World map at night
Sumber gambar: http://apod.nasa.gov

Oleh Beni Bevly
Di waktu kecilku, aku pernah piara ikan hias, tetapi ikan yang aku ternak itu tidak sebesar dan sebanyak ikan temanku padahal aku sudah memberi makan yang ukurannya sama dan menjaga kesehatan airnya. Tetapi tetap saja, tumbuhnya lebih lambat dan masih ada yang mati. Lalu temanku mengsusulkan supaya aku membuat bak ikan yang lebih besar. Menurutnya, di dalam bak yang besar, ikan akan berkembang biak lebih banyak dan tumbuh lebih sehat.

Temanku menambahkan keterangannya dengan gaya professional, “Di bak yang kecil, ikan sulit berkembang biak dan tumbuh menjadi besar. Pertama, tempat yang terbatas dan padat dengan ikan-ikan lain membuat ikan tersebut sulit bergerak dengan leluasa. Kedua, ada kecenderungan ‘makan teman,’ ikan yang lebih kecil dan lemah menjadi santapan bagi ikan yang lebih kuat dan besar.”

Kayaknya kondisi di Indonesia, dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia, setelah Cina, India dan Amerika, sama seperti ikan di bak kecil di atas. Bahkan lebih parah lagi, air ikan di bak itu tidak terpelihara dengan baik. Ini terjadi bukan karena bak ikan yang kecil secara fisik, tetapi penduduk Indonesia dalam jumlah yang besar cenderung berkumpul pada satu sudut kecil. Al Gore (2006, p. 230-231) dalam buku dan DVD-nya yang terkenal An Inconvinience Truth: The Planet Emergency of Global Warming and What We Can Do About It menampilkan foto dunia pada malam hari yang diambil dengan satelit. Foto tersebut menunjukkan bahwa cahaya lampu listrik di wilayah Indonesia hanya terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan di negara-negara lain seperti Jepang, Eropa dan Amerika Serikat cahaya lampunya merata di seluruh penjuru negara.

Paling tidak foto ini mendakan dua hal, yaitu penyebaran penduduk dan pembangunan yang tidak merata. Jelas bahwa penduduk Indonesia mayoritas (60 persen dari 215 juta penduduk) terkonsentrasi di Jawa dan Bali, begitu pula pembangunannya.

Lebih spesifik, di Jakarta yang jumlah penduduknya 20 juta jiwa, hampir 10% dari jumlah keseluruh penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan tentang jumlah penduduk, di San Francisco, kota pusat technology komputer dunia, jumlah pendudunya kurang dari 1 juta jiwa (0.3% dari 300.000.000 jumlah penduduk A.S.). Di Los Angeles pusat perfilman film dunia, penduduknya kurang dari 4 juta (1.3%). Di New York, pusat perdagangan dunia, hanya kurang dari 9 juta (3%). Penyebaran penduduk di Amerika yang jauh lebih merata dibandingkan dengan Indonesia terjadi karena pembangunannya yang merata. Di setiap daerah pelosok, baik itu daerah pertanian, pertambangan dan perternakan, pasti ada sambungan telepon (termasuk jaringan internet), listrik dan jalan beraspal.

Sebagai gambaran, suatu hari aku ingin menyaksikan secara langsung kondisi pertanian Central Valley yang dibanggakan pemerintahan oleh lokal California di Amerika. Setelah kurang lebih tiga jam mengendarai dari San Francisco, terbentanglah perkebunan yang luas seperti kebun anggur, jeruk, strawberry dan lain-lain. Yang sangat mengagumkan, walaupun daerah itu sepi – aku tidak menemukan mobil lain selain mobil yang aku setir di jalan – tetapi tetap tersedia banyak jalan dua jalur beraspal yang membagi daerah pertanian menjadi petak-petak besar. Di setiap perempatan dipasang lampu listrik dan terlihat sistem pengairan. Di samping setiap jalan diikuti oleh kabel telepon. Kondisi jalannya terawat baik tidak di temukan lubang dan genangan air becek di jalan.

Kembali ke Indonesia, khususnya di Jakarta. Akibat kepadatan yang tidak terkendali ini dan ditambah dengan kemerosotan moral, maka kehidupan di Jakarta hampir tidak bedanya dengan ikan-ikan hias di bak kecil itu, tempat untuk berkembang banyak yang tercemar, dan “kanibalisme” pun terjadi. Kanibalisme ini terjadi dalam bentuk yang paling halus, seperti main serong, penipuan, perampokan, korupsi dan sampai pembunuhan massal seperti dalam peristiwa dalam Mei 1998. Keadaan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas di kota lain. Tidak hanya terjadi terhadap etnis tertentu, tetapi juga meluas pada suku, golongan dan kelompok agama lain.

Pernahkan kita bertanya, mengapa kepadatnya dan kesumpekan kehidupan di kota-kota besar di Indonesia bahkan melebihi di AS? Jawabannya adalah pertanyaan yang lain, siapa yang mau hidup di tempat yang fasilitas/sarana dan prasarananya tidak memadai, seperti jalan aspal, kendaraan, listrik, air bersih, kesehatan dan mata pencaharian? Walaupun ada program transmigrasi, tetapi banyak para transmigran itu keluar dari daerahnya dan bertempat tinggal di ibu kota propinsi atau pulang lagi ke pulau Jawa. Intinya adalah pembangunan yang prasarana, yaitu jalan, listrik dan pengairan yang tidak merata, sehingga menghambat pembangunan lainnya.

Hal lain yang patut dipertanyakan, apakah benar bahwa pinjaman luar negeri yang kayaknya telah menjadi utang permanen Indonesia yang berjumlah US$176.38 miliar (pinjaman pemerintah US$ 125,25 ditambah pinjaman swasta US$ 51,13 miliar pada Desember 2006, Wikipedia) tidak cukup untuk membangun prasarana itu?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.