MAJALAH TEMPO, PERJAMUAN TERAKHIR dan BERILAH PIPI KIRIMU
Oleh Beni Bevly
Cover atau kulit muka majalah Tempo edisi no. 50/XXXVI/04 - 10 Februari 2008 yang menampilkan ilustrasi Soeharto dan anak-anaknya dalam konteks Last Supper (Perjamuan terakhir Yesus Kristus atau Nabi Isa dengan murid-muridNya) karya Leonardo da Vinci pada masa renaissance ternyata menimbulkan kontroversial dan membuat sebagian umat Kristen mempertanyakan ajaran Yesus mengenai “jika ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”
Goenawan Muhammad melihat bahwa tindakan majalah Tempo ini memang tidak tepat. Ia mengatakan, “Menurut hemat saya, menggunakan tema “Perjamuan Terakhir” dalam karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian Suharto sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana “Perjamuan Terakhir” dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa. Sedang justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto. Suharto tidak mati disalib. Juga saya ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan baru. Dan yang jelas, yang dibagi-bagikannya (dan dinikmati anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa reguk anggur, melainkan kekayaan yang berlimpah-limpah, yang didapat karena kekuasaan politik.”
Adalah benar bahwa mayoritas umat Kristen setuju dengan pendapat Goenawan Muhamad di atas. Sebagian dari mereka, seperti yang beredar di mailing list, juga berpendapat bahwa umat Kristen di Indonesia cenderung bersifat menerima bila dianiaya dan dihina. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah cobaan dan ada juga yang dengan nada sinis mengatakan bahwa Yesus memang mengajarkan supaya muridnya untuk bersikap pasrah dengan mengambil ayat “Jika pipi kananmu ditampar, berilah pipi kirimu.”
Di bawah adalah dua pernyataan yang saya kutip:
Orang Kristen kan selalu menganut falsafah Jawa, nrimo. Ditampar pipi kanan pun malah disuruh menampar pipi kirinya lagi. bila mungkin malah digebuki segala gak apa-apa. Ini cermin ketidakpedulian, masa bodoh, apatis atau memang sudah tak mampu lagi bersuara, biar pun itu untuk sesuatu yang bernilai imani? kalau orang Muslim langsung jihat begitu melihat gambar Mohamad di koran atau dikarikaturkan, agaknya orang Kristen sudah terlalu biasa dengan kondisi dilecehkan (Wong Gusti Yesus saja dihina, koq). Gitu barangkali.
Bukannya memang pengikut Kristus sudah diinjek-injek sejak dulu seperti pada waktu pengikut2 Kristus yang pertama juga pada jaman gereja mula2? Ini menurut saya lho, bahwa perlu bagi kita untuk merenungkannya bahwa apabila suatu saat kelak ada pengumuman bahwa siapa pengkut Kristus akan dipenggal kepalanya, mampukah kita bertahan sampai kesudahannya???? seperti apa yang dialami oleh murid2nya dulu. Karena Tuhan Yesus mau kita bisa bertahan…. sampai kesudahannya.
Selama ini pengertian yang dipahami umat Kristen secara umum mengenai “Jika ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu” yang mulia adalah jangan melawan kekerasan dengan kekerasan, tetapi balaslah dengan kasih sayang yaitu dengan memberikan “pipi kirimu”, bersifat sabar dan berani berkorban. Di sisi lain, pernahkah kita mendengarkan dari historian yang melihat konteks ini dalam kehidupan sosial, budaya dan politik pada masa Yesus hidup? Paling tidak ada dua versi lain yang beberbeda dari yang kita dengar sehari-hari, yaitu:
Versi pertama, nasihat ini diberikan oleh Yesus karena Ia ingin menghindari pertikaian yang berkepanjangan dan merugikan. Pada saat itu, para pengikut dan Yesus sendiri berhadapan dengan para prajurit kerajaan Romawi yang banyak berjumlahnya, bersenjata lengkap dan sangat kuat. Sedangkan Yesus dan para pengikutnya tidak mempunyai kekuatan secara fisik untuk melawan. Dengan semikian, mereka tidak akan mampu keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, jika melawan, mereka akan tewas di tangan para prajurit tersebut. Untuk “aman”-nya, “maka jika enkau ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu” sebagai nasihat yang paling bijak pada saat itu.
