<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: DI BALIK PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA</title>
	<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/</link>
	<description>facilitating intellectuals to contribute to indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 14:14:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: Evan</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-12282</link>
		<dc:creator>Evan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 11:58:13 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-12282</guid>
		<description>@ Fajar dan rekan2...

Saya kebetulan ada data soal peristiwa 1948 yang merupakan artikel jurnal Indonesia yg diterbitkan Cornell. Artikel itu menunjukan bagaimana peristiwa 1948 sangat terkait dengan konflik di dalam tubuh militer sebenarnya. Sayangnya, saya tidak bisa posting di sini karena file nya cukup besar (64 hal dan 10 MB). Kalau rekan2 ada yg berminat saya bisa email mungkin?

@ rekan2 yang lain..

Peristiwa 1948 dan 1965 pada dasarnya menggambarkan pertarungan elit sipil dan militer (dan konflik dalam tubuh militer sendiri) dan sama pentingnya dengan peristiwa 17 Oktober 1952, Juni 1955, maupun PRRI/Permesta 1958. 

Di kalangan sejarawan dan akademisi telah ada semacam konsensus, kendati ada multi-intereptasi atas peristiwa 1965 (misal ada yg menuding PKI, atau Sukarno, atau Suharto, atau Untung sendiri, bahkan CIA), semua karya ilmiah telah menjukan bahwa pernyataan pemerintah bahwa "PKI terlibat langsung dgn pembunuhan para jenderal" tidak bisa dipertahankan dengan sepenuhnya. Fakta yang bicara adalah bahwa para Jenderal diculik dan dibunuh oleh "kelompok" dalam militer dibawah kendali Untung. Seberapa jauh keterlibatan Untung, siapa "dalang" (kalau memang ada), dan apa yang benar2 terjadi, sayang sekali mungkin tidak akan pernah bisa ditemukan fakta sejarah yang otentiknya. 

Perdebatan atas apa yg sebenarnya terjadi di 30 Sept 1965 nampaknya nyaris usai di kalangan sejarawan dan akademisi (buku terakhir oleh John Roosa nampak menjadi "kata terakhir" soal peristiwa ini). Sekarang yang tersisa adalah perjuangan hak2 korban yang meninggal pasca 1965. Ini sama halnya denga, kita mungkin tidak akan pernah benar2 tahu apa yg menyebabkan Suharto mundur atau siapa dalang sesungguhnya Mei 1998, dan yang tersisa adalah perjuangan untuk para korban...dan jalan panjang untuk memastikan bahwa 1965 dan 1998 tidak akan pernah berulang lage!

@ rekan2...

Pancasila memang tidak bisa dipungkiri sebagai satu2nya "ideologi" yang masih mungkin memberi "pijakan bersama" bagi berbagai macam suku dan budaya rakyat Indonesia (untuk menggunakan istilah "bangsa" nampaknya sangat sulit dipertahankan). 

Persoalannya sekarang adalah bagaimana menjalankan landasan filosofis (istilah Sukarno: "nilai-nilai terkandung") sebagai landasan program pemerintahan yang konkrit dan non-sektarian. Di satu sisi, untuk memperdebatkan kembali "ideologi" dalam konteks kenegaraan, akan membuka kembali pintu sejarah perpecahan Indonesia di awal kemerdekaan yg sangat karya pertarungan ideologis yang tidak bisa disatukan. (karya Herbert Feith soal pertarungan ideologi ini bisa menjadi gambaran). Di sisi lain, karena politik Indonesia sekarang tidak punya ideologi yang jelas, realpolitik menjadi dasar perilaku elit. Contoh nyata adalah bagaimana PKS, PDI-P, Golkar, PBB, PPP, dan bahkan PDS bisa saling berkoalisi di pilkada tanpa memperdulikan ideologi atau platform politik. 

skedar catatan pribadi, jalan "perjuangan" yang disebutkan di atas jelas berbeda2 untuk setiap orang. bagi saya, kutipan Tan Malaka adalah jalur yang saya coba tempuh "tugas tersuci dan termulia adalah mengajar anak-anak Indonesia".

