Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Terkuburnya American Dream?

with 4 comments

Terkuburnya American Dream?
Sumber gambar: lcweb2.loc.gov

Oleh Dr. Beni Bevly

Memasuki tahun 2007 beberapa kenalan dan tetangga saya di Kalifornia Utara mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS). Kemakmuran ekonomi yang dinikmati dan memberi keuntungan pada banyak orang – termasuk kenalan saya – sejak tahun 2000 yang ditandai dengan menaiknya harga rumah mencapai 86% pada pertengahan tahun 2006, ternyata membawa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa akibatnya bagi sebagian masyarakat AS? Siapa pelaku utamanya? Benarkah American Dream juga ikut terkubur?

Pada masa kemakmuran ekonomi – yang bisa dikatakan semu – inilah pembangunan dipacu laju. Lahan kosong dan kering kerontang dalam beberapa bulan menjadi daerah real estate disertai dengan atau tanpa pembangunan business area atau daerah pertokoan, perkantoran dan industri ringan. Untuk membeli rumah secara kredit pada saat itu, seseorang harus ikut lotere dan berlomba dengan ratusan pembeli yang lain. Harga sewa toko juga meningkat drasatis. Pada saat itu, seseorang dengan pendapatan lumayan (sebutlah berkisar $75.000-$120.000/tahun) bisa membeli beberapa rumah. Kondisi seperti inilah yang terjadi di kota baru di mana saya tinggal.

Proses pembelian yang sudah atau sedang ditinggali harus melalui proses bidding secara tertutup. Dengan proses ini, seorang pembeli memberikan penawaran harga rumah yang lebih tinggi dari harga yang dipasang oleh penjual melalui amplop tertutup. Penjual tinggal memilih penawaran yang paling menguntungkan untuk mereka. Pada tahun 2004, saya sempat mem-bid satu rumah dengan $7.000 di atas harga yang dipasang, tetapi pemilik rumahnya menjual kepada pembeli lain yang mem-bid lebih tinggi.

Bukan itu saja, banyak di antaranya yang menguangkan dari kenaikan harga rumah mereka. Dengan menggunakan equity (lebih tepat disebut capital gain) yang ada, mereka melakukan refinance. Dengan proses ini mereka memperoleh uang cash di tangan, di pihak lain, nilai utang rumah mereka otomatis menjadi lebih besar. Dengan adanya cash di tangan, sebagian dari mereka berhenti kerja dan mulai berusaha. Sebagian besar menghabiskan uangnya untuk bertamasya, membeli barang mewah seperti mobil, me-remodel rumah, membeli rumah baru dan lain-lain. Tetanggaku membeli satu speed boat. Secara berkala ia mengajaku memancing atau ber-ski air dengan menggunakan perahunya.

Menjelang tahun 2007 keadaan berubah. Awal tahun 2008, Shirley, seorang pemilik rumah di samping rumah saya pernah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Beni, I do not know what to do? Now I even can not sell my houses.”

Shirley yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang perawat tergiur untuk mencari keuntungan besar. Ia membeli empat rumah secara kredit, setelah itu ia berharap harga rumahnya akan naik dalam waktu singkat, kemudian dijual untuk mendapat keuntungan.

Ternyata yang terjadi adalah kebalikan, keempat rumahnya yang berlokasi di Las Vegas dan di Kalifornia Utara mengalami penurunan harga secara drastis yang di antaranya mencapai lebih dari 50 persen, dari rata-rata $500.000 kini menjadi kurang dari $300.000. Supaya laku, maka ia harus menjualnya dengan harga jauh di bawah harga beli atau harga pasar pada saat itu.

Jika penjualan ini terjadi, maka ia harus menombok ratusan ribu dollar kepada bank. Selain itu, ia sudah menghabiskan uang begitu banyak untuk pengurusan pembelian ke empat rumah, dan membayar kredit bulanan. Tentu ia tidak mau menjual rumah-rumahnya dengan harga yang sangat murah dan menderita kerugian besar. Lalu apa yang ia perbuat?

She walked away. Ia meninggalkan keempat rumahnya begitu saja. Rumahnya kini berstatus forclosure. Hal ini juga terjadi pada Charles, kenalan saya yang lain. Bedanya ia membeli rumah secara kredit, bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk tempat tinggal ia dan keluarganya yang tercinta.

