Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Don’t Be Evil

without comments

…adalah sangat mungkin untuk mencari keuntungan dengan cara don’t be evil.
Sumber gambar: seoblackhat.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Akhir pekan lalu, dalam perjalanan ke Sacramento, ibu kota negara bagian Kalifornia di Tanah Seberang, saya berhenti di Burger King. Saya memesan satu cangkir kopi dan french fries. Setelah bayar, waiter-nya memberikan satu cangkir kopi seketika kepada saya.

Saya menunggu french fries yang saya pesan, tetapi setelah kurang lebih lima menit berselang, tidak kunjung datang juga. Lalu saya tanya ke waiter tersebut. Ia menjawab, “Oh gosh, I totally forgot. Forgive me.”

Dengan terburu ia mengemas dua paket frech fries dan memberikan ke saya sambil berkata, “Because it is my mistake, I am giving you two french fries.”

Pada keesokan harinya, saya menghadiri appointment saya dengan beberapa partner bisnis saya di Espresso Bar Nordstrom dekat tempat tinggal saya di kota Pleasanton, Kalifornia. Kami pesan dua kopi, dua teh dan makanan kecil. Tak lama kemudian siaplah miniman dan makanan kami, kecuali satu cangkir teh yang kami pesan. Kami tidak menanyakan hal itu kepada waiter segera, kami berpikir mungkin teh yang satu itu akan dibawakan kemudian.

Beberapa saat berlalu, teh tersebut belum juga datang. Akhirnya saya menayakan hal itu pada waiter. Ternyata pesanan kami tidak tercatat di note pad-nya sehingga mereka tidak menyediakan teh itu. Waiter itu berkata, “I am sorry about that. We will not charge you for this tea. It will be ready soon.”

Di tengah krisis Ekonomi di Tanah Seberang yang oleh banyak orang dilihat sebagai akibat kerakusan sistem kapitalis, ternyata kedua kasus yang sangat kecil ini merupakan dua tetes air segar yang menunjukkan kejujuran dan kebaikan hati karyawan mereka.

Mungkin sebagian dari kita bertanya, “Ah, itukan hanya tindakan karyawan mereka. Lagi pula merekakan berhadapan muka secara langsung dengan pelanggan. Bagaimana dengan bos besar yang duduk di belakan meja dan perusahaan yang tidak bersentuhan langsung dengan pelanggan? Bukankah mereka sangat rakus dan menerapkan sistem kapitalis murni?

Memang pertanyaan di atas tidak bisa dipungkiri. Memang banyak yang seperti itu, akan tetapi tidak semua pelaku bisnis, termasuk bisnis raksasa di Tanah Seberang. Ambilah contoh Google yang kini telah tumbuh menjadi search engine terbesar di dunia maya.

Saya mulai mengenal Google secara akdemik pada tahun 2005 ketika saya mengambil summer course Building Products through Customer-Driven Innovations di Stanford University. Di situ saya diperkenalkan dengan satu konsep yang cukup asing di telinga saya pada waktu itu, yaitu: “Don’t be evil.”

Google didirikan pada tahun 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin. Mereka memulai usahanya di ruangan kos di Stanford University dengan menerapkan philosophy don’t be evil. Kini, perusahaan ini telah memiliki lebih dari 10.000 karyawan worldwide.

Dalam philosophynya, Google menemukan apa yang mereka sebut “Ten Things Google Has Found To Be True.” Di antaranya disebut secara explicit disebutkan “You can make money without doing evil” atau “Kamu bisa mencari uang dengan tanpa berlaku seperti iblis.”

Seperti kita ketahui bahwa keuntungan terbesar dari Google adalah melalui iklan. Sebenarnya, dengan program canggihnya, dengan mudah mereka bisa tergoda untuk menawarkan produk culas supaya mendatangkan lebih banyak uang. Contohnya, menarik bayaran yang lebih tinggi dari pelanggan mereka supaya nama mereka bisa tampil di baris pertama ketika di-search oleh pengguna internet walaupun tidak berhubungan langsung dengan topic yang disearch.

Atau mereka bisa menawarkan harga lebih tinggi supaya iklan pelanggan mereka bisa tetap nongol di layer computer pemakai dan berkelap-kelip. Tetapi mereka tidak melakukan hal itu. Salah satu yang mereka lakukan adalah megindentifikasikan secara jelas bahwa iklan adalah iklan.

Tepatnya Google mengatakan, “Advertising on Google is always clearly identified as a Sponsored Link. It is a core value for Google that there be no compromising of the integrity of our results” (Iklan pada Google selalu diidentifikasi sebagai Sponsored Link. Adalah keyakinan utama Google untuk tidak mengkompromikan keintegritasan dari produk kami”).

Mereka menambahkan, “We never manipulate rankings to put our partners higher in our search results. No one can buy better PageRank. Our users trust Google’s objectivity and no short-term gain could ever justify breaching that trust” (“Kami tidak pernah memanipulasikan ranking untuk menempatkan parner kami di posisi yang tinggi dalam hasil pencarian di Internet. Tidak ada orang yang bisa membeli PageRank yang lebih baik. Pengguna jasa kami mempercayai keobjektifan Google dan tidak ada keuntungan jangka pendek yang bisa menjustify pelanggaran kepercayaan itu”).

Dalam penggolongan philosophy lain yang mereka sebut “Ten Principles that Contribute to A Google User,” terdapat satu prinsip yang sangat mendukung philosophy “Don’t be Evil”, yaitu: be worthy of people’s trust.

Dengan perinsip ini, di antaranya, Google menghormati para pengguna/pelanggan untuk memiliki dan mengkontrol data sendiri. Mereka tidak pernah memberikan informasi para pengguna kepada pihak lain tanpa izin dari pengguna mereka.

Produk mereka juga mengingatkan jika terdapat insecure connection, perbedaan private policy pada website yang lain, tindakan yang mungkin menyusahkan pelanggan karena spam.

Menurut Google, semakin besar mereka, semakin penting untuk menjalani philosophy “Don’t be evil”.

Tentu saja kita berharap Google tetap bisa mempertahankan philosophy ini dan menjadi contoh bagi perusahaan lain bukan hanya di Tanah Seberang, tetapi juga di Tanah Air bahwa adalah sangat mungkin untuk mencari keuntungan dengan cara don’t be evil.

Supaya philosophy ini bisa diterapkan dengan baik, bukan hanya para executive dan pemilik bisnis yang perlu memulai, tetapi karyawan biasa juga mempunyai andil besar. Hal ini bisa dimulai dengan memperlakukan pelanggan seperti yang saya alami pada pekan lalu.

Seperti kata Edmund Burke, “All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing.” Dan Max Lener mengingatkan untuk selalu menghindarkan perbuatan yang bersifat keiblisan dengan berkata, “When you choose the lesser of two evils, always remember that it is still an evil.”

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!

Written by Beni Bevly

February 10th, 2009 at 12:15 pm

Leave a Reply