Versi kedua, nasihat ini diberikan pada muridnya agar mereka berani berdiri sama tinggi dengan pihak yang menganiaya mereka. Pernahkah terpikir bahwa nasihat ini bukanlah ajakan untuk bersifat pasrah dan nrimo seperti yang sering ditafsirkan kita? Untuk mengasihi musuh kita? Pernahkah kita berpikir mengapa pipi kanan yang ditampar duluan, bukan pipi kiri? Jika kita hendak menampar pipi kanan seseorang, kita harus menggunakan punggung tangan kanan kita. Pertanyaan selanjutnya mengapa menggunakan punggung tangan, bukan telapak tangan? Diduga pada masa Yesus hidup, jika seseorang majikan hendak menampar budaknya, mereka tidak mau mengotori telapak tangan mereka. Penggunaan punggung tangan juga mensimbolkan penghinaan terhadap dan ketidak-setaraan orang yang ditampar. Aku pikir hal ini masih bisa kita temukan pada masyarakat tertentu, bahkan di Indonesia.
Dalam kasus cover majalah Tempo, memang protes yang timbul tidak dari seluruh lapisan umat Kristen, hanya dari Forum Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI, Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Solidaritas Masyarakat Katolik RI, Perhimpunan Mahasiswa Katolik, Pemuda Katolik, Tim Pembela Kebebasan Beragama dan Wanita Katolik RI. Protes ini tidak menjurus kepada kekerasan. Sebagian orang Kristen telah menerapkan ajaran Yesus versi kedua dalam konteks yang proporsional, yaitu menuntut kesetaraan dan bebas dari hinaan.
Protes ini ditanggapi dengan cukup bijak oleh majalah Tempo. Pada tanggal 5 Februari 2008 Selasa (5/2) Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Toriq Hadad meminta maaf soal gambar pada sampul edisi 4-10 Februari 2008. Ia berkata kepada media, “Saya sebagai Pemimpin Redaksi Tempo meminta maaf atas segala hal yang ditimbulkan oleh pemuatan sampul edisi khusus Soeharto yang beredar sejak Senin kemarin.” Torig menambahkan, “Tempo sama sekali tidak melakukan kesengajaan untuk menciderai umat Kristiani dalam pembuatan sampul ini. Untuk segala hal yang menimbulkan ketersinggungan, menimbulkan rasa tidak nyaman, menimbulkan sakit hati, saya sebagai Pemimpin Redaksi Tempo, memohon maaf.”
Permintaan maaf ini mendapat respon positif oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Romo Benny Susetyo. Ia menyatakan, “Karena Tempo sudah minta maaf maka kita umat Kristiani harus bisa memaafkan. Kemarin sudah dialog dan saling mengerti” (Suara Pembaruan, 6 Febrauri 2008).
Dalam kalimat Goenawan Muhamad, “Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI memberikan maafnya. Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.”
_____
Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.


Banyak orang Kristiani yang melihat “Yesus disalib” sebagai bukti betapa nrimonya Yesus. Ini menyebabkan banyaknya orang2 Kristiani yang mengakui bahwa mereka orang2 “beriman” dengan menggunakan “Yesus disalib” sebagai teladan hidup mereka. Caranya adalah dengan “memanggul salib” alias menerima penderitaan dan cobaan dengan sikap “memanggul.”
Saya tidak setuju dengan ini karena ini adalah romantisasi atau spiritualisasi penderitaan. Suatu masalah, apapun itu, apalagi yang menyangkut harga diri seseorang, bukanlah perlu “dipanggul” dengan sikap yang apatis, namun perlu dibedakan antara “sesuatu yang perlu dipanggul dengan diam” dengan “meletakkan panggulan dan berbuat dengan aktif.”
Saya pribadi hampir tidak pernah memilih yang pertama karena “memanggul salib dengan diam” adalah suatu tanda kelemahan iman. Lantas apakah Yesus disalib itu tandanya “lemah”? Itu bisa diartikan banyak dan mungkin kita manusia biasa tidak bisa dengan menyelami sedalam Yesus sendiri.
Buat saya yang bukanlah “seorang nabi seperti Yesus,” saya lebih suka tidak memanggul salib (baca: tidak merasakan penderitaan dan meresapi penderitaan sampai2 tidak mampu berbuat apa2). Yang penting bagi saya adalah kesadaran akan adanya suatu “panggulan” dan berbuat secara aktif tanpa meromantisasi penderitaan dan mengasihani diri sendiri “atas nama iman sejati.”
Apakah dengan demikian saya bukan orang beriman? Ini bukan tugas saya maupun manusia lain yang menjawab. Ini adalah prerogatif Tuhan untuk menjawab.
