Lambang Ketergantungan Indonesia

Oleh Beni Bevly
Dalam satu mailing list, ada seorang sahabat yang menangapi artikel “KETERPURUKAN EKONOMI INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN TRAGEDI MEI 1998: Analisa Preliminary”. Dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi Indonesia dan kerja sama dengan negara lain, ia mengemukakan:

“Yang pasti juga tidak ada satu negara industripun yang senang kalau negara dunia ketiga bisa menyainginya.”

Membaca kutipan di atas, mengingatkan aku pada teori ketergantungan dan kepentingan dalam hubungan internasional. Dalam dunia internasional, konstelasi politik, keamanan dan ekonomi telah banyak berubah sejak selesainya perang dingin, runtuhnya kubu Uni Soviet dan tumbuhnya raksasa ekonomi China. Walaupun demikian ada satu hal yang tidak berubah, hal ini sejalan dengan kutipan di atas, yaitu negara maju tetap akan menciptakan ketergantungan negara berkembang dan negara terbelakang kepada mereka demi pememenuhan kepentingan nasional mereka.

Dengan terciptaan ketergantungan baik dalam ekonomi, keamanan dan politik, maka suatu negara yang tergantung tidak akan bisa berkembang secara maksimal. Ketergantungan dan efek seperti inilah yang terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru dan juga pada masa sekarang.

Salah satu contohnya adalah di mana Indonesia sangat tergantung pada mengekspor minyak dan kayu mentah pada negara maju, di lain pihak Indonesia tidak dikasih kesempatan untuk mengelolah minyak dan kayu mentah itu menjadi barang jadi atau setengah jadi. Terlepas dari dikasih atau tidaknya kesempatan, pemerintahan Indonesia sudah seharusnya dan selayaknya menumbuhkan dan mempuyai kemampuan ini.

Begitu juga dalam hal politik dan keamanan. Situasi ketakutan akan blok timur (komunis) atau karena hal lain, maka membuat Indonesia bergantung pada dukungan Amerika Serikat baik dari segi ideologi maupun kekuatan bersenjata. Sementara pembangunan dan pendidikan politik secara positive, terbuka dan dewasa agaknya tidak disampaikan pada rakyat Indonesia.

Dua contoh di atas (mengelolah bahan mentah menjadi bahan jadi, dan pembangunan dan pendidikan politik) tentu saja bukan menjadi masalah pemerintahan negara maju yang bekerja sama dengan Indonesia. Bagi mereka justru hal ini lebih baik jangan dikembangkan, karena kondisi keterbelakangan ini bisa digunakan untuk kepentingan nasional negara mereka. Mengapa begitu? Karena pada dasarnya setiap hubungan internasional antar negara selalu didasarkan atas kepentingan nasional. Hanya pemerintahan Indonesia saja yang selama ini tidak banyak melakukan hubungan Internasional berdasarkan kepentingan nasional yang rasional. Indonesia sering mencampur-adukkan kepentingan pribadi/golongan di dalam negeri dan perasaan “solidaritas’ yang tidak menentu. Contohnya adalah sikap Indonesia pada pemerintahan militer Myanmar dan pada pemerintahan Ahmad Dinejad, Iran.

Dengan type hubungan internasional seperti ini, tentu saja mempengaruhi perkembangan dalam negeri Indonesia. Singkatnya, negara kita tidak bisa berdiri sendiri dan tetap menjadi negara yang bergantung pada negara lain secara berkepanjangan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.