Archive for December, 2007
RENUNGAN AKHIR TAHUN: Karakteristik Kepemimpinan Nelson Mandela (4)
Oleh Beni Bevly
Sejak terjun ke dunia politik, 1944-1956, Nelson Mandela di mata masyarakat dan pemerintahan Afrika Selatan tidak ada bedanya dengan pemimpin-pemimpin pergerakan politik lain. Ia belum dianggap sebagai figur yang istimewa dan melegenda.
Dalam Pengadilan Pengkhianatan 1956-1960, ia mulai dilihat oleh para pengamat politik sebagai figur yang istimewa. Di pengadilan ini, tim pembela pengadilan mengundurkan diri dan Mandela memilih melakukan pembelaan sendiri. Di sinilah menurut Mary Benson, Mandela memperlihatkan kecerdasan politiknya. Berkat pembelaan yang ia lakukan, akhirnya semua tersangka – 165 orang – dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan.
Pada bulan Maret 1961, diadakan Konferensi Seluruh Afrika di Pietermaritzburg oleh para pemimpin kulit hitam Afrika Selatan. Konferensi ini membentuk Dewan Aksi Nasional yang bertugas mempengaruhi kebijakan pemerintahan tentang isi rancangan konstitusi 1961. Salah satu keputusan yang penting dalam konferensi itu adalah menunjuk Mandela sebagai pimpinan mereka. Untuk memenuhi kewajibannya, Mandela terpaksa melakukan gerakan politik di bawah tanah karena ia telah dilarang oleh pemerintah untuk menghadiri pertemuan-pertemuan politk selama sembilan tahun.
Gerakan politik seperti ini memaksa Mandela menjalani hidup sebagai buron politik. Ia meninggalkan rumah, kantor dan anak isterinya. Di sinilah Mandela mulai melegenda di kalangan madyarakat kulit hitam, karena itu jugalah ia dikenal sebagai Balck Pimpenel. Ia hidup dalam persembunyian dan hanya bertemu dengan teman-teman politiknya yang paling dekat saja, berpergian ke luar negeri dengan menyamar, muncul di suatu tempat untuk memimpin dan memberi nasihat, lalu menghilang kembali – seperti bunga pimpernel – apa bila upaya untuk mencarinya semakin meningkat.
Pada tahun 1962, Mandela dikhianati oleh seorang informan dan dihukum penjara untuk jangka waktu lima tahun dengan tuduhan keterlibatannya dalam memimpin pemogokan tahun 1961 dan meninggalkan negara secara tidak legal.
Oktober 1963, Mandela diambil dari penjaranya untuk mengertai delapan orang lain, di antaranya Walter sisulu, untuk diadili. Tuduhan kali ini adalah sabotase dan mengadakan makar untuk menggulingkan pemerintahan dengan revolusi dan menolong suatu serangan bersenjata terhadap Afrika Selatan oleh tenaga asing. Untuk itulah Mandela dijatuhi hukuman seumur hidup.
Mula-mula ia dipenjarakan di Pulau Robben di lepas pantai Cape Town. Penjara ini menjadi semacam universitas kebebasan buat orang kulit hitam dengan Mandela sebagai pengajar utma. Di balik jeruji besi, ia antara lain memprovokasi demonstrasi di Soweto pada thun 1976. Sejat saat itu, legenda Mandela semakin meresap di kalangan masyarakat kulit hitam.
Mulai tahun 1982 sampai tahun 1988, Mandela menghuni penjara Pollsmoor. Penjara inipun gagal mengurung cita-citnya, tetapi hanya fisiknya. Para pemimpin dunia yang kagum dengan ketidak-lelahan Mandela menyuarakan hati natuninya dan bangsanya, sering kali mengujungi Pollsmoor.
Di samping sebagai tokoh pejuang politik, ia juga menguatkan diri sebagai tokoh pejuang hak asasi universal. Hal ini membuat pemerintah Afrika Selatan menjadi “ngeri” karena itulah beberapa kali dia ditawarkan kebebasan. Tawaran itu selalu ditolak karena diembel-embeli persyaratan yang merugikan perjuangannya. Persyaratan itu pada peinsipnya mengharuskan Mandela untuk “menjilat ludahnya” kembali. Dia tidak bergeming, bagi dia lebih baik mati di penjara. Justru kematian Mandela di penjara tidak tidak dikehendaki oleh penguasa karena hal ini akan makin menyulut kekerasan.
