Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

AKU ORANG CINA?

with 28 comments

Judul: Aku Orang Cina?: Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa
Penulis: Dr. Beni Bevly
Genre: Politik
Spesiifikasi: 168 hlm; 6 x 9 inci; soft cover
Harga: $12.00 (BELI/BUY)

Aku Orang Cina? oleh Dr. Beni Bevly

Buku Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa karya Beni Bevly memperkenalkan pandangan dan persepsi pemikiran politik dari salah satu di antara sekian juta etnis Tionghoa yang beragam di Indonesia. Sesuai dengan kata plus di judul buku ini, penulis tidak hanya menarasikan pemikiran politik, tetapi ia juga menuturkan pemikiran ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi dan aplikasinya di Indonesia. Pemikiran plus ini mengisi sisi ilmu politik yang cenderung science for science atau ilmu murni. Sedangkan ilmu ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi cenderung mengarah ke aplikasi. Pemikiran politik plus berhasil diangkat kepermukaan karena penulis memiliki belakang pendidikan yang multidisiplin.

Hal lain bahwa penulis berhasil menarasikan fenomena sosial politik dan ekonomi Indonesia yang kompleks menjadi sederhana. Ia mengaitkan hampir setiap topik yang ia bahas dengan metafor kejadian sederhana sehari-hari yang ia alami. Hal ini membuat bahasan pemikiran politiknya menjadi mudah dimengerti.

Ciri khas pendekatan narasi pemikiran politik yang multidisiplin dan mengangkatnya dari metafor kejadian sehari-hari inilah yang membedakan buku Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa dari buku lain yang sejenis.

Dengan bertambahnya satu lagi koleksi buku yang berkaitan dengan etnis Tionghoa, diharapkan membantu masyarkat bisa semakin memahami seperti apa sesungguhnya pemikiran manusia yang beretniskan Tionghoa secara umum dan beretniskan Hakka secara khusus. Perlu ditekankan karena sangat beragamnya etnis Tionghoa di Indonesia, maka penulis tidak bisa mengklaim bahwa narasi pemikiran politik plus di buku ini mewakili seluruh etnis Tionghoa.

Keasingan dan ketidak-tahuan akan sesuatu cenderung menimbulkan rasa curiga dan takut. Secara naluri, perasaan ini menimbulkan sifat ingin bertahan. Seringkali orang menterjemahkan bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Tentu saja kita tidak mau hal seperti ini terjadi di antara etnis di Indonesia. Dengan penerbitan buku ini, penulis berharap bahwa etnis Tionghoa tidak terlalu menjadi mahluk asing di Indonesia sehingga apa yang seperti di prediksikan oleh Huntington, S. P. (2003, p. 28) dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order yaitu meningkatnya clash of ethnicity pada post cold war di tingkat domestik suatu negara seperti yang telah terjadi di Indonesia tidak terulangi lagi.

(BELI/BUY)

28 Responses to 'AKU ORANG CINA?'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'AKU ORANG CINA?'.

  1. Manusia cenderung takut dan menjaga jarak terhadap sesuatu yang berbeda dengannya, be it civilization seperti yang disebutkan Huntington sampai tetangga baru sebelah rumah. Banyak yang bilang masyarakat Tionghoa cenderung menutup diri terhadap orang Indonesia “asli”, saya sendiri tidak bisa menilai keabsahan pernyataan ini, karena saya memiliki banyak sekali sahabat Tionghoa yang sangat terbuka kepada saya. Namun, begitulah nampaknya persepsi umum. Saya suka buku-buku seperti ini, mencoba menjembatani ketidaktahuan akan satu pihak, mudah-mudahan dengan semakin jelasnya bahwa masyarakat Tionghoa bukanlah sesuatu yang asing bisa terjalin hubungan yang lebih baik.

    Lama tidak mampir Mas Beni Bevly. :D

    yuki tobing

    7 May 08 at 3:39 pm

  2. Yuki, mengenai stereotype terhadap Tionghoa di Indonesia, ini disebabkan oleh struktural propaganda politis era Soeharto terutama. Mereka punya interest politik tersendiri dan memang ini yang didengang-dengungkan ke semua orang, sehingga Tionghoa dikucilkan dan mau tidak mau hidup dalam kungkungan lingkungan sendiri.