Kasus lain, pada awal Oktober 2008, Adam – seorang pelangganku – terlambat membayar uang keangotaannya. Ia menerangkan alsannya kepadaku, “Man, I was stressed out. My 401K was messed up. I moved my CD and money from Washington Mutual Bank.”

Krisis ekonomi ini menurunkan nilai 401K-nya (semacam tabungan masa pensiunya). Ia telah kehilangan beberapa puluh ribu dollar karena 401K-nya diinvestasikan oleh satu institusi keuangan yang ditunjuk perusahaan di mana ia bekerja. CD (certificate of deposit) dan uangnya yang dipindahkan ke bank lain belum clear. Hal ini membuat ia stress dan panik.

Situasi panik dan kepedihan yang menimpa Shirley, Charles dan Adam juga terjadi pada ribuan bahkan jutaan penduduk AS. Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya apa yang terjadi?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin meberikan ilustrasi lain secara mikro bagaimana krisis ekonomi ini menimpa para pengusaha, termasuk pengusaha kecil.

Setelah tidak bertemu beberapa lama, Eric, salah satu kenalan saya, mempunyai banyak bahan pembicaraan. Dengan perasaan prihatin ia berkata, “You know Beni, I am going to sell my business.”

“Why?” Saya bertanya.

“Last year it was still OK, but not now. It’s not. So far my business can survive because I go back to work. I have been using my salary to pay the expenses.” Kemudian ia menanyakan apakah saya kenal dengan orang yang mau membeli usahanya.

Sekarang plang usahanya telah berganti menjadi “Quickly coming soon”.

Singkatnya, Eric tidak mampu meneruskan usahanya karena berkurangnya pelanggan. Menurut pengakuannya, padahal ia sudah mendeversifikasi dan memberikan diskon, tetap saja tidak selaku tahun lalu. Hal yang serupa dialami oleh Jason, pemilik restoran Hawaiian Barbeque.

Di lain tempat, sekitar 20 mile dari tempat tinggalku, Nancy pemilik usaha massage therapy meminta bantuanku untuk menulis surat kepada management mall – yang akan ditandatangani penyewa-penyewa lain – untuk menurunkan harga sewa karena berkurangnya pelanggan. Mereka berjuang menekan pengeluaran supaya tidak bangkrut.

Secara pribadi, saya juga kehilangan salah satu rekan olah raga dan teman hang out saya, Robert. Untuk effisiensi kerja, Nordstrom di mana tempat ia bekerja melakukan restrukturisasi tenaga kerja. Ia berkata, “I was lucky, Beni. I just needed to adjust with my new position and my lower salary. A lot of my co-workers got laid off.”

Selain itu kami juga sering nongkrong di salah satu Starbucks, sekarang Starbucks itu telah tutup. Toko ini adalah salah satu dari 600 toko yang direncanakan akan ditutup sejak July 1, 2008. Secara keseluruhan Starbucks mengalami penurunan pendapatan hampir 30%.

Pada saat ini pembangunan rumah dan daerah bisnis di tempat saya tinggal hampir berhenti. Lennar – developer ke dua terbesar di AS dan Centex – ke empat terbesar – telah menarik diri. Pulte – developer no satu terbesar – yang sedang menyelesaikan pembangunan beberapa petak tanah akan segera hengkang. Setelah itu hanya akan tinggal Shea Homes yang berjanji akan membangun lapangan golf dan rumah tinggal muktahir. Secara keseluruhan terdapat 8 devisi yang belum dibangun dari 12 divisi yang direncanakan.

Di tingkat internasional, krisis ekonomi di AS benar-benar terangkat kepermukaan dan menyebabkan kepanikan ketika pasar stock di negara-negara berpengaruh mengalami penurunan tajam pada hari Juma’at, 10 Oktober 2008. Di AS Dow Jones mengalami penurunan 7,3 persen, di Jepang Nikkei 9,4 persen, di Hongkong lebih dari 8 persen, di Singapura and Korea Selatan 6 and 5 persen berturut-turut, dan di Indonesia lebih dari 10 persen. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak the Black Monday Market Crash di bulan Oktober 1987.