Jennie
editor majalah tempo keliatannya kurang berpengetahuan, jadi design covernya nggak nyambung dgn topik atau isu yg ingin dibahas. maksudnya sih mungkin biar excited tp sayang ga nyambung. tapi biarlah, siapa tahu makin banyak yg ingin tahu siapa Yesus Kristus itu.
Sebenarnya sudah tidak ada masalah dengan umat Katholik. Masalahnya hanya, ada segelintir oknum pengurus KWI — kabarnya tergabung dengan paguyuban wartawan Katolik — yang menjadi humas eksternal PT Asian Agri Group (yang sedang bersengketa dengan Majalah Tempo) yang membesar-besarkan masalah ini. Seharusnya KWI, paguyuban wartawan katolik dan Majalah Tempo mencari tahu persoalan ini ……….
Jennie, Anymatters dan Brajamusti, terima kasih telah memberi tanggapan dari pandangan yang berbeda dan memperkaya artikel ini.
Sudah selayaknya bahwa setiap pemeluk agama yang bijak mau dan mampu melakukan introspeksi. Introspeksi semakin urgent dilakukan jika ada tantangan dari luar. Intospeksi ini akan membawa agama kembali kehakiki keberadaannya, yaitu agama yang manusiawi bukan dogmatik.
Dimaksud dengan agama yang dokmatik adalah agama yang menyarakan umatnya untuk memuja “tuhan yang mati”, yaitu agama yang mengiming-imingkankan surgawi dan menakut-nakuti dengan hukuman nereka sehingga umatnya berbuat bukan semata-mata untuk kebaikan sesama, tetapi demi keselamatan diri sendiri di akhirat. “Akhirat” yang diartikan sedemikian rupa sehingga membuat para umatnya takut dan tunduk secara membuta pada aturan agama tersebut.
Sebaliknya, agama yang memuja “Tuhan yang hidup” adalah agama yang menyarankan pemecahan jalan keluar untuk kehidupan “di sini dan sekarang/here and now.” Agama ini menyarankan guidelines, tetapi bukan satu-satunya cara dan tidak absolut.
Jika perbutan kita didasarkan pada pemujaan “tuhan yang mati” maka berhentilah perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang mulia. Kita akan kembali ke pada Masa Kegelapan di mana kehidupan orang banyak dimanipulasi sekelompok kecil yang mengatasnamakan tuhan untuk berkuasa secara absolut dan dogmatik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap kehidupan bersosial pasti ada konflik. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan atau memanage konflik itu membuat kita semakin dewasa dalam pergaulan sosial dan bernegara. Hal ini bukanlah suatu yang gampang, banyak melibatkan variabel yang kompleks, dan perlu pengendalian diri bagi pihak yang terlibat agar tidak diambil keuntungan oleh pihak lain. Begitu juga dalam kasus cover majalah Tempo ini.
saya senang banget dengan ilustrasi2 di sampul majalah tempo. benar2 hidup dan mewakili apa hal2 yang kadang sulit untuk diungkapkan secara gamblamg dengan kata2. bravo tempo.
oh ya ada lagi sampul tempo tentang pengadilan soeharto yang berjudul tergantung daripada soeharto. saya benar2 tergelitik dan tak bisa menahan senyum tatkala melihat beberapa gambar soeharto dengan gaya khasnya di sampul itu.
ilustrasi suharto yang mirip yesus itu menurut saya ada benarnya. gimanapun juga, menurut saya, soeharto itu gak jelas agamanya apa.
dan gaya2 kepemimpinannya mirip gaya2 dari gereja ortodok abad pertengahan eropa, angker dan mengerikan.
semua pasti bisa mencium aroma kristiani ortodok dalam sepak terjang soeharto pada tahun 80 an yang begitu akrab dengan pembunuhan orang2 islam. dia juga akrab dengan lb. murdani, sudomo, maraden panngabean, radius prawiro, adrianus mooy, jb sumarlin. dengan kata lain di satu dia haji dan mengaku muhammadyah, tapi begitu represif terhadap apa2 yang berbau islam pada sebagian besar masa kekuasaannya.
mungkin konteksnya tak sepenuhnya nyambung kalau kita lihat dari segi cerita tentang soehato menjelang ajal dan tema (menurut interpretasi GM) dari lukisan da vinci tentang keprihatinan. tapi dari segi simbolis, sangat2 mengena.
