Apapun caranya tidak akan membawa hasil yang maksimal jika hanya dilakukan secara sporadik dan sesaat.
Sumber gambar: stonehousemedia.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat, pemimpin organisasi nonprofit prominent yang mengadvokasikan persamaan hak di Indonesia minta masukan dari saya mengenai bagaimana membangun kepedulian masyarkat tentang masalah sosial dengan mengambil contoh dari Amerika Serikat (AS). Berkat permintaannya, maka terumuslah poin-poin di dalam artikel ini.

Walaupun berdasarkan kasus atau contoh yang terjadi di AS, tetap harus diakui bahwa banyak poin ini bersifat umum dan juga diterapkan di negara lain, termasuk di Indonesia. Kedatipun demikian, tidak ada salahnya jika poin tersebut dikemukakan lagi untuk sekedar mengingatkan pembaca.

Satu, menjadi social salience. Hal ini bisa dicapai melalui peningkatan intensitas, kapasitas, frekuensi atau kualitas dari hal-hal yang membuat tindakan individu atau organisasi nonprofit menjadi menyolok dan lain dari pada yang lain.

Salah satu tindakan yang bisa dimasukkan dalam kategori ini adalah tindakan seorang aktivis di AS yang memprotes dan menuntut perbaikan menu pada restoran fast food. Ia membuat film bagaimana ia mengkonsumsi makanan dari MacDonald yang membuat ia gemuk, terancam sakit dan membahakan jiwanya hanya dalam waktu beberapa bulan.

Film ini membuat orang berpikir ulang tentang kelezatan di balik makanan fast food. Sekarang, pemerintahan California mengharuskan semua fast food untuk tidak menggunakan minyak goreng transfat.

Dua, menciptakan image cool bagi mereka yang terlibat dalam masalah sosial. Umumnya organisasi nonprofit di AS mempergunakan lambang tertentu untuk membuat para pendukung mereka merasa cool. Di antaranya mereka menggunakan slogan yang di sablon di topi ataupun di baju kaus yang mereka pakai. Seperti, “Come, join the winning team”, “Heros help others”, dan lain-lain.

Tentu saja image cool tidak harus selalu dengan sablon di topi atau di baju kaus, masih banyak cara lain seperti memberi gelar tertentu pada volunteer. Pada program Neighborhood Watch, pemimpin yang menagani wilayah tertentu diberi gelar The Captain of Neighborhood Watch.

Tiga, menciptakan suasana fun dan playful dalam kegiatan sosial. Memang masalah sosial selalu membawa keprihatinan, tetapi tidak semua keprihatinan tersebut harus ditunjukkan dengan muka sedih dan kusam. Ajaklah para volunteer untuk berpikir kreatif dan menerapkan ide mereka dalam kondisi yang gembira.

Misalnya, di AS sering kali organisasi non-profit mencari dana dengan mengadakan carnival. Dalam acara carnival ini mereka mengundang clown, mengadakan permainan ketrampilan fisik, mendatangkan penyanyi dan band, serta mengadakan lelang atau auction atas barang sumbangan. Mereka mengenakan biaya pintu masuk tertentu bagi pengunjung.

Di lingkungan carnival, setiap keterlibatan dalam permaian, tentunya mereka ditarik bayaran.

Empat, mendatangi keramaian dan partner baik dengan organisasi forprofit maupun nonprofit. Cara ini banyak ditempuh oleh organisai non profit di AS. Sebutlah United Way, setiap tahun mereka bekerja sama dengan perusahaan besar dan hadir di meeting mereka. Pada kesempatan itu, mereka bicara dan meminta dukungan dari karyawan. Umumnya pihak perusahaan akan men-match jumlah yang karyawan sumbangkan.

Lima, segera memperlakukan para volunteer sebagai ingroup. Banyak para pendatang baru yang ingin menyumbangkan baik tenaga, pikiran dan material kepada suatu organisasi mundur teratur dalam pertemuan pertama. Salah satu hal utama yang menyebabkan mereka mengundurkan diri karena mereka merasa tidak diterima dengan baik. Mereka menemukan ternyata kegiatan dan lingkungan itu bukan tempatnya.

Untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi, para pengurus organisasi dan volunteer perlu dilatih untuk memperlakukan volunteer baru sebagai anggota ingroup, artinya pengurus dan volunteer lama pelu membuat mereka merasa diterima dan memiliki. Jangan membuat mereka merasa tersisihkan karena topik pemnbicaraan yang belum mereka ngerti. Kalau bisa, tunjuklah satu orang secara khusus untuk menemani pendatang baru ini. Kenalkan mereka pada semua anggota.

Pada suatu saat saya, hendak melakukan pekerjaan sukarela dalam 4th of July Parade (Parade Hari Kemerdekaan) di Kalifornia. Begitu sampai di tempat, ketua panitia bersifat sangat ramah dan langsung memperkenalkan daya kepada semua tim yang hadir dan kami bersalaman. Mereka juga menunjuk satu anggota lama untuk mendampingi saya.

Enam, mensadarkan masyarakat akan adanya ancaman dan meningkatkan sense of urgency. Komunikasi seperti ini agaknya menjadi salah satu kekuatan organisasi di AS.

Al Gore dengan film dan buku global warming-nya, An Inconvinient Truth, berhasil meraih awarness tingkat internasional dengan menerangkan ancaman seperti apa yang telah dan akan terjadi jika kita tidak mempunyai sense of urgency untuk memperbaiki keadaan alam sekarang. Tentu saja semua ini dibutuhkan data dan fakta yang akurat.

Tujuh, mengkaitkan masalah sosial dengan uang yang dikeluarkan oleh mayarakat (tax payers). “It’s your money and you need to know what they do with it,” begitulah kata Consumer Watchdog di AS. Mereka selalu mengingatkan pada masyarakat bahwa agar uang mereka jangan dipergunakan sembarangan oleh pemerintah. Kalimat seperti ini semakin sering didengar karena bailout dari pemerintah yang berjumlah $700 triliun.

Peringatan ini sangatlah efektif untuk masyarakat Amerika sehingga banyak dari mereka yang ikut menandatangani petisi atau menulis surat yang ditujukan untuk kongres.

Delapan, menggunakan media elektronik, seperti internet (blog, face book, mailing list), dan tulisan atau press realease di media massa online. Information is the power, karena itu, banyak pihak yang berebut untuk menguasai dan mempergunakan teknologi informasi jenis ini sebaik mungkin.

Team Kampanye Barak Obama di AS benar-benar bendayagunakan teknologi informasi elektronik sehingga berhasil melibatkan dan mendapat dukungan dari jutaan orang.

Sembilan, memberi reward atas keterlibatannya dalam masalah sosial. Reward bukan hanya sebagai jawaban dari sebagian orang yang bertanya, “What in it for me?” tetapi juga sebagai tanda apresiasi dari organisasi non profit.

Ada baiknya pemberian reward ini diberitahukan di sebelum kegitan dimulai. Reward yang termasuk paling murah dan cukup berkesan bisa berbentuk pemberian sertifikat penghargaan dan surat rekomendasi berorganisasi untuk para relawan yang ditandatangai ketua organisasi di mana ia menyumbangkan tenaga dan pikirannya.

Selain itu, para partisipan akan bangga jika nama mereka di sebut di depan umum, begitu juga jika nama dan foto mereka disebarluaskan di media cetak atau elektonik.

Reward yang nilainya lebih tinggi bisa berbentuk piagam yang terbuat dari bahan padat atau logam. Selain itu, piagam itu bisa dipasang dan diabadikan di tempat tertentu. Jika kita pergi ke lembaga non-profit di AS, sebutlah di sekolah, pasti ditemukan piagam seperti ini.

Sepuluh, meyakinkan bahwa tidak ada sumbangsih yang terlalu kecil. Sering kali masyarakat awam tidak mau bergabung dalam kegiatan sosial karena mereka berpikir bahwa tidak ada yang bisa mereka sumbangkan. Untuk itu organisasi nonprofit harus pintar untuk mengidentifikasikan apa yang mereka butuhkan, bukan hanya uang dengan jumlah tertentu.

