Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

42 TAHUN G30S/PKI

with 14 comments

By Beni Bevly

Kegiatan “1965 Road Show in the United States” yang berakhir pada tanggal 25 September 2007 hampir berdekatan dengan jatuhnya ulang tahun Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI atau GESTAPU), yaitu pada tanggal 30 September 1965.

Dalam kaitan dengan ulang tahun G30S/PKI ini ada baiknya kita mendengarkan sisi lain dari sejarah yang ditampilkan oleh pemerintahan Soeharto/Suharto pada masa Orde Baru. Salah satu sisi lain adalah interview dengan A. Suryo Wicaksono. Berikut adalah hasil cuplikan interview dan sebagian kegiatan road show yang diprakarsai oleh majalah Indonesia Media, ICAA dan Duarte Inn di Los Angeles Area, Amerika Serikat, para sahabat dan organisasi lainnya.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

September 30th, 2007 at 9:50 pm

14 Responses to '42 TAHUN G30S/PKI'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to '42 TAHUN G30S/PKI'.

  1. Lho roadshow ini sebenernya untuk apa?
    Memperkenalkan pada dunia mengenai sejarah kelam 1965 di Indonesia secara benar atau apa?
    Kok di Indonesia sendiri nggak pernah?
    Keliatannya asik ya kalau di selenggarain di Indonesia.

    evelyn

    2 Oct 07 at 7:10 am

  2. Evelyn, benar sekali apa yang kamu sebutkan tentang tujuan Road Show ini, yaitu “Memperkenalkan pada dunia mengenai sejarah kelam 1965 di Indonesia secara benar …” Di samping itu Road show ini juga bertujuan untuk:

    “The main purposes are for educational, reconciliation and sending a message that this never happens again”.

    Jika Evelyn tertarik dengan road show seperti ini, coba bicarakan dengan teman-teman kuliah apakah bisa mengundang Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Kasut Perdamaian (KP) untuk datang ke kampus Evelyn. Evelyn bisa menggunakan momentum 10 tahun Tragedy Mei 1998. Kalau OK, Evelyn bisa kontak mereka.

    Evelyn, thank you untuk comment-nya.

    Beni Bevly

    2 Oct 07 at 10:19 am

  3. menarik, ben, upaya memperkenalkan sisi lain dari indonesia seperti ini. memang kita harus berani mengakui masa lalu yang kelam, meski dengan menelan kegetiran yang diam.

    Yo

    3 Oct 07 at 5:53 pm

  4. Waduh kalau buat aku sendiri sie, mau2 aja bikin acara seperti itu lho!
    Soalnya memang interest sama politik.
    Tapi sayang aku sudah nggak ada peluang untuk mengadakan hal seperti itu.
    Soalnya posisiku dari BEM udah habis! Jadi sudah nggak ada power untuk ngadain acara okeh seperti itu.
    Lagian kampusku yang berbasis agami itu mana mau menurunkan dana untuk hal2 seperti ini?
    Mereka lebih milih jalan luruh deh daripada berkelok-kelok.
    ;)

    evelyn

    3 Oct 07 at 11:32 pm

  5. Topik yg menarik, nice interview.
    Betapa besarnya dampak yang cukup signifikan setelah reformasi di Indo, rakyat lebih kritis untuk mengeluarkan suara dibanding pada zaman pemerintahan sebelum reformasi. Buku2 mengenai kebenaran kisah sejarah, acara yang mengkritik pemerintahan spt Republik BBM mulai banyak bermunculan.

    sakuralady

    4 Oct 07 at 4:39 am

  6. Yo, Evelyn dan Sakuralady, terima kasih banyak atas perhatian pada masalah yang satu ini. Seperti yang diungkapkan oleh Mutiara Andalas SJ, salah satu pembicara dari 1965 Incident Road Show 1965 bahwa negara yang melakukan kekerasan ini sengaja menciptakan suatu keadaan dimana rakyatnya lupa bahwa kekersan itu telah terjadi.

    Bukan hanya itu saja, bahkan negara mempunyai kecenderungan untuk menuduh bahwa korban dan pembela korban kekerasan adalah penghianat negara dan segerombolan tidak beragam (dalam tragedi 1965), dan perusuh dan penjarah (dalam tragedi Mei 1998). Dengan demikian para korban dan pembela korban dibuat merasa bersalah dan pada akhirnya rakyatpun berpendapat kekerasan itu tidak perlu dibicarakan lagi dan lama kelamaan menjadi suatu yang tabu. Jika rakyat secara keseluruhan sudah bersikap demikian, apalagi korban yang sudah sulit bersuara karena tekanan batin, maka mereka akan sama sekali kehilangan suara dan identitas mereka.

    Karena tidak ada suara lagi, pada akhirnya si pelaku kekerasan (negara) berhasil melindungi kepentingan mereka dan tetap berkuasa.

    Beni Bevly

    5 Oct 07 at 8:53 am

  7. Thanks for sharing this, and also the clips from Wonosobo. I fully agree the objectives. We’ve been brainwashed since school age about this part of history. We should not let this happen again, ever.

