sama sebagaimana ditemukan pada agama2/kepercayaan2 yang ada di indonesia, yakni semangat untuk selaras dengan alam dan sesama.
pasti ada “hidden value” yang tak terkatakan dalam bahasa manusia, mengapa (Soekarno) merumuskan sila pertama dengan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Hinduism tidak bertentangan dengan sila pertama Pancasila.
smile!
Fajar: gimana dengan data lapangan Madiun 48?
Bagi saya, kecil atau besar PKI terlibaat langsung pembunuhan para jendral angkatan darat. Tun tututan pembeantukan angkatan ke 5 yang ditolak tegas \ahmad Yani dan manufer-2 lain yang gagal cukup memberikan bukti keterlibatan PKI.
Apalagi jika melihat polah tingkah mereka di tahun 1948 yang membunuh kyai dan santri di Madiun ! Tak bisa di pungkiri PKI yang atheis jelas sangat menghkhalalkan segala macam cara.
Semoga bangsa ini bisa menjadikan pelajaran kelam itu untuk tidak meninggalkan dan mencampakkan Pancasila sebagai Dasar Negara tserbaik di dunia !
@ Fajar dan rekan2…
Saya kebetulan ada data soal peristiwa 1948 yang merupakan artikel jurnal Indonesia yg diterbitkan Cornell. Artikel itu menunjukan bagaimana peristiwa 1948 sangat terkait dengan konflik di dalam tubuh militer sebenarnya. Sayangnya, saya tidak bisa posting di sini karena file nya cukup besar (64 hal dan 10 MB). Kalau rekan2 ada yg berminat saya bisa email mungkin?
@ rekan2 yang lain..
Peristiwa 1948 dan 1965 pada dasarnya menggambarkan pertarungan elit sipil dan militer (dan konflik dalam tubuh militer sendiri) dan sama pentingnya dengan peristiwa 17 Oktober 1952, Juni 1955, maupun PRRI/Permesta 1958.
Di kalangan sejarawan dan akademisi telah ada semacam konsensus, kendati ada multi-intereptasi atas peristiwa 1965 (misal ada yg menuding PKI, atau Sukarno, atau Suharto, atau Untung sendiri, bahkan CIA), semua karya ilmiah telah menjukan bahwa pernyataan pemerintah bahwa “PKI terlibat langsung dgn pembunuhan para jenderal” tidak bisa dipertahankan dengan sepenuhnya. Fakta yang bicara adalah bahwa para Jenderal diculik dan dibunuh oleh “kelompok” dalam militer dibawah kendali Untung. Seberapa jauh keterlibatan Untung, siapa “dalang” (kalau memang ada), dan apa yang benar2 terjadi, sayang sekali mungkin tidak akan pernah bisa ditemukan fakta sejarah yang otentiknya.
Perdebatan atas apa yg sebenarnya terjadi di 30 Sept 1965 nampaknya nyaris usai di kalangan sejarawan dan akademisi (buku terakhir oleh John Roosa nampak menjadi “kata terakhir” soal peristiwa ini). Sekarang yang tersisa adalah perjuangan hak2 korban yang meninggal pasca 1965. Ini sama halnya denga, kita mungkin tidak akan pernah benar2 tahu apa yg menyebabkan Suharto mundur atau siapa dalang sesungguhnya Mei 1998, dan yang tersisa adalah perjuangan untuk para korban…dan jalan panjang untuk memastikan bahwa 1965 dan 1998 tidak akan pernah berulang lage!
@ rekan2…
Pancasila memang tidak bisa dipungkiri sebagai satu2nya “ideologi” yang masih mungkin memberi “pijakan bersama” bagi berbagai macam suku dan budaya rakyat Indonesia (untuk menggunakan istilah “bangsa” nampaknya sangat sulit dipertahankan).
Persoalannya sekarang adalah bagaimana menjalankan landasan filosofis (istilah Sukarno: “nilai-nilai terkandung”) sebagai landasan program pemerintahan yang konkrit dan non-sektarian. Di satu sisi, untuk memperdebatkan kembali “ideologi” dalam konteks kenegaraan, akan membuka kembali pintu sejarah perpecahan Indonesia di awal kemerdekaan yg sangat karya pertarungan ideologis yang tidak bisa disatukan. (karya Herbert Feith soal pertarungan ideologi ini bisa menjadi gambaran). Di sisi lain, karena politik Indonesia sekarang tidak punya ideologi yang jelas, realpolitik menjadi dasar perilaku elit. Contoh nyata adalah bagaimana PKS, PDI-P, Golkar, PBB, PPP, dan bahkan PDS bisa saling berkoalisi di pilkada tanpa memperdulikan ideologi atau platform politik.
skedar catatan pribadi, jalan “perjuangan” yang disebutkan di atas jelas berbeda2 untuk setiap orang. bagi saya, kutipan Tan Malaka adalah jalur yang saya coba tempuh “tugas tersuci dan termulia adalah mengajar anak-anak Indonesia”.
salam,
Evan