Sikap ini diambil oleh pemerintah berdasarkan pengalaman masa lampua, di mana pemimpin Black Conciousness Movement, Steve Biko meninggal dalam penjara pada tahun 1977, terjadi protes dan bentrokan bersenjata dengan polisi secara besar-besaran. Bagaimana jika hal ini terjadi dengan Mandela? Jelas Mandela mempunyai kaliber politik yang jauh lebih besar dari pada Biko, maka jika ia mati di dalam penjara akibatnya akan lebih hebat lagi. Jelas pemerintahan tidak menghendaki hal itu terjadi. Mereka lebih baik membebaskan Mandela tetapi dengan persyaratan tertentu.
Untuk itu pada tahun 1985, setelah 22 tahun Mandela disekap dalm penjara dan kekuatan fisiknya muali menurun, Presiden Pieter W. Botha menawarkan pembebasan dengan syarat ia harus mengancam kekerasan. Apa jawabannya?
“Saya tidak mau, dan tidak akan mau untuk selamanya jika saya, anda dan rakyat tidak bebas, sebebas-bebasnya. Kebebasan anda dan kebebasan saya tidak bisa dipisahkan. Saya akan kembali.”
Sebaliknya, Mandela mengajukan syarat pembebasan bagi dirinya sendiri. Ia baru mau bebas dan siap berunding juka dengan pemerintah – untuk membicarkan masalah pembagian kekuasaan – jika larangan atas ANC dan Undang-Undang Darurat yang beralaku sejak tahun 1986 dicabut, serta diberikan amnesty pada semua tahanan politik.
Tuntutan Mendela ini mendapat tanggapan yang serius dari penguasa. Antara lain Botha membebaskan Govan Mbeki, sejawat Mandela. Presiden baru FW de Klerk, pengganti Botha, membebaskan Walter Sisulu pada Oktober 1989. Sebagian tuntutan Mandela telah terpenuhi. Tuntutan lain – baik secara langsung atau tidak – secara bertahap dipenuhi oleh de Klerk.
Sejak pembebasan Sisulu, Mandela diperlakukan sebagai tahanan istimewa. Ia dipindahkan lagi ke penjara Victor Verster di kota Paarl. Khusus untuknya, disediakan sebuah mesin fax, kolam renang, juru masak dan fasilitas istimewa lainnya. Dia diberi hak untuk menerima tamu siapa saja yang diinginkan.
Setalah menjalani hukuman 27 tahun, enam bulan dan enam hari, padatanggal 11 Februari 1990, Nelson Mandela dibebaskan. Pada saat inilah terlihat betapa besarnya dukungan masyrakat Afrika Selatan dan dunia terhadap tokoh legendaris mereka. Pada hari ini juga, ia telah menerima ucapan selamat lebih dari 30 pemimpin negara dan organisai internasional. Barang kali ini merupakan peristiwa suka cita internasional terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah politik perbedaan warna kulit di abad modern. Secara pribadi sebagian kepala negara dan lembaga-lembaga internasional memberikan selamat dan memuji kepemimpinan dan perjuanganya pada saat kunjungan Mandela ke PBB 22 Juni 1990.
_____
*Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
RENUNGAN AKHIR TAHUN: Karakteristik Kepemimpinan Nelson Mandela (3)
Oleh Beni Bevly
Sisi lain dari karakteristik kepemimpinan Nelson Mandela yang patut dicatat adalah bagaimana ia mempengaruhi African National Congress (ANC) untuk merubah metode gerakan politik dari konstitusional ke inkonstitusional dan berhasil menarik lebih banyak dukungan baik dari luar maupun dalam negeri. Potensinya mempengaruhi ANC secara implicit diperlihatkan oleh Oliver Tambo yang menampilkan Mandela sebagai seorang pemimpin berbobot:
Sebagai seorang menusia, Nelson adalah seorang yang penuh semangat, emosional, sensistif , mudah tersinggung dan membalas caci maki dan melindungi. Ia secara alami melambangkan kewibawaan. Ia sudah pasti dapat memukau orang ramai; ia tampil dengan tubuh yang tinggi dan tampan, ia percaya dan dipercayai pemuda, karena ketidak-sabaran mereka juga menggambarkan ketidaksabarannya; … Ia penuh pengabdian dan tidak punya rasa takut. Ia dilahirkan sebagai pemimpin massa.