salam,

Evan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Fajar dan rekan2&#8230;</p>
<p>Saya kebetulan ada data soal peristiwa 1948 yang merupakan artikel jurnal Indonesia yg diterbitkan Cornell. Artikel itu menunjukan bagaimana peristiwa 1948 sangat terkait dengan konflik di dalam tubuh militer sebenarnya. Sayangnya, saya tidak bisa posting di sini karena file nya cukup besar (64 hal dan 10 MB). Kalau rekan2 ada yg berminat saya bisa email mungkin?</p>
<p>@ rekan2 yang lain..</p>
<p>Peristiwa 1948 dan 1965 pada dasarnya menggambarkan pertarungan elit sipil dan militer (dan konflik dalam tubuh militer sendiri) dan sama pentingnya dengan peristiwa 17 Oktober 1952, Juni 1955, maupun PRRI/Permesta 1958. </p>
<p>Di kalangan sejarawan dan akademisi telah ada semacam konsensus, kendati ada multi-intereptasi atas peristiwa 1965 (misal ada yg menuding PKI, atau Sukarno, atau Suharto, atau Untung sendiri, bahkan CIA), semua karya ilmiah telah menjukan bahwa pernyataan pemerintah bahwa &#8220;PKI terlibat langsung dgn pembunuhan para jenderal&#8221; tidak bisa dipertahankan dengan sepenuhnya. Fakta yang bicara adalah bahwa para Jenderal diculik dan dibunuh oleh &#8220;kelompok&#8221; dalam militer dibawah kendali Untung. Seberapa jauh keterlibatan Untung, siapa &#8220;dalang&#8221; (kalau memang ada), dan apa yang benar2 terjadi, sayang sekali mungkin tidak akan pernah bisa ditemukan fakta sejarah yang otentiknya. </p>
<p>Perdebatan atas apa yg sebenarnya terjadi di 30 Sept 1965 nampaknya nyaris usai di kalangan sejarawan dan akademisi (buku terakhir oleh John Roosa nampak menjadi &#8220;kata terakhir&#8221; soal peristiwa ini). Sekarang yang tersisa adalah perjuangan hak2 korban yang meninggal pasca 1965. Ini sama halnya denga, kita mungkin tidak akan pernah benar2 tahu apa yg menyebabkan Suharto mundur atau siapa dalang sesungguhnya Mei 1998, dan yang tersisa adalah perjuangan untuk para korban&#8230;dan jalan panjang untuk memastikan bahwa 1965 dan 1998 tidak akan pernah berulang lage!</p>
<p>@ rekan2&#8230;</p>
<p>Pancasila memang tidak bisa dipungkiri sebagai satu2nya &#8220;ideologi&#8221; yang masih mungkin memberi &#8220;pijakan bersama&#8221; bagi berbagai macam suku dan budaya rakyat Indonesia (untuk menggunakan istilah &#8220;bangsa&#8221; nampaknya sangat sulit dipertahankan). </p>
<p>Persoalannya sekarang adalah bagaimana menjalankan landasan filosofis (istilah Sukarno: &#8220;nilai-nilai terkandung&#8221;) sebagai landasan program pemerintahan yang konkrit dan non-sektarian. Di satu sisi, untuk memperdebatkan kembali &#8220;ideologi&#8221; dalam konteks kenegaraan, akan membuka kembali pintu sejarah perpecahan Indonesia di awal kemerdekaan yg sangat karya pertarungan ideologis yang tidak bisa disatukan. (karya Herbert Feith soal pertarungan ideologi ini bisa menjadi gambaran). Di sisi lain, karena politik Indonesia sekarang tidak punya ideologi yang jelas, realpolitik menjadi dasar perilaku elit. Contoh nyata adalah bagaimana PKS, PDI-P, Golkar, PBB, PPP, dan bahkan PDS bisa saling berkoalisi di pilkada tanpa memperdulikan ideologi atau platform politik. </p>
<p>skedar catatan pribadi, jalan &#8220;perjuangan&#8221; yang disebutkan di atas jelas berbeda2 untuk setiap orang. bagi saya, kutipan Tan Malaka adalah jalur yang saya coba tempuh &#8220;tugas tersuci dan termulia adalah mengajar anak-anak Indonesia&#8221;.</p>
<p>salam,</p>
<p>Evan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: himan</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-11916</link>
		<dc:creator>himan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 01:07:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-11916</guid>
		<description>Bagi saya, kecil atau besar PKI terlibaat langsung pembunuhan para jendral angkatan darat. Tun tututan pembeantukan angkatan ke 5 yang ditolak tegas \ahmad Yani dan manufer-2 lain yang gagal cukup memberikan bukti keterlibatan PKI.
Apalagi jika melihat polah tingkah mereka di tahun 1948 yang membunuh kyai dan santri di Madiun ! Tak bisa di pungkiri PKI yang atheis jelas sangat menghkhalalkan segala macam cara.

