Aku Pro-Feminis

Image source: daily.greencine.com
Aku Pro-Feminis[1]
Oleh Mutiara Andalas, SJ
Saya mengawali buku ini dengan kesaksian singkat sebagai teolog pro-feminis. Saya berharap pembaca menangkap roh yang menggerakkan saya untuk menulis teologi perempuan Asia. Pembaca akan segera menemukan bahwa kepedulian terhadap dunia teologi perempuan AsiaAsia. Saya memiliki keyakinan kuat bahwa teologi perempuan Asia hanya mungkin berkembang lebih mekar jika terbuka bukan minat akademik dadakan. Tanda pengenal sebagai teolog pro-feminis merupakan simpulan sementara saya berdasarkan aktivitas diantara orang miskin perempuan, kecintaan pada feminisme, dan perjumpaan dengan gagasan para teolog perempuan kepada para teolog pro-feminis Asia untuk mengeksplorasinya. Pada saat yang sama, saya menyadari kemungkinan bias saya sebagai teolog katolik laki-laki Asia dalam memahami teologi perempuan Asia.
Saya kesulitan menemukan titik awal perhatian terhadap isu perempuan. Saat menoleh ke masa lalu, ingatan saya kembali pada sebuah cerita pendek pertama saya berjudul Pengorbanan Iyem. Anjlognya harga cengkeh sekitar tahun 1992 membalut cerpen itu. Cerpen berkisah tentang penderitaan keluarga petani yang dibelit hutang dan berlanjut dengan kematian kepala keluarga. Iyem, anak perempuan keluargayang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, terpaksa putus sekolah dan menjadi pelunas hutang keluarga kepada rentenir dengan bekerja di tempat hiburan malam. Identitas Iyem yang diberikan orang tuanya menghilang dengan pemberian nama Meike oleh indung semangnya.
Perhatian pada isu perempuan menguat ketika saya melanjutkan pendidikan di ibu kota Indonesia. Saya berjumpa dengan penggusuran, ketimpangan ekonomi, anak jalanan, eksploitasi tubuh anak dan perempuan, diskriminasi rasial, dan kekerasan bersenjata. Saya menanggapi aksi penutupan lokalisasi pekerja seks komersial oleh pemerintah kota Jakarta. Kunjungan ke kawasan penduduk miskin, seperti di tempat pembuangan akhir sampah Bantargebang, mencelikkan mata saya akan dampak kemiskinan yang menggeruss kehidupan sampai anak-anak. Saya menulis cerita pendek mengenai anak yang menyaksikan ayahnya meregang nyawa seketika karena rumahnya digusur paksa dengan pembakaran. Saya juga menyadur kisah hidup Tarini, seorang anak perempuan dari perkampungan pemulung yang menerima penghargaan Child Award karena kegigihan hidupnya.
Saya pernah menerima pelatihan kesadaran jender dan berkunjung ke beberapa lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan persoalan perempuan. Saya mengajukan pertanyaan kepada mereka mengenai minimnya keterlibatan laki-laki yang dalam pembebasan perempuan. Para aktivis mengungkapkan kesulitan mereka untuk merekrut laki-laki dalam humanisasi perempuan. Mereka sekaligus menyampaikan kritik diri akan citra negatif feminisme di mata masyarakat, bahkan dikalangan perempuan. Sebagian masyarakat memandang feminisme sebagai barang impor dari masyarakat Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai Timur. Reaksi negatif dari sebagian laki-laki dalam arti tertentu menimbulkan keraguan terhadap ketulusan laki-laki dalam memperjuangkan kepentingan perempuan. Minimnya dukungan awal, bahkan penolakan ini menebalkan keyakinan sebagian feminis bahwa pengusung isu perempuan adalah perempuan.
Tragedi kemanusiaan Mei 1998, terutama kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia etnis Cina, merupakan titik balik dalam keterlibatan saya dengan persoalan perempuan. Saya memiliki keterbatasan untuk mengunjungi korban karena trauma mereka terhadap sosok laki-laki. Kasus perkosaan menghilang karena pembungkaman negara terhadap kesaksian korban dan hukum yang belum peka terhadap persoalan perempuan. Saya gagal mendengarkan tangisan korban. Saya mengalami kebuntuan bahasa untuk menyuarakan harapan mereka. Refleksi pribadi saya tentang kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia etnis Cina baru muncul satu dasa warsa kemudian dengan tulisan Monolog Rahim.[2] Perjumpaan dengan para aktivis perempuan yang mendampingi korban reformasi 1998, terutama korban kekerasan seksual, menyadarkan saya untuk lebih mengenal dunia perempuan.