    Juga isu “asimilasi” alias berbaur dengan kawin campur dan pindah agama diidentikkan dengan “pilihan terbaik.” Padahal tidak demikian. Yang indah adalah menerima perbedaan apa adanya, begini baru bisa meningkatkan nasionalisme. Pembauran ras dan agama sebaiknya berjalan natural karena memang pasti akan terjadi tanpa perlu “dipaksa” dengan propoganda.

    Love is love and the highest of love is accepting differences as they are. (Jennie S. Bev)

    Jen

    8 May 08 at 11:09 am

  3. Yuki Tobing, terima kasih atas komentarnya. Salah satu bagian di buku itu ditulis mengenai bagaimana posisi dan peran Tionghoa di Indonesia. Saya cenderung melihat bahwa mereka perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Bukan hanya etnis Tionghoa, tetapi semua etnis seharusnya terintegrasi, dan saling menerima perbedaan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Hal ini jelas melebihi dari pengertian toleransi.

    Sorry, selama ini jarang “jalan-jalan” di blog sahabat. Saya akan melakukannya lagi.

    Beni Bevly

    9 May 08 at 8:49 am

  4. Mbak Jenny, terima kasih atas penjelasannya, saya mungkin masih terlalu muda atau bahkan belum lahir saat itu untuk memiliki gambaran yang lebih jelas. :D

    Mas Beni, saya setuju soal pendapat anda mengenai pentingnya menempatkan etnis Tionghoa sebagai bagian terintegrasi dari bangsa Indonesia. Kasus ini saya rasa cukup mirip dengan masalah minoritas di kawasan Eropa Tengah yang kebetulan merupakan area studi saya. Beberapa negara bahkan tidak memasukkan besarnya jumlah minoritas di negara tersebut ke dalam sensus penduduk, cckk.

    Saya doakan yang terbaik buat rekan-rekan Tionghoa di Indonesia.

    yuki tobing

    9 May 08 at 1:05 pm

  5. Yuki, banyak UU yang merupakan “landasan hukum” dari diskriminasi struktural politis tersebut. Banyak malah, termasuk dilarangnya menggunakan marga Tionghoa (yang notabene sudah ada ribuan tahun sejak masa baheula, which should be respected). Semata2 untuk kepentingan politis, yang waktu itu adalah zaman Soeharto. Bisa dilihat sebagian di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Anti-Chinese_legislation_in_Indonesia

    Terima kasih untuk concern dari Yuki. I wish you the best in your study and be an exemplary diplomat for all of us.

    Jen

    9 May 08 at 1:32 pm

  6. Dear Beni Bevly,
    Selamat atas terbitnya buku Aku Orang Cina? Perspektif insider sebagai seorang Indonesia beretnis Tionghoa tentu membuat buku ini berbobot.Mudah-mudahan buku ini memberi kontribusi untuk terwujudnya Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi. Wah, jadi inget tulisan saya sendiri “Clara: Aku Bukan Asu!” dalam bab buku “Kesucian Politik: Agama dan Politik di tengah Krisis Kemanusiaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008). Intelektual-aktivis kemanusiaan harus berani masuk ke tema-tema kemanusiaan yang banyak intelektual enggan memasukinya karena dianggap terlalu subversif! Sahabat saya Beni memilih memasukinya demi korban diskriminasi rasial dan humanisasi Indonesia. Sekali lagi, Selamat!

    Mutiara Andalas

    9 May 08 at 1:41 pm

  7. salam.
    wah selamat ya atas kemunculan buku tersebut, mudah-mudahan menjadi diskursus publik dan membentuk kesadaran baru bahwa orang-orang cina adalah bagian integral dari Indonesia.
    mungkin ini pengalaman pribadi saya, di kampung nenek saya, cipeujeuh di daerah bandung, ada perikanan milik orang cina. memang sih terkesan kurang membaur dengan masyarakat setempat. tapi saya akui bahwa perniagaan mereka lebih jujur ketimbang perniagaan yang dikelola orang lokal sendiri. but anyway, mudah-mudahan buku ini menjadi kesadaran baru dalam berinteraksi lebih baik lagi menuju indonesia yang bersahabat tanpa diskriminasi.
    ahmad. saudi arabia

    ahmad

    17 May 08 at 12:47 am

  8. >memang sih terkesan kurang membaur dengan masyarakat

    Ahmad, soal ini mohon ditelisik sejarahnya. Apa sebabnya? Pada awal mulanya Tionghoa dan “pribumi” sangat bersama2 dalam segala hal, namun ada usaha2 yang mempolitisir sampai akhirnya bisa dilihat “keberhasilan” perpecahan ini hingga saat ini.

