Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for November, 2008

Membangun Kepedulian Masyarakat

with 31 comments

Apapun caranya tidak akan membawa hasil yang maksimal jika hanya dilakukan secara sporadik dan sesaat.
Sumber gambar: stonehousemedia.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat, pemimpin organisasi nonprofit prominent yang mengadvokasikan persamaan hak di Indonesia minta masukan dari saya mengenai bagaimana membangun kepedulian masyarkat tentang masalah sosial dengan mengambil contoh dari Amerika Serikat (AS). Berkat permintaannya, maka terumuslah poin-poin di dalam artikel ini.

Walaupun berdasarkan kasus atau contoh yang terjadi di AS, tetap harus diakui bahwa banyak poin ini bersifat umum dan juga diterapkan di negara lain, termasuk di Indonesia. Kedatipun demikian, tidak ada salahnya jika poin tersebut dikemukakan lagi untuk sekedar mengingatkan pembaca.

Satu, menjadi social salience. Hal ini bisa dicapai melalui peningkatan intensitas, kapasitas, frekuensi atau kualitas dari hal-hal yang membuat tindakan individu atau organisasi nonprofit menjadi menyolok dan lain dari pada yang lain.

Salah satu tindakan yang bisa dimasukkan dalam kategori ini adalah tindakan seorang aktivis di AS yang memprotes dan menuntut perbaikan menu pada restoran fast food. Ia membuat film bagaimana ia mengkonsumsi makanan dari MacDonald yang membuat ia gemuk, terancam sakit dan membahakan jiwanya hanya dalam waktu beberapa bulan.

Film ini membuat orang berpikir ulang tentang kelezatan di balik makanan fast food. Sekarang, pemerintahan California mengharuskan semua fast food untuk tidak menggunakan minyak goreng transfat.

Dua, menciptakan image cool bagi mereka yang terlibat dalam masalah sosial. Umumnya organisasi nonprofit di AS mempergunakan lambang tertentu untuk membuat para pendukung mereka merasa cool. Di antaranya mereka menggunakan slogan yang di sablon di topi ataupun di baju kaus yang mereka pakai. Seperti, “Come, join the winning team”, “Heros help others”, dan lain-lain.

Tentu saja image cool tidak harus selalu dengan sablon di topi atau di baju kaus, masih banyak cara lain seperti memberi gelar tertentu pada volunteer. Pada program Neighborhood Watch, pemimpin yang menagani wilayah tertentu diberi gelar The Captain of Neighborhood Watch.

Tiga, menciptakan suasana fun dan playful dalam kegiatan sosial. Memang masalah sosial selalu membawa keprihatinan, tetapi tidak semua keprihatinan tersebut harus ditunjukkan dengan muka sedih dan kusam. Ajaklah para volunteer untuk berpikir kreatif dan menerapkan ide mereka dalam kondisi yang gembira.

Misalnya, di AS sering kali organisasi non-profit mencari dana dengan mengadakan carnival. Dalam acara carnival ini mereka mengundang clown, mengadakan permainan ketrampilan fisik, mendatangkan penyanyi dan band, serta mengadakan lelang atau auction atas barang sumbangan. Mereka mengenakan biaya pintu masuk tertentu bagi pengunjung.

Di lingkungan carnival, setiap keterlibatan dalam permaian, tentunya mereka ditarik bayaran.

Empat, mendatangi keramaian dan partner baik dengan organisasi forprofit maupun nonprofit. Cara ini banyak ditempuh oleh organisai non profit di AS. Sebutlah United Way, setiap tahun mereka bekerja sama dengan perusahaan besar dan hadir di meeting mereka. Pada kesempatan itu, mereka bicara dan meminta dukungan dari karyawan. Umumnya pihak perusahaan akan men-match jumlah yang karyawan sumbangkan.

Lima, segera memperlakukan para volunteer sebagai ingroup. Banyak para pendatang baru yang ingin menyumbangkan baik tenaga, pikiran dan material kepada suatu organisasi mundur teratur dalam pertemuan pertama. Salah satu hal utama yang menyebabkan mereka mengundurkan diri karena mereka merasa tidak diterima dengan baik. Mereka menemukan ternyata kegiatan dan lingkungan itu bukan tempatnya.

Untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi, para pengurus organisasi dan volunteer perlu dilatih untuk memperlakukan volunteer baru sebagai anggota ingroup, artinya pengurus dan volunteer lama pelu membuat mereka merasa diterima dan memiliki. Jangan membuat mereka merasa tersisihkan karena topik pemnbicaraan yang belum mereka ngerti. Kalau bisa, tunjuklah satu orang secara khusus untuk menemani pendatang baru ini. Kenalkan mereka pada semua anggota.

Pada suatu saat saya, hendak melakukan pekerjaan sukarela dalam 4th of July Parade (Parade Hari Kemerdekaan) di Kalifornia. Begitu sampai di tempat, ketua panitia bersifat sangat ramah dan langsung memperkenalkan daya kepada semua tim yang hadir dan kami bersalaman. Mereka juga menunjuk satu anggota lama untuk mendampingi saya.

Enam, mensadarkan masyarakat akan adanya ancaman dan meningkatkan sense of urgency. Komunikasi seperti ini agaknya menjadi salah satu kekuatan organisasi di AS.

Al Gore dengan film dan buku global warming-nya, An Inconvinient Truth, berhasil meraih awarness tingkat internasional dengan menerangkan ancaman seperti apa yang telah dan akan terjadi jika kita tidak mempunyai sense of urgency untuk memperbaiki keadaan alam sekarang. Tentu saja semua ini dibutuhkan data dan fakta yang akurat.

Tujuh, mengkaitkan masalah sosial dengan uang yang dikeluarkan oleh mayarakat (tax payers). “It’s your money and you need to know what they do with it,” begitulah kata Consumer Watchdog di AS. Mereka selalu mengingatkan pada masyarakat bahwa agar uang mereka jangan dipergunakan sembarangan oleh pemerintah. Kalimat seperti ini semakin sering didengar karena bailout dari pemerintah yang berjumlah $700 triliun.

