Usaha Ala Tionghoa
Berikut adalah interview yang dilakukan oleh Majalah Duit dengan Dr. Beni Bevly mengenai usaha ala Tionghoa:
Majalah Duit (MD): Bolehkah anda menyebutkan prinsip-prinsip memulai usaha mau pun berbisnis orang Tionghoa yang anda selalu ingat/pertimbangkan dan yakini kebenarannya?
Beni Bevly (BB): Pertama, usaha keras, berani mencoba dan tidak takut gagal, memulai dengan apa adanya. Agaknya poin inilah yang menjadi kelebihan utama dari para pengusaha Tionghoa. Dalam keluarga Tionghoa, kerja keras bukanlah hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa lembur hingga pagi. Jika ada kesempatan, seperti hari menjelang Lebaran, mereka tahu bahwa permintaan akan meningkat, maka mereka akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut karena mereka menyadari bahwa Lebaran hanya satu kali dalam satu tahu. Moto orang Tionghoa dalam kerja keras yang sering saya dengar adalah “Kita harus bisa memindahkan gunung” dan “Kita harus bisa seperti orang lain walaupun kita melakukannya 100 kali lebih keras dari mereka.”
Orang Tionghoa pada umumnya berani memulai suatu usaha dan tidak takut gagal. Mereka mempunyai sense of urgency yang tinggi. Mereka sering berpendapat, “Jika tidak memulai sekarang, kapan lagi?” Gagal bukanlah hal yang menakutkan karena umumnya mereka selalu memulai usaha dengan apa adanya dan dari bawah.
Kedua, mengumpulkan informasi dan belajar. Sebelum terjun ke suatu bidang usaha, umumnya orang Tionghoa akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Mereka tidak segan pergi ke saudara, teman, dan bahkan pihak yang tidak mereka kenal. Setiap pembicaraan dengan siapa saja mereka untuk menanyakan usaha yang akan mereka tekuni. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Dengan kata lain mereka sangat mahir melakukan survey terhadap usaha yang akan mereka geluti.
Selain itu, mereka juga tidak segan untuk belajar. Cara belajar yang umum dari mereka adalah bekerja untuk orang yang usahanya serupa. Setelah yakin telah menguasai cukup informasi dan keterampilan mereka akan berusaha sendiri.
Ketiga, melakukan perencanaan. Perencanaan yang paling umum dilakukan oleh orang Tionghoa adalah melihat dari segi untung-ruginya suatu usaha. Dalam bahasa akademis, mereka mempertimbangkan visibility usaha yang akan mereka jalankan. Berapa banyak ongkos yang akan dikeluarkan, bagaimana cara mendapatkan bahan baku/material, bagaimana mempersiapakan produk mereka, siapa yang akan beli, akan dijual dimana, kapan kembali modal, dan berapa keuntungannya merupakan faktor utama yang mereka pertimbangkan.
Perencanaan mereka juga sangat memperhatikan efektifitas (tujuan tercapai) dan efisiensi (tepat cara, tanpa banyak mengorbankan waktu dan tenaga) usaha yang mereka geluti.
Keempat, membina relasi. Walaupun orang Tionghoa sangat kompetitif, tetapi mereka selalu sadar bahwa membina relasi adalah salah satu kunci keberhasil usaha mereka. Untuk membina hubungan baik mereka tidak ragu untuk mengeluarkan pengorbanan tertentu, seperti pemberian hadiah, mengundang makan dan melakukan entertain terhadap relasi mereka.
Siapa saja yang bisa membantu melancarkan dan mengembangkan usaha adalah relasi mereka. Dengan pembinaan relasi yang baik, akan terbuka kerja sama yang saling menguntungkan.
Kelima, kemampuan administratif dan inventory control. Agaknya banyak orang lupa akan hal yang satu ini. Orang Tionghoa sangat sadar akan pentingnya kemampuan dalam beradministrasi dan melakukan mengontrolan inventory. Mereka sangat memperhatikan secara terperinci setiap kegiatan usaha mereka dan merekamnya dalam catatan. Karena itu mereka tahu betul bagaimana neraca keuagan mereka dan persediaan inventory mereka.
Sebagai contoh, jika kita hendak belanja sesuatu di toko orang Tionghoa sangatlah jarang bahwa mereka sampai kehabisan persediaan.