    Jen

    17 May 08 at 2:12 pm

  9. Ben, Jen,
    Menikahi orang cina adalah wujud pembangkangan saya atas propaganda soeharto. :)

    Anang, yb

    18 May 08 at 5:49 pm

  10. Anang, ini adalah contoh “asimilasi” di mana minoritas melebur ke dalam mayoritas. Saya dan kawan2 masih menunggu teladan2 multikulturalisme dan cross-pollinating (penyerbukan silang).

    Jen

    19 May 08 at 2:22 pm

  11. salam.
    Wah, selamat dong buat mas Anang atas pernikahannya.
    dulu saya bercita-cita ingin mendapatkan istri cina, eh malah dapat jodoh yang sekampung. hehehe…maaf ini curhatan saja.tapi tidak apa-apa, yang penting, bisa merajutnya dengan baik tanpa diskriminasi.
    oya, buat mba jenni, kok situsnya tidak aktif lagi. mudah-mudahan tetap eksis di dunia blog. saya kerap berkunjung meski terkadang tak ngasih komentar apa-apa, tapi saya berusaha untuk menghayati tulisan mba jenni. saya berusaha menganalisa tulisan-tulisannya semampu saya dengan harapan saya bisa mengambil kuncinya untuk dipraktekan.
    saya ucapkan terima kasih buat pak beni yang sudah ngasih tips tentang menulis.
    untuk saat ini, saya lagi mogok nulis karena masih banyak baca kesana kemari.
    saya pikir, bukan zaman nya lagi diskriminasi perlakuan hanya berbeda latar belakang. yang cina terbuka sama orang-orang lokal dan orang lokal tetap terbuka sama orang-orang cina, dan secara alami peleburan itu akan terjadi sehingga punya misi bersama yakni membangun indonesia yang utuh dan lebih baik. salam buat semua.
    ahmad

    ahmad

    21 May 08 at 3:01 pm

  12. Halo Mas Beni dan Mbak Jennie,

    Setelah cukup lama menjadi silent reader di blog mas dan mbak, akhirnya saya bersuara juga, hehe.

    Pertama-tama, selamat atas bukunya, semoga bisa memberi pencerahan kepada masyarakat Indonesia terutama masyarakat Melayu yang umumnya memiliki pandangan yang berbeda terhadap etnis Tionghoa selama ini. Pandangan berbeda yang bisa merupakan pandangan negatif, kesalahpahaman, kekurangan informasi yang akhirnya menimbulkan jurang antara etnis Melayu dengan etnis Cina.

    Pastinya Mas dan Mbak sudah sangat tahu apa saja pandangan berbeda yang saya maksud di atas. Jadi saya tidak akan mengulangnya lagi.

    Saya pribadi dididik untuk menerima perbedaan dari kecil melalui kata-kata Mama “jangan heran, orang itu lain-lain” jadi saya tidak terkejut, heran apalagi menghina teman-teman yang berbeda itu. Saya berteman dengan teman dari berbagai etnis, keadaan fisik, ekonomi, sosial, dll. Perbedaan sudah menjadi hal yang lumrah di keluarga saya termasuk dalam menilai respon orang Melayu Indonesia terhadap orang Cina Indonesia yang sepertinya iri dan dengki melihat kesuksesan orang Cina Indonesia pada umumnya dan mencemooh bahwa mereka bisa kaya dan sukses karena main dukun, pesugihan, dll yang notabene-nya hanya gosip dan fitnah semata.

    Kebetulan, saudara-saudara sekampung yang terhimpun dalam organisasi membuat riset, analisis, studi ilmiah, dll terhadap keberhasilan Bangsa Cina selama ini. Mempelajari bagaimana etnis Cina khususnya di Indonesia bisa sukses, kompak, dll untuk dipahami dan diteladani oleh kami semua (orang kampung saya maksudnya) :)

    Mungkin Mas dan Mbak akan tersenyum tidak percaya membaca reply saya barusan, tapi memang betul sampai dibuat buku lanjutannya yang membahas keberhasilan Etnis Cina, Jepang dan Korea selama ini. Sampai diseminarkan segala untuk lebih memantapkan pemahaman masing-masing individu dari orang sekampung dan diharapkan setelah paham diterapkan untuk diri dan keluarga masing-masing.

