Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Going Green

with 6 comments

Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.
Sumber Gambar: newsimg.bbc.co.uk

Oleh Dr. Beni Bevly

Pada hari Selasa, 17 Februari 2009, saya menyaksikan suatu peristiwa penting di Tanah Seberang, yaitu penandatanganan $787 miliar paket stimulus, stimulus terbesar sejak perang dunia ke dua, oleh President Barack Obama. Pada event yang sama, Blake Jones, CEO Namaste Solar, perusahaan panel solar kecil, mendapat kehormatan untuk bicara. Ia menyatakan bahwa perusahaannya tumbuh sangat cepat, dari 3 karyawan menjadi 60 dalam waktu 3 tahun. Dengan paket stimulus ini, ia memprediksikan bisa merekrut 20 karyawan lagi. Apa arti kejadian ini bagi perkembangan perusahaan yang bersifat going green baik di Tanah Seberang muapun di Tanah Air? Sebenarnya apa sajakah yang tercakup dalam slogan going green ini? Kesempatan apa yang dapat diraih oleh pangusaha di Tanah Air dalam rangka mendukung gerakan going green?

Pengusaha yang mengdopsi usaha going green tentunya menjadi semakin populer dan banyak diminati sejak kejadian di atas. Going green telah dipopulerkan oleh Al Gore, Pemenang Hadiah Nobel tahun 2007 melalui buku dan video An Inconvvenient Truth-nya. Intinya, dalam beberapa tahun terakhir ini, suhu temparatur global (global warming) meningkat dengan drastis. Dari kumpulan 21 tahun yang terpanas, 20 di antaranya terjadi dalam 25 tahun terakhir. Akibat dari kenaikan suhu secara drastis ini ternyata berdampak negative bagi kelangsungan lingkungan dan kehidupan manusia.

Pada saat ini, banyak penduduk di Tanah Seberang telah menyadari akan perubahan keadaan linkungan alam dan bahaya global warming. Maka itu, mereka bersedia dan siap untuk menganti lifestyle mereka dengan going green life style. Merekalah yang akan menjadi komsumer terbesar dalam bisnis going green.

Slogan going green mencakup pengertian filosofis yang berkaitan dengan pergerakan sosial yang berpusat pada konservasi dan perbaikan lingkungan alam. Dalam kegiatan sehari-hari di Tanah Seberang pengertian ini dikaitkan dengan penghematan energi, penghematan penggunaan air bersih, efisiensi penggunaan bahan bakar, memilih makanan yang bersahabat dengan lingkungan, tidak menggunakan minuman botol, menggunakan barang second hand, lebih baik menyewa dari pada membeli, belanja dengan dengan teliti, tidak cepat mengganti alat elektronik dan digital, dan lain-lain.

Searah dengan gerakan seperti di atas, maka berjamuranlah usaha di Tanah Seberang. Usaha seperti itu di antaranya adalah pengdaan solar panel seperti Namaste Solar, green cleaning and household management, green building, green design, green consumerism, green parenting atau pet care, dan green consultant.

Bagaimana kondisi di Tanah Air? Dengan paket stimulus raksasa dari Tanah Seberang dan ditambah gerakan going green menjalar ke Tanah Air, diperkirakan usaha dalam bidang ini akan bekembang pesat. Hal ini juga didukung oleh para Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang memiliki perwakilan di 25 provinsi dan 438 organisasi yang berafiliasi sebagai anggota bekerja untuk menjaga dan membela kelestarian alam dan lingkungan komunitas Indonesia.

Perubahan lifestyle seperti ini akan banyak membuka peluang untuk para pengusaha, termasuk pengusa kecil dan besar. Di Tanah Seberang, salah satu perusahaan raksasa, yaitu Wal Mart telah komit mendukung gaya hidup ini. Lee Scott, CEO-nya mengatakan:

“Tidak perlu ada konflik antara linkungan dan ekonomi. Bagi saya, tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke udara. Tidak ada yang baik mengenai asap yang anda lihat di kota-kota. Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.”

Untuk itu Wal Mart telah banyak menjual green product. Mereka juga telah mengganti sumber energi dan cara proses yang lebih efisien dan lebih going green.

Kembali ke Tanah Air. Perubahan gaya hidup seperti ini juga akan membuka peluang usaha baru seperti meningkatnya gerakan menghemat energi. Gejala ini bisa dimafaatkan oleh pengusaha untuk menawarkan produk teknologi hemat energi seperti compact fluorescent light bulbs/CFLs.

Para penganut lifestyle going green juga akan menghemat dalam pengunaan air bersih, karena itu produk-produk hemat air bersih seperti low-flow showerhead dan faucet aerator dan tanaman atau bunga yang tidak mebutuhkan banyak air akan menjadi semakin laku. Mereka juga akan menggunakan kendaraan yang hemat atau tidak mengunakan bahan bakar, maka seorang pengusaha bisa menawarkan pengunaan sepeda yang nyaman untuk dikendarai di kompleks-kompleks.