Peringatan ini sangatlah efektif untuk masyarakat Amerika sehingga banyak dari mereka yang ikut menandatangani petisi atau menulis surat yang ditujukan untuk kongres.

Delapan, menggunakan media elektronik, seperti internet (blog, face book, mailing list), dan tulisan atau press realease di media massa online. Information is the power, karena itu, banyak pihak yang berebut untuk menguasai dan mempergunakan teknologi informasi jenis ini sebaik mungkin.

Team Kampanye Barak Obama di AS benar-benar bendayagunakan teknologi informasi elektronik sehingga berhasil melibatkan dan mendapat dukungan dari jutaan orang.

Sembilan, memberi reward atas keterlibatannya dalam masalah sosial. Reward bukan hanya sebagai jawaban dari sebagian orang yang bertanya, “What in it for me?” tetapi juga sebagai tanda apresiasi dari organisasi non profit.

Ada baiknya pemberian reward ini diberitahukan di sebelum kegitan dimulai. Reward yang termasuk paling murah dan cukup berkesan bisa berbentuk pemberian sertifikat penghargaan dan surat rekomendasi berorganisasi untuk para relawan yang ditandatangai ketua organisasi di mana ia menyumbangkan tenaga dan pikirannya.

Selain itu, para partisipan akan bangga jika nama mereka di sebut di depan umum, begitu juga jika nama dan foto mereka disebarluaskan di media cetak atau elektonik.

Reward yang nilainya lebih tinggi bisa berbentuk piagam yang terbuat dari bahan padat atau logam. Selain itu, piagam itu bisa dipasang dan diabadikan di tempat tertentu. Jika kita pergi ke lembaga non-profit di AS, sebutlah di sekolah, pasti ditemukan piagam seperti ini.

Sepuluh, meyakinkan bahwa tidak ada sumbangsih yang terlalu kecil. Sering kali masyarakat awam tidak mau bergabung dalam kegiatan sosial karena mereka berpikir bahwa tidak ada yang bisa mereka sumbangkan. Untuk itu organisasi nonprofit harus pintar untuk mengidentifikasikan apa yang mereka butuhkan, bukan hanya uang dengan jumlah tertentu.

Misalnya, buku bekas untuk perpustakaan, sepeda yang tidak terpakai, dan lain-lain. Atau tenaga sukarelawan untuk melakukan telemarketing.

Peristiwa yang masih segar diingatan kita adalah bagaimana tim kampanya Barak Obama berhasil meyakinkan para masyarakat bahwa dengan sumbangan sekecil apapun akan membawa perubahan sosial, politik dan ekonomi. Untuk itu banyak yang menyumbang uang $10 atau lebih kecil. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah AS.

Sebelas, tunjukkan betapa gampangnya untuk berpartisipasi. Banyak orang awam berpikir bahwa untuk berpartisipasi secara aktif dalam suatu lembaga non profit dibutuhkan ketrampilan tertentu. Anggapan ini umumnya tidaklah benar. Untuk itu, pengurus lembaga nonprofit perlu mendesain job deskription yang mudah dimengerti dan step by step.

Pekerjaan sukarelawan mestinya bisa melibatkan dan dilakukan oleh semua orang dewasa secara umum. Bahkan kalau perlu, dirancang jenis pekerjaan tertentu yang bisa melibatkan relawan cacat.

Pada holiday seson, di Salvation Army di AS banyak menggunakan para relawan, termasuk yang cacat, untuk berdiri di depan pintu departement store sambil membunyikan krincingan dan minta sumbangan.

Dua belas, memberikan keterangan resiko yang berkaitan dengan kegiatan sosial. “No risk and no obligation, when ever you can stop. Just try it to see if you like it”. Itulah kata yang sering dikeluarkan oleh para pengrekrut dari organisasi nonprofit di AS.

Ingatan seperti di atas nampaknya sangat relevan dengan kondisi di Indonesia terutama mengingat bahwa trauma dan ketakutan yang diciptakan oleh rejim Orde Baru masih berbekas di masyarakat terutama mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan human right. Nonprofit organization perlu memberikan penjelasan terus menerus bahwa jaman telah berubah. Kegiatan seperti ini dan kegiatan sosial lainnya adalah hal yang lazim di negara demokrasi, termasuk di Indonesia.

Tiga belas, menimbulkan rasa haru. Banyak kisah sedih yang ditampilkan oleh oranisasi nonprofit di AS ke hadapan masyarakat. Kisah itu akhirnya menimbulkan rasa haru dan menggerakkan mereka untuk membantu.

Salah satu contohnya adalah kisah anak malang di Afrika yang perlu dibantu. Anak kurus kering berusia 10 tahun ini kehilangan kedua orang tuanya karena AIDS dan harus menghidupi dua adiknya yang masih balita.

Dengan membaca atau melihat tayangan videonya, seseorang bisa menangis dan tergerak untuk membantu.

Empat belas, jangan lupa mendayagunakan media massa tradisional seperti koran cetak, radio, dan tv. Terlepas dari kemajuan infromasi teknologi modern, media massa tradisional ini masih sangat efektif. Kelompok Gay yang menuntut kesamaan kesempatan dalam perkawinan di AS sedang giat-giatnya melakukan kampenya melalui media ini.

Tindakan membawa efek besar karena disaksikan secara internasional, walaupun mereka hanya berdemonstrasi di beberapa kota di AS.

Lima belas, mendistribusikan newsletter secara berkala. World Vision, suatu organisasi yang membantu perkembangan anak-anak di dunia ke tiga, sangat konsisten mengenai hal ini. Sekali seseorang menjadi orang tua asuh, maka secara berkala ia akan mendapat update tentang perkembangan anak asuhnya melalui newsletter yang dibuat oleh anak itu sendiri.

Begitu banyak cara yang tersedia untuk membangun keperdualian sosial dan melibatkan masyarakat awam. Kini hanya tergantung dari konsistensi organisi nonprofit untuk meneruskan usaha mereka. Apapun caranya tidak akan membawa hasil yang maksimal jika hanya dilakukan secara sporadik dan sesaat.

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku “Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa” dan analist pada OverseasThinkTankforIndonesia.com, lingkar studi yang berlokasi di Kalifornia Utara, USA.