Perjumpaan dan persahabatan saya dengan para aktivis perempuan yang bekerja di lapangan membantu saya untuk melihat penderitaan perempuan yang berlangsung sehari-hari. Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan bahkan Gereja menjadi lokasi penderitaan perempuan. Penderitaan terhadap perempuan seringkali sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat sehingga kita gagal mengenalinya sebagai kekerasan terhadap perempuan. Penderitaan perempuan menjadi peristiwa rutin tanpa gugatan. Saya terperanjat dengan fakta bahwa laki-laki bukan satu-satunya pemeluk budaya patriarkis. Sebagian perempuan memeluk budaya patriarkis dan melakukan pula tindak kekerasan terhadap sesama saudarinya. Gerakan perempuan menyandang tugas ganda, yaitu humanisasi terhadap perempuan yang mengalami penderitaan, dan humanisasi terhadap laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam dehumanisasi perempuan.
Saat menginjak bangku teologi di fakultas teologi kepausan Wedabhakti-universitas Sanata Dharma, saya giat menggeluti pemikiran teologi perempuan Ivonne Gebara, Ada Maria Isasi Diaz, Elizabeth Schussler Fiorenza, Sallie McFague, dan sebagainya. Meskipun fakultas teologi menyediakan mata kuliah pilihan feminisme yang diampu teolog perempuan, saya justru memilih untuk studi mandiri tentang teologi feminisme. Saya mengidap prasangka teologi feminisme hanya penghalusan dari teologi matriarkis. Studi mandiri memberikan kekuasaan kepada saya untuk menghindari bacaan-bacaan teologi feminis yang menyimpang dari teologi katolik. Saya masih mempelajari teolog-teolog perempuan dalam rangka membangun tembok pertahanan diri terhadap serangan teolog feminis. Perjumpaan dengan gagasan dan aktivis perempuan mendorong saya untuk menyentuh isu-isu yang sering diabaikan dan ditabukan masyarakat dan Gereja, seperti penderitaan perempuan di zona konflik, presiden perempuan, tahbisan perempuan, dan skandal seksual pemimpin agama.
Kesulitan (ter)besar dalam merengkuh feminisme adalah kritik para feminis bahwa gereja dengan para teolognya terlibat dalam menundukkan perempuan. Saya kesulitan melihat keberadaan Gereja dan teologi patriarkis. Saya menolak tuduhan bahwa bahasa, simbol, dan ritual Gereja kurang mendukung kesetaraan jender. Saya gagal melihat fakta penafsiran kitab suci yang memojokkan, apalagi meniadakan peran perempuan. Pada periode ini saya lebih tertarik mempelajari teologi pembebasan perempuan Amerika Latin. Saya lebih mendengarkan perjuangan tokoh perempuan seperti Rigoberta Menchu, kritiknya atas ‘Gereja kaisar’, dan penafsirannya atas kitab suci demi pembebasan rakyat Guatemala.