Dengan bobot yang dimilikinya, Mandela ingin bergerak dalam politik dengan cara yang lebih radikal dari yang digariskan oleh ANC. Dari berdirinya (1912) hingga terbentuknya Liga Pemuda, ANC selalu menempuh cara-cara gerakan politik yang konstitusional. Mandela, melalui Liga Pemuda pada tahun 1949, berhasil mempengaruhi ANC untuk mengesahkan Program Aksi yang menganjurkan cara-cara yang lebih radikal dan inskontitusional untuk mencapai tujuan politik.
Selanjutnya, Mandela makin intens dalam melakukan dan mengkoordinir gerakan politik yang inskontitusional tersebut. Ia tidak melihat ada cara lain selain cara kekerasan lawan kekerasan. Gerakan politik yang inskontitusional dari Mandelan mencapai puncaknya ketika ia turut membentuk Umkhonto We Sizwe pada bulan November 1961. Sabotase dan akhirnya ditambah dengan perang grilya merupakan pilihan organisasi yang dibentuk untuk menantang pemerintahan kulit putih.
Pada tahun yang sama bulan Mei, Mandela memimpin seluruh rakyat Afrika Selatan yang tidak setuju dengan kebijakan dan supremasi elite politik kulit putih untuk mengadakan aksi magok dan tinggal di rumah selama tiga hari. Akibatnya meluas secara nasional dan Mandela-pun diseret ke pengadilan. Dalam pembelaanya pada bulan Oktober 1962 ia memperlihatkan sikap inskontitusionanya secara radikal dengan mengatakan:
…, saya menganggap diri daya sendiri baik secara hukum maupun secara moral tidak berkewajiban mematuhi undang-undang yang dibuat oleh suatu parlemen yang di dalamnya tidak ada yang mewakili saya.
Pergerakan politik inskontitusional ini banyak mendapat tanggapana dan bantuan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari luar negeri, ANC menerima sebagian besar persenjataan dan latihan dari Uni Soviet dan negara-begara Blok Timur.
_____
*Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
RENUNGAN AKHIR TAHUN: Karakteristik Kepemimpinan Nelson Mandela (2)
Oleh Beni Bevly
Ketika Nelson Mandela masih muda, ia pernah menganut nasionalisme ekstrim yang hanya memperjuangkan kaum kulit hitam dan tidak mau memberi tempat pada ras lain di Afrika Selatan, tetapi hal ini berubah sejalan dengan kematangan pengetahuan dan kepribadian Mandela. Perubahan ini rupanya membawa efek positif bagi Mandela.
Pada pertengahan abad ke 20 bertumbuh subur dua jenis nasionalisme di kalangan masyarakat Afrika Selatan. Pertama, Nasionalisme Afrika Murni yang berpusat di sekitar semboyan Marcu Garvey yang berbunyi, “Lemparkan orang kulit putih ke laut.” Jenis nasionalisme ini bersifat ekstrim dan ultra revolusioner.
Kedua, Nasionalisme Afrika Multi Rasial yang memperjuangkan kesamaan derajat dan kedudukan, keadilan dan kemakmuran. Para pengikut paham ini bukan hanya orang kulit hitam, tetapi juga ras lainnya, yaitu kulit putih dan berwarna, termasuk orang India. Mereka percaya bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang – tanpa pandang warna kulit – yang tinggal di Afrika Selatan.
Nasionalisme Afrika Murni inilah yang diyakini oleh Nelson Mandela pada masa mudanya hingga ketika ia menjadi anggota Liga Pemuda African National Congress (ANC). Hal ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya yang banyak didominasi oleh masyarakar kulit hitam di Transkei.
Secara perlahan keyakinan Mandela mulai bergeser. Proses ini bermula ketika ia menjadi anggota ANC pada tahun 1944 dan bergabung dengan Liga Pemudanya serta meluasnya pengalaman politik dengan organisasi dan golongan politik lain membuat Mandela mulai buka mata.