Saya sudah membaca tuntas isi Tempo, edisi khusus Soeharto itu. Seperti biasa, sangat bernas. Segar. Dengan data amat kaya, Tempo menghadirkan oase di ditengah keringnya berita monolitik dan dangkal dari media lain. Terutama televisi. Tetapi sunguh sayang. Isi yang begitu bagus, ternodai dengan pemilihan kulit sampul, yang meskipun menggelitik juga memantik suara sumbang. Ah,emannya..
Meski mungkin Tempo tidak bermaksud menyinggung umat Kristiani, saya setuju bahwa sangat tidak tepat menganalogikan saat menjelang kematian Soeharto dengan perjamuan terakhir Kristus sebelum kematian-Nya. Saya mendukung langkah protes dari KWI. Penggunaan simbol2 yang menyangkut agama tertentu memang harus dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana. Tentu kita masih ingat betapa marahnya umat Islam ketika muncul kartun yang melecehkan Nabi Muhammad dan protes umat Hindu ketika simbol Hindu dipakai dalam cover novel Dewi Lestari. Kalau tidak diprotes, orang akan lupa betapa sakralnya simbol2 tertentu bagi komunitas suatu agama.
Salim, Zaki, Nunur dan Ria, terima kasih telah singgah dan memberi komentar.
Memang benar bahwa hampir semua sampul majalah tempo menggamparkan fakta gejala sosial politik. Tetapi sayangnya kali ini gambarannya tidak sesuai dengan kondisi kehidupan Soeharto. Yang perlu dipertegas bahwa majalah Tempo menyamakan kehidupan Yesus (Nabi Isa) sebelum ia meninggal dengan detik-detik terkhir kehidupan Soeharto. Jelas lukisan di sampul ini bukan menggambarkan persamaan rezim Soeharto dengan gereja ortodoks pada abad pertengahan.
Pada masa jayanya, Soeharto bukan hanya kerja sama dengan orang-orang yang bisa membantu kelanggengan kekuasaan Orde Baru yang kebetulan berasal dari berbagai agama, bukan hanya Kristen. Soeharto juga membantai pihak yang dinilai tidak setuju dan melawan dia dengan cara tidak memandang bulu.
Menurut saya, urusan agama adalah urusan kita dengan Tuhan. Jadi bagi yang tidak tahu secara benar siapa Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh…tidak usahlah berkomentar macam-macam karena sifat sebagian manusia selalu memandang baik apa yang sudah terlanjur diyakininya dan memandang buruk keyakinan orang lain.
Yang pasti IMAN kita terhadap Yesus lebih sangat berharga dibanding dengan omongan orang yang nggak paham.
Sebagai kritikan keras kepada umat Kristiani, yang berlindung dibalik topi dogmatika gereja, kenapa kalian berkeberatan apabila ada yg mengilustrasikan ulang karya Leonardo Da Vinci dengan gambar Soeharto? Saya rasa kalian terlalu picik dan sentimentil payah, karena kenapa? Bukankah orang-orang Nicea menghukum mati Leonardo da Vinci yang menegakkan teori Heliosentris (bumi mengelilingi matahari)yang mematikan teori fatal Al-Kitab dalam Joshua, yang justru berteori bumi yang menjadi pusat tata surya? Leonardo juga banyak menghasilkan karya ilmiah, yang menyebabkannya dihukum mati oleh pihak gereja, karena karya-karyanya dianggap menohok ajaran gereja.Kenapa sekarang kalian justru berkeberatan atas ilustrasi lukisannya tapi kalian tidak merasa malu telah membunuh seorang Leonardo yang jenius? Apa kalian takut kebongkengan ajaran gereja kalian ditelanjangi habis-habisan? Ingat, era sekularisme muncul setelah sikap payah gereja yang tidak bisa menerima ilmu pengetahuan sembari membunuhi kaum ilmuwan di Eropa, yang berujung orang menjadi anti agama.Di masa berakhirnya konsili Nicea saja kalian tega membunuhi ribuan orang pengikut Kristus yang tidak mengakui Paus Paulus (si pembohong) dengan ajaran trinitasnya. Mau bukti kebohongan Paulus, lihat saja kata-katanya dalam Bible surat krimannya kepada jemaat di Roma:
“Jikalau kebohonganku menambah kemuliaan Atas-Nya, kenapa aku dihukum sebagai orang berdosa…?”
Ini sama saja dengan kata-kata pencuri ayam yang tidak mau dihukum, karena ayam yang dicurinya dimakan bersama-sama. Payah!