Keenam, kemampuan pemasaran. Kemampuan pemasaran orang Tionghoa umumnya ditunjang oleh kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan dan kemauan pelanggan dan kemampuan menentukan harga jual dari suatu produk secara tepat. Dari proses ini, maka terjadilah penyebaran iklan gratis dari mulut kemulut.
Untuk pengusaha yang cukup besar, mereka melakukan positioning secara professional dengan mensponsori kegiatan tertantu dan pemasangan pengiklanan melalui media cetak dan media digital.
Ketujuah, mendelegasikan. Orang Tionghoa sadar betul bahwa untuk mengembangkan suatu usaha agar menjadi besar, mereka harus bisa mendelegasikan pekerjaannya. Syarat utama pendeligasian adalah bahwa orang atau karyawan mereka harus bisa dipercaya. Karena itu, mereka cenderung mencari orang yang sudah dikenal lama dan terbukti bisa dipercaya. Bagi mereka keahlian berusaha bisa diajarkan, tetapi kebercayaan tergantung dari masing-masing kepribadian.
Karena sistem kepercayaan ini jugalah maka, mereka tidak segan-segan meminta anak mereka yang masih kecil untuk membantu usaha mereka. Di lain pihak, anak mereka yang sudah terbiasa terekspos dengan usaha orang tuanya, membuat sang anak tumbuh dengan naluri usaha yang mendarah daging.
Kedelapan, mendiversifikasi. Pengusaha Tionghoa tidak mudah merasa puas dan cukup atas usaha mereka. Mereka selalu berusaha untuk memperluas usahanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan deversifikasi produk.
Mereka cenderung mempunyai keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Mereka ingin agar pelanggannya hanya datang ke mereka. Untuk itu, mewujudkan keinginan ini, cara yang paling tepat adalah berani melakukan deversifikasi produk.
Kesembilan, mengolah keuangan. Tidak ada istilah “uang mati” dalam kamus berdagang ala orang Tionghoa. Mereka selalu mempekerjakan uang tersebut supaya bisa berlipat ganda. Cara yang paling umum dilakukan adalah menanamkan modal kembali ke usaha mereka. Hal ini bisa dilakukan untuk memdirikan usaha baru atau untuk membesarkan usaha yang telah ada.
Mental untuk melipatgandakan uang memang sudah tertanam dari kecil di lingkungan keluarga mereka. Contohnya, jika mereka menerima pemasukan Rp.100, maka mereka akan menyimpan paling tidak Rp. 25 dan sisanya ditanamkan kembali keusaha mereka dan untuk kebutuhan hidup mereka.
MD: Bolehkah anda menceritakan contoh bagaimana Bapak menerapkan prinsip tersebut dalam bisnis Bapak?
BB: Contoh prinsip yang sering saya terapkan adalah perencanaan yang baik dan kerja keras. Prinsip perencanaan yang baik adalah untuk mencapai keefektifan dan keefisiensian dalam proses kerja. Prinsip kerja keras adalah bagaiman memotivasi saya sendiri dan karyawan saya untuk tidak cepat putus ada.
Ketika saya masih remaja dan tinggal dengan orang tua, salah satu bisnis mereka adalah garmen atau perusahaan pembuat pakaian jadi. Pada masa tertentu, seperti bulan Ramadan, permintaan (demand) meningkat sedangkan output produksi menurun karena banyak kaeyawan yang berpuasa. Walaupun demikian, ayah saya tidak pernah menyerah dengan keadaan ini. Ia menyusun perencanaan yang matang dengan memilah proses produksi tertentu yang tidak cepat melelahkan ditugaskan pada karyawan yang berpuasa. Kami yang tidak berpuasa diminta untuk lembur dengan diberi imbalan yang lebih banyak.
Dalam kondisi seperti ini, ayah saya sering memotivasi dengan berkata, “Ayo, kita bisa memindahkan gunung .” Pengalaman seperti sering saya terapkan dalam usaha saya sekarang ini.
MD: Bagaimana cara orang tua anda menanamkan nilai-nilai/prinsip-prinsip tersebut kepada anda atau anak-anaknya?