    The practice of this kind of politics in 1965 has brought a fake unity against innocent people, and perhaps created justification for the killings at that time – for all the wrong reasons.

    bleu

    5 Oct 07 at 9:23 pm

  8. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Anda bisa lebih mempopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Salam Blogger!

    http://www.lintasberita.com/Lokal/42_TAHUN_G30SPKI/

    Anthony

    21 Nov 07 at 9:23 pm

  9. Bleu dan Anthony, adalah kesenangan aku untuk menshare ide di blog ini. Terima kasih atas pendapat dan kunjugannya. Semoga LintasBerita.Com sukes selalu dan semakin banyak dibaca.

    Beni Bevly

    23 Nov 07 at 8:44 pm

  10. Aktivitas dan informasinya sangat menarik dan berguna, untuk adanya pencerahan dan klarifikasi soal pelanggaran HAM dan demokrasi oleh mantan presiden Suharto.

    Interview dengan A. Suryo Wicaksono telah di link ke Kolektif info Coup d’etat 65: http://www.progind.net

    Anonymous

    12 Jan 08 at 2:59 am

  11. Komentar saya yang pertama adalah LUCU

    Apakah anda semua, kalau hal ini terungkap/dipaksa diungkap atas nama kebenaran (kebenaran yang mana ya?????).
    Saudara tahu apa akibatnya ???

    DENDAM DENDAM dan DENDAM
    Lalu kalau sudah begini apa maunya sich ?????????

    Orang boleh saja berbeda pendapat atau bahkan maki-maki atas pendapat ini. Tetapi marilah dengan dengan segala kerendahan dan. bahwa saya pun termasuk salah satu korban (kakek, nenek, uwak). Tetapi terhadap pelaku sebagai anak-keturunan beliau saya TIDAK PERNAH MENARUH DENDAM terhadap mereka.

    MAKA menurut saya:
    1. Jangan menambah luka dendam menjadi lebih banayak dengan obrolan omomg kosong seperti ini
    2. Jadikan ini suatu pelajaran buruk yang JANGAN SAMPAI TERULANG
    3. Jangna mudah ditunggani oleh pemancing di air keruh

    Ayo lebih baik kita menatap masa depan agar hidup jauh lebih baik lagi daripada yang sekarang

    lucu

    6 Mar 09 at 4:53 pm

  12. Sdr. Lucu, kasus ini adalah kasus serius. Bagaimana anda bisa melihat kasus ini kucu jika diduga ratusan sampai juataan rakyat Indonesia dibantai tanpa dihadapakan pada sidang yang fair.

    Dalam kegiatan ini, kami sama sekali tidak memasukkan unsur dendam dan tidak memaki-maki. Pada prinsipnya, tujuan kami mempunyai kesamaan dengan maksud anda.

    Dengan memperingati kejadian ini, kami yakin akan tercipta keterbuakaan, saling menerima dan memaafkan dan terjadi konsiliasi. Hal ini terlah tercipta dan kami ingin lebih banyak keluarga korban berubah pandang seperti ini. Dengan demikian kita harapakan kasus pembantaian ini tidak terjadi lagi.

    Terima kasih atas komentarnya.

    Beni Bevly

    9 Mar 09 at 2:52 pm

  13. gembira saya melihat ketekunan bung beni untuk membukatragedi pembunuhan massal th 65 ini. saya sendiri heran kenapa rakyat kita ini dengan mudahnya memberikan respon yg sangat emosional berdasarkan atau disebabkan oleh sebuah himbauan yg sifatnya negatif ya bung beni?.tawuran, pembunuhan masal, kerusuhan masal, perkelahian, demonstrasi yg berakhir anarkhi.kalau dari berbagai referensi pada th 65 tersbut memang di beberapa khasus simpatisan PKI agak arogan sehingga banyak barisan sakit hati. mungkinkah begitu bung beny ? analisa anda ?.

    thanks

    redrigo

    redrigo

    4 Jan 10 at 2:11 am

  14. rerigo,

    Terima kasih atas komentarnya. Perbedaan pandangan politik dan persepsi bahasa tubuh adalah hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat dan berpolitik, terutama dalam masyarakat demokrasi. Yang menjadi permasalahan jika perbedaan ini dijadikan alasan untuk pembunuhan dan pembantaian massal. Bahkan pembunuhan terhadap satu orang saja sudah menjadi masalah besar, apalagi pembunahan massal seperti ini.

    Dalam masyarakat demokrasi dan beradab, segala perbedaan diselesaikan melalui jalur hukum yang disetujui oleh masyarakat melalui perwakilan yang sah, argumen melalui logika dan pembuktian fakta, dan pengambilan keputusan yang berdasarkan kepentingan msayarakat banyak, bukan atas kepentingan satu orang atau golongan.

    Beni Bevly

    13 Jan 10 at 12:13 pm

Leave a Reply