Written by Beni Bevly

November 21st, 2008 at 1:41 pm

The politics of compassion

with 2 comments

…politics in Indonesia are not (yet) based on compassion, but instead based on fear and violence…

By Jennie S. Bev

This November marks the 10th year commemoration of the 1998 Semanggi Tragedy I, which occurred on Nov. 11-13, 1998, which caused 17 deaths. Almost one year later, Semanggi Tragedy II occurred on Sept. 24, 1999, resulting in one death and 217 injuries. These reformasi heroes were university students named Lukman Firdaus, Teddy Wardhani Kusuma, Bernardus Realino Norma Irmawan, Sigit Prasetyo, Heru Sudibyo, Engkus Kusnadi, Muzammil Joko, Uga Usmana, Abdullah/Donit, Agus Setiana, Budiono, Doni Effendi, Rinanto, Sidik, Kristian Nikijulong, Sidik and Hadi.

Every mid-November a ceremony to honor these beloved heroes takes place in Semanggi, Jakarta, so let’s show our respect by silently, solemnly and empathically recalling the incident.

The significance of their deaths might have begun to evaporate after a decade or we might have been bitten by the so-called “politics of amnesia” or simply by our own complacency, forgetfulness and ignorance. But allow me to humbly remind us all that without the drops of their blood and the tears shed by their loved ones, we might not have the Indonesia that we are enjoying today: A country that is progressing toward a more mature and conscientious democracy, no matter how arduous, long and winding the road is, in which taints of human rights abuses and hints of compassionate deeds work together in opposition to create a new equilibrium.

Today some encouraging news, such as ratifications of international conventions — including the International Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination — and the recent passing of a bill against ethnic and racial discrimination might have made some political significance.

Indonesia is also an elected member of the UN Human Rights Council, one of 47 members of 63 contenders, which included 12 other Asian countries — Bangladesh, Bahrain, China, India, Japan, Jordan, Malaysia, Pakistan, the Philippines, South Korea, Saudi Arabia and Sri Lanka. This term will expire in 2010. And it is something to ponder upon.

These developments might not mean more than a political statement to gain positive publicity by the international media that Indonesia is a conscientious country which believes in the protection of human rights. Unless the actual perpetrators of Semanggi Tragedy I and II have been prosecuted to the fullest extent of the law, Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK) or Solidarity Network of Victims and Their Families, will continue with their weekly Thursday aksi diam (mute demonstration) in front of the Presidential Palace in Jakarta.

Such acts are strong markers of the Indonesian government’s failure to uphold itself as a rechtsstaat or a state based on law. According to Todung Mulya Lubis in In Search of Human Rights, “The very notion of rechtsstaat in Indonesia has been subverted by various political, economic, cultural, and legal developments that gradually weakened the very notion of rechtsstaat.” Such idealistic notions of a lawful state have been continuously used as political statements that contradict the substance of Rule of Law or Negara hukum, which should have been quite embarrassing.

However, of course, since politics in Indonesia are not (yet) based on compassion, but instead based on fear and violence, we can expect to see continuous corrupted consciences resulting in human rights abuse or neglect. How long we should tolerate such disparaging situations solely depends on our perception, which molds our reality, of how the state and government officials should behave in a true rechtsstaat.

No need for us to debate philosophically in a way that most laypeople may find perplexing and intimidating, but instead overturning or changing our own reactions toward injustices from complacency to compassion is key. “Compassion” itself is derived from two Latin words cum and pati which translates as “to suffer with”.

According to Jeffrey Brantley, compassion is usually associated with feelings of empathy and concern for pain or suffering in another, which come with this recognition a wish for it to bring some relief, a closure.

While it is human nature to fight or flight from anything that causes inconvenience, pain, and suffering, it is also human nature to be humane and compassionate. Because, after all, human beings are always torn between two poles: The good and the bad, the strong and the weak, and the courageous and the fearful.

And it does not require a hero like Aung San Suu Kyi or a spiritual leader like Dalai Lama to show and practice practical compassion. The goal is to re-direct existing “politics of fear and violence” toward “politics of compassion”. One person at a time, one heart a time.

Reminding and pressuring government officials that cause anxiety and fear with cowardice actions and inactions should not cease simply because time keeps passing. After all, Indonesia belongs to its people, not its government. And we demand justice and compassion.

_____
The author is a writer and a columnist based in Northern California. She is writing a book on compassion. This article was published by the Jakarta Post.

Written by Beni Bevly

November 14th, 2008 at 11:44 am

Politik Kemanusiaan

with 12 comments

Indonesia tanpa kekerasan hanya mungkin tercipta jika negara memeluk politik kemanusiaan
Sumber Gambar: atmapos.wordpress.com

Oleh Mutiara Andalas

Setiap pertengahan November, paguyuban keluarga korban menaburkan bunga duka di kawasan Semanggi. Mereka mengenang tragedi Semanggi yang terjadi 10 tahun lalu.

Mereka mengutuk pelaku kekerasan dan mendorong negara menuntaskan kasus korban secara adil. Indonesia baru tanpa kekerasan merupakan pesan kemanusiaan mereka. Paguyuban keluarga korban mengingatkan masyarakat akan bahaya rezim yang menganut politik kekerasan. Peringatan satu dasawarsa tragedi Semanggi mengundang pejabat negara untuk meninggalkan politik kekerasan dan memeluk politik kemanusiaan.

Pertarungan narasi

Paul Veyne dalam Writing History (1984) menyatakan kebenaran sebagai kepentingan tunggal dari pencatatan sejarah. Penulis sejarah menyadari keterbatasannya untuk menangkap peristiwa historis. Ia sering hanya dapat merengkuh jejak peristiwa melalui dokumen atau kesaksian yang ada. Dalam tragedi kemanusiaan Semanggi, aparat keamanan mengakui tindakan penembakan terhadap demonstrasi mahasiswa. Paguyuban keluarga korban memberi kesaksian tentang korban luka dan meninggal.