Saya terhenyak dengan keberagaman istilah yang dipakai teolog perempuan untuk menamai aktivitas teologisnya. Penamaan teologi perempuan masih berlanjut. Teolog mujerista Ada Maria Isasi Diaz melihat nama sebagai tanda eksistensi dan resistensi terhadap anonimitas. Isasi Diaz berangkat dari kisahnya sebagai perempuan dan perempuan-perempuan Latina lainnya yang berjuang demi kehidupan dan pembebasan mereka. Pembacaan dan penafsiran kitab suci hendaknya membantu perempuan untuk mengenali dunia mereka. Ia mengundang saya untuk berpaling kepada perempuan-perempuan dalam kitab suci dan menemukan makna tersembunyi yang telah dikaburkan oleh dunia patriarkal dengan cara penulisan, penafsiran, dan penghidupannya. Ia mendaku kembali kebaikan perempuan dan tubuhnya. Karena dapat melukiskan Tuhan dalam tubuh mereka, mereka juga dapat melukiskan Tuhan dengan metafor perempuan.[3]
Studi lanjut teologi di Amerika Serikat merupakan salah satu periode menentukan dalam pemahaman saya mengenai feminisme dan teologi perempuan. Bell Hooks memahami feminisme sebagai gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi seksis, dan penindasan. Hooks menyadarkan kita bahwa laki-laki bukan penyembah tunggal berhala seksisme. Perempuan, bahkan yang menempelkan label feminis, dapat menjadi pemuja berhala seksisme. Feminis kontemporer merupakan gerakan untuk keadilan jender. Ia juga menyingkapkan fakta bahwa gerakan feminisme tak sekedar memiliki keragaman, tetapi juga mengalami keterpecahan.[4]Sistem patriarki bertahan hidup karena berhasil melanggengkan kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Kebungkaman perempuan terhadap kekerasan yang dialaminya mengabadikan system patriarki. kejahatan patriarki membantu untuk mengabadikan patriarki. Gerakan feminisme melawan kepercayaan seksis konvensional bahwa hasrat laki-laki untuk menguasai perempuan itu normal, bahkan menjadi norma masyarakat. Penguasaan laki-laki terhadap perempuan sejatinya menyengsarakan kedua belah pihak. Keduanya terkunci dalam ikatan relasi negatif. Gerakan feminis hendaknya semakin melepaskan diri dari citra negatif yang dilekatkan padanya sebagai penyelenggara perang gender. Ia harus semakin menampilkan citra positifnya sebagai sebuah solusi untuk relasi baru antara laki-laki dan perempuan yang dilukai patriarki.[5]
Saya merasa duduk di pinggir laut memandang samudera pemikiran teologi dari beragam belahan dunia. Rosemary Radford Ruether membantu saya untuk melihat akar dan perkembangan teologi feminis dalam agama kristiani. Teologi feminis bukan sekedar teologi yang dikerjakan perempuan, karena sebagian teolog feminsi telah mengerjakan teologi yang mengamini paradigma jender patriarkal. Ia juga juga bukan sekedar teologi yang mengusung tema perempuan. Imbuhan tema-tema perempuan dalam teologi yang dikuasai oleh paradigma jender patriarkal justru seringkali memberkuat paradigma yang ada. Ruether memandang gerakan feminisme sebagai dekonstruksi-rekonstruksi terhadap paradigma jender patrialkal yang merendahkan kemanusiaan perempuan dan yang menempatkan perempuan sebagai imbuhan lakii-laki. Teologi perempuan mengembangkan gerakan feminis dalam bidang teologi. Para teolog feminis menggugat desain teologi yang membenarkan perendahan perempuan, seperti pengenaan bahasa laki-laki untuk Allah, identifikasi laki-laki dengan Allah, laki-laki sebagai perwakilan Allah dalam gereja dan masyarakat, laki-laki sebagai ciptaan Allah yang lebih istimewa. Teolog perempuan peka terhadap agensi-kekuasaan yang mengkonstruksi simbol-simbol sosial, budaya, dan teologi. Ruether menegaskan bahwa teologi feminis, yang kuncupnya muncul pada akhir tahun 1960-an dan yang benihnya sudah mulai hadir dalam era-era sebelumnya, tidak lahir dari ex nihilo.[6]
Saya sejujurnya sangat malu karena karena baru mengenal Marianne Katoppo, teolog perempuan Indonesia, justru ketika berada di luar kampung halaman. Marianne Katoppo segera menarik perhatian saya karena ia melukis ulang teologi, identitas teolog, bahasa teologi, dan cakupan perhatian dan keprihatinan teologi. Darinya saya memandang teologi secara baru sebagai syair mengenai, bahkan syair kepada Allah. Saya mendaku (kembali) identitas teolog sebagai penyair Allah. Teologi perempuan menjauhkan diri dari godaan melucuti kemanusiaan laki-laki, melainkan mengenakan kembali kemanusiaan mereka. Karya-karya teologis dan sastra Katoppo mendorong saya untuk menciptakan bahasa teologi yang lebih menyapa Allah dan manusia. Jika kita hendak menyusun mazmur kepada Allah, teolog harus semakin berpaling kepada ratapan manusia yang didera penderitaan.