Sebelum itu, pada tahun 2007 AS mengalami defisit dalam transaksi sebesar $847 miliar. Hal ini menyebabkan penurunan dollar AS. Pada saat yang bersamaan terjadi penurunan harga rumah secara drastis. Daerah tertentu mencapai 30-50 persen. The wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar 12 juta keluarga (16 persen penerima kredit rumah) membayar lebih besar dari nilai rumah yang mereka diami. 29 persen dari pembeli rumah secara kredit dalam lima tahun terakhir ini terancam untuk forclosure.

Pada February 2008, 63.000 orang kehilangan pekerjaannya, rekor dalam 5 tahun. Pada September 159.000 orang dirumahkan lagi. Hal ini berarti 84.000 orang per bulan kehilangan pekerjaan mereka. Tanggal 5 September 2008, the United States Department of Labor melaporkan bahwa angka penganguran naik menjadi 6,1%, paling tinggi dalam lima tahun.

Tanggal 7 September 2008, mortgage lenders Fannie Mae and Freddie Mac dinyatakan dalam keadaan “dirawat” dan perlu mendapat suntikan dana. Setelah itu, 15 September Lehman Brothers, perusahaan investasi terbesar menyatakan diri bankrut. Perusahaan asuransi terbesar AS, AIG diberikan suntikan dana dari Federal Reserve, dan consortium dari 10 bank sebesar $70 miliar.

Perekonomian AS hanya tumbuh 0,6 persen dalam quarter pertama di tahun 2008, menurun dari prediksi sebesar 2,2 persen.

Barack Obama mengatakan bahwa krisis ekonomi sekarang adalah yang terbesar sejak Great Depression 1929.

Kembali kepertanyaan mengapa hal ini terjadi dan siapa pelaku utamanya? Menurunnya harga stok adalah indikasi makro yang jelas dari menurunnya perekonomian suatu negara, termasuk AS. Penurunan ini di-trigger oleh merosotnya kepercayaan para pemegang saham/stok terhadap kondisi ekonomi saat itu. Ketidak-percayaan ini menyebabkan para pemegang saham panik dan melepas saham mereka hampir dalam waktu yang bersamaan dengan harga murah. Selanjutnya timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat demikian? Perbuatan mereka merupakan reaksi terhadap proses dan penumpukan masalah ekonomi yang telah berjalan tahunan.

Banyak ahli ekonom yang melihat ini sebagai akibat deregulasi, dimana pemerintah memberikan kebebasan yang luas pada para pelaku pasar. Pihak pemerintah yang dikuasai oleh kalangan konservatif percaya dengan keampuhan ekonomi pasar bebas yang salah satu pemikir utamanya adalah Milton Friedman. Pasar bebas diyakini akan menimbulkan persaingan yang akan membawa kemajuan dan mempunyai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Deregulasi seperti ini menimbulkan praktek ekonomi yang tidak sehat. Para investor besar mendesak para CEO untuk menuai keuntungan super besar dalam jangka pendek, untuk itu para CEO akan diberi bonus hingga pendapatan mereka bisa mencapai ratusan juta dollar. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran ini? Maka terciptalah berbagai macam produk finansial yang pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Mari kita lihat lebih mendetil bagaimana proses deregulasi ini digulirkan. Perbuatan utama yang perlu dilakukan tentunya membatalkan rergulasi. Tercatat dalam sejarah AS bahwa deregulasi yang sangat kontroversial adalah tindakan Presiden Nixon pada awal tahun 1971 dengan membatalkan cadangan emas sebagai patokan nilai dollar AS. Momentum ini agaknya menjadi inspirasi bagi deregulasi berikutnya.

Deregulasi yang diduga langsung berkaitan dengan krisis ekonomi sekarang adalah pemberlakuan Gramm-Leach-Bliley Act pada tahun 1999. Senator Phil Gramm yang menjadi Kepala Penasihat Ekonomi calon Presiden McCain sekarang adalah pemerakarsanya. Intinya ketetapan ini menderegulasi banking industry dan mengijinkan bank untuk untuk merger dengan perusahaan security. Hal ini otomatis membatalkan Glass-Steagall Act tahun 1933 yang memisahkan commercial dan investment banking.