Penafsiran atas tragedi Semanggi dari aparat negara dan paguyuban keluarga korban berseberangan. Aparat keamanan hanya memiliki pilihan tunggal melakukan kekerasan demi mengamankan sidang istimewa. Kekerasan menjadi mekanisme mempertahankan diri setelah negosiasi damai dengan mahasiswa menemui kebuntuan. Paguyuban keluarga korban memandang aparat negara melakukan serangan terhadap demonstrasi mahasiswa, mengakibatkan jatuhnya korban luka dan meninggal. Tindakan ini lazim dilakukan rezim penganut politik kekerasan.

Pertarungan narasi atas tragedi Semanggi berlanjut di ruang hukum. Negara melalui aparat hukumnya menolak dakwaan kekerasan aparat sebagai kejahatan HAM berat. Para pejabat tinggi militer menolak dakwaan telah melakukan tindakan kriminal dalam tragedi Semanggi. Pengembalian berkas kasus Trisakti–Semanggi merupakan tindakan simbolik, negara menolak dakwaan paguyuban keluarga korban.

Pembungkaman kebenaran masuk ruang hukum. Kebuntuan memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum mendorong paguyuban keluarga korban melakukan gerakan kemanusiaan di jalan. Mereka menggelar safari kemanusiaan bersama paguyuban keluarga korban lain untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya rezim politik kriminal. Masyarakat menjadi hakim atas kesaksian tragedi yang disampaikan negara dan paguyuban keluarga korban. Kedua pihak yang menulis narasi tragedi mendaku kebenaran (contested truth).

Pertobatan politik

Jim Wallis, teolog publik dan aktivis kemanusiaan dari AS, dalam The Soul of Politics (1994) dan God’s Politics (2005) melukis sketsa baru politik yang mengedepankan moralitas kemanusiaan. Wallis prihatin dengan politikus status quo di AS yang merekatkan politik dengan kepentingan diri, kerakusan, perpecahan sektarian, ketakutan, dan kekuasaan. Penganut politik ini menyekat masyarakat dalam aneka kelompok yang selalu berlawanan satu dengan lainnya. Diskursus tentang kehidupan publik menjadi arena saling tuding dan umpat antarkelompok yang berebut kursi kekuasaan.

Politik profetik lahir dari jalanan, simbol kehidupan sehari-hari rakyat, sebagai kritik atas politik status quo. Jalanan menjadi tempat menguji moralitas kemanusiaan. Politikus profetik mengartikulasikan kebenaran moral kemanusiaan. Ia merekatkan politik dengan bela rasa, komunitas, keberagaman, harapan, dan pelayanan. Semua warga masyarakat berperan sebagai subyek politik untuk mendekatkan politik dengan nilai kemanusiaan.

Kita dapat mengukur keberadaban rezim politik dari kemauannya merengkuh nilai-nilai kemanusiaan. Rezim politik yang mengangkangi nilai-nilai kemanusiaan kehilangan keberadabannya. Untuk perlu pertobatan politik agar kemanusiaan yang telah dirusak terajut kembali.

Pertobatan politik mengandaikan subyek mengakui kesalahan, bahkan dosa, yang mengakibatkan penderitaan subyek lain. Kekerasan yang mengakibatkan luka dan kematian massal dalam tragedi Semanggi merupakan dosa politik. Paguyuban keluarga korban telah mendahului negara melakukan pertobatan politik. Orangtua yang kehilangan anak- anaknya mengakui memendam amarah dan dendam. Namun, mereka berhasil menyingkirkan emosi negatif dan memperjuangkan visi kemanusiaan Indonesia baru tanpa kekerasan.

Dalam buku The Voice of Memory (2001), Primo Levi menyatakan emosi negatif terhadap rezim politik kriminal melemahkan pesan kemanusiaan. Paguyuban keluarga korban sebagai saksi kemanusiaan hendaknya lebih memiliki emosi positif untuk memperjuangkan kemanusiaan baru tanpa kekerasan.

Indonesia tanpa kekerasan

Orangtua korban pascatragedi kemanusiaan Semanggi mengalami transformasi sebagai saksi kemanusiaan bagi korban dan Indonesia. Mereka mengajukan politik perikemanusiaan demi Indonesia baru tanpa kekerasan. Keadilan korban dan Indonesia baru yang berperikemanusiaan sulit tercipta tanpa dukungan masyarakat. Bela rasa masyarakat kepada paguyuban keluarga korban menguatkan perjuangan mereka. Kesaksian kebenaran akan menyusut menjadi monolog jika negara menutup telinga hati terhadap suara kebenaran paguyuban keluarga korban. Rekonsiliasi gagal tercipta jika pelaku kekerasan menolak mengakui dosa politiknya dan menerima pengampunan dari paguyuban keluarga korban.

Politik kemanusiaan menyingkap kebenaran dan membuka jalan rekonsiliasi antarpihak yang berkonflik dalam tragedi Semanggi. Politik inhumanitas membenamkan kebenaran dan menutup jalan rekonsiliasi. Indonesia tanpa kekerasan hanya mungkin tercipta jika negara memeluk politik kemanusiaan.

_______
Mutiara Andalas Rohaniwan; Pernah Mendampingi Paguyuban Keluarga Korban Mei-Semanggi 1998. Artikel ini diterbitkan oleh Kompas.

Written by Beni Bevly

November 6th, 2008 at 1:30 pm

Terkuburnya American Dream?

with 34 comments

Terkuburnya American Dream?
Sumber gambar: lcweb2.loc.gov

Oleh Dr. Beni Bevly

Memasuki tahun 2007 beberapa kenalan dan tetangga saya di Kalifornia Utara mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS). Kemakmuran ekonomi yang dinikmati dan memberi keuntungan pada banyak orang – termasuk kenalan saya – sejak tahun 2000 yang ditandai dengan menaiknya harga rumah mencapai 86% pada pertengahan tahun 2006, ternyata membawa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa akibatnya bagi sebagian masyarakat AS? Siapa pelaku utamanya? Benarkah American Dream juga ikut terkubur?

