Perjamuan Terakhir Keluarga Soeharto di Majalah TempoLast Supper Leonardo Davinci

Oleh Beni Bevly

Cover atau kulit muka majalah Tempo edisi no. 50/XXXVI/04 - 10 Februari 2008 yang menampilkan ilustrasi Soeharto dan anak-anaknya dalam konteks Last Supper (Perjamuan terakhir Yesus Kristus atau Nabi Isa dengan murid-muridNya) karya Leonardo da Vinci pada masa renaissance ternyata menimbulkan kontroversial dan membuat sebagian umat Kristen mempertanyakan ajaran Yesus mengenai “jika ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”

Goenawan Muhammad melihat bahwa tindakan majalah Tempo ini memang tidak tepat. Ia mengatakan, “Menurut hemat saya, menggunakan tema “Perjamuan Terakhir” dalam karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian Suharto sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana “Perjamuan Terakhir” dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa. Sedang justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto. Suharto tidak mati disalib. Juga saya ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan baru. Dan yang jelas, yang dibagi-bagikannya (dan dinikmati anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa reguk anggur, melainkan kekayaan yang berlimpah-limpah, yang didapat karena kekuasaan politik.”

Adalah benar bahwa mayoritas umat Kristen setuju dengan pendapat Goenawan Muhamad di atas. Sebagian dari mereka, seperti yang beredar di mailing list, juga berpendapat bahwa umat Kristen di Indonesia cenderung bersifat menerima bila dianiaya dan dihina. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah cobaan dan ada juga yang dengan nada sinis mengatakan bahwa Yesus memang mengajarkan supaya muridnya untuk bersikap pasrah dengan mengambil ayat “Jika pipi kananmu ditampar, berilah pipi kirimu.”

Di bawah adalah dua pernyataan yang saya kutip:

Orang Kristen kan selalu menganut falsafah Jawa, nrimo. Ditampar pipi kanan pun malah disuruh menampar pipi kirinya lagi. bila mungkin malah digebuki segala gak apa-apa. Ini cermin ketidakpedulian, masa bodoh, apatis atau memang sudah tak mampu lagi bersuara, biar pun itu untuk sesuatu yang bernilai imani? kalau orang Muslim langsung jihat begitu melihat gambar Mohamad di koran atau dikarikaturkan, agaknya orang Kristen sudah terlalu biasa dengan kondisi dilecehkan (Wong Gusti Yesus saja dihina, koq). Gitu barangkali.

Bukannya memang pengikut Kristus sudah diinjek-injek sejak dulu seperti pada waktu pengikut2 Kristus yang pertama juga pada jaman gereja mula2? Ini menurut saya lho, bahwa perlu bagi kita untuk merenungkannya bahwa apabila suatu saat kelak ada pengumuman bahwa siapa pengkut Kristus akan dipenggal kepalanya, mampukah kita bertahan sampai kesudahannya???? seperti apa yang dialami oleh murid2nya dulu. Karena Tuhan Yesus mau kita bisa bertahan…. sampai kesudahannya.

Selama ini pengertian yang dipahami umat Kristen secara umum mengenai “Jika ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu” yang mulia adalah jangan melawan kekerasan dengan kekerasan, tetapi balaslah dengan kasih sayang yaitu dengan memberikan “pipi kirimu”, bersifat sabar dan berani berkorban. Di sisi lain, pernahkah kita mendengarkan dari historian yang melihat konteks ini dalam kehidupan sosial, budaya dan politik pada masa Yesus hidup? Paling tidak ada dua versi lain yang beberbeda dari yang kita dengar sehari-hari, yaitu:

Versi pertama, nasihat ini diberikan oleh Yesus karena Ia ingin menghindari pertikaian yang berkepanjangan dan merugikan. Pada saat itu, para pengikut dan Yesus sendiri berhadapan dengan para prajurit kerajaan Romawi yang banyak berjumlahnya, bersenjata lengkap dan sangat kuat. Sedangkan Yesus dan para pengikutnya tidak mempunyai kekuatan secara fisik untuk melawan. Dengan semikian, mereka tidak akan mampu keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, jika melawan, mereka akan tewas di tangan para prajurit tersebut. Untuk “aman”-nya, “maka jika enkau ditampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu” sebagai nasihat yang paling bijak pada saat itu.

Versi kedua, nasihat ini diberikan pada muridnya agar mereka berani berdiri sama tinggi dengan pihak yang menganiaya mereka. Pernahkah terpikir bahwa nasihat ini bukanlah ajakan untuk bersifat pasrah dan nrimo seperti yang sering ditafsirkan kita? Untuk mengasihi musuh kita? Pernahkah kita berpikir mengapa pipi kanan yang ditampar duluan, bukan pipi kiri? Jika kita hendak menampar pipi kanan seseorang, kita harus menggunakan punggung tangan kanan kita. Pertanyaan selanjutnya mengapa menggunakan punggung tangan, bukan telapak tangan? Diduga pada masa Yesus hidup, jika seseorang majikan hendak menampar budaknya, mereka tidak mau mengotori telapak tangan mereka. Penggunaan punggung tangan juga mensimbolkan penghinaan terhadap dan ketidak-setaraan orang yang ditampar. Aku pikir hal ini masih bisa kita temukan pada masyarakat tertentu, bahkan di Indonesia.

Dalam kasus cover majalah Tempo, memang protes yang timbul tidak dari seluruh lapisan umat Kristen, hanya dari Forum Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI, Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Solidaritas Masyarakat Katolik RI, Perhimpunan Mahasiswa Katolik, Pemuda Katolik, Tim Pembela Kebebasan Beragama dan Wanita Katolik RI. Protes ini tidak menjurus kepada kekerasan. Sebagian orang Kristen telah menerapkan ajaran Yesus versi kedua dalam konteks yang proporsional, yaitu menuntut kesetaraan dan bebas dari hinaan.

Protes ini ditanggapi dengan cukup bijak oleh majalah Tempo. Pada tanggal 5 Februari 2008 Selasa (5/2) Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Toriq Hadad meminta maaf soal gambar pada sampul edisi 4-10 Februari 2008. Ia berkata kepada media, “Saya sebagai Pemimpin Redaksi Tempo meminta maaf atas segala hal yang ditimbulkan oleh pemuatan sampul edisi khusus Soeharto yang beredar sejak Senin kemarin.” Torig menambahkan, “Tempo sama sekali tidak melakukan kesengajaan untuk menciderai umat Kristiani dalam pembuatan sampul ini. Untuk segala hal yang menimbulkan ketersinggungan, menimbulkan rasa tidak nyaman, menimbulkan sakit hati, saya sebagai Pemimpin Redaksi Tempo, memohon maaf.”

Permintaan maaf ini mendapat respon positif oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Romo Benny Susetyo. Ia menyatakan, “Karena Tempo sudah minta maaf maka kita umat Kristiani harus bisa memaafkan. Kemarin sudah dialog dan saling mengerti” (Suara Pembaruan, 6 Febrauri 2008).

Dalam kalimat Goenawan Muhamad, “Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI memberikan maafnya. Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.”

_____
Dr. Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and DBA in Organizational Leadership. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.