Setelah itu, Gramm berhasil menggoalkan amendment yang mengijinkan bank dan broker melakukan trading mortgage seperti trading stock dan bond. Degergulasi jenis ini menyebabkan terjadinya trading sub-prime mortgage yang menjadi penyebab utama krisi ekonomi sekarang.

Pada tahun 2002, Presiden Bush mempropagandakan agenda “ownership society” yang menyatakan bahwa masyarakat berpendapatan terendah sekalipun seharusnya mampu memiliki rumah.

Ide Gramm dan Bush tidak akan berkembang menjadi bubble dan meletus jika mereka tidak didukung dengan tindakan Alan Greenspan, seorang ekonom dan Chairman dari the Federal Reserve dari tahun 1987 sampai 2006.

Setelah 9/11 tahun 2001, the Federal Open Market Committee, di mana Greenspan sebagai ketuanya, memveto mengurangi suku bunga dari 3,5% to 3,0%. Kemudian, setelah Accounting Scandals tahun 2002 yang melibatkan Enron, Federal Reserve menurunkan suku bunga lagi menjadi 1,0%.

Tindakan Greenspan ini oleh Ekonom Pemenang Nobel Prize Joseph E. Stiglitz – yang pandangannya sering bertentangan dengan Milton Friedman – dinilai sebagai penyumbang besar dalam krisis ekonomi sekarang. Stiglitz mengatakan, “didn’t really believe in regulation; when the excesses of the financial system were noted, [he and others] called for self-regulation—an oxymoron.”

Selain Greenspan, Richard Syron (Chairman dan Chief Executive Freddie Mac atau Federal Home Loan Mortgage Corporation) dan David Taiclet (CEO dari Fannie May atau Federal National Mortgage Association) juga diyakini sebagai dalang krisis ini. Kedua institusi keuangan ini memfasilitasi liquiditas pasar mortgage dengan memastikan bahwa dana selalu tersedia untuk badan yang akan meminjamkan uang kepada pembeli rumah.

Sangat tidaklah mungkin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa dana yang dikucurkan tersebut adalah untuk sebagian peminjam yang sebenarnya tidak legitimate. Walaupun demikian dana terus mengalir yang totalnya berjumlah $5,3 trillion, hampir setengah dari keseluruhan pasar mortgage di AS yang berjumlah $12 trillion.

Pada saat yang bersamaan pendapat kedua CEO ini sangat besar. Securities and Exchange Commission melaporkan bahwa Richard Syron seorang diri saja mengantongi hampir $19,8 juta tahun lalu walaupun harga stok perusahaanya telah turun 50%.

Di institusi finansial lain, Joe Cassano yang berada dibelakang Financial Products Unit AIG (American International Group, Inc) mengasuransikan sub-prime mortgage yang beresiko tinggi dan Credit Default Swap (CDS). CDS adalah produk derivative yang merupakan perjanjian antara dua pihak di mana “pembeli” membayar secara periodic kepada “penjual” sebesar harga di mana diperhitungkan pembayaran tuntas apabila terjadi default atau ketidakmampuan membayar dalam hubunganannya dengan entitas ketiga. Singkatnya, karena ulahnya, Cassano menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap keruntuhan AIG.

Tahukan anda berapa gaji dan bonus orang yang mempunyai andil dalam keruntuhan AIG ini? Cassano telah mengeruk $280 juta sejak tahun 2000. Sekitar $35 juta per tahun.

Tamparan yang lebih hebat lagi untuk perekonomian AS adalah berita yang dibawa oleh Richard Fuld, CEO Lehman Brothers. Pada tanggal 15 November 2008, Fuld mengumumkan berita kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Kebangkrutan tejadi karena perusahaan yang menjual produk financial services, investment banking dan investment management ini memegang terlalu banyak subprime dan mortgage lainnya yang mempunyai bunga rendah. Selain itu, perusahaan ini diduga terlibat dalam tansaksi Credit Default Swaps yang nilainya mencapai ratusan miliar dollar.

Dalam kuarter kedua tahun 2008, dilaporkan bahwa Lehman rugi $2,8 miliar dan terpaksa menjual $6 miliar asetnya. Dalam setengah tahun petama di tahun 2008 harga stoknya menurun sebanyak 73%.