Lukisan itu memangnya simbol agama Kristen? bukankah Leonardo dihukum mati disiram timah panas karena pikirannya yang ilmuwan dan bertentangan dengan gereja? Orang Kristen perlu pake akal, lebih hargai lukisan, yang Yesus saja tidak ajarkan demikian, tapi pelukisnya dibunuh sama orang kristen sendiri?
yang disembah Yesus atau lukisan sih?
Saya heran kenapa selalu mengatasnamakan orang kristen, orang kristen yang mana ? Mau agamanya apa, apakah semua merasa bahwa dirinya mempunyai hak untuk menghakimi orang lain, apakah sudah merasa paling bersih dihadapan Tuhan.
Yang penting marilah kita melihat siapakah diri kita dihadapanNya.
Biar saja orang mau gambar apa….yang penting iman kita terhadap Yesus Kristus tak akan goyah hanya dengan sebuah gambar ataupun semua omongan miring terhadap Yesus Kristus.
Yang penting…tunjukkan karya dan sumbangan positif kita terhadap masyarakat. Percuma kalau kita bangga sebagai salah satu agama tapi bisanya hanya omong dan membuat keresahan masyarakat.
Syaloooooom
itu semua cuma politik bisnisnya majalah tempo doang membuat sensasi untuk mengadu domba orang tertentu aja…!
yang pasti kita tidak berhak untuk menghakimin orang
dan kita harus sadar iman kita seperti pa…jadi kit jangan mengkamuplasekan iman kita kepada orang.yang pasti berbuat baiklah kepada org dan janga meresahkan orang
Memang orang yang tidak tahu makna yang sebenarnya bisa saja membuat analogi yang sembarangan yang secara manusiawi bisa menyinggung perasaan umat Kristen/Katholik. Namun demikian, sebagai umat Kristus, kami tidak perlu marah. Barangkali yang penting disini adalah meluruskan pemahaman konsep analogi yang salah. Suharto tidak tahu kapan mau meninggal (dan tidak mau) sehingga warisan pun belum tuntas diselesaikan (termasuk warisan harta panas), sementara Yesus tahu bahwa Dia akan meninggal sehingga proses mewariskan tubuh dan darahNya sendiri pun tuntas. Suharto bergelimang dengan nilai-nilai duniawi yang telah membuat sengsara banyak orang, Yesus bergelimang dengan nilai-nilai surgawi yang membuat orang hidup kekal. Jadi bagi kami analog tersebut justru saya tangkap sebagai ironi atas perbedaan makna yang 180° dengan rekayasa setting yang sama.
Sependek pengetahuan saya tentang tradisi katholik, lukisan perjamuan malam terakhir bukanlah simbol gereja katholik, bukan pula bagian dari liturgi. Tidak ada peng’keramat’an berlebih terhadap lukisan tersebut.
Berbeda dengan (kalung) rosario, salib, dan tentunya alkitab yang memang nyata-nyata digunakan dalam tradisi liturgi gereja.
Jadi, kalaupun lukisan tersebut diplesetkan oleh Tempo ataupun dijadikan inspirasi membuat novel super-kontroversial 2007 (yang diterjemahkan dan dirilis di Indonesia oleh Penerbit Serambi) sikap gereja katholik tidaklah terlalu hiruk-pikuk.
Siapa sih anggota alumni PMKRI yang repot-repot menggugat Tempo? Mereka bukan siapa-siapa, bukan pula representasi gereja katholik Indonesia.
Kalaupun umat katholik tampak tak ambil pusing soal beginian, tentunya bukan karena nrimo. Ini masalah remeh-temeh. Tidak nyenggol gereja. Tak usah terlalu diurusin. Hal yang lebih berat telah biasa dirasakan umat katholik indonesia.
Kalau dari luar, umat katholik terlihat “ora gumunan, ora kagetan” ya memang begitulah tipikal orang katholik Indonesia.
Biarpun di luaran terbit seabreg-abreg buku dengan gaya bertutur dan berpikir seperti komentar ‘karl-marx’ atau Jalesveva di atas, toh orang katholik kalem-kalem saja. sama kalemnya saat di luaran beredar video tentang murtadnya tokoh Jihad Indonesia dan menjadi orang kristen.
Kenapa kalem? Karena yang begituan hanyalah soal remeh-temeh!