Permulaan di ANC dan di Liga Pemuda, Mandela berusaha membersihkan ANC dari orang dan unsur-unsur komunis yang melekat di ANC karena hal itu dianggap oleh Mandela bisa menjadi faktor yang memperlemah Nasionalisme Afrika Murni. Salah satu cara yang diusulkannya adalah agar ANC mengeluarkan orang-orang komunis tersebut. Usul ini ditolak para pengurus ANC yang lain. Mereka mempertahankan kebijakan itu atas dasar bahwa ANC sejak dari permulaan dibentuk bukan sebagai suatu partai dengan satu mazhab pemikiran politik, akan tetapi sebagai suatu parlemen rakyat Afrika yang memberi tempat pada orang-orang dari berbagai keyakinan politik. Semua kelompok ini dipersatukan oleh tujuan bersama yaitu untuk pembebasan nasional.
Pada akhirnya Mandela mengikuti pandangan ini dan sejak itu selalu dipengangnya. Hal ini terbukti dengan tidak ikutnya Mandela ke dalam sekelompok orang yang memiliki paham Nasionalis Afrika Murni yang memisahkan diri dari ANC dan membentuk Pan-Africanist Congress (PAC) pada tahun 1958.
Di balik perubahan pahamnya, Mandela sebenarnya telah melihat suatu kenyataan yang tak bisa diingkari bahwa berbagai kelompok rasial akan tetap ada di Afrika Selatan. Perubahan paham seperti ini menyebabkan Mandela bisa diterima oleh berbagai golongan politik. Sebagai akibatnya, hal ini memperkuat posisi Mandela sendiri.
_____
*Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
RENUNGAN AKHIR TAHUN: Katakteristik Kepemimpinan Nelson Mandela (1)

Image Source: suedickinson.co.za
Oleh Beni Bevly
(Aku memilih Nelson Mandela, mantan president dan pejuang hak asasi manusia dari Afrika Selatan, sebagai renungan untuk para calon dan pemimpin komunitas Indonesia karena Mandela bukanlah seorang tokoh yang telah terlahir seperti sekarang yang kita lihat. Karakter kepemimpinan yang ia miliki adalah hasil pematangan mental, spiritual dan pikirannya selama puluhan tahun dalam kepahitan pengalaman berpolitik menentang supremasi elite kulit putih (Politik Apartheid). Dalam artikel berikut akan ditemukan bagaimana proses seorang Mandela menemukan karakter kepemimpinan yang tepat dalam dirinya yang sesuai untuk kepentingan bangsanya – penulis).
Nelson Rolihlahla (dalam bahasa Xhosa berarti Tukang Cari Gara-Gara) Mandela lahir pada tanggal 18 Juli 1918 dari isteri kepala suku subetnik Tembu, yaitu subetnik terbesar dari etnik Xhosa yang berdiam di sekitar Umtata (Transkaei). Ayahnya meninggal ketika is berusia dua belas tahun, maka perawatan dan pendidikannya diambil alih oleh Kepala Suku Utama.
Pada masa pertumbuhannya di kampung halaman, Mandela mendengar orang-oran tua di sukunya bercerita tentang masa lalu yang bahagia sebelum kedatangan orang kulit putih. Ketika itu bangsa mereka damai, di bawah pemerintahan yang demokratis, bisa bergerak dengan bebas dan penuh percaya diri, tanpa ada yang melarang atau menghalangi mereka.
Ketika itu negeri Afrika Selatan, menurut orang-orang tua tersebut, masih milik mereka, beratas nama dan hak mereka sendiri. Mereka menduduki tanah, hutan dan sungai, mereka sendirlah yang mengeluarkan tambang dan kekayaan alam mereka yang ada di dalam maupun di permukaan tanah. Mereka mendirikan dan melaksanakan pemerintahan sendiri.
Selain itu, orang tua tersebut juga menceritakan tentang peperangan yang dilakukan nenek moyang mereka dalam mempertahankan tanah air dan juga tindakan-tindakan kepahlawanan oleh para panglima dan prajurit di masa-masa jaya itu. Nama-nama Dingane dan Bambatan di kalangan orang Zulu, Hintsa, Makana, Ndlame dari Amaxhosa, dari Sekhukhuni dan lain-lainnya di urtara, disebutkan sebagai kebangaaan dan kejayaan bangsa Afrika.
Sejak itu, Mandela berharap dan besumpah bahwa pada suatu saat nanti ia akan mengembalikan sebagian atau seluruh dari keadaan Afrika Selatan yang telah hilang itu. Menurut Christopher Hope, makna emosional ini rupanya tidak bisa dianggap remeh. Ketika nilai-nilai komunal itu digabung dengan pendidikan hukum yang keras dan ditambah ajaran-ajaran Metodis yang ketat, serta dipertegas oleh cita-cita politiknya, maka hasilnya adalah seorang pemimpin yang hebat, dan diakui oleh lawan maupun kawan.
