<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Terkuburnya American Dream?</title>
	<atom:link href="http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/</link>
	<description>facilitating intellectuals to contribute to indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 13:39:58 -0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/comment-page-1/#comment-12959</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 22:04:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/#comment-12959</guid>
		<description>Yudih dan Herody, terima kasih atas tanggapannya.

Latarbelakang builder di AS dan di Indonesia agaknya berbeda.
Di AS, yang dikatakan builder terbesar no. 1, pangsa asarnya, kalau tidak salah, berkisar antara 5-7%. Jadi jauh sekali jika dibandingkan dengan industri lain, seperti komputer, di mana Microsoft bisa menguasai begitu besar market share sehingga ia terancam dengan UU Anti-Trust. Untuk di Indonesia, Herody mungkin lebih tahu kondisi pangsa pasar mereka.
     
Adalah hal yang wajar jika setiap usaha mereka ingin memperluas pangsa pasar. Di real estate industri, salah satu caranya adalah membeli dan mengakuisis tanah sebanyak mungkin. Hal inilah yang dilakukan oleh builder besar di AS sekarang. Mereka slow down dalam membangun, tetapi tetap mencari lahan kosong yang strategis lokasinya dan murah.

Mereka akan tunggu sampai keadaan industri perumahan membaik, baru mereka akan geber pembangunan lagi. Mereka tidak terlalu kuatir dengan karyawan mereka, karena sistem kontrak &quot;at will&quot; setiap saat mereka bisa memutuskan hubungan kerja tanpa
harus memberi pesangon.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yudih dan Herody, terima kasih atas tanggapannya.</p>
<p>Latarbelakang builder di AS dan di Indonesia agaknya berbeda.<br />
Di AS, yang dikatakan builder terbesar no. 1, pangsa asarnya, kalau tidak salah, berkisar antara 5-7%. Jadi jauh sekali jika dibandingkan dengan industri lain, seperti komputer, di mana Microsoft bisa menguasai begitu besar market share sehingga ia terancam dengan UU Anti-Trust. Untuk di Indonesia, Herody mungkin lebih tahu kondisi pangsa pasar mereka.</p>
<p>Adalah hal yang wajar jika setiap usaha mereka ingin memperluas pangsa pasar. Di real estate industri, salah satu caranya adalah membeli dan mengakuisis tanah sebanyak mungkin. Hal inilah yang dilakukan oleh builder besar di AS sekarang. Mereka slow down dalam membangun, tetapi tetap mencari lahan kosong yang strategis lokasinya dan murah.</p>
<p>Mereka akan tunggu sampai keadaan industri perumahan membaik, baru mereka akan geber pembangunan lagi. Mereka tidak terlalu kuatir dengan karyawan mereka, karena sistem kontrak &#8220;at will&#8221; setiap saat mereka bisa memutuskan hubungan kerja tanpa<br />
harus memberi pesangon.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Herody</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/comment-page-1/#comment-12957</link>
		<dc:creator>Herody</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 21:57:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/#comment-12957</guid>
		<description>Kesulitan di satu sisi dapat menjadi berkah untuk sisi yang lain. Runtuhnya harga property, menjadi penyelamat orang2 yang ga cukup uang pada masa lalu utk membeli rumah.

Kalau utk kontraktor kira2 bgmana ya Ben???

Apa yg dikerjakan oleh kontraktor / builder disana?

Biasa di Indo ngekor amrik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kesulitan di satu sisi dapat menjadi berkah untuk sisi yang lain. Runtuhnya harga property, menjadi penyelamat orang2 yang ga cukup uang pada masa lalu utk membeli rumah.</p>
<p>Kalau utk kontraktor kira2 bgmana ya Ben???</p>
<p>Apa yg dikerjakan oleh kontraktor / builder disana?</p>
<p>Biasa di Indo ngekor amrik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yudih</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/comment-page-1/#comment-12956</link>
		<dc:creator>Yudih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 21:50:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/#comment-12956</guid>
		<description>Menilik penjelasan Beni,

Akhirnya aku mempunyai kesimpulan :

Bahwasanya yang paling aman adalah cara berbusiness layaknya orang chinese yang konservatif yang paling aman. Kalau ada uang kita beli, kalau belum cukup ya Nabung yang banyak tidak usah tergiur dengan Hutang....... ya Hutang.
Memang karena terlalu kecanggihan mengotak atik Kalkulator dan otak maka akhirnya menjadi Bumerang sendiri.