@Anang sahabatku, “soal remeh-remeh” atau “meremehkan persoalan”? Yang jelas apa yang rekan2 Katolik lakukan masih dalam batas2 etika dan jalur hukum yang jelas. Ketika kaki kita diinjak, kita tidak perlu balas menginjak namun juga jangan diam saja, karena sesuatu yang sakit harus diketahui oleh pihak yang menyebabkan sakit tersebut. Baik disengaja atau tidak.
Jika hanya diam, maka tabiat manusia yang paling mendasar yaitu “tidak pernah luput dari naluri melunjak” (ungrateful, istilah saya) akan meningkat. Hanya dengan saling mengkomunikasikan “rasa sakit” dengan “si penginjak” (mungkin tanpa maksud apa2) sajalah, dunia bisa menjadi lebih dewasa dan tumbuhnya saling pengertian mendalam.
Salam damai,
Jennie
gue spt mjd orang yg bego n tolol krn gk tau apa yg orang2 permasalahkan.
definisi apa yg menyebabkan 2 gambar itu mirip?
omg … it’s just a picture! I bet Tempo makes a huge amount of money by creating this much controversy.
I’m a Christian, I’ve seen a glimpse of the image, but it’s not a shocking material as I’ve seen a lot worse things
A black Jesus? Done. A black virgin Mary? Done. Jesus smoking pot? Done. I even laughed at some
I agree with Terry. Ada sesuatu di belakangnya. Tempo tahu bahwa tak akan ada protes dahsyat dari Christians (salah satunya aku) tentang cover itu, namun mereka akan mendapatkan keuntungan banyak dari orang lain di luar Christians.
Yes I agree with Therry, it’s just a picture. It’s not in most Christian’s nature or culture to fuss over petty things like this when we have huge problems in our country. Christians by nature are peaceful and widely belief that God does not need human protection. We do not need to defend God’s honor by protesting pictures like this or comments - however vulgar or ignorant - about God because He is the Almighty.
Everytime something like this happens, i ask my self, What Would Jesus Do? so WWJD has helped me a lot in my adult life and taught me to be quite a patient person. This is what I love about His teaching.
ketika ada ekspresi seni yang berkarakter cemoohan terhadap identitas keagamaan tertentu, pada saat itu sang penganut mencoba “menghegemonikan militansi dan intimitasnya pada keberagamaan itu. Walau hegemoni dibangun atas dasar sesal sambil kelu lirih “kog repot amat sih dengan agamaku?”. saya begitu bangga pada permintaan maaf PIMRED Tempo dan ajakan bijak dan inklusif dari Gunawan Muhamad “Tokoh Yang saya sangat kagumi”. Dalam kebanggaan atas ajakan Gunawan Muhamad itu saya mempunyai refleksi atas doa Yesus Sendiri “ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu akan apa yang mereka buat”. Mengampuni bukan persoalan hegemoni tetapi ketulusan, maka saya lebih bangga pada ketulusan TEMPO….Pax In Vobiscum
Pujian atau cemoohan orang,tidak akan mengurangi atau menambah kemuliaan-Nya.
Ini masalah perasaan dan tenggang rasa, bukan masalah picik atau berwawasan, benar atau salah apalagi agamaku atau agamamu.Sebagai bukan muslim saya tidak memiliki keberatan jika nabi Muhammad digambar entah bagus atau jelek tapi saya tidak akan mengapresiasi tindakan yang menyakiti teman-teman muslim saya, kalaupun saya melihat gambar itu akan saya lihat dengan rasa sedih “kok tega ya?”
Salut atas ke legawa-an Tempo untuk meminta maaf, entah perlu entah tidak, salut juga perwakilan umat untuk memaafkan, entah perlu entah tidak, Anda orang-orang terhormat karena mau dan mampu saling menenggang rasa.
