Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

TERJEBAK PADA POLITIK KETERGANTUNGAN

with 13 comments

Lambang Ketergantungan Indonesia

Oleh Beni Bevly
Dalam satu mailing list, ada seorang sahabat yang menangapi artikel “KETERPURUKAN EKONOMI INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN TRAGEDI MEI 1998: Analisa Preliminary”. Dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi Indonesia dan kerja sama dengan negara lain, ia mengemukakan:

“Yang pasti juga tidak ada satu negara industripun yang senang kalau negara dunia ketiga bisa menyainginya.”

Membaca kutipan di atas, mengingatkan aku pada teori ketergantungan dan kepentingan dalam hubungan internasional. Dalam dunia internasional, konstelasi politik, keamanan dan ekonomi telah banyak berubah sejak selesainya perang dingin, runtuhnya kubu Uni Soviet dan tumbuhnya raksasa ekonomi China. Walaupun demikian ada satu hal yang tidak berubah, hal ini sejalan dengan kutipan di atas, yaitu negara maju tetap akan menciptakan ketergantungan negara berkembang dan negara terbelakang kepada mereka demi pememenuhan kepentingan nasional mereka.

Dengan terciptaan ketergantungan baik dalam ekonomi, keamanan dan politik, maka suatu negara yang tergantung tidak akan bisa berkembang secara maksimal. Ketergantungan dan efek seperti inilah yang terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru dan juga pada masa sekarang.

Salah satu contohnya adalah di mana Indonesia sangat tergantung pada mengekspor minyak dan kayu mentah pada negara maju, di lain pihak Indonesia tidak dikasih kesempatan untuk mengelolah minyak dan kayu mentah itu menjadi barang jadi atau setengah jadi. Terlepas dari dikasih atau tidaknya kesempatan, pemerintahan Indonesia sudah seharusnya dan selayaknya menumbuhkan dan mempuyai kemampuan ini.

Begitu juga dalam hal politik dan keamanan. Situasi ketakutan akan blok timur (komunis) atau karena hal lain, maka membuat Indonesia bergantung pada dukungan Amerika Serikat baik dari segi ideologi maupun kekuatan bersenjata. Sementara pembangunan dan pendidikan politik secara positive, terbuka dan dewasa agaknya tidak disampaikan pada rakyat Indonesia.

Dua contoh di atas (mengelolah bahan mentah menjadi bahan jadi, dan pembangunan dan pendidikan politik) tentu saja bukan menjadi masalah pemerintahan negara maju yang bekerja sama dengan Indonesia. Bagi mereka justru hal ini lebih baik jangan dikembangkan, karena kondisi keterbelakangan ini bisa digunakan untuk kepentingan nasional negara mereka. Mengapa begitu? Karena pada dasarnya setiap hubungan internasional antar negara selalu didasarkan atas kepentingan nasional. Hanya pemerintahan Indonesia saja yang selama ini tidak banyak melakukan hubungan Internasional berdasarkan kepentingan nasional yang rasional. Indonesia sering mencampur-adukkan kepentingan pribadi/golongan di dalam negeri dan perasaan “solidaritas’ yang tidak menentu. Contohnya adalah sikap Indonesia pada pemerintahan militer Myanmar dan pada pemerintahan Ahmad Dinejad, Iran.

Dengan type hubungan internasional seperti ini, tentu saja mempengaruhi perkembangan dalam negeri Indonesia. Singkatnya, negara kita tidak bisa berdiri sendiri dan tetap menjadi negara yang bergantung pada negara lain secara berkepanjangan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

October 13th, 2007 at 12:16 pm

13 Responses to 'TERJEBAK PADA POLITIK KETERGANTUNGAN'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'TERJEBAK PADA POLITIK KETERGANTUNGAN'.

  1. “Salah satu contohnya adalah di mana Indonesia sangat tergantung pada mengekspor minyak dan kayu mentah pada negara maju, di lain pihak Indonesia tidak dikasih kesempatan untuk mengelolah minyak dan kayu mentah itu menjadi barang jadi atau setengah jadi”

    Walaupun Indonesia belum memiliki sumber daya manusia yang mampu mengelola bahan mentah secara efisien dan mampu bersaing di pasar internasional, seharusnya bukan dijadikan alasan untuk keterbelakangan (atau ketergantungan) di bidang finansial.

