Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for May, 2008

Vigil marks anniversary of Indonesia race riots

without comments

By Gideon Rubin
Staff Writer
Article Created: 05/11/2008 09:15:48 PM PDT
(Source: Inside Bay Area)

SAN LEANDRO
Lilly Lim expected at least a semblance of normalcy when she went to work at a suburban Jakarta shipping company on a spring day 10 years ago.

Lim, then a 28-year-old self-identified Chinese-Indonesian accountant, had her worries the day after six student demonstrators protesting government corruption were shot dead on a Jakarta college campus.

She now acknowledges that clinging to the hope that May 13 would be just another day went against everything a lifetime of discrimination in her personal life and more than 200 years of history had told her.

Her worst fears materialized quickly. The first sign was the odor and thick smoke from a torched gas station a few blocks away. Typically bustling streets were deserted at noon.

Riots would soon plunge an already unstable nation into disarray, with racially targeted attacks against Chinese Indonesians that by several accounts left more than 1,300 people dead.

“Nobody knew it would be so chaotic,” she said. “After that moment, everything changed.” Like many Chinese Indonesians, Lim left the country in the riot’s aftermath.

Now a Menlo Park resident, Lim was among 300 or so Chinese Indonesians who attended a Sunday gathering at St. Leander Church in San Leandro commemorating the 10th Anniversary of the May 1998 riots.

A coalition of Chinese-Indonesian human rights groups organized such events throughout North America this week. The San Leandro event was the only one in the Bay Area.

The groups blame the Indonesian leaders for fostering an environment that precipitated the riots and pervasive racial hostility against people of Chinese descent, who make up just 5 percent of the nation’s population but are disproportionately wealthy.

“The most important reason we’re having this is for people to remember what happened, because people are starting to forget,” said event organizer Beni Bevly, who heads the Overseas Think Tank for Indonesia.

“A lot of people know what’s going on Myanmar and a lot of people know what’s going on in China with Tibet, but do people know what’s going on in Indonesia? No, because this story has been suppressed by our (Indonesian) government.” Bevly said. “This problem has never been solved.”

The 1998 riots were just the most recent chapter in the densely populated nation’s bloody history that Bevly said includes government-led mass anti-communist killings in the 1960′s. He said targeted killings of Chinese Indonesians date back to the 18th century.

Lim said she’d been subjected to harassment and racial epithets her entire life. She was a newlywed and had just given birth to her baby daughter, Vira, when the unrest broke out. “It was so scary,” she said, her voice quivering as she pointed to Vira, who is now 11. “We just didn’t go out.” Lim said her husband, Vincent Lie, barely survived a close call with rioters who attacked his car on his way home from work.

She said the riots illustrate the devastating consequences of racial hatred.
“If the government is leading it, the people will follow,” she said. “People have to know, that’s what (racism) leads to.”

Gideon Rubin can be reached at 510-293-2469 or grubin@bayareanewsgroup.com.

Written by Beni Bevly

May 14th, 2008 at 3:40 pm

Izinkan Aku Merengkuhmu

without comments

Oleh Mutiara Andalas, S.J.

(Surat Terbuka kepada Paguyuban Korban dan Keluarga Korban Mei 1998)

Izinkan Aku Merengkuhmu

Sahabat,

Mei 2008 tinggal dalam hitungan jari. Sepuluh tahun lalu, langit Indonesia berawan kematian. Indonesia bergenang air mata. Air mataku menutup akhir kisahmu. Aku hendak mengirimkannya ke seluruh penjuru mata angin. Aku mengenang Eten, Iwan, Mumung, Stefanus dan ribuan nama lain telah menjadi abu.

Sahabat,

Debu pelupaan mengubur penderitaanmu. Engkau menyimpan kenangan korban dalam air mata. Abjad seolah ribuan kupu-kupu yang berterbangan saat penaku mendekatinya. Air mata korban hanya mungkin ditulis dengan pena harapan.