    Sayang bukunya hanya untuk kalangan terbatas yaitu untuk orang-orang sekampung kami saja. Ide membukukan hal positif bangsa Cina mencapai keberhasilan ini lahir dari seorang saudara yang ingin melihat sisi positif dari keberhasilan suatu bangsa didukung penuh oleh saudara-saudara lain. Jika Melayu lainnya mencemooh etnis Cina, maka golongan kami bukan salah satunya :)

    Dari reply yang panjang lebar ini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa etnis Cina tidak selamanya dipandang buruk, tertutup, negatif oleh etnis Melayu. Ada etnis lain yang mengagumi, meneliti, mempelajari dan meneladani etnis Cina. Kalo boleh bilang saya adalah perwakilan dari etnis Melayu maka saya boleh menganggap Mas dan Mbak sebagai perwakilan dari etnis Cina, maka terimalah dengan baik compliment dan appreciation dari saya, semoga kita sama-sama bisa bersinergi dalam memberikan inspirasi dan hal positif lainnya untuk kemajuan bersama.

    Terima kasih :)

    Salam,

    Yonna Fitriana

    yonna

    26 May 08 at 7:52 pm

  13. Mutiara Andalas, Ahmad, Jen, Anang dan Yonna,

    Terima kasih banyak atas commentnya. Memang betul bahwa setiap etnis terdapat kekurangan dan kelebihan. Kita harus mengakuai itu, perbaiki kekurangan dan perbanyak kelebihan.

    Saya sempat ngobrol banyak dengan Drs. Eddie Lembong, ketua Yayasan Nabil dan salah satu tokoh Tionghoa yang cukup disegani. Ia mengajukan konsep “cross cultural fertilization” yang menganjurkan agar masing-masing pihak mau mempelajari kelebihan dan superioritas suatu etnis dan mengambilnya untuk memperbaiki diri. Dia memberikan contoh bahwa etnis Tionghoa superior dalam hal berdagang, maka belajarlah dari etnis ini dalam hal bedagang dan sebaliknya etnis Tionghoa juga perlu belajar dari etnis lain di bidang yang mereka kurang sekarang.

    Yonna, salut untuk apa yang kamu lakukan. Jika semakin banyak yonna-yonna yang lain, maka otomatis kita bisa hidup berdampingan lebih tentram.Dan alangkah baiknya jika buku yang Yonna dan teman-teman tulis bisa didapatkan oleh kalangan umum.

    Salam kompak untuk teman semua.

    Beni Bevly

    5 Jun 08 at 9:51 am

  14. @Mas Benny
    Saya cuma pembaca bukunya tersebut, saya tidak melakukan apapun. Tapi komplimen dari Mas bisa saya sampaikan ke saudara yang sudah menyusun.

    Mengenai buku tersebut, memang ditujukan untuk kalangan saudara sekampung, tapi usul Mas bisa saya sampaikan untuk bahan pertimbangan.

    Terima kasih dan salam kompak :)

    yonna

    5 Jun 08 at 11:02 pm

  15. Liuk Suk Conggrat ya bukunya! Phen-phen udah baca bukunya.
    Disitu apa kabar? Liuk Suk Me juga semua baik2 aja kan?? ^^

    Hector (Phen-phen)

    7 Jun 08 at 9:33 pm

  16. Oh iya lupa nih, Phen_phen minta e-mail address liuk suk. ok?

    Hector (Phen-phen)

    7 Jun 08 at 9:35 pm

  17. Ini buku yang ditunggu orang banyak. Seperti kata pengantarnya memang sulit mengeneralisir begitu banyak pemikiran dan akomodasi pemikiran orang cina di Indonesia. Saya yakin dengan latar belakang penulis yang begitu multi disiplin tapi sangat disiplin dalam menguji teorinya, buku ini pasti mengupas jelas pemikiran orang Cina di Indonesia. I put on my top list to get and read this book.

    Ben, thanks for sharing and publish it (You know we need that bukan sekedar cuma mau tahu aja) as we congratulate you for your best effort wrote this precious book.

    Alexander E.S

    12 Aug 08 at 3:48 am

  18. Phen-Phen, Liuk Suk Me baik-baik aja dan sibuk seperti biasa. Alamat email Liuk Suk sudah dikirim ke Phen-Phen beberapa waktu yang lalu. Kalau belum diterima tolong kasih tahu. Terima kasih telah membaca bukunya.