Misalnya, buku bekas untuk perpustakaan, sepeda yang tidak terpakai, dan lain-lain. Atau tenaga sukarelawan untuk melakukan telemarketing.

Peristiwa yang masih segar diingatan kita adalah bagaimana tim kampanya Barak Obama berhasil meyakinkan para masyarakat bahwa dengan sumbangan sekecil apapun akan membawa perubahan sosial, politik dan ekonomi. Untuk itu banyak yang menyumbang uang $10 atau lebih kecil. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah AS.

Sebelas, tunjukkan betapa gampangnya untuk berpartisipasi. Banyak orang awam berpikir bahwa untuk berpartisipasi secara aktif dalam suatu lembaga non profit dibutuhkan ketrampilan tertentu. Anggapan ini umumnya tidaklah benar. Untuk itu, pengurus lembaga nonprofit perlu mendesain job deskription yang mudah dimengerti dan step by step.

Pekerjaan sukarelawan mestinya bisa melibatkan dan dilakukan oleh semua orang dewasa secara umum. Bahkan kalau perlu, dirancang jenis pekerjaan tertentu yang bisa melibatkan relawan cacat.

Pada holiday seson, di Salvation Army di AS banyak menggunakan para relawan, termasuk yang cacat, untuk berdiri di depan pintu departement store sambil membunyikan krincingan dan minta sumbangan.

Dua belas, memberikan keterangan resiko yang berkaitan dengan kegiatan sosial. “No risk and no obligation, when ever you can stop. Just try it to see if you like it”. Itulah kata yang sering dikeluarkan oleh para pengrekrut dari organisasi nonprofit di AS.

Ingatan seperti di atas nampaknya sangat relevan dengan kondisi di Indonesia terutama mengingat bahwa trauma dan ketakutan yang diciptakan oleh rejim Orde Baru masih berbekas di masyarakat terutama mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan human right. Nonprofit organization perlu memberikan penjelasan terus menerus bahwa jaman telah berubah. Kegiatan seperti ini dan kegiatan sosial lainnya adalah hal yang lazim di negara demokrasi, termasuk di Indonesia.

Tiga belas, menimbulkan rasa haru. Banyak kisah sedih yang ditampilkan oleh oranisasi nonprofit di AS ke hadapan masyarakat. Kisah itu akhirnya menimbulkan rasa haru dan menggerakkan mereka untuk membantu.

Salah satu contohnya adalah kisah anak malang di Afrika yang perlu dibantu. Anak kurus kering berusia 10 tahun ini kehilangan kedua orang tuanya karena AIDS dan harus menghidupi dua adiknya yang masih balita.

Dengan membaca atau melihat tayangan videonya, seseorang bisa menangis dan tergerak untuk membantu.

Empat belas, jangan lupa mendayagunakan media massa tradisional seperti koran cetak, radio, dan tv. Terlepas dari kemajuan infromasi teknologi modern, media massa tradisional ini masih sangat efektif. Kelompok Gay yang menuntut kesamaan kesempatan dalam perkawinan di AS sedang giat-giatnya melakukan kampenya melalui media ini.

Tindakan membawa efek besar karena disaksikan secara internasional, walaupun mereka hanya berdemonstrasi di beberapa kota di AS.

Lima belas, mendistribusikan newsletter secara berkala. World Vision, suatu organisasi yang membantu perkembangan anak-anak di dunia ke tiga, sangat konsisten mengenai hal ini. Sekali seseorang menjadi orang tua asuh, maka secara berkala ia akan mendapat update tentang perkembangan anak asuhnya melalui newsletter yang dibuat oleh anak itu sendiri.

Begitu banyak cara yang tersedia untuk membangun keperdualian sosial dan melibatkan masyarakat awam. Kini hanya tergantung dari konsistensi organisi nonprofit untuk meneruskan usaha mereka. Apapun caranya tidak akan membawa hasil yang maksimal jika hanya dilakukan secara sporadik dan sesaat.

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku “Aku Orang Cina? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa” dan analist pada OverseasThinkTankforIndonesia.com, lingkar studi yang berlokasi di Kalifornia Utara, USA.