Perdamaian untuk Semua
Oleh Dr. Beni Bevly
Agaknya Delapan Kecenderungan Utama di Indonesia 2008 yang aku tulis awal tahun ini menjadi kenyataan. Hal ini menandakan bahwa perdamaian untuk semua semakin jauh dari jangkauan. Padahal dalam hatiku, aku berharap bahwa logikaku yang melihat adanya kecerderungan seperti itu salah.
Kecenderungan yang aku maksud secara khusus adalah:
Kedua, tingkat kekerasan dan intoleransi akan semakin tinggi, berulang kali dan memakan korban jiwa. Kekerasan ini bukan hanya terjadi secara vertikal, yaitu konflik negara dan rakyat, dan secara horizontal, yaitu konflik antara kelompok masyarakat, tetapi juga terjadi dengan cara kombinasi konflik vertikal dan horizontal. Agaknya, konflik dan intoleransi akan dipakai lagi untuk memperebutkan kursi kepresidenan pada 2009. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa besar skalanya.
Ketiga, berkurangnya “perlindungan” negara terhadap minoritas. Sejak berguliranya isu reformasi dan demokrasi, perlindungan tidak otomatis bisa didapatkan lebih mudah. Bahkan beberapa tahun terakhir ini memperlihatkan gejala berkurangnya perlindungan dari pemerintah. Salah satu sebabnya adalah penafsiran yang salah dari arti reformasi dan demokrasi.
Keempat, kecenderungan peningkatan paham kedaerahan, golongan dan agama. Pada sisi tertentu pemisahan Timor-Timur dari Indonesia bisa dilihat sebagai pelopor dari kecenderungan ini. Hal ini kemudian diikuti oleh Aceh dengan menerapkan Hukum Syariah.
Kecenderungan di atas sedang mengkristal yang ditunjukkan dengan kenyataan di lapangan. Paling tidak terdapat tiga kasus gunung es yang bisa dipaparkan dari kenyataan di lapangan. Pertama, berita kekerasan terhadap para pengikut Ahmadiyah dan legitimasi dari pemerintah melarang kebebasan beragama terhadap saudara kita ini ternyata secara potensial semakin memberi angin kepada kaum extrimist untuk bertindak dengan kekerasan.
Kedua, terlihat adanya gejala bahwa hukum Syariat di Aceh memicu kekerasan penduduk lokal desa Manyang, Kecamatan Meura Muliah, Aceh Utara. Hal ini terlihat dengan adanya usaha memotong tangan seorang pencuri yang bernama Saidan.
Ketiga, pada awal Mey lalu, kekerasan dan intoleransi juga terjadi di Horale, Pulau Seram di Provinsi Maluku. Sebanyak 120 rumah, 3 gereja dan sekolah dibakar karena para penghuninya beragama SKristen. Empat orang Kristen terbunuh dan 56 luka-luka. Lima belas hektar pertanian dihancurkan, sebanyak 20 kapal nelayan dan 2 kendaraan bermotor mengalami nasib yang sama.
Dalam kondisi seperti ini adalah sangat bijak untuk mendengar perkataan sahabat Muslim saya, Muhamad Ali di Jakarta Post:
When there is conflict of interpretation, the Koran asks not to judge the faith of the other but to compete with one another in goodness (fastabiqul khairat:Al-Maidah:48). There are many paths to God and many ways to be Muslim. Many religious individuals forget and do not care about their intolerant actions; they are quick to spread injustice, physically or psychologically, to those who happen to have different interpretations.
Marilah kita melunakkan hati kita dan semaikan cinta kasih seperti ajakan Maya Rumantir di bawah, supaya perdamaian untuk semua tidak semakin jauh.
_______
Dr. Beni Bevly adalah aktivis intelektual, pendiri Overseas Think Tank for Indonesia, lingkar studi tantang Indonesia di Kalifornia. Penulis buku “Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa”

Satu lagi, diskriminasi terhadap penganut aliran kepercayaan yang hak2 sipilnya tercabut sejak puluhan tahun lalu masih terjadi. Berbagai perangkat UU untuk melindungi mereka memang sudah ada (UU 23/2006, PP 37/2007 misalnya), tapi kenyataan di lapangan menunjukan bahwa penganut aliran ini masih sulit sekedar untuk mendapatkan selembar surat perkawinan.
Kedua, saya setuju radikalisi agama akan semakin menguat malah dilegalisasi oleh organisasi semacam MUI dan siap mencari korban2 berikutnya. Mereka tak akan pernah puas sebelum negara ini berubah menjadi negara Islam. NU yang diharapkan berdiri di garda terdepan sebagai salah satu pelindung konstitusi juga menampakan gejala radikalisasi melalui opini sepihak para pengurusnya.
Terakhir, mayoritas kalangan menengah yang saya perkirakan masih moderat masih belum banyak bersuara dan ini justru malah memperkuat suara hardliner. Jadi Jonathan Swift benar, agama di kita hanya digunakan untuk membenci bukan menebar kasih sayang. Nice reading, BTW.
Toni Wahid
17 Jun 08 at 5:07 am
Toni, thank you atas komentar dan encourage-nya terhadap kegiatan kemanusiaan yang kami lakukan.
Berdiskusi mengenai agama dan politik memang selalu menarik dan tidak jarang perasaanpun dilibatkan karena kedua hal ini adalah keyakinan. Menurut saya keyakinan politik dan agama yang murni mestinya mempunyai kesamaannya, yaitu berpijak pada belas kasih atau compassion. Hal yang terbalik malah sering kita temukan di kehidupan nyata.
Keadaan inilah yang membuat para aktivis, dan idealis yang lain menjadi frustrasi. Kefrustrasian ini membuat sebagaian dari mereka menjadi atheis dan apolitis. Mereka mempertanyakan tentang fungsi agama dan sistem politik. Sampai pada titik tertentu, ada dari mereka yang menyimpulkan bahwa dunia kemungkinan akan lebih damai tanpa agama dan politik.
Benarkah demikian? Topik ini akan menjadi bahasan yang cukup menarik mengingat peranan agama dan politik mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kondisi Indonesia saat ini.
Beni Bevly
25 Jun 08 at 8:56 am
philedelphia eagles cheerleaders
red door elizabeth arden
lyrics for leave get out jojo
immgration to australia
pennystocks list of penny stocks
the newnan times herald
custom enclosures subwoofer
squirrel monkeys for sale
dodge parkersburg west virginia
the funeral chris penn
free goverment credit reports
black big tities
ez pass in maryland
pier imports store
rc rock crawlers
alicia key cds
nesting dolls russian
wet tshirt contests
boat havasu lake rental ski
inglewood unified school district
Diesel
18 Jun 09 at 12:20 am