BB: Agaknya jawaban dari pertanyaan ini adalah inti kesuksesan dari bisnis keluarga orang Tionghoa, yaitu warisan nilai-nilai atau prinsip-prinsip usaha yang berhasil diturunkan oleh orang tua Tionghoa kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, jika kita pergi ke toko-toko orang Tionghoa, sering kali kita dilayani oleh anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tanpa merasa canggung, anak tersebut bisa melayani kita dengan mahirnya. Adalah hal yang wajar jika suatu saat ia tumbuh menjadi orang dewasa, maka ia sudah siap untuk berusaha.
Orang tua Tionghoa tidak pernah segan untuk melibatkan anaknya yang masih kecil dalam usaha mereka. Mereka sudah diberi tanggungjawab yang cukup besar untuk ukuran seorang murid SD. Mereka diajari setiap proses bisnis dari persiapan hingga sampai ke tangan pelanggan dan bagaimana menangani pelanggan setelah transaksi jual beli.
Anak-anak orang Tionghoa juga diajak kerja lembur, bahkan banyak dari mereka yang diajak bekerja sampai pagi tanpa tidur. Dalam proses kerja itu, mereka di dampingi oleh orang tua mereka. Pada kesempatan itu terjadi penurunan nilai-nilai cara berusaha dari orang tua mereka.
Melibatkan anak dari usia dini adalah cara yang paling ampuh dari orang tua mereka untuk membentuk anak mereka menjadi bisnismen tangguh di kemudian hari.
Hal ini searah dengan wejangan Kong Hu Cu, “Saya dengar dan saya lupa. Saya lihat dan saya ingat. Saya kerjakan dan saya ngerti.”
_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku “Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa” dan analist pada Overseas Think Tank for Indonesia, lingkar studi yang berlokasi di Kalifornia Utara, USA.


amazing….
minta ijin untuk saya republish di blog dengan sumber disebutkan dari sini..
trims sebelumnya.
irdix
20 Oct 08 at 4:32 am
Silakan Irdix dan terima kasih atas kode etiknya yang baik.
Beni Bevly
20 Oct 08 at 11:50 am
Wah, jadi tahu rahasia bisnisnya nich. Interesting sekali ya. Dipraktekkan di “bisnis” taekwondo nggak ya?
Mutiara Andalas
21 Oct 08 at 11:55 am
Kepada Yth.
Bapak Beni Bevly
Salam Hormat,
Saya sudah kirim jawaban balik atas jawaban yang Bapak kirim lewat email saya. Tapi hingga saat ini saya belum dapat jawaban atas beberapa pertanyaan saya kepada Bapak seminggu yang lalu. Masyarakat Indonesia rupanya tertarik dengan pemapilan Barack Obama, bagaimana pandangan anda yang dekat dengan orbit AS
Trims
atas perkenalanan ini
Yana Priyatna
yana Priyatna
3 Nov 08 at 2:49 am
Yana, mohon maaf, baru sekarang saya sempat buka internet. Saya keluar kota. Mudah-mudahan hari ini atau esok saya akan jawab pertanyaany Yana. Semoga tidak terlambat.
Beni Bevly
3 Nov 08 at 11:28 am
saya mau menanyakan bgmn sistem kontrol perseiaan dalam usaha dagang restoran atau kafe menurut bapak? dalam hal ini adalah persediaan Stok bahan mentah, penangannya.
ani
30 Apr 09 at 9:31 pm
Ani, pertanyaan anda sangat teknis. Baiklah saya coba menjawabanya menggunakan pendekatan Operation Management. Dalam Operation Management, kita mengenal istilah Just in Time (JIT) dan First in, First out (FIFO).
Philosofi dari JIT adalah menghilangkan segala jenis “waste”, mempercepat pertukaran proses, bekerja sama dengan suppliers, menyempurnakan flow of work, pengunaan flexible resources, memperhatikan quality, mengexpos problem, dan mengajak karyawan untuk memecahkan masalah.
Dalam kaitannya dengan kontrol persediaan bahan mentah secara langsung, hal pertama yang perlu dilihat adalah menghilangkan segala jenis “waste” artinya seseorang pemilik restoran harus bisa memprediksi berapa banyak persediaan yang diperlukan dan bisa disimpan berapa lama dengan menggunakan teknologi tertentu. Persediaan terlalu banyak, terlalu sedikit, terlalu cepat dan terlalu lama habis adalah “waste”. Kedua adalah membina hubungan bisnis dengan suplier agar supply bahan mentah mudah didapatkan dengan kondisi yang menguntungkan, seperti jumlah dan kualitas.
