Keterpurukan Ekonomi

Oleh Beni Bevly

Dalam diskusi melalui email dengan sahabat saya, Mutiara Andalas, SJ, saya kemukakan bahwa untuk memperingati 10 tahun Tragedi May 1998, selain dibahas masalah kemanusiaan dari sisi korban, saya pikir kita juga bahas masalah yang sedang ngetrend, misalnya dikaitan dengan keterpurukan ekonomi Indonesia yang belum bisa bangun hingga saat ini. Ia meresponse dengan megirimkan kegiatan “Refleksi Menjelang 10 tahun Reformasi” yang intinya sebagai berikut:

“Bahkan kita menyaksikan secara bertahap birokrat, wakil rakyat dan pakar-pakar bersekongkol menyingkirkan keadilan dari agenda reformasi. “Prioritas kita adalah pemulihan ekonomi, ” kata mereka. Kalau ekonomi sudah membaik barulah pemerintah bisa menata kembali keadilan di negeri ini. Begitu menurut mereka. Para korban kejahatan Orde Baru malah dibuat merasa bersalah karena menuntut terlalu banyak dari pemerintah sekarang yang sedang mengatasi krisis.”

Jelas kutipan di atas sangat menggugah, karena itu jugalah saya setuju bahwa jangan karena alasan ekonomi maka ia dijadikan “Panglima” dalam membangun suatu negara sehingga mengabaikan sisi lain, seperti human right dan demokrasi. Hal inilah yang terjadi pada masa Orde Baru. Sedangkan Orde Lama menjadikan politik sebagai “Panglima” sehingga pembangunan ekonomi menjadi tidak memadai. Inti yang saya maksudkan adalah pembangunan yang simultan dan bersamaan sehingga tidak terjadi kepincangan.

Memang banyak contoh negara di Asia yang mengesampingkan human right dan/atau demokrasi tetapi berhasil membangun perekonomian negaranya. Contohnya yang sering dikemukakan di sini adalah China dan Singapura. Jarang sekali di negara berkembang berhasil menjalankan pembangunan ekonomi disertai dengan pembangunan politik (menuju demokrasi) secara bersamaam. Negara yang menerapkan sistem ini dan terlihat ada hasilnya adalah India. India, walaupun tidak sepenuhnya lancar, telah meperlihatkan dimana pembangunan politik demokrasi, termasuk penjaminan human right bisa jalan seimbang dengan pembangunan ekonomi.

Berdasarkan pemikiran di atas, saya melihat perlu dibahas efek kekerasan negara pada Mei 1998 terhadap rakyatnya dan pertumbuhan ekonomi setelah itu, tentu saja tetap menitik beratkan pembelaan korban kemanusiaan yang tiada taranya. Kedua sub topik ini (ekonomi dan pembelaan korban pada peristiwa Mei 1998), tentu perlu dikembangkan ke langkah operasional dan dijadikan bahan renungan, kalau perlu masukan untuk semua pihak yang membutuhkan.

Perbandingan paralel terhadap penderitaan ekonomi rakyat yang berkepanjagangan di Indonesia bisa dilihat dengan perekonomian rakyat di negara lain yang mengalami hal serupa, seperti di Thailand, Malaysia dan Hongkong. Pengertian penderitaan ekonomi rakyat yang saya maksukan adalah ketidak-seimbangan kenaikan harga barang dan jasa di satu pihak dibandingkan dengan kenaikan pendapatan rakyat Indonesia di lain pihak. Tentu saja dalam hal ini pendapatan mayoritas rakyat Indonesia jauh lebih kecil secara persentasi dibandinkan dengan kenaikan harga barang dan jasa.

Pada saat ini perekonomian Thailand, Malaysia dan Hongkong telah pulih dan tidak menunjukkan adanya bekas peristiwa depressi ekonomi pada tahun 1998. Walaupun di Indonesia telah menunjukkan adanya perbaikan, tetapi perbaikan itu hanya di permukaan saja. Artinya, perbaikan ekonomi di kalangan moyoritas Indonesia di level bawah dan menegah tidak terjadi perbaikan yang berarti (Lebih rinci baca: Pembangunan Ekonomi Indonesia Tidak Trickle Down Effect).

Kembali ke usul untuk memperingati 10 tahun Mei 1998, menurut hemat saya perlu ditampilkan tokoh atau tokoh-tokoh yang mengerti tetang gejala sosial (human right), politik (demokrasi) dan pembangunan ekonomi (yang trickle down efect). Kedengarannya hal ini terlalu kompleks, tetapi saya yakin bahwa di antara 250 juta populasi Indonesia, pasti ada yang peduli dan ahli mengenai hal ini. Orang seperti inilah yang kita harapkan dapat memberikan masukan kepada pengambil keputusan dan pelaku di negara kita. Kita juga membutuhkan pengambil keputusan dan pelaku yang yang peduli terhadap kepentingan rakyat banyak Indonesia.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.