Semoga bangsa ini bisa menjadikan pelajaran kelam itu untuk tidak meninggalkan dan mencampakkan Pancasila sebagai Dasar Negara tserbaik di dunia !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya, kecil atau besar PKI terlibaat langsung pembunuhan para jendral angkatan darat. Tun tututan pembeantukan angkatan ke 5 yang ditolak tegas \ahmad Yani dan manufer-2 lain yang gagal cukup memberikan bukti keterlibatan PKI.<br />
Apalagi jika melihat polah tingkah mereka di tahun 1948 yang membunuh kyai dan santri di Madiun ! Tak bisa di pungkiri PKI yang atheis jelas sangat menghkhalalkan segala macam cara.</p>
<p>Semoga bangsa ini bisa menjadikan pelajaran kelam itu untuk tidak meninggalkan dan mencampakkan Pancasila sebagai Dasar Negara tserbaik di dunia !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sarip</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3109</link>
		<dc:creator>sarip</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 12:32:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3109</guid>
		<description>"...Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hannya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangakan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu."
----
Beni,
yg aku pahami, "ke-tidaktunggal-an Tuhan yang ditemukan pada Hinduism itu adalah soal manifestasi dari konsep 'bahasa' manusia yang sangat terbatas.
universal atau macrocosmos atau jagad raya ini terlalu besar untuk direduksi dalam bahasa manusia yg sangat dan sangat terbatas.
penamaan manusia pada satu konsep metafisis atau realitas supranatural sangat dipengaruhi oleh situasi dan konteks jaman serta cultur dimana trend spiritualitas itu muncul dan berkembang. 
menurutku, bila mau diselami sampai di "akar"nya, spiritualitas yang ada di Hinduism tetap sama sebagaimana ditemukan pada agama2/kepercayaan2 yang ada di indonesia, yakni semangat untuk selaras dengan alam dan sesama.
pasti ada "hidden value" yang tak terkatakan dalam bahasa manusia, mengapa (Soekarno) merumuskan sila pertama dengan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
Hinduism tidak bertentangan dengan sila pertama Pancasila.
smile!
Fajar: gimana dengan data lapangan Madiun 48?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;&#8230;Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hannya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangakan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu.&#8221;<br />
&#8212;-<br />
Beni,<br />
yg aku pahami, &#8220;ke-tidaktunggal-an Tuhan yang ditemukan pada Hinduism itu adalah soal manifestasi dari konsep &#8216;bahasa&#8217; manusia yang sangat terbatas.<br />
universal atau macrocosmos atau jagad raya ini terlalu besar untuk direduksi dalam bahasa manusia yg sangat dan sangat terbatas.<br />
penamaan manusia pada satu konsep metafisis atau realitas supranatural sangat dipengaruhi oleh situasi dan konteks jaman serta cultur dimana trend spiritualitas itu muncul dan berkembang.<br />
menurutku, bila mau diselami sampai di &#8220;akar&#8221;nya, spiritualitas yang ada di Hinduism tetap sama sebagaimana ditemukan pada agama2/kepercayaan2 yang ada di indonesia, yakni semangat untuk selaras dengan alam dan sesama.<br />
pasti ada &#8220;hidden value&#8221; yang tak terkatakan dalam bahasa manusia, mengapa (Soekarno) merumuskan sila pertama dengan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.<br />
Hinduism tidak bertentangan dengan sila pertama Pancasila.<br />
smile!<br />
Fajar: gimana dengan data lapangan Madiun 48?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3089</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 18:02:30 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3089</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Aendha&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Alexander&lt;/strong&gt;, terima kasih banyak atas komentarnya. 

Pertanyaan &lt;strong&gt;Aendha&lt;/strong&gt; sangatlah menarik, dan aku yakin bahwa sampai saat ini sulit untuk menemukan orang yang melihat bahwa agama dan Pancasila adalah saling bertentangan. Marilah coba kita analisa hal ini. 

Pertama, Pancasila bersifat nasional ((Sila ke tiga, Persatuan Indonesia dan kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Sedangkan mayoritas agama bersifat internasional, yaitu untuk semua bangsa, bukan hanya satu negara (bersifat nasional).

Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hanya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangkan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu.

Ketiga, dalam Pancasila dinyatakah bahwa system kerakyatan ditentukan atau dipimpin berdasarkan permusyawaratan/perwakilan yang tertuang dalam sila ke lima, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dalam agama, Tuhanlah yang menjadi pemimpin dan penentu.

Jadi Aendha, hakikatnya, jika kita mencari pertentangan, maka akan selalu ditemukan, tetapi yang lebih penting lagi bagaimana kita menggunakan perbedaan yang ada untuk kemakmuran rakyat.

&lt;strong&gt;Lex&lt;/strong&gt;, thanks untuk informasinya yang berharga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aendha</strong> dan <strong>Alexander</strong>, terima kasih banyak atas komentarnya. </p>
<p>Pertanyaan <strong>Aendha</strong> sangatlah menarik, dan aku yakin bahwa sampai saat ini sulit untuk menemukan orang yang melihat bahwa agama dan Pancasila adalah saling bertentangan. Marilah coba kita analisa hal ini. </p>
<p>Pertama, Pancasila bersifat nasional ((Sila ke tiga, Persatuan Indonesia dan kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Sedangkan mayoritas agama bersifat internasional, yaitu untuk semua bangsa, bukan hanya satu negara (bersifat nasional).</p>
<p>Kedua, dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Pancasila hanya mengakui satu Tuhan atau monoteisme, sedangkan ada agama yang melihat bahwa Tuhan atau God itu tidak tunggal, seperti Hindu.</p>
<p>Ketiga, dalam Pancasila dinyatakah bahwa system kerakyatan ditentukan atau dipimpin berdasarkan permusyawaratan/perwakilan yang tertuang dalam sila ke lima, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dalam agama, Tuhanlah yang menjadi pemimpin dan penentu.</p>
<p>Jadi Aendha, hakikatnya, jika kita mencari pertentangan, maka akan selalu ditemukan, tetapi yang lebih penting lagi bagaimana kita menggunakan perbedaan yang ada untuk kemakmuran rakyat.</p>
<p><strong>Lex</strong>, thanks untuk informasinya yang berharga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Alexander E.S</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3079</link>
		<dc:creator>Alexander E.S</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 13:49:56 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3079</guid>
		<description>Beny, saya tertarik dengan pertanyaan Ian soal komunisme. Rasanya ada satu buku yang dapat menjelaskan hal itu secara lebih praktis yakni Mao Tze Tung karangan Yung Chang. Coba baca apakah Mao itu komunis sejati, apakah arti komunisme bagi seorang Mao. Buku itu sudah bisa didapati di banyak toko buku di Indonesia dan telah diterbitkan di US dan Canada beberapa tahun yang lalu dan jadi best seller. Sangat menarik, kita dapat memahami lebih jauh Mao dan komunisme itu bagi dia, bagi Lenin, bagi Stalin, pokoknya seru punya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Beny, saya tertarik dengan pertanyaan Ian soal komunisme. Rasanya ada satu buku yang dapat menjelaskan hal itu secara lebih praktis yakni Mao Tze Tung karangan Yung Chang. Coba baca apakah Mao itu komunis sejati, apakah arti komunisme bagi seorang Mao. Buku itu sudah bisa didapati di banyak toko buku di Indonesia dan telah diterbitkan di US dan Canada beberapa tahun yang lalu dan jadi best seller. Sangat menarik, kita dapat memahami lebih jauh Mao dan komunisme itu bagi dia, bagi Lenin, bagi Stalin, pokoknya seru punya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aendha</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3073</link>
		<dc:creator>aendha</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 23:51:19 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3073</guid>
		<description>"agama dan pancasila"