Pada masa kemakmuran ekonomi – yang bisa dikatakan semu – inilah pembangunan dipacu laju. Lahan kosong dan kering kerontang dalam beberapa bulan menjadi daerah real estate disertai dengan atau tanpa pembangunan business area atau daerah pertokoan, perkantoran dan industri ringan. Untuk membeli rumah secara kredit pada saat itu, seseorang harus ikut lotere dan berlomba dengan ratusan pembeli yang lain. Harga sewa toko juga meningkat drasatis. Pada saat itu, seseorang dengan pendapatan lumayan (sebutlah berkisar $75.000-$120.000/tahun) bisa membeli beberapa rumah. Kondisi seperti inilah yang terjadi di kota baru di mana saya tinggal.

Proses pembelian yang sudah atau sedang ditinggali harus melalui proses bidding secara tertutup. Dengan proses ini, seorang pembeli memberikan penawaran harga rumah yang lebih tinggi dari harga yang dipasang oleh penjual melalui amplop tertutup. Penjual tinggal memilih penawaran yang paling menguntungkan untuk mereka. Pada tahun 2004, saya sempat mem-bid satu rumah dengan $7.000 di atas harga yang dipasang, tetapi pemilik rumahnya menjual kepada pembeli lain yang mem-bid lebih tinggi.

Bukan itu saja, banyak di antaranya yang menguangkan dari kenaikan harga rumah mereka. Dengan menggunakan equity (lebih tepat disebut capital gain) yang ada, mereka melakukan refinance. Dengan proses ini mereka memperoleh uang cash di tangan, di pihak lain, nilai utang rumah mereka otomatis menjadi lebih besar. Dengan adanya cash di tangan, sebagian dari mereka berhenti kerja dan mulai berusaha. Sebagian besar menghabiskan uangnya untuk bertamasya, membeli barang mewah seperti mobil, me-remodel rumah, membeli rumah baru dan lain-lain. Tetanggaku membeli satu speed boat. Secara berkala ia mengajaku memancing atau ber-ski air dengan menggunakan perahunya.

Menjelang tahun 2007 keadaan berubah. Awal tahun 2008, Shirley, seorang pemilik rumah di samping rumah saya pernah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Beni, I do not know what to do? Now I even can not sell my houses.”

Shirley yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang perawat tergiur untuk mencari keuntungan besar. Ia membeli empat rumah secara kredit, setelah itu ia berharap harga rumahnya akan naik dalam waktu singkat, kemudian dijual untuk mendapat keuntungan.

Ternyata yang terjadi adalah kebalikan, keempat rumahnya yang berlokasi di Las Vegas dan di Kalifornia Utara mengalami penurunan harga secara drastis yang di antaranya mencapai lebih dari 50 persen, dari rata-rata $500.000 kini menjadi kurang dari $300.000. Supaya laku, maka ia harus menjualnya dengan harga jauh di bawah harga beli atau harga pasar pada saat itu.

Jika penjualan ini terjadi, maka ia harus menombok ratusan ribu dollar kepada bank. Selain itu, ia sudah menghabiskan uang begitu banyak untuk pengurusan pembelian ke empat rumah, dan membayar kredit bulanan. Tentu ia tidak mau menjual rumah-rumahnya dengan harga yang sangat murah dan menderita kerugian besar. Lalu apa yang ia perbuat?

She walked away. Ia meninggalkan keempat rumahnya begitu saja. Rumahnya kini berstatus forclosure. Hal ini juga terjadi pada Charles, kenalan saya yang lain. Bedanya ia membeli rumah secara kredit, bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk tempat tinggal ia dan keluarganya yang tercinta.

Kasus lain, pada awal Oktober 2008, Adam – seorang pelangganku – terlambat membayar uang keangotaannya. Ia menerangkan alsannya kepadaku, “Man, I was stressed out. My 401K was messed up. I moved my CD and money from Washington Mutual Bank.”

Krisis ekonomi ini menurunkan nilai 401K-nya (semacam tabungan masa pensiunya). Ia telah kehilangan beberapa puluh ribu dollar karena 401K-nya diinvestasikan oleh satu institusi keuangan yang ditunjuk perusahaan di mana ia bekerja. CD (certificate of deposit) dan uangnya yang dipindahkan ke bank lain belum clear. Hal ini membuat ia stress dan panik.

Situasi panik dan kepedihan yang menimpa Shirley, Charles dan Adam juga terjadi pada ribuan bahkan jutaan penduduk AS. Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya apa yang terjadi?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin meberikan ilustrasi lain secara mikro bagaimana krisis ekonomi ini menimpa para pengusaha, termasuk pengusaha kecil.

Setelah tidak bertemu beberapa lama, Eric, salah satu kenalan saya, mempunyai banyak bahan pembicaraan. Dengan perasaan prihatin ia berkata, “You know Beni, I am going to sell my business.”

“Why?” Saya bertanya.

“Last year it was still OK, but not now. It’s not. So far my business can survive because I go back to work. I have been using my salary to pay the expenses.” Kemudian ia menanyakan apakah saya kenal dengan orang yang mau membeli usahanya.

Sekarang plang usahanya telah berganti menjadi “Quickly coming soon”.

Singkatnya, Eric tidak mampu meneruskan usahanya karena berkurangnya pelanggan. Menurut pengakuannya, padahal ia sudah mendeversifikasi dan memberikan diskon, tetap saja tidak selaku tahun lalu. Hal yang serupa dialami oleh Jason, pemilik restoran Hawaiian Barbeque.

Di lain tempat, sekitar 20 mile dari tempat tinggalku, Nancy pemilik usaha massage therapy meminta bantuanku untuk menulis surat kepada management mall – yang akan ditandatangani penyewa-penyewa lain – untuk menurunkan harga sewa karena berkurangnya pelanggan. Mereka berjuang menekan pengeluaran supaya tidak bangkrut.

Secara pribadi, saya juga kehilangan salah satu rekan olah raga dan teman hang out saya, Robert. Untuk effisiensi kerja, Nordstrom di mana tempat ia bekerja melakukan restrukturisasi tenaga kerja. Ia berkata, “I was lucky, Beni. I just needed to adjust with my new position and my lower salary. A lot of my co-workers got laid off.”

Selain itu kami juga sering nongkrong di salah satu Starbucks, sekarang Starbucks itu telah tutup. Toko ini adalah salah satu dari 600 toko yang direncanakan akan ditutup sejak July 1, 2008. Secara keseluruhan Starbucks mengalami penurunan pendapatan hampir 30%.