Orang Kristen saya pikir wajar jika menyuarakan keprihatinan atau protesnya. Memang gambar Perjamuan terakhir bukanlah sesuatu yang sakral, namun tema gambar itu merupakan inti dari Kekristenan karena menyangkut Yesus Pribadi Kedua Tuhan yang Esa. Di tengah hiruk pikuk pelecehan terhadap Yesus maupun Kekristenan seperti gambar, film, buku buku dll yang sebagian besar bukan orang Kristen. Maka motivasi dari semua itu jelas untuk menggoncangkan iman Kekristenan bukan ? Jaadi jika “sebagian” orang Kristen merasa terpanggil untuk meng”counter” hal tersebut ( tentunya bukan dengan kekerasan ) bukankah ini baik, apalagi jika penyelesaiannya pun baik juga ini akan sangat menyegarkan dan memberikan “proklamasi” iman melalui perbuatan
“Igauan….yg bernick Karl Max” (sedikit comment)
Untuk seseorang (mestinya orang…kan ya ? bukan “orang” toh hehehe…). Memang Alm.Karl Marx yang aseli lebih briliant dari anda. Anda payah ! Pandangan anda provokatif ! Tidak akan laku Coy …! di kalangan Kristiani (Katolik/Protestan). Soal Leonardo da Vinci,….jangan ngarang cerita ah…..Tunjukkan sumber Acuan anda. Jangan ASBUN (Asal Bunyi….). Klik dong di WIKIPEDIA. Pembaca blog ini kan bukan orang maaf…OON… seperti anda….yang bisanya menyebar kebencian. Nggak MEMPAN…hehehe “kompor” loe.. Asal ente tau ya Xis, Leonardo da Vinci wafat di Clos Luce 2 Mei 1519 dan dimakamkan di Kapel St.Huber, kastel Ambroise (Prancis).
Setiap orang dalam hidup ada jatuh-bangun, ada melenceng-lurus….itu kan perjalanan manusia…juga peradaban” (termasuk agama apapun) Coy…. Jadi kalau ente Xis….kerjaannya cuma meneropong “kejelekan/kekurangan”…ya dimana-mana ada… Di agama manapun, di partai manapun ada ! Termasuk partai komunis toh Coy…hehehe. Jadi gak usah njelek-jelekin GEREJA. Ente gak suka, gak apa2 …tapi gak usah bikin Fitnah dan menjelekkan….
Protes terhadap “cover” MBM Tempo, saya kira sangat tepat, dan tidak berlebihan, dan jelas dilakukan dengan DAMAI. Buktinya Red.Tempo-pun minta maaf. Masih banyak rekan Kristiani yang tidak merasa terusik. Silakan. Itu hak mereka. saya hormati. Tetapi kita sama-sama tahu lukisan itu didasari oleh episode Perjamuan Terakhir dalam Injil Yohanes. Mememoriakan malam perpisahan Yesus dengan para murid. Episode itu yang kemudian dilestarikan sebagai Ibadat ekaristi (eucharist)dalam Katolik.
Faktanya, copy lukisan/gambar Perjamuan Terakhir dengan berbagai model dan mutu itu juga menempati tempat kedua atau ketiga dalam sanubari umumnya umat Kristiani/Katolik setelah Salib - Bunda Maria & Kanak-kanak Yesus. Kita bukan memberhalakan, tetapi mememoriakan episode Yesus Kristus.Jadi komentar-komentar lukisan perjamuan terakhir itu bukan simbol resmi Gereja, atau tidak ada keputusan Gereja ttg hal itu….. wah maaf …..ya itu pendapat Katrok ! Lho ini rasa nurani umat koq sebagai manifestasi kesadaran keberimanannya……
Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Besar tak terjangkau/tak terpahami sepenuhnya oleh gapaian kerinduan manusia yang kecil ini. Melalui seni, baik lukisan - musik - nyanyian - seni gerak/tari/simbol/patung/arsitektur bangunan dsbnya itulah kerinduan manusia menyentuh mesra Yang Illahi.
Hidup dalam kebebasan menuju kehidupan yang adil-beradab, justru mengundang kita untuk berlaku fair….ikut menghargai apa yang dihargai oleh kelompok lain….betapun kecilnya kelompok itu. Apa susahnya sih menghargai dengan tulus hati ?
Kebebasan liberal Barat harus dikritisi ! Bukan cuma difotocopy. Eclectik-lah. Ambil yang positif bagi kita, jangan ambil kebiasaan “yang serba boleh”, kebiasaan “memparodikan yang tidak perlu”…yang justru menyinggung perasaaan orang. Ingat kita sangat bhineka, penuh kesenjangan….Pers bebas harus sadar itu…..jadilah media yang mempersatukan dengan tetap memegang teguh fakta dan etika. Bravo MBM Tempo! Bravo Pengritik Tempo ! Terima kasih Anda para pengritik sudah MELURUSKAN KEBEBASAN PERS INDONESIA. HaI yaaa,,. kamsia-lah…
Bravo untuk Tjwan Bing juga, memang kalau cuman ngomong, maki maki tapi tanpa alasan logis dan cuman mau “memaksakan” pikirannya itu paling gampang. Tidak suka bahkan benci boleh boleh aja sama Kekristenan sama Yesus Kristus tapi cuman sekedar teriak teriak dan maki maki sih jelas bukan cuman oon tapi ….; mengatakan ini salah itu sesat tapi bersandar hanya pada pikiran sendiri atau kata ini kata itu ibarat bersandar pada dinding kertas yang kena angin sedikit aja sudah roboh. Mending gitu gitu tidak usah terlalu ditanggapi percuma cuman bikin capek seperti bicara sama batu
YA BAPA AMPUNILAH MEREKA, KARENA MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MEREKA LAKUKAN….AMIN.