Makanan organik adalah salah satu objek yang dikonsumsi oleh konsumer golongan ini. Berkaitan dengan hal ini, pengusaha bisa menawarkan makan organik yang berasal dari dalam negeri. Hal lain yang bisa ditawarkan adalah penggunaan produk packaging yang bio-degradable/ecological friendly/recyclable, usaha sewa barang, produk tahan lama, dan usaha recycling alat elektonik.

Memang untuk memulai usaha baru pasti dibutuhkan informasi, pengetahuan dan keahlian baru pula, termasuk usaha yang satu ini. Informasi, pengetahuan dan keahlian baru ini bisa didapati di universitas-universitas terkemuka dalam dan luar negeri. Biasanya mereka menyediakan mata kuliah, kursus, seminar dan perpustakaan yang memberikan informasi sejenis ini.

Di samping itu, buku, majalah dan newsletters keluaran terbaru juga sering membahas topik ini.

Jika anda punya akses ke internet, maka fasilitas muktahir ini adalah alat yang paling bisa diandalkan dalam mencari dan memperkaya informasi mengenai usaha yang berkaitan dengan lifestyle going green.

Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha seperti ini? Jawabannya adalah sekarang. Jangan sampai jauh tertinggal oleh Namaste Solar.

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations
in the Flatter World
. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!

Written by Beni Bevly

March 9th, 2009 at 3:04 pm

6 Responses to 'Going Green'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Going Green'.

  1. Going green is the direction for the future, this very positive article for Indonesian viewers. One positive thing that I observe recently, major supermarkets in Indonesia are avoiding plastic bag, moving the same direction similar to SF, this is a positive starting point for Indonesia. However, we should be observed for Wal-Mart, for one thing they are doing green in US but not on their supplier’s side instead doing a lot of PR works in green. Wal-Mart stated, they asked P&G a and others to produce concentrate liquid detergent to save plastic container and shipping cost, yet selling cereal and many food items in the same size of box with less content, to put the price down, isn’t it counter intuitive and is not green? What many papers and media just re-iterate the good things not the bad side of it. After all, to Wal-Mart the environment issue is still a second class, good for initial gesture for PR campaign.

    Solar energy is good, but the sad thing is the materials and its chemicals to produce it are so harmful that is not really green at this stage, plus the efficiency is still in mid 20%, not until it could reach about 60% and new less harmful materials used then it is cost effective and sound environmentally.

    C. Hudiono

    10 Mar 09 at 10:30 am

  2. Thank you for your insightful comment, C. Hudiono. It’s most cases, including going green, always have two side effects that are positive ans negative. The question is will we let the old system, one of them, burning fossil oil continuously or try new way even though it’s not perfect yet?

    Other side of going green, again like in most other cases, it always involves money. At this point, as a conscientious individual, it depends how they find the solution and balance everything out.

    Beni Bevly

    12 Mar 09 at 10:18 am

  3. Dr.Beni Bevly, saya baru saja membaca tulisan-tulisan pemikiran Anda tentang lingkungan hidup, ekonomi,dsb. Sangat inspiring bagi saya.Kebetulan saya bekerja sebagai creative director satu majalah properti di jakarta.Saat ini saya sedang mempersiapkan acara talkshow yang berkaitan lingkungan, yang ingin saya tanyakan apakah Dr.Beni mempunyai rekanan/referensi mengenai teknologi terbaru dalam pengelolaan sampah/proses daur ulang yg baru saja ditemukan. dan apakah memiliki teman/lembaga/bisnisman yang sukses dengan bisnis recycle ini ..untuk kami undang menjadi pembicara dalam acara talkshow kami ini. Sebenarnya saya sangat tertarik mengundang Dr.Beni..namun tampaknya lokasi menjadi kendala (apakah ada rencana di jakarta sekitar 13-23 mei 2009) ..terima kasih

    paulus budianto

    2 May 09 at 7:40 pm

  4. Paulus, terima kasih telah menyisihkan waktu untuk membaca tulisan saya dan minat untuk mengundang saya ke talk show anda. Saya senang jika hal ini membuat anda jadi terinspirasi.

    Sayang sekali bahwa saya tidak punya rekanan/referensi mengenai teknologi terbaru dalam pengelolaan sampah/proses daur ulang yg baru saja ditemukan.

    Jadwal saya mulai renggang di penghujung tahun ini. Semoga kita bisa ketemu.

    Beni Bevly

    4 May 09 at 3:56 pm

  5. adakah (setidaknya satu saja) efek negatif dari going green ini?
    terima kasih, .
    :)

    masayu

    10 Oct 09 at 5:04 am

  6. Masayu, hampir semua hal ada sisi lain, termasuk negatifnya jika tidak dijalankan dengan benar. Dalam hal going green, sebagai contoh, PBB mengingatkan kita untuk tidak menggunakan bahan pangan sebagai ganti minyak, seperti mempergunakan palm oil. Contoh lain, dikabarkan bahwa teknologi daur ulang untuk solar panel yang rusak juga belum mencapai kesempurnaan. Hal ini dikuatirkan akan menyebabkan polusi lingkungan.

    Beni Bevly

    14 Oct 09 at 9:15 am

Leave a Reply