Pada saat ini pembangunan rumah dan daerah bisnis di tempat saya tinggal hampir berhenti. Lennar – developer ke dua terbesar di AS dan Centex – ke empat terbesar – telah menarik diri. Pulte – developer no satu terbesar – yang sedang menyelesaikan pembangunan beberapa petak tanah akan segera hengkang. Setelah itu hanya akan tinggal Shea Homes yang berjanji akan membangun lapangan golf dan rumah tinggal muktahir. Secara keseluruhan terdapat 8 devisi yang belum dibangun dari 12 divisi yang direncanakan.

Di tingkat internasional, krisis ekonomi di AS benar-benar terangkat kepermukaan dan menyebabkan kepanikan ketika pasar stock di negara-negara berpengaruh mengalami penurunan tajam pada hari Juma’at, 10 Oktober 2008. Di AS Dow Jones mengalami penurunan 7,3 persen, di Jepang Nikkei 9,4 persen, di Hongkong lebih dari 8 persen, di Singapura and Korea Selatan 6 and 5 persen berturut-turut, dan di Indonesia lebih dari 10 persen. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak the Black Monday Market Crash di bulan Oktober 1987.

Sebelum itu, pada tahun 2007 AS mengalami defisit dalam transaksi sebesar $847 miliar. Hal ini menyebabkan penurunan dollar AS. Pada saat yang bersamaan terjadi penurunan harga rumah secara drastis. Daerah tertentu mencapai 30-50 persen. The wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar 12 juta keluarga (16 persen penerima kredit rumah) membayar lebih besar dari nilai rumah yang mereka diami. 29 persen dari pembeli rumah secara kredit dalam lima tahun terakhir ini terancam untuk forclosure.

Pada February 2008, 63.000 orang kehilangan pekerjaannya, rekor dalam 5 tahun. Pada September 159.000 orang dirumahkan lagi. Hal ini berarti 84.000 orang per bulan kehilangan pekerjaan mereka. Tanggal 5 September 2008, the United States Department of Labor melaporkan bahwa angka penganguran naik menjadi 6,1%, paling tinggi dalam lima tahun.

Tanggal 7 September 2008, mortgage lenders Fannie Mae and Freddie Mac dinyatakan dalam keadaan “dirawat” dan perlu mendapat suntikan dana. Setelah itu, 15 September Lehman Brothers, perusahaan investasi terbesar menyatakan diri bankrut. Perusahaan asuransi terbesar AS, AIG diberikan suntikan dana dari Federal Reserve, dan consortium dari 10 bank sebesar $70 miliar.

Perekonomian AS hanya tumbuh 0,6 persen dalam quarter pertama di tahun 2008, menurun dari prediksi sebesar 2,2 persen.

Barack Obama mengatakan bahwa krisis ekonomi sekarang adalah yang terbesar sejak Great Depression 1929.

Kembali kepertanyaan mengapa hal ini terjadi dan siapa pelaku utamanya? Menurunnya harga stok adalah indikasi makro yang jelas dari menurunnya perekonomian suatu negara, termasuk AS. Penurunan ini di-trigger oleh merosotnya kepercayaan para pemegang saham/stok terhadap kondisi ekonomi saat itu. Ketidak-percayaan ini menyebabkan para pemegang saham panik dan melepas saham mereka hampir dalam waktu yang bersamaan dengan harga murah. Selanjutnya timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat demikian? Perbuatan mereka merupakan reaksi terhadap proses dan penumpukan masalah ekonomi yang telah berjalan tahunan.

Banyak ahli ekonom yang melihat ini sebagai akibat deregulasi, dimana pemerintah memberikan kebebasan yang luas pada para pelaku pasar. Pihak pemerintah yang dikuasai oleh kalangan konservatif percaya dengan keampuhan ekonomi pasar bebas yang salah satu pemikir utamanya adalah Milton Friedman. Pasar bebas diyakini akan menimbulkan persaingan yang akan membawa kemajuan dan mempunyai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Deregulasi seperti ini menimbulkan praktek ekonomi yang tidak sehat. Para investor besar mendesak para CEO untuk menuai keuntungan super besar dalam jangka pendek, untuk itu para CEO akan diberi bonus hingga pendapatan mereka bisa mencapai ratusan juta dollar. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran ini? Maka terciptalah berbagai macam produk finansial yang pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Mari kita lihat lebih mendetil bagaimana proses deregulasi ini digulirkan. Perbuatan utama yang perlu dilakukan tentunya membatalkan rergulasi. Tercatat dalam sejarah AS bahwa deregulasi yang sangat kontroversial adalah tindakan Presiden Nixon pada awal tahun 1971 dengan membatalkan cadangan emas sebagai patokan nilai dollar AS. Momentum ini agaknya menjadi inspirasi bagi deregulasi berikutnya.

Deregulasi yang diduga langsung berkaitan dengan krisis ekonomi sekarang adalah pemberlakuan Gramm-Leach-Bliley Act pada tahun 1999. Senator Phil Gramm yang menjadi Kepala Penasihat Ekonomi calon Presiden McCain sekarang adalah pemerakarsanya. Intinya ketetapan ini menderegulasi banking industry dan mengijinkan bank untuk untuk merger dengan perusahaan security. Hal ini otomatis membatalkan Glass-Steagall Act tahun 1933 yang memisahkan commercial dan investment banking.

Setelah itu, Gramm berhasil menggoalkan amendment yang mengijinkan bank dan broker melakukan trading mortgage seperti trading stock dan bond. Degergulasi jenis ini menyebabkan terjadinya trading sub-prime mortgage yang menjadi penyebab utama krisi ekonomi sekarang.

Pada tahun 2002, Presiden Bush mempropagandakan agenda “ownership society” yang menyatakan bahwa masyarakat berpendapatan terendah sekalipun seharusnya mampu memiliki rumah.

Ide Gramm dan Bush tidak akan berkembang menjadi bubble dan meletus jika mereka tidak didukung dengan tindakan Alan Greenspan, seorang ekonom dan Chairman dari the Federal Reserve dari tahun 1987 sampai 2006.