ORANG-ORANG TEMPO SANGAT KREATIF. SESUATU YANG TIDAK PERNAH DIBAYANGKAN KETIKA TEMPO MENGANALOGIKAN ANTARA KEMATIAN SOEHARTO DENGAN PERJAMUAN TERAKHIRNYA YESUS KRISTUS.
SAYA TIDAK SERTA - MERTA MENYALAHKAN TEMPO KARENA KREATIFITAS YANG BRILIANT INI. PERTIMBANGAN SAYA SEDARHANA SAJA. KALAU SOEHARTO DIANGGAP TIDAK PANTAS DISANDINGKAN DENGAN YESUS PADA MALAM PERJAMUAN TERAKHIR MAKA LEBIH TIDAK PANTAS LAGI YUDAS ISKARIOT BERGABUNG DENGAN YESUS PADA MALAM PERJAMUAN YESUS ITU. DENGAN KATA LAIN, KARENA YUDAS ADALAH PENDOSA (MENGKHIANATI YESUS) MAKA SEBAIKNYA KITA KELUARKAN SAJA DARI GAMBAR MALAM PERKAMUAN TERAKHIR YANG DIBUAT OLEH DA VINCI SUPAYA KITA HANYA MENANGKAP KESAN YANG SUCI, YANG BAIK, YANG KUDUS SAJA. PADA HAL YESUS MATI BUKAN UNTUK ORANG YANG SUCI (YANG TIDAK BUTUH PERTOBATAN) TETAPI IA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN SOEHARTO JUGA (TERKECUALI NABI ISA SUDAH DIHAPUS DARI AL QURAN.
Saya terkesan mungkin dibalik gambar ini ada politisasi agama didalamnya. Saya mafhum bahwa “Tempo” dihuni oleh para penganut islam . Tanpa sadar mereka telah menyimpan dendam pada cartoon denmark . Dorongan ini membuat mereka meski tanpa maksud buruk mulanya, terbawa dorongan hati membalas !
Tetapi ketahuilah bahwa bukan dari umat kristen yang membuat kartun penghinaan itu meskipun ia beragama kristen. Sah saja saya berpendapat ini, karena para teroris yang islampun tidak serta merta diakui keislamannya oleh para tokoh pimpinan islam.
Tetapi memang simbolnya ini benar benar “jayus” , karena menyandingkan sosok Suharto dengan Yesus tentu bukan saja salah kaprah tapi salah parah, karena Suharto sendiri adalah seorang muslim yang menggunakan nama Muhammad . Mungkin keluarga dan sanak saudaranya akan mengapresiasi Tempo sangat tinggi kalau saja mau membandingkan diri sang bapak dengan Muhammad.
Kita tak boleh menutup mata meskipun ada salahnya, Suharto tetaplah seorang Muslim yang juga naik haji dan juga mengidolakan Muhammad dalam hidupnya.
Tetapi memang ada keterbatasan karena memang wajah Muhammad tentunya tak pernah ada dalam jurnalistik manapun. Oleh karena itu Muhammad adalah termasuk nama terbanyak yang dipakai oleh umat islam karena gambar itu direkam dalam nama mereka bukan dalam bentuk lukisan . Dalam kekristenan sendiri orang diluar kultur latin dan spanyol, enggan atau merasa tak layak memakai nama Yesus , karena bagi mereka Yesus terlampau agung dan maha suci untuk dipakai namanya bagi hidup mereka, toh mereka juga bisa mengenang nya lewat gambar lukisannya.
Secara psikologis maka peran lukisan tokoh agama adalah untuk pengenangan ( bagi kristen bukan pemujaan ) bahwa Tokoh Yesus yang mereka sanjung memang ada dalam sejarah nyata sebagai manusia real. Jadi seandainya ada protes dari umat kristen, bukanlah secara liar dan berlebihan, tetapi untuk maksud kritik terhadap pemaknaannya yang tidak tepat .