PESERTA “1965 INCIDENT ROAD SHOW IN THE UNITED STATES” MENUNTUT KEJUJURAN*
Dari kegiatan “1965 Incident Road Show in the United States” yang berlangsung mulai dari tanggal 4 sampai 25 September 2007 dan dihadiri secara keseluruhan oleh lebih dari 500 peserta bisa ditarik benang merah bahwah sebagian pesertanya menghendaki dan menuntut kejujuran dari pihak yang terlibat dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa tersebut diperkirakan memakan sampai jutaan jiwa rakyat Indonesia.
Perjalanan kegiatan “1965 Incident Road Show in the United States” mencapai ke seluruh kota yang ditargetkan, bahkan ada beberapa pertemuan yang di luar schedule. Road show yang menghadirkan A. Suryo Wicaksono (Suryo) dari Kepala Riset Lapangan dan Pengembangan Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Ketua Kasut Perdamaian (KP) ini berpresentasi di sepuluh (10) kota Amerika Serikat. Di setiap kota, Suryo, begitu panggilan akrabnya, didampingi oleh setiap Person In Charge (PIC) untuk mengungkapkan fakta sejarah dengan cara pemutaran film ppeoses penggalian kuburan masal yang ditemukan oleh SNB/KP dalam kerja sama dengan organisasi lainnya di Indonesia. Menurut penuturan Suryo, telah ditemukan lebih dari 50 titik kuburan masal, dan dua di antaranya telah digali.
Hampir di setiap acara “1965 Incident Road Show” ini dimulai dengan pemutaran film dan dilanjutkan dengan interaksi tanya jawab dan sharing. Dalam interaksi, tersebut tidak jarang peserta terkejut dan tidak percaya bahwa dalam periode 1965-1973 telah terjadi pembunuhan masal yang diperkirakan mencapai 3 juta jiwa. Juga ada peserta yang berkata bahwa selama ini mereka telah mendapat informasi yang salah dan merasa dibohongi oleh penguasa. Mereka juga menuntut agar pelajaran sejarah di sekolah-sekolah disampaikan sesuai dengan penemuan yang ditampilkan dalam road show ini.
Berikut adalah cuplikan singkat dari kegiatan road show di 10 kota di Amerika Serikat:
Philadelphia, Pennsylvania
Kegiatan road show di Philadelphia yang dipimpin oleh Ignatius Suparno, CM dihadiri sekitar 50 orang pada tanggal 7 September 2007. Acara dibuka dengan perkenalan peserta, nonton film “Kapan Tuntas 98” dan “Kuburan Masal ‘65 di Wonosobo dan Blitar”.
Selain mengungkapkan kebenaran sejarah berkisar sekitar tahun 1965, peserta juga berdialog dan men-share kisah-kisah besar seputar peristiwa ‘65 dan ‘98. Lebih dari itu, Romo Parno, panggilan akrab untuk Ignatius Suparno, CM dan Suryo juga menghubungkan materi presentasi dengan kehidupan real masyarakat Philadelphia.
Acara dialog ini ternyata berlanjut pada pada malam berikutnya dengan topic imigrasi. Acara dengan peserta yang berjumlah seratus lima puluhan lebih anggota KKI (Komunitas Katolik Indonesia) Philadelphia juga menghadirkan pembicaranya Sr. Jane Burke dari Washington dan Fr. Tom BEtz dari Philadelphia.
Atlanta, Georgia
Dengan dipimpin oleh PIC Pancha Anugerah, Daniel Fu, dan Wei Siong Tan, PhD kegiatan road show di Atlanta dimulai pada jam 6:00 PM, tanggal 9 September 2007. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang ini menampilkan film “Shadow Play”.
Pesan utama yang disampaikan oleh Suryo dan Pancha adalah memanusiakan para korban yang tertimbun sia-sia karena ketidak-adilan dan kekejaman politik dan mengungkapkan kebenaran fakta sejarah.
Stanford, California
Dari pertemuan dan diskusi yang mendalam antar Suryo dan Donald K. Emerson, Director of Southeast Asia Forum di Sanford University, Stanford, CA, dan didampingi oleh Jennie S. Bev dan Beni Bevly pada tanggal 14 September 2007 disimpulkan bahwa perdebatan politik tingkat tinggi atau konspirasi kejadian pada Gerakan 30 September 1965 bukanlah strategy yang efektif dalam mengungkapkan tragedy kemanusiaan 1965.
Donald Emerson yang lebih suka dipanggil Don dan sangat fasih berbahasa Indonesia ini setuju dengan pengungkapan kebenaran dan fakta dari grass root level, yaitu bekerja sama dan membantu kehidupan para korban atau keluarga korban.
Sacramento, California
Road show di Sacramento, ibu kota California dengan PIC Mutiara Andalas, SJ ternyata membangkitkan emosi dan kesedihan para peserta ketika dan setelah menonton film penggalian kuburan masal Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam kegiatan yang jatuh pada tanggal 15 September 2007 ini, salah seorang di antara 40 peserta berulang kali menghapus air mata yang melinang dari pelupuknya. Peserta lain tidak ketinggalan pula memberikan kesaksian atas kejadian Mei tahun 1998 dengan berapi-api, dicampur perasaan sedih dan geram.