Setelah 9/11 tahun 2001, the Federal Open Market Committee, di mana Greenspan sebagai ketuanya, memveto mengurangi suku bunga dari 3,5% to 3,0%. Kemudian, setelah Accounting Scandals tahun 2002 yang melibatkan Enron, Federal Reserve menurunkan suku bunga lagi menjadi 1,0%.

Tindakan Greenspan ini oleh Ekonom Pemenang Nobel Prize Joseph E. Stiglitz – yang pandangannya sering bertentangan dengan Milton Friedman – dinilai sebagai penyumbang besar dalam krisis ekonomi sekarang. Stiglitz mengatakan, “didn’t really believe in regulation; when the excesses of the financial system were noted, [he and others] called for self-regulation—an oxymoron.”

Selain Greenspan, Richard Syron (Chairman dan Chief Executive Freddie Mac atau Federal Home Loan Mortgage Corporation) dan David Taiclet (CEO dari Fannie May atau Federal National Mortgage Association) juga diyakini sebagai dalang krisis ini. Kedua institusi keuangan ini memfasilitasi liquiditas pasar mortgage dengan memastikan bahwa dana selalu tersedia untuk badan yang akan meminjamkan uang kepada pembeli rumah.

Sangat tidaklah mungkin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa dana yang dikucurkan tersebut adalah untuk sebagian peminjam yang sebenarnya tidak legitimate. Walaupun demikian dana terus mengalir yang totalnya berjumlah $5,3 trillion, hampir setengah dari keseluruhan pasar mortgage di AS yang berjumlah $12 trillion.

Pada saat yang bersamaan pendapat kedua CEO ini sangat besar. Securities and Exchange Commission melaporkan bahwa Richard Syron seorang diri saja mengantongi hampir $19,8 juta tahun lalu walaupun harga stok perusahaanya telah turun 50%.

Di institusi finansial lain, Joe Cassano yang berada dibelakang Financial Products Unit AIG (American International Group, Inc) mengasuransikan sub-prime mortgage yang beresiko tinggi dan Credit Default Swap (CDS). CDS adalah produk derivative yang merupakan perjanjian antara dua pihak di mana “pembeli” membayar secara periodic kepada “penjual” sebesar harga di mana diperhitungkan pembayaran tuntas apabila terjadi default atau ketidakmampuan membayar dalam hubunganannya dengan entitas ketiga. Singkatnya, karena ulahnya, Cassano menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap keruntuhan AIG.

Tahukan anda berapa gaji dan bonus orang yang mempunyai andil dalam keruntuhan AIG ini? Cassano telah mengeruk $280 juta sejak tahun 2000. Sekitar $35 juta per tahun.

Tamparan yang lebih hebat lagi untuk perekonomian AS adalah berita yang dibawa oleh Richard Fuld, CEO Lehman Brothers. Pada tanggal 15 November 2008, Fuld mengumumkan berita kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Kebangkrutan tejadi karena perusahaan yang menjual produk financial services, investment banking dan investment management ini memegang terlalu banyak subprime dan mortgage lainnya yang mempunyai bunga rendah. Selain itu, perusahaan ini diduga terlibat dalam tansaksi Credit Default Swaps yang nilainya mencapai ratusan miliar dollar.

Dalam kuarter kedua tahun 2008, dilaporkan bahwa Lehman rugi $2,8 miliar dan terpaksa menjual $6 miliar asetnya. Dalam setengah tahun petama di tahun 2008 harga stoknya menurun sebanyak 73%.

Pada 6 Okober, 2008, pada saat Richard Fuld memberikan kesaksian di depan Kongress, Representative Waxman bilang bahwa Fuld mengantongi hampir $500 juta sejak tahun 2000, sambil memimpin Leman ke arah kebangkrutan.

Waxman berkata pada Fuld, “My question is a simple one. Is this fair?” Fuld menerangkan bahwa ia tidak dibayar semuanya dengan uang tunai. Ia menerima options dan incentives lainnya yang tidak ada harganya lagi setelah perusahaannya bangkrut.

Hal lain yang patut didiskusikan bahwa selain institusi keuangan, industri real estate juga mempunyai andil dalam menciptakan krisi ekonomi ini. Contohnya adalah perusahan developer (di AS disebut builder) ke sembilan terbesar di AS, Beazer Homes USA Inc. dengan CEO Ian McCarthy. Untuk mengejar keuntungan maha besar yang revenue-nya mencapai hampir $5 miliar, perusahaan ini telah melanggar federal law, termasuk pemalsuan data para pembeli rumah supaya kredit mereka bisa dikabulkan oleh bank.

Karena revenue yang besar itulah maka, McCarthy mengantongi sebanyak sebanyak $29,6 juta pada tahun 2006. Pada tahun 2007, pendapatannya menurun 75%. Hal ini disebabkan di antaranya manurunnya pendapatan perusahaan dan perbuatan kriminalnya, sehingga ia “hanya” menerima $7,5 juta.

Ada sebagian yang berpendapat bahwa krisis ekonomi seperti ini mestinya tidak terjadi jika Charles Christopher Cox sebagai Chairman dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) mengambil inisiatif perbaikan dan tindakan tegas terhadap para pelaku pasar yang jelas tidak etis dan menyebabkan krisis ekonomi. Karena sikapnya yang masa bodoh itu, pada 8 September 2008, calon presiden John McCain berkata, “The chairman of the SEC serves at the appointment of the president and, in my view, has betrayed the public’s trust,” Ia menambahkan “If I were president today, I would fire him.”

Sebenarnya apakah ada pihak lain yang mencoba memberi masukan dan ingin mencegah terjadinya krisi ekonomi ini? Jawabannya ada. Sebagai contohnya Attorney General dari 50 negara bagian pernah menuntut untuk memberhentikan subprime lending, terutama subprime mortgage. Tetapi tuntutan ini dikalahkan oleh George Bush dengan mendayagunakan the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan membatasi hak dari negara bagian untuk menuntut pemberlakuan Lending Law.

Ke tingkat mikro, bagaimanakah begitu banyak masyarakat AS terjebak dalam subprime mortgage yang menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi?