“Aku Kus, ibu kandung Mis, sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci. Kehidupanku semula bergulir sederhana dari rumah, tempat cuci, dan masjid. Kematian anakku mendorongku naik ke panggung politik yang aku asing bahasanya. Perkenankan aku berbicara dengan bahasa seorang ibu. Kematian anakku sudah berlangsung dalam hitungan tahun, namun air mata keibuanku selalu menyertai setiap kali mengisahkannya.“

Sahabat,

Kenanganmu mulai dari reruntuhan pusat perbelanjaan, rumah sakit, rumah keluarga korban, dan kuburan. Abjad air mata di sana lahir dari rahim penderitaan. Trauma menyerakkan kata korban. Bela rasa merangkai abjad air mata. Rasa kasihan kepada korban hanya seumur jagung, bela rasa berusia pohon zaitun.

Sahabat,

Aku mengirim sekuntum hati saat engkau berbaring di rumah sakit setelah tragedi perkosaan. Trauma menolak perjumpaan. Aku mendengar kisahmu dari relawati kemanusiaan yang menjengukmu. Masyarakat berdesakan mencari nama, foto, dan kisahmu. Aku berharap mereka memahami kondisimu. Kebenaran di negeri ini sering bertaruh dengan kehidupan. Negara tak mengejar pelaku perkosaan, tetapi justru memburu korbannya.

Sahabat,

Penantian seorang ibu mengandung harapan. Maria, engkau tak pernah merengkuh jenazah Stefanus dalam pangkuanmu. Puteramu tak pernah kembali setelah tragedi Mei. Engkau menghantar kepergiannya dengan rosario air mata.

“Tuhan, Aku berserah kepada-Mu. Jika Stefanus masih hidup, semoga Engkau menuntunnya pulang. Jika puteraku telah meninggal dunia, semoga Engkau berkenan mengampuni dosa-dosanya. Amin.”

Sahabat,

Engkau melangkah ke ruang hukum dengan mata buta. Namun, engkau tahu hak menuntut penyelesaian kasus korban. Engkau menolak ganti rugi karena membela kesucian hidup korban. Engkau tak sudi menggadaikan kehidupan korban dengan menjual kasus mereka dengn imbalan uang.

Sahabat,

Kami berkali-kali menyebutmu sebagai penjarah. Kami menyumpalkan Allah sebagai obat penenang saat engkau membela dakwaan. Kami undur diri saat engkau mengundang kami melawan kekerasan dan diskriminasi. Sebagian korban mengembara dengan nama, bahasa, budaya, dan negara baru. Mereka ingin mengakhiri kejaran hantu trauma. Engkau merengkuh kembali kemanusiaanmu saat telingaku peduli dengan kisahmu (the empathic others).[1]

Sahabat,

Engkau menyembuhkan kebutaan hatiku. Engkau mendidik aku bela rasa. Engkau mengulurkan tanganmu kepada korban lain. Engkau memberi banyak dari yang sedikit demi kehidupan yang lain. Sejumput beras berarti karena banyak keluarga korban menyantap dari piring yang sama. Engkau mengetuk pintu tempat-tempat ibadat untuk membantu korban. Aku berharap pintu hati pemeluk agama selalu terbuka untukmu.

“Ketika aku kehilangan tempat tinggal,
engkau memberiku tumpangan.

Ketika aku dihujat sebagai asu,
Engkau menyapaku sebagai saudara.

Ketika aku dibakar hidup-hidup,
Engkau mengkafani jenazahku.

Ketika aku diperkosa,
Engkau merengkuh tubuhku.

Ketika aku dihilangkan paksa,
Engkau mencariku.

Ketika aku berjalan menuju istana Negara,
engkau menguatkan langkahku.

Ketika aku diusir aparat dengan kekerasan,
engkau memapahku ke rumah sakit.

Ketika aku dijegal hukum,
Engkau membela kesaksianku.

Ketika aku lelah memperjuangkan kasusku,
Engkau membuka tempat ibadat untuk istirahat.