Mandela muda – yang dibaptis dan disekolahkan oleh Gereja Metodis – pada usia enambelas tahun ke Johannesburg untuk mengindari perkawinan kesukuan yang telah direncanakan oleh keluarganya. Di kota ini ia pertama kali bertemu dengan sejumlah orang kulit hitam dalam situasi yang penuh sesak manusia, razia pas jalan dan penangkapan yang tiada henti-hentinya. Keadaan ini diperburuk dengan kondisi kemiskinan yang sangat memilukan. Semua ini bagi Mandela adalah suatu sisi pemerintahan kulit putih yang sangat mengecewakan dan menyakitkan.
Pada masa kritis yang amat menentukan ini. Mandela bertemu dengan Walter Sisulu yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal African National Congress (ANC) waktu itu. Sisulu mengajurkan pada Mandela untuk memperdalam ilmu hukum. Lalu ia belajar secara tertulis untuk memperoleh gelar kesarjanaan di Universitas Witwaterstand dan kemudian ia tercatat di suatu badan hukum kulit putih.
Mandela bergabung dengan ANC pada tahun 1944, dalam pembelaanya di pengadilan Pretoria tanggal 22 Oktober 1962, ia mengungkapkan secara implicit tentang alsan ia bergabung:
Kebijakannya (ANC) ialah kebijakan yang menggugah batin saya yang paling dalam. Kongres (ANC) berusaha untuk mempersatukan seluruh rakyat Afrika, dengan jalan menghilangkan perselisihan-perselisihan kesukuan di kalangan mereka. Mereka berusaha memperoleh kekuasaan politik … pemersamaan hak … mengeluarkan pendapatnya ..
Sejak tahun 1944 mulailah Mandela menjalani kehidupan politiknya yang penuh hiruk-pikuk, menjadi buronan, keluar masuk penjara dan akhirnya mencapai puncak pada saat ia dibebaskan dari tahanan setelah 27 tahun mendekam dalam penjara.
Perjalanan politik Mandela – yang pada akhirnya menampilkan ia sebagai figur politik yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi supremasi politik elite politik kulit putih – jika dilihat lebih mendalam, terungkap adanya pergeseran dan perubahan karakteristiknya sebagai insan dan pemimpin politik. Perubahan-perubahan ini datang dari individu Mandela sendiri maupun dari persepsi orang-orang. Artikel-artikel berikut menampil perubahan karakteristik kepemimpinan dan insan politik seorang Mandela.
_____
*Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
“KANIBALISME” DI INDONESIA

Sumber gambar: http://apod.nasa.gov
Oleh Beni Bevly
Di waktu kecilku, aku pernah piara ikan hias, tetapi ikan yang aku ternak itu tidak sebesar dan sebanyak ikan temanku padahal aku sudah memberi makan yang ukurannya sama dan menjaga kesehatan airnya. Tetapi tetap saja, tumbuhnya lebih lambat dan masih ada yang mati. Lalu temanku mengsusulkan supaya aku membuat bak ikan yang lebih besar. Menurutnya, di dalam bak yang besar, ikan akan berkembang biak lebih banyak dan tumbuh lebih sehat.
Temanku menambahkan keterangannya dengan gaya professional, “Di bak yang kecil, ikan sulit berkembang biak dan tumbuh menjadi besar. Pertama, tempat yang terbatas dan padat dengan ikan-ikan lain membuat ikan tersebut sulit bergerak dengan leluasa. Kedua, ada kecenderungan ‘makan teman,’ ikan yang lebih kecil dan lemah menjadi santapan bagi ikan yang lebih kuat dan besar.”
Kayaknya kondisi di Indonesia, dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia, setelah Cina, India dan Amerika, sama seperti ikan di bak kecil di atas. Bahkan lebih parah lagi, air ikan di bak itu tidak terpelihara dengan baik. Ini terjadi bukan karena bak ikan yang kecil secara fisik, tetapi penduduk Indonesia dalam jumlah yang besar cenderung berkumpul pada satu sudut kecil. Al Gore (2006, p. 230-231) dalam buku dan DVD-nya yang terkenal An Inconvinience Truth: The Planet Emergency of Global Warming and What We Can Do About It menampilkan foto dunia pada malam hari yang diambil dengan satelit. Foto tersebut menunjukkan bahwa cahaya lampu listrik di wilayah Indonesia hanya terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan di negara-negara lain seperti Jepang, Eropa dan Amerika Serikat cahaya lampunya merata di seluruh penjuru negara.