    Bukannya memang normal untuk setiap negara saling bergantung satu sama lain untuk bertukar skill-set (’bertukar’ tentunya, bukan tergantung ’satu-arah’)? Contoh: Australia sedang menikmati kemajuan ekonomi berkat meledaknya ekonomi di Cina. Ini disebabkan karena Australia mengekspor bahan mentah berupa bijih besi, dan lain sebagainya, lalu Cina mengelolanya, dan seluruh dunia membelinya dari Cina, termasuk Australia sendiri. Australia sendiri tidak mampu mengelola bahan-bahan mentah ini semurah Cina. Nah, ini ketergantungan yang positif tentunya?

    Masalahnya, seperti yang sudah ditulis di sini sebelumnya (Hitung-Hitung Soal Korupsi), pemasukan negara dari hasil ekspor ini, bukannya digunakan untuk membangun negara, malah lari entah kemana. Tanya kenapa? Tanya kenapa?

    Padahal bangsa Indonesia mampu untuk menjadi bangsa yang tersombong di seluruh dunia, karena memiliki hampir semua barang mentah, dan banyak manusia untuk mengelolanya. Sayangnya, kenyataannya lain. Memang Tuhan itu adil!

    Rusdy

    15 Oct 07 at 7:44 pm

  2. Rusdy, apa yang kamu maksudkan cenderung pada pengertian kerja sama yang setara. Hal inilah yang dikembangakan oleh pemerintahan China, dimana mereka tidak hanya menyediakan tenaga kerja murah, tetapi mereka menawarkan paket bisnis yang lengkap dan sebagai salah satu imbalannya, mereka menyerap tekonologi yang tinggi dari nergara yang membeli paket mereka.

    Lihat saja, perdangangan internasional China dengan negara lain hampir selalu berakhir dengan surplus di pihak China. Walaupun demikian, negara lain tetap saja mau terus berbisnis dengannya. Jika Indonesia bisa seperti ini, betapa kayanya kita sekarang.

    Mengenai sombong? Jangan kuatir, bukankah pemerintah selalu mengumandangkan bahwa kita ini bangsa yang “rendah hati, ramah dan penuh sopan santun” :)

    Beni Bevly

    16 Oct 07 at 11:11 am

  3. Maksud saya memang sudah dikembangkan di tulisan anda. Saya hanya komplen tentang betapa kita (Bangsa Indonesia) berulang-ulang kali tidak menggunakan kesempatan investasi luar negeri untuk mengembangkan pembangunan negara. Juga seperti yang sudah anda katakan:

    Walaupun demikian, negara lain tetap saja mau terus berbisnis dengannya. Jika Indonesia bisa seperti ini, betapa kayanya kita sekarang

    Anehnya, RRC juga termasuk salah satu negara yang sangat korup, tetapi tetap mampu mengalami kemajuan ekonomi yang dahsyat (walaupun bukan tanpa masalah, seperti pelanggaran hak cipta, lingkungan, dsb).

    Indonesia, yang menurut pendapat pribadi saya sebenarnya lebih ‘mampu’ dibanding Cina (dalam hal kekayaan alam, sumber daya manusia), kok mentok-mentok saja yah? :P

    Rusdy

    19 Oct 07 at 7:08 pm

  4. Rusdy, terima kasih untuk kembali ke blog ini sehingga kita bisa melanjutkan diskusi yang menarik tapi menyedihkan ini.

    Rusdy mempertanyakan,

    “Indonesia, yang menurut pendapat pribadi saya sebenarnya lebih ‘mampu’ dibanding Cina (dalam hal kekayaan alam, sumber daya manusia), kok mentok-mentok saja yah?

    Dari segi kekayaan alam, mungkin Indonesia bisa dibanggakan, tetapi aku meragukan dari segi sumber daya manusia. Jika kita bicara soal sumber daya manusia, bukan hanya kecerdasan yang kita lihat, tetapi adalah secara keseluruhan. Aku yakin bahwa banyak sekali manusia Indonesia yang cerdas, tetapi mengapa hanya segelintir yang timbul kepermukaan dan bisa dibanggakan di dunia internasional. Hal ini terjadi menurut hipostesaku bahwa sumberdaya manusia Indonesia yang kita miliki bukanlah sumberdaya secara keseluruhan, yaitu manusia yang tampil dengan akal yang cerdas, budiperti yang baik, “dignity” yang tinggi, “ditermination” dan “courage” yang kuat.