Pada 6 Okober, 2008, pada saat Richard Fuld memberikan kesaksian di depan Kongress, Representative Waxman bilang bahwa Fuld mengantongi hampir $500 juta sejak tahun 2000, sambil memimpin Leman ke arah kebangkrutan.

Waxman berkata pada Fuld, “My question is a simple one. Is this fair?” Fuld menerangkan bahwa ia tidak dibayar semuanya dengan uang tunai. Ia menerima options dan incentives lainnya yang tidak ada harganya lagi setelah perusahaannya bangkrut.

Hal lain yang patut didiskusikan bahwa selain institusi keuangan, industri real estate juga mempunyai andil dalam menciptakan krisi ekonomi ini. Contohnya adalah perusahan developer (di AS disebut builder) ke sembilan terbesar di AS, Beazer Homes USA Inc. dengan CEO Ian McCarthy. Untuk mengejar keuntungan maha besar yang revenue-nya mencapai hampir $5 miliar, perusahaan ini telah melanggar federal law, termasuk pemalsuan data para pembeli rumah supaya kredit mereka bisa dikabulkan oleh bank.

Karena revenue yang besar itulah maka, McCarthy mengantongi sebanyak sebanyak $29,6 juta pada tahun 2006. Pada tahun 2007, pendapatannya menurun 75%. Hal ini disebabkan di antaranya manurunnya pendapatan perusahaan dan perbuatan kriminalnya, sehingga ia “hanya” menerima $7,5 juta.

Ada sebagian yang berpendapat bahwa krisis ekonomi seperti ini mestinya tidak terjadi jika Charles Christopher Cox sebagai Chairman dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) mengambil inisiatif perbaikan dan tindakan tegas terhadap para pelaku pasar yang jelas tidak etis dan menyebabkan krisis ekonomi. Karena sikapnya yang masa bodoh itu, pada 8 September 2008, calon presiden John McCain berkata, “The chairman of the SEC serves at the appointment of the president and, in my view, has betrayed the public’s trust,” Ia menambahkan “If I were president today, I would fire him.”

Sebenarnya apakah ada pihak lain yang mencoba memberi masukan dan ingin mencegah terjadinya krisi ekonomi ini? Jawabannya ada. Sebagai contohnya Attorney General dari 50 negara bagian pernah menuntut untuk memberhentikan subprime lending, terutama subprime mortgage. Tetapi tuntutan ini dikalahkan oleh George Bush dengan mendayagunakan the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan membatasi hak dari negara bagian untuk menuntut pemberlakuan Lending Law.

Ke tingkat mikro, bagaimanakah begitu banyak masyarakat AS terjebak dalam subprime mortgage yang menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi?

Singkatnya, subprime mortgage dapat diartikan sebagai kredit pemilikan rumah yang beresiko tinggi. Jika seseorang memiliki subprime mortgage berarti orang itu akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan bulannya pada pihak yang memberi pinjaman atau lender yang umumnya adalah bank.

Seperti apakah bentuk subprime mortgage itu? Jika anda pernah membaca kontrak jual beli rumah secara kredit di AS maka anda akan menemukan salah satu dari kedua istilah ini, yaitu istilah ARM atau Adjustable-Rate Mortgage dan 30 Year Fix Rate.

Umumnya ARM mengandung resiko yang lebih tinggi karena suku bunga bisa berubah setelah dalam jangka waktu tertentu dan kebanyakan pembeli rumah hanya melakukan pembayar bunga saja setiap bulannya. Sedangkan 30 Year Fix Rate menawarkan pada pembeli rumah untuk melakukan cicilan, termasuk bunga dan principle, dengan suatu jumlah uang yang tetap dan dalam waktu 30 tahun maka rumah itu akan lunas.

Keuntungannya pada ARM bahwa pada mulanya dan umumnya ia menawarkan cicilan yang lebih murah dari 30 Year Fix Rate. Biasanya, jangka waktu ARM mulai dari 6 bulan sampai 12 tahun ARM. Artinya sesuai dengan kontrak, suku bunga tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu. Setelah itu suku bunganya akan disesuaikan dengan keadaan pasar. Kebanyak yang terjadi adalah kenaikan suku bunga yang cukup tinggi, yang juga berarti kenaikan cicilan bulanan bagi pembeli rumah. Di sinilah letak masalah utama bagi para pembeli rumah, terutama mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk membayar cicilan pada periode pemula.