Ivone Gebara, teolog perempuan dari Brazil, meletakkan pondasi lanjutan dalam memahami teologi perempuan. Teologi perempuan tidak berangkat dari teori tentang Tuhan. Ia berawal dari ratapan perempuan sebagaimana dirintihkan Yesus di atas kayu salib “Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan daku?” [7] Gebara membongkar teologi patriarkis yang bersarang dalam tubuh Gereja Katolik. Teologi patriarkis membatasi diri untuk melihat Tuhan dari lensa pengalaman laki-laki. Ia menyensor pengalaman perempuan akan Tuhan. Teologi perempuan memberikan perhatian pada pengalaman perempuan akan Tuhan sebagai Pribadi yang mendukung kehidupan mereka, bersemayam dalam kehidupan, dan bersemayam dalam kehidupan mereka. Para teolog perempuan menulis teologi dari kehidupan manusia dan mengenai kehidupan manusia. Aspek perempuan dari teologi mereka terletak dalam dekonstruksi terhadap Tuhan patriarkis demi semakin terciptanya persaudaraan putera-puteri Allah (kin-dom of God).[8]
Gebara mendorong para saudara laki-laki untuk mendengarkan para saudari mereka yang mengisahkan penderitaan mereka. Pada saat yang sama ia melihat celah terbuka bagi sebagian saudara laki-laki untuk mengisahkan penderitaan perempuan. Laki-laki pun dapat menjadi saksi kehidupan bagi penderitaan perempuan. Identitas sebagai saksi kehidupan perempuan tumbuh saat laki-laki memasukkan diri mereka ke dalam geografi penderitaan perempuan dan melihat keragaman kejahatan yang menggagahi kemanusiaan perempuan. Hati dan budi laki-laki ikut terkoyak bersama dengan hati perempuan yang dirajam penderitaan baik yang berlangsung pada masa lalu maupun pada masa kini. Laki-laki memiliki kemampuan untuk menyeberangi garis pembatas perbedaan biologis dan kultural yang biasanya menghalangi mereka untuk mendengarkan kisah perempuan.[9]
Di tengah laju kemajuan teologi di Amerika, teologi Asia masih mencari ruang untuk bernafas hidup. Ruang-ruang kuliah teologi Asia belum banyak menarik minat mahasiswa-mahasiswi non-Asia. Hal yang relatif sama terjadi dengan hasrat untuk mendalami gagasan para teolog Asia. Saya menangkap harapan bersama diantara para teolog Asia untuk menempatkan Asia sebagai salah satu kiblat teologi. Sampai saat ini Asia merupakan kiblat teologi yang masih terabaikan, bahkan tanpa sadar oleh para teolog Asia sendiri. Ruang-ruang kelas teologi Asia merupakan undangan istimewa kepada mahasiswa-mahasiswi Asia untuk mencintai teologi Asia. Kwok Pui-Lan melihat berteologi perempuan Asia dari pinggiran bukan sebagai kelemahan, tetapi justru sebagai kekuatan. Proyek buku ini merupakan buah kecintaan saya terhadap teologi Asia.
Perhatian terhadap teologi perempuan Asia menyusul setelah saya lebih mengenal peta feminisme dan teologi Asia. Teolog perempuan Asia seringkali terkubur keberadaannya dalam lingkar akademik Asia. Nama-nama mereka baru mengemuka ketika saya membuka diri terhadap keberadaan (isu) perempuan dalam teologi Asia. Saya menyadari betapa perempuan seringkali anonim, dan isu mereka seringkali tersingkirkan dari perhatian teologi Asia. Saya merasakan kebutuhan untuk mendengarkan pengalaman perempuan Asia akan Tuhan. Saya terhenyak dengan fakta penderitaan yang dialami perempuan Asia. Teologi perempuan Asia memulai refleksi dari pengalaman perempuan dan bermuara pada kemanusiaan bersama sebagai putera-puteri Tuhan.
Keterlibatan dengan isu perempuan dan minat untuk menekuni teologi perempuan Asia memunculkan pertanyaan dasar dalam diri saya. Siapa saya? Apakah saya boleh menyebut diri teolog feminis? Saya mencari tanda pengenal saat berjumpa dengan para feminis. Para feminis juga bergumul dengan pertanyaan serupa untuk menyapa saudara-saudara yang peduli dengan isu perempuan. Pergumulan itu belum usai hingga sekarang. Sebagian berpegang bahwa istilah feminis melekat dengan jender perempuan. Mereka menyebut pro-feminis untuk untuk saudara laki-laki yang memperjuangkan kepentingan perempuan bersama mereka. Istilah pro-feminis mencerminkan keterbukaan perempuan terhadap kehadiran jender lain dalam perjuangan untuk kemanusiaan bersama. Teolog pro-feminis Asia menjadi tanda pengenal sementara saya.