Kegiatan di kota ini berlanjut dengan kelompok yang lebih kecil sampai pukul 2:30 pagi di salah satu restoran di Sacramento.
Union City, California
Keadaan emosional di kegiatan Union City, CA, sekitar 40 menit mengendarai dari San Francisco pada tanggal 16 September 2007 ternyata dinilai melebihi di Sacramento. Seusai pertunjukan film kuburan masal Wonosobo, Romo Andy, pangilan untuk Mutiara Andalas berbicara mengenai bagaimana ia menemani salah satu korban Mei 1998, sampai suatu titik, Romo Andy berhenti berbicara dan terisak, diiringi linangan air mata. Dalam seketika, semua peserta menjadi hening dan banyak dari mereka yang ikut meneteskan air mata. Sungguh memilukan.
Salah seorang di antara kurang lebih 100 peserta yang hadir, datang dari San Leandro, CA menyatakan betapa ia dibohongi oleh penguasa mengenai peristiwa 1965, dan ia menuntut kebenaran dan menuntut agar kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Indonesia diganti.
Kegiatan di Union City yang dimulai dari jam 5:15 sore ini berlanjut dengan kelompok yang lebih kecil hingga jam 10:30 malam.
Riverside, California
Presentasi yang mengambil tempat di depan para mahasiswa California Baptist University di Riverside, CA pada tanggal 19 September 2007 dimotori oleh PIC Dr. Irawan dari Media Indonesia. Kegiatan yang menghadirkan Suryo, Virgo Handojo, PhD sebagai pembicara dan sidampingin moderator Beni Bevly berlangsung sekitar dua jam.
Ternyata sebelumnya sebagian besar mahasiswa dari total sekitar lebih dari 60 peserta mengangap bahwa versi sejarah Suharto mengenai Gerakan 30 September adalah yang benar. Setelah melihat tayangan film kuburan masal di Blitar Selatan, dan berdiskusi dengan ketiga presenter ini, mereka baru menyadari bahwa telah terjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa di Indonesia pada saat itu. Mereka hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar.
Los Angeles, California
Dr. Irawan juga memotori kegitan Road Show di Southwestern Law School, Los Angeles, CA pada tanggal 20 September 2007. Presentasi yang dibuka oleh Mark Cammack, Professor of Law dan pemutaran film penggalian kuburan masal di Wonosobo mengambil tempat di sebuah auditorium yang canggih dan menampilkan dua layar cukup lebar ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta.
Topik diskusi berkisar antara siapa pelaku yang sebenarnya, bagaimana membawa mereka kepengadilan dan apa saja kendala yang dihadapi oleh Suryo dalam upaya penggalian kuburan masal.
Pacific Palisades, California
Diskusi dengan dua professor dari University of California Los Angeles (UCLA), Robert Lemelson, PhD (Department of Psychology & Anthropology) dan Juliana Wijaya, PhD (South and Southeast Asian Languages & Cultures) mengambil tempat di kota Pacific Palisades pada tanggal 21 September 2007. Selain itu juga hadir tokoh komunitas Indonesia, seperti Densi, Grec MC dan Romo Anthony. Diskusi dan diselangi dengan makan siang yang disajikan oleh Prof. Lemelson ini memakan waktu hampir tiga jam.
Diskusi ini membahas impact psychology dari para korban dan keluarga korban hingga pada saat ini. Ternyata hasil penelitian Prof. Lemelson menunjukkan bahwa peristiwa 1965 membawa luka berkepanjangan dan cacat mendalam bagi jiwa korban. Selain itu, ia bukan hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga mencari dan membantu jalan pemecahan.
Duarte, California
Road Show di Duarte, CA dengan PIC Dr. Irawan dan didukung oleh Media Indonesia, Indonesian Chinese American Association (ICAA) dan Duate Inn mengambil tempat di conference room Duate Inn dan dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta pada tanggal 22 September 2007. Kegiatan yang direncanakan dimulai pada jam 7:00 malam ini berakhir melebihi jam 10:00 malam, dan dilanjuti dengan diskusi kelompok kecil hingga jam 1:00 pagi di sebuah restoran Thailand.
Setelah menonton film “Shadow Play” dan kuburan masal Leweng Tikus, Blitar Selatan, sebagian peserta menanyakan apa tindak lanjut dari road show ini dan bagaimana caranya supaya mereka bisa ikut membantu. Suryo menyatakan bahwa road show ini bertujuan untuk menghadirkan kebenaran sejarah dan membantu rekonsiliasi di tingkat grass root. Selebihnya, jika ada yang ingin membantu secara materil dan menyumbangkan tenaga, Suryo me-refer-kannya pada website www.snb.or.id.
Arcadia, California
Di kota Arcadia, CA, pada tanggal 23 September 2007, Suryo berbicara di depan dua komunitas Indonesia, yang pertama adalah di Agape Evangelical Church (AEC) yang dipimpin oleh Dr. Bob Jokiman dan yang kedua mengambil tempat di JKI Anugerah yang dipimpin oleh Virgo Handojo, PhD. Di masing-masing tempat yang total pesertanya mencapai kurang lebih 80 orang diputar film penggalian kuburan masal di Leweng Tikus, Blitar Selatan.