Ternyata penawaran dari pihak yang meminjamkan uang untuk kepemilikan rumah ini semakin mengiurkan. Satu produk baru yang dikenal dengan Option ARM memberikan alternatif pada pembeli rumah untuk membayar cicilan bulanan rumah jauh lebih rendah dari seharusnya. Dalam Option ARM terdapat satu pilihan yang dinamakan Negative Amortization, yaitu pembeli bisa mencicil lebih kecil dari harga interest only. Sebutlah cicilan mereka dalam program ARM sebesar $2.000/bulan. Dalam program Negative Amortization ini mereka bisa mencicil dengan $1.500/bulan.

Lalu kemana selisihnya yang berjumlah $500? Selisih ini akan ditambahkan ke principle utang sehingga utangnya setiap bulan akan bertambah $500.

Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah dari lender di AS? Paling tidak ada dua criteria yaitu Credit Score (CS), dan rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang. Tentu saja masih ada faktor lain seperti pemilikan kartu kredit, dan rasio jumlah credit line dan kredit yang dipakai. CS ditentukan oleh tiga badan yang bernama TransUnion, Experian dan Equifax yang dasar utamanya berpatokan pada tingkah laku pembayaran seseorang atas utang.

Kebalikan dengan anggapan umum mengenai CS. Sebenarnya, semakin banyak utang dan semakin lancar seseorang membayar utangya maka CS-nya akan naik. CS berkisar antara 310 – 840. Nilai 620 kebawah disebut poor, 620 – 659 fair, 660 – 749 good dan 750 – 840 excellent. Nilai fair pada saat itu sudah cukup bagi seseorang untuk membeli rumah secara kredit.

Rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang pada umumnya dilihat dari pay check, bank statement dan dokumen pembayaran pajak yang dibandingkan dengan data dari CS. Tetapi dengan program baru, seseorang tidak harus menggunakan ketiga dokumen untuk membuktikan besarnya pendapatannya, ia cukup memberikan surat atau stated income yang menyatakan berapa pendapatannya.

Selain itu, dalam program kredit pemilikan rumah pada saat itu, seseorang juga tidak perlu membayar uang muka dan bahkan tidak perlu membayar uang closing, seperti biaya escrow (seperti pengurusan balik nama dan pengcekan keabsahan dokumen), notaris dan komisi realtor yang biasanya membutuhkan puluhan sampai ratusan ribu dollar, tergantung dari harga rumahnya. Hal ini dimungkinkan karena koloborasi antara broker, appraiser, realtor dan bank.

Broker dan realtor bekerja sama untuk menunjuk appraiser supaya memberikan penilaian harga rumah di atas harga jual, sehingga bank bisa menggucurkan dana berdasarkan nilai yang di-appraise yang bisa mencapai lebih 110 persen dari harga beli. Kelebihan nilai appraisal ini akan digunakan untuk biaya closing. Dengan demikian pembeli rumah hanya membayar cicilan bulan pertama.

System appraisal yang menambahkan harga rumah menjadi lebih tinggi dari sebenarnya, pada akhirnya menciptakan nilai baru yang lebih tinggi, bukan hanya terhadap rumah yang di-appraise tetapi juga terhadap rumah di sekitarnya.

Akibat koloborasi seperti di ataslah maka sekarang paling sedikit terdapat 12 juta keluarga di AS yang mempunyai utang lebih besar dari harga rumah sebenarnya. Mereka sedang terancam tidak mampu bayar cicilan bulanan. Jika keadaan ini tidak ditemukan jalan keluarnya maka perekonomian AS yang sudah tertatih-tatih akan terpuruk. Akankah $700 milliar bailout pemerintah membantu menyelesaikan masalah ini?

Benarkah American Dream terkubur besama dengan krisis ekonomi? Agaknya untuk 12 juta keluarga tersebut, sementara ini harus menerima kenyataan pahit.

Di sisi lain, untuk jutaan keluarga yang lain, inilah kesempatan mereka untuk merealisasikan American Dream mereka dengan cara memiliki rumah yang lebih terjangkau dan realistis. Paling tidak – seperti pepatah Amerika – “There is a silver lining in the cloud” bagi mereka. Alasannya bukan hanya mengenai kepemilikan rumah, tetapi serangkain program perubahan perbaikan sedang dan telah digulirkan oleh pemerintah AS.
______
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh Majalah Duit.