Sesungguhnya segala sesuatu yang engkau lakukan
untuk salah seorang dari Saudara-Ku yang paling hina ini,
engkau telah melakukannya untuk Aku.”[2]

Sahabat,

Tragedi kemanusiaan melukis ulang pertautan agama dan politik. Ia mengundang pemeluk agama dan politikus untuk mendengarkan korban. Pemeluk agama merengkuh korban politik. Politikus menjauhi kejahatan terhadap kemanusiaan. Pemeluk agama dan politikus sering mendangkalkan tragedi kemanusiaan sebagai kecelakaan sejarah. Tragedi kemanusiaan melucuti gagasan mengenai Tuhan dan peradaban yang berpaling dari penderitaan korban. Ia juga mempertemukan agama-agama di ruang kemanusiaan. Agama seringkali gagap dihadapan tragedi sejarah karena menceraikan keselamatan dari transformasi politik, bahkan agama tahkluk di kaki rezim politik.[3]

Sahabat,

Berapa usia sebuah kenangan? Aku pernah mengira sering dapat hidup tanpa berpaling ke tragedi Mei. Aku juga kenangan atas tragedi hanya milikmu. Sejujurnya aku takut berjumpa dengan air matamu. Aku takut merengkuhmu karena mengira engkau akan meminta sesuatu dariku. Engkau justru mendekati dan merengkuhku. Engkau menyampaikan pesan kemanusiaan dalam abjad air mata, “Tragedi kemanusiaan ini menyerang kemanusiaan kita. Serangan terhadap tubuh korban adalah serangan terhadap tubuh kemanusiaan kita.” Aku mengenangmu hingga air mata penderitaanmu kering.

______
[1] Susan J. Brison, Aftermath: Violence and the Remaking of a Self (New Jersey: Princeton University Press, 2002).

[2] Pembacaan kontemporer atas teks Matius 25, 31 – 46.

[3] Johann Baptist Metz, The Emerging Church (New York: Crossroad, 1981), 1 – 33. 67 – 81.

Written by Beni Bevly

May 9th, 2008 at 10:11 am

Ten Years after May 1998 Tragedy

with 12 comments

Ten years after May 1998 tragedy

The Jakarta Post
Thursday, May 8, 2008
Opinion
Jennie S. Bev, San Francisco

This May we are commemorating the 10th anniversary of the May 1998 tragedy, which is better known as the May 1998 riots. This historic incident is an important life-changing milestone in many people’s lives, whoever they are.

I lost my innocence in May 1998, politically and spiritually. In a few fast-paced heart-racing days, I realized many unthinkable and unimaginable things, including what human beings are capable of doing to fellow humans, which could have happened to a person like me: the targeted rape of Chinese women, the burning and looting of properties belonging to Chinese owners and the denial of such incidents by those in power.

On top of that, the on-going politics of amnesia by the state and the minuscule amount, if any at all, of structured and unstructured compassionate-based efforts experienced by those whose souls, sanity, dignity and tangible and intangible properties were dissolved unwillingly simply because they were born the “wrong” ethnicity.

There are several things we all need to take to heart and reflect upon, in light of better understanding of how things worked and may continue to work in Indonesia, if we don’t do anything about it.

While it might not make us comfortable at all to recall any atrocity that happened 10 years ago, it is very important that we consciously acknowledge the deafening silence, which might stem from psychological trauma, survival guilt or downright ignorance.

By acknowledging this phenomenon, I have a sincere hope that we will be called to at least take one minute of our time to remember those women who were sexually abused and raped, 1,338 killed, millions of dollars of property damage and indescribable psychological trauma to all who experienced it first-hand. Because, after all, today’s relative freedom that we are enjoying has been built upon the drops of their blood and the tears of their loved ones.

Silence of the common people. The notion of “compassion” itself is not very popular in Indonesia. I found difficulty in finding the most appropriate translation, other than bela rasa and belas asih for “compassion”. The word “compassion” itself derives from the Latin words “pati” and “cum”, which means “to suffer with”, as described by Henri Nouwen as entering into places of pain, to share in brokenness, fear, confusion and anguish.