jadi,,,,

apakah pancasila bertentangan dengan agama???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;agama dan pancasila&#8221;</p>
<p>jadi,,,,</p>
<p>apakah pancasila bertentangan dengan agama???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3059</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 20:31:47 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3059</guid>
		<description>Hello Sarip,
Saya nggak punya data itu. Good luck untuk kegiatan kamu. Apakah &lt;strong&gt;Fajar&lt;/strong&gt; bisa bantu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hello Sarip,<br />
Saya nggak punya data itu. Good luck untuk kegiatan kamu. Apakah <strong>Fajar</strong> bisa bantu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sarip</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3041</link>
		<dc:creator>sarip</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2007 07:36:49 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-3041</guid>
		<description>ikutan doung...
khusus buat madiun 48, apa ada data lapangan yang cukup?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ikutan doung&#8230;<br />
khusus buat madiun 48, apa ada data lapangan yang cukup?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-2999</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 17:46:05 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-2999</guid>
		<description>&lt;strong&gt;Ian&lt;/strong&gt;, tidak bisa dipungkiri bahwa ideology komunisme tumbuh dari kondisi masyarakat yang tidak adil. Komunisme melihat salah satu faktor penyebab ketidak adilan adalah agama. Agama (Gereja Kristen di Eropa) pada abad pertengahan dan jaman revolusi budaya dilihatnya tidak menawarkan jalan keluar, malah mengajarkan untuk menerima nasib dan membantu para penindas. Agama seperti ini oleh Karl Marx, pencetus komunisme di bukunya Das Kapital, disebut sebagai racun masyarakat. Jika dilihat pada konteks sejarah seperti ini, komunisme memang anti agama. 

Dalam prakteknya di Indonesia, menurut pengetahuan yang aku dapat, DN Aidit, Ketua Polit Biro Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah seorang pemeluk agama dan menjalankan kewajibannya seperti umumnya masyarakat Indonesia. Jika demikian halnya, agaknya akan menjadi janggal jika dikatakan bahwa ia anti agama(?).

Ian, terima kasih komentarnya.

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ian</strong>, tidak bisa dipungkiri bahwa ideology komunisme tumbuh dari kondisi masyarakat yang tidak adil. Komunisme melihat salah satu faktor penyebab ketidak adilan adalah agama. Agama (Gereja Kristen di Eropa) pada abad pertengahan dan jaman revolusi budaya dilihatnya tidak menawarkan jalan keluar, malah mengajarkan untuk menerima nasib dan membantu para penindas. Agama seperti ini oleh Karl Marx, pencetus komunisme di bukunya Das Kapital, disebut sebagai racun masyarakat. Jika dilihat pada konteks sejarah seperti ini, komunisme memang anti agama. </p>
<p>Dalam prakteknya di Indonesia, menurut pengetahuan yang aku dapat, DN Aidit, Ketua Polit Biro Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah seorang pemeluk agama dan menjalankan kewajibannya seperti umumnya masyarakat Indonesia. Jika demikian halnya, agaknya akan menjadi janggal jika dikatakan bahwa ia anti agama(?).</p>
<p>Ian, terima kasih komentarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ian</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-2988</link>
		<dc:creator>Ian</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 01:47:08 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2007/09/06/di-balik-peringatan-hari-kesaktian-pancasila/#comment-2988</guid>
		<description>Setuju dengan lyl, bahwa Pancasila sebagai payung Indonesia yang multireligion. 
Yang sedikit menggangu pikiran saya adalah mengapa komunisme di Indonesia mengusung ideologi anti-Tuhan. Yang saya pahami, komunisme mestinya sebuah ideologi sosial-ekonomi. Jadi PKI lebih terkenal sebagai partai yang anti-agama daripada sebuah partai dengan ideologi turunan sosialisme. Hal ini menurut saya juga berkontribusi pada penentangan terhadap PKI.
Pertanyaan ttg pergerakan komunisme di Indonesia pernah saya tujukan pada dosen sejarah saya yang kebetulan dari Cina dan pernah merasakan hidup di bawah ideologi komunisme. Ia tidak bisa memberi banyak pendapat mengapa jalan yang ditmepuh komunisme Indonesia seperti itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Setuju dengan lyl, bahwa Pancasila sebagai payung Indonesia yang multireligion.<br />
Yang sedikit menggangu pikiran saya adalah mengapa komunisme di Indonesia mengusung ideologi anti-Tuhan. Yang saya pahami, komunisme mestinya sebuah ideologi sosial-ekonomi. Jadi PKI lebih terkenal sebagai partai yang anti-agama daripada sebuah partai dengan ideologi turunan sosialisme. Hal ini menurut saya juga berkontribusi pada penentangan terhadap PKI.<br />
Pertanyaan ttg pergerakan komunisme di Indonesia pernah saya tujukan pada dosen sejarah saya yang kebetulan dari Cina dan pernah merasakan hidup di bawah ideologi komunisme. Ia tidak bisa memberi banyak pendapat mengapa jalan yang ditmepuh komunisme Indonesia seperti itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