    Dalam salah satu artikel aku sempat menghitung World’s Most Influential People tahun 2006 di majalah Times, ternyata 67 dari 100 orang berasal dari Amerika Serikat. Di bawah aku kutip sebagian artikel tersebut:

    With 4.6% of the world population (301,482,484 US population compared with 6,585,242,360 world population), U.S. owned 67% of the world’s most influential people (http://www.census.gov/, retrieved on March 28, 2007). These people were ranging from leaders to entertainers, from Bill Gates to Will Smith. The rest of the world’s most influential people were from China, Korea, Japan, Iran, Nigeria etc. Unfortunately I did not find any of them from Indonesia. Indonesia with 3.7% of the world population (241,973,879 Indonesian population compared with 6,585,242,360 world population) is not a home even for one of them. How come?

    Rusdy, aku pikir jawabannya kembali ke pembentukan manusia secara keseluruhan, di antaranya: akal yang cerdas, budiperti yang baik, “dignity” yang tinggi, “ditermination” dan “courage” yang kuat.

    Beni Bevly

    22 Oct 07 at 10:15 am

  5. Ben, hi apa kabar ?, diskusi anda dengan Rusdy sungguh menarik, Saya mendapati pendapat anda berdua sama benarnya dari persepsi yang berbeda. Demikian kompleksnya masalah di negara kita ini. Beberapa forum terus menerus membahas masalah ini, kadang dianggap kita kurang nasionalis sehingga tidak lagi membela kepentingan rakyat melainkan tunduk pada negara maju. Geopolitik dan hagemoni telah membentuk keadaan ini. Satu hal yang sebenarnya harus diyakini : boleh dari persepsi apapun kita melihat namun Indonesia butuh strong leader. Contohnya bagaimana Bush drive US into crisis, how Clinton drive US into their economic growth. Mao telah salah langkah dengan menempatkan diktatorship dalam kehidupan 1 milyar penduduk China tapi setidaknya rakyat China tahu bagaimana harus survive dalam keadaan yang sangat buruk, muncul etos kerja yang tinggi ditengah keterbatasan. Kepemimpinan itu dasar yang penting kemanapun kita mau pergi. Saya yakin jumlah sumber daya yang terbatas seperti Malaysia pada waktu awal Mahatir memimpin, sekarang bagaimana ? tapi pemimpin Malaysia sekarang telah mengarahkan Malaysia kearah yang comlicated lagi. Anyway, proud of your consistency dalam blog ini, keep going and in touch. Pemilu 2009 adalah waktu kembali bagi negara kita untuk mendapatkan pemimpin yang lebih baik, melihat pilkada yang ada, ternyata lebih dari 40% rakyat kita sudah mulai menuntut perubahan dan mereka yakin bahwa hal ini bisa diawali oleh pemimpin yang lain bukan seperti pemimpin orde baru. Suatu hari kita akan melihat Indonesia itu lain kalau tidak ingin dikatakan aneh, hal itu tidak menjamin keadaan lebih baik, bisa juga lebih buruk. Radikalisme akan menjadi bagian yang mudah menyusup ke dalam nation state kita. Jadi kalau kita khawatir dengan kepemimpinan satu orang mestinya satu blog lebih baik.

    Alexander E.S

    31 Oct 07 at 5:43 am

  6. Lex, selamat berjumpa lagi. Keadaanku baik-baik saja. Rusdy melontarkan issue yang cerdas sehingga membuat aku bepokir keras untuk mengimbanginya, begitu juga dengan Alex.

    Ada dua hal pada masa reformasi ini. Hal pertama adalah bahwa yang berkuasa pada hakekatnya masilah orang-orang orde baru, karena itu jugalah Indonesia tidak pernah bisa bertindak tegas terhadap pelanggaran (korupsi dan hak asasi manusia) yang dilakukan oleh meeka. Keadaan ini menyebabkan orang berpikir bahwa mereka yang sudah tidak berkuasa dan telah berbuat kejahatan saja masih dibiarkan, apa lagi saya yang masih jaya.

    Hal kedua adalah pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi harus dilakukan secara intensive dan meluas keseluruh lapisan masyarakat. Hal ini untuk menghindari terjadinya anarki, termasuk radikalisme yang Alex katakan. Banyak orang melihat bahwa demokrasi adalah bisa berbuat apa saja.

    Kedua hal di atas sangat urgent untuk deselesaikan supaya Indonesia bisa berderap dengan tanpa bantuan.