And it takes a strong will and courage to experience, not merely show, compassion. Thus, while it is understandable for the majority of those who reside in Indonesia to prefer to remain silent about such atrocities, it will prove to be meaningful if we all do something, no matter how minuscule, to ensure that the future will be free from such occurrences.

Silence of the intellectuals. Particularly in Indonesia, the so-called “intellectuals” have a very strong presence and whatever they say is likely to be listened to seriously. However, only a few scholars are willing to bring up the issues of May 1998 in academic forums. Unfortunately, due to the so-called “skeptical empiricism”, sincere efforts to discuss such issues often result in unfavorable results. Perhaps, we should make an exception this time: be an intelligent optimist.

I find this phenomenon to be mind-boggling, especially since academic forums are designed to not include emotions, be impartial and balanced, and to use strong theoretical frameworks. The key point here is to remind ourselves and to hopefully make some kind of statement opposing further human rights abuses.

Silence of government. This has been expected, but can no longer be tolerated. While activists are working hard to bring perpetrators of the May 1998 tragedy to justice, the government should be more proactive in its investigation activities. We all appreciate the government’s efforts to fund Rumah Kenangan, which is a museum for the tragedy, but we need more than preserving memories.

We owe our sisters and brothers justice, so their souls can rest in peace and their loved ones can stop crying and start living to the fullest.

This article was previously published by The Jakarta Post.

The writer is a columnist. She supports a petition for a new Indonesia at PeacefulIndonesia.com.

Written by Beni Bevly

May 8th, 2008 at 5:19 pm

AKU ORANG CINA?

with 56 comments

Judul: Aku Orang Cina?: Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa
Penulis: Dr. Beni Bevly
Genre: Politik
Spesiifikasi: 168 hlm; 6 x 9 inci; soft cover
Harga: $12.00 (BELI/BUY)

Aku Orang Cina? oleh Dr. Beni Bevly

Buku Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa karya Beni Bevly memperkenalkan pandangan dan persepsi pemikiran politik dari salah satu di antara sekian juta etnis Tionghoa yang beragam di Indonesia. Sesuai dengan kata plus di judul buku ini, penulis tidak hanya menarasikan pemikiran politik, tetapi ia juga menuturkan pemikiran ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi dan aplikasinya di Indonesia. Pemikiran plus ini mengisi sisi ilmu politik yang cenderung science for science atau ilmu murni. Sedangkan ilmu ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi cenderung mengarah ke aplikasi. Pemikiran politik plus berhasil diangkat kepermukaan karena penulis memiliki belakang pendidikan yang multidisiplin.

Hal lain bahwa penulis berhasil menarasikan fenomena sosial politik dan ekonomi Indonesia yang kompleks menjadi sederhana. Ia mengaitkan hampir setiap topik yang ia bahas dengan metafor kejadian sederhana sehari-hari yang ia alami. Hal ini membuat bahasan pemikiran politiknya menjadi mudah dimengerti.

Ciri khas pendekatan narasi pemikiran politik yang multidisiplin dan mengangkatnya dari metafor kejadian sehari-hari inilah yang membedakan buku Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa dari buku lain yang sejenis.

Dengan bertambahnya satu lagi koleksi buku yang berkaitan dengan etnis Tionghoa, diharapkan membantu masyarkat bisa semakin memahami seperti apa sesungguhnya pemikiran manusia yang beretniskan Tionghoa secara umum dan beretniskan Hakka secara khusus. Perlu ditekankan karena sangat beragamnya etnis Tionghoa di Indonesia, maka penulis tidak bisa mengklaim bahwa narasi pemikiran politik plus di buku ini mewakili seluruh etnis Tionghoa.