Para peserta dalam presentasi ini menunjukkan sikap yang prihatin dan ikut merasakan penderitaan apa yang dialami para korban dan keluarga korban peristiwa tahun 1965. Dalam kesempatan itu juga, baik Dr. Jokiman maupum Dr. Handojo menyatakan bahwa gereja harus ikut aktif memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia.
Pencapaian
Berkat kerja sama dengan para sahabat dan organisasi baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, berikut adalah pencapaian dari kegiatn 1965 Incident Road Show in the United States:
Pertama, diperkirakan telah meraih awareness cukup banyak di kalangan individu (lebih dari 500 peserta yang hadir) dan organisasi di Amerika Serikat (lebih dari 15 organisasi yang bekerja sama). Kedua, adanya indikasi bahwa para individu dan organisasi di Amerika Serikat terpacu untuk mengadakan kegiatan Hak Asasi Manusia secara lebih aktif. Ketiga, terbentuknya jaringan informal di antara individu dan organisasi yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu mereka yang ingin membela Hak Asasi Manusia. Keempat, adanya kemungkinan terjalinnya kerja sama antar SNB/KP dan beberapa lembaga di Amerika Serikat. Kelima, terkumpulnya sumbangan untuk SNB/KP, berupa uang dan peralatan kerja.
Penutup
Dengan berakhirnya 1965 Incident Road Show in The United States dan pulangnys Suryo ke Indonesia pada tanggal 26 September 2007, bukan berarti berakhirnya kegiatan hak asasi nanusia (HAM) di kalangan komunitas Indonesia di Amerika. Tetapi agaknya, kegiatan ini menjadi momentum untuk menghidupkan, memulai dan mematangkan kegiatan HAM lain yang selama ini belum menemukan jalan pemecahannya di Indonesia. Bahkan sebagian besar organisasi dan peserta sepakat untuk merencanakan, mendukung dan melakukan kegiatan peringatan 10 tahun peristiwa Mei ’98 pada tahun 2008.
Dengan mengutip Edmund Burke (1729-1797), Dr. Jokiman dalam mendampingi Suryo di Arcadia, CA berkata,
“The only thing necessary for the triumph of evil is
for good men to do nothing”.
Karena itu, dengan menuntut dan mengetahui kebenaran, kita akan “do something.”
______________
* Sebagaian tulisan ini disarikan dari laporan masing-masing PIC 1965 Road Show in the United States di setiap kota oleh Beni Bevly. Foto-foto di atas adalah koleksi dari para sahabat di Philadelphia, Atlanta, Sacramento, dan Union City. Pengambilan foto di beberapa kota lainnya dibantuan Arnold Lukito.
September 28, 2007
San Francisco, CA
Beni Bevly
(Moderator)

Melihat kembali masa lalu bangsa ini memang banyak hal yang membuat kita tersentak. Terlebih setelah menyadari apa yang kita pelajari dulu tentang sejarah bangsa ini banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan. Untuk peristiwa yang baru terjadi di tahun 90′an memang sudah seharusnya pemerintah berani untuk mengungkapnya. Apakah hal itu bisa terwujud? Kasus Munir yang baru saja terjadi pun belum bisa diungkapkan dengan jelas.
Namun untuk peristiwa di tahun 60′an saya mengkhawatirkan bahwa pengungkapan sejarah waktu itu akan membuat bangsa ini semakin tidak memiliki arah yang jelas. Saya pun bertanya-tanya apa tujuan sebenarnya dari roadshow ini? Kalau dikatakan bahwa roadshow ini bertujuan untuk menghadirkan kebenaran sejarah dan membantu rekonsiliasi di tingkat grass root (who are they exactly anyway?), bagaimana kondisi nyata yang diinginkan terjadi di masyarakat?
Saya jadi teringat akan Nelson Mandela dari South Africa, seorang pemimpin yang mampu memaafkan orang-orang yang telah menganiayanya (dan orang-orang sebangsanya) dulu. Seorang pemimpin yang melihat kedepan dan tak mau terbelenggu oleh sejarah masa lalu bangsanya. The problem is do we have any leader with that kind of profile?
buat SBaskoro,
dengan bertanya: “do we have any leader with that kind of profile?”… saya jadi berpikir sebaliknya: mengapa masalah tragedi 65 belum juga diklarifikasi oleh pemerintah?
bukankah tragedi2 kekerasan tahun 80′an, 90′an tidak tuntas karena “starting point”nya belum diselelesaikan?
akar problemnya, menurut saya, karena kekerasan dibiarkan (bahkan mendapat legitimasi hukum, karena dilakukan oleh aparat).
“arah yang tidak jelas” menurut anda itu, ya karena akarnya tadi ga diselesaikan.
Afrika Selatan bukan Indonesia, bung!
sama2 ada kekerasan (mass killings) tapi tetap tidak identik dalam kultur, histori de el el…