    Alex, bekerja sama dengan satu organisasi di Indonesia, kami sedang mempersiapkan edisi Indonesia. Ada beberapa bagian yang perlu disesuaikan untuk kondisi di Indonesia. Di AS dan Kanada, buku ini akan di-relaunching pada bulan September 2008.

    Saya akan infomasikan jika buku ini sudah bisa didapatkan di Indonesia.

    Terima kasih untuk Alex yang selalu mendukung kegiatan OTTI.

    Beni Bevly

    13 Aug 08 at 10:04 am

  19. Hai Koh Beni Bevly. tadi pagi saya bincang-bincang dgn Pa Edi Lembong. Saya baru mengetahui buku anda dari beliau. Saya bisa minta alamat emailnya? ada beberapa hal yg mesti saya tanyakan ke Engkoh Beni. Tolong jangan propagandakan kawin campur itu. Dulu di tahun 50an, ketika ada pemikiran bahwa tionghoa harus kawin dgn pribumi maka perempuan-perempuan Tionghoa selalu jadi korban pelecehan sexual pribumi yg tidak bertanggung jawab. Trims…

    Kenken

    25 Aug 08 at 3:00 am

  20. Great man did a great job . Well done . I’m waiting your next post. I’ll share this with my friends.

    Melayu Boleh

    20 Apr 09 at 12:12 pm

  21. Thank you, Melayu Boleh.

    Beni Bevly

    30 Apr 09 at 11:21 am

  22. Pembauran secara natural mungkin memang paling baik. Oleh karenanya tak bolehlah orang tua menghalangi anaknya yang ingin Kawin Campur. By the way banyak anak2 orang kaya yang sekolah di Luar Negeri akhirnya Kawin Campur, walaupun salah satu atau kedua orang tuanya marah2.
    It is Democracy, More Intellectual and Human Right, isn’t it?

    Sarwa Gunawan

    13 Aug 09 at 9:39 pm

  23. [...] Dr. Beni Bevly adalah analis pada Overseas Think Tank for Indonesia dan penulis buku “Aku Orang China? Narasi Pemikiran Plus Plus dari seorang Tionghoa Muda” (versi terbitan Indonesia yang akan beredar pada bulan Februari [...]

  24. saya sedang membutuhkan banyak referensi tentang etnis Zhong Hua di Indo untuk proses pelaksanaan thesis tugas akhir saya. bisakah sekiranya saya mendapatkan resume singkat dari buku ini? jika saya tertarik dengan isinya, bisa kita kontak lagi di media lain. terima kassih.

    daniel

    22 Feb 10 at 8:12 am

  25. Hello Daniel,

    Mungkin link di Google Books bisa membantu Daniel untuk melihat isi buku Aku Orang Cina? lebih detil sebagai berikut:

    http://books.google.com/books?id=aj7oJteG5mcC&printsec=frontcover&dq=aku+orang+cina%3F&client=firefox-a&cd=3#v=onepage&q=&f=false

    Buku ini baru saja diterbitkan di Indonesia dengan versi yang telah disesuaikan sekitar tiga minggu yang lalu dan bisa diperoleh di Gramedia dengan judul “Aku Orang China? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa Muda”. Saya tahu persis bahwa buku ini bisa diperoleh di Emporium Mall Gramedia.

    Terima kasih atas minatnya.

    Beni Bevly

    Beni Bevly

    3 Mar 10 at 4:17 pm

  26. Yth. Pak Beni Bevly/
    saya sangat gembira dengan terbitnya lagi salah satu buku dari kalangan penulis tionghoa, khususnya hakka.walaupun saya belum sempat baca bukunya, namun saya yakin buku tsb memiliki nilai positif bagi pengamat masalah ketionghoaan di tanah air. paling tidak,memberikan suatu “pandangan” dari sisi yang lain mengenai mengapa selama ini tak banyak orang tionghoa berkiprah dibidang politik. saya juga sedang menyusun buku mengenai orang hakka di propinsi saya. semoga juga bisa selesai. bravo..pak Beni.

    Dimas M

    22 May 10 at 12:16 am

  27. Talking about Xenophobia, Indonesia is Xenophobia by history facts.

    Andrew Shu

    14 Jun 10 at 8:37 pm

  28. Hello Dimas and Andrew, thank you for your comment. @Dimas, I wish you luck and of course what you have been doing means a lot for Hakka people.

    Beni Bevly

    15 Jun 10 at 6:04 pm

Leave a Reply