[1] Tulisan ini menjadi bab pembuka dari proyek buku Teologi Perempuan Asia: Perspektif Pro-Feminis yang diharapkan selesai pada awal tahun 2009.
[2] Monolog Rahim merupakan tanggapan pertama saya terhadap tragedi kemanusiaan Mei 1998 yang dimuat dalam buku saya Kesucian Politik: Agama dan Politik di tengah Krisis Kemanusiaan (Jakarta: Libri, 2008).
[3] Ada Maria Isasi Diaz, Women of God, Women of the People: Four Biblical Mediations (St. Louis, Missouri: Chalice Press, 1995); Ada Maria Isasi Diaz, Mujerista Theology: A Theology for Twenty First Century (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1996).
[4] Bell Hooks, ‘Feminist Politics Where We Stand’ dalam Susan M. Shaw dan Janet Lee. Eds., Women’s Voices, Feminist Visions (Oregon: Oregon University Press, 2004), 46 – 48.
[5] Bell Hooks, ‘The Search for Men Who Love’, dalam Susan M. Shaw dan Janet Lee. Eds., Women’s Voices, Feminist Visions, 175 – 180.
[6] Rosemary Radford Ruether, ‘The Emergence of Christian Feminist Theology’ dalam Susan Frank Parsons. Ed., The Cambridge Companion of Feminist Theology (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), 3 – 4.
[7] Markus 15, 34.
[8] Ivone Gebara, Out of Depths: Women’s Experience of Evil and Salvation, Translated by Ann Patrick Ware (Minneapolis: Fortress Press, 2002), 145 – 174.
[9] Ivone Gebara, Out of Depths, 15 – 16.
_______
Mutiara Andalas, SJ adalah Rohaniawan Katolik dan penulis Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan. Ia sedang menyelesaikan disertasi doktoral Teologi di Berkeley, California.

Terima kasih kepada Mo Andalas untuk kontribusi ini. Semakin banyak yang bicara on behalf perempuan, semakin baik. Semoga buku ini membuka semakin banyak mata, hati dan pikiran pembaca.
Jen
4 Sep 08 at 4:23 pm
Terima kasih Jen atas dukungannya. Moga kelar awal tahun 2009. Lagi pilih-pilih judul sekarang. Untuk sementara judulnya “Ratapan Perempuan, Air Mata Allah: Penyair Allah Perempuan Asia di Era Globalisasi.”
Mutiara Andalas
11 Sep 08 at 10:29 am
lebih menarik karena ditulis oleh seorang laki-laki
reta
10 Mar 09 at 2:25 am
pencarian yang bagus mas…memang seharusnya kita meletakkan posisi kaum hawa pada kadar yang proporsinal…jika dia benar, mari kita bela, jika sodari2 kita terpinggirkan, empatilah kita padanya…
nindrianto
18 Mar 09 at 5:47 am
terima kasih banyak romo Andalas, pencarian romo justru menyejukan saya sebagai seorang yang bergelut di ranah praksis.
theresia kushardini
24 Jun 09 at 7:47 pm
Dear Reta, Nindrianto, Theresia
tulisan tersebut dengan revisi akan menjadi salah satu bab dari buku yang segera terbit ‘Lahir dari Rahim: Wacana Perempuan Asia tentang Allah di Era Globalisasi’ (Yogyakarta: Kanisius, 2009) dengan kata pengantar ganda dari Jennie S. Bev dan Ullil Abshar Abdalla.Silakan hunting bukunya….
Saya sendiri mengakui dalam buku sebagai pribadi yang masih mencari istilah yang tepat untuk keterlibatan dengan isu-isu perempuan. Buku ini moga-moga menjadi awalan untuk semakin mendalami tema-tema kemanusiaan-agama dari perspektif pro-feminis.
Dalam buku saya juga menulis surat kepada Suciwati Munir dan tanggapan atas tulisan Maria Sumarsih (Yap Thian Hiem 2004)yang menandai kesediaan untuk terlibat dalam perjuangan bersama paguyuban keluarga korban HAM di Indonesia.
Mutiara Andalas
2 Jul 09 at 12:45 am