Singkatnya, subprime mortgage dapat diartikan sebagai kredit pemilikan rumah yang beresiko tinggi. Jika seseorang memiliki subprime mortgage berarti orang itu akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan bulannya pada pihak yang memberi pinjaman atau lender yang umumnya adalah bank.

Seperti apakah bentuk subprime mortgage itu? Jika anda pernah membaca kontrak jual beli rumah secara kredit di AS maka anda akan menemukan salah satu dari kedua istilah ini, yaitu istilah ARM atau Adjustable-Rate Mortgage dan 30 Year Fix Rate.

Umumnya ARM mengandung resiko yang lebih tinggi karena suku bunga bisa berubah setelah dalam jangka waktu tertentu dan kebanyakan pembeli rumah hanya melakukan pembayar bunga saja setiap bulannya. Sedangkan 30 Year Fix Rate menawarkan pada pembeli rumah untuk melakukan cicilan, termasuk bunga dan principle, dengan suatu jumlah uang yang tetap dan dalam waktu 30 tahun maka rumah itu akan lunas.

Keuntungannya pada ARM bahwa pada mulanya dan umumnya ia menawarkan cicilan yang lebih murah dari 30 Year Fix Rate. Biasanya, jangka waktu ARM mulai dari 6 bulan sampai 12 tahun ARM. Artinya sesuai dengan kontrak, suku bunga tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu. Setelah itu suku bunganya akan disesuaikan dengan keadaan pasar. Kebanyak yang terjadi adalah kenaikan suku bunga yang cukup tinggi, yang juga berarti kenaikan cicilan bulanan bagi pembeli rumah. Di sinilah letak masalah utama bagi para pembeli rumah, terutama mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk membayar cicilan pada periode pemula.

Ternyata penawaran dari pihak yang meminjamkan uang untuk kepemilikan rumah ini semakin mengiurkan. Satu produk baru yang dikenal dengan Option ARM memberikan alternatif pada pembeli rumah untuk membayar cicilan bulanan rumah jauh lebih rendah dari seharusnya. Dalam Option ARM terdapat satu pilihan yang dinamakan Negative Amortization, yaitu pembeli bisa mencicil lebih kecil dari harga interest only. Sebutlah cicilan mereka dalam program ARM sebesar $2.000/bulan. Dalam program Negative Amortization ini mereka bisa mencicil dengan $1.500/bulan.

Lalu kemana selisihnya yang berjumlah $500? Selisih ini akan ditambahkan ke principle utang sehingga utangnya setiap bulan akan bertambah $500.

Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah dari lender di AS? Paling tidak ada dua criteria yaitu Credit Score (CS), dan rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang. Tentu saja masih ada faktor lain seperti pemilikan kartu kredit, dan rasio jumlah credit line dan kredit yang dipakai. CS ditentukan oleh tiga badan yang bernama TransUnion, Experian dan Equifax yang dasar utamanya berpatokan pada tingkah laku pembayaran seseorang atas utang.

Kebalikan dengan anggapan umum mengenai CS. Sebenarnya, semakin banyak utang dan semakin lancar seseorang membayar utangya maka CS-nya akan naik. CS berkisar antara 310 – 840. Nilai 620 kebawah disebut poor, 620 – 659 fair, 660 – 749 good dan 750 – 840 excellent. Nilai fair pada saat itu sudah cukup bagi seseorang untuk membeli rumah secara kredit.

Rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang pada umumnya dilihat dari pay check, bank statement dan dokumen pembayaran pajak yang dibandingkan dengan data dari CS. Tetapi dengan program baru, seseorang tidak harus menggunakan ketiga dokumen untuk membuktikan besarnya pendapatannya, ia cukup memberikan surat atau stated income yang menyatakan berapa pendapatannya.

Selain itu, dalam program kredit pemilikan rumah pada saat itu, seseorang juga tidak perlu membayar uang muka dan bahkan tidak perlu membayar uang closing, seperti biaya escrow (seperti pengurusan balik nama dan pengcekan keabsahan dokumen), notaris dan komisi realtor yang biasanya membutuhkan puluhan sampai ratusan ribu dollar, tergantung dari harga rumahnya. Hal ini dimungkinkan karena koloborasi antara broker, appraiser, realtor dan bank.

Broker dan realtor bekerja sama untuk menunjuk appraiser supaya memberikan penilaian harga rumah di atas harga jual, sehingga bank bisa menggucurkan dana berdasarkan nilai yang di-appraise yang bisa mencapai lebih 110 persen dari harga beli. Kelebihan nilai appraisal ini akan digunakan untuk biaya closing. Dengan demikian pembeli rumah hanya membayar cicilan bulan pertama.

System appraisal yang menambahkan harga rumah menjadi lebih tinggi dari sebenarnya, pada akhirnya menciptakan nilai baru yang lebih tinggi, bukan hanya terhadap rumah yang di-appraise tetapi juga terhadap rumah di sekitarnya.

Akibat koloborasi seperti di ataslah maka sekarang paling sedikit terdapat 12 juta keluarga di AS yang mempunyai utang lebih besar dari harga rumah sebenarnya. Mereka sedang terancam tidak mampu bayar cicilan bulanan. Jika keadaan ini tidak ditemukan jalan keluarnya maka perekonomian AS yang sudah tertatih-tatih akan terpuruk. Akankah $700 milliar bailout pemerintah membantu menyelesaikan masalah ini?

Benarkah American Dream terkubur besama dengan krisis ekonomi? Agaknya untuk 12 juta keluarga tersebut, sementara ini harus menerima kenyataan pahit.

Di sisi lain, untuk jutaan keluarga yang lain, inilah kesempatan mereka untuk merealisasikan American Dream mereka dengan cara memiliki rumah yang lebih terjangkau dan realistis. Paling tidak – seperti pepatah Amerika – “There is a silver lining in the cloud” bagi mereka. Alasannya bukan hanya mengenai kepemilikan rumah, tetapi serangkain program perubahan perbaikan sedang dan telah digulirkan oleh pemerintah AS.
______
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh Majalah Duit.

Written by Beni Bevly

November 4th, 2008 at 10:29 am