Written by Beni Bevly

November 4th, 2008 at 10:29 am

4 Responses to 'Terkuburnya American Dream?'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Terkuburnya American Dream?'.

  1. Saya menerima beberapa encouraging email dari rekan-rekan di Indonesia yang pada umumnya nyampaikan bahwa setelah membaca artikel ini, kini mereka lebih jernih melihat krisis ekonomi di AS dibandingkan dengan bahasan pengamat di Indonesia. Terima kasih atas email-email tersebut.

    Berkaitan dengan pembahasan pengamat dari Indonesia, sejauh ini ada satu artikel populer yang beredar di mailing list dan membahas mengenai krisis ekonomi di Amerika. Agaknya banyak pembaca yang melihat artikel tersebut sebagai tinjauan imperis, sayangnya ada beberapa point yang tidak sesuai dengan fakta di AS, terutama pada pembahasan subprime mortgage dan credit score.

    Saya berterima kasih bahwa Majalah Duit telah menyediakan 4 halaman untuk artikel ini, walaupun demikian tetap saja ke-4 halaman tersebut tidak bisa menampung semua penjelasan jika saya menulisnya lebih detil. Untuk itu saya bersedia untuk mendiskusikan hal-hal tertentu yang diperkirakan kurang detil atau kurang jelas dalam artikel ini sesuai dengan waktu yang saya miliki.

    Beni Bevly

    5 Nov 08 at 1:23 pm

  2. Menilik penjelasan Beni,

    Akhirnya aku mempunyai kesimpulan :

    Bahwasanya yang paling aman adalah cara berbusiness layaknya orang chinese yang konservatif yang paling aman. Kalau ada uang kita beli, kalau belum cukup ya Nabung yang banyak tidak usah tergiur dengan Hutang……. ya Hutang.
    Memang karena terlalu kecanggihan mengotak atik Kalkulator dan otak maka akhirnya menjadi Bumerang sendiri.

    Prinsip yang diajurkan oleh Lao Tze dan Kon fu Cius / Mencius ( Meng Zhe ) akhirnya unggul. “Proven against the time and era ”

    Buat Beni : salut atas artikelnya.

    Salam
    Yudih Setiawan

    Yudih

    7 Nov 08 at 1:50 pm

  3. Kesulitan di satu sisi dapat menjadi berkah untuk sisi yang lain. Runtuhnya harga property, menjadi penyelamat orang2 yang ga cukup uang pada masa lalu utk membeli rumah.

    Kalau utk kontraktor kira2 bgmana ya Ben???

    Apa yg dikerjakan oleh kontraktor / builder disana?

    Biasa di Indo ngekor amrik.

    Herody

    7 Nov 08 at 1:57 pm

  4. Yudih dan Herody, terima kasih atas tanggapannya.

    Latarbelakang builder di AS dan di Indonesia agaknya berbeda.
    Di AS, yang dikatakan builder terbesar no. 1, pangsa asarnya, kalau tidak salah, berkisar antara 5-7%. Jadi jauh sekali jika dibandingkan dengan industri lain, seperti komputer, di mana Microsoft bisa menguasai begitu besar market share sehingga ia terancam dengan UU Anti-Trust. Untuk di Indonesia, Herody mungkin lebih tahu kondisi pangsa pasar mereka.

    Adalah hal yang wajar jika setiap usaha mereka ingin memperluas pangsa pasar. Di real estate industri, salah satu caranya adalah membeli dan mengakuisis tanah sebanyak mungkin. Hal inilah yang dilakukan oleh builder besar di AS sekarang. Mereka slow down dalam membangun, tetapi tetap mencari lahan kosong yang strategis lokasinya dan murah.

    Mereka akan tunggu sampai keadaan industri perumahan membaik, baru mereka akan geber pembangunan lagi. Mereka tidak terlalu kuatir dengan karyawan mereka, karena sistem kontrak “at will” setiap saat mereka bisa memutuskan hubungan kerja tanpa
    harus memberi pesangon.

    Beni Bevly

    7 Nov 08 at 2:04 pm

Leave a Reply