Dari sudut FIFO, bahan mentah mestinya selalu berputar secara teratur, artinya bahan mentah yang dibeli duluan mestinya dipakai lebih dahulu. Dengan kata lain, apa yang datang dulu mesti ditangani duluan, yang datang berikut mesti menunggu hingga yang pertama delesai ditangani. Hal ini juga berlaku dalam melayani pelanggan di restoran, yaitu first-come, first-served (FCFS).
Dari segi teknis, penanganan bahan mentah amat bergantung dari teknologi, seperti kulkas/ruang pendingin dengan terperatur tertentu. Penangan bahan mentah yang termasuk paling efisien dilakukan oleh McDonald’s.
Mudah-mudahan jawaban ini bisa membantu Ani.
Beni Bevly
4 May 09 at 3:52 pm
Pak Benny yang baik, terimakasih atas jawabannya yang memuaskan. Saya mau bertanya lagi semoga tidak mengganggu dan tdk keberatan. Apakah yang dimaksud standar pelayanan, dan bagaimana cara mengatur standar pelayanan terhadap karyawan seperti koki, waiter/waiters, kasir, operator warnet, security, ticketing? Sebelumnya saya berterima kasih dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
ani
1 Jun 09 at 12:25 pm
Inti standar pelayanan adalah pertama, melakukan apa yang ditulis dan kedua, menulis apa yang dilakukan. Inti makna dari poin pertama dan kedua adalah adanya konsistentsi antara yang tertulis dan yang dilakukan.
Langkah pertama adalah merumuskan work flow atau proses kerja yang efektif dan efisien.
Kedua, tuangkan dalam working instruction (contoh penulisan ini dapat dilihat seperti pada petunjuk perakitan alat tertentu dalam packing suatu produk).
Ketiga, terapkan working instruction ini dalam praktek.
Keempat, mengkaji ulang apakah praktek yang berdasarkan working instruction ini apakah berjalan dengan efektif dan efisien.
Semua standar pelayanan ini harus berdasarkan konsep customer-targeted marketing yang akan saya pos beberapa hari lagi di Overseas Think Tank for Indonesia.
Beni Bevly
1 Jun 09 at 12:27 pm
sangat inspiring..
saya mohon izin Pak Beni untuk re-publish isi blog ini.. sharing ke teman2 lainnya..
terima kasih
salam
Prima
primantasa
27 Jun 10 at 8:41 pm
Silakan, Prima.
Beni Bevly
27 Jun 10 at 11:07 pm
salam kenal
handi
28 Aug 10 at 12:16 am
Salam kenal juga, Handi.
Beni Bevly
28 Aug 10 at 11:18 am
William Shakespeare~ I wasted time and now doth time waste me.
bitter melon
2 Jun 11 at 5:37 am
I’ll immediately snatch your rss as I can’t in finding your e-mail subscription link or newsletter service. Do you have any? Kindly allow me recognize in order that I could subscribe. Thanks.
london
23 Jun 11 at 7:54 pm
I added your blog to bookmarks. And i’ll read your articles more often! Before this, it would be possible for the government to arrest you just based on whatever you were saying, if they didnt like it.
Silah Oyunlari
26 Jul 11 at 4:00 pm
rca 46la45rq reviews Hmm it appears like your website ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I as well am an aspiring blog writer but I’m still new t…
Hmm it appears like your website ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to the whole thing. Do y…
rca 46la45rq reviews
9 Oct 11 at 9:01 am
Hmm it seems like your website ate my first comment (it was super long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to the whole thing. Do you have any tips for beginner blog writers? I’d definitely appreciate it.
finger foods for babies
14 Oct 11 at 8:59 pm
Again, not enough time. Read the post before the middle, finish reading later.
Arianna
21 Oct 11 at 2:31 am
Cats must make puddles in the ashtray.
Perth Web Design
15 Dec 11 at 9:32 pm
|
r�f�rencement annecy
3 Jan 12 at 1:56 pm