<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Perdamaian untuk Semua</title>
	<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/06/16/perdamaian-untuk-semua/</link>
	<description>facilitating intellectuals to contribute to indonesia</description>
	<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 04:54:50 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/06/16/perdamaian-untuk-semua/#comment-11937</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 16:56:54 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/06/16/perdamaian-untuk-semua/#comment-11937</guid>
		<description>Toni, thank you atas komentar dan encourage-nya terhadap kegiatan kemanusiaan yang kami lakukan. 

Berdiskusi mengenai agama dan politik memang selalu menarik dan tidak jarang perasaanpun dilibatkan karena kedua hal ini adalah keyakinan. Menurut saya keyakinan politik dan agama yang murni mestinya mempunyai kesamaannya, yaitu berpijak pada belas kasih atau compassion. Hal yang terbalik malah sering kita temukan di kehidupan nyata. 

Keadaan inilah yang membuat para aktivis, dan  idealis yang lain menjadi frustrasi. Kefrustrasian ini membuat sebagaian dari mereka menjadi atheis dan apolitis. Mereka mempertanyakan tentang fungsi agama dan sistem politik. Sampai pada titik tertentu, ada dari mereka yang menyimpulkan bahwa dunia kemungkinan akan lebih damai tanpa agama dan politik. 

Benarkah demikian? Topik ini akan menjadi bahasan yang cukup menarik mengingat peranan agama dan politik mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kondisi Indonesia saat ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Toni, thank you atas komentar dan encourage-nya terhadap kegiatan kemanusiaan yang kami lakukan. </p>
<p>Berdiskusi mengenai agama dan politik memang selalu menarik dan tidak jarang perasaanpun dilibatkan karena kedua hal ini adalah keyakinan. Menurut saya keyakinan politik dan agama yang murni mestinya mempunyai kesamaannya, yaitu berpijak pada belas kasih atau compassion. Hal yang terbalik malah sering kita temukan di kehidupan nyata. </p>
<p>Keadaan inilah yang membuat para aktivis, dan  idealis yang lain menjadi frustrasi. Kefrustrasian ini membuat sebagaian dari mereka menjadi atheis dan apolitis. Mereka mempertanyakan tentang fungsi agama dan sistem politik. Sampai pada titik tertentu, ada dari mereka yang menyimpulkan bahwa dunia kemungkinan akan lebih damai tanpa agama dan politik. </p>
<p>Benarkah demikian? Topik ini akan menjadi bahasan yang cukup menarik mengingat peranan agama dan politik mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kondisi Indonesia saat ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Toni Wahid</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/06/16/perdamaian-untuk-semua/#comment-11917</link>
		<dc:creator>Toni Wahid</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 13:07:46 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/06/16/perdamaian-untuk-semua/#comment-11917</guid>
		<description>Satu lagi, diskriminasi terhadap penganut aliran kepercayaan yang hak2 sipilnya tercabut sejak puluhan tahun lalu masih terjadi. Berbagai perangkat UU untuk melindungi mereka memang sudah ada (UU 23/2006, PP 37/2007 misalnya), tapi kenyataan di lapangan menunjukan bahwa penganut aliran ini masih sulit sekedar untuk mendapatkan selembar surat perkawinan.

Kedua, saya setuju radikalisi agama akan semakin menguat malah dilegalisasi oleh organisasi semacam MUI dan siap mencari korban2 berikutnya. Mereka tak akan pernah puas sebelum negara ini berubah menjadi negara Islam. NU yang diharapkan berdiri di garda terdepan sebagai salah satu pelindung konstitusi juga menampakan gejala radikalisasi melalui opini sepihak para pengurusnya.   


Terakhir, mayoritas kalangan menengah yang saya perkirakan masih moderat masih belum banyak bersuara dan ini justru malah memperkuat suara hardliner.  Jadi Jonathan Swift benar, agama di kita hanya digunakan untuk membenci bukan menebar kasih sayang. Nice reading, BTW.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi, diskriminasi terhadap penganut aliran kepercayaan yang hak2 sipilnya tercabut sejak puluhan tahun lalu masih terjadi. Berbagai perangkat UU untuk melindungi mereka memang sudah ada (UU 23/2006, PP 37/2007 misalnya), tapi kenyataan di lapangan menunjukan bahwa penganut aliran ini masih sulit sekedar untuk mendapatkan selembar surat perkawinan.</p>
<p>Kedua, saya setuju radikalisi agama akan semakin menguat malah dilegalisasi oleh organisasi semacam MUI dan siap mencari korban2 berikutnya. Mereka tak akan pernah puas sebelum negara ini berubah menjadi negara Islam. NU yang diharapkan berdiri di garda terdepan sebagai salah satu pelindung konstitusi juga menampakan gejala radikalisasi melalui opini sepihak para pengurusnya.   </p>
<p>Terakhir, mayoritas kalangan menengah yang saya perkirakan masih moderat masih belum banyak bersuara dan ini justru malah memperkuat suara hardliner.  Jadi Jonathan Swift benar, agama di kita hanya digunakan untuk membenci bukan menebar kasih sayang. Nice reading, BTW.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
