MENGHENTIKAN PERDEBATAN KASUS SOEHARTO MELANGGAR SEMANGAT DEMOKRASI
Oleh Beni Bevly
Menanggapi seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menghentikan silang pendapat kasus Soeharto, paling tidak bisa dilihat dari dua sudut yang berbeda dan bagaimana menyikapinya.
Pertama, silang pendapat di Indonesia sering kali berkembang menjadi konflik dan kekerasan fisik. Kemungkinan seperti ini mungkin bisa terjadi dalam kasus silang pendapat mengenai mantan presiden RI, Soeharto/Suharto. Dari sisi ini, sebagai warga negara yang bertanggung jawab hendaknya peka terhadap potensi ini.
Kedua, di lain pihak, berpendapat, termasuk silang pendapat adalah hal yang inherent dalam masyarakat demokrasi. Oleh karena itu, seruan menghentikan silang pendapat melanggar semangat demokrasi. Sebagai President yang dipilih dalam sistem demokrasi, SBY sepatutnya memberi penjelasan mengenai kemungkinan dampak silang pendapat tentang Soeharto dari berbagai segi dan mengusulkan bagaimana agar silang pendapat tersebut tidak berdampak negatif, jadi bukan hanya sekedar dilihat dari segi melampaui batas kepatutan seperti yang diungkapkan olehnya.
Untuk menyikapi kasus ini, pendekatan yang cukup bijaksana adalah melakukan kontak dengan pihak yang dianggap berpengaruh dalam membuat dan menyebarkan silang pendapat ini. Silang pendapat ini umumnya dilotarkan oleh para politisi, pengamat dan aktivis kemanusiaan, lalu pendapat mereka disebarluaskan oleh berbagai media. Media yang paling besar berpengaruhnya terhadap opini rakyat dan bisa direalisir dengan tindakan adalah telivisi dan koran cetak.
Dengan demikian, agaknya akan lebih efektif jika SBY memfokuskan pemecahan masalah ke pada kedua kelompok ini, yaitu pembuat berita dan penyebar. Tentu saja pendekatan ini bukan berupa larangan untuk menghentikan silang pendapat, tetapi meminta agar hal ini tidak dijadikan provokasi yang bisa menimbulkan kekerasan politik.
_____
Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Salam.
Hi Mas Beni, gimana kabarnya? Semoga tetap sehat deh.
Oya, saya setuju sekali bahwa demokrasi mengandung kebebasan untuk bereskpresi. dan perbedaan adalah sebuah keniscayaan, karena rambut boleh sama, tapi pikiran gak bisa seragamkan, apalagi disumbat. penyumbatan terhadap warna warni perspektif adalah bentuk baru dari kediktatoran.
negosiasi dan komunikasi yang terbuka dan sehat perlu dikembangkan.
barangkali Pak SBY tidak mau pusing melihat berseliweran pendapat yang bersilang-silang. tapi sebagai presiden yang mau maju dan bermartabat, sebaiknya bisa menjaga jarak dirinya dari kekuasaan yang dibangun pak suharto dan kroni-kroninya, sehingga penanganan kasus suharto bisa diseleisaikan secara dewasa dan mandiri. tapi, bebaskah SBY dari pertalian kekuasaan yang pernah dibangun Pak Suharto?
segitu dulu Mas Beni dari saya. mohon masukan jika ada salah.
ahmad
Bagaimana kalau SBY adalah juga pembuat dan penyebar silang pendapat itu?
Karena silang pendapat mengandaikan adanya polarisasi sikap, dan tidak mungkin SBY tidak bersikap apa-pun. Bahkan andai SBY bersikap ‘hentikan’ silang pendapat, itu juga menunjukkan bahwa dia berada di satu kutub yang berseberangan dengan orang yang bernafsu memenjarakan Soeharto dkk.
Kenapa SBY menjelang pemilu ini memilih untuk tidak mengutak-atik kasus Soeharto? Apakah kekuatan Soeharto dkk saat ini telah cukup ampuh untuk dipakai memperpanjang ‘masa kadaluwarsa’ SBY?
Ahmad dan Anang YB, terima kasih untuk berkunjung kembali dan memberi komentar.
Sebagai ungkapan sopan-santun dan belasungkawa terhadap insan manusia yang meninggal, aku secara pribadi tidak keberatan melihat semua pihak “angkat senjata” untuk sementara. Setelah itu keadilan tetap perlu ditegakkan. Kini masa berkabung telah selesai, maka tidaklah perlu sungkan untuk mengemukakan pendapat kita masing-masing secara dewasa.
Melihat peta politik yang ada, sampai saat ini kekuatannya masih berada di pihak Almarhum Soeharto. Untuk itu pihak yang hendak mengugat Soeharto dan kroninya akan bekerja lebih gigih. Hal ini jugalah, seperti Anang katakan, membuat SBY tidak mengkutak-katik Soeharto. Agaknya ia sendiripun sulit melepaskan diri dari pengaruh Seoharto.
mobile home insurance…
irritate battlers Bernardine buffoons halters …