    Beni Bevly

    1 Nov 07 at 10:37 am

  7. salam. hai pak beni, salam kenal dari saya, ahmad asal bandung yang terhempas jadi tki nih. tapi gak apa-apalah, namanya juga usaha. meski saya tki, tapi saya senang bisa bersentuhan dengan ide-ide pak beni tentang bagaimana pembentukan bangsa indonesia kedepan. pak beni, memang betul dan kita sepakat bahwa ada something wrong di tubuh bangsa ini. saya sendiri sesungguhnya seringkali terkejutkan dengan ide-ide segar dari beberapa bloger asal indo, diantaranya mba jenni s bev. dari sanalah, kemudian saya menjelajahi link-link lainnya, yang pada akhirnya saya menemukan juga pak beni, ketahuan deh akhirnya ..hhehehe. bagaimanapun, personally, saya akan berusaha memahami apa yang menjadi kegelisahan pak beni, lalu kukonstruksikan dalam pikiranku tentang kegelisahan akan kondisi bangsa indonesia yang kini terpuruk. perubahan itu setidaknya terjadi pada diri saya sendiri. betul kan pak beni. anyway, i like your writing, and i fall in love wiht how you think.
    ahmad asli bandung yang terhempas jadi tki di gurun pasir

    ahmad

    20 Nov 07 at 3:17 pm

  8. Salah satu penjelasan mengenai krisis ekonomi 1997 memang ketergantungan terhadap modal asing dan jor-joran para pengusaha swasta dan negeri untuk meminjam. Pemain pasar uang seperti Soros menangkap kelemahan ini maka dengan teknik perdagangan di pasar, Indonesia dan beberapa negara terbanting.Jadi bisa juga dalam analisa politik ditambahkan bahwa memang negara Barat tidak selamanya senang jika negara-negara Asia kuat, pintar dan lebih kaya. Saya kira kasus Cina-Amerika bisa menjelaskan lebih banyak nuansa politik dari surplus Beijing terhadap Washington. Bagaiman mainan anak-anak dijadikan komoditi politik di Washington.

    Asep

    21 Nov 07 at 7:51 am

  9. Asep dan Ahmad, terima kasih atas komentar dan pemikirannya. Mudah-mudahan tidak keberatan jika aku hanya menyebut nama. Panggil aku Beni.

    Ahmad aku setuju dengan pendapat Jefrey Winters dan Kwik Kwin Gie yang masing-masing menyatakan bahwa permasalah terbesar bangsa ini adalah tidak ada urgency dan harga diri. Tidak ada urgency karena bangsa kita tidak merasa terancam dengan perkembangan dan perubahan jaman. Dengan keadaan alam, struktur budaya, sosial dan keluarga yang ada, bangsa kita dininabobokan.

    Ada kesan bahwa sebagai bangsa dengan mentalitas terjajah, arti harga diri (dignity)menjadi bergeser. Harga diri lebih dikaitkan dengan ego ketimbang harkat atau martabat (dignity). Dalam banyak situasi, bagi banyak orang Indonesia, tidak ada harga diri juga tidak apa-apa yang penting kantong dan perut bisa membludak. Jadi perbuatan yang bertentangan dengan hatinurani dan harkat manusia bisa dikesampingkan. Akibatnya korupsi, penyelewengan dan moral lainnya menjadi hancur. Perbuatan kekerasan dan penindasan adalah hal yang biasa dan tidak ada efeknya, jika hal itu dilakukan di depan umum.

    Apa yang Asep kemukankan menunjukkan betapa lemahnya fondasi perekonomian yang ada. Fondasi ekonomi kita tidak kuat untuk menerima imbasan, sedangkan negara lain sudah pulih, kita masih tertatih-tatih. Kalau Cina yang masa lalu pernah panting pecotot karena Revolusi Kebudayaannya Mao Zedong, kini mereka bisa bangkit dan surplus dalam berdagang dengan AS. Bagaimana dengan Indonesia?