Paling tidak foto ini mendakan dua hal, yaitu penyebaran penduduk dan pembangunan yang tidak merata. Jelas bahwa penduduk Indonesia mayoritas (60 persen dari 215 juta penduduk) terkonsentrasi di Jawa dan Bali, begitu pula pembangunannya.
Lebih spesifik, di Jakarta yang jumlah penduduknya 20 juta jiwa, hampir 10% dari jumlah keseluruh penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan tentang jumlah penduduk, di San Francisco, kota pusat technology komputer dunia, jumlah pendudunya kurang dari 1 juta jiwa (0.3% dari 300.000.000 jumlah penduduk A.S.). Di Los Angeles pusat perfilman film dunia, penduduknya kurang dari 4 juta (1.3%). Di New York, pusat perdagangan dunia, hanya kurang dari 9 juta (3%). Penyebaran penduduk di Amerika yang jauh lebih merata dibandingkan dengan Indonesia terjadi karena pembangunannya yang merata. Di setiap daerah pelosok, baik itu daerah pertanian, pertambangan dan perternakan, pasti ada sambungan telepon (termasuk jaringan internet), listrik dan jalan beraspal.
Sebagai gambaran, suatu hari aku ingin menyaksikan secara langsung kondisi pertanian Central Valley yang dibanggakan pemerintahan oleh lokal California di Amerika. Setelah kurang lebih tiga jam mengendarai dari San Francisco, terbentanglah perkebunan yang luas seperti kebun anggur, jeruk, strawberry dan lain-lain. Yang sangat mengagumkan, walaupun daerah itu sepi – aku tidak menemukan mobil lain selain mobil yang aku setir di jalan – tetapi tetap tersedia banyak jalan dua jalur beraspal yang membagi daerah pertanian menjadi petak-petak besar. Di setiap perempatan dipasang lampu listrik dan terlihat sistem pengairan. Di samping setiap jalan diikuti oleh kabel telepon. Kondisi jalannya terawat baik tidak di temukan lubang dan genangan air becek di jalan.
Kembali ke Indonesia, khususnya di Jakarta. Akibat kepadatan yang tidak terkendali ini dan ditambah dengan kemerosotan moral, maka kehidupan di Jakarta hampir tidak bedanya dengan ikan-ikan hias di bak kecil itu, tempat untuk berkembang banyak yang tercemar, dan “kanibalisme” pun terjadi. Kanibalisme ini terjadi dalam bentuk yang paling halus, seperti main serong, penipuan, perampokan, korupsi dan sampai pembunuhan massal seperti dalam peristiwa dalam Mei 1998. Keadaan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas di kota lain. Tidak hanya terjadi terhadap etnis tertentu, tetapi juga meluas pada suku, golongan dan kelompok agama lain.
Pernahkan kita bertanya, mengapa kepadatnya dan kesumpekan kehidupan di kota-kota besar di Indonesia bahkan melebihi di AS? Jawabannya adalah pertanyaan yang lain, siapa yang mau hidup di tempat yang fasilitas/sarana dan prasarananya tidak memadai, seperti jalan aspal, kendaraan, listrik, air bersih, kesehatan dan mata pencaharian? Walaupun ada program transmigrasi, tetapi banyak para transmigran itu keluar dari daerahnya dan bertempat tinggal di ibu kota propinsi atau pulang lagi ke pulau Jawa. Intinya adalah pembangunan yang prasarana, yaitu jalan, listrik dan pengairan yang tidak merata, sehingga menghambat pembangunan lainnya.
Hal lain yang patut dipertanyakan, apakah benar bahwa pinjaman luar negeri yang kayaknya telah menjadi utang permanen Indonesia yang berjumlah US$176.38 miliar (pinjaman pemerintah US$ 125,25 ditambah pinjaman swasta US$ 51,13 miliar pada Desember 2006, Wikipedia) tidak cukup untuk membangun prasarana itu?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.