Prinsip yang diajurkan oleh Lao Tze dan Kon fu Cius / Mencius ( Meng Zhe ) akhirnya unggul. &quot;Proven against the time and era &quot;

Buat Beni : salut atas artikelnya.

Salam
Yudih Setiawan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menilik penjelasan Beni,</p>
<p>Akhirnya aku mempunyai kesimpulan :</p>
<p>Bahwasanya yang paling aman adalah cara berbusiness layaknya orang chinese yang konservatif yang paling aman. Kalau ada uang kita beli, kalau belum cukup ya Nabung yang banyak tidak usah tergiur dengan Hutang&#8230;&#8230;. ya Hutang.<br />
Memang karena terlalu kecanggihan mengotak atik Kalkulator dan otak maka akhirnya menjadi Bumerang sendiri.</p>
<p>Prinsip yang diajurkan oleh Lao Tze dan Kon fu Cius / Mencius ( Meng Zhe ) akhirnya unggul. &#8220;Proven against the time and era &#8221;</p>
<p>Buat Beni : salut atas artikelnya.</p>
<p>Salam<br />
Yudih Setiawan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Beni Bevly</title>
		<link>http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/comment-page-1/#comment-12918</link>
		<dc:creator>Beni Bevly</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 21:23:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/11/04/terkuburnya-american-dream/#comment-12918</guid>
		<description>Saya menerima beberapa encouraging email dari rekan-rekan di Indonesia yang pada umumnya nyampaikan bahwa setelah membaca artikel ini, kini mereka lebih jernih melihat krisis ekonomi di AS dibandingkan dengan bahasan pengamat di Indonesia. Terima kasih atas email-email tersebut.   

Berkaitan dengan pembahasan pengamat dari Indonesia, sejauh ini ada satu artikel populer yang beredar di mailing list dan membahas mengenai krisis ekonomi di Amerika. Agaknya banyak pembaca yang melihat artikel tersebut sebagai tinjauan imperis, sayangnya ada beberapa point yang tidak sesuai dengan fakta di AS, terutama pada pembahasan subprime mortgage dan credit score.

Saya berterima kasih bahwa Majalah Duit telah menyediakan 4 halaman untuk artikel ini, walaupun demikian tetap saja ke-4 halaman tersebut tidak bisa menampung semua penjelasan jika saya menulisnya lebih detil. Untuk itu saya bersedia untuk mendiskusikan hal-hal tertentu yang diperkirakan kurang detil atau kurang jelas dalam artikel ini sesuai dengan waktu yang saya miliki.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menerima beberapa encouraging email dari rekan-rekan di Indonesia yang pada umumnya nyampaikan bahwa setelah membaca artikel ini, kini mereka lebih jernih melihat krisis ekonomi di AS dibandingkan dengan bahasan pengamat di Indonesia. Terima kasih atas email-email tersebut.   </p>
<p>Berkaitan dengan pembahasan pengamat dari Indonesia, sejauh ini ada satu artikel populer yang beredar di mailing list dan membahas mengenai krisis ekonomi di Amerika. Agaknya banyak pembaca yang melihat artikel tersebut sebagai tinjauan imperis, sayangnya ada beberapa point yang tidak sesuai dengan fakta di AS, terutama pada pembahasan subprime mortgage dan credit score.</p>
<p>Saya berterima kasih bahwa Majalah Duit telah menyediakan 4 halaman untuk artikel ini, walaupun demikian tetap saja ke-4 halaman tersebut tidak bisa menampung semua penjelasan jika saya menulisnya lebih detil. Untuk itu saya bersedia untuk mendiskusikan hal-hal tertentu yang diperkirakan kurang detil atau kurang jelas dalam artikel ini sesuai dengan waktu yang saya miliki.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