    Beni Bevly

    21 Nov 07 at 11:04 am

  10. salam. ok deh, saya panggil beni saja biar egaliter. hehe. apa yang beni katakan bahwa diantara kelemahan bangsa indonesia adalah tidak tertanamnya sebuah kesadaran akan urgency sehingga merasa adem ayem dengan kondisi yang ada, adalah betul adanya. istilah beni adalah “dininabobokan”. kelemahan lainnya adalah persoalan mentalitas. betul sekali dan saya sepakat, karena sesungguhnya korupsi, nyontek, mencuri, kkn,nepotisme dan takhayul adalah persoalan dan mentalitas. deretan prakterk tersebut tidak sesuai dengan nalar yang sehat. jadi merupakan praktek yang tidak sehat. tapi kemudian, praktek-praktek ini kemudian dianggap hal yang normal sehingga sensitifas menjadi mati. bisa jadi, prilaku tersebut akan menjadi prilaku yang mentradisi yang “ditolerir” bahkan dianggap syah, setidaknya oleh sipelaku, dan tak merasa bersalah. benar apa yang dikatakan beni bahwa jika orientasinya untuk memenuhi aspirasi perut, hati nurani pun tak lagi berarti. saya yakin mungkin juga sama dengan keyakinan beni bahwa jika anak bangsa punya kesadaran yang utuh tentang dignity dan sense of urgency, maka perubahan itu akan terbit setahap demi setahap. setidaknya perubahan itu harus tejadi dalam diri saya. betulkan ben. saya terlahir dari sunda. bagi saya beni adalah orang yang lebih tua dari saya, setidaknya dari sisi pengalaman. biasanya saya menggunakan panggilan “kang” beni. mungkin budaya sunda masih sedikit banyak mengontrol saya. maklum dalam budaya sunda, ada unsur feodalisme. seperti makan. dalam bahasa sunda, ada beberapa istilah yang mengacu pada makan.”tuang, dahar, ngalebok, nyatu, ngejo, emam, ngalebok”. dari mulai yang paling kasar sampai yang paling lembut, tersedia. karenanya saya juga berusaha untuk bersikap kritis terhadap budaya saya sendiri. anyway, thanks atas ide-ide yang mencerahkan. insyaAllah deh, tulisan beni akan menjadi bahan perenuangn saya.
    thanks.
    ahmad. saudi arabia

    ahmad

    21 Nov 07 at 4:26 pm

  11. Ahmad, senang sekali kamu bisa berkunjung kembali. Pembicaraan mengenai budaya memang sangat penting. Tetapi ada satu hal yang harus dilakukan dengan hati-hati, yaitu jangan ada kecenderungan untuk melihat satu budaya lebih rendah atau lebih tinggi dari budaya lain. Jika hal ini terjadi, maka konflik sulit dihindari dan sentimen kelompokpun akan menebal, sehingga akal sehat acap kali tidak terpakai.

    Selama ini aku memberanikan diri melihat budaya Indonesia, termasuk budaya etnis tertentu dari segi keefisiensian dan keefektifan untuk mencapai kemajuan. Jika dua standar ini terganggu karena budaya kita, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah merencanakan sesuatu kegiatan sedemikian rupa sehingga budaya tidak menjadi hambatan dan bisa keluar dengan win-win situation. Jika terpaksa maka kita harus berhati lapang ntuk memperbaiki, merubah atau menghilangkan bagian budaya tertentu sehingga keefisianan dan keefektifan tetap bisa berjalan.

    Dalam interaksi sehari-hari dengan komunitas Indonesia, saya reringkali juga memaklumi dan ikut dalam “kapal” budaya mereka. Setelah itu perlahan saya mendekati “nakoda” dan ikut mempengaruhi arah perjalanan kapal itu. Dalam banyak hal, strategi “ikut kapal dan mempengaruhi nakoda” lebih efektif dibandingkan dengan secara frontal memperlihatkan ketidak-setujuan kita pada budaya mereka.

    Beni Bevly

    23 Nov 07 at 10:09 am

  12. Salam. sesungguhnya saya juga senang dengan pertukaran pemikiran seperti ini. Sebagai orang islam, saya yakin dengan sebuah pepatah ” al muhafadzatu ‘ala alqadim alshaleh, wa alakhdu bi aljadid alashlah” artinya memelihara sesuatu yang lama dan baik serta mengambil sesuatu yang baru dan lebih baik”. semangat ini sama seperti apa yang dikatakn mas Beni. jadi, menjaga budaya yang baik sambil mengambil budaya yang lebih baik. betulkan !! ok deh mas Beni, thanks dan banyak sekali point-point pemikiran mba beni yang sejalan dengan alur pikiran saya. thanks for enriching my mind

    aAhmad

    23 Nov 07 at 12:39 pm

  13. *point-point pemikiran mas Beni (maaf bukan Mba Beni). maaf, salah ketik pada komentar diatas

    aAhmad

    23 Nov 07 at 12:41 pm

Leave a Reply