Keasingan dan ketidak-tahuan akan sesuatu cenderung menimbulkan rasa curiga dan takut. Secara naluri, perasaan ini menimbulkan sifat ingin bertahan. Seringkali orang menterjemahkan bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Tentu saja kita tidak mau hal seperti ini terjadi di antara etnis di Indonesia. Dengan penerbitan buku ini, penulis berharap bahwa etnis Tionghoa tidak terlalu menjadi mahluk asing di Indonesia sehingga apa yang seperti di prediksikan oleh Huntington, S. P. (2003, p. 28) dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order yaitu meningkatnya clash of ethnicity pada post cold war di tingkat domestik suatu negara seperti yang telah terjadi di Indonesia tidak terulangi lagi.

(BELI/BUY)

Seminar dan Renungan 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 di SF Bay Area

without comments

10 Years Humanity Tragedy of May 1998

Informasi singkat Seminar dan Renungan dalam memperingati 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 di San Francisco Bay Area

Tema Seminar
Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi
(dalam rangka memperingati 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998)

Pembicara

Drs. Eddie Lembong
Drs. Eddie Lembong (Ketua Yayasan Nation Building/NABIL, Indonesia)
[Bio oleh Pusat Data Tempo dan sumber lain.]

Dr. Muhamad Ali
Dr. Muhamad Ali (Religious Studies Department, University of California Riverside)
[Bio]

Mutiara Andalas, SJ
Mutiara Andalas, SJ (Penulis buku “Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan”)
[Bio]

Moderator dan Partisipan Aktif

Dr. Beni Bevly [Bio]
Dr. Jennie S. Bev [Bio]

Waktu dan Tempat
5:15 PM
Minggu, 11 Mei 2008
550 W Estudillo Ave
San Leandro, CA 94577
(St. Leander Church’s Auditorium)

Prediksi Jumlah Peserta
120 orang

Penyelenggara/Turut Mengundang
Overseas Think Tank for Indonesia (OTTI), Dr. Beni Bevly, MBA
Indonesia Media, Arnold Lukito dan Dr. Irawan
Indonesian Chinese American Network (ICANet), Peter Phwan
Chinese Community of San Leandro (CCSL), Hendy Wijaya
Bolaang Mongondow – Sangihe Talaud – Minahasa (BOSAMI), Tony Lolong
Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), Tasa Nugraza Barley, MBA

Rencana Jadwal Kegiatan
Seminar dan Renungan yang direncanakan akan memakan waktu keseluruhan 1 jam 30 menit (5:15-6:45 pm) disusun dalam jadwal sebagai berikut:

1. Ramah-Tamah, Pameran Foto, dan Pemutaran Film (10 Menit)
Selama ramah-tamah, peserta dipersilahkan menikmati hidangan dari panitia sambil melihat pameran foto dan pemutaran film singkat tentang Tragedi kemanusian Mei 1998.

Pameran foto ditampilkan dalam dua versi, pertama, foto-foto yang ditempel di dinding. Kedua, foto yang ditampilkan dalam sebuah album raksasa, tidak di dinding.

Pemutaran film dilakukan pada saat peserta sedang beramah tamah.

2. Ceramah (50 menit)
Total ceramah dari maksimum 4 presenter adalah 50 menit. Kemungkinan waktu akan lebih banyak dialokasikan pada Bapak Eddie Lembong yang datang jauh-jauh dari Indonesia.

3. Tanya-Jawab (25 menit)
Tanya-jawab dilakukan selama 25. Metodenya adalah mengumpulkan 5 pertanyaan dan dijawab, begitu selanjutnya hingga 25 menit selesai.

4. Renungan (5 menit)
Renungan merupakan optional. Jika waktu mengijinkan, renungan akan dilakukan antara lain dengan cara membaca petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi” (http://www.peacefulindonesia.com/petition/). Pembacaan ini dilakukan secara beramai-ramai untuk mewakili semua komunitas Indonesia yang ada di Bay Area. Masing-masing pembaca akan membacakan paragraf yang telah di-assign.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi
Mutiara Andalas, SJ, mutiaraandalas(at)yahoo(dot)com
Beni Bevly, benibevly(at)yahoo(dot)com

OverseasThinkTankforIndonesia.com dan Peacefulindonesia.com